Tentang Huruf

Huruf adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan manusia, selain dari panca indera dan berbagai kebutuhan primer mereka di planet bumi ini. Terutama di zaman internet begini. Bukan cuma mereka yang bisa baca-tulis, bahkan mereka yang tak bisa baca-tulis pun nasibnya kini ditentukan oleh sederetan simbol-simbol yang disebut huruf atau aksara. Ancaman kenaikan BBM di bulan April nanti, bukan cuma diputuskan oleh suara-suara permufakatan dari konspirasi para politisi, cukong dan aparat di negeri ini; tapi juga ditentukan oleh berderet huruf dalam berbagai surat yang kata mereka adalah dokumen penting negara. Nasib 200 jutaan warga republik ini bergantung pada huruf-huruf yang akan diketikkan dalam surat keputusan mereka yang menyebut dirinya pemerintah itu.

Penting nian perkara huruf ini. Bukan main-main. Dia merupakan sarana manusia berkomunikasi selain dengan bahasa tubuh dan suara. Tanpa huruf, Goebbels tak akan bisa mempropagandakan bacritan Hitler laksana firman Tuhan bertahun lalu di Jerman. Tanpa huruf, Semaun dan Abdul Muis cuma akan seperti dua pengangguran berdebat-kusir soal arah politik Sarekat Islam di warung kopi. Tanpa huruf, Ramadhan K.H. cuma akan jadi seperti penjilat biasa macam Moerdiono dan Harmoko jika tak menulis buku otobiografi Soeharto di tahun 1988. Dan tanpa huruf, macam mana akan kutuliskan segala bualan dan bacritanku di blog ini?

Sehingga untuk mendukung peranan huruf dalam mempermudah komunikasi, mempermudah manusia membaca, maka dipoleslah huruf-huruf dengan tujuan untuk mempercantik tampilan aksara. Bukan cuma di dunia percetakan buku atau koran saja, tapi juga di komputer, dimana huruf-huruf ditampilkan secara virtual di layar monitor. Sejarah seni meracik huruf pun berkembang dari masa internet belum ada, masa komputer muncul sampai era ribuan website di zaman dimana manusia bisa mengakses internet sambil jongkok di toilet.

Dalam rentang waktu demikian, ratusan tipe huruf hadir. Diantara tipe-tipe huruf baru yang dilahirkan oleh para seniman huruf ini, sejumlah karam, sejumlah lainnya tetap bertahan hingga kini. Sebut saja tipe tipe huruf Georgia yang didesain oleh Matthew Carter di tahun 1993 atau Lucida Console yang didesain oleh Charles Bigelow dan Kris Holmes di tahun 1985. Huruf-huruf itu masih bertahan di masa ini. Itu belum seberapa. Times New Roman, yang masih bisa kita temukan di komputer kita hari ini (terutama jika menggunakan aplikasi office suite seperti Microsoft Office atau Open Office), diciptakan oleh seorang Victor Lardent di tahun 1931. Kalau saja tipe huruf ini adalah seorang manusia, sudah keriput dan tua bangka dia agaknya. Namun huruf-huruf lama ini bertahan menjadi pilihan, dikarenakan memang memiliki fungsi mendasar sebagai huruf: mudah untuk dibaca. Itu sebab huruf-huruf demikian bahkan memiliki penggemar pula. Seperti seorang blogger di luar sana yang sampai menuliskan sejarah dari tipe-tipe huruf kesukaannya, serta seorang insan lainnya yang membuat daftar Top Ten (Web Safe) Blogging Fonts.

Sebegitu pentingkah pilihan huruf untuk menulis itu?

