Pleidoi

Ini pleidoi bukan sembarang pleidoi. Pleidoi ini sama sekali tidak berkenaan dengan urusan hukum-hukuman, pasal-pasalan, dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini. Bukan pula sekedar ajang bela-diri dari semua fitnah-fitnah dan prasangka yang sudah menyebar di muka bumi.

*halah*

Jadi begini….

Di postingan terakhir itu ada oknum yang (mungkin karena profesinya sebagai blogger vokalis yang suka menyanyikan nada-nada sok kritis di blognya) menyentil sebuah nama yang menjadi bagian dari hidupku di masa lalu. Sebuah nama yang mengusik-usik sanubari. Sebuah nama… disertai beberapa baris kenangan yang ternyata pernah dicopetnya, dan dipajangnya semena-mena di sebuah ruangan bernama Politikana. Dia, yang agaknya sedang berseteru dengan kaum keturunan Siti Hawa itu, beriktikad akan mencari sebuah kuburan lama dari nama yang disebutnya. Sebuah nama yang pernah kurindu…

*setel Pance – Untuk Sebuah Nama.mp3 di WinAmp*

Nama yang disebut itu tak lain tak bukan adalah nama dari blog lama. Blog yang sudah mati seiring kata “expired” yang menjadi momok bagi sesiapa saja yang melakukan aktifitas ngeblog dengan memakai hostingan berbayar (disebut-sebut bahwa hostingan berbayar adalah perlambang blogger bergengsi dan mapan, meski mungkin untuk makan saja ngos-ngosan, entahlah. Wallahu’alambissawab….).

Meski beliau tahu bahwa aku sendiri bukan tak punya alasan kenapa membiarkan saja blog itu mati, meski beliau tahu bahwa aku sendiri pernah mem-backup isi dari blog itu, kupikir bolehlah kubuatkan postingan pleidoi begini.

.

.

.

Aku sudah memiliki kebiasaan mem-backup blog sejak terakhir bercokol di coolblooded. Sejumlah gambar, tautan, postingan dan komentar dari masa itu (kira-kira 2007-2008) pernah kusimpankan ke dalam hard disk laptopku dan di layanan online backup yang tersedia di alam maya ini. Lalu hal yang sama juga kulakukan saat berpindah ke domain hostingan berbayar (2008-2009), dengan melakukan backup di hard disk dan di sebuah layanan online backup yang sama.

Gambar dari blog lawasMeski kadung dikenal sebagai blogger nomaden diantara para kolega yang sama-sama mengabdi sukarela menjadi blogger (konon dengan keikhlasan hati untuk mencerahkan umat manusia di zamrud khathulistiwa ini), namun – beriring pleidoi tak seberapa ini – eloklah kuberikan sebuah statemen yang jelas dan nyata adanya: Tidaklah bersama terhapusnya domain-domain dari segala URL yang pernah terakuisisi itu maka ikhlas kuhapus pula segala yang pernah kumuncratkan di dalamnya. Tidak celotehku, tidak pula celoteh para komentator yang tersesat ke dalamnya. Itu sebabnya aku melakukan backup baik ke dalam hard disk yang kumiliki maupun ke layanan online backup yang tersedia di internet ini. Tak lupa pula, saat menghosting blog sendiri, backup berkala juga aktif dilakukan di hostingan yang bersangkutan. Sebagai misal, semua gambar yang pernah terpajang di coolblooded yang sudah isdet itu, masih segar-bugar tak kurang suatu apapun di keranjang foto milikku ini.

Namun… selalu ada kambing hitam untuk semua kesialan dan kesalahan. Selalu ada pleidoi di balik keengganan orang selfish wal egois untuk mengakui bahwa dia adalah punca petaka bagi semua kehilangan dalam hidupnya sendiri. Dan hal yang sama menjadi sebuah perangai denial dalam diriku pula. Ini sebabnya aku membuat pleidoi begini, karena aku merasa sudah saatnya menunjukkan siapa-siapa kambing hitam yang memang patut dikambing-hitamkan atas segala kehilangan postingan-postingan lama dan komentar-komentar lama yang seolah-olah sangat berguna itu.

