Perangai Rasis Ala Kanak-kanak: Kenang-kenangan Diskriminatif Pada Tionghoa

Postingan ini akan berawal dari sebuah cerita lama. Sebuah nostalgia yang tak seindah Cintaku Di Kampus Biru.

Tahun 1995, menjelang 50 tahun HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Umbul-umbul sudah mulai menyembul di kota kecilku saat itu. Sebuah kota dagang, yang menjadi pusat beberapa kecamatan sekitar, dimana sebuah kantor khusus terletak dan diberi status terhormat: Pembantu Bupati. Meski tertulis PEMBANTU, status tersebut sudah bikin bangga saat itu. Entah jika ditulis BABU, maka mungkin akan lain ceritanya. Maklum, saat itu masih menjadi kota kecamatan dalam wilayah kabupaten Aceh Selatan, sebelum beberapa tahun kemudian desakan agar berdiri tegak sama bahu, duduk rendah sama siku sebagai kabupaten sendiri dikabulkan Tuan-tuan penguasa di Jakarta.

Saat itu bulan Agustus, aku masih ingat benar bulan itu, karena sedang rajin-rajinnya dididik baris-berbaris seperti Heiho dilatih Kenpetai di zaman Jepang. Berpanas-panas siang hari bolong dengan sepatu menderap, demi satu tujuan satu harapan: Memenangkan lomba gerak jalan yang akan mengangkat citra sekolah sehingga Kepala Sekolah bisa tersenyum sumringah. Maka daripada itu, dipilihlah sekitar 3 lusin siswa-siswa yang dianggap cukup layak untuk dijemur siang-siang seperti dendeng lembu. Dari 3 lusin siswa-siswa naas itu, dipecahlah menjadi 3 regu. Ada laki-laki dan ada perempuan. Meliputi semua angkatan dari sejumlah kelas-kelas yang ada di SMP-ku itu. Tentu sebagai remaja puber yang sedang malu-malu pengen bercumbu dengan lawan jenis, itu adalah kesempatan bagus bagi sesiapa saja yang lebih menghormati nafsu daripada himbauan betapa terhormatnya membuang waktu untuk pergi latihan ke lapangan sekolah demi mengangkat derajat sekolah, seperti tutur beberapa guru. Diantara mereka, apalagi adik-adik kelas itu, wajah-wajah manis dengan pipi merah semu dibakar matahari adalah target mata mengerling di bawah matahari yang bikin keringat lekas kering.

Tabiat suka berpolemikku mulai timbul di hari-hari terakhir latihan baris-berbaris itu. Berawal dari istirahat sejenak setelah disuruh baris kesana baris kesini, hilir mudik seperti sapi, aku melihat adik-adik kelas yang manis-manis, yang beruntung tidak diazab seperti kami, keluar dari kelas mereka. Istirahat sore, entah dari les sore atau cuma pelajaran tambahan dari sekolah dalam bentuk sekolah mingguan tiap sore, aku tak ingat pasti. Yang aku ingat cumalah tindakan seorang siswa yang kukenal sebagai adik kelas juga, dari regu lain, yang semena-mena mengganggu salah satu dari siswa tersebut. Seorang siswa perempuan yang berdarah Tionghoa, yang biasa berjalan bertiga dengan dua temannya sesama gadis Tionghoa, macam Trio Kwek-kwek (sebuah grup musik legendaris untuk level kanak-kanak zaman itu). Aku tak pernah faham benar memang, saat itu, kenapa anak-anak warga keturunan sering mengasing dengan sesamanya saja. Tapi, sejak hari itu fahamlah aku kenapa mereka – tidak seperti orang-orang tuanya – bisa demikian pemalu di kalangan siswa-siswa sebayanya.

