Masturbasi Federasi

Postingan ini bolehlah kiranya kusebut sebagai salah satu alasan utama kenapa aku jadi mengaktivasi blog berdomain anarkidiri.wordpress.com ini. Sebuah blog yang sebenarnya sudah lama kubuat, jauh sebelum blogku yang berhosting bayaran tewas dibunuh kata “expired“. Postingan yang akan kau baca ini, adalah satu alasan utama kenapa aku memilih blog dengan subdomain demikian – yang seolah-olah anarkis habis-habisan dan dulu kupikir akan kujadikan pelampiasan sebagai makhluk anonimus – sebagai blog utama mulai akhir tahun kemarin.

Semua ini, Kawan, adalah tentang bara ketidakpuasan yang umpama bara dalam sekam, sudah lama dalam dadaku dan kawan-kawan di tanah pinggiran NKRI ini teredam, macam buah mempelam menunggu masak setelah lama diperam.

Darimana akan kumulai berbagi rasa sakit hati dan tidak puas kami pada negara yang bagimu mungkin serupa altar pemujaan dengan berhala Garuda Pancasila menjadi satu-satunya kebenaran dan satu-satunya pembenaran untuk menolak semua gagasan dengan cap pembangkangan, seperti acap kami dapatkan dari serdadu-serdadu pengawal Persatuan dan Kesatuan yang pernah membuat kami babak-belur dipopor tanpa tahu salah apa-apa di daerah ini?

Mungkin inilah cara terbaik agar kau mengerti, yaitu dengan membagi cerita yang berasal dari tanah, dari pulau dimana seolah-olah cuma di sana NKRI benar-benar mewujud sebagai sebuah negara yang makmur, aman, sentosa, tata tentram kertaraharja, gemah ripah loh jinawi: Sebuah cerita dari era Mataram dahulu kala….

Adipati Joyokusumo kecewa terhadap Panembahan Senopati. Pada waktu Mataram menggebrak Kadipaten Madiun, Adipati Joyokusumo dari Pati berperan penting. Tanpa perjuangannya, Madiun belum tentu bisa dibikin takluk oleh Mataram.

Panembahan Senopati, Raja Agung Mataram itu, mestinya merasa berutang budi pada Joyokusumo. Ketika Sang Adipati menghendaki putri ayu Madiun diboyong ke Mataram, Panembahan Senopati mestinya tak usah keberatan.

Tapi kenyataan lain sekali. Putri itu diperistri sendiri oleh Panembahan. Joyokusumo, panglima perang yang baru saja menang itu, pulang dengan perasaan kalah. Perjuangan berat menggempur Madiun bagai menyiram air ke pasir.

Panembahan Senopati tak memikirkannya. Maka, suatu hari dipanggilnya Patih Puspandriya. Ia diinstruksikan agar bersiap-siap mbalelo (melawan) pusat, melawan Mataram.

“Loyalitasku terhadap Mataram tak lagi ada gunanya. Kita bersedia menunduk. Kita bersedia taat. Tapi itu dulu, ketika ketaatan masih ada harganya. Sekarang tak perlu lagi,” kata Adipati Joyokusumo.

Lama-lama Panembahan Senopati merasa ada “pemberontakan” dari Pati. Wilayah utara itu. kini sukar dikendalikannya. Mataram, sebagai pusat, mulai kewalahan mengendalikannya.

Diplomasi “politik” ditempuh. Segenap upaya “kekeluargaan” dilakukan. Tapi Adipati wilayah utara itu menjawab kritis dan tandas. “Kekeluargaan apa penindasan?”

Panembahan Senopati murka. Ia merasa ditantang. Maka Wiroguno, tumenggung ganas itu pun dikirim. Pati, setelah tak bisa lagi diajak bicara, mesti digempur. Joyokusumo harus disingkirkan. Tanpa kebijaksanaan politik itu, wibawa Mataram luntur di mata para adipati di daerah-daerah lain.

Orang kuat tak membolehkan dirinya dilecehkan. Kekuasaan pusat berapa pun harganya dan apa pun taruhannya, harus ditegakkan. Joyokusumo boleh berjasa. Ia boleh hebat dan didukung banyak orang. Tapi pantang merasa hebat di depan Raja Agung Mataram.

Dalam pertarungan, Joyokusumo jago. Banyak prajurit Mataram gugur di tangannya. Tapi setelah seharian bertempur, tenaga susut, dan lelah, tiba-tiba muncul Tumenggung Wiroguno yang masih segar bugar. Ia sengaja mengorbankan para prajuritnya. Tapi benar: perhitungannya jitu. Joyokusumo diringkus. Ia gugur dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

Kawan, cerita di atas itu bukanlah fiktif. Setidaknya cerita itu bukan sebuah dongeng atau kisah di komik. Meski definisi fiktif dan tidak fiktif bisa begitu brengsek kita perdebatkan di dunia hampa ini dimana ada boleh jadi tiada, karena tidak pernah kita lihat dengan mata kepala sendiri, namun demikianlah sejarah mencatatnya sebagai kenyataan. Menjadi sebuah babad di Tanah Jawa sendiri. Menjadi sebuah sejarah dari zaman Mataram di Jawadwipa, bukan di Andalas, bukan di Borneo, bukan di Celebes dan bukan di Papua. Pastinya bukan di dusun tertinggal di pelosok lintas Blangpidie-Trangon-Blangkejeran yang bulan lalu sempat kulintasi.

Tapi yang menceritakan, yang menulis cerita itu pasti bukan orang Jawa. Bukannya kau itu, pemilik blog, adalah orang Aceh? Manalah kami tahu kalau cerita itu sudah kau rekayasa sendiri!

Oho! Tunggu dulu, Kawan. Aku memang orang Aceh. Orang tua, dan leluhur keluargaku lahir, besar dan (banyak yang) meninggal dan dimakamkan di sini. Aku sendiri lahir, besar, dan berdomisili di sini (hingga saat ini). Besar harapanku juga agar kelak aku isdet di sini, di tanah Aceh, di kampung kelahiranku sendiri, menjadi bagian dari komunitas persekutuan jenazah yang bisu di pekuburan tua berpohon mancang di kampungku. Tapi, soal cerita itu, tanpa malu-malu kukatakan padamu: Bukan tulisanku sama sekali.

Seperti banyak blogger-blogger menjiplak tulisan-tulisan dari artikel-artikel orang lain, dari buku-buku orang lain, lalu menyebutnya sebagai kutipan, sebagai referensi, maka demikian pula dengan cerita di atas itu. Aku mengetik ulang tulisan itu dari sebuah artikel Mohamad Sobary berjudul “Jembatan Antar Pusat Kekuasaan” yang pernah dimuat harian Lampung Pos, tertanggal 24 September 1995. Perkara bahwa artikel tersebut dimuat di harian daerah non-pulau Jawa, seperti juga kemudian cuplikannya muncul di sini, itu lain cerita. Tapi bahwa penulis aslinya seorang Mohamad Sobary yang lahir di Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952 – dan bukan di Blangpidie, Aceh, 15 April 1982 – setidaknya bisa jadi pertimbanganku (dan juga kau) untuk mengasumsikan bahwa orang Jawa ini cukup kredibel menceritakan babad dari tanah, dari pulau dimana dia sendiri lahir dan tumbuh besar.

Note: Harap dicamkan dalam benakmu, penyebutan “orang Jawa” tidak memiliki tendensi negatif apa-apa atau semata-mata karena aku orang Aceh. Bukan bertendensi suku, karena seorang Aceh pun yang lahir dan besar di Jawa bisa disebut orang Jawa. Selain daripada itu, aku tidak tertarik dengan segala personalisasi suku bangsa. Bagi anda yang fanatik pada gagasan sukuisme, pikiran tengik seperti itu boleh dibawa enyah dari sini, okeh?

Artikel yang dituliskan Mohamad Sobary di atas itu sendiri, bukanlah kudapatkan langsung dari harian Lampung Pos. Tentu tidak! Di tahun 1995, sebagai remaja berusia 13-14 tahun, selain susah mendapatkan koran-koran dari luar (selain Waspada dari Medan), bacaanku sendiri tidak sekaliber orang-orang intelek tercerahkan yang mungkin sudah melahap Tempo sejak masih usia 7 tahun, sudah manggut-manggut khusyuk membaca kolom-kolom di Kompas dan perdebatan intelektual di Republika saat masih SMP. Artikel tersebut kucomot semena-mena dari kumpulan artikel beliau dalam buku Di Bawah Payung Agung, terbitan Mizan di tahun 1997.

