Sajak Penghabisan

Aku sudah putuskan
kini dan di sini
Sebelum nanti sore hilang
malam datang membentang
Dan kesepian bisa bikin kalimat tersunyi
mengutuk hari:
Jiwaku mau lepas dari segala
ragu
dari segala pautan namamu

Sudah kutahu
kuhidup bukan untuk
meringkuk dalam kerja
menetap dialun ritme tetap
Antara tujuh pagi menjelma
dan sore menjelangkan pekat
Demi status tanpa hiatus

Berapa tahun sudah kurajin berkaca
merias diri seapik boneka
yang kau dandani kemeja, dasi
dan senyuman meriah pesta
di masa kau, adik, kanak perempuan yang ceria?

Untukmu saja
Cuma untukmu saja
Aku merias raga merias jiwa
Menutup luka dendam
dan gelisah di mata yang merah

Untukmu saja
Hanya untukmu saja
kutambatkan hati
kurantai langkah kaki
Berdamai dengan naluri
penghasut minggat dari kota ini

Untukmu saja
Selalu untukmu saja
Aku pernah mengalah
belajar menunduk pasrah
takzim menciumi setiap lembaran rupiah

Tiga tahun, bola mata, 3 tahun tersia-sia…

Tapi jiwaku tak mampu kutipu
Hatiku, adikku, hatiku
menolak dicemari manisnya madu

– I am the only possible non-stop flight! –

Kita hidupkan kehidupan dalam deru
24 jam yang melaju, waktu yang berpacu
setiap hari setiap minggu
Tapi tak lagi jadi penikmat
kehidupan yang begini singkat.

Zaman membunuh roman
hingga sekarat.
Nyaris seisi dunia yang kukenal
memberi arti manusia
pada pangkat yang bermufakat
meminta tunduk pada jadwal
yang bikin kita punya jiwa jadi bebal.

Kuberitahu engkau: Aku jemu
menjadi anjing yang diburu
rentetan waktu,
melakonkan opera palsu
demi sorak puas mereka yang tak mau tahu
hingga neraka tiba pun
siapa Laila siapa Majnun.

Jiwaku berontak, adik.
Menolak jadi alat musik
penghibur hati
umat karya zaman kini
yang palsu bersopan dalam antrian
elegan dalam tampilan
bersemat deretan titel
pengukur cakap akademik
yang bikin jijik.

Hidup begitu
terlalu sempit meniup nyawa
Hanya mengantarkan tiap jiwa
menjadi tumbal pada dunia.

November duaribuenam
sudah jauh dibawa mentari
yang terbenam
di pelabuhan yang kulempar sauh.
Tapi aku ingat penuh seluruh
camana matamu teduh
camana kekakuanku rapuh meluruh.

Hingga aku bertanya di minggu penghabisan:
Cinta? Apa itu?
Kau tak mengerti apa-apa
Hidupmu berkarya dan minta
segala yang disebut “biasa-biasa saja”.
Sebiasa drama 1000 cerita satu sutradara
Berkali kita menatap mata, tak
saling menyapa, tak
saling bertanya.

Kupahami sudah
Tak akan kita
seirama bersama
Hidupmu dengan hidupku
Tak bersebadan,
tak ‘kan sepadan.
Hingga nanti ajal datang menikam
di hembus nafas yang penghabisan.

Untukmu saja
Cuma untukmu saja
Untukmu saja
Hanya untukmu saja
Untukmu saja
Tentu untukmu saja
Kubikin ini sajak penghabisan.

Blangpidie, 7 Pagi, 1 Agustus 2009.