Kenang-kenangan Burung Merak

Mendengar namanya sejak SD, sejak guru Bahasa Indonesia berdiri di depan kelas, menceritakan fase-fase dan sosok-sosok para sastrawan sejak angkatan Amir Hamzah hingga dia: WS Rendra, meski nama itu tak seacap nama lain disebut-sebut, seperti Chairil Anwar dengan sajak “Aku” atau bahkan Toto Sudarto Bachtiar yang sajak “Pahlawan Tak Dikenal”-nya – seperti di bawah ini – begitu mengesankan dan jadi langganan disuruh bacakan di Hari Pahlawan.

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(1955)

Siasat,
Th IX, No. 442
1955

Tapi nama WS Rendra tak berhenti di seragam putih-merah begitu saja. Di bangku SMP pun masih namanya disebut-sebut. Masih terkenang-kenang guru menyuruh ke depan mendeklamasikan sajak-sajaknya. Seperti “Sajak Gugur” di bawah ini:

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

Seingatku, itulah sajak WS Rendra pertama yang “mencemplung” dalam seremoni hari-hari besar nasional di sekolah kami, yang saat itu kurasa lebih tepat dibanding dari “Aku”-nya Chairil Anwar yang kuanggap salah tempat, salah kaprah disangka sajak perjuangan sementara setahuku itu sajak dibikin untuk mengenang dan menentang Tulus, ayahnya sendiri yang berbini dua dan “mengusir” dia dan ibunya ke Jakarta.

Ketika SMA, entah mungkin Depdikbud sudah mau menganggap kami, anak-anak sekolah, cukup dewasa, cukup besar dan remaja, maka sajak Rendra yang lain pun diizinkan kukenal via pelajaran bahasa Indonesia. Salah satu yang bikin cengiran muncul saat itu adalah “Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya” seperti di bawah ini:

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

Sajak yang dimuat dalam kumpulan “Sajak-sajak Sepatu Tua” (terbitan 1972) itu adalah sajak pertama yang menyentil rasa ingin tahuku. Karena, pelajaran seni sastra kami zaman itu begitu sopan, santun dan menjemukan kupingku sendiri. Jarang kutemui perizinan untuk karya-karya yang menohok dan kata-katanya berbisa, tidak basi, dan tidak banyak basa-basi yang bermain di rima belaka. Aku pun mulai mencari sajak-sajaknya yang lain seperti “Blues Untuk Bonnie”, “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”, dan “Sajak Sebatang Lisong” yang sudah pernah kubikinkan jadi catatan kenang-kenangan tempo hari.

Aku, yang sudah bosan dengan “Doa” dari Chairil Anwar yang diulang-ulang atau puisi-puisi religius dari Taufik Ismail, serasa menemukan darah baru yang segar dalam pelajaran bahasa Indonesia, utamanya pelajaran sastra saat itu. Tak luput sukacita begitu disebabkan gurunya adalah seorang yang cenderung acuh tak acuh pada basa-basi sopan-santun. Di SMA itu kesukaanku pada sastra mulai menyala, dipicu Pak Erlis, guru bahasa Indonesia yang masih kuingat-ingat cara mengajarnya: sebelah tangan di dalam saku celana, merokok di depan papan tulis, dan suka menyuruh berdeklamasi, penyuka Chairil Anwar yang tak segan menghantar sajak-sajak sedikit “vulgar” dari penyair-penyair besar, jenis sajak yang malah tak tertera di buku pengantar bahasa Indonesia yang dipegangnya.

Di tahun-tahun itu, beliau bertukar koleksi denganku, menyamakan catatan yang kami punya masing-masing di luar jam pelajaran, dan aku mulai berburu koleksi puisi-puisi, sajak-sajak dan gurindam-gurindam lama, serta mulai pula menuliskan sajak sendiri yang kuberikan pada guru itu. Sajak-sajak yang sampai hari ini masih disimpannya, dan masih diingatnya setiap lebaran aku dan teman-teman bersilaturrahmi ke rumah beliau, hingga tahun kemarin.

Dan dari masa-masa begitu, aku ingat menemukan sajak menusuk di bawah ini menjelang kelulusan sekolah: Sajak Seonggok Jagung.