Lalu apa guna artikel tersebut ditulis ulang, dijiplak di postingan ini?

Karena sejarah adalah sejarah, Kawan.

Sejarah boleh dimaafkan tapi tidak boleh dilupakan, sebagaimana pernah kutuliskan tentang sejarah konflik di Aceh, dalam artikel KKR Aceh: Antara Memaafkan Dan Melupakan Sejarah di Politikana dulu.

Lihatlah dalam sejarah di Tanah Jawa sendiri, di kala Mataram masih berkuasa, dimana drama ketidakpuasan daerah terhadap pusat adalah cerita lama yang terekam dalam jejak-jejak perjalanan komunitas manusia di Nusantara yang kemudian menyebut dirinya bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lihatlah betapa sebuah pembangkangan dari daerah terhadap pusat seperti Adipati Joyokusumo yang mbalelo terhadap Panembahan Senopati di Mataram, bisa terjadi “hanya” karena masalah yang sepele mungkin di telinga kita, di mata kita, di benak orang-orang Indonesia zaman teknologi begini: Karena seorang perempuan. Cuma karena urusan setumpuk kelamin di selangkangan dan sepasang payudara di dada seorang perempuan, kalau kasarnya (Kawan, jika putri ayu Madiun itu seorang bencong, mungkin sejarah akan lain. Percayalah!). Perempuan itu, putri ayu Madiun, menjadi pangkal dari kekecewaan seorang Adipati, yang kemudian membawa perseteruan daerah dan pusat.

Jika sejarah begitu menggelikan, begitu menghibakan hati (karena rebutan setumpuk kelamin) dimana Pati diobrak-abrik oleh serdadu Mataram, pernah terjadi dalam sejarah masa lalu pra-kemerdekaan negara ini, maka percayalah kawan: Rotasi sejarah itu seperti ajal, tak nampak dan tak terasa tapi berputar menjadi bayang-bayang bersama rotasi bumi. Perulangan adalah sunatullah yang tak bisa kau halangi dengan argumentasi sepintar apapun, senasionalis apapun jiwa-ragamu.

Dan itulah yang pernah dan mungkin akan kembali terjadi, ketika daerah-daerah di zamrud khatulistiwa ini sudah mulai merasa gerah diperlakukan tidak adil oleh pusat. Sudah mulai merasa bahwa kata Negara Kesatuan hanyalah eufemisme dari Negara Kepatuhan belaka. Jika pun itu tidak merata di semua daerah, tidak selantang kawasan timur Republik ini yang kemarin – meski dituduh ditunggangi, dimanfaatkan atau apapun – sudah mendeklarasikan Federasi Timur Raya, tapi perasaan seperti apa yang ada di dalam dada dan di dalam tengkorak kepalaku dan kawan-kawan di sini, adalah fakta. Sedikit atau pun banyak dukungannya, tapi tidak bisa kau – pembaca postingan ini – meniadakan percikan kenyataan bahwa ada rasa dikebiri, dizalimi, diperlakukan tidak adil dalam “bingkai” Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Bingkai… demikian kata serdadu-serdadu yang pernah kutemui di sini. Baik dengan cara ramah dan sopan, mengucapkannya dengan cara masih menghargai kami sebagai manusia, sebagai bagian dari Republik Indonesia di saat konflik dulu, atau berbicara sekalian dengan popor dan arogansi mentang-mentang bersenjata, memperlakukanku dan sejumlah kawan-kawan seperti anjing digebuki.

Bulan Oktober di tahun 2009 kemarin, apa yang aku rasakan dan aku pikirkan selama ini, yang sempat terpendam dengan harapan-harapan yang makin hari makin seperti mimpi, seperti ilusi, mencapai perasaan gerah yang terlampiaskan menjelang hari peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober. Harapan bahwa paska Agustus semua akan cerah secerah mentari pagi. Secerah wajah-wajah pelakon drama di layar tipi. Tapi ternyata pudar, sepudar warna baliho-baliho “Damai itu indah” dan “Merajut Perdamaian, Merajut Masa Depan Dalam Bingkai NKRI” yang bertebaran di tanah ini dimana burung merpati yang damai di baliho dan spanduk-spanduk itu sudah pudar putihnya. Komite Keadilan dan Rekonsiliasi Aceh yang pernah kutuliskan di Politikana, tetap saja menjadi angan-angan seperti remaja coli di siang hari.

Ketika di sini wabah chikungunya menyebar seperti sampah, ketika di sini permasalahan-permasalahan daerah, bahkan yang terdengar sepele seperti aliran listrik menjadi terbungkamkan dengan pemberitaan peristiwa yang seolah-olah adalah masalah nasional, masalah dunia akhirat bagi semua propinsi di negeri ini, rasa muakku sampai sudah. Kau, Kawan, yang mungkin tinggal di Jakarta, sangat senang nasibmu – dengan pedih-perih hidup di sana, di kota yang konon lebih kejam dari ibu tiri – karena pemadaman di sana tak butuh waktu lama, media massa dan media elektronika berikut segala media internet nyinyir bukan kepalang. seolah-olah pemadaman di Jakarta adalah musibah nasional, maka pemerintah pun angkat bicara, mengaminkannya sebagai musibah yang layak diketahui segenap rakyat Indonesia. Kau dan pemerintahan ini, yang di pusat sana, bicara soal keadilan. Bicara soal kebobrokan PLN. Bicara soal terzaliminya kalian sebagai pembayar pajak, sebagai pelanggan PLN yang rajin membayar rekening serajin renternir menagih piutang.

Tapi di sini, di Aceh ini, di Sumatra ini, mati lampu sudah macam obat cacing di badan anak cacingan level kronis yang harus ditelan berkali-kali dalam sehari. Bahkan pemadaman itu bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, peduli setan di sini kami juga banyak yang masih rajin membayar rekening, mendatangi kantor pembayaran tiap bulan macam haid menjenguk kaum perempuan di tiap bulan.

Kalimantan, sebagai sampel. Silakan kau tanya pada salah satu manusia di sana, yang menyebut dirinya manusia super. yang tak bisa apa-apa selain melampiaskan geram dengan tulisan dalam menghadapi ketimpangan perlakuan pemerintahan pukimak ini yang sangat tidak seimbang antara pusat dan daerah. Dia, adalah satu dari orang-orang Kalimantan yang muak dengan hebatnya pusat menanggulangi musibah kecil berupa mati lampu di Jakarta, tapi lemah syahwat menanggulangi upacara kematian listrik di daerah, termasuk di Kalimantan yang bertahun menyetor berton-ton batubara ke Pulau Jawa. Kalimantan, yang pernah diulas oleh seseorang bernama Amed dalam sebuah postingan lawas.

Belum lagi pemerataan pembangunan. Tak usah kita bicara yang panjang lebar: Di Aceh saja sampai hari ini kau masih akan menemui rakit. Dan jika kau sudi mencoba untuk touring layaknya pemuda-pemuda tangguh dalam iklan rokok di layar kaca, cobalah lintasan jalan nasional Aceh-Sumatra Utara, maka kau akan mendapatkan jalanan yang kau kira kau sedang masuk ke pelosok yang amat-sangat terpelosok, padahal itu adalah jalan nasional lintas Sumatra.

Tapi itu ‘kan, seperti jalan nasional itu, bukan kesalahan pusat. Daerah dong mesti tanggung jawab.

Oh, tentu saja!

Dulu aku kira juga begitu. Aku percaya penuh ucapan itu. Pemerintahan daerah dari tingkat propinsi (semua propinsi yang ada di Sumatra, misalnya) hingga tingkat kabupaten, bahkan jika perlu sampai tingkat kepala dusun, mesti tanggung jawab dunia akhirat soal semua kemerosotan pembangunan di daerah. Dari urusan ternak lembu sampai urusan jalanan yang bersih dari debu, mereka mesti peduli, mesti benahi.

Tapi itu duluuuu… Duluuu, Kawan!