Penting, menurutku. Seperti kulafazkan dalam postingan lalu: selama ini gonta-ganti tampilan blog, huruf jugalah jadi pertimbanganku. Pilihan huruf bukan soal sepele. Bukan sekedar untuk dibaca orang saja, tapi juga dibaca oleh diri sendiri. Ada sekian tema di WordPress.com yang bisa dipilih karena faktor tata-letak, atau mungkin karena memiliki fitur seperti custom header images atau featured images, atau alasan lain seperti kemampuan untuk menampilkan avatar para komentator dalam ukuran besar, sehingga jerawat di hidung pun bisa nampak. Kebutuhan-kebutuhan akan fitur semacam ini relatif berbeda bagi setiap orang. Namun bagiku, setelah jenuh mempercantik tema dan tak terlalu ambil pusing dengan berbagai fitur, huruf menjadi salah satu faktor utama. Sebab blog ini, selama ini kuisi dengan tulisan, bukan cuma gambar-gambar atau video belaka. Serupa alasan seorang Budiastawa mengganti tampilan blognya.

Soal huruf, aku juga memiliki selera huruf tersendiri, seperti Georgia dan Lucida Grande. Di WordPress, setiap mengganti tema blog, bisa dipastikan tema dengan tipe huruf-huruf ini jadi pilihan (meski faktor lain, seperti tata-letak sidebar, juga berpengaruh pada putusan akhir apakah akan memakai atau tidak tema tersebut).

Namun belakangan, diantara sejumlah tema-tema WordPress dengan tipe huruf membosankan (dan bikin capek mata membaca), aku mendapatkan tambahan tipe huruf favorit: Droid Sans. Tipe huruf ini pun kutahu sesudah penasaran dengan huruf pada dua buah tema gratisan di WordPress, lalu iseng membaca artikel lama tentang default theme fonts di blog satu ini. Meski artikel itu artikel tahun 2010, namun ulasan di sana tentang huruf dalam tema-tema gratisan dari WordPress, cukup up-to-date; bersebab cuma ada dua tema di WordPress dengan jenis huruf ini, dan kedua tema itu masih terhitung baru, yaitu: Fresh & Clean yang dirilis 12 Januari 2012 dan Splendio yang dirilis 7 Februari 2012.

Tipe huruf Droid Sans di kedua tema ini enak dibaca. Huruf cukup jelas, dan jarak antara huruf juga tidak rapat, sehingga tak bikin mata sepat. Selain dari itu, tak seperti tipe huruf Arial atau Verdana, postur huruf ini tidak ceking, tak kurus macam orang kurang makan, tapi cukup gemuk, cukup sehat wal afiat nampak di mata. :cool:

Menimbang keberadaan huruf Droid Sans ini, dan menimbang cuma dua tema tersebut yang memiliki tipe huruf Droid Sans, maka kucoba sajalah kali ini pakai tema Splendio, setelah sempat memakai tema Fresh & Clean yang agaknya juga disukai Pak Guru. Meski tema Splendio ini agak sikit meriah, sikit membelok dari hasrat berminimal-minimal tampilan, tapi mungkin bisa lah nanti diakali dengan mengutak-atik sedikit latar-belakang dan kepala-halaman blog ini. Kalau sempat… :mrgreen:

Ya. Sudah. Begitulah. :cool:

Selamat pagi selasa, dosanak. Sudahkah anda… oh asbak..! Awak belum shalat subuh!

Update pagi 7 Maret:

Apa yang dipetuahkan MakChic benar pula: tampilan mobile blog Splendio nggak asyik, padahal sudah asyik hurufnya, sebab Droid Sans memang dimaksudkan untuk layar kecil mobile handset :|

25 gagasan untuk “Tentang Huruf

  1. Ah, sayang aku tidak bisa menikmati jenis huruf baru ini karena membaca melalui ponsel. Untunglah ada sesuatu yang membuatku tergerak untuk berkomentar: bacritan! Apa maknanya dan dari mana asal kata itu “dosanak”? *dosanak ini kalau tidak salah sama dengan dunsanak buat orang Minang, ya?*

  2. Cobalah huruf Droid Sans ini, Uda. Kukira, akan tergamak juga hatimu, syahdu matamu membacanya!
    *berbusa-busa bak jualan obat segala khasiat* :lol:

    Bacritan itu bahasa di sini, kalau tak salahku bermuasal dari bahasa Melayu di Medan. Menyebar sampai ke Aceh, sekitaran Sumbagut lah. Bacritan ini dari kata “bacrit” tambah “an”, jadi bermakna mirip seperti bualan. Namun, dalam konteks kalimat sehari-hari bisa berbeda makna.

