Film The Raid (Serbuan Maut Yang Tak Maut)

Kenal dengan poster film ini?

Ya. Sesuai judul di gambar tersebut, poster yang gaya berdirinya mirip dengan poster film Battleship itu, adalah poster film The Raid: film yang digunjing-gunjingkan sejak tahun lalu akan menjadi sebuah film yang “maut” sehingga aku pun pernah terbawa hype serupa fanboys Apple sibuk berwacana-berprediksi akan seperti apa iPhone enam bulan ke depan. Bukan main hebat isu soal film ini di tahun lalu, sesudah sukses disanjung-sanjung dalam Toronto International Film Festival. Pergunjingan dimana-mana, terutama di forum-forum, blog-blog hingga media sosial yang sudah macam jamur di musim hujan di ranah internet ini. Tidak salah seheboh itu di tahun lalu, sehingga aku sendiri pun terbawa obsesi untuk dapat melihat dengan mata kepalaku sendiri sebelum mati, seperti apa film nan diklaim “maut” ini. Apalagi dengan melihat trailer yang cukup menjanjikan seperti di bawah ini:

Dan… oh! Satu lagi hal yang membuat film ini jadi seolah menarik: musik rekaan Mike Shinoda. Membayangkan bahwa sebuah film produksi/lakonan WNI sendiri musiknya diracik oleh seseorang dari band populer luar negeri, memang cukup mampu membius obsesi untuk menonton film ini. :mrgreen:

Maka, kemarin… ketika ada waktu senggang, meluncurlah aku dengan istri tercinta ke bioskop di kota Bogor ini. Datang sebagai manusia modern yang  antri di depan penjual tiket yang cantik macam dipoles sejak lahir oleh Revlon, membeli tiket untuk The Raid di antara tawaran-tawaran bisu untuk melihat film  seperti HI5TERIA, SANTET KUNTILANAK dan THE WOMAN IN BLACK, lalu duduk-duduk dekat balkon sambil menikmati makanan yang tak pernah ada di kampungku, di ruang yang bertuliskan angka 21 di atas jidat pintu, dan menunggu saat suara palsu dari wanita tak bernama akan mengumumkan bahwa pintu nomor sekian akan segera dibuka karena film akan segera dimulai.

Istriku sempat berkelakar untuk menonton film Santet Kuntilanak saja, karena ada keraguannya bahwa film The Raid itu akan sebagus propaganda sejak tahun lalu. Namun sebagai suami yang merasa dirinya dominan, lupa bahwa di SD ada diajarkan peribahasa “Penyesalan selalu datang tak on time” atau “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian pengeluaran”, aku menolak opsi tersebut.

Hingga akhirnya suara wanita tak bernama pun tiba mengumumkan bahwa pintu nomor tiga akan dibuka, dan kami dipersilahkan masuk untuk menikmati layar tancap modern. Aku dan istriku bergandengan tangan dengan dada penuh degup akan menikmati sajian yang “maut”, “bukan main!”, “oh dahsyatnya!” seperti yang terlintas di dalam kepala.

Dan di sanalah aku dan istriku duduk, di dalam bioskop, menikmati film yang diperankan Si Iko Uwais, Si Ray Sahetapy, Si Donny Alamsyah, dan entah siapa lagi itu yang bermain, baik sebagai pemeran utama atau figuran-figuran yang naas kena sepak dan kena gebuk. Film yang jalur ceritanya digambarkan begini:

Sekelompok tim SWAT tiba di sebuah blok apartemen yang tidak terurus dengan misi menangkap pemiliknya seorang raja bandar narkotik bernama TAMA. Blok ini tidak pernah digerebek atau pun tersentuh oleh Polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak dijangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman.

Mulai bertindak di pagi buta, kelompok SWAT diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai TAMA, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, TAMA menginstruksikan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar.

Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh TAMA, tim SWAT harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup

Film ini persis seperti digambarkan dalam trailer selama ini: penuh adegan kekerasan, baku hantam, tembak-menembak. Bahkan di awal film saja sudah ada adegan bagaimana Tama Riyadi (Ray Sahetapy), selepas memakan mie dalam mangkok, menembak satu-demi-satu kepala mereka (entah siapa beberapa orang manusia naas itu) yang duduk bersimpuh membelakanginya. Saat tiba giliran yang terakhir, peluru habis. Dan Tama Riyadi dengan enteng mengambil sebuah palu dan menghantamkannya ke kepala korban terakhirnya. Apa dan kenapa mereka bisa di situ? Wallahu’alam. Hanya Tuhan dan pembuat skenario yang tahu. Mereka cuma figuran untuk dikepruk kepalanya demi mengesankan betapa kejam seorang penjahat bernama Tama.

Adegan-adegan kekerasan dalam film ini memang cukup berani, seperti menusukkan pecahan lampu TL ke leher, atau menghantamkan tenggorokan lawan ke pecahan kayu dari pintu yang sudah berantakan. Duel atau perkelahian dengan gaya pencak silat pun cukup bagus. Bioskop dipenuhi oleh suara “Hiiii!”, “Awwww!!” “Aduhhh!” dan sejenisnya.

Filmnya sendiri apa sebagus itu?

Sementara bioskop dipenuhi dengan jeritan-jeritan dari mayoritas kaum hawa, aku merasa mengantuk bahkan sejak beberapa menit awal film berlalu: sejak Ray Sahetapy menjadikan kepala orang seperti paku yang layak dihantam palu.

Film ini tidak sebagus yang kukira. Cenderung membosankan dan monoton. Sejak awal film dimulai, selepas Rama (Iko Uwais) shalat subuh dan berpisah dengan istri dan ayahnya, aku sudah mengernyitkan kening dan merasa ada yang dipaksakan dalam film ini. Simak saja adegan Rama berpisah dengan istrinya yang masih tidur di ranjang. Apa kata perpisahan mereka? “

“Aku mencintai kamu,” kata Rama.

“Aku mencintai kamu,” balas istrinya.

Ini kalimat yang menandai awal munculnya dialog-dialog membosankan di film ini, jika malah bukan dialog baku yang membuat film ini terasa seperti drama anak sekolahan yang mesti becus bahasa Indonesia. Berbalas kata antara Rama dan istrinya itu tak ubahnya sebuah pemaksaan kata “I love you” dalam lakon-lakon film bule, dengan penerjemahan mentah-mentah begitu saja. Kata-kata ini terasa janggal dan kelewat baku. Dialog yang mestinya sehari-hari malah jadi seperti dialog teater OSIS, ketika justru sinetron bisa lebih baik menampilkan kata “Hei… aku menyayangimu” atau “aku sayang kamu”, atau malah bilang saja langsung, “I love you”, bukan menerjemahkan kata-kata Inggris secara baku.

Di adegan Ray Sahetapy mengambil palu pun dia sempat bermonolog, “Sampai dimana tadi?” setelah pistol kehabisan peluru, setelah sebelumnya dia menepuk bahu calon korban terakhir untuk bersabar menunggu giliran dibunuh. Kesan suram dan aura pembunuhan malah jadi terasa menggelikan (bahkan anak-anak sekolah yang nonton saja tertawa dengan ucapan tersebut kemarin itu), karena terlalu memaksa untuk mengesankan betapa dingin sang pembunuh.

Kelemahan terbesar dari film ini adalah alur cerita yang tak jelas dan dialog-dialog yang cuma jadi pelengkap penderita tanpa makna, untuk membumbui serentetan adegan tembak-menembak dan baku-hantam. Simak saja adegan kala para polisi (yang disebut SWAT, dan bukannya Densus 88) melaju ke arah apartemen target, dimana Sersan Jaka (Joe Taslim) sebagai pemimpin pasukan, ngomong seakan khotbah di depan anak buah. Terlalu berapi-api dan penuh retorika, namun dengan akting tak meyakinkan. Kerut matanya, kerut jidat, mimik wajah, seperti dipaksakan untuk mengesankan dirinya aparat yang hebat, yang bersemangat untuk memberantas “sampah-sampah” kota. Seribu kali lebih baik briefing para prajurit TNI dengan komandan cuma lulusan tamtama seperti yang pernah kulihat. Gaya Joe Taslim bicara di dalam mobil tersebut adalah serupa dramatisasi ala sinetron, bukan sebuah gambaran bagaimana pemimpin dalam lapangan sama sekali (hei, aku pernah bergaul dengan mereka yang bersenjata, dan hafal sekali gerak-gerik, gaya bicara dan pemilihan bahasa para pemimpin aparat/pemberontak yang biasanya tandas, tegas dan tak berbelit-belit). Seorang Danramil/Kapolsek pun tak akan ngomong sama anak buahnya saat menjalankan operasi seperti sedang mendongeng tentang penjahat dan penyihir yang hendak menguasai kota. Dan  lebih dari itu: memberi briefing kala pasukan sudah bergerak, cuma pemimpin idiot yang akan melakukan adegan demikian. Adegan ini dipaksa ada sepertinya untuk menghemat waktu dan mempersingkat “kenapa-mengapa” di balik serbuan yang tak jelas ujung-pangkalnya.

Begitu kaku, monoton, baku dan membosankan dialog dalam film ini sehingga kata-kata makian seperti “anjing!”, “bangsaaaaat!” malah menjadikan para penjahat di dalam film tersebut seperti orang-orang terdidik dan sopan bahasanya. Mendengar caci-maki mereka, membuat para preman karbitan di jalanan tiba-tiba terasa lebih jahat, lebih bajingan.

Lalu, kisah persaudaraan antara Rama dan Andi (Donny Alamsyah) yang tiba-tiba saja mencuat di tengah cerita, seolah untuk kejutan dan harapan bahwa dia akan berbalik membantu mereka. Tapi itu bukan kejutan sama sekali: tanpa membaca spoiler pun sudah bisa ditebak sejak Andi melihat monitor yang mengawasi penjuru apartemen, bahwa kemungkinan terbesar mereka itu bersaudara. Monitor itu seakan memang dirancang dari pabriknya sedemikian rupa sehingga bisa menyorot wajah Rama dengan seksama. Sekali penonton sudah menyadari bahwa Rama dan Andi bersaudara (atau ada kaitannya), maka sudah bisa ditebak bahwa selanjutnya Andi akan berpihak kemana, atau minimal akan membantu siapa.

Adegan perkelahian dalam film ini, meski pun bagus, namun bukannya tak membosankan. Menonton film ini seperti menonton serial kartun Dragon Ball dalam Babidi Saga, dimana para jagoan naik setiap level tangga untuk melawan musuh satu demi satu dan berjaya menumbangkan mereka. Rama digambarkan begitu jagoan dan para penjahat begitu disiplin untuk antri digebuk satu-satu. Tak ada perkelahian seperti tawuran, namun seperti latihan pencak silat dimana penjahat begitu ksatria untuk maju satu demi satu, cuma untuk tumbang begitu saja. Hebat sekali rupanya penjahat di apartemen tersebut. Aku jadi bertanya-tanya, samurai mana pernah datang pada mereka dan mengajarkan etika seorang petarung sedemikian sopan? :P

Setelah kehilangan sekian anggota regu yang terlibat dalam serbuan (yang mendadak) ilegal tersebut, akhirnya sang jagoan dengan satu kawannya selamat. Malah diantarkan ke depan pintu gerbang oleh Andi, sang saudara si jagoan dengan begitu saja. Nasib para polisi yang jadi bangkai entah bagaimana dan kemana akan dibawa, tak ada kejelasan. Seperti awal cerita yang tak jelas pangkal, ujung cerita pun bernasib sama. Cuma ada adegan dua polisi lolos, dan Si Andi berbalik ke apartemen dengan senyum yang seakan penuh arti.

Ketika lampu bioskop dinyalakan, aku dan istri beranjak dari kursi, istriku mengerling dan menahan tawa. Dia tahu apa di benakku. Hingga akhirnya di parkiran dia benar-benar tertawa karena pas persangkaannya akan rasa kecewa.

Tapi film ini kan boleh diacungi jempol?