Dulu, sebelum aku memang benar-benar membaca, menghitung, menganalisa dan memikirkan dengan otakku yang mungkin tak sepintar engkau, bahwa pusat memang tak pernah ikhlas soal pemerataan untuk daerah. Lain di bibir lain di alokasi. Bicara soal pemerataan. Bicara soal otonomi. Bicara soal ekonomi kerakyatan. Bicara soal pembangunan kawasan tertinggal. Tapi semua itu selalu dan selalu menuntut kata setuju dari pusat yang hebat.

Lalu… apa yang kau inginkan dengan memosting tulisan begini, blogger?

Jika itu yang kau tanyakan kepadaku, maka aku menjawab dengan pasti: Federasi.

Kenapa? Untuk apa? Kau setuju Negara Kesatuan Republik Indonesia dipecah-pecah? Para founding fathers sudah susah payah menegakkan negara kesatuan ini dahulu, dan kau enak saja mau sepakat dengan para separatis yang pro-federasi?

Tutup mulutmu!

Jangan ceramahi aku, oh no, please no! Jangan khotbahi kami dengan gincu sejarah menghiasi bibirmu. Sejarah yang kau bicarakan begitu indah di mata, begitu renyah terdengar di telinga. Para bapak bangsa, katamu? Mereka mendirikan negara ini bukan semesti seperti yang kau elu-elukan. Tapi negara yang berdasar pada kesepakatan bersama dari mereka yang hidup di zaman itu dan berdiam di kawasan yang dahulu disebut nusantara. Dan, mereka bukan satu-satunya yang harus kau ingat dan kau berhalakan dalam sejarah. Bicara soal perjuangan kemerdekaan, dari pertempuran Medan Area di Sumatra hingga Puputan Margarana di Pulau Dewata, menunjukkan bahwa bukan cuma the so-called Founding Fathers yang bikin negara ini jadi.

Selain daripada itu, penyebutan Negara Kesatuan sebagai kosa kata untuk membenarkan penolakan pada ide-ide kemandirian daerah, adalah omong kosong dalam sejarah. Dalam Pembukaan UUD 1945, dalam Undang-undang Dasar 1945 bahkan hingga ensiklopedia online bernama Wikipedia yang sering jadi referensi mahabenar di dunia maya, negara ini bernama Republik Indonesia atau The Republic of Indonesia dalam bahasa London. Diulang-ulangnya frasa “negara kesatuan” sudah menjemukan benar rasanya saat dijadikan pembenaran untuk menolak pemerataan. Federasi, Kawan, adalah obat sebelum negara ini cerai-berai diamputasi oleh separatisme yang kau takuti dan kau takut-takuti itu.

Sejak bulan Oktober yang lalu, sejak aku merasa jemu dengan terpuruknya daerah kami, bahkan dalam pemberitaan nasional, aku benar-benar sudah gerah. Memang aku tak bikin gerakan apa-apa. Tapi jika ini dianggap agitasi, provokasi, so let it be. Karena demikianlah yang terpikir olehku: Kalian yang berada di luar ranah pemikiran dan perasaan kecewa seperti kami yang mungkin akan kau sebut tak seberapa dengan patokan hasil pemilu dan pilpres yang lalu, setidaknya jadi tahu bahwa di sini, di luar jangkauan tangan kalian, di luar kesadaran pemerintah pusat yang serakah, ada benih-benih yang – percayalah – cepat atau lambat akan menjadi bumerang yang akan meruntuhkan pondasi berhala negara bernama NKRI ini. Dan opsi tersisa untuk menangkal itu semua, adalah mulai belajar mendengar daerah, mulai belajar memahami daerah-daerah yang mungkin tak akan pernah kau (dan pemerintah pusatmu) datangi seumur hidup.

Setidaknya, aku tahu bahwa aku tidak sendiri, Kawan. Paska bulan Oktober itu, dimana aku jadi bikin sajak busuk seperti tertera di bawah postingan ini, aku menemukan sajak lain yang jauh lebih dulu muncul daripada sajakku. Sajak kekecewaan yang dipajang dalam satu postingan dari blog seorang bocah Ambon yang kurasa akan menampari sesiapa saja yang meremehkan pedih-perihnya perasaan kami, bagian dari Negara (yang katanya) Kesatuan Republik Indonesia ini.

Sajak yang berbunyi begini, Kawan:

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah tumbuh keliru
Ketika itu sebelum empat puluh lima laut adalah punya kita
Dahulu disana Ba’abullah berjaya mengusir penjajah untuk pertama
Seribu ton kopra yang kita kirim ke istana mengapa kini tak punya harga

Tahun-tahun nenek moyang tahun-tahun kejayaan sudah lama hilang
Di pelataran Masjid Sultan kita hanya mampu menghitung kejatuhan
Dengan sorban berlipat-lipat dan zikir diam-diam seolah kenyataan adalah adjab

Dimana itu dendam kesumat yang dulu bikin Portugis pucat muka
yang bikin Pieterson Coen terbirit-bitir lari dari Fort Oranje karena takut binasa
yang bikin Lopez de Mesquita sengsara setelah khianat di benteng Castella
yang kirim cora-cora jaga cengkeh-pala dari hongi tochten hingga Belanda hilang kuasa

Jou eee jangan cuma inga dansa-dansi deng noni Belanda di Ake Santosa
Jangan coba jadi Tarruwese yang tak setia kepada Nukila, nanti jadi binasa
Ini negeri tak sama harganya dengan dua kadera di Senayan sana, O… jangan buang muka
Jangan sampai Saidi, Majira dan Kalumata jadi marah lalu laut jadi merah

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang melupai ibu
Dan tanggal dua puluh delapan oktober itu tak seorangpun kita teken di situ
Tetapi kopra kita kirim jua ketika republik muda belia tak punya apa-apa
Dimana Irian beribukota kalau tidak di bumi Kie Raha, O… Soa-Sio lama terlupa lama terlunta
Lalu dana kopra yang sampai sekarang gudangnya torang bilang Dakomib itu untuk siapa?

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang tak punya ibu
Tahun seribu dua ratus lima puluh tujuh Momole Ciko dari Sampalu sudah pimpin ini negeridengan gelar Baab Mashur Malamo. Jangan lupa itu, kalau berani mengaku anak-cucu
Tetapi sekarang apakah ada yang tercatat di dalam buku, O… Galelano saling baku bunuh
Dari ujung Halmahera sampai ujung Taliabu torang baku tipu demi tungku saling baku dubu

Ya Jou eee…Afa doka kamo-kamo/ Isa mote hoko mote
Ma dodogu ogo uwa/ Tego toma ngawa-ngawa

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang mendurhakai ibu
Maka demi air mata suci Ratu Nukila dan pusara Tabarija di Malaka sana
Mari angkat parang maju ke muka menuntut bela. Anak negeri sudah lama sengsara
Biar Juida Kasiruta jadi saksi lautan darah, amarah menyala, pica-pica
Sudah lama beta angkat bicara tentang tanah yang tak berpusat di Jawa

Dino Umahuk, Ternate, 25 November 2000

Semoga ini jadi renungan bagimu, bagi kau yang selalu mengatas-namakan nasionalisme untuk mengebiri apapun yang kami tuntut, kami inginkan, kami minta dari hak-hak kami untuk tegak sama bahu, duduk sama siku, berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan pulau utama dimana pusat negeri ini begitu pesat disulap dengan pembangunan yang tak sebanding dengan apa yang kami miliki di daerah kami dan tak sepadan dengan apa yang sudah diberikan dalam sejarah oleh daerah-daerah kami bagi republik ini…

Sehingga kau tidak akan menemukan lagi potongan komik yang dimanipulasi dengan kasar seperti di bawah ini, dengan sajak ala kadar menjadi coretan kecewa yang belum pudar-pudar…

Kita adalah pewaris hutan rimba
para leluhur: hari-hari ini.
Lama terlupa
dalam rapat dan sidang
para tua bangka
negara yang tak pernah kenyang

Kita adalah pewaris laut samudera
para leluhur: tahun-tahun ini.
Tenggelam tak dikenang
Dalam berlembar undang-undang
sebusuk limbah pabrik berkubang.

Kita adalah pewaris zamrud khatulistiwa
di bumi Andalas, Borneo, Celebes dan Papua,
yang tak dipandang sebelah mata
dari congkak menegak Monas Jakarta.