    Misal:

    A: Aku barusan menembak tupai, sekali letup kena dua!
    B: Ah, bacritmu saja besar! Menembak gajah pun kau tak kena!

    Ini bermakna Si A dianggap membual.

    Sementara di kalimat ini:

    A: *bicara terus-menerus*
    B: *kesal* Diamlah kau sejenak. Membacrit saja kau dari tadi!

    Di sini membacrit bisa bermakna membual, bisa bermakna merepet.

    Tapi makna paling umum ya itu tadi: membual :D

    Ada banyak bahasa Melayu lawas dan variannya dalam bahasa pasaran di sini, yang jarang-jarang dipakai secara nasional, namun di sini masih biasa: seperti “kibus” yang bermakna menipu. Tapi tak tahu aku, apa sudah masuk KBBI ataukah belum :?

    Sementara kata dosanak memang berakar dari bahasa Minang, sebab di daerahku sini ada suku Aneuk Jamee, suku ibuku. Dan sejarah suku ini, sependek yang kutahu, adalah orang-orang Minang yang tiba beratus tahun silam di saat awal-awal membesar kerajaan Ali Mughayat Syah. Bahasanya juga mirip bahasa Minang, namun sudah mengalami asimilasi dengan bahasa Aceh dan bahasa Melayu Pesisir di sini. Aneuk Jamee = Anak Tamu, diambil dari kata Aceh, Jamee = yang bermakna tamu dan merupakan pelencengan dari kata Melayu “Jamu” yang dimaknai menjamu tamu :D

    Begitu kira-kira, Uda :mrgreen:

  3. Meski ganti huruf, tampilannya di Google Readerku tetap sama, Bang. :D

    Berbicara soal huruf, aku paling suka Georgia. Meski blogku pun suka gonta-ganti theme, tapi aku selalu pilih Georgia untuk hurufnya.

  4. @ Ivan Lanin

    Terima kasih kembali, Uda. Semoga tak merusak bahasa pilihan kata itu :mrgreen:

    @ Kimi

    Kalau di Google Reader dan segala tembolok feed sejenis itu, memang tak akan pengaruh, walau pun huruf Garamond abad kegelapan kita letakkan :lol:

    Itu huruf di Google Reader apa tipenya ya? Arial? :?

    Berbicara soal huruf, aku paling suka Georgia. Meski blogku pun suka gonta-ganti theme, tapi aku selalu pilih Georgia untuk hurufnya.

    Nah, ada kawan aku rupanya. Memang mujarab rasanya Georgia itu. Tulisan centang-perenang macam aku punya pun, jadi nampak elok juga kalau dipasangkan tipe huruf satu itu. Ada jugalah yang sadar-sadar tertipu mengira elok tutur-postingku. :mrgreen:

  5. Saya itu obsesif kompulsif. Dan tipografi itu sama pentingnya dengan diksi dan diksi sama pentingnya dengan makna yang hendak disampaikan dalam tulisan. Karena itu saya bisa berulang ganti font hanya untuk menulis satu paragraf meskipun pada akhirnya setelah dikopas di blog semuanya bakal sama. Lagi, pilihan tipe huruf itu penting. Karena entah bagaimana sebuah kata itu bisa terasa lebih liris atau lebih kuat atau lebih intelektual dalam font tertentu. Bagaimanapun huruf itu bentuk. Dan kita semua mau tidak mau harus berhadapan dengan bentuk agar bisa menyelam dalam makna yang sering kali hadir dalam bentuk-bentuk yang lain; sinonim, antonim, parafrase dari kallimat itu atau imaji tertentu.