Boleh saja. Aku tidak mengatakan film ini total jelek belaka. Secara keseluruhan, film ini cukup bagus, meski cuma dalam hal efek dan adegan-adegan kekerasan saja, sesuai klaim bahwa film ini lebih agresif daripada film Merantau. Sementara klaim itu tidak melulu salah, namun agresifitas dalam film ini tidak membuat film ini menjadi sebuah tontonan yang menarik, jika dibandingkan dengan film Merantau, terutama bagi penonton yang ingin menikmati sebuah jalan cerita. Jika ada yang berniat menonton film ini CUMA untuk menikmati adegan kekerasan yang sudah disensor, atau melihat latihan pencak silat serta bagaimana pelakon Indonesia menjadi petarung yang akrobatik seperti Jackie Chan dan agresif seperti Bruce Lee, maka film ini patut direkomendasikan. Untuk jalan cerita? Lupakan saja. Cerita di film ini tak semaut kata “serbuan maut”. Penulis naskah dan pereka dialog di film ini sedang belajar menulis drama anak sekolah. Lebih baik tunggu film Samurai X (Rurouni Kenshin) atau tonton Santet Kuntilanak saja.

.

.

.

Atau nikmati saja sekuel gadungan jelang kenaikan BBM ini: The Raid 2 (Serbuan DPR).

:lol:

About these ads

78 thoughts on “Film The Raid (Serbuan Maut Yang Tak Maut)

  1. Sepertinya tidak. Serius: kau akan bosan dan bisa menebak seperti apa jalan cerita yang tak jelas jalan ceritanya ini. Kau akan heran betapa enaknya dua polisi keluar dari gerbang apartemen maut itu, dan tak ada kejelasan apa nasib rekan mereka. Di Indonesia kejadian begitu? Bah! Satu Brimob saja luka, markas Olo Panggabean (Godfathernya preman Medan) dulu diberondong Brimob, apalagi ini SWAT gitu loh. Densus 88 kalau di Indonesia. Mau legal tak legal aksi mereka, jiwa korps itu besar sekali. :mrgreen:

  2. Jadi seperti film biru ini? ‘Kan mirip. Cerita dan akting seadanya, tapi peduli apa, sebab bukan itu yang mau dijual pembuat/dicari pemirsa? :P

  3. @ warm

    baiklah, cukup membaca resensi ini
    saya ga jadi ah nontonnya
    ngeri jeh,, kepala dkepruk palu

    :lol:

    Atau baiknya coba nonton saja, untuk membuktikan opini yang sok jadi kritikus film ini? :mrgreen:

    @ Pak Guru

    Jadi seperti film biru ini? ‘Kan mirip. Cerita dan akting seadanya, tapi peduli
    apa, sebab bukan itu yang mau dijual pembuat/dicari pemirsa? :p

    Ekzekli! Kira-kira begitu :cool:

    @ Chic

    ahahahahaha persfektif berbeda. *pencet like*

    Jadi perspektif MakChich kira-kira bagaimana? :mrgreen:

    @ Aulia

    the raid 2 gadungan dicatut juga lapor ke Senayan :migreen:

    Hehehe…. Mungkin saja akan lebih baik dan enak ceritanya, tak bikin migren kepala :mrgreen:

    @ Amd

    Ga minat ah, ndak ada Nikita Willy… #huk

    :lol:
    Sadar, Om. Sadar :mrgreen:

  4. musiknya khas Linkin Park sekali, beat-beatnya betul-betul Mike Shinoda. Seperti yang pernah dia bikin di Fort Minor dulu.

    Walaupun belum nonton, tapi saya liat di trailernya, setipikal merantau ya aksi-aksinya? todong-todongan pistol, muncrat, ciprat, dan efek gorenya itu sama.

    Urusan sebab akibat, memang yang namanya film action susah dijelaskan dengan akal sehat. Sebelumnya gimana dan sesudahnya gimana, pokoknya gebuk, hantam, tendang, tembak, dan BOOMMM. :P

    Macem tipikal film Hollywood untuk urusan film Action, sampe sudah jadi stereotip dan dibikin guyonan di seantero ranah maya : peluru ndak habis habis, musuh kalo nembak ndak kena-kena, bantuan datengnya telat dll. Jadi wajar, ini film ya sama.

    Nah, mungkin karena sama-sama mengesampingkan logika, dan mengedepankan aksi *halah, ini film jadi dianggep bagus. Dan memang bagus ko’ untuk ukuran Indonesia. Walaupun tidak awesome, tapi ya close enough. At least, bisa jadi batu loncatan untuk bikin film sekelas Saving Private Ryan, atau Black Hawk Down, atau mungkin Seven Samurai :P

    Nah lagi, kembali lagi ke yang nonton, kalau yang doyan action, pasti setuju ini film bagus untuk kelas Indonesia yang sudah pekat sama film porno berhantu ituh. Tapi filsuf macem antum yang hiburannya musti sambil mikir juga, ndak cocok lah nonton film begini. Indonesia belum sampai level segitu, apalagi bikin film Action selevel disini. :P

    *kaboooorrrrr

  5. kalo film action ya liatnya dari action, kalo drama ya cari aja negeri 5 menara ato pemenang oscar the iron lady, the raid disandingkan film horor, action the raid berantem sedang film horor esek2, tidak ada salahnya jadi penggemar film horor tapi penggemar film horor nonton the raid kaya nonton jaka sembung bawa golok

  6. saya belum menonton mas, sebernya saya ingin menonton, tapi belum sempat saja, hehe!

    namun pada dasarnya, aku tidak suka dengan film yang jualan utamanya adalah kekerasan, mungkin sudah bosan karena faktor usia, kesukaan film kekerasan sudah saya manjakan sejak kecil sampai 5 tahun lalu :)

  7. @ hoek segirang

    musiknya khas Linkin Park sekali, beat-beatnya betul-betul Mike Shinoda. Seperti yang pernah dia bikin di Fort Minor dulu.

    Benar. Khas sekali musiknya. Kukira layak dimiliki score untuk film ini.

    Walaupun belum nonton, tapi saya liat di trailernya, setipikal merantau ya aksi-aksinya? todong-todongan pistol, muncrat, ciprat, dan efek gorenya itu sama.

    Setipikal, cuma lebih keren. Namun dari segi penceritaan, jauh lebih bagus Merantau.

    Urusan sebab akibat, memang yang namanya film action susah dijelaskan dengan akal sehat. Sebelumnya gimana dan sesudahnya gimana, pokoknya gebuk, hantam, tendang, tembak, dan BOOMMM. :P

    Ya nggak harus begitu juga kali. Merantau juga ada eksyen yang seru, tapi ada jalan ceritanya. Ada dialognya. Nonton film eksyen itu bukan nonton silat atau anak SMA tawuran, nggak ada angin nggak ada hujan gedebak-gedebuk.

    Macem tipikal film Hollywood untuk urusan film Action, sampe sudah jadi stereotip dan dibikin guyonan di seantero ranah maya : peluru ndak habis habis, musuh kalo nembak ndak kena-kena, bantuan datengnya telat dll. Jadi wajar, ini film ya sama.

    Aku tidak mempermasalahkan soal masuk-akal atau tidaknya sebuah film eksyen. Tapi seburuk-buruknya contoh yang kau beri, setidaknya ada jalan ceritanya. The Expendables ada jalan cerita. Ada dialog. Ada karakter-karakter yang kuat.

    Nah, mungkin karena sama-sama mengesampingkan logika, dan mengedepankan aksi *halah, ini film jadi dianggep bagus. Dan memang bagus ko’ untuk ukuran Indonesia. Walaupun tidak awesome, tapi ya close enough. At least, bisa jadi batu loncatan untuk bikin film sekelas Saving Private Ryan, atau Black Hawk Down, atau mungkin Seven Samurai :P

    Pikiranku juga sama sebenarnya. Seburuk-buruknya film ini, ada harapan bahwa ke depan akan lebih bagus. Apalagi film ini sebenarnya cuma side project dari film Berandal yang digarap karena kekurangan budget.

    Nah lagi, kembali lagi ke yang nonton, kalau yang doyan action, pasti setuju ini film bagus untuk kelas Indonesia yang sudah pekat sama film porno berhantu ituh. Tapi filsuf macem antum yang hiburannya musti sambil mikir juga, ndak cocok lah nonton film begini. Indonesia belum sampai level segitu, apalagi bikin film Action selevel disini. :P

    Eh, aku penggemar film eksyen. Aku penggemar olah raga bela diri, dari silat sampai taekwondo. Untuk alasan itu aku nonton film ini. Tapi sebagaimana pun film eksyen, pastilah ada karakter yang kuat. Karakter di film ini lemah semua. Ditakdirkan hadir cuma untuk berantam. Untuk sekelas Indonesia, di tengah deru film setan dan film buka aurat film ini mestilah bagus. Aku juga tidak selalu perlu nonton sambil mikir, cerita seringan apapun boleh dinikmati. Tapi jelas ceritanya. Bukan sekedar cerita asal jadi.
    :D

    @ budi

    kalo film action ya liatnya dari action,

    Kau baca postinganku bagus-bagus, aku juga menilainya dari segi itu FILM eksyen, bukan sekedar pameran berantam. Kecuali kau beranggapan film eksyen itu kayak pertarungan dalam SEA Games yang nggak perlu jalan cerita.

    kalo drama ya cari aja negeri 5 menara ato pemenang oscar the iron lady,

    Aku mencari film eksyen maka aku nonton film eksyen. Kalau aku cari drama maka aku akan nonton drama.

    the raid disandingkan film horor, action the raid berantem sedang film horor esek2, tidak ada salahnya jadi penggemar film horor tapi penggemar film horor nonton the raid kaya nonton jaka sembung bawa golok

    Aku bukan penggemar film horor. Usiamu berapa? Aku sudah nonton bioskop di tahun 80-an, dan tak pernah suka dengan film horor sejak era Suzanna. Dari zaman Saur Sepuh dan Tutur Tinular, atau Srigala Jalanan-nya Barry Prima aku sudah nonton film eksyen. Jadi tak perlu jadi Jaka Sembung bawa golok aku untuk nonton film, karena film Jaka Sembung pun sudah kutonton bertahun lalu.

    Soal disandingkan, kau tengok di postingan: aku justru menyandingkannya dengan Rurouni Kenshin karena itu film action yang memiliki cerita sendiri (dan jika kau bukan jaka sembung bawa golok, kau tahu kenapa kucoret Santet Kuntilanak itu. Karena Santet Kuntilanak itu joke).

    Kalau mau sekedar pamer gedebak-gedebuk, nggak usah nonton film eksyen, di jalanan juga banyak anak-anak sekolah yang ber-action saat tawuran.

    Sebenarnya begini… dari segi film action (cak kau baca lagi postingan ini), film ini bagus. Efeknya lebih mantap. Sinematografinya boleh diacungi jempol. Seumur-umur nonton film action, aku belum pernah melihat film sebagus garapan Gareth Evans, yang membuatku jadi menambah Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan sebagai dua pelakon favoritku. Dari segi action (alias berantam belaka), ini film memang layak disanjung seperti di festival film Toronto.

    Tapi dari segi penceritaan, tak usah dibilang film eksyen tak butuh cerita. Ip Man yang dimainkan Donnie Yen itu juga film eksyen, ada ceritanya. Bahkan film jaman Barry Prima dan Advent Bangun juga sudah ada film action, dan ada ceritanya. Merantau itu juga film eksyen, tapi jelas jalur ceritanya. Jika kau baca ulasan dan kritik luar negeri, jauh lebih pedas dari opini kacanganku di sini. Malah dialog dan cerita dalam film ini yang jadi jaka sembung bawa golok.

    Mungkin karena film ini dipaksa menjadi awal sebuah trilogi, maka nampak terpaksanya. Setahuku ini memang proyek sampingan dari film Berandal, yang katanya akan jadi sekuel The Raid nanti. Kita lihat saja. Harapanku sih akan lebih bagus dari film ini. Setidaknya dari sisi penceritaan bisa sebagus atau malah lebih dari kisah Merantau. Konsep ini sudah bolehlah untuk dikembangkan ke depan.