Karena, di zaman itu, di saat aku SMP itu, masih ada cecunguk-cecunguk rasis berkeliaran dengan menebar tindakan tak sopan dan ucapan yang jauh lebih tak sopan terhadap minoritas seperti mereka. Jumlah bangsat-bangsat demikian itu tak banyak, tapi cukup bikin otak jadi bengak. Dan itulah yang dibikin adik kelasku yang sebaya dengan Trio Gadis Tionghoa itu. Awalnya ia bersiul menggoda mereka saat mereka lewat di koridor sekolah dimana dia dan beberapa temannya nongkrong. Masih wajar menurutku, meski para feminis hari ini akan teriak bahwa itu pelecehan gender, karena gadis-gadis yang masih 13-14 tahun itu memang cukup cantik. Setidaknya, jika kau (para pria pembaca celoteh ini) berbini dengan salah satu dari mereka, kau tidak akan malu mengenalkan dan tidak akan lupa untuk kembali membawanya pulang ke ranjang rumah. Namun, entah karena diremehkan minoritas dengan cara tidak dibalas, tidak dipedulikan, siswa peler itu rupanya tak puas. Sudah merasuk agaknya ucapan Vini Vidi Vici dalam otak tengiknya itu, maka dia pun berdiri, dia pelototi, dia dekati dan dia hadang. Sebagai pejantan dan mayoritas yang hendak menang sendiri, dicoleklah payudara salah satu dari mereka. Tak kulihat dan jelas tak kuingat, berapa tumpuk payudara dari tiga orang gadis itu dinista jemari tangannya. Hanya ucapan umpatan (entah “anjing!” entah “pukimaknya anak itu!”, tak ingat lagi) keluar dari bibirku sendiri dan kawan-kawan di sebelah bertanya kenapa. Aku tak bilang apa-apa. Tapi kawan-kawan ngerti melihat arah pandang mata. Dan, sebagai kawan-kawan lama sejak kecil kanak-kanak, sebagai penganut solidaritas tanpa batas yang bermufakat, “Kita ini kawan, kita tak ada itu pake-pake 5W-1H, banyak-banyak tanya kalo kawan ada terganggu. Cuma H saja kita butuh satu: How?!”, maka mereka bertanya, “Kiban?” alias “Gimana?” dalam bahasa Indonesianya.

Lihat saja, demikian kataku. Bukan, bukan karena aku tak peduli. Tapi bikin ribut saat itu cuma akan jadi pahlawan kesiangan. Seakan-akan aku suka pada salah satu dari tiga perempuan itu. Seakan-akan aku peduli benar. Namun karena aku mencerna ucapannya yang jelas terdengar, sebuah ancaman khas bajingan-bajingan mayoritas, “”Awas kalo ngadu! Dasar Cina Loleng! Makan babi satu kaleng!”

Begitu tiga gadis perempuan itu pergi cepat-cepat dengan ketakutan, polemik dimulai. Aku dan teman-teman yang sudah gatal tangan, tanpa ada komando jadi mau bikin perhitungan. Ikut campur semena-mena dalam urusan ekspresi kebebasan seorang putra pribumi di tanah yang 99,99% konon penuh dengan ajaran agama yang melarang perilaku tak terpuji, ajaran yang bersabda bahwa Beliau yang bernama Allahu Rabbi, tidaklah kebetulan iseng semata menciptakan manusia bersuku-suku berbangsa-bangsa, lalu bercampur-baur di muka bumi, namun – kata-Nya – agar saling kenal-mengenal satu sama lainnya sebagai insan ciptaan-Nya. Entah “kenal-mengenal” itu dimaknai siswa peler itu sebagai mengenal empuk payudara gadis non-pribumi, aku tak tahu, dan jikapun itu benar dan dibenarkan oleh agama, aku pun tak mau tahu. Yang kutahu hanyalah tangan sudah menggatal hendak memberi wajah dungunya itu sekepal ketupat bangkahulu.

Dan polemik itu dimulai dengan menepuk dia punya bahu. Dia, yang duduk di koridor dan tertawa-tawa, mendongak sengak dan bertanya, “Apa, Bang?” Pertanyaan itu tentu berlanjut dialog yang memanas suhunya. Seperti, “Kau apakan mereka tadi?” dan dibalas kira-kira, “Urusanku, bukan urusan kalian.” Sebuah dialog akrab yang kemudian penuh kata-kata pujian seperti, “Macam anjing kau perlakukan anak orang” dan dibalas sopan dengan “Suka-suka akulah. Pukisetlah kalian!”.

