Prolog

I don’t come out
of collected works,
my poems
have not eaten poems–
they devour
exciting happenings,
feed on rough weather,
and dig their food
out of earth and men.
I’m on my way
with dust in my shoes
free of mythology:
send books back to their shelves,
I’m going down into the streets.
I learned about life
from life itself,
love I learned in a single kiss
and could teach no one anything
except that I have lived
with something in common among men,
when fighting with them,
when saying all their say in my song.

Menjelang pukul setengah tiga pagi, ketika postingan ini mulai kuketik, pada Kamis dini hari, di kota kecil pesisir Aceh yang jam segini seperti beruang kutub lelap tertidur di musim dingin. Cuma deru kipas angin dan dengung mesin laptopku, Toshiba Satellite M35 yang sudah tua bangka dimakan usia dengan codet-codet cedera dizalimi si pemiliknya di beberapa sudut raganya. Ditambah suara ketikan, rokok di asbak, air mineral (yang kata iklan televisi selain bermanfaat bagi tubuh juga bisa menyumbang air ke pelosok Nusa Tenggara Sana), maka tak banyak pengawan malam ini untuk mengetik sebuah prolog untuk sebuah blog serupa ini. Musisi berdarah Jepang yang bernama Kitaro pun mungkin sedang tidur atau minum teh di satu sudut bumi sana, sementara karyanya, Dance of Sarasvati, berulang-ulang terdengar melalui Winamp di laptop tua ini.

Tapi yang jelas ini prolog memang mesti dibikin jadi. Karena sudah seminggu ini – jika bukan selama sebulan ini – terbersit dalam benakku sendiri, dalam hatiku sendiri, keinginan untuk menulis kembali. Menulis tentang apa saja yang selama ini pernah datang dan pergi, atau mungkin datang (lagi) satu hari nanti, dalam bentuk sebuah blog, seperti berbulan-bulan yang lalu. Menulis sesukaku, tanpa mesti berkaitan dengan kata yang jadi domain dan titel (sementara) di blog ini sendiri: Anarki, yang konon kata ensiklopedia bermakna,

sebuah kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang juga mengambil dari kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan. Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki.

Tidak perlu ambil pusing dengan judul, titel, isme-isme dan segala jenis kata serupa itu. Pada akhirnya sebuah kata, apakah itu tintamerah atau anarkidiri, bisa tinggal susunan huruf saja. Tanpa makna sama sekali, seperti Sutardji Chalzoum Bachri berkoar-koar bahwa kata harus dilepaskan dari makna atau entah apa lagi ucapannya yang senada itu, sehingga enak dia bikin sajak O Amuk Kapak yang mengingatkanku pada mantra-mantra zaman purbakala.

Seperti halnya cuplikan sajak “Ode To The Book”-nya Pablo Neruda yang kuletakkan di atas, maka demikian aku hendak membebaskan diriku sendiri untuk menulis di sini. Blog ada sebuah kebebasan, dan keterikatan pada makna kata atau topik pilihan mainstream tidak harus jadi kemestian. Boleh jadi karena kesombongan intelektual orang kampungan  macamku, yang pernah dapat “kemewahan pendidikan” dengan menjadi mahasiswa lalu kena bacaan buku-buku di tahun-tahun kehidupan akademik dulu, membuat cuplikan sajak orang bernama asli Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto itu muncul di sini. Agar tampak keren. Agar sedikit tampak tercerahkan, kenal belaka sastra modern,  tahu karya penyair dunia, meski aku tak pernah tahu dimana itu Parral yang disebut-sebut kota kelahirannya dalam jarak 300 km di selatan Santiago, Chili.  Sebuah bentuk klasik pameran intelektual dunia maya yang sudah macam etalase bisnis waralaba dimana semua yang menarik dan elegan dikemas rapi meski instan. Boleh jadi demikian, kusadari ataupun tidak.

Tapi setidaknya kira-kira seperti sajak itulah aku hendak bermain-main kembali dalam sebuah bentuk lain kehidupan internet ini. Bermain dengan mengetikkan kata-kata yang mengalir dari otak ke jemari yang menari.  Bertualang dari satu blog ke blog lainnya jika sempat, yang istilahnya disebut blogwalking, sebuah istilah asing yang tak pernah dikenal oleh kebanyakan manusia-manusia kelas jelata di depan gudang toko keluarga dimana aku acap menghabiskan siang hariku, membantu arus distribusi dagangan keluarga yang  berperan  memperkaya para konglomerat penguasa  pabrik-pabrik kota Medan hingga kota-kota di Pulau Jawa sana.