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Itu sajak menusuk sekali, karena tepat di tahun itu aku menemukan sendiri wajah-wajah lesu teman-teman, anak-anak kaum petani dan nelayan yang otaknya cukup pintar – dan pastinya lebih cakap dari otak-otak komersil anggota dewan kami yang sok tahu itu – tapi terkendala biaya untuk bisa bersuka-cita seperti aku dan teman-teman golongan menengah ke atas lainnya, yang bersuka-ria bersorak melihat nama terpajang di papan pengumuman kelulusan. Berpesta perpisahan dan merajut mimpi-mimpi ke kampus mana, undangan dari universitas mana, ke kota yang mana, kami akan melanjutkan pendidikan dan menjalani periode mahasiswa yang saat itu begitu keren dengan stigma ban terbakar, aktivisme, tangan bergerak lantang mengepal di udara, wajah-wajah cantik bersemangat di atas aspal, singkatnya: kehidupan baru antara buku, kebebasan, dan gairah bercinta di masa muda.

Di sini, di masa-masa akhir sekolah ini, sajak itu sampai kuketik-ulang dan – dengan lem kertas yang biasa kupakai untuk layang-layang – kutempelkan di satu bagian lapang di rak meja belajar. Seumur-umur aku menyukai sastra, menyukai puisi, aku selalu mereguk sisi-sisi romantis dan keindahan saja, bait-bait individualis, dan baris-baris eksistensialis yang berpangkal dari angkatan 1945. Tapi WS Rendra… itu orang yang pertama menyajikan potret-potret sosial di tahun jauh sebelum aku lahir, namun masih layak saji di zamanku sendiri. Aku belum mengenal banyak sosok Wiji Thukul dan sastrawan lain yang semacam itu, selain Pramoedya Ananta Toer yang hanya kutemui dalam obrolan warung kopi antara aku dan guruku di kantin sekolah kami. Nama-nama itu masih “terlarang” meski di Jakarta reformasi sudah bergulir, Timor-Timur sudah memekik merdeka dan negaranya baru jadi. Lagipula, di tanah kami yang sudah memanas, tahu-kenal dengan sajak-sajak yang bernyanyi soal realitas dan membacanya dengan lantang, bisa bikin tubuh meregang.

Orang yang cuma menulis secarik kata “Referendum” di atas aspal atau di tiang listrik saja bisa jadi mayat di pinggir desa, apalagi yang lebih keras meski tak ada hubungan dengan soal pekik “merdeka dari Indonesia” sama sekali. Protes artinya adalah anti negara, dan itu berlaku saat itu di tanah kami. Meski di luar sana orang sudah bisa berkata, “Yaa… bagus kita sudah reformasi, sekarang kita sudah lumayan bebas, era keterbukaan, kita bisa protes keras-keras…”, tapi di sini, saat itu, adalah omong kosong belaka. Maut bermain tonil di atas badan-badan tak bernyawa, dan ketoprak subversif gampang ditemui, jadi lelucon seperti aspal yang hari ini dicat besar-besar REFERENDUM lalu besoknya Brimob datang menyuruh hapus dengan siraman cat hitam, tapi lusa muncul kembali tulisan REFERENDUM dengan tambahan: “Ko jual kami beli, hapus sesukamu anjing RI!”

Dengan memasuki abad ke 21 di penghujung zaman suram begitu, UMPTN jadi perjudian nasib antara semangat para pemimpi, tawar-menawar soal subsidi dan cengiran rupiah para joki. Kampus kumasuki, dan gairah meluap-luap melihat betapa besar Perpustakaan Wilayah di ibukota propinsi. Betapa megah dan menumpuk buku-buku di perpustakaan utama Universitas Syiah Kuala. Tak ada yang lebih banyak kuburu selain dari buku-buku yang tak bertera di kurikulum yang semestinya kuikuti: Seni, antara musik dan sastra. Kuliah di MIPA Fisika, tapi membaca perkara sains dengan kacamata sastra. Menikmati teori-teori eksakta dalam sajian sains kontemporer. Mencengiri romantisnya manusia di bumi yang tercipta dalam tempo beribu zaman berkembang setelah semesta meletup dalam teori Big Bang. Mempertanyakan kesepian manusia di alam semesta di bawah langit dan pertanyaan besar kehidupan di luar sana yang memesonakan dipagut imajinasi “Contact” dari Carl Sagan. Dan… realitas-realitas sosial pun tak luput membuka mata lebih lebar, lebih terbeliak seperti orang yang baru sadar dari demam dan mimpi mewah yang panjang.