    @ jarwadi

    saya belum menonton mas, sebernya saya ingin menonton, tapi belum sempat saja, hehe!

    Kalau ada waktu tonton saja. Mungkin akan memiliki pandangan berbeda denganku sesudah menontonnya nanti :mrgreen:

    namun pada dasarnya, aku tidak suka dengan film yang jualan utamanya adalah kekerasan, mungkin sudah bosan karena faktor usia, kesukaan film kekerasan sudah saya manjakan sejak kecil sampai 5 tahun lalu :)

    :lol:

    Hampir-hampir sama lah. Tapi aku masih suka film eksyen. Ditengah film cinta-cintaan, setan-setanan dan buka aurat ala DePe dan JuPe, sebenarnya film ini cukup menjanjikan, apalagi jika ada cukup dana untuk melanjutkannya sebagai pengembangan proyek fillm Berandal ke depan nanti. Selain dari itu, sebagai penggemar silat, aku suka gagasan untuk mengenalkan silat karena sudah jenuh dengan ciaat-ciaaaat ala Kung Fu atau Jujitsu-nya Steven Seagal yang begitu sakti sehingga sehelai rambut pun tak bergeser kalau dia berantam (Serius! Steven Seagal itu lebih sakti dari Chuck Norris :lol: )

  8. nothing’s perfect mksd saya :)
    ya semoga ke depannya semakin baik.
    terus maju perfilman Indonesia. :D

  9. @ Dee Anne

    Benar. Tak ada yang perfect, itu sebab film-film seperti Avatar-nya James Cameron pun tetap akan ada kritik juga.

    Dan soal film ini… Ya. Semoga ke depannya makin baik. Aku berharap film Berandal (yang katanya akan jadi sekuel film ini) akan lebih baik, dengan budget yang lebih melimpah, dialog dan cerita yang mudah-mudahan lebih kaya. Setidaknya film ini bolehlah jadi penyegar di tengah serbuan film-film Indonesia yang membosankan belakangan.

    @ syahmins

    ……

    Coba saja nonton… Mungkin saja akan ada penilaian lain :mrgreen:

  10. Menurut saya The Raid ini bagusnya dilihat dari segi film making nya aja … kalo dari sisi moral cerita gak usah dibahas …. ehehehe
    Ya perbandingan aja film yang banyak beredar pasti banyak yang tentang … you know what …. :D

  11. Iya, dari segi pembuatan memang mengalami kemajuan jika dibandingkan dengan film Merantau, apalagi film-film lain di bawah rumah produksi juragan sinetron dari India itu. Kalau saja cerita dan dialognya lebih kaya, film ini akan lebih bagus benarnya. Sayang saja skill Iko dan Yayan habis cuma untuk berantam kian kemari begitu saja, tanpa dibarengi cerita yang kuat.

  12. Entahlah,sudah lama aku kehilangan minat nonton film,baik berlatar sejarah maupun sekedar eksyen gedebak-gedebuk.

  13. Maksudku, postingan ini berbeda dengan postingan-postingan di blog lain, dan tweet-tweet yang memuja-muja film ini. Dan saya merasa punya teman :lol:
    *dasarnya emang ga suka film berdarah-darah sih* :mrgreen:

  14. Saya jadi mikir2 lagi mau nonton film ini Bang. Awalnya rencanany mw nonton film ini di akhir minggu ini. Dasarnya ga suka film action, tapi teman2 nontonnya penggila film action. Tampaknya saya ga akan kuat mental menonton film ini.

    Lebih menarik menunggu sekuel 2 ‘Serbuan DPR’

  15. @ Iwan

    Entahlah,sudah lama aku kehilangan minat nonton film,baik berlatar sejarah maupun sekedar eksyen gedebak-gedebuk.

    Ada apakah gerangan? :O

    @ Chic

    Maksudku, postingan ini berbeda dengan postingan-postingan di blog lain, dan tweet-tweet yang memuja-muja film ini.

    Hehehe. Iya sih. Kebanyakan pada ramai memuja-muja film ini. Aku sendiri pun di awalnya sempat berekspektasi lebih pada film ini. Cuma ya itu… kalau diumpamakan saat lampu dihidupkan dan keluar bioskop, seperti mau bilang: “Itu saja? Cuma begitu saja?”
    :mrgreen:

    Ya nggak salah juga sih kalau ada yang memuja film ini. Dari sisi efek dan adegan baku hantam, memang lumayan bagus lah. Tapi yang nggak nahan itu kalau ada kritikan terhadap film ini lalu bawa-bawa nasionalisme atau “situ kali aja suka drama/horor, jangan tonton film ini!”. Ini alasan klasik. Ngemeng-ngemeng soal nasionalisme, yang main pilem-pilem pocong dan sutradaranya juga orang Indonesia, kenapa tak dibela sekalian ya, Makchic? :P

    Dan saya merasa punya teman :lol:

    Aku juga ngiranya bakal minoritas yang agak-agak nganggap jelek film ini. Ada teman juga rupanya :mrgreen:

    *dasarnya emang ga suka film berdarah-darah sih* :mrgreen:

    Wah, alergi darah rupanya? Termasuk Darah Garuda, Darah Dan Doa, Darah Muda dan Darah Janda Kolong Wewe yang dimainkan Trio Macan dengan mesumnya? :lol:

    *dikemplang*

    @ Citra Taslim

    Saya jadi mikir2 lagi mau nonton film ini Bang. Awalnya rencanany mw nonton film ini di akhir minggu ini. Dasarnya ga suka film action, tapi teman2 nontonnya penggila film action. Tampaknya saya ga akan kuat mental menonton film ini.

    Coba saja nonton. Kalau nggak kuat, tutup mata :mrgreen:

    Lebih menarik menunggu sekuel 2 ‘Serbuan DPR’

    Ho oh. Kira-kira apa lagi akan terjadi nanti sesudah “serbuan” kemarin :mrgreen:

  16. satu catatan saya, dialog antar pemain kaku, tidak banyak improvisasi. satu2nya permainan yg plg membantu film ini tidak datar adalah akting ray sahetapy. imo, secaa keseluruhan film ini lumayan bagus, dibandingkan film2 indonesia lain serupa seperti merantau. tapi sy lbh tertarik dg bagaimana penonton disini bersikap slama nonton. masak logat papua dalam satu adegan diketawain, dann ada tepuk tangan segala macam. hadeuh

  17. @ Gita Sudjarwo

    satu catatan saya, dialog antar pemain kaku, tidak banyak improvisasi. satu2nya permainan yg plg membantu film ini tidak datar adalah akting ray sahetapy.

    Benar. Kaku sekali. Penggunaan kata “saya” dan “kamu” untuk sebuah film eksyen yang dipenuhi caci-maki, malah rasanya nggak klop ‘gitu. Miskin dialog dan perbendaharaan kata-katanya. Dan ya memang yang luwes itu Ray Sahetapy, apa mungkin karena aktor kawakan ya? Meski agak heran dan mencengir juga, kematiannya yang terlalu cepat dan tiba-tiba saja di tangan sang letnan, kukira juga kejutan bagus, di luar persangkaan bahwa dia akan mati di ujung pilem :mrgreen:

    imo, secaa keseluruhan film ini lumayan bagus, dibandingkan film2
    indonesia lain serupa seperti merantau.

    Ya bolehlah, dari segi penggarapan film yang lebih serius meski ceritanya hambar.

    tapi sy lbh tertarik dg bagaimana penonton disini bersikap slama nonton. masak logat papua dalam satu adegan diketawain, dann ada tepuk tangan segala macam. hadeuh

    :lol:

    Sama kejadian kayak di ruang berpintu nomor 3 yang diarahkan masuk oleh wanita tak bernama tempatku menonton kemarin itu. Hehe. Dialek orang daerah Timur sepertinya memang lucu bagi sejumlah orang-orang di sana waktu itu. Etapi… Itu bukannya dialek Ambon (Maluku) ya?

    Soal tepuk tangan… Hehehe… Jadi ingat waktu kecil dulu nonton pilem-pilem Jet Lee di bioskop, apalagi kalau ada Shieh Miao, si bocah kung fu, menggebuk musuhnya. Sudah top sekali itu. Yang tidak berdiri saja kami melepas peci (maklum, cabut dari mengaji) sebagai tanda penghargaan betapa agung silatnya menumpas kejahatan :lol:

  18. Jalan cerita mungkin bagi anda gak menarik luru2 aja.and sederhana..tp bagi saya sebenarnya menarik dan..sebagian kritikus diluar..bahkan bilang ceritanya epic..makanya mau dibikin remake versi holliwood,,.
    hanya saja plotnya begitu sederhana, sdikit twist..
    dan ini sbrnya bukan hanya action..tp juga survival thrillerr..begitu menegangkan…..sedikit adegan dramanya memang..but still good movie

  19. alur cerita gak jelas?? menurut saya cerita nya sangat jelas kok, bahkan menurut saaya sangat simple, briliant dan mudah dimengerti (mungkin anda saja yang tidak memerhatikan film ini),,
    film ini juga menampilkan adegan” tak terduga yang jarang ada di film-film lainnya seperti ‘bos besar ‘TAMA’ mati dengan mudah, DSB (sekedar saran dari saya kepada anda, lain kali jika menonton film ini jangan lah menduga-duga adegan seperti film holywood karna di ‘THE RAID’ lain dari film film holywood yang ceritanya cenderung gampang ditebak )
    ya jika menurut anda ada beberapa pemain yang akting nya sedikit kaku.. tapi menurut saya itu bukan lah alasan untuk dipermasalahkan, karna film ini bukan bergenre ‘Drama’ melainkan bergenre ‘Action’ dan ‘thriller’ yang banyak adegan menegangkannya dan juga tidak ada adegan-adegan romantisnya yang memang cuma bikin ngantuk,,, itulah yang menjadi kelebihan dari film ini..

    yaaa mungkin jika anda ingin mencari film yang alur ceritanya jelas, detail , menegangkan dan bahkan ingin yang banyak adegan kesek-kesek nya, mungkin film ‘Santet Kuntilanak’ atau mungkin film ‘Hantu puncak datang bulan’ sepertinya cocok untuk anda…..

  20. liat review ini kaya liat film india, muter2 kemana, kayanya ts lebih cocok nonton agent vinod dibanding the raid

    jadi intinya masalah selera, selera ts mungkin film yg muter2

    yg jelas mayoritas kritikus amerika pada bilang positif kok sama film ini, dan film ini bukan saja udah melampai film2 indonesia, tetapi malahan sudah disejajarkan dengan film2 holywood, bahkan ada beberapa kritikus san yg bilang bahwa film the raid telah membuat standar baru bagi film2 aksi.

  21. Score-nya bukan Mike Shinoda, oom… tapi Ario Suprayogi & Fajar Yuskemal… Mike Shinoda khusus pemutaran yang dirilis di Amerika sana…
    Ga suka sama filmnya boleh, tapi hargailah orang-orang yang namanya ditulis di Credit Title…

    Dragon Ball – Babidi Saga? maaf, jagoannya bukan naik setiap level tangga tapi turun makin ke bawah (dan sama sekali tidak ada tangga di pesawat angkasanya Babidi)…

    Okelah, saya pun mengakui akting-akting pemerannya hancur-hancur (cast-nya diambil dari atlet dan petarung dari berbagai perguruan bela diri)…
    Tapi mengharapkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro dikloning sampai puluhan orang yang kemudian dilatih beladiri sejak usia 5 tahun mungkin baru 20 tahun lagi (kalau tidak mau dibilang mustahil) ada film eksyen di Indonesia yang pemerannya fasih berakting dan berlaga…

    Dialognya saya akui hancur karena memang diterjemahkan mentah-mentah dari naskah aslinya yang berbahasa Inggris yang dibuat sutradaranya yang bule (merangkap editor dan penulis naskah)… Yang jadi pertanyaan adalah kenapa anda tidak mengulas sama sekali tentang editing film ini dan teknik pengambilan gambarnya? Padahal dua poin inilah yang dipuji-puji kritikus-kritikus film di luar negeri selain koreografi pertarungannya… Oh iya, saya lupa kalau disini bukan review film dari seorang kritikus film tapi hanya curhat dari seorang penonton awam…

    Dunia perfilman kita masih seperti bayi yang belajar berjalan dan anda sudah mengharapkan dia bisa berlari… Kecewa lah yang anda dapatkan…

    Sebagaimana anda yang senang sekali mencari-cari kekurangan di film The Raid, saya pun senang sekali mencari kekurangan-kekurangan di tulisan anda…

    Saya tunggu tulisan anda tentang Santet Kuntilanak…

  22. @ soonaiif

    Jalan cerita mungkin bagi anda gak menarik luru2 aja.and sederhana..tp bagi saya sebenarnya menarik dan..sebagian kritikus diluar..bahkan bilang ceritanya epic..makanya mau dibikin remake versi holliwood,,.