1. Bad sector.

Ini adalah force majeur kalau dalam istilah kawanan yang memamah-biak bahasa-bahasa hukum. Sebuah keadaan memaksa yang pertama menimpaku. Tragedi memilukan itu terjadi pada bulan April 2009. Semua konten yang pernah kumiliki menguap begitu saja. Tak bisa dikembalikan. Ibarat orang yang sudah buta mata-hatinya untuk kembali bertaubat, hard disk yang kena bad sector tersebut sungguh tak ada obat. Hampir semua jenis program pengembali berkas yang dijanjikan kehebatannya dalam 10 halaman pencarian di padepokan Mbah Gugel, tak berdaya apa-apa.

Jangankan program serupa itu, bahkan untuk mendapatkan program-program recovery yang khusus untuk memperbaiki hard disk ATA merek Toshiba, sulitnya bukan main. Sudah dapat pun, tak juga berhasil. Bayangkan, Tuan-tuan, bayangkan! Program yang diklaim direkomendasikan oleh perusahaan berjudul Toshiba itu sendiri tak bisa apa-apa. Hilanglah semua itu. Hilang tiada pernah kembali. Jangankan backup dari blog-blog tersebut, sekalian dengan foto-foto nostalgia dimana terpampang wajah-wajah tercintah, sekitar 40Gb berkas mp3 yang sudah (kembali) kukumpulkan dengan darah dan airmata susah payah sejak laptop itu menjadi milikku, sejak PC-ku azab dilumat air asin dari lautan, berikut naskah-naskah tulisanku yang pernah kurenungkan dan kuangan-angankan kelak akan menjadi sebuah buku, sebuah novel, minimal selevel buku porno stensilan macam karya-karya maestro bernama Enny Arrow; semua itu hilang punah begitu saja.

Emosiku naik ke ubun-ubun, Seperti apapun sayangnya aku dengan laptop setia itu, seperti apapun pedihnya rasa kehilangan, kutampar dan kubanting hard disk itu hingga cerai-berai, berserak kepingannya jatuh, menderai sampai jauh…

Memang mungkin lebih baik seperti itu, di saat yang tercinta tak bisa dimiliki kembali. Sebuah kehilangan yang sama memilukan dengan perginya kekasih hati *sendu* bagi engkau yang pernah merasakan kehilangan menyedihkan serupa tragedi di bulan itu…

2. Hostingan blog.

Setelah kejadian pertama itu, dimana semua yang pernah kumiliki di hard disk bermerek Toshiba (bawaan dari Toshiba Satellite M35-S456 yang masih setia sampai hari ini) lenyap begitu saja, aku sudah kehilangan 1/4 nyali untuk menyimpan backup di hard disk. Maka, berhubung sudah pindah ke hostingan sendiri, bergantunglah aku pada backup dari server dimana blogku dihosting, dan pada layanan online backup yang kumiliki akunnya saat itu. Sebuah ketergantungan yang naif, karena tak ubahnya beruk bergantung di akar yang rapuh.

Dan demikianlah yang terjadi. Ketika kekecewaan tak pernah direspon tentang betapa lelet dan banyak masalah di hostingan itu, maka ngeblog pun jadi angin-anginan rasanya. Satu-dua bulan semenjak tragedi bad sector itu, postinganku cenderung pendek-pendek, malah ada yang cuma re-post dari tumblr kesayangan. Apa yang aku bisa cuma menulis sebisanya saja, dan tidak seantusias dulu, sembari mem-backup semua konten di sana.

Hingga kemudian kesibukan datang di awal Juli 2009 dan aku tak berminat memperpanjang hostingan di sana. Sidang pembaca rahimakulullah, dapatlah kiranya memahami posisiku, letakkan dirimu di sikon-ku, maka kau akan faham betapa bete-gitu-deh rasanya saat kau komplen tentang layanan jasa yang kau gunakan, dan semua itu tidak ditanggapi dengan responsif. Kau akan faham betapa gimaaanaa-gituuuh perasaanku, saat kau punya domain, kau punya blog, yang bagimu adalah hobi, sebuah sarang untuk berkontemplasi, sebuah tempat yang sudah macam rumah mini dimana kawan-kawanmu biasa bertandang, sebentar-bentar down, sebentar-bentar under maintenance, sebentar-bentar tak bisa diakses dari seluruh penjuru nusantara. Kujamin kau akan merasa betapa bete-gitu-deh dan betapa gimaaanaa-gituuuh perasaanmu.

