Nekrodamus

Kami yang menari…
Hanya menyembah kuasa…
Dan semua dinding–dinding neraka…
Kami yang menyimpan derita pada pintu-pintu surga…

Yo! Mereka yang menyimpan gelisah pada kegelapan
Haus naluri pada liang yang ditabur kemiskinan
Yang menyimpan bara lebih banyak dari koleksi tuhan atas kutukan
Sehingga setiap jiwa yang mati tak harus menunggu proses pembusukan
Dan mereka yang meredam angkara harus menyadari dinding bangunan
Yang membuat pilihan tak diberi tuhan untuk bebas dari setan
Dan bersimpati pada nisan setiap berhala simbol taliban
Dipungut setengah terpaksa di belokan separuh jalan

Hidup yang berkubang hampir menyerupai selokan
Dengan kubangan dimana mereka membuang limbah dan selongsong deodoran
Kota yang meradang di bawah plot Nokia dan Coca-cola
Kokoh berpola seragam dan opini para tentara
Menagih laba lebih baik daripada kurir samsara
Menagih suara di hari haram kau boikot. Atau penghuni penjara
menagih nyawa anakmu sebagai ganti wadal perantara
Dengan pelelang valas, narkotika, sesajen dan maskara

Jangan berkhotbah tentang kiamat di pojok lokalisasi
dimana malaikat hanya boleh menjenguk mereka yang sekarat
mencekat nafas yang hidup di pengadilan di atas dunia
tanpa belikat mencari di kanal berangkal dengan urat nadi bersayap
apa yang dapat diharap dari intrik tua yang sibuk merancang sengkarut
teori di atas statistik filsafat yang sibuk membalut
apa yang dapat diharap dari aktivisme yang pasang surut
tak ada revolusi di sela rakyat yang militan memasang buntut
sehingga petaka sembako tiba dan kita menanti nomor urut
sehingga setan berupa kegelapan lebih baik dari metafora novel butut
metafora gospel taghut menyembunyikan makam lebih laik dari kabut
lebih picik dari sampah pengecut kepada penghakiman iman yang tersudut
penguasa kota ini menegakkan kamar dengan memelihara rasa takut
dinding kota ini mempromosikan kebebasan dengan mulut hasrat dan mata tertutup
penegak iman di sini membangun imaji tuhan dengan gelak dan pedang di atas punuk
kami tak butuh manual pada apa yang layak apa yang tidak patut

sudah kuduga aku akan berubah wujud
separuh hamba separuh tuhan separuh makhluk
separuh hidupku dirancang mereka tetap terkutuk
separuh kutinggalkan terikat di rel kereta
separuh kusisakan ‘tuk tiga matahariku dan kubiarkan berlanjut

Ada rasa ingin menulis kembali panjang x lebar x tinggi = opini, sukacita, dukalara, caci maki, de-es-te, de-el-el, de-es-be. Tapi buntu juga benak rasanya, apalagi selepas tiba kembali di Banda Aceh ini, dengan deraan hujan sepanjang lintasan Calang hingga masuk kota Banda Aceh menjelang pukul sembilan malam, dengan motor yang mati lampu di pegunungan, dan andalan hanyalah senter kecil di ujung geretan murahan seharga 2 ribu rupiah yang diperkuat kedip-kedip lampu sein. Badan berlumpur seperti tentara Jepang turun gunung setelah azab dibombardir oleh pesawat Sekutu, rambut sekaku ijuk karena lintasan yang tak sejuk, jadilah kami macam orang udik kesasar masuk kota. Jadi tontonan ra’yat metropolitan-wanabi di persimpangan lampu merah.

Padahal ada juga ide meletup-letup di kepala. Ada juga hasrat mendesak-desak, apalagi disuguhi drama pemboman di kota Batavia sana. Ingin menulis… sungguh! Dengan kata-kata sendiri, kalimat sendiri, dan pikiran naif untuk menyisipkan bahasa asing sebagai anak haram-jadah dalam pilihan diksi, pilihan kata, seperti mengganti kata musim hujan dengan wet season atau rainy season; petir yang berkilat-kilat mengancam aku dan temanku, Al Amin, di atas puncak Geurutee semalam diganti dengan kata storm, dan perjalanan akhir minggu kami ini dengan travelling dan weekend. Ah, tentu lebih berkesan kota dan keren sekali kalau kata “AKU” kuganti dengan dialek Betawi punya bahasa. Bayangkan, aku ini – anak Aceh yang makan beras produk kampung, mencebur-mencebur mandi sore dan bergelak tawa dengan teman-teman kampung di sore hari, di pinggir sungai di kaki gunung – bicara dengan semua kata-kata itu, bahkan kata yang masih ada padanan bagusnya dalam bahasa Indonesia pun: Sungguh elok dan intelek bukan kepalang!

Tapi sayang sekali… aku sendiri lahir dan besar, plus melintasi jalanan kampungan di lintas Barat-Selatan Aceh yang bahasanya memang berbuai-buai. Lagipula di sini tak ada season-season macam winter atau summer yang (ah, cobalah ucapkan kata itu sambil membayangkan film-film cinta dari Hollywood sana) sungguh begitu romantis, intelek dan berperadaban di telinga. Kalau diucapkan di depan teman sekampung, tentu akan hebat tampaknya aku ini, seakan sudah terbiasa aku dengan kehidupan bangsa bule di negeri para bule sana. Bisa kutipu orang seakan aku ini sarjana, bukan mahasiswa drop-out, yang seleranya sudah tinggi, bukan selera Alex yang dulu, yang hobi makan durian dengan nasi putih saja. Tapi… sayang sekali… Kesadaran akan siapa diri sendiri telah menghancurkan keinganan mengganti krisis identitas serupa itu…

Ah, sudahlah. Bagus kutempelkan saja lirik lagu ini: Nekrodamus dari Trigger Mortis. Biarpun pernah kupostingkan lirik itu di satu-dua tulisanku dalam dunia maya ini, anggap sajalah ini catatan jadi tempat cadangan menyimpan lirik lagu. Lagipula, kurasa-rasa cocoklah kiranya lirik ini – seperti lirik lagu di catatan sebelum ini – mewakili aspirasi kacanganku pada berita-berita seputaran Indonesia yang menari-nari di layar kaca…

Iklan