    Benar. Lurus-lurus saja dan banyak kebetulan. Bagi yang melihat dari sisi kesederhanaan, film ini menarik dari sisi sederhananya, namun bagi yang mungkin melihat bahwa film dengan penggarapan yang tidak sederhana namun alurnya terlalu sederhana, ini sedikit mengecewakan. Aku jadi penasaran akan seperti apa remake versi Hollywood nanti (maaf, bukan holliwood).

    hanya saja plotnya begitu sederhana, sdikit twist..
    dan ini sbrnya bukan hanya action..tp juga survival thrillerr..begitu menegangkan…..sedikit adegan dramanya memang..but still good movie

    Plotnya memang begitu sederhana kawan. Rasanya kasihan saja, dengan film sehebat itu penggarapannya (serius, aku sendiri belum pernah melihat film action Indonesia yang serius dari segi film making sebagus ini, namun ceritanya terlalu sederhana). Ya, masih bisa dikategorikan film bagus lah dari sisi ini, maka wajar saja banyak yang memuji untuk kategori action saja.

    @ ircan arnizar

    tulisan membosankan, ngalor ngidul ala sinetron, belum selesai paragraf ketiga aku sudah tertidur

    :lol:

    Komentarmu juga membosankan, tipe fanatik yang nggak suka kesukaannya kena kritikan. Nggak disuruh baca, baca juga, lalu bawa-bawa soal tidur kemari :P

    @ LOL

    alur cerita gak jelas?? menurut saya cerita nya sangat jelas kok, bahkan menurut saaya sangat simple, briliant dan mudah dimengerti (mungkin anda saja yang tidak memerhatikan film ini),,

    Benar, sangat simpel dan mudah dimengerti. Bahkan anak SMP yang duduk di sebelahku kemarin itu saja, nggak tega kusuruh diam,karena sepanjang film dia ngomong dan bilang betapa mudah film ini dimengerti dan aku setuju dengannya. Justru karena aku memerhatikan detail film ini maka aku jadi terpikir bikin tulisan kacangan ini.

    film ini juga menampilkan adegan” tak terduga yang jarang ada di film-film lainnya seperti ‘bos besar ‘TAMA’ mati dengan mudah, DSB (sekedar saran dari saya kepada anda, lain kali jika menonton film ini jangan lah menduga-duga adegan seperti film holywood karna di ‘THE RAID’ lain dari film film holywood yang ceritanya cenderung gampang ditebak )

    Ah, kalau ini kita sepakat. Kematian Si Boss Besar itu memang satu dari cuma sedikit kejutan dalam film ini. Aku setuju. Itu di luar dugaan, dan membuatku salut dengan mematikan peran Ray Sahetapy semudah itu. Banyak yang kecele, termasuk aku sendiri. Soal menduga-duga, aku tidak semata bersandar pada film Hollywood, tapi juga pengalaman nonton film-film dari Asia seperti Merantau dan Ip Man, misalnya. Anda salah kalau mengira aku fans berat film action Hollywood.

    ya jika menurut anda ada beberapa pemain yang akting nya sedikit kaku.. tapi menurut saya itu bukan lah alasan untuk dipermasalahkan, karna film ini bukan bergenre ‘Drama’ melainkan bergenre ‘Action’ dan ‘thriller’ yang banyak adegan menegangkannya dan juga tidak ada adegan-adegan romantisnya yang memang cuma bikin ngantuk,,, itulah yang menjadi kelebihan dari film ini..

    Memang bukan alasan utama, tapi tetap layak dikritiki, karena -jika anda benar menonton film ini- dalam film ini sendiri ada upaya dramatisasi. Coba lihat sosok Bowo yang bawaannya marah-marah nggak jelas, sampai mau mukul penghuni apartemen dan nggak ada jelas kesalahan Rama apa, dia marah saja sama Rama. Termasuk dengan istri penghuni apartemen yang sakit, suaminya yang membantu mereka, serta persaudaraan Andi dan Rama yang sudah bisa diduga. Kali saja bisa digarap lebih serius sisi drama dari film ini atau mending dihapuskan saja, karena justru membuatnya jadi jelek.

    yaaa mungkin jika anda ingin mencari film yang alur ceritanya jelas, detail , menegangkan dan bahkan ingin yang banyak adegan kesek-kesek nya, mungkin film ‘Santet Kuntilanak’ atau mungkin film ‘Hantu puncak datang bulan’ sepertinya cocok untuk anda…..

    :lol:
    Ini nih jurus klise untuk menyerang siapa saja yang mengeritik film ini. Jadi siapa saja yang mengeritik ujung-ujung di-blame seolah cocoknya nonton film-film seperti disebutkan itu. Kalau anda beralasan bahwa adegan esek-esek menjual dari film-film demikian, apa bedanya dengan action yang cuma menjual kekerasan dan miskin cerita? Sama saja itu. Bikin saja film anak-anak SMA berantam di jalanan cuma karena rebutan cewek. Nggak usah bikin yang sebagus Merantau. Murah meriah pulak. Cuma tambahkan efek sadisnya saja. Toh sama keduanya: yang satu menjual tempik satu lagi menjual otot.

    @ ryan

    liat review ini kaya liat film india, muter2 kemana, kayanya ts lebih cocok nonton agent vinod dibanding the raid

    Terimakasih atas pujiannya. Mungkin anda juga cocoknya nonton hentai saja, yang biasanya fansnya nyasar ke semua tempat dan mengira semua tempat forum dengan penulis blog disebut TS?

    jadi intinya masalah selera, selera ts mungkin film yg muter2

    Benar, masalah selera. Jadi kalau seleraku beda, apa itu salah? Toh aku tidak mengatakan bahwa yang nonton film ini seleranya buruk. Perkara film muter-muter, tidak selalu demikian. Aku mengambil perbandingan dari film MERANTAU, yang digarap oleh mereka yang sama yang menggarap film ini, dan jelas bukan tipe film muter-muter. Bisa dinikmati karena ceritanya ringan tapi nggak menghilangkan bobot karakter dari pemain seperti Iko dan Yayan Ruhiyan.

    yg jelas mayoritas kritikus amerika pada bilang positif kok sama film ini, dan film ini bukan saja udah melampai film2 indonesia, tetapi malahan sudah disejajarkan dengan film2 holywood, bahkan ada beberapa kritikus san yg bilang bahwa film the raid telah membuat standar baru bagi film2 aksi.

    Berarti itu seleranya kritikus di sana untuk menilai demikian. Dan lagi pula, selera dan kritik bukan soal mayoritas atau minoritas. Aku setuju bahwa ada standar baru yang menakjubkan dari film ini, terutama adegan pertarungan yang sebenarnya memberi warna segar pada penggemar film action yang sudah jenuh dengan Kung Fu ala Donnie Yen dan Jujitsu ala Steven Seagal yang membosankan itu. Tapi kritik-kritik mereka juga bukan cuma memuji namun juga menyorot soal kekakuan dan kekosongan cerita dalam film ini. Meski aku juga tak suka dengan Roger Ebert yang keterlaluan memberi film ini cuma 1 bintang dari 4 bintang dengan dalih yang terlalu simpel pula: “Welsh director, Gareth Evans, knows there’s a fanboy audience for his formula, in which special effects amp up the mayhem in senseless carnage”. (Walau pun, kalau memerhatikan beberapa komentar yang ad-hominem terhadap sesiapa pengeritik film ini, dia mungkin ada benarnya soal fanboys itu).

    @ Kraken

    Score-nya bukan Mike Shinoda, oom… tapi Ario Suprayogi & Fajar Yuskemal… Mike Shinoda khusus pemutaran yang dirilis di Amerika sana…

    Ya aku tahu itu. Tapi aku suka versi score yang Mike Shinoda di luar sana itu. Khas sekali beat-nya.

    Ga suka sama filmnya boleh, tapi hargailah orang-orang yang namanya ditulis di Credit Title…

    Ah, kritikan bagus. Ya score di atas itu mestinya di-credit-kan ke mereka, meski tak ada niat aku melupakan mereka, cuma kadung suka saja dengan versi Mike Shinoda dari sejak mendengar/melihat thriller awal film ini di tahun lalu.

    Dragon Ball – Babidi Saga? maaf, jagoannya bukan naik setiap level tangga tapi turun makin ke bawah (dan sama sekali tidak ada tangga di pesawat angkasanya Babidi)…

    Benar, makin turun ke bawah. Berbedanya dengan The Raid memang masalah naik-turunnya itu. Tapi intinya sama: naik tiap level, meski di Babidi Saga tak ada tangga. Terimakasih koreksinya.

    Okelah, saya pun mengakui akting-akting pemerannya hancur-hancur (cast-nya diambil dari atlet dan petarung dari berbagai perguruan bela diri)…

    Yang paling rusak itu Joe Taslim, Kawan. Terutama dialog dan aktingnya di luar adegan perkelahian. Dan ada yang aneh juga, mungkin kelewatan untuk dipertimbangkan: badan Joe Taslim dengan rompi anti-peluru dihajar segampang itu oleh Yayan Ruhiyan, membuatku takjub dengan peran Yayan yang seolah memerankan manusia baja. Rompi anti-peluru itu keras loh, kecuali Yayan itu memiliki tenaga dalam yang hebat. Meski, tentu saja, adegan perkelahian mereka itu mantap juga. Judo vs Silat :mrgreen:

    Tapi mengharapkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro dikloning sampai puluhan orang yang kemudian dilatih beladiri sejak usia 5 tahun mungkin baru 20 tahun lagi (kalau tidak mau dibilang mustahil) ada film eksyen di Indonesia yang pemerannya fasih berakting dan berlaga…

    Ah, tidak mesti sebegitunya lah. Nicholas Saputra justru mungkin akan aneh kalau memainkan film eksyen begitu, mungkin karena imejnya itu sudah kadung di film-film drama serius. Iko Uwais sudah cukup bagus. Juga Yayan. Coba lah diperhatikan postingan dan komentar ini: aku justru membandingkan soal akting, karakter dan dialog justru dengan berpatokan pada film Merantau, yang juga digarap oleh Gareth Evan. Soal kelemahan di film ini, meski aku kritiki dengan segala kesok-tahuanku, juga bisa lah dimaklumi karena ini film sampingan berhubung dana untuk Berandal tak mencukupi. (Di sisi ini aku salut dengan The Raid, dengan dana minim bisa bikin film yang bagus dari segi pembuatan, meski jadi rendah di sisi cerita dan karakter).

