Pagi 1 Januari: Antara Terompet Harapan Dan Simbol Penanggalan

Baiklah. Sekarang sudah masuk tahun 2010. Lalu apa?

Demikian kata salah seorang teman di pagi buta. Sebagaimana kataku di ocehan terakhir: Badan yang tidak sehat wal afiat bikin hura-hura petasan dan bunyi terompet yang fals itu, cuma menjadi sesuatu yang tak kesampaian di luar kamarku. Maka SMS dan telpon menjadi alternatif untuk berceloteh dengan basa-basi “Selamat tahun baru!” yang ada pula terselip kalimat “Wish u all the best” yang menyenangkan itu.

Ha! Sembari menghisap rokok dalam-dalam untuk meracuni paru-paru, aku mencengir di pagi buta, di tepian jendela, karena rasa-rasa lucu memikirkan bagaimana kalimat demikian seakan bikin seluruh anak cucu Adam dan Hawa sedang berulang-tahun secara massal di pagi 1 Januari ini. Massal seluruh dunia, di bawah matahari dan rembulan yang sama.

Namun apa yang menarik bagiku justru pertanyaan yang berbau pesimis – jika malah bukannya sinis – di awal postingan ini: Lalu apa?

Postingan terakhirku sendiri, tanggal 31 Desember tahun lalu, memang ada juga nada-nada sinis walpesimis demikian. Boleh jadi itu malah merupakan alasan tersendiri yang tak sempat kugali dan kudefinisikan, untuk jadi bahan postingan tentang sebab-musabab aku enggan bikin-bikin resolusi akhir tahun. Namun, aku tidak sampai bertanya selugas itu, bahkan pada diriku sendiri: Oke, sekarang tahun baru, anak muda. Lalu apa? Bahkan tidak melintas sama sekali dalam benakku, ketika jarum jam sudah melintasi angka 12 dan suara petasan mengiringi percik kembang api yang cuma sempat kulirik sekali dari kamar pengap ini (ah, untuk ritual begitu, malah aku sempat mendengar suara yang sudah akrab di zaman konflik dulu: suara peluru yang bersekutu dengan petasan, mercon, terompet dan kembang api sehingga semarak tahun baru makin bermutu). Tapi pertanyaan teman itu memang menyentil pikiran usil: Bukankah memang segalanya, segala ritual bertanggal, hanyalah soal simbol-simbol waktu saja? Kenapa bisa begitu punya arti tersendiri?

Misal saja, hal yang baru kusadari barusan ketika rehat sejenak menghisap rokok yang bertengger di asbak: Kalimat “tanggal 31 Desember tahun lalu” yang muncul di paragraf di atas. Sekilas membaca dan/atau mendengar ucapan itu, bahkan di tanggal 1 Januari yang notabene hanya berkisar beberapa jam saja dari tanggal 31 Desember di pukul 23:59, akan terasa seakan itu tanggal yang silam. 31 Desember tahun lalu itu terasa macam sudah jauh. Seakan aku mengucapkannya untuk sebuah postingan di tahun yang sudah setahunan yang lalu. Lihatlah, bukankah simbol-simbol angka dan batasan waktu bisa demikian menipu, Kawan?😆

Tidaklah aku tahu pasti apa yang mendasari pertanyaan demikian singgah, terbaca dan lalu terpikirkan olehku. Responku dengan mata yang mulai meredup cuma sederhana saja. Tertawa dengan diwakili simbol alfabet, dan kalimat wishful thinking yang klise, “Yaaa… lalu mencoba untuk menjadi lebih baiklah…” lalu dialog pun selesai. Mungkin kalimat itu bikin mulas dan muak, bikin pusing sehingga membuat teman kita itu mau tidur lekas-lekas, atau malah menjadi wahyu yang tiba-tiba membuat dia tercerahkan, lalu memamah kalimatku itu menjadi sebuah kebenaran/pembenaran di hari-harinya yang akan datang layaknya umat dapat wasiat-wasiat orang keramat.

Namun, aku sadar benar, baik ketika menjelang tidur atau bangun di pagi hari, bahwa pertanyaan berbau sinis walpesimis itu memang memiliki maknanya sendiri. Bukan pada sikap pesimis atau sinis itu, tapi pada bagaimana mempertanyakan guna apa mematok-matok waktu dan berharap dengan basis patokan waktu bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. Bahwa empat angka 2010 akan lebih baik dari empat angka 2009. Bahwa 1 Januari ini akan jadi awal yang baru untuk format masa depan yang baru, yang sering silap pula dianggap untuk melupakan apa-apa dari masa lalu.