  6. Setau saya, tipografi itu penting dalam sebuah desain website atau blog. Juga bisa membawa sebuah desain kepada sebuah karakter tertentu.

    Btw, di Splendio make Droid Sans ya sob? Saya kira itu Trebuchet MS.

  7. @ Gentole

    Benar. Tipografi itu penting dalam perkara menulis. Itu sebab The Times di Inggris menganjurkan pakai Times New Roman, yang memang elegan di zamannya. Tipe huruf penting untuk memperkuat kesan. Ini sama seperti kita melihat sajak-sajak kontemporer bisa ditulis dengan huruf modern, sehingga kesannya modern seperti liberation fonts; dan sajak lama dibikin dengan tulisan tegak-bersambung seperti pada tipe huruf Monotype Corsiva. Memang ada pengaruh bentuk huruf itu membentuk rasa kata. Mungkin sama seperti sugesti kita yang terbiasa dibentuk untuk mengesankan kecantikan dengan kemolekan, dan kemiskinan dengan kurus kerontang. :mrgreen:

    Sialnya ya seperti kau bilang itu: sudah bagus-bagus memilih huruf saat diketik offline, saat diblogkan malah tetap saja huruf yang dikenal browser saja yang terbaca :lol:

    @ Faisal Rachmadin

    Ya, sangat penting memang dalam desain situs atau blog. Karena selain layout, sesiapa saja yang tersesat mampir ke blog kita, juga akan terpengaruh oleh tipe huruf yang ada di situ. Aku pernah juga datang ke sebuah situs bagus. Isinya bagus lah. Cuma tipe hurufnya itu, ampun: sulit nian dibaca. Seperti melihat kata-kata disusun pakai lidi, sempit-sempit pula. Jadinya malah ku-copy-paste ke notepad, baru kubaca :D

  8. huruf apa sih mas sebenarnya yang dikenal oleh manusia pertama kali dulu :) mungkin agak ngga nyambung dengan typografi, tapi mungkin bisa dilihat untuk melihat evolusi font yang kita kenal sampai saat ini :)

  9. @ jarwadi

    Huruf apa dulu pertama kali dikenal, aku juga kurang tahu pasti. Kalau berdasarkan versi agama, jika menurutkan keimanan bahwa manusia berasal dari anak keturunan Adam dan Hawa, maka manusia dulu sudah kenal tulis baca. Sebab dalam kitab sendiri ada disebutkan soal Adam diajari nama-nama benda. Meski ini sendiri masih ada beda pendapat di kalangan ahli tafsir, ada yang menafsirkan diajari lisan, ada juga diajari sampai bagaimana tulis-baca.

    Namun kalau merujuk ke sejarah huruf seperti di sini, maka sepertinya huruf pertama dikenal adalah huruf dari bangsa Phoenician, sekitar tahun 1300 SM. Konon dari sistem alfabet Phoenician dengan 23 simbol ini lah berpangkal sistem penulisan huruf latin dan juga huruf Arab. Misalnya huruf A, yang menjadi huruf pertama dalam bahasa Latin dan Arab, diambil dari huruf pertama Phoenician yang berupa gambar sederhana kepala banteng, dan disebut Aleph :D

  10. Kemarin pakai theme Splendio ini. Tapi ternyata bikin tampilan mobile blog saya jadi ngga asik. Jadi ganti lagi deh :P

  11. Wah, terima kasih Bang Alex@ sudah nyenggol blog saya :). Saya memang suka Georgia. Tapi pada intinya, apapun hurufnya, yang penting blog itu rapi, jarak barisnya nggak terlalu mepet. Itu sudah bagus.

