2 Lagu Aceh Untuk 3 Kawan Di Luar Aceh

Di sela-sela deru kota dagang kemarin siang, ada beberapa kali lagu Aceh terdengar mengisi hari. Mulai dari mobil labi-labi (sejenis minibus angkutan umum) sampai warung kopi di deretan seberang depan pertokoan. Mendadak jadi pengen bikin postingan tak seberapa ini, dengan lirik lagu Aceh dan 2 untai tautan MP3 untuk 3 kawan di luar Aceh sana: ManusiaSuper, Gimbal dan MusafirKelana.

Lagu pertama adalah untuk dua kawan di Borneo dan di Jawa sana. Menurut pergunjingan antara sesama jin-jin di internet ini, sudah beredar kabar tanpa Cek & Ricek dan Insert Investigasi, bahwa beliau-beliau akan mengakhiri masa lajang dalam beberapa hari ini. Kabar baik yang mengalir dari Ambon, transit di Cirebon dan akhirnya berhembus sampai ke Blangpidie.

Maka, inilah lagu Aceh pertama sebagai kado yang terlalu dini untuk pernikahan yang tidak terlalu dini. Jika di perguruan tinggi, lulus tepat waktu kata para alumni.

Peusapeu Padan

Lon lake du’a bak Tuhan sidroe
Geubri beusampo… lage neulaya
Bak ngon Nabi Adam ngon Siti Hawa
Beu saho wo beu sapeu sapeu pajoh
Beu sabee bungkoh beu sion eungka
Hatee beusaboh pikee beusaban
Beu sapeue padan… beu saban qadha…

Udeep uroe nyoe pikee keu singoh
Bek sampo mehmoh bak aneuk cucoe
Miseu di singoh oh uroe dudoe
Geutanyong le Po u Yaumil Masyha
Got taupeubuet got peunalah
Yang got takeubah keu aneuk cucoe
Meunyoe han tinggal meubayyinah
Panee na leumah geutanyo away ka…

{Terjemahan bebas}
Kuminta doa kepada Tuhan Yang Maha Satu
Semoga diberi sampai seperti diminta
Semogalah bersama selalu suami dan istri
Bak Nabi Adam dan Siti Hawa
Semogalah sama tempat pulang, sama pula yang dimakan
Hendaklah sama sebungkusan, sama selembar tikar bentangan
Hati haraplah satu, pikiran haraplah sehaluan
Semogalah satu arah tujuan, semogalah setakdir penghidupan

Hidup hari ini, pikirkanlah untuk esok
Jangan sampai susah (tiba) di anak cucu
Umpama kelak di hari penghabisan
Ditanya Tuhan di Yaumil Masyhar
Baik yang kita perbuat, baiklah yang akan didapat
Apa yang baik (didapat kini) simpankanlah untuk anak cucu
Kalau pun tak (bertahan) menjadi berkah selamanya
Tidaklah akan tampak (dulu) kita pernah berada…

Lagu berjudul “Peusapeu Padan” ini merupakan lagunya Rafly, vokalis Kande yang tersohor di Aceh ini, yang dirilis di tahun 2000-an. Termasuk satu dari beberapa lagunya yang tidak seberapa mencuat dahulu jika dibandingkan dengan lagu-lagu Rafly/Kande yang lain, sampai kemudian lagu Aneuk Yatim menjadi dikenal paska musibah 2004. Mungkin karena iramanya kalah riang atau disebabkan agak sedikit “berat” nasihat yang ada di dalam lagu ini? Entah :D

Judulnya sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara literal agak susah. Namun dapat diartikan anjuran dan harapan untuk “satu tujuan”, atau “satu keinginan”.

Nah, lagu ini biasanya dinyanyikan/diputarkan diantara rekan-rekan terdekat menjelang acara pernikahan. Pesta bujang, kata orang muda generasi kami di sini. Dengan gitar atau terkadang cukup audio player saja. Ditujukan khusus untuk calon mempelai pria yang sudah mendesir-desir hatinya antara suka pada hari bahagia dan rasa gelisah kira-kira gimana paska kenduri nanti. Guna berkawan selain berhura-hura di masa muda, berbagi kopi, rokok dan kepalan tinju, tentu sesekali berbagi nasihat dan jika perlu “tempeleng” untuk pengingat. Meski kadang sebatas lirik lagu di petikan gitar atau pantun nasihat untuk penampar. Intinya ya sama: Mengekspresikan doa dan dukungan terbaik untuk sobat terbaik dalam ragam cara yang Kawan-kawan bisa.