Aku tidak hendak menuruti benar kesinisan atau pesimisme demikian. Tidak sama sekali. Manusia, sependek nalarku yang tak seberapamana ini, memang sudah fitrahnya selalu berupaya menjadi lebih baik, atau minimal berharap bahwa hari-hari yang akan datang akan lebih baik. Apakah itu dipandang dari sudut pandang per individu, dari konsep-konsep manajeman finansial ala Robert Kiyosaki atau manajemen qalbu Aa Gymnastiar, dari sudut pandang kehidupan berbangsa-bernegara atau bahkan ajaran-ajaran yang menyebut-nyebut surga-neraka sebagai bentuk punish and reward untuk manusia: agama.

Sebagai muslim, misalnya, sudah sering aku mendengar ucapan sejenis, “Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia orang yang merugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang celaka.”

Itu kalimat mungkin sudah sejak TK masuk ke liang telingaku, dan aku percaya bawah kalimat yang semakna (meski berbeda susunan kata) pernah masuk pula ke liang telinga mantan-mantan orang hidup sebelum mereka masuk ke liang lahat. Kalimat itu benar belaka, aku menerimanya demikian. Setidaknya, dari sudut sinis pikiranku ini, aku masih menerima guna kalimat itu untuk motivasi hidup dan bikin hidup lebih hidup bak kata iklan rokok di layar kaca. Hidup yang bukan macam ternak belaka: makan, minum, bikin ritual, berhubungan seksual, lalu bunting dan beranak-pinak sampai dibunuh sosok anonimus bernama Ajal.

Tapi, adalah menarik – bagiku sendiri setidaknya – untuk menertawai kecenderungan manusia (yang jelas termasuk pula diriku sendiri) mengikat diri pada simbol-simbol penanggalan. Tertawa yang senada-seirama pada drama hari0hari kemarin dari sesiapa yang ribut-ribut, berdebat kusir dan menangis-nangis menonton film 2012, berseteru atau bersekutu soal film kiamat yang tiba di tanggal tertentu hasil rakitan sineas itu. Karena di pikiranku, kiamat-kiamat kecil terjadi sehari-hari tanpa disadari. Kiamat yang tidak melulu terjadi pada diri sendiri, tapi pada orang lain, pada daerah lain, yang kata Bu Maryani (guru agamaku di SMA dulu) bisa jadi pelajaran bagi kita.  Salah satu yang pasti dari kiamat-kiamat itu tak lain tak bukan adalah satu kata mengerikan: kematian.

Nah! Lalu bagaimana? Salahkah jika mempergunakan angka-angka seperti halnya penanggalan untuk bergenggam tangan erat bersalaman dan bersemangat mengucapkan, “Selamat tahun baru kawan! Mari menjadi lebih baik secara lebih cepat!” dan lalu semangat dijawab pula, “Siap, Kawan! Lanjutkan!” ??:mrgreen:

Tentu tidak. Setiap orang bebas untuk membuat patokan-patokan dalam hidupnya. Dan angka-angka jelas membantu hal demikian. Umpama kita mau beli tanah untuk menggarap kebun, agar jangan sampai dibacok orang karena tanahnya kita serobot, maka dibutuhkanlah pacak-pacak yang diberi simbol. Sekian meter ke utara berbatasan dengan tambak ikan Tuan Samwan. Sekian meter ke selatan berbatasan dengan kebun kelapa Datuk Beruk. Sekian meter ke timur berbatasan dengan kebun sayur Nyak Nur. Sekian meter ke barat berbatasan dengan sawah Tuanku Nan Batuah. (Jika batasan ini benar diterapkan dengan sebaik-baiknya, maka perangkat adat tak perlu merebahkan satu-dua ekor sapi untuk merujukkan warga yang bersengketa tanah sampai menghunus belati).

Dan batasan manusia memang bukan soal tanah macam contoh diatas. Pada kenyataannya, makhluk Tuhan yang – konon kata banyak agama – disebut-sebut nenek moyangnya pernah disembah oleh segenap bangsa malaikat, yaitu bangsa manusia, memang memiliki keterbatasan dalam kehidupan di planet bumi ini. Bahkan keterbatasan untuk mendefinisikan batas-batasnya sendiri sehingga kemudian membutuhkan simbol-simbol. Membutuhkan bahasa.