Percakapan penuh persaudaraan itu selesai ketika kami membalik badan membubarkan diri. Dan, sebagai salam perpisahan aku mendorong kepalanya seperti beruk mendorong buah kelapa tak berguna. Dia pun berterimakasih dengan ucapan, “Kimak kau, Bang! Kok main kepala?!” dan kubalas basa-basi merendah hati, “Ah, suka-suka akulah. Macam kau, aku juga bisa suka-suka. Samanya kita!” Tangannya mencoba memberi usapan ke kepalaku, tapi sebagai orang yang sopan, tentu tak enak diberi duluan oleh adik kelas. Kuberilah pipinya itu belaian tinju. Ada beberapa menit kaki dan tangan menari. Sampai sebutir buah kelapa tak berisi di atas lehernya itu landing di koridor sekolah.

Tentu saja, para bodyguard beliau mencoba menahan kebaikan hati serupa itu, namun kamerad-kameradku juga siaga. Sama-sama mengingatkan soal kesabaran sebagai sesama orang beragama, “Kalian jangan ikut campur!” yang dibarengi pemaknaan yang salah dari ajaran “Jika melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu sendiri.” Sebuah adegan yang sejujurnya tak seimbang. 5 abang kelas menghajar 2 adik kelas yang cuma mau menunjukkan bahwa mereka sebagai pribumi-pribumi agung mesti membela saudaranya, sesama pribumi mayoritas yang dizolimi abang kelas yang ikut campur bela-bela orang Tionghoa. Demikianlah yang kudengar di hari itu.

Kenapa aku ceritakan kisah seperti ini tiba-tiba?

Kawan, aku sendiri pernah brengsek seperti itu di zaman SD. Entah memang sudah sikap zalim yang sudah lazim, yang mungkin diajarkan atau dibiarkan oleh masyarakat umum, pernah juga aku ganggu-ganggu anak-anak Tionghoa di masa SD-ku. Tapi tak sampai sejahanam itu, cuma sebatas teriak-teriak macam orang gila bersama gerombolan siswa-siswa SD yang kiranya akan direkrut sukarela oleh Tuan Besar Hitler jika saja Si Kumis Empat Persegi itu masih hidup. Apalagi jika bukan meneriakkan kalimat penghinaan yang sama?! Kalimat “Cina Loleng! Makan babi satu kaleng!” sampai ada yang menangis dari mereka, baik laki atau perempuan. Meski pada kenyataannya kawan-kawanku sendiri di luar sekolah yang berbeda, ada pula anak Tionghoa, yang malah tak pernah makan babi dan bapak-maknya sering ketemu bapak-ibuku pula di pasar berbelanja ikan-ikan tangkapan nelayan kesayangan koperasi lintah darat di sini. Tak pernah kutahu faktor seperti apa bikin aku mau begitu dulunya. Sebuah perangai laknat yang kulaknat sendiri ketika menginjak bangku SMP. Ketika dipilih aklamasi jadi Ketua Kelas I-3 dan mendapat pendamping seorang Wakil Ketua Kelas bernama Ridwan yang sering mengendus seperti pencandu bius, seorang Sekretaris yang cantik jelita bernama Eka Mulyana, dan seorang gadis Tionghoa yang dianugerahi posisi kehormatan sebagai Bendahara. Susi Susanti namanya, seperti nama pebulutangkis Indonesia yang kelak akan mengantarkan medali Olimpiade kepada negara dimana perilaku menindas minoritas adalah hal biasa.