    Dialognya saya akui hancur karena memang diterjemahkan mentah-mentah dari naskah aslinya yang berbahasa Inggris yang dibuat sutradaranya yang bule (merangkap editor dan penulis naskah)…

    Ini yang disayangkan, meski kita bisa maklumi, seperti kataku di atas (juga dalam komentar dan postingan ini sendiri), bahwa ini agaknya efek dari kepepet (waktu dan uang) bersebab film ini kan direka-ulang dari yang seharusnya untuk film Berandal. Sayang loh, film dengan action sebagus itu justru dialognya lemah :(

    Yang jadi pertanyaan adalah kenapa anda tidak mengulas sama sekali tentang editing film ini dan teknik pengambilan gambarnya? Padahal dua poin inilah yang dipuji-puji kritikus-kritikus film di luar negeri selain koreografi pertarungannya…

    Justru karena itu sudah kelewat banyak dipuji-puji dan diulas maka aku tak tertarik lagi menuliskannya di sini, sebagian karena aku setuju dan sebagian lagi karena itu juga sudah kubahas dalam komentar-komentarku di atas. Di postingan juga tertulis: Secara keseluruhan, film ini cukup bagus, meski cuma dalam hal efek dan adegan-adegan kekerasan saja, sesuai klaim bahwa film ini lebih agresif daripada film Merantau.

    Apa itu kurang jelas ya? Tapi bolehlah itu kritikanmu. Karena memang sepertinya jadi timpang postingan ini, karena terlalu menitik-beratkan pada cerita dan dialog saja :?

    Oh iya, saya lupa kalau disini bukan review film dari seorang kritikus film tapi hanya curhat dari seorang penonton awam…

    Bukan :lol:
    Aku memang bukan kritikus film, dan jujur kubilang ini juga kritik kacangan. Ya kau benar, aku memang salah satu dari penonton awam yang tidak secerdas mereka yang mengelu-elukan film ini. :mrgreen:

    Dunia perfilman kita masih seperti bayi yang belajar berjalan dan anda sudah mengharapkan dia bisa berlari… Kecewa lah yang anda dapatkan…

    Dibilang bayi berjalan, tidak juga loh. Mungkin lebih tepatnya remaja yang sedang tumbuh. Aku tidak mengharapkan film ini “bisa berlari” jika saja bukan karena kritik di luar sana tinggi memuji, dielukan di festival film bergengsi pula. Jika saja film ini cuma dan cuma terbit begitu saja dalam negeri, mungkin ekspektasi tidak sebesar itu. Dan lagi pula, bukankah karena hip yang hebat demikian pula maka orang berbondong-bondong menonton? Soal kecewa, kecewa benar sih tidak. Toh dari film ini, aku jadi penasaran akan seperti apa nanti remake versi Hollywood atau film Berandal yang jadi sekuelnya. Dalam komentar-komentarku di atas jelas kubilang, dengan berpatokan pada penggarapan sisi action-nya yang bagus di film ini, bolehlah jadi harapan nanti film ke depan akan lebih baik dan lebih kaya ceritanya :D

    Sebagaimana anda yang senang sekali mencari-cari kekurangan di film The Raid, saya pun senang sekali mencari kekurangan-kekurangan di tulisan anda…

    Oh, anda mewakili pihak The Raid? Maaf kalau apa yang disebut kesenanganku itu jadi mengusik sehingga anda membalasnya dengan baik dan cukup bagus untuk berkomentar begini. Kita memiliki kesenangan masing-masing tentunya. Terimakasih juga sudah mencari kekurangan-kekurangan di tulisan ini. Aku senang kritikanmu.

    Saya tunggu tulisan anda tentang Santet Kuntilanak…

    :lol:
    Sepertinya anda menganggap serius soal Santet Kuntilanak yang jelas-jelas kuberi garis coretan itu (atau karena browsing dari ponsel maka tak nampak ya, kayak di ponselku? :? ), karena itu joke belaka benarnya. Tapi bolehlah, nanti kalau aku sempat menonton mungkin akan kutulis juga seperti kawanku ini mencela me-review film Pacar Hantu Perawan, meski aku lebih tertarik menunggu saat untuk mengeritik/memuji/mencela film Rurouni Kenshin atau Berandal saja. Kalau ada waktu tentunya :)

  23. BTW, membaca beberapa komentar di sini, jadi ingat dengan postingan Memeth soal The Raid juga. Sepertinya dia benar, bahwa memang ada tipe orang yang memaksakan benar pendapatnya bahwa apa yang dia sukai mesti disukai semua orang, bahkan meski pun yang mengeritik berusaha objektif (i.e.: mengakui film ini kuat dari sisi eksyen tapi lemah dari sisi cerita dan tidak mencegah orang lain menontonnya), sehingga kalau perlu menyerang mereka yang tak suka, atau yang menyorot kekurangan di film yang disayanginya (begitu disayangi hingga tak mampu bikin postingan sendiri untuk memuji-muji). Jarang dari pembela film ini seperti sosok Kraken yang bukan awam dan begitu cerdas dalam komentarnya di atas, sehingga meski membela film ini tapi tidak juga berlebihan untuk mengelak bahwa film ini ada kelemahan tersendiri.

    Apa pun, film memang sebentuk karya seni, dan memang tak jauh dari masalah selera. Yang belum nonton, dipersilakan nonton. Yang sudah nonton, lalu jatuh cinta, jangan memaksa orang untuk jatuh cinta. Yang sudah nonton dan tak suka, jangan melarang orang menonton atau suka dengan film ini. Itu saja. Kembali ke masalah selera dan cara masing-masing menikmati tontonan. Kalau suka puji, kalau tak suka ya kritiki. Ini dunia bebas. Kecuali ada yang nanam saham di film ini, atau produser The Raid mengeluarkan peringatan: dilarang menonton film ini kalau tak suka dan dilarang mengeritik, maka itu lain cerita.

    Jadi ya… Silakan nonton kalau mau. Aku sendiri berharap, kemantapan eksyen di film ini dan kekayaan cerita/dialog/karakter di film Merantau nanti akan berkolaborasi di film Berandal, meski dengan belajar dari film ini jadi belajar untuk tidak berekspektasi terlalu berlebihan. :?

  24. alaaaahhh….bela film aja udah kek mo perang aja. sampe nyerang yg nulis opini segala kayak dirinya aja yg ken kritik. aku cari2 soal Olo Panggabean nyasar kemari pulak. malah dpt kumpulan pantengong ngebela film overated ini. bah. tipikal indon kalilah klean. di Medan kutonton film ini memang kayak dibilang yg nulis blog acem org ngarang ini. kek nonton film porno, gak perlu pake otak. beda cuma fansnya saja.

    opini di blog ini emang ngawur, tapi suka2 dia lah. mau dia cerita kek sinetron pigi nonton sama bininya yg jelas nulislah dia. klean itu yg kimak. film dgn cerita skuad cemen dibela. di Medan jadi babi skuad begitu. preeett. masih enak awak tonton Ong Bak. tapi kalo klean mau tonton mau puji2 ha klean tontonlah klean pujilah. jgn org beda pendapat klean serang. acem klean aja boleh muji2 yg lain tak boleh kritik. otak sempit acem puki.

    yg punya blog ko nulis rapi sikit lae. biar kambeng2 yg marah film idola mrk kena kick enak baca terang mata mrk. emang kimak tipe acem mrk. kawan ku juga ada itu mintak diantok kepalanya bela film ini udah acem bela Mamak bapaknya.

  25. :lol:

    Santai, Bang. Sudah biasanya itu. Maklum lama terpuruk, negeri awak minim hal membanggakan, jadi sekali dapat yang bagus dipuji di luar negeri ya ikut dipuji habis-habisan. Biasalah. Umpama film Hantu Jeruk Burut (kebayang kau kata “Burut”? :lol: ) dipuji pun, pasti akan dibela mati-matian juga meski yang main akting sepas-pas Dewi Persik atau Saiful Jamil :mrgreen:

    Btw, macam mana pula nyasar karena Olo Panggabean? :lol:

    Acem…. Wakakaka…. Lama tak kudengar/kubaca kata itu. Memang Medan punya barang :p

    BTW, tengkiu kritiknya. Memang tak rapi tulisanku, blogku ini. Ya biasalah. Blog pribadi begini. Bukan untuk cari rezeki. Cuma untuk menulis-nulis kata hati. Suka, baca, tak suka baca pun tak jadi dosa :p

    PS: 125.165.xx.xx kutengok bermasalah itu :mrgreen:

  26. Jengah banget waktu dengar dialog2 kayak baca google translate gitu. Ngakak sendirian di bioskop gara2 sang komandan (jaka) bilang “sudah2 gak usah bertengkar” padahal udah gak ada yang bertengkar. Bah, sinetron banget itu.

    Dan sepulangnya, saya sampekan keluhan2 dan unek2 saya ke sang sutradara film itu (lewat teman saya). Dan jawabannya, “Inilah susahnya orang Indonesia, dikasih film bagus gak paham”.

    Hah?.

  27. ya, inikan pendapat berdasarkan perspektif yang punya blog, jika merasa gak setuju tinggal kasih link(atau tulis disini reviewnya tapi jangan lupa minta ijin dulu ke master blog ini) review menurut perspektif anda tentang film ini.

    sehingga jadi bahan pertimbangan lain kami yang belum nonton, mungkin bisa jadi pertimbangan kami buat beli cd ori atau download di internet >:) >:)

  28. Om numpang komen yah…
    Sebenarnya sih bagi ane penggemar film action, ini film sangat bagus sekali. Film ini beda dari kebanyakan film action lain karena persentase aksi nya yang sangat besar, mungkin 90% lebih dari keseluruhan waktu dan mungkin juga hanya kurang 10% saja dramanya dan saya sangat menyukainya. Dan hal ini ane rasa belum pernah ada di film hingga saat ini (misal ada sangat sedikit sekali). Atau bisa saya bilang aksinya total, gak setengah-setengah.
    Nah sekarang tinggal kita saja, kita menikmati tidak dengan persentasi aksi yg cukup besar itu. Bila tidak mungkin film action seperti ini kurang cocok bagi kita. Bukankah sudah ada film merantau dimana persentase drama masih cukup besar.
    Kalau ane ibaratkan pada masakan, misal ada restoran dengan dengan dua menu yaitu rendang pedas dan rendang setan. Anda yang suka pedas mencoba rendang pedas dan suka. Kemudian anda mencoba rendang setan dan kaget, teriak, atau apa lah intinya anda tidak cocok/ tidak kuat dengan pedasnya (mungkin sambil mengomel “ini makanan apa racun”). Padahal dimisalkan di restoran tersebut dua menu tersebut sama2 laku keras. Kemudian anda coba komplain ke pemilik restoran untuk mengurangi kepedasan rendang setan (*The Raid), akan tetapi sang pemilik justru menganjurkan anda untuk memilih rendang pedas saja (*Merantau). Bila anda tetap komplain dan memaksa rendang setan (*The Raid) agar menjadi rendang pedas (*Merantau) dengan kata lain menghapus rendang setan, bolehkah anda saya katakan egois. Kenapa egois, karena anda telah memaksakan semua orang untuk menyukai selera anda. Bukankah rendang setan juga memiliki banyak peminat. Jadi intinya, bukankah oleh restoran (*Merantau Film) sudah memberikan menu untuk masing2 pelanggannya yaitu rendang pedas (*Merantau) dan rendang setan (*The Raid), kita pilih saja menu yang cocok untuk kita sendiri. Bila rendang setan dihapus, terus kita2 penikmat rendang setan bagaimana om…? Mungkin bagi ane bila memperbaiki drama yg 10% itu menjadi lebih bagus dan maksimal tanpa menambah persentasenya, ane setuju-setuju saja. Tapi jika diubah persentasenya lebih besar, ane kan jadi makan rendang pedas saja om… *kurang greget om….

    *hanya komen dari ane yang masih balita ini om, kalau ada kesalahan maap ya om V^^

  29. Aku merasa di bohongi oleh sutradara,makanya aku males nonton film, kecuali film kartun anak yang lumayan menghibur.

  30. @ dodo

    Jengah banget waktu dengar dialog2 kayak baca google translate gitu. Ngakak sendirian di bioskop gara2 sang komandan (jaka) bilang “sudah2 gak usah bertengkar” padahal udah gak ada yang bertengkar. Bah, sinetron banget itu.