    Splendio yang abang pake ini memiliki font-family: ‘Droid Sans’,’Trebuchet MS’,Verdana,sans-serif. Jadi, bila komputer pembaca tidak terinstal Droid Sans, maka ia hanya akan melihat Trebuchet MS. Itulah mengapa Bang Faisal Rachmadin (di atas) mengatakan huruf yg dipake tema ini adalah Trebuchet MS.

    Begitu pula jika komputer pembaca tidak terinstal Droid Sans maupun Trebuchet MS, maka yang berperan adalah huruf Verdana. Jika komputer pembaca tidak terinstal tiga-tiganya, maka yang muncul di komputernya adalah Sans-Serif. Karena pada dasarnya ada dua gaya font: Gaya serif dan gaya roman. Droid Sans, Trebuchet dan Verdana, masuk dalam kelompok serif. Maaf komentarnya kepanjangan bang. Salam dari Jembrana, Bali.

  12. @ Chic

    Kemarin pakai theme Splendio ini.

    Iya, kemarin sempat pakai terintip pakai baju blog ini :mrgreen:

    Tapi ternyata bikin tampilan mobile blog saya jadi ngga asik. Jadi ganti lagi deh :P

    Eh? Tampilan mobile blog-nya jadi rusak?
    Jadi ingat ulasan TimeThief di sini. Splendio jadi rusak ya tampilannya :|

    @ Iwan

    Jadi, huruf itu seperti lidahnya mata, sulit di eja gak mudah di lupa.

    *njrit! analoginya!* :shock: :lol:

    Ho oh, Wan. Kira-kira begitu. :mrgreen:

    @ budiastawa

    Wah, terima kasih Bang Alex@ sudah nyenggol blog saya :) . Saya memang suka Georgia.

    Sama-sama. Hehe. Sesekali senggol sesama penyuka Georgia :mrgreen:

    Tapi pada intinya, apapun hurufnya, yang penting blog itu rapi, jarak barisnya nggak terlalu mepet. Itu sudah bagus.

    Benar juga itu. Karena memang ada juga huruf seperti Helveneutica juga nampak bagus, selama rapi penempatannya. Cuma dalam soal huruf bawaan tema, jadinya ribet dan berantakan juga sering karena layout yang terlalu “berisik”. Misalnya saja tema seperti tema Forever di WordPress ini. Coba dilihat di sini. Hurufnya sebenarnya cukup enak itu, tapi penyesuain dengan tampilannya serta latar tema yang garis-garis itu bikin rasa kurang nyaman :?

    Splendio yang abang pake ini memiliki font-family: ‘Droid Sans’,’Trebuchet MS’,Verdana,sans-serif.

    Benar. font-family di CSS-nya memang begitu tertera. Dan memang diurutkan sesuai kemungkinan huruf apa yang ada atau tak ada di komputer yang mengaksesnya. Droid Sans ini memang tergolong tipe huruf yang masih baru, sehingga tak salah ada yang sempat mengira tipenya Trebuchet MS. Aku juga sempat mengakses ini dari laptop lain yang baru ku-install ulang, dan sempat mengira tipe huruf ini Trebuchet MS juga. Belakangan nyadar kalau ternyata bukan, makanya baru tahu ada Droid Sans :mrgreen:

    Maaf komentarnya kepanjangan bang.

    Tak apa-apa. Serius, aku juga sering berpanjang-panjang di kolom komentar kawan. Inilah enaknya blog kan ya? Kalau di layanan socmed seperti twitter, bisa pegal kita nge-twit bertubi :mrgreen:

    Salam dari Jembrana, Bali.

    Salam kembali dari Blangpidie, Aceh, Bung :)

  13. :lol:

    Di tempatmu macam mana terbaca huruf Droid Sans ini, Man? Kau pakai Ubuntu kan? Ada Droid Sans jadi font di situ? :?

