Say Goodbye To Yesterday

Soundtrack: Biker Boyz
Title: Say Goodbye To Yesterday (Remix)
Artist: Non Phixion

Yo.. three-hundred and sixty-five days a year
We preoccupy self to find life’s true meaning
We indulge irrelevant contradiction
Contradiction which steps up growth
Live life each day like it could be your last

[Verse One]
Yo.. I’m from a place where some mothers sell they babies for crack
Where young cats buy gats, shoot and never look back
Where the whites live with the whites, and the blacks live with the blacks
But somehow we unite, through the culture of rap
I’m from Brooklyn, word to the Dodgers, Russian massages
Where thugs bust guns, and sons are raised without they fathers
We do away with has-beens, rock the latest fashion
The rule’s never rat – what you want to know, or who’s askin
Just some habits of highly effective MC’s
Y’all is pussy rap, my speech made you weak in the knees
But talk’s cheap, I’m straight from the streets
I’m action-oriented when I’m screamin KILL CORRUPT POLICE
I read books, reap intelligence to compromise my bad looks
I roam with God-bodies and crooks
But when I rest my head at night, I’m just happy that I made it
Cause someone could take your life, be it my friends or my neighbors
Whether, you police or a thug on the streets
Whether, you look for beef or you livin in peace
Whether, you back down or you stand strong bold
Yo we never know what tomorrow gon’ hold

[Chorus]
We can live today, but we’re not promised tomorrow
We can pass away, say goodbye to yesterday
We can live today, but we’re not promised tomorrow
We can pass away, say goodbye to yesterday

[Verse Two]
It’s either me or you in this world cause I be tryin to cope
I’m lookin for answers, but still I’m comin up broke
They supply the (?) tops, smack, the guns and the coke
Who shot Lennon and Malcolm X, one in his throat
I’m an old soul that hold but probably young as the Pope
Reincarnated as a prophet through a symbol of hope
I move through the projects, lights, rhythm and smoke
Idiom quotes, somebody said religion’s a joke
Buried my man at 18, the cancer took him in months
He died before he lived, but once gone I felt touched
My old earth followed in ’91, 6 months apart
Project stress, blackouts, and walks in the park
People change, cause when I look back I feel strange
Goin through old flicks, our days numbered, turnin the page
I can’t go back, we learn to live with hate and respect
A tale from the heart prevail through the pain and regret
Whether, you police or a thug on the streets
Whether, you look for beef or you livin in peace
Whether, you back down or you stand strong bold
Yo we never know what tomorrow gon’ hold

[Chorus]
We can live today, but we’re not promised tomorrow
We can pass away, say goodbye to yesterday
We can live today, but we’re not promised tomorrow
We can pass away, say goodbye to yesterday

Lagu yang dibawakan oleh Non Phixion dan menjadi salah satu soundtrack dari film Biker Boyz ini – sebuah film tentang sekelompok pembalap jalanan di tahun 2003 – merupakan salah satu lagu hip-hop terbaik yang pernah kudengar, dan kutimbang-timbang sebagai pemanis catatan penghabisan tersendiri di fesbuk yang luar biasa dan penuh keakraban romantisme masa lalu. Fesbuk yang sudah membuktikan betapa komunalnya manusia untuk saling peduli, bahkan jika perlu saling membongkar identitas demi sebuah pertemanan hangat yang sudah berpindah aktivitas, ruang dan waktu: dari dunia nyata di luar tombol Logout di pojok kanan atas ke ruang dan waktu yang dimasuki dengan memasukkan alamat email dan kata sandi, serta tombol bertulis Login.

Ketika pertama mendengar lagu ini 2-3 tahun lalu – sudah terlalu terlambat mengingat film dan album soundtrack itu sendiri dirilis tahun 2003 jauh sebelum aku mengunduh satu album penuh – hal yang pertama terpikir adalah kemiripan lagu ini dengan Lose Yourself dari Eminem yang menjadi salah satu soundtrack dari film 8 Mile yang dirilis setahun sebelum film Biker Boyz itu. Lirik dan beat dalam musik dan nge-rap serupa tapi tak sama. Hanya mengesankan suasana yang sama: diawali dengan pesimisme yang berujung pada sedikit optimisme yang tersisa.

Dan menurutku, adalah fitrah manusia untuk selalu merasa satu atau dua lagu, atau film, atau lukisan, atau drama, apapun, mengesankan baginya karena berkesan senada dengan irama hidupnya sendiri. Begitu pula denganku sendiri, meskipun orang akan tertawa, aku tak peduli. Lihatlah orang-orang yang jatuh cinta, akan merasa seakan Frank Sinatra menyanyikan “Something Stupid” bukanlah untuk Nancy Sinatra, tapi untuknya dan pujaan hatinya. Lihat pula macam mana di ranah dunia maya ini bertaburan kuotasi baik dari film, buku atau ucapan orang hebat lainnya, seakan kuotasi itu dikeluarkan, diucapkan, adalah mewakili perasaannya. Jika seorang manusia mengutip Kurt Cobain, maka seakan tercermin bahwa “Mestilah dulu Kurt Cobain tahu bahwa kelak aku akan sedepresi dirinya”, atau jika mengutip orang hebat yang sudah sukses sebagai CEO, boleh jadi seseorang sedang merasa ia sedang menapaki jalan sukses yang sama, sambil pada saat bersamaan memandang dengan kasihan pada yang masih terengah-engah dihajar permainan hidup jauh di belakangnya, yang tidak seberuntung dirinya menentukan arah hidup sendiri.