Sejak kenal gadis pendiam itu, aku jadi kenal seperti apa sabarnya mereka diganggu bajingan-bajingan kecil sepertiku dulu. Dia, yang masih ingat pernah kutembak pistol air saat pulang sekolah, dimana sekolahnya, SDN 1, bersebelahan dengan sekolahku, SDN 2, sehingga rambutnya basah. Dia, yang masih ingat aku tertawa iblis melihat temanku yang bengis menodong uang saku padanya. Dia, yang selalu telaten bikin pembukuan keuangan kelas dengan rapi, dengan selalu menunduk takut kalau aku memeriksa laporan keuangan kelas yang tak seberapa itu, meski lama-lama itu wajah tengadah juga. Dia, yang sampai aku tamat SMP pun masih tetap setia jadi Bendahara kelas kami. Bendahara abadi tak ada tandingan dalam pembukuan yang rapi. Susi Susanti, hanya satu dari anak-anak perempuan Tionghoa yang belakangan, saat itu, bikin aku jengah sendiri menyadari timpangnya perlakuan anak laki-laki seperti kami. Kalau anak perempuan pribumi diganggu seperti mereka, maka abang atau adiknya yang laki-laki akan maju. Tak puas sampai disitu, boleh jadi paman dan sepupunya pula angkat tinju. Tapi mereka? Biarpun punya saudara laki-laki, bikin masalah dengan pribumi akan selalu mereka hindari. Di kota kami, bisa mereka protes jika terganggu. Tapi di kawasan pinggiran, seperti SMP kami yang agak di luar kota, ban sepeda bisa ditusuk sampai robek. Dan yang laki-laki bisa babak-belur kena keroyok. Padahal, itu cuma masalah kanak-kanak. Padahal, orangtua dari bangsat-bangsat itu sendiri akan menampari anaknya kalau dipanggil guru ke sekolah karena bertindak sejahanam itu. Padahal, di kemudian waktu, ketika sama-sama tumbuh remaja, banyak dari anak-anak Tionghoa itu jadi sahabat akrab.

Dan inilah sebab aku menuliskan ini, Kawan. Aku sedang teringat dengan A Lek, yang nama Indonesianya Hendri Susanto. Lelek, panggilan kesehariannya. Salah satu dari anak-anak Tionghoa yang paling dekat dulu itu. Sejak masih SD, saat dia sendiri tak tahu bahwa kawannya, seperti aku, bisa munafik melecehkan anak-anak sesuku-bangsa dengannya. Tapi dia pula, yang sejak kelas 6 SD mendekatkan aku dengan beberapa anak-anak Tionghoa yang awalnya seperti anak pingitan. Hingga kemudian sama-sama dikejar pemilik kebun di pinggir sungai karena mencuri buah mempelam. Sama-sama nongkrong di jembatan kawasan Panton lalu mempraktekkan bagaimana jadi laki-laki yang suka mencicipi deru adrenalin, dengan melompat dari puncak jembatan yang tinggi, jauh sebelum the so-called bungee jumping jadi hiburan paten orang-orang keren di kota-kota modern.

Sejak itu hingga 2 tahun pertama kuliah, dan aku masih pulang-pulang ke kota ini, dia dan beberapa teman sesama Tionghoa, menjadi kawan-kawan yang dekat sehari-hari. Menghabiskan malam bersama-sama dengan keluyuran. Bergabung dengan Laskar saat SMP, sebuah kelompok yang dicap berandalan oleh orang-orang terdidik di kota kami yang cantik. Kelompok anak-anak remaja yang disebut para senior merupakan singkatan dari Lambang Anak SeKARang, yang terbentuk di tahun 1992 dan masih eksis sampai hari ini. Dalam wadah kelompok berandal terbesar itu, selain (Sindicat 31 yang mewadahi bandit-bandit cilik dari jembatan beton di ujung kota, Mabes yang bermakna Markas Besar milik anak-anak kecamatan sebelah, Pastel yang disingkat dari Pasukan Teler dimana tukang bikin onar di Simpang Pasar bersekutu, dan Garawa (Gabungan Anak-anak Kampung Rawa), serta Rasta (Rasa ASli Tembakau Aceh) yang merupakan kelompok pemadat di kawasan pasar), kata ASIMILASI menemukan maknanya sendiri. Dalam institusi pendidikan, di balik pagar sekolah, penindasan terhadap minoritas adalah cerita tersembunyi. Namun dalam kehidupan anak-anak berandal kemudian, yang dihujat para pengkhotbah pendidikan sebagai generasi rusak produk globalisasi jahiliyah, tidak ada urusan apakah satu dari kami adalah Aceh, Batak, Jawa, Tionghoa, Sunda atau Padang. Selama kesepakatan “Kita tak butuh 5W-1H jika kawan dapat masalah, kita cuma butuh H saja: How!” masih digenggam, selama itu kawan masih akan tetap jadi kawan dalam kelompok-kelompok yang sering dimaki “Jahanam!” karena acap menggelar latihan silat semena-mena. Latihan silat yang terbuka di jalanan, di malam-malam puasa, dengan saling berbagi kepalan tinju terhadap sesama bajingan, sementara orang-orang di mesjid sedang syahdu tarawehan.

