Cinta? Adalah bahaya yang lekas jadi pudar…

Bagaimana cara mengekspresikan perselingkuhan?

Mungkin seperti salah satu sajak Chairil Anwar ini:

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
– ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadikan dara,
Mimpi tua bangka ke langit menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi … hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar…

Teman, kita dulu pernah sama-sama beropini, tak akan mendeklarasikan jatuh cinta kecuali pada siapa yang bisa membikin darah menderu lebih cepat, bisa bikin jantung berdegup macam diburu hantu.

Tapi semua itu, kupikir-pikir di bulan ini, mungkin tak lain semacam permainan dari adrenaline kita juga, laki-laki yang tak suka ditantang lalu mendiamkan tantangan itu. Seperti saat kanak-kanak kita ditantang melompat dari jembatan tinggi di bendungan irigasi. Ketika kita sudah aman, sudah melakukannya, bahaya apa lagi yang tersisa?

Ikatan? Ha! Itu tantangan yang menuntut seluruh hidup, Teman! Bicara soal itu mungkin seperti bicara soal tali apa yang terbaik untuk menggantung dirimu sendiri…

PS: Semakin hari berlalu, bulan berganti dan tahun bertukar, tidakkah kita makin merindukan kebebasan masa lalu…? Jangan bicara tanggung-jawab, seperti umumnya kekhawatiran yang lain atas nama moralitas, agama, adat, blablabla, karena aku – dan kau – paham bahwa hidup yang harus kau pertanggung-jawabkan adalah hidupmu sendiri, dan siapa yang kau libatkan…

Iklan