Catatan Akhir Desember 2009

Ketika catatan ini mulai diketik, penunjuk waktu di sudut layar monitor menunjukkan pukul 22:22 (demikianlah adanya angka yang muncul di pojok laptop tua bangka ini), dan suara mercon serta benda-benda berisik sejenisnya sudah meledak-ledak di udara. Jenis pemekak telinga yang mungkin pernah jadi mainan Alfred Nobel itu, cukup berisik meski jauh di tengah kota sana. Konon, kabar dari kawan yang di daerah pertokoan sana, orang ramai di jalanan kota. Bersuka ria karena esok adalah Tahun Baru dan Tahun Lama sudah akan dilambaikan kata “Sayonara” dengan mesra dan lapang dada.

Kota kecil ini memang tak seberapamana megahnya, luasnya dan kepadatan penduduknya. Dibandingkan dengan kota-kota kecamatan di Pulau Jawa saja tak sepadan adanya. Tapi bicara soal perhelatan yang sudah mengglobal seperti Lebaran dan Tahun Baru – bahkan Hari Valentine yang diributkan dengan debatan para pendakwah dan/atau pemilik merek-merek agama – sungguh kota kecil ini membuktikan bahwa planet bumi ini tak seperti zaman Columbus. Di layar televisi, meriahnya Ancol dari lepas Isya tadi sudah jadi berita dengan bunyi terompet terdengar sebentar-bentar. Di sini juga demikian. Suara tet-tere-ret yang sekilas mirip suara pantat mencret itu, menjadi suara yang merdu merayu laksana kentut yang mengentuti masa lalu para peniupnya.

Dan di sinilah aku kini: di kamar sendiri. Tak lepas kemana-mana karena badan terasa agak-agak demam, hidung tersumbat, dan ingus keluar masuk persis Yahoo! Messenger-ku yang berulah kena tulah dari indahnya akses Indosat di daerah terpencil yang mungkin tak bertulis nama di peta Republik Indonesia yang kau miliki, Pembaca. Maka di sini aku memilih berdiam, di kamar ini, dan mencoba sedikit menulis catatan untuk penutup tahun 2009 yang tersisa dalam hitungan sekian belas menit lagi.

….

Tadinya aku terpikir juga hendak ikut-ikutan membuat resolusi untuk tahun depan. Tapi dengan segera aku tertawakan gagasan demikian. Membuat resolusi, bagiku, adalah sebuah ritual tahunan yang – seperti dulu pernah ada – terkhianati di tahun yang baru. Ketika tahun baru menjadi tahun lama, dan 1 Januari kembali menjelang, resolusi yang terbikinkan berulang kembali. Hakikatnya itu-itu saja: Mencoba akan jadi lebih baik. Nanti akan bla-bla-bla. Sedapat mungkin akan mencapai target sekian-sekian. Lalu di bulan sekian nanti harus dapat sekian harapan…. Dan semua itu intinya tetap satu: ingin berubah… selalu ingin berubah.

Pada kenyataannya memang manusia itu dinamis. Tak perlu membuat seribu satu resolusi, dengan atau tanpa pembatas  berupa noktah di almanak yang bertulis 31 Desember dan 1 Januari, perubahan adalah kemestian. Sunatullah kata alim ulama. Tidak mesti di tahun baru, di tahun lama atau hari ini atau kemarin atau kemarin lusa atau minggu kemarin atau minggu kemarinnya lagi, perubahan datang dan pergi seperti pelancong berdarmawisata sesuka hati. Waktu dan tempat akan selalu membuat manusia berubah. Hari ini A besok B. Saat di satu lokasi, di satu daerah akan berkata BEGINI lalu saat berpindah ke daerah lain akan berkata BEGITU. Manusia pada dasarnya memang demikian, suka tidak suka, dipaksa situasi dan keadaan atau malah dengan kerelaan dan kesadaran: sering mengkhianati ucapnya sendiri, baik kepada orang lain atau pada diri sendiri dalam bentuk ragam resolusi.

Tentu saja, Kawan, itu menurutku sendiri dan bercermin dari diriku sendiri. Maka jika ada diantara Kawan-kawan yang tersesat kemari hendak atau sudah membuat resolusi, silakan dan bersukalah dengan resolusi itu.