Seorang mahasiswa teknik mesin di Universitas Manchester di benua Eropa sana, sebelum masa Perang Dunia Pertama, kaget dengan pertanyaan yang merasuk ke otaknya sendiri, “Apakah angka itu?” Entah karena salah makan obat atau keselek pensil, dia beranggapan itu adalah pertanyaan yang lebih menarik daripada apa yang acap ditemuinya di bidang teknik mesin, dan kemudian juga disadarinya bahwa itu bukan sebuah pertanyaan sederhana.

Mahasiswa yang bergelut dengan angka-angka di bidang eksakta itu di kemudian hari bersabda dengan sedihnya, “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt.” Sebuah sabda yang terasa gurih, indah, dan intelek sekali saat didengar, dibaca dan dituliskan di blog ini, dalam bahasa asing benua Eropa yang tak akan kutemui di pojok pasar dimana para kuli biasa berjudi ribuan rupiah dengan bahasa kasar. Sabda yang dalam bahasa Melayu versi Republik Indonesia berarti, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”

Demikianlah termaktub dalam buku Tractatus Logico-Philosophicus hasil karya Si Mahasiswa yang kini dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat dunia bernama Ludwig Wittgenstein itu. Tentu bukan karena buku itu ditulis di parit perlindungan Perang Dunia I, saat dia menjadi sukarelawan dalam serdadu Austria yang mesti makan ala kadarnya pula, maka buku itu menjadi buku yang sukar dicerna seperti lambungnya sukar mencerna makanan tentara. Tapi karena keterkaitan dan keterbatasan manusia dengan bahasa berikut segala simbol-simbolnya – termasuk tanggal-tanggal almanak – adalah keunikan manusia yang tak bisa dibahas dengan satu buku atau bahkan satu postingan melantur ini.

Ada pula orang bernama Ernst Cassirer (yang wajahnya tak lebih kuhapal dari wajah kucing kurap yang pernah nyaris terlindas ban sepeda motorku, di pasar kotaku ini) sekali waktu dulu pernah memfatwakan keunikan manusia dalam hal ini, dimana dia meyakini (dan mencoba meyakinkan orang lain) bahwa hebatnya manusia itu bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya sehingga disebut Homo sapiens, tapi pada kemampuan berbahasa, sehingga ia munculkan pula istilah lain seenak jidatnya sendiri: Animal symbolicum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Konon cakupan istilah ini jauh lebih luas dari sebutan Homo sapiens itu tadi, disebabkan dalam kegiatan berpikir atau cari-cari beban pikiran, manusia menggunakan simbol-simbol. Sebuah fatwa bahasa yang dikumandangkannya dalam karyanya, An Essay on Man, terbitan tahun 1944, dan diaminkan oleh Aldous Huxley pula dengan kesimpulan yang kalem, “Tanpa bahasa, manusia tak akan berbeda dengan anjing atau monyet,” dalam lembaran The Importance of Language, tahun 1962.

Dari semua pameran kalimat-kalimat bernada intelektual penuh kutipan karya-karya asing dari orang-orang bernama asing di atas itu, lalu apa tujuan dari postingan ini, sebuah postingan dari Bogor ke Gunung Kidul alias ngalor-ngidul?

Ah, cuma menyampaikan peng-amin-an tambahan dari seorang blogger amatiran di pojok Aceh ini, betapa bahasa dan segala simbol-simbol penanggalan memang menjadi keunikan manusia. Begitu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, hingga pacak-pacak waktu kita definisikan dalam angka, hingga kata “31 Desember tahun lalu” bisa terasa sangat jauh dan sudah lama meski waktu baru lewat sehari. Meski ini baru tanggal 1 di bulan Januari. Tanggal yang menjadi hari pertama di tahun 2010 ini. Tanggal yang mungkin kita sudah terbiasa berlagak untuk “Hei! Mari buka lembaran baru, lupakan yang lama. Hidup mesti maju ke depan, jangan kau tengok-tengok yang di belakang. Lupakan masa lalu, lupakan kenang-kenangan dulu. Jangan lihat lagi… Mari maju dan tumbuh dewasa!”

Namun… tahukah kau, Kawan, bahwa nama bulan ini, Januari ini, diambil dari nama seorang dewa dalam mitologi Romawi. Namanya Janus, dilambangkan bermuka dua (ada juga digambarkan berkepala dua) yang tidak dimaksudkan untuk mewakili jenis ular kepala dua atau manusia bermuka dua dengan lidah yang mahir menjilat pantat sesiapa yang berkuasa atau berharta, seperti yang mungkin kau temui dalam kehidupan di kolong langit planet ini.