  14. @Alex©

    bagus, lebih jelas dibandingkan font yang dipake diblogku(*gak ngerti fontnya apa),
    ho oh aq pake ubuntu, kayaknya gak ada disini.

    ini bawaan theme atau di wordpress ini bisa ngedit css dan nambah file include untuk cssnya ?

  15. bagus, lebih jelas dibandingkan font yang dipake diblogku(*gak ngerti fontnya apa),

    Theme Neutra di blogmu itu:

    • Blog title : Arial (bold)
    • Post titles : Arial
    • Widget titles : Arial
    • Regular text : Arial

    ho oh aq pake ubuntu, kayaknya gak ada disini.

    Kayaknya di Ubuntu ada font ini. Aku pakai BlankOn tampak Droid Sans-nya. Meski memang lebih bagus dibuka di versi mobile di android. Karena Droid Sans itu tujuannya memang untuk mobile benarnya. Cuma sayang, tampilan tema Splendio nggak bagus di mobile, makanya kuganti lagi dengan tema Fresh & Clean sekarang ini, karena enak kalau dibuka di mobile blog.

    ini bawaan theme atau di wordpress ini bisa ngedit css dan nambah file include untuk cssnya ?

    Bawaan theme, Man. Di WordPress.com nggak dikasih ngedit CSS kecuali kita upgrade. Kalau dulu ada typekit yang bisa dipakai gratis di Wp.Com, tapi cuma dikasih 2 jenis font saja secara free, sekarang nggak dikasih lagi.
    Daripada upgrade CSS mending beli hostingan dan space sendiri saja, Man. Cuma repot kita ngurusi segala backup database itu. Aku sudah kapok :mrgreen:

  16. sampai2 pilihan huruf pun kau pikirkan sedetil ini ck ck
    saya suka huruf kyk di blog saya itu, lah yg terlihat simpel namun keren

    dan ah iya
    dikampung saya ada kata dingsanak yang artinya : saudara :D
    kurang lebih seperti dosanak tampaknya

  17. untuk postingan sudah mantap. sayangnya, dikotak komentar, jarak antar-baris kelihatan mepet sekali. IMHO lho ya…ehehe

    Ah ya, dari buku Tipografi yang saya baca nih, katanya lebih baik font untuk isi itu menggunaken serif. Karena secara tidak sadar kehadiran serif dapat membantu kerja mata kita dalam mempercepat proses membaca sebuah naskah. Apalagi naskah yang panjaaaangg, biar mata tidak cape juga.

    Rekomen aja kalau sudah jatuh cinta sama droid sans, kan ada droid serif juga tho? Etapi ini blog gratisan ya, tidak bisa seenak udel gonta-ganti font lewat google webfont :D

    Urusan baseline, descender dan ascender sih udah oke kalau saya lihat *bergaya-tipografer :P

  18. @ warm

    sampai2 pilihan huruf pun kau pikirkan sedetil ini ck ck

    :mrgreen:
    Dulu sering sembarangan saja, asal keren saja milih tema untuk blog. Tapi hurufnya menyiksa mata, jangankan orang lain, awak yang punya saja mata jadi serasa juling membaca hurufnya :lol:

    saya suka huruf kyk di blog saya itu, lah yg terlihat simpel namun keren

    Itu Lucida Sans Unicode, dari keluarga huruf Lucida. Memang salah satu diantara tipe huruf yang enak dilihat, seperti aku juga suka dengan tipe Lucida Grande :D

    dan ah iya
    dikampung saya ada kata dingsanak yang artinya : saudara :D
    kurang lebih seperti dosanak tampaknya

    Sepertinya itu memang varian dari rumpun bahasa yang sama. Akar katanya itu “sanak” yang bermakna “saudara”, seperti juga kata kisanak di Jawa :?