Lalu… kemarin itu, di bulan yang lalu, ada pula dilarang Barongsai – sebuah seni budaya khas Tionghoa – di tanah Aceh ini. Dan aku bertanya-tanya sendiri, meski mungkin tak ada hubungan dengan postingan ini: Apakah perangai melarang-larang, menekan hak-hak minoritas itu bukan cuma budaya kanak-kanak di masa lalu? Apakah kemerdekaan yang diperingati setiap Agustus itu memang cuma seremoni omong-kosong belaka? Tidakkah sepertinya orang-orang dewasa, bahkan yang disebut-sebut berpendidikan dan mengabdi dalam sebuah departemen agama, sedang mempraktekkan pengebirian hak-hak minoritas untuk menunjukkan siapa dan bagaimana mereka sebagai makhluk Tuhan yang meski berbeda-beda suku dan bangsa di tanah yang sama, tapi di bawah matahari yang sama…?

Kepadamu, Kawan, aku bertanya…

11 thoughts on “Perangai Rasis Ala Kanak-kanak: Kenang-kenangan Diskriminatif Pada Tionghoa

  1. Ngomongin soal geng-gengan waktu remaja jadi inget, ketika umur belasan itu sebelum pindah ke Palembang saya pun punya geng namanya CRC yang sebenarnya kepanjangan dari China Rajae Cirebon, tapi karena takut banyak yang musuhi di luaran kepanjangannya diganti dengan Cirebon Racing Club.😆

    Dan soal perlakuan tak enak seperti kawan perempuanmu itu kenyang saya dapet dari kecil. Sebutan cina loleng manggul kaleng jadi makanan sehari-hari. Tapi ya itu tadi, kadang mau ngelawan juga percuma karena itu hanya akan nambah-nambah masalah. Lha, orang tuanya suka ikut-ikutan belain anaknya. Padahal siapa sih yang benar-benar asli Indonesia itu? Seperti yang pernah saya tulis di blog dulu yang berjudul Benarkah Kita Orang Indonesia Asli?, bahwa menurut saya tak ada yang benar-benar darah asli Indonesia. Lha, mosok para kompeni yang menjajah Indonesia sekian lama itu cuma diem alim aja melihat perempuan pribumi? Belum lagi jamannya tentara Kubilai Khan ketika menginvasi Mataram dulu. Mosok sekian ratus ribu tentara itu nggak ngapa-ngapain dengan wanita pribumi? Jadi, sedikit banyaknya kan darah yang ngaku pribumi itu akhirnya jadi campuran juga. Sama-sama bukan asli kok gontok-gontokan…

  2. Wah, saya kira postingan ringan, ternyata tidak demikian.

    *membaca kembali dengan serius*
    .
    .
    .
    *Ah, lain kali saya harus hati-hati dan jeli membaca postingan2mu, Bang*😕

  3. @ pusink666

    Ngomongin soal geng-gengan waktu remaja jadi inget, ketika umur belasan itu sebelum pindah ke Palembang saya pun punya geng namanya CRC yang sebenarnya kepanjangan dari China Rajae Cirebon, tapi karena takut banyak yang musuhi di luaran kepanjangannya diganti dengan Cirebon Racing Club.😆

