Bulan Di Atas Kuburan

Sitor Situmorang, penyair asal Balige, Sumatra Utara, sekali waktu pernah menyajikan sajak – di tahun 1953 – yang menuturkan nasehat dari seorang bapak kepada anaknya, agar di waktu senggang jangan membaca sajak-sajak petualang.

Seterusnya si bapak berpesan agar si anak mencintai pekerjaannya, melupakan kesedihan si bapak, duka si ibu, karena bahagia hanya ada di hidup yang sederhana. Terselip di antara pagi bekerja dan senja memuja, serta di antara manusia yang masih mengenal setia.

Satu bait di sana malah lebih tegas memberi “pesan moral” itu, dimana ada himbauan si bapak: “Apabila ada penyair datang, jangan terima bertamu. Usir.”.

Lengkapnya sajak berjudul “Kepada Anakku” itu begini:

Hai, anakku jadilah tukang
Di waktu senggang jangan baca
Sajak-sajak petualang

Cintailah kerjamu
Lupakan kepedihan bapak
Tebusan duka ibu

Bila datang penyair
Jangan terima bertamu
Segala yang mengingatkan padamu
Usir

Bahagia
hanya di hidup sederhana

Antara pagi kerja
Dan senja memuja
Kehidupan sederhana
Di tengah manusia kenal setia

Bukan tanpa sebab jika seorang anak muda berusia 1/4 abad plus 2 tahun tiba-tiba teringat pada sajak lama dari penyair Balige itu, yang awal dikenalnya dengan sajak-sajak romantis seperti “The Tale of Two Continents” dan “Surat Kertas Hijau“, dua sajak yang pernah berjaya menaklukkan perempuan pertama di masa remajanya dulu.

Malam itu malam minggu, tepatnya sudah nyaris minggu pagi, ketika baris-baris sajak itu berkelebat di benaknya, saat sepeda motornya mati tiba-tiba di tikungan jalan, tak kurang 100 meter lagi dari gerbang rumah keluarganya. Pikirannya yang masih cukup waras, meski disaput rasa kantuk di pelupuk mata, pening dan rasa ngeri mengelus-elus kuduk, menggiring ia turun dari sepeda motor untuk memeriksa. Rumah-rumah sepi dan jalanan lengang. Salak anjing di kejauhan cuma samar-samar di telinga. Ia bekerja secepat yang ia bisa untuk tersangka utama kematian tiba-tiba di pagi buta itu: Busi.

Benar dugaannya, busi itu basah dan bau bensin. Sudah kotor dan minta dibersihkan – sebelum besok diganti – agar motornya bisa hidup lagi. Dengan kain dan belati lipat yang dibawanya, dibersihkannya busi kotor itu dan mencoba menghidupkan sepeda motornya. Sekali. Dua kali. Kali ketiga, usahanya berhenti tiba-tiba. Ada angin dingin terasa lewat mengelus bulu-bulu penakut di tubuhnya.

Anak muda itu tersadar dimana posisinya kini: Ia sedang berada di seberang depan pemakaman umum, yang terbentang di samping BRI lama yang sudah tampak angker ditinggalkan. Malam sudah hampir sekarat, terancam dibunuh matahari yang akan datang tak lama lagi, namun langit masih gelap remang-remang. Dengan angkasa berselimut warna hitam, biru, abu-abu dan nuansa riak-riak jingga dari arah ufuk timur, areal di depannya, taman kematian dimana bangkai-bangkai manusia yang sudah dibunuh Izrail itu, begitu mencekam. Segagah apapun dirinya membacot di siang hari, selantang apapun lagaknya sebagai keturunan Adam yang dikarunia penis, koleksi kata-kata sinis dan kalimat skeptis, serta sedikit naluri dan nyali untuk – sebagai jantan – bisa bersikap sadis; rasa takut dan seram mengelus usil juga di kulitnya. Serasa di pandangan matanya itu, terlihat-lihat ada galeri para arwah sedang berkeliaran di empat persegi panjang taman mereka. Mungkin sambil memandang dengan marah, sedih, kasihan, muak, iba, atau bahkan acuh tak acuh pada dirinya: anak muda bohemian yang keluyuran sepanjang malam, menyia-nyiakan hidup di kobaran api unggun, petikan gitar, debur ombak di pantai, lelucon semurah rayuan bondon, asap rokok dan gelak tawa, dengan alasan menikmati hidup yang singkat.