    @ hoek soegirang

    untuk postingan sudah mantap. sayangnya, dikotak komentar, jarak antar-baris kelihatan mepet sekali. IMHO lho ya…ehehe

    Iya sih. Di kolom komentar mepet dan hurufnya jadi kecil begitu, meski kalau kubuka dari versi mobile blog masih enak dibaca. BTW, ini maksudnya tema Fresh & Clean ini, bukannya Splendio kan ya? :D

    Ah ya, dari buku Tipografi yang saya baca nih, katanya lebih baik font untuk isi itu menggunaken serif. Karena secara tidak sadar kehadiran serif dapat membantu kerja mata kita dalam mempercepat proses membaca sebuah naskah. Apalagi naskah yang panjaaaangg, biar mata tidak cape juga.

    Benar. Makanya aku paling suka dengan tipe huruf Georgia, atau Times New Roman yang dulu sempat jadi standar di office suite. Tapi itu umumnya untuk tulisan di luar website/blog begini. Kalau menurutku, untuk tulisan seperti di blog, tipe sans-serif lebih enak dipakai, seperti Droid Sans ini :D

    Rekomen aja kalau sudah jatuh cinta sama droid sans, kan ada droid serif juga tho? Etapi ini blog gratisan ya, tidak bisa seenak udel gonta-ganti font lewat google webfont :D

    :lol:
    Itu susahnya. Dulu di WordPress.com ada typekit untuk menangani soal huruf ini. Daftar akun, cuma dikasih dua tipe huruf, tapi sudah bolehlah untuk sekedar text widget dan postingan. Sekarang sudah nggak ada lagi. Mesti upgrade CSS. :mad:

    Urusan baseline, descender dan ascender sih udah oke kalau saya lihat *bergaya-tipografer :P

    :lol:

    Sudah bolehlah ini. Jangan kau hasud lagi aku untuk ganti tema. Labil remaja sepertiku ini. :oops:

  19. @ hoek segirang

    emaaf OOT. itu kenapa linknya ke kushafactory. Apa pula itu kushafactory :|

    Wallahu’alam. Kata WordPress sendiri itu belum terdaftar :mrgreen:

  20. Membaca komentar dari Mas Budiastawa:

    …Tapi pada intinya, apapun hurufnya, yang penting blog itu rapi, jarak barisnya nggak terlalu mepet.

    Kalau di postingan sih, jarak baris tidak mepet. Tapi, di komentar blog ini jarak barisnya mepet, Bang Alex. Bacanya jadi kurang enak. *protes* *riwil*

    Btw, font di Google Reader sepertinya Arial ukuran 10 deh. *sotoy*

  21. Kalau di postingan sih, jarak baris tidak mepet. Tapi, di komentar blog ini jarak barisnya mepet, Bang Alex. Bacanya jadi kurang enak. *protes* *riwil*

    Ho oh. Di kolom komentar mepet spasi dan paragrapnya. :(

    Tapi masa mau ganti lagi. Hehe. Nanti nampak kali aku ini labil, padahal lagi kusembunyikan kelabilan yang menggalau ini *halah* :lol:

    Btw, font di Google Reader sepertinya Arial ukuran 10 deh. *sotoy*

    Arial 10? Bukanya di mana? PC/laptop, Mac, atau smartphone? Karena Arial memang standar Google Reader di produk berbasis Windows. Bisa diutak-atik untuk ditampilkan jadi tipe huruf Verdana atau Tahoma.
    Kalau pakai Firefox, setingannya ada di Chrome di Program Files/Mozilla Firefox. Cuma ya merepotkan juga sih. Kecuali pakai Office baru, aku pakai Office 2007, jadi ada tipe huruf tambahan seperti Calibri untuk dipakai di Google Reader.

    Susahnya ya ini: sebagus apapun tipe huruf pilihan, kalau dimaksudkan untuk semua pembaca, akan beda-beda. Droid Sans bagus di monitorku, tapi yang nggak ada Droid Sans di komputernya akan terbaca Trebuchet MS juga :(

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s