Di kampus itu, sajak-sajak Willibordus Surendra Broto Rendra (atau bernama Wahyu Sulaeman Rendra setelah masuk Islam), menjadi satu diantara sajian pagi, antara rokok, kopi, dan mahasiswa yang diam-diam bicara sambil mengerling kiri dan kanan mencari siapa wajah asing yang di jidatnya membayang tulisan “telik sandi” dalam obrolan soal tanah kami, soal nama-nama orang muda yang hilang dan jadi mayat yang nyaris tak dikenal, soal petani yang diberondong peluru di ladang-ladang, di sawah-sawah kampung-kampung kami, lalu enak diberi dalih: “Sudah kami ingatkan agar tidak keluar rumah, akan ada kontak senjata, itu petani-petani ngapain di sana?”

(Dan ingin – sangat ingin! – kujawab saat itu, “Pukimak kalian! Mereka cari rezeki untuk keluarga, di tanah leluhur mereka, bukan di tanah bapak moyang kau, anjing neraka!” … tapi… cuma jadi umpatan terpendam).

Di periode itu pula, ketika yang namanya aspal sudah bersalaman dengan sepatu, terminal dan halte-halte sudah menjadi ranjang pelarian untuk para bohemian karbitan tidur dalam kebebasan, rapat-rapat dan diskusi sudah menjadi sarana kebencian terpendam terhadap keadaan yang meminta nyawa-nyawa orang tak berdosa ditumbalkan, lalu semua terasa menjemukan ketika satu demi satu diantara wajah-wajah yang dulu garang kemudian hari menjadi “orang” dan mencengiri sendiri hari-hari penuh api, sajak dari Si Burung Merak di bawah ini yang menghibur dan sekaligus menggundahkan hati:

Sajak Pertemuan Mahasiswa

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “Kami ada maksud baik”
Dan kita bertanya:”Maksud baik untuk siapa?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya:
“Maksud baik saudara untuk siapa?
Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung sudah menjadi milik orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok bagi petani yang sempit tanahnya.

Tentu saja kita bertanya:
“Maksud baik saudara untuk siapa?”

Kita mahasiswa tidak buta

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?

Kita menuntut jawaban!

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan-pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Senantiasa hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke kali
akan menjadi ombak di samodra.

Di bawah matahari yang ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
memihak yang mana!

Sajak yang dimuat dalam “Potret Pembangunan dalam Puisi”, Jakarta, 1 Desember 1977 itu menjadi bacaan tersendiri ketika kemudian jatuh pesimis, kalau bukan malah apatis, pada negeri sendiri, sebelum kemudian pontang-panting membenahi carut-marut hidup sendiri.

Waktu bergerak dan kita sudah sampai di tahun ini. Tahun dimana itu penyair sudah pergi. Tak ada lagi Si Burung Merak yang berdeklamasi dengan tangan bergerak seperti sayap-sayap mengepak. Tak ada lagi suaranya akan membaca sajak-sajak dengan raungan serak. Tak akan lagi dia muncul di layar kaca untuk kutonton dan kudengar, secara langsung, membacakan puisi-puisi tentang berjuta penduduk negeri ini berseteru dengan nasib yang memasung dan memancung.

Namun, kenang-kenangan dari dia tetap saja masih ada. Setidaknya, semua itu membuat aku merasa sedikit mengenalnya, pernah meminjam sesuatu dari dirinya, lebih dekat dari Mbah Surip yang tak kubikin tulisan apa-apa karena aku minder cuma kenal dengannya karena “Tak Gendong” yang fenomenal itu. Jika bukan karena menggeluti dan mencicipi sendiri seperti apa karya dan jiwa hidup seorang seniman, maka sungguh membuatku malu sendiri untuk heboh karena arus sedang heboh. Tapi untuk WS Rendra, meski itu Si Burung Merak tiada pernah mengenal satu dari pengagumnya ini, semua yang pernah ada dibikinnya dan kukenal dari masa kecil, masa sosok-sosok ksatria pejuang kemerdekaan dikalahkan oleh Ksatria Baja Hitam, bikin aku jadi punya alasan mengenangnya dengan catatan begini… Dengan tanya bersisa di dalam dada: Siapa nanti pengganti?😐