Jadi, camkan ini
sekali lagi, sebaris lagi:

Kita adalah pewaris
sejarah dari pulau-pulau luhur
warisan leluhur.
Lama dibius dusta
perihal Sumpah Pemuda dulu kala
yang mencatut kita punya nama.

Maka,
Kukatakan padamu, Kawan:
Jika kesabaran dibelai
bujuk rayuan,
Jika setiap pinta dijawab dusta
Jika setiap tanya
dilakban demi negara kesatuan
maka mulailah sedia kembali siaga
menyulap segala benda jadi senjata
Setiap pena menjadi panah
Setiap tetes tinta menjadi
tetes darah!

{Alex Hidayat, “Kepada Kawan Sehaluan”, Oktober 2009}

Sekian dan terimakasih sudah sudi membaca celoteh ini🙂

24 thoughts on “Masturbasi Federasi

  1. Yeah… yeahh… itu cuma sajak sok-heroik. Gak usah diambil pusing!😆

    Nanti… nanti kalo kekecewaan begini sudah mewabah ke pelosok-pelosok, silakan pusing bersama pemerintah di pusat sana😉

    *bobok, semoga mimpi federasi… *😎

  2. Yah, dan kami makin geram ketika di acara semacam sarasehan blogger sekalipun, yang mestinya sudah berpikir lintas batas, masih harus ada dikotomi pusat dan daerah tersebut…

  3. @ kataki

    [omongkosong]
    Semalam aku mimpi didatangi segerombol pembela sejarah nasionalisme negara ini. Mereka mengaku pernah teken itu Sumpah Serapah Para Pemuda di era 20-an. Dan mereka berfatwa bahwa segala ketek-bengek Sumpah Serapah Para Pemuda itu adalah harga mati layaknya kitab suci. Mengikat 1001 generasi sampai kiamat nanti. Sumpah itu konon berbunyi:

    Kami pemuda-pemudi negara kesatuan abadi
    Bersumpah-serapah berbahasa satu: Bahasa Ya Ndoro Tuan

    Kami pemuda-pemudi negara kesatuan abadi
    Bersumpah-serapah berbangsa satu: Bangsa Ya Ndoro Tuan

    Kami pemuda-pemudi negara kesatuan abadi
    Bersumpah-serapah bertanah air satu: Tanah Air Ndoro Tuan

    Kami pemuda-pemudi negara kesatuan abadi
    Bersumpah-serapah berseragam satu: Seragam manut-miturut pada Ndoro Tuan

    Daaann… oh, Alii… mereka bilang… mereka bilang… mereka akan mempertahankan tiap jengkal tiap senti hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak pusat kekuasaan pulau utama itu untuk menguasai sumber daya alam dan sumber daya manusia daerah-daerah yang macam koloni ini, lengkap dengan khotbah religius: Hizbul wathan minal iman! Mempertahankan negeri dalam bingkai-bingkai retak adalah sebagian dari iman. Adalah kewajiban untuk mempertahankan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak dan hak di sana saja.

    Kewajiban kita cuma patuh karena sejarah masa lalu meminta kita patuh macam orang tak punya otak tak punya hati.

    Mimpi itu mengerikan sekali! Wabah Chikungunya di pesisir Aceh bagian kampungmu kemarin itu, bukan membunuh lalu usai begitu saja. Mayat-mayat yang mampus dibunuh wabah haramjadah itu bangkit dan bertanya, Kenapa mereka dilupakan negara dan rakyat negeri ini karena melodrama segala Cicak, Buaya dan Gurita yang seolah-olah lebih penting dari nyawa mereka sebagai anak bangsa? Mereka bertanya sama seperti pertanyaan Adipati Joyokusumo: Ini kekeluargaan atau penaklukan?

    Aku ngeri…. keringatku menghambur-hambur… Aku mesti bangun dari mimpi… Ooohh… mengerikan sekali… Kita anak negeri ini jangan mengulang pemaafan dan pelupaan sejarah yang pernah dilakukan orang-orang tua kita dahulu… Aku… aku terbangun… dan….
    [/omongkosong]
    😆 Hoax!
    Semalam itu tak sempat mimpi malah. Habis shalat subuh malah tumbang aku tertidur. Bangun-bangun menonton pembeli di toko melamun karena habis liburan anak sekolah minggu ini, maka akan kembali datang biaya hidup, dan kembali dia akan pening gimana nanti kalo anaknya stress karena UAN yang seenak jidat penguasa di pulau Jawa sana dipatok dengan keterbatasan pendidikan di sini?😆

    *seruput kopi di gudang toko*😛

    @ Wiseman Wannabe

    Itu yang kuharap sebenarnya. Dipahami saja sudah menyenangkan🙂

    @ Amd

    acara semacam sarasehan blogger

    :mrgreen:

    yang mestinya sudah berpikir lintas batas,

    Bukannya sudah? Jika gagasan federasi atau otonomi daerah dikritik akan melahirkan raja-raja baru, munculnya blog sebagai media baru yang hebat menggiring opini, sampai bisa pake sama itu brand-brand perusahaan, bukannya sudah memunculkan raja-raja baru pula, yang seenak jidatnya merasa dia itu mewakili aspirasi blogger nasional, peduli setan aku tak pernah memilih paduka-paduka baru di atas kepalaku? 😆

    Yeah right! Nasional! Cium dulu pantatku.

    masih harus ada dikotomi pusat dan daerah tersebut…

    😆

    Kalau memang demikian adanya…😕 Ah ya, justru itu sebab aku mau mengajak blogger2 di daerahku ini, Brader. Itu sebabnya aku bangun komunitas menulis di sini. Jika memang yang merasa di pusat, mengklaim diri berwawasan nasional, selalu menganggap apa yang terjadi di sana adalah di atas segala yang berlaku di sini, melongok Aceh (misalnya) cuma untuk menghujat sengkarut agama semata tapi tidak mau faham kenapa di sini ada ketundukan pada segala aturan yang mengada-ada, biarlah anak-anak daerah menutup mata dari apa di luar lingkar daerahnya dan menuliskan daerahnya saja. Sebusuk, sekapiran, serendah, seamatiran apapun itu adanya🙂 Lalu, jika tidak ada perubahan apa-apa pula, elok menarik diri pula dari segala ketoprak nasional yang seolah-olah kami butuhkan sepanjang hayat itu.

  4. membaca ini seperti membaca neraka yang terbenam dalam tungku api neraka, mungkin skr adalah pertanyaan kapan itu lava2 keluar dan membakar semua ketidak adlan negeri ini…

    ah, pada suatu saat nanti, [mungkin] semua gerakan separatis yang berjuang untuk daerahnya sendiri2 bersatu dari ujung timur sampai barat melakukan gerakan bersama meruntuhkan rezim ‘ndoro’ dan membangun federal2 baru.. *bermimpi*

  5. di Jawa banyak spanduk2 bertuliskan “Jagalah Persatuan”, “Kibarkan Merah Putih dr Sabang – Merauke” dan bla bla bla.. lengkap dgn redaksi yg dibikin gagah dan design yg dipaksakan heroik.

    Bagi kami yg tinggal di Jawa, membaca spanduk2 demikian merasa geli dan seolah2 menganggap pemerintah kehilangan bahan untuk dikomunikasikan dan mendadak mnjadi euforia dgn menulis hal2 macam diatas ketimbang isu2 yg lebih subtantif.

    Tapi saya baru sadar dr seorang teman yg tinggal di Langsa, bahwa spanduk2 macam diatas begitu penting di luar Jawa. Sbg senjata pemerintah untuk mengendurkan hormon2 yg siap ber-masturbasi.

    Tulisan mu smakin mencerahkan saya lex, saya jd tau sedikit gambaran di luar Jawa. Tapi saya munafik dan bohong kalo saya bilang, saya mengerti perasaan yg km rasain. Tp itu bukan berarti aku tak punya simpati dgn kawan2 yg tinggal diluar Jawa. (Itulah kenapa saya bela mati2an Pak JK jd presiden, supaya mitos Presiden hrs orang Jawa, lebih cocok orang Jawa terpatahkan.

    dan akhirnya saya tersindir dgn tulisan km ini lex. Kenapa prioritas selalu Jawa? Jakarta? –> Ya saya senang, tapi kesenangan itu tak lagi indah untuk dinikmati ketika mendapati kawan dr Ambon kesusahan mendapatkan album musisi reggae lokal.