Mungkin diantara para arwah, setan, dan segala angkara di sana, ada yang menuding ke wajahnya sambil berkata, “Lihatlah anak muda tak berguna di seberang sana! Besar cakapnya seakan lama hidupnya. Menikmati hidup sepanjang malam, dengan unggun api berkobaran dan memuja keindahan seperti laku kaum pagan. Sekarang termangu dia menatap lengang dan mencekam suasana di sini dan – semoga benar dipikirkannya – tersadar bahwa kematian itu sedekat pemakaman ini ke arah rumahnya, bahkan selekat jembut di badannya!”

Menjelang pukul empat pagi. Anak muda itu sendiri. Napasnya tertahan berkali-kali. Kakinya serasa lekat memijak bumi. Dalam dirinya bukan ketakutan biasa, bukan rasa ngeri seperti heboh diceritakan film-film horor tak berkualitas ekspor, ketakutan tak bermutu dari lakon bau Julia Perez atau akting jijik Dewi Persik. Dia tak melihat atau merasai ada hantu, pocong, setan, dedemit, sundel bolong, suster ngesot atau bidan ngentot sekalian menghambur ke arahnya di pagi itu. Tapi ngeri di dirinya adalah ngeri dari kuasa gelap yang menaungi aroma kamboja, tiap gerak pucuk kelapa, dan dari suara cemara yang menderai pelan sampai jauh. Dan sumber ngeri keparat itu diduganya, dirasanya, dirabanya, berasal dari pohon yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak: Pohon Mancang.

Dulu, di masa kecilnya, sering dipanjatnya pohon itu. Berebut buah yang sudah masak dengan kanak-kanak sekampung, merasai manis dan asam buah berserat dari pohon yang akarnya menghisap sari bumi, bumi dimana mayat-mayat terkubur dan membusuk jadi tanah kembali. Betapa hidup adalah sebuah daur-ulang tersendiri, itu dimakluminya sejak dia tumbuh remaja. Tapi betapa akan terasa angker dan gagah perkasa pohon yang sudah tua, baru dini hari itu disadarinya.

Tinggi dan besar pohon itu kini. Beratus kali dia lewat di tikungan jalan itu, sejak ia masih remaja, jadi mahasiswa hingga pulang ke kampung halaman, tapi tak pernah seperti pagi itu dia pandangi lekat-lekat pohon mancang itu. Pohon dimana mungkin setan-setan kegelapan sedang geram dipandangi olehnya, seperti para selebritis muak dengan tatapan sok tahu dari paparazzi. Tapi, dengan berkecamuk rasa ngeri, takut, misteri dan ketidak-tahuan yang membuat penasaran, dipandanginya juga pohon angker itu, dimana aura seram bersemayam. Mengerikan sekaligus memesona, menakutkan sekaligus menggairahkan, seakan itu pohon ada yang melambai ke arahnya, melambaikan misteri, seakan di sana ada gerbang ke dunia lain, ke alam barzah, yang dipersengketakan para atheis, para penganut agnostik, para religius baik modernis atau fundamentalis, atau bahkan para hedonis yang sering tak lebih peduli pada hal begitu dibanding mengurusi kelamin yang terancam kena sipilis.

Daun telinganya bergerak, mencoba mendengar dengan takut dan takjub, apa gerangan suara misterius akan datang dari sana. Mungkinkah seperti Musa mendengar sabda di bukit Thursina? Ah, ia bukan siapa-siapa, bukan Nabi, malah pendosa yang masih muda, segar berdarah muda. Tapi, siapa tahu ada bisikan aneh yang terpendam, dihantar angin dari kuburan?

Namun tiada suara apapun terdengar, baik berkata atau bertanya, selain gaung dari dalam hatinya sendiri, dari relung dan palung terdalam dimana rasa bingung dan keterasingan sedang merundung.