    😆

    Kesannya kalo udah ada China-nya dan bikin persatuan, udah mesti dicurigai, dimusuhi. Gitu ya? Padahal kalo misalnya ada yang bikin ANEH, Aliansi Anak-anak Aceh, belum tentu susah begitu. Atau BIKA AMBON, Beta Ini Karedok Ambon😆

    Timpang…. 😐

    Dan soal perlakuan tak enak seperti kawan perempuanmu itu kenyang saya dapet dari kecil. Sebutan cina loleng manggul kaleng jadi makanan sehari-hari. Tapi ya itu tadi, kadang mau ngelawan juga percuma karena itu hanya akan nambah-nambah masalah. Lha, orang tuanya suka ikut-ikutan belain anaknya.

    Masalah yang sama😐

    Orangtua paling nggampar anaknya kan karena malu saja dipanggil guru. Tapi, apa karena efek 1965, maka masih ada tersisa ide tengik bahwa “Yaah… gak apa-apa…. Anak Cina saja pun!” semacam itu?😕

    Padahal siapa sih yang benar-benar asli Indonesia itu? Seperti yang pernah saya tulis di blog dulu yang berjudul Benarkah Kita Orang Indonesia Asli?, bahwa menurut saya tak ada yang benar-benar darah asli Indonesia. Lha, mosok para kompeni yang menjajah Indonesia sekian lama itu cuma diem alim aja melihat perempuan pribumi? Belum lagi jamannya tentara Kubilai Khan ketika menginvasi Mataram dulu. Mosok sekian ratus ribu tentara itu nggak ngapa-ngapain dengan wanita pribumi? Jadi, sedikit banyaknya kan darah yang ngaku pribumi itu akhirnya jadi campuran juga.

    Jangankan orang, binatang di Nusantara ini saja yang asli mungkin cuma 1% saja. Kecoak saja ada di setiap kolong langit. Badak Jawa? Cendrawasih di Papua? Burung Cempala Kuneng di Aceh? Anoa di Sulawesi? Harimau Sumatra? Bah! Siapa bisa jamin pasti kalau itu binatang-binatang, yang lebih tua dan lebih duluan di negeri ini daripada manusia, bukannya hasil impor dari luar negeri di zaman batu?😆

    Apalagi manusia. Orang Aceh sendiri bukan pribumi di sini. Ada beberapa teori dan penelitian soal ini sejak zaman Kompeni sampai dengan zaman Reformasi. Yang paling mutakhir menyimpulkan bahwa jenis manusia-manusia pertama di Aceh itu, yang dikenal dengan nama Suku Mante. Banyak dibahas begini mulai dari asal mula nama Aceh tulisan Iskandar Norman dan beberapa lainnya, sampai malah ada teori aneh2. Lihat saja misalnya di diskusi anak2 Aceh di Aceh Forum Community yang malah ada yang su’ujon kalo ada imigran Yahudi😆

    Pada pokoknya ada kesadaran bahwa batasan pribumi dan non-pribumi itu cuma kata-kata warisan turun temurun yang malah mungkin jadi biasa sejak 1965😕

    Sama-sama bukan asli kok gontok-gontokan…

    😆
    Amen to that:mrgreen:

    @ frozen

    Sebenarnya ini catatan ringan saja. Sebuah nostalgia biru usang. Tapi yang usang itu karena tak boleh dilupakan, mesti dituliskan. Meski itu membuka aib sendiri bahwa pernah terbawa-bawa sebagai seorang rasis yang diskriminatif justru saat masih kanak-kanak, yang tersumpahi sendiri ketika tumbuh remaja😀

    BTW, sorry-morry kalau postingan ini banyak kata-kata kasar. Karena itu cuma cara melampiaskan kekesalan melihat masih ada perilaku yang kekanak-kanakan demikian di tahun-tahun belakangan ini😐

  4. Yang membikin pening dalam perkara-perkara semacam rasisme ini (i.e. hal-hal jelek yang terlanjur membudaya) adalah karena pelaku-pelakunya itu tidak pula hitam-putih seperti yang seringkali dikisahkan lewat anekdot-anekdot.