    :mrgreen:

    Mungkin karena yang garap langsung Gareth Evans ya? Dalam artian, tak ada penerjemahan yang lebih membumi lah. Lebih terasa, setidaknya dengan bahasa khas daerah suburban seperti kawasan Jakarta. Dari sisi eksyen, ini film memang bagus sih ya.

    Dan sepulangnya, saya sampekan keluhan2 dan unek2 saya ke sang sutradara film itu (lewat teman saya). Dan jawabannya, “Inilah susahnya orang Indonesia, dikasih film bagus gak paham”.

    Hah?.

    :lol:

    Sebenarnya bukan orang Indonesia saja kok. Di luar juga ada komplen begitu. Cuma karena mainstream memuji saja maka yang (sok-sok) kritik jadi minoritas. Lagian ini pada akhirnya masalah selera dan cara masing-masing menikmati film juga. Agak selfish juga sih kalau sutradaranya ngomong begitu. :? Tak heran fanboys-nya juga pada arogan terhadap semua kritik.

    BTW, kenal dengan pihak sang sutradara rupanya? Salamkan saja. Bilang, kalau nanti mau bikin dialog, aku mau bantu. Tak usah bayar pun tak apa-apa. Serius. Kalau jelek, aku yang nanggung cacian. Hehe. mrgreen:

    @ SF©

    ya, inikan pendapat berdasarkan perspektif yang punya blog, jika merasa gak setuju tinggal kasih link(atau tulis disini reviewnya tapi jangan lupa minta ijin dulu ke master blog ini) review menurut perspektif anda tentang film ini.

    Ya biarkan sajalah, Man. Enaknya jadi anonimus tanpa mencantumkan blog sendiri ya begitulah, bisa enak berkomentar, apalagi di blog ini masih diizinkan untuk berkomentar. Kalau aku tak suka perbedaan, tentu sudah kublokir atau kuhapus komentar berbeda :D

    sehingga jadi bahan pertimbangan lain kami yang belum nonton, mungkin bisa jadi pertimbangan kami buat beli cd ori atau download di internet >:) >:)

    BTW, saranku kau beli DVD original saja atau nontonlah di bioskop. Aku sempat kepikiran mengunduh juga, tapi nggak tega. Jelek-jelek pun, ini film memang ada bagusnya, apalagi kalau kau lihat budget mereka minim dengan pendapatan yang masih rendah untuk film ini. Layak dikoleksilah. Bantu-bantu nyumbang perfilman dalam negeri :mrgreen:

    @ MadDog

    Om numpang komen yah…

    Silakan :D

    Sebenarnya sih bagi ane penggemar film action, ini film sangat bagus sekali. Film ini beda dari kebanyakan film action lain karena persentase aksi nya yang sangat besar, mungkin 90% lebih dari keseluruhan waktu dan mungkin juga hanya kurang 10% saja dramanya dan saya sangat menyukainya. Dan hal ini ane rasa belum pernah ada di film hingga saat ini (misal ada sangat sedikit sekali). Atau bisa saya bilang aksinya total, gak setengah-setengah.

    Sepakat. Maka itu di tulisan ini kubilang: Kalau memang CUMA mau menikmati eksyen saja, film ini layak direkomendasikan. Kenapa? Karena belum pernah ada film eksyen Indonesia yang digarap sebagus ini. Sejak zaman 80-an aku nonton film Indonesia dari era Advent Bangun dan Barry Prima, belum pernah ada yang sebagus ini. Padahal di tahun 1990-an, Die Hard sudah meletus di Indonesia dan Jet Li naik pamor dengan film-film seperti Appointnment With Death dan High Risk, namun perfilman Indonesia masih stagnan dengan persilatan zaman kerajaan yang sama seperti film-film Mandarin era Fong Sai Yuk :D

    Nah sekarang tinggal kita saja, kita menikmati tidak dengan persentasi aksi yg cukup besar itu. Bila tidak mungkin film action seperti ini kurang cocok bagi kita. Bukankah sudah ada film merantau dimana persentase drama masih cukup besar.

    Benar memang. Tapi dengan melihat banyak kritikan dan pujian, apalagi di festival film sehebat di Toronto sana, sebenarnya wajar jugalah jika ada harapan bahwa film ini juga tidak terlalu kosong dan hambar dari segi cerita (tidak harus penuh drama sih. The Expendables juga soal sekelompok tim elit dan juga tidak banyak berbumbu drama, namun alur ceritanya menarik, ada karakter yang arogan juga seperti Bowo di film The Raid). Namun mungkin ekspektasi minoritas penonton sepertiku, terlalu berlebihan soal ini. Terlalu merasa kasihan kalau akting Iko dan Yayan yang bagus di Merantau jadi lebih berfokus pada eksyen saja di film ini.

    Kalau ane ibaratkan pada masakan, misal ada restoran dengan dengan dua menu yaitu rendang pedas dan rendang setan. Anda yang suka pedas mencoba rendang pedas dan suka. Kemudian anda mencoba rendang setan dan kaget, teriak, atau apa lah intinya anda tidak cocok/ tidak kuat dengan pedasnya (mungkin sambil mengomel “ini makanan apa racun”). Padahal dimisalkan di restoran tersebut dua menu tersebut sama2 laku keras. Kemudian anda coba komplain ke pemilik restoran untuk mengurangi kepedasan rendang setan (*The Raid), akan tetapi sang pemilik justru menganjurkan anda untuk memilih rendang pedas saja (*Merantau). Bila anda tetap komplain dan memaksa rendang setan (*The Raid) agar menjadi rendang pedas (*Merantau) dengan kata lain menghapus rendang setan, bolehkah anda saya katakan egois. Kenapa egois, karena anda telah memaksakan semua orang untuk menyukai selera anda. Bukankah rendang setan juga memiliki banyak peminat. Jadi intinya, bukankah oleh restoran (*Merantau Film) sudah memberikan menu untuk masing2 pelanggannya yaitu rendang pedas (*Merantau) dan rendang setan (*The Raid), kita pilih saja menu yang cocok untuk kita sendiri. Bila rendang setan dihapus, terus kita2 penikmat rendang setan bagaimana om…? Mungkin bagi ane bila memperbaiki drama yg 10% itu menjadi lebih bagus dan maksimal tanpa menambah persentasenya, ane setuju-setuju saja. Tapi jika diubah persentasenya lebih besar, ane kan jadi makan rendang pedas saja om… *kurang greget om….

    Benar. Kalau aku memaksakan begitu, itu namanya egois. Sama egoisnya dengan yang nge-fans film ini memaksakan pula agar film ini dianggap cocok untuk semua peminat genre action, karena dalam genre action itu sendiri ada beda-beda juga tiap selera mereka yang menikmati genre tersebut. Memperbaikinya tentu tidak dengan melebihkan drama, nanti bisa-bisa kita melihat pula Ketika Cinta Bertasbih dalam film The Raid, itu juga jadinya nggak lucu. Dan memang akan kurang greget.

    *hanya komen dari ane yang masih balita ini om, kalau ada kesalahan maap ya om V^^

    Tak apa-apa. Sebenarnya perkara beda usia bukan utama, cuma caramu menyampaikan analogi, aku suka, walau kita beda pendapat.

    @ Iwan

    Aku merasa di bohongi oleh sutradara,makanya aku males nonton film, kecuali film kartun anak yang lumayan menghibur.

    Lho? Sudah nonton? Jadi juga nonton?
    Tapi bolehlah itu untuk memancing minat anak-anak belajar silat. Aku sendiri akan jadikan opsi film ini untuk anakku nanti kalau dia minat belajar bela diri juga :mrgreen:

  31. hehehe…. kok kita senasib ya bro… aku baru hari ini nonton film The Raid.
    Dan penilaianku juga sama. Silakan di cek di status FBku. wkwkwkwk (lebay)
    Kalo untuk action saya acungkan dua jempol ke atas…. tapi kalo untuk cerita? Saya acungkan dua jempol ke bawah…. ancur banget!!! Sangat-sangat-sangat disayangkan dan kasihan sekali. Harusnya bagus dan cerdas, menjadi film yang kampungan dari sisi cerita (karena saya sedang sadar, bahwa saya lagi nonton film, bukan sinetron). Gitu aja bray….

  32. pendapat ente agak bersebrangan ama ane gan hihhiihihi..
    menurut ane ukuran film Indonesia, ini uda yang terbaik :D

  33. @ Ramdlan

    Aku juga merasa begitu, dari segi cerita. Masih mencoba objektif lah, bahwa dari sisi eksyen film ini bagus. Aku sudah baca status FB-mu dan setuju dengan poin-poin di situ :)

    @ buburasem

    Tak apa-apa agak berseberangan. Namanya juga pendapat, opini masing-masing. Justru jadi tak enak kan kalau semua seragam? ;)

    Kalau menurut ukuran film Indonesia memang ini mungkin yang terbaik, apalagi kalau aku menilainya dari sisi eksyen. Tapi untuk penceritaan, entah kenapa masih merasa lebih baik Merantau. Tapi ya subjektif sih ini. Yang agak disayangkan ya, ini kan film sudah go international begitu. Rasanya agak mubazir saja kalau banyak yang lowong, meski aku sendiri masih memaklumi dari sisi dana yang minim (gila itu, 1 juta dolar dan bersaing dengan film-film eksyen luar, hebat itu memang! :D ).

  34. Simpel saja sebenarnya, yg ga suka ga usah di pakasain nonton, yg sangat suka silahkan gunakan hak untuk nonton kalo perlu lebih dari sekali juga gpp karna saking sukanya. Dan
    saya gak suka sama orang yg ngomong ” apalah film begitu aja dfi puja” bukankah itu sudah jadi hak masing2, mungkin lo ga suka tapi mereka suka, lagi pula gak merugikan kan??

  35. mas kalo film sequel the raid 2 (serbuan DPR) kapan mulai tayang lagi….?
    siapa yang berperan menjadi anggota gengnya…. ?

  36. @ Goblok

    Setuju. Itu hak masing-masing, tak boleh dipaksakan: baik dipaksa untuk suka atau tak suka. Masalah beda opini, beda persepsi ya hak masing-masing. Yang penting jangan mencela penonton, kalau mau kritik ya kritik filmnya saja. Nonton nggak nonton juga nggak ada dosa atau pahalanya kan? :mrgreen:

    @ m anriyan

    Mungkin tahun ini atau tahun depan, paling lambat sekitar pemilu nanti. Anggota gengnya siapa lagi kalau bukan anggota DPR yang sering ngerampok uang negara itu :lol:

  37. BTW, kenal dengan pihak sang sutradara rupanya? Salamkan saja. Bilang, kalau nanti mau bikin dialog, aku mau bantu. Tak usah bayar pun tak apa-apa. Serius. Kalau jelek, aku yang nanggung cacian. Hehe. mrgreen:

    Iya, nanti saya sampaikan kalo kontak2 dia lagi

  38. Hanya orang aneh yg bs ngantuk liat film ini. . .
    kalo ngantuk kenapa bisa cerita lengkaap bgt dr awal sampe akhir. . .

  39. @ Dodo

    Hehe. Mantap juga kau kenal dengan pihak pembuat film ini. Ya, sampaikanlah :lol:

    @ Sari

    Mungkin. Tapi tak sedikit “orang aneh” yang mengantuk saat nonton film ini kalau begitu
    :mrgreen:

    Ya logikanya begini: ngantuk itu tak sama dengan tidur. Dalam kondisi ngantuk pun, otak masih bekerja. Anda mengantuk tapi umpama Anda melihat mobil sedan lewat Anda masih bisa sadar dan ingat untuk bilang bahwa itu mobil dengan model sedan dan bukannya bajaj. Lalu Anda menuliskan itu belakangan. Mungkin malah bisa menambahkan deskripsi berapa angka platnya dan apa warnanya. Tergantung daya ingat masing-masing sih. Kira-kira begitu.

  40. Gak kenal kok, cuma tau aja. Kebetulan aja “teman wanitaku” tu cineas jadi ya kenal dengan orang2 PH merantau

  41. Kau orang ketiga yang bilang film ini ‘standar’, Lex. Jadinya saya ngga menyesal karena akhirnya nonton Negeri 5 Menara. Btw, bagaimana keadaan di sana setelah gempa, Lex?