Berkedip matanya mengingat betapa di awal bulan Agustus itu, bulan kelahiran perempuan yang cukup lama dicintainya, ia mengambil keputusan yang dikiranya hebat, dianggapnya cakap: memutuskan segala sisa harap dan kembali bebas, lepas dari segala yang merantai diri, dari segala bayang, bahkan dari seorang pemilik mata seindah kilau bintang. Hidup terlalu sering menjemukan, menurutnya, untuk membuat sebuah kapal yang dilayari manusia pengagum Sinbad si petualang, mesti melempar jangkar, berlabuh atau terdampar, lalu turun menganyam cinta dan cita di daratan, menjadi kuli demi rupiah lembar per lembar, bersiaga membangun rumah sebagai istana lalu memeluk-menggendong dara ke sana, bercinta dan bersebadan, berbini dan beranak-pinak, hidup bahagia selama ajal belum menyapa, lalu mati dan semua usai seperti mimpi.

Malam itu, mendekati tengah malam, bersama sekawanan teman-teman dia melarikan diri ke pantai di luar kota, pantai yang dijaga pohon-pohon cemara selama bertahun-tahun. Bersama kawanan pejalan larut, mereka menikmati apa yang sama mereka suka: aroma laut, debur ombak, angin mendesir dingin hingga ke pasir, serta pekatnya samudra dimana sampah, bangkai ikan, dan mimpi-mimpi para nelayan dibawa hanyut.

Kayu-kayu agak basah mereka basahkan lagi dengan minyak tanah, lalu ditegakkan seperti teepee para Indian, seperti kemah-kemah mereka yang terusir dari sabana kawanan domba, padang imperium kuda mustang, dan lembah-lembah hijau warisan leluhur di masa lampau.

Dengan ombak mendebar-debar, api unggun berkobar, suara harmonika – yang sudah bisu di saku celananya – serta getar-getar senar gitar yang mereka untai jadi harmoni para pemimpi, para pengidap insomnia celaka itu berlagak menjadi koboi-koboi yang tersesat di lembah-lembah Arizona, tanpa kampung halaman, tanpa rumah dan ranjang dengan bini siap bersama bikin malam hangat berkeringat. Mereka lalui malam dengan mengutuki matahari yang setiap pagi serasa mengkhianati mimpi-mimpi. Mereka puja karya agung Tuhan di kilau bintang-bintang penunjuk rezeki para nelayan. Mereka nikmati rembulan yang malam itu berseteru dengan kelabunya awan, sembari menikmati hembusan hawa basah dibawa angin laut, pendingin jiwa Don Quixote de la Mancha, si petualang kesepian bertubuh ceking yang tetap menarikan lambada dengan tawa gemerincing, meski tubuh dan nasib sering terbanting-banting.

Malam minggu itu, beberapa jam yang lalu – sebelum dia termangu di depan kompleks pemakaman itu – sempat pula dibikinnya sajak “Di Pantai: Kepada Kawan Pejalan Malam”, yang lantang menabuh semangat orang-orang seperti mereka. Seakan malam itu siapa saja yang tak sepakat pada nyanyi mereka, tawa mereka, kelakar mereka, gitar-gitar made in negeri sendiri, dan gelak senang pada ikan panggang yang matanya melotot tak rela dipanggang, adalah seteru yang patut diajak berperang.

Demi malam panjang, demi jiwa-jiwa jalang yang haus mencari kasih-sayang, demi segala cinta dan nama perempuan yang mereka bakar dari mata turun ke kobaran api, dan meleburnya menjadi emas untuk disimpan menjadi kenang: mereka berharap matahari akan terlambat di pagi itu, bahkan boleh tak pernah kembali. Untuk itu dipanjatkan puisi lama dari orang yang sudah mati:

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

Itu puisi “Prajurit Jaga Malam” dari Chairil Anwar di tahun 1948, meski gagal diiringi petikan gitar, tapi cukup menabuh-nabuh kesukaan pada malam. Meski kemudian, dia pun tahu sendiri, waktu terus berjalan, merambat menuju pagi. Siapa tahu dimana lintasan waktu bisa dibikin berhenti, sehingga malam tak cepat usai? Tak ada. Tak ada satu pun, selain di cerita fiksi.

Maka, ketika api unggun sudah memudar hingga remuk tinggal bara, suara anjing-anjing tak bertuan melolong di kejauhan dengan didukung sepenuhnya oleh kokok ayam yang bangun kepagian, dan disponsori deru angin yang mulai mengamukkan rasa dingin, pesta para lajang itu mereka bubarkan mendekati setengah jam ke pukul empat pagi. Pantai mereka tinggalkan pada pasir-pasir halus dan lambaian diam dari pucuk-pucuk pohon pinus.