  6. Saya pernah kerja di pedalaman Kalimantan. Listrik di mess kami harus disupply oleh genset padahal Total E&P sudah siap untuk membangun pembangkit mini untuk radius sekitar 20 km tetapi ditolak oleh Pemda. Entah itu atas petunjuk dari Pusat atau bukan.

    Memang banyak kepentingan politis yang bermain. Dulu Dahlan Iskan sempat mau membuat pembangkit listrik di Kalimantan. Ditolak. Dan sekarang dia menjadi direktur PLN. Akankah pembangkit di Kalimantan terwujud? Kita tunggu saja apa maunya dia.

    Oiya soal negara konfederasi itu. Atau untuk gampangnya saya sebut negara serikat. Untuk saat ini saya kurang setuju dengan konsep itu, karena negara kita masih melarat. Bagaimana mau membentuk misalnya lembaga atau polisi negara bagian, sedangkan untuk membantu rakyat yang kena musibah saja sudah tidak mampu. Perlu dipertimbangkan kemampuan propinsi yang melarat.

    Tetapi intinya, para penyumbang RAPBN terbesar (Aceh, Riau, Belitung, Kalimantan, Maluku dan Irian) juga harus kebagian porsi terbesar juga, walaupun pola pemerataan kesejahteraan yang digunakan pasti akan tetap cut-and-fill. Yang ketinggian dipangkas untuk menimbun yang kekurangan. Masalahnya banyak pelacur jabatan yang duduk di Jakarta dan mengeruk keuntungan pribadi. Itu yang jadi masalah besar negeri ini.

  7. Kalau tak salah dari dulu suara-suara daerah menghendaki sistem seperti ini, tapi pemerintah tetap bergeming dan hanya bisa ngasih kebijakan otonomi daerah yang itu pun masih setengah-setengah. Saya ngerti sih dengan pemerintah kita. Kalo sistem federasi benar-benar terealisasi, tar Jawa dapat apa?😀

    Wah, gawat.. Pulau Jawa dan Jakarta yang tak punya apa-apa dengan pejabat korup di dalamnya bisa ambruk dalam beberapa tahun kalo konsep federasi ini benar-benar diterapkan.

    Seorang kawan pernah menyindir bahwa umur dan istri membuat laki-laki jadi oportunis dan cuma mikirin duit. Sepertinya dari komen saya diatas yang tak berempati sama sekali dengan penderitaanmu ini membuat sindiran itu menemui pembenarannya, hikz. Ga papa deh, yang penting komen..😛

  8. Kucari kau kesana..
    Kucari kau ke sini..
    Ke ujung duniapun tak peduli..:)

    Hek that bak kumita kah..

    Apakabar ibumu, sudah baikan…?
    Kenapa emailku tak kau balas…?

    Saleum..

  9. @ almascatie

    membaca ini seperti membaca neraka yang terbenam dalam tungku api neraka,

    Bara dalam sekam, kalau sederhananya, Brader. Dan makin hari di sini makin ramai juga yang menunduk geram begitu😀

    mungkin skr adalah pertanyaan kapan itu lava2 keluar dan membakar semua ketidak adlan negeri ini…

    2012? Ada prediksi akar rumput kelas warung kopi, yang tidak akan kau temui di layar televisi, bahwa jika pemerintahan ala USSR begini dipertahankan, maka kepasrahan pada pasar bebas yang tidak mau diakui dengan jujur oleh pemerintahan sekarang ini, dalam kurun waktu lima tahun akan menjadi seperti perestroika dan glasnost yang bikin Kremlin pasrah kena bumerang sendiri: kehilangan koloni-koloninya.

    ah, pada suatu saat nanti, [mungkin] semua gerakan separatis yang berjuang untuk daerahnya sendiri2 bersatu dari ujung timur sampai barat melakukan gerakan bersama meruntuhkan rezim ‘ndoro’ dan membangun federal2 baru.. *bermimpi*

    Kau tahu, bahwa mimpi macam ini akan dicengiri dengan ejekan bahwa runtuhnya yang satu akan bangkit yang lain. Seperti efek dari pemekaran wilayah dengan otsus yang memang pada kenyataannya melahirkan Raja-raja kecil – meski tidak semua sebrengsek itu – di daerah-daerah. Namun…. why so serious? Bukannya kemerdekaan republik ini juga melahirkan raja baru paska 1945? Lihatlah Soekarno, yang persis seperti Raja-raja Jawa zaman dahulu kala: Menyulap istana, pesta pora, denting gelas, setelan kinclong, bertongkat komando sama seperti Raja bertongkat kerajaan, dan.. mengumpulkan perempuan untuk diperistri banyak-banyak sehingga istana tak ubahnya harem?

    Memang akan selalu begitu: Lahir seorang besar dan mampus seratus ribu di bawah kaki mereka. Tapi setidaknya, akan ada jeda sejenak dari ketimpangan begini. Bukankah untuk tujuan yang sama ini mereka yang disebut pejuang kemerdekaan enggan bertekuk lutut di bawah Belanda? Padahal konon lebih enak di bawah Kumpeni Belanda daripada di bawah Kenpetai Jepang. Kenapa? Karena mimpi begini… sayangnya, para fanatikus nasionalisme tidak memahami, bahwa mimpi begini pada hari ini, adalah mimpi yang sama yang pernah dipejamkan dengan harapan di balik bantal mereka yang disebut Founding Fathers itu.

    Seriously, Brader: Federasi itu cuma opsi yang tersedia untuk saat ini. Apapunlah namanya nanti, asal basis pijakannya jelas, undang-undang dan peraturannya jelas🙂

    @ Adhigama

    di Jawa banyak spanduk2 bertuliskan “Jagalah Persatuan”, “Kibarkan Merah Putih dr Sabang – Merauke” dan bla bla bla.. lengkap dgn redaksi yg dibikin gagah dan design yg dipaksakan heroik.

    Di sini sudah bertahun berkibar dan tegak yang serupa itu. Bahkan di zaman konflik, tak boleh codet sedikit pun. Mungkin jika ada sepasang merpati bercumbu di atas baliho begitu dan lalu buang hajat di sana, maka sepasang burung merpati itu sah ditembak, karena telah berlaku subversif😆

    Bagi kami yg tinggal di Jawa, membaca spanduk2 demikian merasa geli dan seolah2 menganggap pemerintah kehilangan bahan untuk dikomunikasikan dan mendadak mnjadi euforia dgn menulis hal2 macam diatas ketimbang isu2 yg lebih subtantif.

    :mrgreen:

    Idem. Di sini juga sama… Jika postingan ini adalah masturbasi untuk sebentuk federasi, maka spanduk-spanduk demikian lebih vulgar lagi: Sebentuk onani telanjang tentang betapa gagah-perkasanya senjata bernama Persatuan dan Kesatuan itu untuk di-blowjob oleh penduduk di sini, demi kenikmatan segelintir saja di pusat sana😀

    Tapi saya baru sadar dr seorang teman yg tinggal di Langsa, bahwa spanduk2 macam diatas begitu penting di luar Jawa. Sbg senjata pemerintah untuk mengendurkan hormon2 yg siap ber-masturbasi.

    Senjata itu memang😆
    Hormon-hormon adrenalin orang didaerah dikendurkan, gairah berahi untuk berselingkuh dengan opsi lain ditawar dengan pajangan vulgar demikian😀

    Tulisan mu smakin mencerahkan saya lex, saya jd tau sedikit gambaran di luar Jawa.

    Tulisanku ini tentu tidak mewakili semua daerah di luar Jawa. Bahkan tidak juga di daerahku sendiri. Apalagi jika kau bertanya pada anggota keluargaku yang sudah takluk pada Demokrat yang berjaya memenangkan pemilu dan pilpres itu. Tapi… ya beginilah, opini ini menyebar kembali di kalangan orang-orang muda di sini. Mereka kecewa, sangat kecewa. Bahkan untuk urusan listrik, pemerintahan ini masih seperti era Pancaran Sinar Petromaks: benar-benar cuma bisa menyalakan petromaks di sini. Dan lilin, tentu saja😀

    Tapi saya munafik dan bohong kalo saya bilang, saya mengerti perasaan yg km rasain.