Sudah lama… sudah lama sekali rasanya sejak Juli kemarin aku meninggalkan sebuah profesi asing yang tak dikenal pula oleh pembuat KTP kelurahan: Blogger. Waktu berlalu begitu cepat. Domain lama yang pernah kumiliki sudah mati, sudah expired kata orang sebahasa dengan John Lennon. Sementara hari-hari di internet cuma bersisa sedikit saja sejak saat itu, dengan cuma menghabiskan waktu tersisa untuk berkomunikasi via email, Yahoo! Messenger, Facebook yang sempat bikin mabuk, dan jejaring sosial yang benar-benar serasa menjaring kehidupan sosial, memerangkap diri menjadi anti sosial. Beberapa bulan berlalu, cerita datang dan pergi, seperti halnya sosok-sosok dalam hidup datang dan pergi. Ada yang cuma melintas lewat, ada pula yang sempat lama bersama lalu berlalu bersama waktu. Pahit-manis hidup yang tak seromantis gelak mesra dua orang muda yang pernah menghiasi cerita hidup di sepanjang zaman, menjadi catatan menjelang akhir tahun.

Namun, rotasi hidup dan matahari pada kenyataannya tetap sama dan tetap meninggalkan kesendirian bagi setiap jiwa, bagi setiap orang, sehingga rasa tak bisa bercerita dengan suara terkadang memang menuntut cara lain untuk dihadirkan: Sebuah tulisan, tak peduli apakah bagus atau murahan, kelas sastrawan atau stensilan. Apalagi jika kebosanan tiba menjadi kawan lama yang kembali bertandang. Konon, kebosanan akan mendatangkan ilham, wahyu kalau untuk mereka yang disebut Nabi. Dan ilham begitu datang padaku, untukku sendiri, untuk menulis kembali, ngeblog kembali. Tak tahu akan berapa lama. Tak tahu pasti akan sesetia apa. Karena dari dulu aku menerima diriku sendiri sebagai orang yang tak suka diikat-ikat oleh sebuah kemestian, pada sebuah tempat, kecuali jika sudah terasa nyaman atau jika sudah dipaksakan oleh situasi dan keadaan.

Demikianlah. Dengan omongan ngelantur yang tak seberapamana pentingnya ini, maka blog ini pun diluncurkan. Sebuah blog yang boleh jadi isinya nihil belaka, tidak menganut kepercayaan pada strata siapa dan apa derajat anda dan saya sebagai sesama makhluk dunia maya, dan mungkin akan memuncratkan muntahan-muntahan postingan berikut dalam rima sarkastis, sinis dan tidak manis bagi anda yang manis-manis.

Di pagi ini, berapa bayi lahir, aku tak tahu. Di pagi ini, apa lahir seorang besar yang akan bikin mati seratus ribu orang kecil, aku sungguh tak tahu. Yang aku tahu, pagi ini kulahirkan blog yang tidak berjanji akan menanamkan apa-apa dan tak akan kehilangan apa-apa, ketika satu hari nanti blog ini hilang begitu saja dari ingatan, karena hidup selalu mengancam kita dengan amnesia pada apa yang kita suka…

Di tanggal yang (ironisnya) menjadi penutup setiap tahun Masehi, 31 Desember, inilah postingan pembuka dari blog ini, dimana termuat sebuah kalimat bijak bestari yang keren, intelek, mencerahkan, membuat penjiplaknya akan tampak berwawasan, dan disuka para pemamah filsafat ala Nietzsche, para nihilis sakit jiwa sejak menyadari baik-buruk planet bumi dimana Adam dan Hawa diusir dalam kisah-kisah agama:

“You must have chaos within you to give birth to a dancing star.”

Selamat Tahun Baru, Pembaca.