Di langit, cahaya Venus tengah benderang. Berkali ia melirik ke langit, disela-sela band Switchfoot menyanyikan “Meant To Life” via earphone penyumbat telinganya. Tersenyum antara sedih dan suka karena membayangkan ada yang sedang tidur lelap jam segitu sementara dia bebas di atas sepeda motor yang dipacu menderu-deru. Ada rasa kepingin dilajukan itu motor ke satu rumah, ke arah jendela, mengetuk dan menghambur untuk mencumbu mimpi-mimpi selama ini di pagi buta. Tapi ia masih waras, sehingga masih merasai jalanan lengang, angin yang berhembus di sela-sela rambut lurusnya yang berkibar-kibar, dengan hawa dingin kian mengelucak hingga ke tulang, ditekan deru motor yang melaju, meraung seperti dikejar selusin siluman dari lembah dan gunung-gunung.

Dan lalu di sana ia terdampar: di tikungan pinggir jalan, tak jauh lagi dari rumahnya, cuma karena sebiji busi sialan. Terdampar dan bermangu dicekam kengerian di seberang depan taman segala taman, kebun segala kebun, rumah segala rumah, dan pelabuhan dari semua pelabuhan para manusia yang melayari hari-hari dalam kecepatan 24 jam, 7 hari per minggu, 12 bulan per tahun hingga buang sauh di situ: pemakaman.

Di situ sajak lama Sitor Situmorang mengiang di benaknya. Petualang… mencari segala tantang untuk ditentang, mencari segala senang untuk diregukkan, mencari lawan jenis untuk dicumbukan, menantang arus, menciumi wajah halus, lalu pergi meninggalkan atau ditinggalkan.

Tapi, siapa yang pada akhirnya menang?

Ajal. Ajal yang datang merenggut itu semua, tanpa terlihat datang menikam, mencabut nyawa lalu minggat meninggalkan pecundang dengan satu trophy hiburan: batu nisan.

Bertahun sudah berlalu sejak bangku SMA, tapi dia sadari dia masih bohemian yang sama. Selama bertahun itu pula beberapa kali dia berlagak siap-sedia menghadapi maut, sejak kejemuan pertama pada hidup dan dendam pada rasa penasaran akan “padang keabadian” di balik kematian, ditarik pelatuknya oleh kematian neneknya. Perempuan tua, ibu dari ayahnya, yang bertahun menjadi benteng dimana ia mencari perlindungan hukum dari kelakuan bandelnya (seperti para bajingan tengik berdasi di negara ini menelikung hukum dan menolak bertanggung-jawab akan ulah bejat mereka), meninggalkannya di saat darah remaja puber sedang menggelegak, lenggang pinggul sudah mulai membuat mulutnya usil bersiul, lekuk ranum sudah pintar mendesirkan darahnya, bibir merah basah sudah mulai menarik bibirnya mendekat, dan mata tengadah sudah sedia bikin dia dewasa. Semua sukacita runtuh, memburai jadi air mata di pinggir sungai. Tak mempan dibius asap ganja, tak guna ditenangkan tablet-tablet haram.

Dan pagi itu, ia memandang ke areal pemakaman dimana perempuan tua penjaga masa belianya itu sudah berkubur. Sudah jadi kerangka di bawah tanah sana, di taman pengasingan para mayat, tak jauh dari akar-akar sangar pohon mancang yang dulu menjadi tempat kesukaannya memanjat.

Sejak hari itu… berkali ia melewati tikungan itu, seperti berkali-kali dulu ia mencari mati, meratapi Tuhan. Berkali pula ia sumpahi hidup, ditambah rasa kehilangan datang bertubi-tubi, semakin dimakinya langit dan bumi… Hingga beberapa tahun terlewati dan ia kembali memegang apa yang diajarkan di buaian masa kecil: ajaran agama yang sederhana, keimanan kepada Tuhan dan menikmati hidup yang dianugerahkan oleh-Nya – apapun yang akan datang dan pergi – sampai nanti semua selesai dan ajal datang sendiri sebagai tamu yang sudah pasti. Hidup baru, menurutnya, dengan keimanan yang lepas dari prasangka religius, dimana ia tak ambil pusing pada klaim surga, label neraka, dan kesukaan banyak orang beriman yang doyan mengurusi selangkangan orang dengan alasan moral, tanpa mau tahu pada karut-marut hidup yang bersumber dari perut juga. Religiusitas yang sederhana: Ritual sosial dan ritual individual, dimana segala pernak-pernik semacam shalat dan puasa baginya jadi urusan pribadi, dan pembuktian guna ajaran agama bagi manusia ada pada zakat, sedekah, berbagi dan menolong siapa saja – bahkan yang tak seagama sekalipun – dengan sebisa mungkin, macam musafir berlagak jadi Robin Hood yang melempar sedekah di persimpangan. Semua yang baginya elok dianggap sampah, tak usah dilihat-lihat pada siapa dan apa pahala.