Hal-hal semacam itu membuat lagu seperti ini menjadi sakral dalam lingkaran pertemanan. Karena hidup mengajarkan kesadaran bahwa jalan masih panjang ke depan, bukan sekedar bersuka satu hari kenduri lalu riang terhenti, bukan pengundang rekan-rekan datang bertandang lalu usai melepas diri. Jika ada beban kenduri, dukungan diberikan, doa dipanjatkan, lengan baju mesti singsingkan: dari mulai menegakkan teratak, mencuci piring, sampai berembuk mencari jalan keluar tagihan cicilan. Dan itu berlanjut untuk tak luput satu sama lain jadi pengingat. Jika benar akan dipegang, jika salah pantatnya akan ditunjang. Kawanku pernah ditempeleng kawan lainnya karena meremehkan janji pada istrinya yang sendirian di rumah, hari sudah larut malam masih asyik beliau melalak keluyuran. Cinta pengantin baru pudar dalam hitungan minggu, bisa berefek muka kawan diberi ketupat bangkahulu. Mau macam mana? Itu sudah jadi aturan tak tertulis sejak dulu :lol:

Dibalik perkawanan selalu ada doa tersendiri. Maka…. meski pun tautan kado ini tak seberapa, semogalah bisa jadi paket doa dari sini untuk diterima di Borneo dan di Jawa sana… :)

* * *

Okehhh… Berikuttnyaahh… laguh keduahh… spesialhh… dithujukanhh… untukhh… anak-anak perantauan terutamahh… Bang Musafir Kelana….

*meniru suara MC di pentas kenduri*

Ini lagunya:

Wo U Gampong

Leupah that meusyen hatee u gampong
Maksud hatee lon, lon keumeung gisa
Ramee rakan lon yang muda seudang
Geupreh woe kamoe yang ka meubungka

(*)
Allah hai gampong, rakan sinaroe
Hai rumoh jambo teumpat lon lahee
Wahee e Poma, Ayah di kamoe
Hatee nyoe jinoe meusyeen lagoina

Ie krueng jeurneh teumpat lon manoe
Teumpat lon rah droe ngon bajee ija
Lon tueng ie seumayang oh watee sampoe
Peusuci tuboh droe pujoe Rabbana

Oh malam jula angen pih jipot
Ie mata lon ret hatee lon subra
Hatee lon seudeh meutamah rango
Pajan troh lon woe, saweuh syeedara

{Terjemahan bebas}
Sangatlah rindu hati ke kampung
Maksud hati ‘ku hendaklah pulang
Ramai rekan-rekan yang muda remaja
Menanti kami yang sudah tumbang (harapan)

(*)
Allah hai kampung, rekan-rekan sebaya
Wahai rumah panggung tempat ‘ku dilahirkan
Wahai ibu, (wahai) ayah kami
Hati ini kini rindu bukan kepalang

Air sungai jernih tempat ‘ku mandi
Tempat membasuh tubuh dengan kain basahan
Ku ambil air wudhu saat waktu telah tiba
Menyucikan tubuh ini, memuja Rabbana

Saat malam larut angin pun berhembus
Air mata menetes jatuh, hati merana
Hatiku sedih bertambah gulana
Kapanlah sampai waktu kupulang, menjenguk saudara.

Lagu kedua ini termasuk lagu Aceh yang sudah lawas. Muncul di tahun 1990-an, dibawakan oleh penyanyi dari Aceh Selatan bernama Syah Luthan. Lagu ini menjadi salah satu pionir awal kebangkitan lagu Aceh, bersama kelompok Geulumpang Raya Groups dari Aceh Barat dan beberapa musisi Aceh lainnya saat itu. Beredar dalam bentuk kaset dengan lagu andalan “Aceh Selatan”, lagu ini konon menjadi salah satu mars wajib orang-orang Aceh perantauan. No bercanda, Kawan, ai rili-rili tingking laik det. Hampir setiap bus-bus angkutan (yang pernah kunaiki) pernah memutar lagu ini dalam perjalanannya membawa orang-orang Aceh perantauan, setidaknya periode 1990-an sampai awal periode 2000-an.

Lagu ini memang kampret benar. Jika sempat diperdengarkan di bulan Ramadhan, di saat timphan tercium-cium bau harumnya, di saat lemang hangat buatan kampung halaman terbayang-bayang, rasa-rasa teriris lubuk hati yang terdalam. Badan Si Perantau yang menyedihkan itu boleh setegap Kingkong, tapi hatinya bisa sehalus bencong jika rindu sudah melolong. Oh, musik mungkin tak keren sebab bernuansa dangdut, tapi kepala itu bisa migren karena rindu mendenyut-denyut. *lebbay*

Dan jika postingan ini dibaca oleh anak-anak Aceh di perantauan, kalian-kalian yang besar di kampung halaman dan mencari penghidupan di kota asing, resap-resapkanlah lagu ini. Kita boleh berlagak keras, dibikin keras oleh kehidupan, dipaksa mati hati karena setengah mampus mencari rezeki. Tapi apa yang dianggap kemaskulinan demikian itu adalah omong kosong, dan kau tahu itu, Kawan. Akan selalu ada rindu pada tanah kelahiran di hatimu. Di wajah bisa ditutupi kabut rindu begitu, tapi di dalam hati ada yang tak bisa ditipu: Rindu itu sendiri.