Aku pertaruhkan isi di dalam kolorku ini, jika kau tidak merasakan sedikitpun rasa kesal-sebal-jengkel-gondok-dan-tengsin yang serasa api disiram bensin saat sesiapa yang bertanggung-jawab di balik hostingan begitu manis dan ramah menghubungimu cuma untuk bertanya soal memperpanjang hostingan. Bertanya soal itu sesudah semua pertanyaan dan keluhanmu tak ada respon apa-apa. Jensen, Si Agen Mossad dari Papua yang sama-sama blogger pinggiran Indonesia, adalah saksi hidup (via cetingan dan SMS-an, tentunya) soal kesedihan-kesedihanku saat itu…

Maka, seperti aku pernah alami, jika kau mengalami hal begini kelak, mungkin ada baiknya berdiam diri ibarat anak gadis merajuk tak dibalas sms-nya. Dikirimi surat cinta penuh kasih mesra membujuk, jangan pedulikan. Dikirimi pesan via online messenger, jangan acuhkan. Sampai kemudian, kau pergi dan berlalu, tidak mau melihat-lihat lagi… Biarlah… biarlah semua berai begitu saja…. Segala cerita kasih-mesra selama hosting di sana biarlah lenyap ditelan waktu…

Dan demikianlah. Hilanglah semua konten di sana berikut backup-nya. Pernah kucoba iseng meminta, telpon tak nyambung, ku-SMS-kan saja. Namun tiada respon apa-apa. Malah pertanyaan via SMS yang datang: “Siapa ini?”

Demikianlah kalau nomor mantan pelanggan yang dikecewakan sudah dihapus begitu saja cuma karena tak melanjutkan jadi pelanggan… Dunia oh dunia… πŸ˜†

Jadi… sudah hilang semua backupnya?

Belum. Masih ada ini:

3. Layanan online backup.

Ini adalah alternatif yang sempat kuanggap the best of the bad dari semua opsi di atas itu. Dengan hati girang, semenjak masih ngeblog di WordPress.com, sebelum hard disk kena bad sector, sudah kudaftarkan namaku, blogger dhaif ini, ke sebuah layanan yang kutuduh sebagai layanan terbaik saat itu.

Betapa tidak! Dari namanya saja sudah jaminan mutu, bahwa layanan itu memang sudah memastikan diri sebagai penyedia jasa backup yang tangguh, mantap dan akan setia menjaga backup blog siapapun dan apapun jenis engine blognya, sehingga konten disana terjamin aman macam harta simpanan penguasa-penguasa negara ini di bank-bank luar negeri.

Layanan penyedia jasa blog itu beralamat di blogbackuponline.com/techrigy.

Ah, lihatlah! Ada pula kata “tech” di belakang garis miring itu! Dengan sepenggal kata itu saja, makin yakin aku bahwa ada bau-bau technology yang mumpuni di balik penyedia layanan yang baik hati itu. Selain dari ongkos berinternet yang harus dibayarkan untuk mengaksesnya, sisanya adalah gratis belaka. Sungguh gratis belaka! Betapa dermawannya!

Tak ada keraguan saat itu di dalam lubuk hatiku: Dialah… Oh, inilah sosok yang selama ini kucari… Pujaan hati… Idaman Jiwa… Ohh…yess…

Tapi… seperti kurikulum pendidikan berganti-ganti di negeri ini, seperti pinjaman uang para nelayan tiba-tiba dinaikkan ribanya secara sepihak oleh mereka yang menyebut dirinya koperasi, demikian pula tragedi terakhir yang menimpaku di bulan Desember yang lalu. Kehilangan sandaran harapan qolbu, kehilangan sesuatu yang kembali mengkhianati kepercayaan ini…

Itu layanan melenyap begitu saja macam asap. Tak ada bekas apapun dari semua backup yang dengan penuh kepercayaan sudah kuserahkan ke haribaannya. Jika Tuan-tuan ada minat mengklik tautan dari penyedia jasa tersebut, Tuan-tuan akan menemukan sebuah kehampaan belaka. Jika Tuan-tuan hapus tulisan techrigy-nya, maka Tuan-tuan cuma akan menemukan sejenis blog dengan bahasa yang tak ada di kampung halamanku ini, bahasa yang cuma membawa ingatanku pada teriakan “Achtung!” para Nazi di film-film Perang Dunia Ke II.