Kata ensiklopedia yang sudah macam kitab kebenaran di jagad dunia maya ini, Janus itu dijelaskan begini:

He was frequently used to symbolize change and transitions such as the progression of past to future, of one condition to another, of one vision to another, the growing up of young people, and of one universe to another. He was also known as the figure representing time because he could see into the past with one face and into the future with the other. Hence, Janus was worshipped at the beginnings of the harvest and planting times, as well as marriages, births and other beginnings. He was representative of the middle ground between barbarity and civilization, rural country and urban cities, and youth and adulthood.

Demikian yang termaktub di Wikipedia. Mahabenar Wikipedia dengan segala kontennya.

Dan kalimat yang aku tebalkan itu, Kawan, adalah kalimat yang merepresentasikan apa yang terpikir di benakku. Benarkah kita mampu begitu, atau tega begitu setiap awal tahun baru? Sepertinya tidak. Jika memang menerima awal sebuah tahun baru, seperti 1 Januari ini, sebagai awal lembaran baru, tidak mesti lalu diri terformat seperti Flash Disk soak yang dikira akan menjadi baru dengan tiba-tiba.

Karena memang tak ada beda tanggal berapa dan bulan apa yang menjadi patokan harapan untuk lebih baik, jika semua cuma sebatas ritual yang berulang-ulang belaka, dengan pengulangan janji-janji dan harapan-harapan yang sama. Simbol adalah simbol, dan kita yang memberi makna masing-masing… Berharap ke depan, tapi tidak sombong merasa diri menjadi sosok baru dan enteng melupakan masa lalu. Waktu adalah guru yang mengajarkan kita di tiap lintasannya sebuah pelajaran, sebusuk-sesedih-sewangi-sebahagia-dan-sebrengsek apapun yang pernah kita lalui…

Demikianlah.

Ah, sebelum ini benar-benar menjadi ceracau orang yang mabuk kopi dan rokok di pagi hari, eloklah kuakhiri saja postingan sok bijak ini.

Selamat tanggal 1 Januari, Kawan. Sudahkah anda tidur cukup hari ini?
Kalau sudah, maka aku pamit tidur dulu sampai waktu shalat jum’at tiba…:mrgreen:

12 thoughts on “Pagi 1 Januari: Antara Terompet Harapan Dan Simbol Penanggalan

  1. malam tahun baru 2010 ini saya cuma di kamar kosan. untung dihibur oleh telepon dari wanita pujaan, yang sepertinya sudah nggak pengen dipuja lagi (tapi anehnya nelpon):mrgreen:

    malam tahun baru cuma mengingatkan saya betapa umur ini terus bertambah. tak terasa sudah tahun keempat saja. sebentar lagi harus lulus.. tuntutan. kawan-kawan sudah banyak yang menghilang di jalannya masing-masing, ada yang sudah lulus ada pula yang sudah DO, ada yang sudah nikah, sibuk semua..

    harapan. menurut saya semua berawal dari kata itu. saya menyamakannya dengan visi yang akan menuntun jalan seseorang..:mrgreen:

    *ikutan sok bijak*

  2. Trik, cuci otak, Janus, angka-angka, simbol, tokoh.
    Aku curiga kau ini telah memebenamkan beberapa angka dan simbol dalam postinganmu kali ini, kamerad!

    Macam The Lost Symbol-nya Dan Brown, kecurigaanku semakin tajam, dengan semangat barumu menulis lagi. Jangan-jangan ada informasi tersembunyi yang ingin kau utarakan di sini?

    Ada apa dengan angka-angka berikut ini? 30-31-12-20-09 01-01-20-10? lantas ada apa dengan simbol:mrgreen: ini?

    Apa jangan-jangan ini mengarah ke agenda seumur hidup sekali itu? kecuali bagi yang doyan poligami

    ah aku tidak suka dengan konspirasi ini, Kamerad!

  3. @ morishige

    malam tahun baru 2010 ini saya cuma di kamar kosan.

    *terharu*

    untung dihibur oleh telepon dari wanita pujaan, yang sepertinya sudah nggak pengen dipuja lagi (tapi anehnya nelpon):mrgreen:

    *ngakak*

    Wanita memang aneh, brother. Pola pikir mereka itu macam puzzle, kadang2 sakit kepala kita satukan, kita fahami, masih juga minta dimengerti. Tidak di sana tidak di sini :lo:

    malam tahun baru cuma mengingatkan saya betapa umur ini terus bertambah. tak terasa sudah tahun keempat saja. sebentar lagi harus lulus.. tuntutan.

    Ha iya! Luluslah segera. Memperkaya institusi pendidikan itu sungguh tidak berguna sama sekali😆

    kawan-kawan sudah banyak yang menghilang di jalannya masing-masing, ada yang sudah lulus ada pula yang sudah DO, ada yang sudah nikah, sibuk semua..