Jika tak percaya, kutantang kalian mendengar sendiri lagu begini sambil mengingat aliran sungai yang jernih di kampung halaman yang mengalir airnya dari kaki pegunungan, deretan pohonan yang masih rimbun, udara segar berisi harum dedaunan basah, bukit-bukit menghijau dari bentangan Bukit Barisan, orang-orang kampung yang menjinjing kayu bakar, ladang-ladang pinggiran hutan, mobil pelepah rumbia rakitan kanak-kanak yang hidungnya cemong-cemong beringus, rangkang-rangkang pengajian dimana tubuh pernah menggeletak dengan kawan-kawan sepermainan, suara pecutan lidi Teungku-teungku yang mengajar ngaji dengan upah seliter-dua liter minyak lampu, suara Mak dan Ayah yang membangunkan saat sahur tiba, ayunan yang men-dododaidi tidurmu dengan Hikayat Perang Sabi, bau khas kain sarung kampung yang dilicinkan setrika arang, wangi lemang kampung yang tak akan sama dengan lemang mana pun di bumi ini, harum timphan dari tangan ibu yang lebih eksklusif daripada segala makanan impor berkemas plastik, segar air sungai menyapa kulit tubuh saat mandi dan berwudhu, dentum meriam bambu dan hitam asap lampu teplok di hidungmu, seurunee kalee dari batang-batang padi, sawah-sawah di musim keumeukoh, dangau-dangau dimana tangan pernah bersuka mengayun temali kaleng untuk mengusir burung pipit, ah… parit-parit pinggir pematang dimana bocah-bocah mencari eungkot seungko….

Dan jika malam sudah larut, dari jauh… jauh dibawa angin… sayup-sayup sampai dari pesantren kampung terdengar suara ngaji atau irama santri-santri ber-meujala-e, sesekali ganti meudikee macam irama seudati mengiringi nyanyian sufi dalam tarian mahabbah Hamzah Fanshuri. Oh, ditambah pula melintas siulan lagu, “Di babah pinto sue meualon… dara meupanton ngon hatee luka… Wahee Cut Abang pakon tinggai lon? Neujak ka neutron ulon han neuba…” dari para remaja yang melintasi jalan lengang ketika rembulan naik meninggi di langit malam. Jaaauuhhh… jauh sekali rasanya, Kawan… :roll:

Dan jika itu semua sudah menjadi rindu, kemana akan kau lampiaskan rindu itu?

Ke Taman Impian Jaya Ancol? Bah!

*disantet para perantau Aceh di Jakarta*

Apapun, nikmati sajalah lagu-lagu ini :mrgreen:

Esok pagi matahari masih akan terbit. Kesempatan selalu ada, umur semoga panjang diberi Tuhan; baik untuk harapan berbahagia dalam perkawinan *lirik ManusiaSuper dan Gimbal* atau hasrat untuk pulang dari perantauan *lirik MusafirKelana*.

Wassalam.

NB:

  1. Untuk Mansup dan Gimbal: Selamat berbahagia, Kawan-kawan. Semoga berjalan lancar acara tanggal 15 nanti. Semoga diberkahi Tuhan sampai usia penghabisan
  2. Untuk Musafir Kelana: Selamat menderita, Bang. Carilah orang-orang Aceh perantauan lagi untuk merindu tanah Aceh ini sama-sama. Salam duka-cita untuk mereka
  3. Untuk Husaidi dan Devi di Jakarta: Selamat atas kelahiran anak pertamanya *lirik sms* Putra laki-laki seberat 31,30 gram, tinggi 50cm di Rumah Sakit Sari Asih, 13 Maret 2010 sekitar pukul delapan malam. Semoga kelak bocah itu bisa pulang kemari. Biar kena ajar camana cara bikin mobil mainan dari pelepah rumbia.
  4. Untuk Kawan-kawan lainnya di rantau yang membaca ini, apalah dayaku jika ada rindu pulang kampung di hatimu itu, selain mengucapkan: “Ha! Kau rasakanlah. Rindu itu kelabu, Jenderal! Mampuslah kalian dirajamnya! Telepon ke kampung dan menangislah kau sana!”
  5. Untuk Kawan-kawan yang bisa berbahasa Aceh: Koreksi terhadap lirik sangat diperbolehkan. Lirik dituliskan sambil mendengarkan lagu-lagu tersebut via earphone di telinga.