    Ini justru menambah kemirisannya, sebab orang di sekitar kita bisa saja mengidap penyakit yang sama — pernah beberapa kali saya dibikin terperanjat waktu berkumpul dengan sahabat-sahabat baik saya yang sebetulnya orang yang baik-baik saja, tapi rupanya memelihara benda produk abad pertengahan ini. Tiba-tiba saja dengan entengnya mengucapkan guyonan berbau stereotipe warga keturunan Tionghoa. Saya kaget.

    Ada yang paling anyar, tapi tentunya tidak pakai sebut nama. Ada kawan yang mengencani anak keturnan Tionghoa. Kemudian beberapa kawan lainnya panik (termasuk seorang ukhti), mulai mencarut marut, mengancam menyobek-nyobek foto, sampai mati-matian mempromosikan orang pribumi sebagai alternatif.😆 Ya jelas respek kita tidak akan sama lagi dengan orang-orang yang terkait. Walau sebenarnya kepada kita mereka baik-baik saja.

  5. waduh… panjang sekali nostalgilamu teman. berbicara tentang golongan minortas, aku punya dua keponakan yang parasnya chinese sekali walau dia adalah penduduk pribumi. waktu tsunami 5 tahun silam, ketika sepupuku menolongnya dari gelombang, seorang pribumi berkata : Ngapain kau tolong anak cina itu? tanpa tau kalo yang ditolong itu adalah keponakanannya sendiri. entahlah

  6. @ Pak Guru

    Ini justru menambah kemirisannya, sebab orang di sekitar kita bisa saja mengidap penyakit yang sama — pernah beberapa kali saya dibikin terperanjat waktu berkumpul dengan sahabat-sahabat baik saya yang sebetulnya orang yang baik-baik saja, tapi rupanya memelihara benda produk abad pertengahan ini.
    […]
    Ya jelas respek kita tidak akan sama lagi dengan orang-orang yang terkait. Walau sebenarnya kepada kita mereka baik-baik saja.

    Sengaja saya quote, karena dalam hal ini, kita senasib😥

    .
    .
    .

    @ Alex
    Anu, omong-omong soal nostalgia, Bang, ane bersyukur, sempat mempreservasi sebuah tulisan mahakarya, sebuah tulisan fenomenal dan ultimate yang konon ditulis dengan tinta emas merah™, [ INI ].😳

    *mencari kuburan the.tintamerah*

  7. @ CikGu

    Yang membikin pening dalam perkara-perkara semacam rasisme ini (i.e. hal-hal jelek yang terlanjur membudaya) adalah karena pelaku-pelakunya itu tidak pula hitam-putih seperti yang seringkali dikisahkan lewat anekdot-anekdot.

    Justru itu yang bikin mirisnya. Kalau misalnya saja itu spesies-spesies jelas posisinya dan memegang teguh posisi itu, mungkin bisa dimaklumi. Katakan saja sejenis Neo-NAZI yang menolak habis-habisan perbedaan. Tapi ambivalennya justru semisal orang Aceh yang membanggakan lonceng Cakra Donya pemberian Laksamana Cheng Ho, lalu berkoak-koak bahwa ACEH itu dari dulu dekat dengan Tiongkok, bahwa sejarah dulu bla-bla-bla jaman Iskandar Muda, lalu di saat yang lain akan benci atau menunjukkan sikap merendahkan pada golongan Tionghoa.

    Atau macam itu para demonstran religius yang teriak-teriak soal penderitaan warga muslim di RRC sana, muslim Uighur, yang jika terlihat di Indonesia, dilecehkan tetap saja dibilang, “Dasar China…. memang begitu…” Sungguh jenis sapi-sapi begini aku sering ketemu….

    Kalau cuma anekdot berkelakar antar sesama mungkin tidak masalah. Aku juga sering, baik joke agama atau sukubangsa. Tapi ya lihat-lihat juga apa kawan yang sama-sama “melecehkan” itu cukup dewasa untuk melihatnya sebagai sebuah celetukan joke semata😀

    …tapi rupanya memelihara benda produk abad pertengahan ini.