    Tidak juga. Ada banyak kawan-kawan di sana, yang bisa mengerti kondisi di sini. Kita tidak harus disetrika seperti Nirmala, TKW asal Nusa Tenggara, di negeri jiran, hanya untuk mengerti bahwa dia kesakitan😀

    Tp itu bukan berarti aku tak punya simpati dgn kawan2 yg tinggal diluar Jawa. (Itulah kenapa saya bela mati2an Pak JK jd presiden, supaya mitos Presiden hrs orang Jawa, lebih cocok orang Jawa terpatahkan.

    Aku juga dulunya mendukung JK, meski tak terlibat dalam tim sukses apapun di sini. Cuma mendakwahkan saja sebuah tantangan yang memang agak-agak tak enak untuk diucapkan: “Kalau memang di negara ini semua orang diakui setara, mari lihat: apa negara ini memang perpanjangan Majapahit yang sudah ber-Sumpah Palapa membuat semua tunduk di bawah kakinya, atau memang negara ini cukup demokratis untuk menerima orang yang lahir dan besar di luar Pulau Jawa untuk jadi pemimpin negara.”

    Dakwah itu keliru, tentu saja, jika cuma disikapi sebatas pikiran Jawa – non-Jawa semata, tanpa mempertimbangkan kapasitas seseorang. Tapi, Bro, keluargaku keluarga pedagang, dan aku memaklumi bahwa yang dibutuhkan oleh rakyat NKRI di daerah adalah orang (daerah) yang mengerti perekonomian daerah, bukan jargon-jargon stabilitas ekonomi nasional belaka. Karena pada kenyataannya, Jawa dan Non-Jawa di Pulau Jawa sendiri banyak yang men-support JK saat itu. Wiranto sendiri jelas bukan orang Bugis. Kau benar, mitos itu mestinya orang Jawa sendiri yang patahkan. Karena, sejarah sudah mengajarkan bahwa di daerah, seperti Aceh ini misalnya, perasaan “dikangkangi oleh Jawa melulu” itu efeknya terpendam dan akan jadi blunder bagi orang Jawa sendiri.

    Periode 2000-2003, aku melihat sendiri gejala begini, Bro. Pengusiran transmigran Jawa yang tidak salah apa-apa, ancaman terhadap mereka, sehingga mereka mesti melego hartanya murah-meriah agar lekas-lekas minggat demi selembar nyawa di badannya, badan anak dan istrinya: Itu efek dari perasaan subjektif yang tertanam bertahun-tahun. Tidak semua orang akan cukup waras jika sudah berkenaan dengan urusan perut. Di terminal kota kecilku ini, rasa-rasa mau nangis aku lihat anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak suku Jawa berjubel macam ikan teri di peti mati, di bak truk, korban pengusiran OTK yang anti-Jawa secara membabi-buta dari kawasan Aceh Selatan sana.

    Dan gejala yang sama akan kau jumpai di Sumatra, terutama di kawasan transmigrasi. Meski mereka, orang-orang Jawa yang cuma mencoba mencari kehidupan yang layak, yang – seperti orang Tionghoa – pasrah dicap non-pribumi itu, tidak salah apa-apa dengan dosa para bandit-bandit pemerintahan di pusat sana.

    dan akhirnya saya tersindir dgn tulisan km ini lex. Kenapa prioritas selalu Jawa? Jakarta? –> Ya saya senang, tapi kesenangan itu tak lagi indah untuk dinikmati ketika mendapati kawan dr Ambon kesusahan mendapatkan album musisi reggae lokal.

    Demikianlah😐

    Aku bahkan kesulitan koneksi GPRS (GPRS! Bukan 3G!😆 ) untuk menjawab komen-komen ini😀

    @ Lambang 212°

    Saya pernah kerja di pedalaman Kalimantan. Listrik di mess kami harus disupply oleh genset padahal Total E&P sudah siap untuk membangun pembangkit mini untuk radius sekitar 20 km tetapi ditolak oleh Pemda. Entah itu atas petunjuk dari Pusat atau bukan.

    Petunjuk mungkin tidak, Mas/Pak. Tapi restu… hehehe… bukannya ini “Kekeluargaan” yang dimaksudkan itu, dimana daerah jadi anak-anak yang “uang jajan”-nya dikontrol dan mau apapun mesti sungkem minta restu dahulu? Aceh sampai hari ini masih harus menghamba pada PLTA Sumatra Utara punya.😀

    Memang banyak kepentingan politis yang bermain. Dulu Dahlan Iskan sempat mau membuat pembangkit listrik di Kalimantan. Ditolak. Dan sekarang dia menjadi direktur PLN. Akankah pembangkit di Kalimantan terwujud? Kita tunggu saja apa maunya dia.

    Kita tunggu saja. Jika tidak: Maka dia akan menuai cacian sendiri dari apa yang sudah diucapkannya, terutama dari orang Kalimantan😀

    Oiya soal negara konfederasi itu. Atau untuk gampangnya saya sebut negara serikat. Untuk saat ini saya kurang setuju dengan konsep itu, karena negara kita masih melarat.

    Ah, ini alasan yang paling sering aku dapati. Terutama dari orang pemerintah.

    Pertanyaanku sederhana: Apa standarnya negara melarat? Jika negara ini melarat, maka tak akan ada impor mobil Royal Saloon yang bikin istana negara seperti showroom mobil mewah itu. Jika ada aspirasi begini dari daerah, buru-buru patokannya diambil angka kemiskinan rakyat yang saat Pemilu dan Pilpres ganti-berganti disulap. Yang incumbent bilang bahwa angka kemiskinan teratasi, yang mau “kudeta” bilang angka kemiskinan sudah keterlaluan.

    Pendapatan per kapita, tidak bisa pula dijadikan tolok ukur untuk hal ini. Melaratnya negara plus rakyatnya (kesampingkan dulu pemerintahan yang selalu berlagak kaya-raya itu), tidak bisa dijadikan standar untuk mengukur kemampuan daerah. Karena di satu sisi, daerah-daerah bahkan yang tidak terlalu kaya sumber daya alamnya, memiliki sumber pendanaan tersendiri, jika tidak diwajibkan setor upeti dengan bagi hasil yang tidak seimbang. Pengelolaan kekayaan negara selama ini, persis seperti sistem bagi hasil yang diajarkan dalam ekonomi syariah yang seharusnya adil, tapi malah jadinya timpang. Daerah yang ngos-ngosan yang dipermak megah cuma kota-kota di lingkaran pusat ibukota semata.

    Bagaimana mau membentuk misalnya lembaga atau polisi negara bagian, sedangkan untuk membantu rakyat yang kena musibah saja sudah tidak mampu. Perlu dipertimbangkan kemampuan propinsi yang melarat.

    Ini tentu butuh waktu. Masturbasi Federasi begini, tidak seperti masturbasi dalam seksologi, beberapa kali rangsangan langsung muncrat dalam hitungan tak sampai sejam. Tahapan kesana, bisa mencontoh format Wilayatul Hisbah di Aceh meski aku sering tidak cocok dengan polisi moral-religius begini) dimana secara bertahap alokasi APBD akan diarahkan untuk mendanai operasional mereka. Atau dengan pola darurat, seperti saat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang terbirit-birit kesana-kemari di zaman revolusi😀

    Soal membantu rakyat yang kena musibah, sungguh Mas/Pak, itu bukan soal tidak mampunya daerah. Dusta itu. Tapi lebih pada ketidakmampuan personal, dan tidak ada kontrol dari lapisan masyarakat sendiri untuk hal itu. Misal, aku saksi mata petaka di Banda Aceh 2004 itu, dimana banyak pejabat pemda terbirit-birit mengasingkan diri ke Medan, ke Jakarta, dengan menggunakan uang daerah. Ini rahasia publik yang menyakitkan. Masyarakat, rakyat, pada akhirnya selalu ditinggalkan sendirian untuk survive sendirian. Dan selalu akan ada yang pemimpin-pemimpin baru yang akan lahir dari kondisi begini, yang mungkin cuma temporer (tapi itu jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali), untuk menstabilkan kemampuan daerah. Pilkada Aceh itu adalah refleksi dari berpalingnya rakyat dari orang-orang lama yang ditawarkan kembali oleh pemerintahan incumbent, kepada orang-orang baru. Karena rakyatnya sadar, daerah-daerah, dari kabupaten sampai provinsi, punya dana terpendam di perut bumi, namun yang mereka butuhkan adalah payung bernama pemerintahan dan perundangan-undangan yang berpihak pada pengelolaan yang akan dapat dinikmati bersama di sini🙂