10 gagasan untuk “2 Lagu Aceh Untuk 3 Kawan Di Luar Aceh

  1. Hoh, bro Mansup itu beneran mau nikah toh? Saya baru tahu… :shock:
    *denger desas-desus tapi belum denger konfirmasi*

  2. :lol:

    Validitas informasinya digaransi sama Jong Ambon. Konon tanggal 15, jika esok pagi tak kiamat :lol:

    *shock masih ada yg online jam segini* :mrgreen:

  3. Untuk Gimbal saya yang menggaransi deh… :D

    *masih kesel gara-gara hari Jum’at ditinggal belanja ke Bandung, pohon depan kios kena mutilasi*

  4. :lol:

    Gimbal sudah valid kan itu? Aku yakin dia akan putar lagu Matisyahu Tumvuh Serivu di resepsinya nanti. Reaggae poreber :lol:

    Kau potong tiang jemuran perangkat desa utk pembalasan menumbangkan pohon :P Pasti disemprot bininya dia nanti :twisted:

  5. *siyul-siyul*
    Sebenarnya sudah ngebet pengen posting dari seminggu yang lalu, tapi takut diculik…

    *siyul-siyul*

  6. Kawan sialan.. Istilah temanku yg dulu
    Pernah merantau dan kemudian isyaf ialah :
    ‘Sigeupap’
    Aku baca ini di sta cawang sembari menunggu kereta
    Yg akan mengantarku pulang ke stasiun terdekat di depok sana.
    Dengan tubuh letih krn semalam mesti begadang menyelesaikan
    Paper tuk dapat melanjutkan studi gratis (lagi).
    Karena jatah beasiswa di aceh bukan buat orang sepertiku,
    Yang hanya pernah menjadi ketua ikatan mahasiwa Surabaya,
    Sementara teman2 sebagaimana Ermiadi, fuadri, islamuddin telah
    Menjadi pejabat di sana (sedih..)
    Keletihan yg mungkin aku bawa ke dokter sesaat lagi, kau tambah
    Dengan cerita balas dendammu karena tak jua berani kau sebagai
    Lelaki tuk meninggalkan kampung tercinta.
    Berkaca jua mata ini.. Mengingat sungai jernih tempat tubuh
    menceburkan diri, tanpa sehelai benang krn bisa dihajar rotan jika
    Pakaianku basah.

  7. @ Amed

    Takut diculik? :lol:

    Tapi beneran sudah tak virgin lagi dia, kan? :mrgreen:

    @ Musafir Kelana

    Perantaunya datang :lol:

    Kawan sialan.. Istilah temanku yg dulu
    Pernah merantau dan kemudian isyaf ialah :
    ‘Sigeupap’

    Anjrit! Sigeupap! :lol: Sudah lama sekali istilah itu. Sudah jarang-jarang terdengar :lol:

    Sorry lah, Bang kalau sudah bikin perjalanan di Cawang itu jadi menyesakkan hati :mrgreen:

    Ah, menjadi dokter nanti, pulang kemari, mengabdilah di pedalaman sana. Air sungainya masih jernih-jernih itu :roll:

    Keletihan yg mungkin aku bawa ke dokter sesaat lagi, kau tambah
    Dengan cerita balas dendammu karena tak jua berani kau sebagai
    Lelaki tuk meninggalkan kampung tercinta.

    :lol:

    Aku merantau tak bisa jauh-jauh. Balak enam, satu-satunya yang cap lonceng, maka tak dikasih Mak :lol:
    7 tahun juga menghilang-hilang dari kampung, pulang sesekali. Beberapa kali dan beberapa lama menjelajahi tanah Sumatra, sampai kampus murka dan kirim surat mengadu ke kampung halaman, “Anak Bapak yang terhormat sudah menghilang dari kampus dengan SKS kredit sekian-sekian. Mohon dimarahi demi marwah kita bersama.” :lol:

    Berkaca jua mata ini.. Mengingat sungai jernih tempat tubuh
    menceburkan diri, tanpa sehelai benang krn bisa dihajar rotan jika
    Pakaianku basah.

    Sama! :lol:
    Kata Teungku Sagoe, “Nyan awak droen keunong cineut awee na keuh seubab ureung tuha sayang. Meunyoe ka keunong cineut awee, hana lee keunong apui neuraka” :lol:

    Dan kita yang sudah lebam-lebam pun lega. Alhamdulillah…. kena hajar rotan bolehlah, asal tak kena hajar Malik Zabaniah di neraka karena bikin capek lengan Mak merendam pakaian basah :lol:

    @ fallsedihtiadatara

    . . .

    Jangan sesak-sesak benar menyesak dada. Bisa kena asma kau nanti, Makcik Dina :mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s