Tak lupa dia mencicipi hidup, seakan dia akan hidup selamanya. Hidupnya bersuka-cita. Mencicipi seperti apa desir-desir yang disebut cinta itu pula. Meski semua sudah usai. Dia masih lepas, merdeka, tidak menghamba pada siapapun, tidak punya majikan, tidak punya boss yang menuding-nuding di kantoran, selain menyerah takluk pada Tuhan saja. Rezeki seberapa dapat disyukuri, dan dinikmati dengan gembira, meski cuma dalam bentuk secangkir kopi saja. Dia merasa sudah menghirup hidup seharum rindu para perawan.

Selama itu, tak juga dilupanya satu kata: Ajal. Dia pernah sesekali berkelakar, bahwa dia suka dengan ucapan Kurt Vonegut, yang di masa hidupnya pernah menyumpahi Brown & Williamson Tobacco Company, perusahaan rokok Pall Mall yang dihisapnya bertahun-tahun dengan ucapan,

“So I’m going to sue the Brown & Williamson Tobacco Company, who manufactured them. And do you know why? Because I’m 83 years old. The lying bastards! On the package Brown & Williamson promised to kill me.”

Dia sendiri, anak muda itu, sudah menghisap rokok bertahun-tahun. Dari rokok kampung yang diharamkan pemerintah, rokok dalam negeri yang menyumbang devisa bagi pemerintah, sampai rokok luar negeri dari negara-negara yang takzim dipatuhi pemerintah. Baginya perokok adalah orang yang sudah mesti sedia mati. Dan ia bertahan dengan itu. Sebuah pikiran naif dan dungu kedengarannya, tapi pikirannya masih kukuh begitu, siapa bisa cegah, selain Ajal yang ditunggu-tunggu mengetuk pintu?

Sejak pencerahan hidup – atau setidaknya demikian anggapannya – datang padanya beberapa tahun lalu, dan dia hidup selepas hari-hari yang sudah berlalu, ia memandang kematian bukan dengan rasa apatis, pesimis atau optimis. Dia tidak berharap bahwa apa yang dijanjikan Tuhan via surat Al-Imran ayat 185 yang berbunyi “kullu nafsin dza-iqatul maut” – setiap yang bernyawa akan merasakan mati – itu akan cepat datang, tidak juga diperlambat. Mati, menurutnya, biarlah tinggal jadi misteri, karena itulah yang bikin hidup jadi seru dengan permainan teka-teki manusia. Mati bisa jadi bonus, bisa jadi hukuman, seperti kartu yang didapat dalam permainan monopoli. Baginya, apa yang manusia bisa adalah meraba-raba kapan dan dimana ia bersembunyi, seperti kanak-kanak bermain kucing-kucingan dengan gelak tawa di malam lebaran.

Mungkin ajal bersembunyi di malam lebaran pula, seperti Sitor Situmorang mengigau dengan sajak pengacau: Malam Lebaran. Itu sajak isinya memang keparat sekali. Cuma ada satu baris yang bikin orang berdebat, baik religius maupun tidak. Cuma sebaris kata, dua baris dengan judulnya, saja:

Malam Lebaran

Bulan di atas kuburan

Malam lebaran bulan tak muncul. Anak muda itu masih sadar benar fakta ini, dari dulu hingga kini. Yang lain boleh muncul di malam lebaran, bahkan Ajal sekalipun, tapi tidak rembulan. Lagipula, menjelang pagi itu, mungkin lebih tepat jika Sitor bikin sajak itu untuk pemakaman di depannya dengan mengganti judul jadi “Malam Mingguan” atau “Malam Keluyuran” atau “Malam Ketakutan” … atau apapun, sebab di atas kuburan-kuburan itu, di langit sana, bulan memang sedang menggantung.