Lalu apa yang hendak kutulis di postingan ini?

Aku tidak hendak menulis apa-apa selain omongan ngelantur di atas itu, dan sajak semalam. Sajak bikinan sendiri yang kutahu bukan sajak yang bagus, tapi berhak kupajang di blog milikku ini. Sajak yang boleh kusebut ringkasan sok-puitis dari apa yang tercatat menjelang akhir tahun 2009 ini.  Sajak begini:

Hujan Di Bulan Desember

Hujan di bulan Desember,
menjelang akhir tahun.
Tetesnya menyapa tanah, kerikil dan daun.
Basahnya mengembun rapuh jendela kaca.
Dibawa jauh derai-derai cemara.

Di kamarku, di ruang dimana dulu ada cerita,
gelak tawa dan untuknya lagu tentang cinta,
kini hampa tanpa apa-apa.
Lengang.
Suaraku terbang hilang.
Dibungkam jarak keterasingan kenang.

Ada wajah melintas kaku di mataku,
dalam diriku dia datang sekali waktu,
berbayang suara pohon pinus,
satu bocah rebah di bahu,
dan matanya – mata indah itu – yang sikit sayu.

Tapi kini dia tak lagi melepas kisah baru.
Senyumnya begitu bisu, seolah berkata,
“Lepaskan bayangku dari bayangmu.”

Maka cuma ini yang kubisa:
Melepaskan kisah penghabisan
dari balada dua dunia.
Di deru hujan menampar wajah bumi
dan bentang laut
menampari hati.

Ini hujan bukan Hujan Bulan Juni
yang tabah merahasiakan rindu
merintik pada pohon berbunga.
Yang bijak menghapus jejak-jejak ragu
di jalan itu.
Yang arif membiar kata tak berucap
terserap
akar pohon bunga yang membisu.

Hujan bulan Desember
menjelang akhir tahun.
Jadi biola semesta
menggesek udara sampai mengalun
dalam irama tak bernada
tentang keterasingan
dan pahit-manis kesendirian.

Di kamar ini tahulah aku kini:
Hujan ini, rinai ini,
dan suara menderai ini,
adalah segala tentang dia: Dia yang pernah meratui hati…

Demikianlah.

Akhirul kalam: Semoga anda mendapat kalender baru yang lebih seksi daripada kalender tahun ini…

Selamat Tahun Baru, Pembaca 🙂

PS: Tafsir, seperti pernah diucapkan animal symbolicum bernama Gentole, sungguh tidak diwajibkan, tidak dianjurkan, tidak pula dilarang. Apa hukumnya itu? Makruh? Mubah? Terserah anda yang membaca sajalah…

Iklan

11 thoughts on “Catatan Akhir Desember 2009

  1. Ping-balik: Pagi 1 Januari: Antara Terompet Harapan Dan Simbol Penanggalan « Anarki di:RI

  2. wah romantis kali angku ini memendam perasaannya
    macam-macam penyair angkatan pujangga baru
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    *muntah-muntah di westafel*

  3. @ dkwmd

    =)) =)) =))

    kimbeklah! ada bekas seniman patah hati komentar 😆

    kurasa itu jauh lebih baik daripada bawa pulang kambing dari kampung, diranjangkan, dikasih gincu gyahahhsaahahahah… =))

  4. tak tahulah, yg terbaca hanya sajak merdu dengan judul Hujan Di Bulan Desember bukan Catatan Akhir (Sekolah) Desember 2009 😀

    nice post!

  5. @ Aulia

    Catatan (Akhir) Sekolah?? Seperti koleksi album indie yg pernah kubajak di internet dulu 😆

    Ah ya, Sajak Merdu? Wakakakaka… itu sajak memang dari sisi terkelam qolbuku .. :oopps:

    *halah oimakjang* =))

  6. Beuhh…
    Saya ingin menafsirkan:
    ada jejak yg ingin dihapus oleh sang hujan ini..

    🙄

  7. Ping-balik: Catatan Akhir Desember 2011 « Anarki Di:RI

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s