    Sedangkan propinsi yang melarat…? Propinsi mana yang paling melarat di negeri ini? Tidak ada, Mas/Pak. Jika propinsi yang tidak terlalu kaya sumber daya alamnya, ada. Bali, misalnya. Tapi mereka hidup dari sektor pariwisata yang tidak dimiliki oleh Kalimantan Barat. Propinsi yang dimelaratkan, mungkin ada. Tapi melarat nian, tidak. Tentu saja itu sependek yang aku tahu🙂

    Tetapi intinya, para penyumbang RAPBN terbesar (Aceh, Riau, Belitung, Kalimantan, Maluku dan Irian) juga harus kebagian porsi terbesar juga, walaupun pola pemerataan kesejahteraan yang digunakan pasti akan tetap cut-and-fill. Yang ketinggian dipangkas untuk menimbun yang kekurangan.

    Metode cut-and-fill ini yang selalu dan selalu menipu daerah, Mas/Pak. Sejak zaman Orla, Orba sampai yang disebut Orde Reformasi ini, itu adalah persis lagu Tinggi Gunung Seribu Janji yang dibawakan Broery Pesolima. Propinsi-propinsi yang Mas/Pak sebut di atas itu, agaknya bukan propinsi dengan tipikal serakah yang merasa Tuhan cuma akan memberi kekayaan alam itu untuk mereka saja. Sejarah mencatat keikhlasan hati Kalimantan menyetor batu bara ke Pulau Jawa dengan harapan dibagi adil sebagai keluarga besar Indonesia. Sejarah mencatat kerelaan orang-orang Maluku, dengan harapan yang sama, menyetor kopra ke istana. Sejarah juga mencatat helaan napas ikhlas mereka yang punya hutan luas di Riau untuk merelakan menghirup asap hutan yang terbakar demi pesatnya pembangunan di tanah yang mungkin tak akan pernah mereka pijak (sementara mereka sendiri mesti ikhlas dituding sebagai sumber kesialan yang mempermalukan Indonesia di mata dunia dengan mengekspor asap ke negara lain).

    RUU Pemerintahan Aceh, dan janji untuk membagi 20% dana migas untuk pendidikan di sini, pada kenyataan dikebiri oleh pusat sendiri, Mas/Pak. Karena otonomi khusus adalah eufemisme dari “kutipu kau!”. Jika ada masalah di Aceh, yang salah mutlak pasti Pemda NAD, tapi bahwa simpang-siurnya keikhlasan pusat untuk mengalokasikan dana itu, jarang dipertimbangkan (Aku sendiri acap memaki Pemda NAD ini dalam sisi lain, tapi kita mesti objektif melihat bahwa mereka juga dibikin impoten oleh pengebirian semacam ini). Dan itu semua, karena negara ini mengadopsi sistem pemerintahan ala USSR yang sudah runtuh itu. Peraturannya terlalu fleksibel dan multitafsir, yang anehnya cuma boleh dimulti-tafsirkan oleh Jakarta saja.😀

    Bagaimana dengan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, misalnya? Secara retorika sudah. Tapi restu untuk bikin itu kawasan mesti menunggu lama dan lama, sehingga pernah mencuat isu sekitar Mei 2009 tentang akan hilangnya status tersebut, yang pernah dijadikan senjata membujuk rakyat Aceh saat konflik dulu. Lagu lama dari orang tua yang bakhil, Mas/Pak, dimana kalau anak sudah berhenti menangis, tarik lagi apa yang sudah diberikan😀

    Masalahnya banyak pelacur jabatan yang duduk di Jakarta dan mengeruk keuntungan pribadi. Itu yang jadi masalah besar negeri ini.

    😆

    Amen to that.

    Aku, dengan postingan ini, cuma mau bilang ke sesiapa yang kukenal, jangan karena disana – di Pulau Jawa umumnya dan Jakarta khususnya – nyaman dengan lampu-lampu kerlap-kerlip dan etalase khas metropolitan, lalu secara tidak langsung keluarga besar Republik Indonesia di sana menjadi sama nyamannya dengan mereka yang mengeruk keuntungan pribadi dari upeti setoran daerah. Sikap seperti itu, cepat atau lambat akan bikin daerah-daerah membenarkan ucapan si idiot DN Aidit: Jawa adalah kunci. Kunci kotak pandora untuk membuka segala kengerian masa depan pada porak-porandanya negara yang sudah menumbalkan nyawa bukan cuma mereka yang mati di pembuatan jalan Anyer-Panarukan, tapi juga Cot Plieng Aceh Utara, di Pangkalan Berandan Sumatra Utara, di Tanah Merah Papua, dan pelosok Kalimantan. Sesederhana (atau semegah?) itu harapan postingan ini, Mas/Pak.😀

    @ qzink666

    Kalau tak salah dari dulu suara-suara daerah menghendaki sistem seperti ini,

    Ya.
    PRRI, misalnya, adalah sejarah yang tak dijamin tidak akan berulang, Bro😀

    tapi pemerintah tetap bergeming dan hanya bisa ngasih kebijakan otonomi daerah yang itu pun masih setengah-setengah.

    Setengah?😆

    Bukannya malah dikurangi sampai nyaris 1/4?😛

    Ada anekdot di Aceh ini: Kenapa orang Aceh menari Seudati tak pakai gendang kulit sapi? Karena sapi-sapi di sini tiap tahun disetor ke Jakarta, bersama daerah lain di Sumatra, dengan harapan untuk berbagi, dan dijanjikan akan dapat bagian sama-rasa-sama-rata macam jargon komunis. Lalu dalam perjalanan sapi-sapi yang sudah disembelih itu, dipotong setengah untuk Jakarta dan sekitarnya, yang setengahnya lagi, sejak pelabuhan Merak-Bakauheni, defisit sedikit demi sedikit. Sampai di Tapanuli, mereka cuma dapat kulit yang lumayan dijadikan keripik. Sampai ke Aceh cuma talam kosong tak berisi. Maka menarilah orang Aceh sambil menepuk-nepuk dada menabahkan hati. Jadilah itu: Tari Seudati😆

    Saya ngerti sih dengan pemerintah kita. Kalo sistem federasi benar-benar terealisasi, tar Jawa dapat apa?😀

    :mrgreen:

    Wah, gawat.. Pulau Jawa dan Jakarta yang tak punya apa-apa dengan pejabat korup di dalamnya bisa ambruk dalam beberapa tahun kalo konsep federasi ini benar-benar diterapkan.

    Kan ada pabrik-pabrik dengan buruh murah-meriah🙄

    Seorang kawan pernah menyindir bahwa umur dan istri membuat laki-laki jadi oportunis dan cuma mikirin duit. Sepertinya dari komen saya diatas yang tak berempati sama sekali dengan penderitaanmu ini membuat sindiran itu menemui pembenarannya, hikz. Ga papa deh, yang penting komen..😛

    Kawanmu itu dalam hidupnya juga agaknya sering goyah di segitiga garis demarkasi idealis, pragmatis dan oportunis😡

    @ musafir

    Kucari kau kesana..
    Kucari kau ke sini..
    Ke ujung duniapun tak peduli..:)

    Hek that bak kumita kah..

    Apakabar ibumu, sudah baikan…?
    Kenapa emailku tak kau balas…?

    Saleum..

    😯

    Wah, maaflah, Bang… benar-benar lama menghilang aku dari blogsfer sebagai blogger tak seberapamana ini😀

    Ibu sudah baikan, Bang. Sudah lebih sehat, alhamdulillah.