Dia menengadah ke satelit bumi itu. Rembulan itu bersinar pucat dan sekarat, sewarna mayat-mayat yang dibalsem di kapel-kapel di Palermo, Sisilia. Cahayanya tak lebih segar daripada wajah Rosalia Lombardo, gadis kecil Sisilia yang lahir tahun 1918 dan mati Desember 1920 di sana, dan sampai kini wajahnya masih utuh di peti mati berkotak kaca, dengan pita di rambutnya serta mata seperti tidur lelap selepas pulang dari pesta.

Angkasa sudah mulai tampak dirambati benang-benang merah-jingga di puncak gunung, dan bulan masih mencoba cari perhatian pada bumi, mencoba jadi tiara yang menggantung di atas pohon mancang: raksasa yang menjadi tugu pemakaman bisu itu.

Kokok ayam menyadarkannya bahwa mungkin ia akan diteriaki maling jika ada yang melihatnya dengan sepeda motor di pinggir jalan, di kompleks perumahan di ujung kota kecil itu. Anak muda itu menghidupkan motor, sekali lagi memandang ke pemakaman itu. Tak sampai sepuluh menit rasanya ia di sana, tapi alangkah hebatnya Allah menciptakan otak manusia berpadu dengan naluri dan bisikan hati. Beragam kata, berbaris kalimat, gambar dan kenang, suara dan cerita, berkelebat di benaknya dalam tempo sesingkat itu, menjadi slideshow tersendiri, sehingga rasa “terperangkap” di depan pemakaman itu diam-diam ingin ditulisnya jika esok hari ada waktu.

Di angkasa, dibawa angin sayup-sayup, dari corong meunasah di dusun-dusun arah kaki bukit, di kampung-kampung yang mengepung kota, dan TOA di mushala induk desanya, suara ngaji mulai terdengar. Lembut… lembuuuut dan jaauuh terasa. Mengusap rambut dan gendang telinga yang sudah lelah dikicau suara musisi-musisi dunia. Suasana begitu menjadi hiburan pagi di kampung halamannya, baik itu mengantarkannya berwudhu’ atau terpejam kembali dengan nyaman didera kantuk. Hiburan menjelang subuh, dimana ia tak pernah mendengar manusia-manusia yang anti agama, merajuk pada Tuhan atau doyan masturbasi intelektual soal agama merepet-repet karena suara ngaji macam itu. Tumbuh besar di masyarakat mayoritas, yang mana mayoritas mengepung sumber-sumber suara ngaji itu, tak ada alasan mendengar protes individualis demikian, yang biasa ditemuinya di dunia maya.

Tapi diam-diam, sambil memacu sepeda motornya itu, di kelebat bayang wajah nenek, kakak sepupu, sobat-sobat yang sudah meninggal, wajah cantik yang pernah tercumbu sebelum direnggut ajal di satu pagi petaka, dan gadis kecil Rosalia yang tidur di peti mati berkaca bagai boneka, disumpahinya pula Freddie Mercury, Garcia Lorca, Slauerhoff, Andre Gide, Kurt Cobain, dan Lermontoff. Bersama Chairil Anwar, diketawakannya sendiri di dalam hati betapa itu seniman-seniman peracun jiwa remaja sungguh brengsek. Mereka bikin karya untuk panduan hidup bersuka dalam laku bohemian, seakan hidup mesti dilawan untuk tegak selamanya. Tapi mereka sendiri keok disikat Ajal. Terlebih Si Chairil itu! Hah! Penyair yang dikutuki Raja Singa itu, akhirnya kena juga sadarnya, seperti pengakuannya sendiri bahwa:

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Dan punca utama, pangkal semua laku tak normal di mata orang-orang normal yang mengabdi di bawah matahari, tak lain tak bukan si Mark Twain. Itu orang mestinya tak bikin cerita-cerita petualangan Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Meracuni jiwa anak SD, dan bikin sajak “Kepada Anakku” dari Sitor Situmorang itu menjadi patut dipikirkan. Ia menggerutu dalam hati: Sungguh brengsek!

Di langit, cahaya Venus sudah nyaris mampus.

Rumahnya sudah di depan mata…