    😆

    Ada yang paling anyar, tapi tentunya tidak pakai sebut nama. Ada kawan yang mengencani anak keturnan Tionghoa. Kemudian beberapa kawan lainnya panik (termasuk seorang ukhti), mulai mencarut marut, mengancam menyobek-nyobek foto, sampai mati-matian mempromosikan orang pribumi sebagai alternatif.😆 Ya jelas respek kita tidak akan sama lagi dengan orang-orang yang terkait. Walau sebenarnya kepada kita mereka baik-baik saja.

    Pribumi sebagai alternatif. Now, that’s funny. The same old story😆

    Memangnya kalau sudah disebut pribumi sudah amat-sangat baik perangainya?

    Salah satu teman di SMA pernah tersinggung berat karena pacarnya, gadis Tionghoa, dihina dengan ucapan “Ngapain pacaran sama Cina. Tak ada moral agama mereka itu…” macam dia sudah baik benar beragama.

    Sebagai seorang mantan bandit kelompok GARAWA yg kusebut di atas itu, jelas Sang Kekasih itu kumat sintingnya. Kelihaian tangannya sebagai pemain bola volly yang tangguh terbukti bisa bikin pipi abang leting itu ditampar-tampar macam bola volly. Tak tahunya dia kalau Love Is Blind kata orang bule…😆

    @ liza

    Eh? Ini Liza Fathiarani? Hahaha… dari dulu memang hobi nulis panjang-panjang. Maklum, budaya Aceh Melayu di pesisir, gemar cang panah berjam-jam di warung kopi😆

    Masih mending kejadianmu itu, Liza. Pernah tahu bahwa waktu aku dan kawan2 di kampus Unsyiah yang mulia itu dulu, pernah ketemu mahasiswa yang mengusir semena-mena perempuan Tionghoa sudah tua bangka dari robur cuma karena alasan sepele “Tidak menutup aurat” sebab pakai celana sebatas lutut. Dan ujung-ujungnya tetap rasisme.

    Cukup sampai di situ? Tidak… tidak… mahasiswa yang hebat itu sampai mengibarkan Qur’an kecil dan berfatwa, haram hukumnya Robur rakyat Aceh dinaiki Cina kafir.

    Dan kejadian itu dua kali. Satu kali aku tak lihat (karena cerita teman). Yang kedua kali, aku lihat. Saat kawanku ngasih kursi dan kasih duduk, mahasiswa demikian (aku tak tahu apa orang yang sama), mencak-mencak. Penumpang tak ada yang keberatan. Dikiranya dengan ada 3 orang rekannya berlogo salah satu gerakan organisasi agama, dia bisa semena-mena begitu? Di buritan robur itu ada parte yang sedia bikin mukanya itu babak belur😆

    Habis gimana? Yang ada kernet dan penumpang lain telat karena orang religius sepertinya mendakwahkan keimanan di robur. Elok diberi hidungnya itu sekali. Walhasil semua diusir dari robur. Dilerai😆

    Tapi aku puas. Karena di kampus habis dia dicari parte setidaknya ibu tua bangka itu tidak terusir sendiri.

    Aku berani bertaruh dengan segala isi kolorku, andai saja bukan bangsa jelata ibu Tionghoa itu, tak akan dia naik robur cuma untuk dihina begitu rupa.

    Mirisnya… saat ego sebagai umat mayoritas dibawa-bawa bahkan utk orang yang tak salah apa-apa🙂

    BTW, selamat atas kemenangan penulisan blog kemarin. Salam sama anak-anak AirPutih dan kawan2 Aceh Blogger. Lama tak ketemu aku sama mereka🙂

  8. @ frozen

    Bah! Mahakarya apaan? Itu kontemplasi orang sakit jiwa😆

    Ah, bicara soal blog lama itu…. aku juga mau kirim suratcinta ke blogbackuponline, meminta celoteh2 zaman azali itu dikembalikan😥

  9. Ping-balik: Perangai Rasis Ala Kanak-kanak: Kenang-kenangan Diskriminatif Pada Tionghoa | Komunitas Menulis Ababil

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s