19 thoughts on “Prolog

  1. Salam
    Pertamax ga ya.
    Hmm.. Prolog yg puanjang, eh sediniharian td gw melek juga tuh ditemani mie rebus dan secangkir teh manis🙂

  2. Iya. Pertamax itu. Hahaha… sudah macam di Kaskus saja, juga jadi dejavu dgn tahun2 ngeblog dulu😆

    Kepanjangan ya prolognya? Ya dimaklumilah, aku dulu sering dibelai-rayu para guru di SD utk membaca Pembukaan UUD 1945 di upacara bendera. Karena sudah terhayati mungkin kebawa ngeblog😆

    Benarkah? Jaga juga dinihari tadi? Ha! Kapan2 boleh bertukar cerita kita😀

  3. hehehhee… kayaknya sayah ketemu sesama mahluk jamaah engkong Nietzsche😆
    .
    njrit prolognya kependekan tuhh…!!😯
    .
    salam kenal🙂

  4. @ Takodok

    Salam kenal😳

    ….😳

    *memperbarui gugelreader*

    Halaah… bikin semak google readernya saja lho nanti😆

    @ G3mbel

    hehehhee… kayaknya sayah ketemu sesama mahluk jamaah engkong Nietzsche😆

    Benarkah?😆

    Engkong berkumis itu memang menarik, memberi pertanyaan sekaligus jawaban utk hidup ini yang, subhanallah, pertanyaan dan jawabannya itu justru nihil, omong kosong tanpa jawaban sama sekali😆

    njrit prolognya kependekan tuhh…!!😯

    😆
    Mengalir gitu saja, kamerad. Indoktrinasi utk bikin prolog panjang-panjang sesuai pelajaran PMP jaman SD dulu sangatlah berpengaruh adanya😆

    salam kenal🙂

    Salam kenal? Ya, salam kenal kembali🙂
    Padahal aku sudah makin acap kenal nama tuan dari sajak vagina rasa stroberi yang maknyuss di ocehan Tuan Gentole tempo hari😆

  5. tsaaah! keknya ini resurrection. saat blogger-blogger “edan” mulai kehilangan semangat untuk ngeblog dan berdebat, mungkin ini saat yang tepat untuk bangkit.

    mudah2an bisa mancing mereka buat balik nulis lagi.:mrgreen:

  6. @ Morishige

    Ressurection? Seperti judul film saja😆

    Tapi… ya… terakhir kali blogosper semarak itu kapan ya? Saat ribut2 soal matahari mengelilingi bumi atau gedebak-gedebuk FPI versus AKKBB?😕

    mudah2an bisa mancing mereka buat balik nulis lagi.:mrgreen:

    😆
    Aku ndak punya niatan setulus-semulia itu. Tapi kalo blogger2 jaman sinting yang sudah macam orang menua-bangka itu masih ada miring-miring sikit benaknya, syukur juga kalo terpancing. Ada kolega utk dipijak-pijak lagi😆

    @ lambrtz

    Baru saja aktifnya. Padahal udah lama ini blog. Udah karatan mungkin dibilang Jensen kalo beliau tahu:mrgreen:

    @ Mr.El-Adani

    Bersyukurlah, kamerad, karena semalam itu aku tak bisa tidur, petasan ngomong, terompet ‘nggonggong. Padahal mataku jauh mengabur. Kamar udah kelam, dingin beku. Itu petasan menghantam telinga bertalu-talu. Di sebelahku cuma asbak, rokok dan koneksi bangsat dari indosat. Jadilah aku tak bisa tidur sampai akhirnya lelap sendiri, minggat arwah ke alam tak jelas sana…

    *ngomongapaakuini*😆

  7. @ Amd

    …. Kukira di tahun 2010 tidak akan ada lagi penipuan publik. Semisal, orang kelahiran 1979 memudakan diri dengan memanggil orang kelahiran 1989 sepertiku ini dengan panggilan “Bang”….

    *tersungkur sujud*

    .
    .
    .

    *dilempar mandau* =))

  8. Alex Returns.

    Kukira di tahun 2010 tidak akan ada lagi penipuan publik. Semisal, orang kelahiran 1979 memudakan diri dengan memanggil orang kelahiran 1989 sepertiku ini dengan panggilan “Bang”

    Wah saya kelahiran 1990.😳

    Sebuah blog yang boleh jadi isinya nihil belaka, tidak menganut kepercayaan pada strata siapa dan apa derajat anda dan saya sebagai sesama makhluk dunia maya, dan mungkin akan memuncratkan muntahan-muntahan postingan berikut dalam rima sarkastis, sinis dan tidak manis bagi anda yang manis-manis.

    Blog pedas. Perlu itu.

  9. @ Alex
    .

