Di Pantai

Kepada Kawan Pejalan Malam

Antara api ungggun berkobar
dan ombak di bibir pantai
mendebar,
kita bikin malam hingar-bingar.
Hingga siang kehilangan arti
dan matahari nanti
boleh enggan kembali.

Jadi
Isi gelasmu, kawan.
Tandaskan.
Ambil gitar, dan mainkan.
Hingga putus senar yang penghabisan.

Mari bersuka! Mari tertawa!
Hidup singkat begini
kita jejali arti, lelucon dan mimpi
bergelas kopi, kita hiasi
gelak dan berlusin nyanyi.

Di pantai ini segala cerita
cinta dan derita, kita lemparkan
pada kelasi, buih samudra, dan sayonara
perempuan cantik merindu roman klasik
memekik “Oh, so sweet” ke kisah Titanic,
di kapal yang kita usir
untuk segera angkat sauh
ke horizon yang jauh.

Mereka, kawan, boleh pergi
ke lautan tiada bernama
benua-benua tiada berpeta
dibelit-hiasi untai imajinasi
sebasi sinema Raam Punjabi.

Karena kita tak hilang apa-apa:
Insomnia? Masa depan?
Takdir? Impian pandir,
mahligai berlendir?

Malam ini kita bakar itu semua
hingga jadi seremuk bara.
Di panggang ikan, irama ganggang,
udara anyir, bangkai anyelir,
butiran pasir dan sesaji di laguku
mengalir
merayu maut
datang berpagut.

Mari menyanyi!
Mari menari!
Sampai kita nanti satu demi
satu tumbang di tepi pantai.
Terdampar
dibantai pagi.
Dan kita punya suara sebisu
burung mati kaku
di tepi sangkar.

Kawan: Matahari di ufuk belum merah terbakar!

Blangpidie, dini hari, 2 Agustus 2009.

Iklan