Tragedi kemanusiaan terjadi untuk ketiga kali. Seperti hard disk yang bad sector tanpa pernah kutahu kenapa dan mengapa di bulan April 2009 yang memilukan, seperti itu luluh hatiku di bulan Desember yang biru…

Maka daripada itu… aku pun sudah lelah menjadi nomaden, sudah lelah membiarkan kezaliman-kezaliman takdir bikin backup blog milikku menghilang… Karena, jarang-jarang aku menghapus tulisanku sendiri, seperti yang masih tersimpan di Facebook atau di Politikana. Menghapus sebuah blog lain cerita, apalagi jika postingan sudah kutransmigrasikan ke blog baru. Sejak dari blog smellsliketeenspirit, lalu coolblooded hingga ke hostingan tintamerah.info, itu menjadi pertimbangan selalu. Namun bagaimanapun, fitnah sebagai blogger nomaden memang sudah mesti diakhiri *lebbay* eksistensinya. Maka blog ini sudah kubagi saham kepemilikannya kepada blogger lain yang malah tak nge-blog sama sekali. Sehingga jika kelak sinting lagi pikiranku untuk menghapus, mungkin terpikat untuk ditipu penyedia jasa hostingan lainnya, maka aku tak bisa menghapusnya begitu saja karena akan ada dia, satu administrator tersisa, yang akan menjaga blog ini sampai titik bandwith yang penghabisan.

Demikianlah curahan hati yang seenak perutku kuberi judul pleidoi ini. Semoga pembelaan diri ini bisa dimaklumi 😎

PS: Gambar tak ada hubungan apa-apa dengan postingan. Cuma gambar lama yang masih baik-baik saja di hostingan gratisan….

Iklan

9 thoughts on “Pleidoi

  1. wah pertamax…

    saya belum melakukan backup nih… πŸ™‚
    semoga postingan ini mengingatkan saya untuk backup setiap blog yang pernah saya “selingkuhi” :))

  2. Wah, saya pun tak pernah backup nih. Blogger angin-anginan macam saya yang ngeblog dari 2007 tapi gaya penulisannya tak pernah meningkat mana kepikiran buat bekap-bekapan. πŸ˜›

    Bersedia menjadi sukarelawan untuk membackup seluruh isi perut blog saya yang maha benar dengan segala kontennya itu?

  3. @ Aulia

    Berhati-hatilah dalam mem-backup. Hisablah setiap target meletakkan backup tersebut dengan baik dan benar, agar tidak menyesatkan di kemudian hari 😎

    @ Qzink

    Ah… kau pun tak memback-up kan tak ada pikiran sinting pindah-pindah domain πŸ˜†

    Perkara gaya penulisan, mana ada urusan. Mau stagnan yang penting konsisten. Jangan macam blogger yang nomaden!

    *lirikcermin* 😳

    Jadi sukarelawan? Konten-kontenku sendiri yang mahabenar dengan segala celotehku, menguap. Apalagi celoteh umat Zarathustra sepertimu πŸ˜† Pokoknya: Ogah!

  4. @ Aulia

    Wah! Sama!
    Aku juga tak jago menghisap… masih pemalu soalnya… 😳

    Etapi… hisab bukan?
    Kalo kata “hisab”, cobalah ajak amil zakat utk itu… :mrgreen:

  5. Mampir brat!

    Sebetulnya masih ada solusi backup yang lain. Bisa pakai DVD. Bisa pakai beberapa hard disk dengan menggunakan metode rotating backup. Harddisknya mah minta ke kantor, ga mampu kalau beli sendiri.
    Saya menggunakan metoda rotating backup itu kalau berhubungan dengan data proyek. Mau kantor kebakaran atau rumah kebakaran, data terakhir tetap masih bisa diakses. Kalau satu Jakarta rata kena nuklir baru deh nyerah… πŸ™‚

    BTW, 40GB itu tulisan semua? Kalau bukan, berarti jauh lebih banyak gambarnya dan tulisan biasanya hanya makan tempat 10% dari total space.