Ini lumrah: manusia pada dasarnya egosentris, sesuatu yang kadang tersembunyi namun mengendap dalam tiap kepribadian, tak peduli apakah ia seorang blogger, seorang presiden, bahkan utusan Tuhan sekalipun. Dunia cuma berpusat padanya. Matahari adalah menyinari dirinya saja. Musisi-musisi mencipta dan menyanyikan lagu adalah untuknya saja.

Maka, lirik lagu diatas itu bukan kutempel untuk sekedar menunjukkan bahwa meskipun aku di daerah udik, tapi kenal lagu Barat, film Barat, agar berkesan aku cukup modern, agar tak kalah dengan sesiapa saja yang sudah cukup modern karena bisa melihat sendiri lintasan balapan di film itu, di negeri rampasan dari bangsa Indian. Bukan pula untuk sekedar menunjukkan bahwa aku cukup berpendidikan untuk paham bahasa orang-orang cerdas di dunia, bahasa Inggris yang sungguh akan membuat jalur beasiswa kemana-mana jauh lebih mudah, dan jauh lebih mudah pula menampakkan diri sebagai akademisi jika kelak “menjadi orang” dengan menyelip-nyelipkan bahasa asing di depan batang hidung orang-orang sekampung yang konvensional.

Alasan sederhana sebagai dalih untuk menutupi lagak modern dan tercerahkan oleh peradaban dan musik asing itu, adalah karena… hari kemarin memang mesti dilambaikan dengan “sayonara”, bahkan jika pun itu berarti kesetiaan pada hari-hari lalu harus ditumbalkan. Jika seseorang sudah pernah setia seperti setianya anjing pada Tuannya, apalagi yang akan tersisa ketika seseorang tak paham, atau bahkan sekawanan lainnya yang menghendaki penghambaan untuk takluk pada komunalnya sesuatu bernama “Pertemanan butuh identitas valid seperti masa lalu: potret asli seperti KTP di kantor kelurahan yang masih ada pungli, nama lengkap yang cukup panjang untuk menjadi titel penutup gelar drop-out…” dan segala sampah semacam itu. Lebih dari itu, akan (dan memang) ada kekagetan bahwa seseorang mungkin sudah terlalu jauh berubah dari sosok masa lalu. Perkara bahwa waktu dan ragam peristiwa datang dan pergi, sehingga mampu mengubah seorang remaja yang dulu cuma sedikit pelawan menjadi orang yang pernah murka dan “menganjeng-anjengkan” Tuhan di puncak rasa sakitnya, terlupakan karena, “Kau bukan yang kami kenal dulu…”

Sampah, karena… ini menyebalkan dan membosankan. Ini… dunia dimana aku menulis ini dan engkau membacanya, apapun ceritanya, adalah sebuah jejaring sosial dimana identitas adalah pilihan. Jika ada yang merasa lebih nyaman menyimpan potret dirinya di layanan yang khusus untuk potret diri, tidakkah itu mesti dihormati? Jika ada yang merasa lebih nyaman dengan beridentitas semi-anonim, tidakkah itu mesti dihargai? Karena… jika kita ingin mengenal seseorang lebih dekat, maka pilihan terbaik adalah: ARAHKAN KURSOR KE TOMBOL LOGOUT, LINTASI ASPAL, DATANGI DAN LIHAT TERANG-TERANG DENGAN MATA SENDIRI SEPERTI APA MANUSIA YANG CUMA KAU KENAL NAMA SINGKAT DAN OCEHAN-OCEHANNYA DI NET.

Tidakkah ini menyebalkan? Hidup bisa memutar-balik cara pandang seseorang, sehingga sesiapa saja yang merasa prihatin dan hidup normal mencoba menyadarkan, dengan mengatakan hindari pikiran-pikiran aneh dari peradaban luar dan berserah diri kepada Tuhan, meski yang bersangkutan tidak pernah merasakan sakitnya kehilangan di pagi petaka datang, tidak pernah melihat dengan telanjang para orang yang konon beragama bahkan lantang berkhotbah soal sorga-neraka di mimbar jum’at jadi begitu egois sehingga menolak jenazah balita diangkat di mobilnya, tidak pernah tahu betapa sakit dunia ini melihat orang yang sama – bajingan yang egois semacam itu – tetap jadi pahlawan di media massa bahkan menjadi seorang hebat di rektorat. Dan dunia berputar-balik, ketika orang yang dulu kecewa semacam itu menyerah untuk bersengketa dengan dunia, dengan dirinya, dan dengan Tuhan, lalu para pencerah-pencerah yang sudah modern kembali datang dan memandang betapa konvensional kehidupannya.

Ada kutipan yang sempat tersohor di internet, bunyinya begini:

On the Internet, nobody knows you’re a dog

Dan kuotasi itu tidak relevan lagi. Karena, di internet, semua orang bisa menjadi anjing. Maka jangan percaya pada apa saja yang ditemui di ranah maya, apalagi di fesbuk ini. Ada kata-kata bagus dari Buddha untuk hal semacam ini:

“Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”

Karena, jika kau bisa keras pada dirimu sendiri, kau bisa keras pada yang lainnya. Bahkan jika itu mengorbankan sebuah jejaring pertemanan semu dimana kau tak pernah melihat matanya benar-benar melihat matamu yang sedih, yang memendam dendam, tapi masih mencoba optimis untuk tertawa menikmati sisi-sisi manis dalam hidup setelah pernah memikirkan cara-cara yang terbaik untuk mengakhiri hidup.

Iklan