  42. @ dodo

    Tapi tetap bisa sampaikan kritikan langsung ya? Enak dong itu, nggak kayak blog ini, ngomong kejauhan. Hehe :mrgreen:

    @ nandobase
    :lol:

    Tak heran kalau masih ada juga yang bilang ini film “standar”. Yaaa…. standar untuk film action lah. Eh, aku malah belum sempat itu nonton Negeri 5 Menara. Bagus?

    Ah iya… Gempa semalam itu memang bikin panik di kampung. Pada ngungsi ke tempat yang lebih tinggi. 8,5 SR soalnya, dan gempa-gempa susulan juga cukup besar, masih di atas 6-7 SR. Tapi sepagi tadi dapat kabar sudah aman lagi kondisi di daerah sana. Aku sendiri masih di Bogor, Bro :)

  43. gw dah nonton,n gw setuju ma opini pak alex diatas dari actionnya yg bagus sampe alur ceritanya yg gag jelas..banyak kejanggalan disana-sini yg bikin ketwa geli..misalnya adegan percakapan dua penunggu truk swat yg ngomongin bola,secara itu sopir swat apa sopir pabrik? lol hahaha…

  44. untuk dodo, apa benar gareth sampai jawab seperti itu, setahu saya dia bisa terima kritik untuk filmnya kok, lihat saja tanggapan dia di twitter atas review roger ebert yang mengkritik negatif film the raid

  45. @ dave

    Ups, baru nyadar ternyata saya nulisnya sang sutradara ya? Klarifikasi bukan sutradara tapi PH Merantau

    Maaf, khilaf nulisnya :-)

  46. Ummm?????,

    Film ni bagus (Bagus bukan berarti sempurna)… lebih baik junjung tinggi itikad baik para sineas Indonesia yang sedang memperjuangkan nama bangsa kita lewat jalur film. ya meskipun fim The Raid gak 100% buatan Indonesia, tapi kalau ada yang bilang ini film Wales kan lucu???. jadi meski banyak kekurangan gue tetap bangga. karena ini bukan film yang melulu menunjukkan aurat (montok and mulus is no.1), setan (Antu nya udah dibikin ancur2an, tapi DEMI TUHAN gue gak takut sedikitpun, malah gue kesal –> kenapa gue gak takut2 ya???), cinta (Percintaan yang romantis dan mengharu biru –> KATANYA!!!!!!), aduuuuuuhh.. ibarat masak sayur tanpa panci (Mubazir, ngebuang duit).

  47. ga ngerti….bagus apa ga….yg pasti masa ngantuk….gw mah stress nontonnya liat darah….kecuali malemnya ga tidur he he he

  48. @ erwinsaba
    :mrgreen:

    Itu juga adegan kocak. Ngobrol soal hasil pertandingan sepak bola saat sedang genting melakukan penyerbuan, dan lalu para bandit santai datang menenteng senjata dan menembak mereka begitu saja. Hehe.

    @ Roy

    Benar. Bagus bukan berarti sempurna, Dan memang tak ada film yang sempurna, maka itu tak ada film yang pernah bisa memuaskan seluruh penonton di planet ini. Iktikad baik itu abstrak, absurd, dan relatif sekali. Iktikad baik seperti apa? Raam Punjabi dengan sinetronnya yang “murahan” juga mengaku memiliki iktikad baik. Soal film tak ada kaitan dengan memperjuangkan nama bangsa, karena film bukan olimpiade seperti olimpiade fisika dan matematika yang resmi membawa nama negara.

    Mengeritik film ini bukan berarti menerima film yang sama-sama kita tak suka seperti yang menunjukkan aurat dan setan. Kukira opiniku terhadap film ini cukup objektif.

    @ ayu

    Yang jelas aku ngantuk. Mungkin karena malam sebelumnya sempat begadang :maka jadi mengantuk. Hehe.

  49. ini cuma resensi dari empunya blog yang ga suka film beginian, eloklah kau nonton Pocong Mandi Goyang Pinggul saja *dikepruk

  50. :lol:

    Film beginian dan film begituan apalah beda. Cuma beda sensasi saja. :lol:

    Kau hafal sekali judul film begonoan :mrgreen:

  51. *telat*
    Dan postingan tentang film ini pun panjang banget komentarnya :lol:
    Btw bang, “ts” itu apaan? *ga tw*
    Kalo menurut aku sih The Raid bagus, karena yang aku cari memang adegan bunuh2annya, yah waaupun belum sekejam Ninja Assasin. Dan karena sudah dapat warning soal dialog-nya yang rada kaku jd ga heran2 amatlah waktu mendapati penggunaan EYD yang salah tempat. Tapi afterall bagus sih terutama buat batu loncatan perfilman ∂ΐ Indonesia, jg sebagai alternatif piihan dan penyegar diantara kepungan film2 sex horor lokal sekelas DePe atau JuPe :mrgreen:

  52. Ya bolehlah, kalau kubilang, penilaian tentang film itu. Aku sendiri beranggapan kalau si Roger Ebert agak keterlaluan juga sih mendiskreditkan film ini, cuma ya itu… masih banyak celah kosongnya, meski ada pemakluman untuk itu :mrgreen:

  53. yah.. intinya film ini mampu mengumpulkan bnyk opini di masyarakat. krn semakin dibicarakan (ntah itu baik atau buruk, suka tidak suka, pro atau kontra) film ini akn semakin terkenal.

  54. Walah… baru baca postingan ini sekarang (lagian juga, baru nonton via donlot bajakan di komputer hihihi).
    Tapi sebagian besar opininya memang benar sih. Mulai dari cerita lurus mulus, banyak adegan absurd sampai dialog keju (cheesy maksudnya).
    Tapi aku suka sama adegan berantemnya. Malah dalam beberapa scene cukup realis lah.

    Tak ada perkelahian seperti tawuran, namun seperti latihan pencak silat dimana penjahat begitu ksatria untuk maju satu demi satu, cuma untuk tumbang begitu saja. Hebat sekali rupanya penjahat di apartemen tersebut. Aku jadi bertanya-tanya, samurai mana pernah datang pada mereka dan mengajarkan etika seorang petarung sedemikian sopan? :P

    Eeerrr… tadinya sempat balik nonton ulang hasil donltan khusus adegan keroyokan buat konfirmasi. Masalahnya, lokasi berantem di tempat yang lumayan sempit seperti di selasar, bukannya justru bikin lawan hanya bisa maju satu per satu atau paling 2 orang doang? Kalau 5 orang maju semua, malah ngebacok punggung teman sendiri :D
    Ada beberapa perkelahian Iko Uwais menghadapi 2 orang sekaligus koq.
    Jadi inget samurai x ttg taktik menghadapi keroyokan, larilah ke lorong sempit membelakangi tembok sehingga lawan terpaksa maju satu-satu dan tak ada yang membacok dari belakang :P

    The Expendables ada jalan cerita. Ada dialog. Ada karakter-karakter yang kuat.

    *ngakak*

    Jalan cerita The Expendables? kelompok jagoan melawan gerombolan penjahat, dan akhirnya kelompok jagoan menang! Itu jalan ceritanya? apa bedanya sama The Raid.
    The Raid nyerbu gedung berisi bandit bersenjata api, 2 orang bisa keluar selamat aja masih agak gak masuk akal. Apalagi 5 orang nyerbu satu “negara” pulau dijaga pasukan bersenjata berat bisa selamat keluar tanpa luka berarti. Ya ya ya….. saya tau jawabannya koq. ada RAMBO gitu loh! hehehehe…

    Ada dialog? eerrrrrr…. bedanya cuma dialognya diganti pake bahasa inglis. Baku atau tidak penggunaannya, tetap aja isinya sama cheesy dengan dialog The Raid. si jet li mencoba melucu dgn cara mentertawakan diri sendiri, tapi aku koq gak merasa bisa senyum apalagi ketawa, joke-nya hambar. Satu2nya adegan dgn dialog lumayan cuma dialog segitiga antara si rambo, si die hard dengan governator di dalam gereja, itupun dengan akting kaku.

    Karakter kuat? eeerrrr…. yang benar aja? Karakter mana yang kuat? Justru karena ensemble characters jadinya terlalu banyak tokoh yg dibahas, bukannya jadi nggak ada satupun yang punya penokohan kuat? Lagian emang si rocky dari awal gak niat bikin film drama dengan karakter kuat koq.

    tabik, just my two goceng

  55. Sampai saat ini saya blm nonton filmnya secara total. Kemaren tu dapet dvd bajakan tapi yah kita sama taulah kualitasnya :)

  56. @ Donita

    Benar sekali, Donita. Itu sisi bagus dari pro-kontra tentang kualitas sebuah karya :D

    @ Ando

    Walah… baru baca postingan ini sekarang (lagian juga, baru nonton via donlot bajakan di komputer hihihi).

    Aku juga malah baru sempat baca komentarmu sekarang. Hehehe.

    Tapi sebagian besar opininya memang benar sih. Mulai dari cerita lurus mulus, banyak adegan absurd sampai dialog keju (cheesy maksudnya).

    Ya memang itu sebenarnya yang paling tersorot olehku :mrgreen:

    Tapi aku suka sama adegan berantemnya. Malah dalam beberapa scene cukup realis lah.

    Benar, dalam beberapa adegan, cukup realis. Tapi itu tidak lantas membuat puji-pujian penuh sanjung pada film ini jadi pupus, menurutku.

    Eeerrr… tadinya sempat balik nonton ulang hasil donltan khusus adegan keroyokan buat konfirmasi. Masalahnya, lokasi berantem di tempat yang lumayan sempit seperti di selasar, bukannya justru bikin lawan hanya bisa maju satu per satu atau paling 2 orang doang? Kalau 5 orang maju semua, malah ngebacok punggung teman sendiri

    Di beberapa adegan, benar: lokasinya sempit. Tapi lihat seperti adegan kala mereka terkepung di sebuah kamar, dan salah satu dari para SWAT mengapak lantai (baru sadar aku lantai apartemen sebenteng itu rupanya dari kayu). Itu bukan adegan realistis, ada yang teriak-teriak depan pintu dan tak langsung membobol untuk berantem ramai-ramai. Juga di beberapa tempat berantam, ada ruangan yang cukup lega untuk sekaligus bisa maju sekitar 2 atau 3, meski kau benar juga: ada juga adegan dimana Iko menghadapi dua orang sekaligus. Namun permasalahannya justru macam kau sebut: yang dari belakang seperti menunggu giliran perintah untuk menusuk dari belakang, sehingga begitu ksatria untuk tidak melakukannya, tak seperti kisah Samurai X yang kau contohkan :D

    Jalan cerita The Expendables? kelompok jagoan melawan gerombolan penjahat, dan akhirnya kelompok jagoan menang! Itu jalan ceritanya? apa bedanya sama The Raid.

    Benar. Secara umum sama. Tapi intrik dan cerita yang dibangun dalam film The Expendables, justru lebih jelas daripada yang tak jelas ujung-pangkalnya ini (meski ditutupi dengan kemungkinan ada sekuel lagi nantinya). Memang sama-sama soal sekelompok jagoan melawan sekelompok penjahat, tapi keduanya beda dari segi penceritaan. Aku membandingkan justru karena tema ceritanya sama (kukira kau bisa bedakan antara TEMA cerita dan JALAN cerita).

    The Raid nyerbu gedung berisi bandit bersenjata api, 2 orang bisa keluar selamat aja masih agak gak masuk akal. Apalagi 5 orang nyerbu satu “negara” pulau dijaga pasukan bersenjata berat bisa selamat keluar tanpa luka berarti. Ya ya ya….. saya tau jawabannya koq. ada RAMBO gitu loh! hehehehe…

    Itu memang sisi lama film Amrik yang terlalu heroik. Rambo, Chuck Norris, Commando. Terlalu jago. Kobong film The Expendables memang di situ. Tapi dari segi cerita eksyen, menurutku lebih jelas daripada The Raid.