    Idem. Di sini juga serupa itu. Kawan-kawan banyak menghilang. Dari yang hilang benaran di zaman konflik sampai yang menghilang-hilangkan diri dari peredaran. Nasib kan memang akhirnya kesendirian sendiri-sendiri. Konon sih demikian😆

    harapan. menurut saya semua berawal dari kata itu. saya menyamakannya dengan visi yang akan menuntun jalan seseorang..:mrgreen:

    Nah ini… harapan. Itu yang bikin kita bertahan pada apa yang kita pengen, kita impikan, seomong-kosong atau sesakit apapun itu yang pernah, sedang dan akan datang.
    Ah, ah… menyamakannya dengan visi yang akan menuntun jalan seseorang?:mrgreen:

    Aku tak lagi sampai sejauh itu. Sudah capek. Lagipula, denjer itu… karena meski sejalan-sehaluan, sekali sampai di simpang, ada yang namanya pilihan nanti. Salah satunya bisa menghilang dari kesepakatan visi-misi dan mimpi demikian.

    Tapi.. ya semoga sukses. Jangan patah arang😀

    *ikutan sok bijak*

    😆

    @ # Mr.El-Adani

    Trik, cuci otak, Janus, angka-angka, simbol, tokoh.
    Aku curiga kau ini telah memebenamkan beberapa angka dan simbol dalam postinganmu kali ini, kamerad!

    😯
    Benarkah? Aduhai… konspirasi! Betapa dahsyat memang efek dari pameran bahasa-bahasa asing dan canggih itu😆

    Macam The Lost Symbol-nya Dan Brown, kecurigaanku semakin tajam, dengan semangat barumu menulis lagi. Jangan-jangan ada informasi tersembunyi yang ingin kau utarakan di sini?

    Ada apa dengan angka-angka berikut ini? 30-31-12-20-09 01-01-20-10? lantas ada apa dengan simbol:mrgreen: ini?

    Hmmm… mungkin di bawah sadarku ada ilham terselubung macam senior Nyonk Ilham berkain sarung, membisikkan apa-apa yang berkaitan dengan hal-hal sedemikian.

    Coba ke pasar Peunayong. Di seputaran orang2 jual bandrek dan bau parfum bondon di sana, mana tahu masih ada yang menyimpan kitab wasiat bernama Kamus Buntut. Cocokkan saja angka-angkanya, mana tahu tembus 3 angka …

    *ngakak puas2*

    Apa jangan-jangan ini mengarah ke agenda seumur hidup sekali itu? kecuali bagi yang doyan poligami

    …….

    ah aku tidak suka dengan konspirasi ini, Kamerad!

    Aku juga tidak suka lagi dengan agenda seumur hidup sekali itu. Tidak untuk saat ini!

    *orasi*😆

  4. Ping-balik: Awal Tahuni Ini « Orekan Waktu Luang

  5. @ Aulia
    😆

    Silakan… Silakan. Sudah dibikinkan rupanya?

    Jadi gimana tumblr itu? Aku sudah hendak tinggalkan itu pula. Bosan dengan permainan grafik:mrgreen:

  6. @ wahyu

    Klise memang😆

    Tapi demikianlah perangai mamalia berkaki dua yang disebut manusia. Mengulang-ulang hal-hal klise seakan itu hal baru😆

    *lirikcerminkaca*

  7. Ha iya! Luluslah segera. Memperkaya institusi pendidikan itu sungguh tidak berguna sama sekali😆

    Sial! Kenapa tidak pernah terpikir kesitu ya?

    *harus serius lagi tahun ini…!*
    .
    .
    .
    *skripsi*
    .
    .
    *Facebook deactivated*.
    .
    .
    .
    *skripsi tidak boleh mengganggu aktivitas blogging*

  8. @ Tuan Adan
    😆

    Berjuanglah, Tuan. Jangan memperkaya institusi yang ngotot pengen diakui sebagai Badan Hukum Milik Negara itu, semakin serakah mereka jual pendidikan sebagai komoditas dagangan😆

    @ Takodok
    😆 Ada yang kenak!😆

    Jadi… kapan tali lembu 10 senti-an itu akan dipindahkan dari topi bujur sangkar di atas kepalamu dengan berbaju toga, Nona?:mrgreen:

  9. tumblr itu hanya tempat ‘sampah’ ku saja bang…
    kadang ku buang…kadang ku rawat….
    cm nebeng id domain hack87😮

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s