    Engkong berkumis itu memang menarik, memberi pertanyaan sekaligus jawaban utk hidup ini yang, subhanallah, pertanyaan dan jawabannya itu justru nihil, omong kosong tanpa jawaban sama sekali

    .
    wuahaahaa…😆 , ya begidulah si engkong ngasih petuah rahasia hidup itu bersumber dan bermuara di sekitar selangkangan😆
    .
    jantan dan betina itu dibedakan dari cara pipisnya kalau betina itu jongkok kalau jantan itu berdiri.
    .
    nah jantan yang sebenarnya jantan itu tidak sekedar berdiri tapi juga harus kenceng… brurr !!! , kencennnnnnnnnng…!!!😆😆
    .
    anehnya d jaman uedan sekarang ini kok malah sebaliknya ya …, banyak jantan yang pipisnya jongkok dan betina yg pipisnya berdiri😆
    .
    apa perlu di sunat dua kali giduu… ? supaya gak malu2 in jantan yg laennya. 😆
    .

    * antum harap maklum ana lagi nginget2 pelajaran biologi esempe *:mrgreen:

  10. @ Gentole

    Alex Returns.

    😆 Seperti judul film jagoan2 bercelana dalam dari Holiwud saja😆

    Wah saya kelahiran 1990.😳

    . . . . .
    Efek kekecewaan pada karya perfilman seperti Avatar apa sebegitu parahnya bikin amnesia pada usia? Kajian psikologi yang menarik itu😕

    Blog pedas. Perlu itu.

    Tapi sesekali kita kasih kecap. Namanya juga blog yang ngobral kata2, jualan kecap. Idealisme diobral murah, kunyah 3 dapat kutang😆

    @ gimbal | Adhigama

    Assalamualiakum…

    Waalaikumussalam …

    *setel MusikPribumi dari Padi*:mrgreen:

    @ G3mbel

    wuahaahaa…😆 , ya begidulah si engkong ngasih petuah rahasia hidup itu bersumber dan bermuara di sekitar selangkangan😆

    😆

    Bukannya Adam kesepian di sorga firdaus karena tak ada kawan sejenis yang berlawanan model di selangkangan? Dapatlah dia kawan itu, katanya diambil dari rusuknya sendiri. Lalu…. kita pun sama-sama diberitahu, hidup pun jadi bersumber dan bermuara dari sana selepas 2 manusia itu dihalau ke planet ini😆

    jantan dan betina itu dibedakan dari cara pipisnya kalau betina itu jongkok kalau jantan itu berdiri.

    Bentuknya saja sudah beda. Satu macam apam serabi, satu lagi macam terung😆

    nah jantan yang sebenarnya jantan itu tidak sekedar berdiri tapi juga harus kenceng… brurr !!! , kencennnnnnnnnng…!!!😆😆

    *ngakak*

    Kalo tak kenceng tak muncrat, tak akan jadi makhluk baru😆

    anehnya d jaman uedan sekarang ini kok malah sebaliknya ya …, banyak jantan yang pipisnya jongkok dan betina yg pipisnya berdiri😆

    Sekarang juga jantan udah bisa diperkosa rame-rame oleh betina. dari threesome sampai selusinsome gitulah kira2😆

    apa perlu di sunat dua kali giduu… ? supaya gak malu2 in jantan yg laennya.😆

    Dipotong habis itu pentungan? Gak perkasa gak bisa memperkosa lagi lah jadinya😆

    * antum harap maklum ana lagi nginget2 pelajaran biologi esempe *:mrgreen:

    Dimaklumi. Ane juga lagi ngingat2 karya sastra pujangga bernama Enny Arrow😆

  11. selamat ngeblog kembali

    .

    ^

    semoga blog yang ini, tidak bernasib sama seperti beberapa blog pendahulunya yang bernasib tragis, dibunuh😆

  12. ^
    ^
    ^
    Buset! Kata “beberapa blog” itu menusuk sekali😆

    Ya, semoga sajalah. Kadang2 egosentrisme diri ini suka seenaknya saja.

    Mungkin ada caranya utk itu. Nanti kukasihkan sajalah akun administrator ke salah satu blogger non-blog (ngakunya blogger tapi nggak ngeblog). Jadi gak bisa semena-mena dihapus blog ini:mrgreen:

    Oh ya, salam kenal. Terimakasih sudah singgah di blognya si blogger newbie ini😳

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s