    Sebagian gambar bisa disimpan di layanan gratisan seperti Flicker, Picasa, dan lain-lain, tapi kalau dihitung cost-nya, jauh lebih murah bakar DVD daripada upload semua gambar ke online storage.

    En, saya agak kurang paham dengan istilah blogger nomaden. Blogger pengembara gitu maksudnya? Mengembara ke mana?

    Salam sukses!

  6. @ morishige

    *bantu tepuk jidatnya* 😎

    @ Lambang 212Β°

    Mampir brat!

    Silaken. Silaken… 😎

    Sebetulnya masih ada solusi backup yang lain. Bisa pakai DVD. Bisa pakai beberapa hard disk dengan menggunakan metode rotating backup.

    Dulu aku ada simpan backupnya juga di HD external saat masih kerja di Banda Aceh. Tapi ya itu… naasnya memang sudah lewat, itu hard disk di-ghost sama kawan utk instal debian. Habislah sudah harapan. Ingat2 sehabis insiden hostingan itu. Mau ngedonlod backup cadangan dari net? Hahaha… koneksi saat itu cukup mengharukan sekali πŸ˜†

    Saya menggunakan metoda rotating backup itu kalau berhubungan dengan data proyek. Mau kantor kebakaran atau rumah kebakaran, data terakhir tetap masih bisa diakses. Kalau satu Jakarta rata kena nuklir baru deh nyerah… πŸ™‚

    Wah,, mungkin karena aku gak pernah seserius itu dengan data-data ya? Maklum, kebanyakan isinya personal, dalam artian tidak signifikan bagi mata pencaharian. Tapi benar juga itu, bisa jadi pegangan utk pembukuan gudang toko di sini πŸ˜€

    BTW, 40GB itu tulisan semua? Kalau bukan, berarti jauh lebih banyak gambarnya dan tulisan biasanya hanya makan tempat 10% dari total space.

    HD bawaan laptop saat itu 80GB. 40 Gb untuk system dan data, sisanya… hehehe… 40GB sisanya musik, mp3, ogg vorbis, dan segala jenis multimedia untuk hiburan. Sampai ada film2 lawas yang aku suka kusimpan di situ. Dijamin ilegal, itu pasti :mrgreen:

    Sebagian gambar bisa disimpan di layanan gratisan seperti Flicker, Picasa, dan lain-lain, tapi kalau dihitung cost-nya, jauh lebih murah bakar DVD daripada upload semua gambar ke online storage.

    Kalau gambar memang begitu aku perlakukan. Selain hosting di online storage sejenis photobucket, imageshack, picasa dan flickr, juga dibackup di CD. Gambar nggak terlalu banyak. Cuma ada selusin CD kira-kira. Jadi kalo gambar masih amanlah. Lha, itu di link photobucket-ku gambar2 dari tahun 2007 masih ada. Yang bikin penyesalan dan kesal ini postingan2 lama itu cuma ada bersisa 10-20% saja yang terselamatkan, itu juga nemu kebetulan di file backup lawas πŸ˜€

    En, saya agak kurang paham dengan istilah blogger nomaden. Blogger pengembara gitu maksudnya? Mengembara ke mana?

    Mengembara dari satu domain ke domain lain πŸ˜†

    Dulu aku lama di blogspot, terus pindah ke blogsome. Akhirnya pindah lagi ke Wp.com. Sempat punya ada 1/2 lusin blog di sana. Paling lama ya di coolblooded.wp.com (entah darimana pula mencuat nama itu di benakku saat itu, dari bahasa Inggris saja udah keliru), sebelumnya punya URL smellsliketeenspirit.wp.com, tapi kata “teen” di sana ternyata banyak kenak blokir di tempat kawan2 di sini πŸ˜€

    Salam sukses!

    Salam sukses juga. Makasih atas sarannya πŸ™‚

    @ almascatie

    memang doi-mu bener2 plesetan lex =))

    πŸ˜†

    doi itu ada dua
    doi yang ituh™ kita yang terpleset
    doi yang di kata-kata, kita yang plesetkan. Bukankah kata-kata itu diciptakan utk diplesetkan? πŸ˜†

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s