    Ada dialog? eerrrrrr…. bedanya cuma dialognya diganti pake bahasa inglis. Baku atau tidak penggunaannya, tetap aja isinya sama cheesy dengan dialog The Raid. si jet li mencoba melucu dgn cara mentertawakan diri sendiri, tapi aku koq gak merasa bisa senyum apalagi ketawa, joke-nya hambar. Satu2nya adegan dgn dialog lumayan cuma dialog segitiga antara si rambo, si die hard dengan governator di dalam gereja, itupun dengan akting kaku.

    Bahasa manapun yang dipakai, itu tidak menghilangkan bahwa dialog dalam TE lebih kaya daripada TR. Ada joke yang memang hambar, termasuk adegan show-off Jason kala melempar pisau di penghujung film TE. Tapi dialog-dialog dalam film TE lebih jelas mencerminkan karakter tiap pemainnya, sementara TR cuma kuat di Ray Sahetapy saja. Wanita istri Iko? Cuma pelengkap penderita. Ayahnya? Cuma pemanis awal cerita. Cuma itu.

    Ya, aku juga tak suka dengan adegan 3 veteran film eksyen itu dalam gereja. Tapi aku lebih tak suka dengan dialog yang maksa “gaya dialog inggris yang diindonesiakan” dalam The Raid. Jauh lebih kaku.

    Karakter kuat? eeerrrr…. yang benar aja? Karakter mana yang kuat? Justru karena ensemble characters jadinya terlalu banyak tokoh yg dibahas, bukannya jadi nggak ada satupun yang punya penokohan kuat? Lagian emang si rocky dari awal gak niat bikin film drama dengan karakter kuat koq.

    Ada. Karakter teman mereka yang berangasan itu, lupa aku namanya, itu lebih kuat daripada karakter di film TR. Benar, terlalu banyak tokoh yang dibahas, dan justru hal yang sama dilakukan dengan lebih konyol lagi di film TR. Ada bandit yang tiba-tiba adalah saudaranya. Ada sersan yang kesannya pemarah tanpa alasan jelas. Lebih lemah daripada film TE.

    Dan aku membandingkannya memang karena bukan sama-sama film drama: tapi film eksyen. Seburuk-buruk film eksyen, ada penokohan jelas siapa perannya apa. Di TR, semua terasa dipaksa selain Ray dan Iko.

    tabik, just my two goceng

    Tabik kembali. Just my cepek.

  57. ah nggak juga lah,,
    daripada film indonesia yang mayoritas cerita murahan yang hanya mengandalkan kemolekan tubuh cewek,,
    mending film action kayak gini dah,
    lagi pula prestasinya juga dah terlihat di kancah internasional,
    lebih baik pakai pemain domestik namun laku sampai ke negeri orang,
    daripada pakai pemain dari negeri orang namun cuma laku dalam area domestik aja,

  58. Udah mas, tutup aja kolom komennya.., gak akan ada habisnya kalo dilanjutin…
    sampean yg mengkritik, tetap bertahan dengan pendapat dan argumen sampean…
    mereka yg memuji, juga bertahan dg pendapat dan argumen mereka…
    sama aja kan? kapan selesainya?
    jadi ya… segera diakhiri aja lah…

  59. Waktu film ini tayang di bioskop, gua gak bisa nonton nih film karena masih bekerja di luar negeri. Tapi tadi malam lagi tayang perdana di RCTI. Untuk action nya bagus, bisa dibilang ini film Indonesia dengan tampilan action paling yahud yang pernah gua tonton. Tapi, untuk jalan cerita, gua setuju dengan pemilik blog ini, jalan ceritanya sangat hambar dalam pada film ini. Satu lagi yang gua bingung, atau mungkin ada yang gua lewatkan dalam menonton film ini, yaitu, di jaman handphone banyak dipakai bahkan oleh anak kecil sekalipun, kok gak ada satupun anggota tim ‘SWAT’ yang coba menghubungi (pake hp) ke markas besar untuk minta bantuan??? atau memang ada yang saya lewatkan???

  60. @ Dimas Setiaji

    Kalau ditimbang dari sudut itu, mungkin pendapat anda ada benarnya juga. Aku setuju juga itu :)

    @ Nawa

    Akan selesai kalau sama-sama sepakat untuk tidak sepakat.

    Aku jarang menutup kolom komentar kecuali untuk postingan yang memang bukan konsumsi publik.

    @ funky fankop

    Hehehe. Sebegitunya kah? :mrgreen:

    @ owan

    Ah iya. Aku sempat mikir apa yang terlewatkan ya?

    Benar komentarmu soal hp (atau alat komunikasi) itu, Tak nampak ada HT malah. Atau mungkin karena ini dikisahkan sebagai operasi rahasia yang bahkan markas besar pun tak boleh tahu? :?

  61. Ah kasian yg bikin review nya. Ketauan bgt orang goblok yg ga ngerti soal film action. Bisa ny cuma kritik yg dangkal. Apresiasi ny juga sperti mrendahkan. Oi goblok, lo kalo ga tau film mending diem aje.

  62. mungkin admin yg bikin postingan ini adalah bencong yg impoten sama istrinya kali ya. jadi dia gak tahan sama film action yg ekstrem (buat admin, hapus aja komen ini kalau gak suka. saya tahu kamu terlahir sebagai seorang penakut. gak usah di paksain lah).

    aku wawan sudirja juragan minyak di tanah merah jakarta. kau bawa istri mu ke sana biar kupenuhi kebutuhan biologisnya, kujamin dia puas, kasihan kalau ada wanita seperti istri mu dapat laki2 figrid macem kamu.

  63. Ping-balik: Undangan Manten (Sekuelnya): Hal-hal yang Bisa Dilakukan Jika Menerima Undangan Pernikahan dari Mbak Mantan | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  64. @ ardi kesuma khannaz (yopkhannaz@gmail.com, IP: 206.53.148.147)

    Ah kasian yg bikin review nya. Ketauan bgt orang goblok yg ga ngerti soal film action. Bisa ny cuma kritik yg dangkal. Apresiasi ny juga sperti mrendahkan. Oi goblok, lo kalo ga tau film mending diem aje.

    Kalau kau tak lebih goblok dariku, kau bikin review sendiri, njing. kau pun macam tahu kali pilem. Membedakan mana URL mana alamat email saja kau tak becus. Paok. Ngenet sesekali download bokep banyak lagu kau, njing. :lol:

    Itu IP RIM kau pakai BIS paket apa? Paket hemat? Tahu IP Address kau tidak, atau ngenet lewat BB cuma buat facebook dan BBM-an doang? Ah, nampaknya kau itu yang goblok. Kau buang BB kau yang cicilan itu, bikin blog dan nulis kalau kau becus. Kalau kau tak becus, diam juga lah kau, njing. :lol:

    @ wawan sudirja (sudirjanet@gmail.com, IP 180.251.45.159) :

    mungkin admin yg bikin postingan ini adalah bencong yg impoten sama istrinya kali ya. jadi dia gak tahan sama film action yg ekstrem (buat admin, hapus aja komen ini kalau gak suka. saya tahu kamu terlahir sebagai seorang penakut. gak usah di paksain lah).

    Woi, pantengong! Kebanyakan maen di forum kau? Kau kira ini forum, pakai istilah admin segala?!

    Bapak kau itu mungkin bencong impoten. Kau cek lagi sama emak kau, dari pantat kambing congek mana kau lahir sebelum dipungut kau dari comberan. Aku bukan cuma nonton film ekstrem, aku dari daerah pemberontak, orang dari daerah perang; orang mati putus-putus badan atau hancur kepala sudah biasa depanku kutengok. Sudah bosan malah. Lebih ekstrem dari tontonan kau yang paling pun cuma film India jaman Amitabachan. Sebab sudah bosan lah maka aku ngantuk. Mungkin kau yang paok baru kenal film sekarang, mungkin dulu cuma bisa nonton film soak model pilem India purba, jadi terbeliak kagum lah mata kau itu macam kanak-kanak baru melek nonton kartun. :lol:

    aku wawan sudirja juragan minyak di tanah merah jakarta. kau bawa istri mu ke sana biar kupenuhi kebutuhan biologisnya, kujamin dia puas, kasihan kalau ada wanita seperti istri mu dapat laki2 figrid macem kamu.

    Halah. Pake proklamasi nama segala. Norak. Baru kenal internet kau ya?!

    Tipikal tukang download bokep di warnet kau ini. Isi otak kau tak jauh dari kontol dan memek saja. Ngaku pula juragan. Juragan pantengong. Paling jual minyak eceran, oplosan pulak. Heh, sudah puas ngocok kau di bilik warnet habis bikin komen pandir kau itu? Berapa bokep 3GP murahan kau download? Eh? :lol:

    Bini kau itu kau cek dulu (itu juga kalau ada wanita khilaf mau jadi bini binatang paok macam kau): apa dia puas dengan peler mini kau itu atau diam-diam pakai peler lain. Jangan peler seukuran pentul berlagak kau di sini, njeng. Kasihan binimu atau wanitamu nanti, mungkin tiap kepengen harus puaskan diri pakai peler babi. Kalau tak puas, kau bawa bini atau wanitamu ke Aceh sini: ada kambing jantanku di sini siap melayani kebutuhan biologisnya. Ah, juragan minyak tanah eceran dan oplosan, banyak kali gayamu. Preeet. :lol:

    BTW, itu tagihan warnet jangan lupa kau bayar, jangan ngutang melulu karena tak laku jual minyak oplosan. :lol: :lol: :lol:

    Ah, klean dua ekor lutung kesasar yang terperangkap SPAM ini, macam ada saham emak-bapak klean di filem ini. Yang maen dan bikin film saja anteng kena kritik lebih keras, ini klean yang ngamuk. Nonton saja paling bajakan. :lol:

  65. WoW banyak komeng disini… Maap telat 2-3 tahun bahkan udah nongol (udah nonton) tuh film keduanya (The Raid Berandal)… Tp boleh kan numpang komeng??

    Sudut pandang yg menarik dari TS meski banyak yg coba bela2in nih film sampe ngotot sgala & pusing jg baca setiap komeng+tanggapan dari TS…

    Aku coba komengtari nih film dari penilaianku…
    1. Story = 7
    - Meski aku suka film Aksi minim Drama tp tetep butuh penggambaran yg sdikit lebih memperjelas Sebab-Akibat dari tokoh utama melakukan aksinya…
    - Start_ing nya = ga Greget
    - Mid_ing nya = Well
    - End_ing nya = Weleh…

    2. Dialog = 3
    - Ga tau deh mau ngomong apa…

    3. Adegan = 10
    - SiiiP…!!
    - Meski aku kasih nilai 10 tp ada bagian yg mnurutku sdikit mengganjal…
    - Misalnya adegan Supir Kernet ditembak, kliatan ga waspada banget meski pada akhirnya mati juga tp ya mbok ga terlalu sebegitunya lah… Kalo aku editornya, udah aku Cut bagian ini…
    - Sniper tetangga yg terlalu mepet ambil posisi (cuma satu lubang & spertinya salah satu Sniper masih PKL (praktek kerja lapangan)…
    - Mungkin alasan diatas masuk kriteria Casting kali ya?? hehehe…

    4. Casting = 6
    - Sebenernya hampir 50% pemain utama mengecewakan…
    - Joe Taslim, trus si Letnan & si Keras Kepala itu namanya sapa?? ya pokoknya itu ga sreg banget… Malah bagusan Cameo2 nya (tokoh sampingan)…

    Apalagi ya?? Hmm, biasanya ada beberapa penilaian yg menentuka Rating Film tp aku lupa…
    Sekian dulu ya…

  66. Review film yang bagus dan tidak mainstream, meskipun banyak kekurangan pada naskah dan alur ceritanya, film ini patut untuk ditonton (bagi yang hobi lihat film). Nanti rencana mau nonton yang ke 2. semoga lebih banyak perbaikan

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s