    Soal email, ada niat untuk membalas saat itu. Ada banyak hal yang mau kuceritakan soal tanah kelahiran kita ini. Ada kegelisahan setelah kami, orang-orang muda seangkatan mencoba melacur dalam parlok, keok karena masih hijau dan tak punya apa-apa untuk memebeli suara. Ada banyak yang tertunda untuk kutuliskan di email itu, dan akhirnya cuma jadi draft, yang mungkin akan kulampiaskan jadi catatan di sini, Bang. Meski satu-satu datang dan pergi dari sini, kampung kita ini masih menyajikan banyak cerita😀

  10. Tulisan ini adalah serbuah pernyataan politik yang waras. Tulisan yang sama sekali tidak subversif buat saya; karena memang adil dan masuk akal. Tapi dengan dilarangnya beberapa buku yang dianggap mengancam keutuhan dan kesatuan NKRI [padahal buku-buku itu hanya ingin menunjukkan bahwa dalam kesatuan ini adalah luka, ada mereka yang defisit keadilan] oleh kejaksaan dan depkumham, maka keluhan dikau yang waras ini hingga saat ini bakalan dianggap subversif, Lex. Sayang sekali memang. Blogosfer dan fesbukfer baru bisa menyelamatkan seorang Ibu Rumah Tangga, Lex. Dengan segala tagline Nasionalisme Pesta Blogger selama ini, dan substansi persoalannya yang sangat pelik, butuh waktu untuk mimpi federasimu mewujud. Mungkin kalau dikau seorang ibu rumah tangga, atau nenek-nenek yang dizalimi, yang mudah mengundang simpati bloger yang merasa pahlawan, kasusnya akan berbeda.😀

  11. butuh waktu untuk mimpi federasimu mewujud.

    Ada cara untuk mempercepat. Kata John Lennon, kasihlah gula/madu, niscaya semakin banyak orang yang mengamini.😀

  12. @ Gentole

    Melarang buku-buku dan tulisan seperti Kejaksaan dan Depkumham itu, menandakan kepanikan orang yang biasa mengandalkan otot daripada otak. Argumen dalam bentuk huruf dilawan dengan kebijakan mentang2 punya kuasa. Kalau memang pintar dan benar, kenapa mesti panik?😛

    @ lambrtz

    Disetujui:mrgreen:
    Jangan lupa oleskan gincu yang manis dalam membuai dan membual soal akan lebih surgawinya kehidupan nanti😆

  13. Saya jadi ingat SMS-mu waktu itu bang;

    sori, Ris… mati lampu. indonesia, biasa…

    Oke, saya di sini mungkin tak lebih tahu bagaimana beban batin masyarakat-masyarakat daerah yang jauh dari pusat dan fasilitasnya, tapi sedikit banyak saya pun bisa merasakan geram tak terkira jika kita dikhianati oleh (pemimpin) bangsa sendiri.

    Kata guru bahasa Inggris saya, fa man lam yarzuq, lam ya’rif, siapa yang belum pernah merasakan, tidak akan memahami. Maka saya tak akan banyak beropini. Tidak salah mereka yang menuntut pembentukan federasi sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap ketidakpedulian pusat, karena mereka telah merasakan sendiri kesal dan pahitnya hidup di kolong langit Indonesia ini.

    Teruskan perjuanganmu, Bang. Sori, ane cuma bisa nyumbang bantuan lewat sepucuk do’a.

  14. @ ManusiaSuper

    Idem. Aku bukan tak cinta dengan negara ini. Apapun cerita, sedari kecil awak sudah ditanamkan juga rasa cinta pada gugus kepulauan khatulistiwa ini. Dari kecil pula aku sudah diberikan karya-karya dari khazanah sastra kebanggaan negara ini (entah pemerintahnya, aku tak tahu apa bangga atau tidak), seumpama Amir Hamzah, JE Tetangkeng, Sanusi Pane dan Chairil Anwar hingga Sitor Situmorang dan Pramoedya Ananta Toer yang terbuang ke pulau terpencil.

    Tapi negara ini, atau tepatnya pemerintahan negara ini, Dil, bahkan tidak berbangga dengan anak-anak bangsanya sendiri. Tidak beriba hati sikit pun. Sitor mengasing di negeri orang, dan Pram bertahun mendekam nyaris busuk di pulau penjara. Nama mereka disebut oleh para petinggi cuma dalam seremoni belaka. Tak beda dengan Nirmala, pahlawan devisa asal Nusa Tenggara yang melepuh kulitnya disiksa majikan di negeri jiran, tapi cuma jadi lipsync semata, dibanding euforia pantat Manohara.

    Saat aku ke Malaysia, aku juga mengaku orang Indonesia, bahkan meski pada nyatanya di sana memang ada sikap meremehkan: Indon? dan lebih menghargai orang Aceh (maaf jika ini terdengar pahit) daripada orang Indonesia. Mereka tak mau tahu. Coba singgah ke bandara sana dan bilang kau dari Indonesia, lain perlakuannya dibanding kau mengaku kau orang Melayu, Tapanuli, Deli atau Aceh. Tapi aku tetap mengaku: From Indonesia meski menghadapi muka sinis.

    Karena aku sayang kalau negara ini bubar dan kita masing-masing bikin bendera untuk kelak dibubarkan lagi, maka aku mendukung format ulang negara ini menjadi federasi. Kita tetap berbendera satu, berlambang negara satu, dan segala yang disumpahkan para pemuda di tahun 1928 itu boleh kita pegang kembali. Kenapa mesti ditahan dengan kata sakti “dalam bingkai…” yang menjemukan dan memaksakan kehendak dari pusat semata?

    Jika begini perlakuan, tidakkah aku akhirnya berpikir ulang, bahwa ucapan John F. Kennedy tidak cocok di sini: Jangan tanya apa yang diberikan negara padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan pada negara? Hell yeah! Aku punya NPWP berangka 25.427.517.5-xxx.xxx yang bisa dicek di Dirjen Pajak kabupaten, membayar tagihan telpon dan tagihan rekening listrik tepat waktu, bahkan kalau defisit itu uang pecahan ribuan PLN sini, mereka boleh tukar itu uang ke lapak dagang keluargaku. Mereka boleh hutang jika perlu. Tapi lihat apa yang aku dapat?! Apa yang kampungku dapatkan?

    Bertahun ibu-ibu kampung di daerah sekitar bukit kabupatenku di sana mengelus dada karena kayu-kayu suami mereka disita aparatur negara dengan alasan ilegal logging, sementara cukong-cukong dari Jakarta enak bawa bertruk-truk untuk diekspor dan dipoles halus jadi ukiran Jepara. Tak ada tanam ulang, tak ada reboisasi, tak ada penghijauan. Omong kosong semua yang diberikan. Cuma anak pramuka setahun sekali macam seremoni petinggi negeri, bikin gerakan tanam-tanam serupa itu.

    Di sini ada ramai pengangguran yang menganggur karena ladang-ladang pekerjaan dipersempit dengan standardisasi lulusan pendidikan yang tinggi tapi mutu terpuruk. Di sini ada anak-anak daerah yang sekolahnya, macam sekolah ibuku mengajar, ketinggalan zaman dibanding Jakarta, tapi dipaksa mesti ikut pada kurikulum tengik berbasis kompetensi, wajib kuasai komputer meski mereka bersandal jepit dan bahkan pegang kalkulator tak becus, bahkan meski sekolah itu – sekali lagi: seperti sekolah tempat ibuku mengajar! – cukup kenal komputer dari papan tulis bergambar saja, untuk UAN demi ambisi pemerintah ini untuk lekas-lekas tinggal landas, peduli setan anak-anak sekolah di daerah harapannya kandas.

    *geram*

    Akhirnya aku memutuskan: Aku tak cinta dengan bingkai yang dipoles retorika persatuan dan kesatuan ini… aku lebih mencintai kampung halamanku, mencintai tanah darimana saripati bapak dan ibuku bikin aku jadi ada di bumi ini.

    @ frozen

    Kesal dan kekecewaan di kolong langit manapun akan ada, Ris. Seperti halnya kemiskinan, ada di sepanjang zaman dan di sepanjang daratan yang pernah dihinggapi manusia yang eksodus kian-kemari macam virus. Tapi, tidak ada kesal dan kecewa yang lebih menyakitkan daripada kesal seperti orang kampung yang tak bisa memetik manisnya pisang ambon di pekarangannya sendiri, karena Pak Lurah yang menjunjung persatuan dan kesatuan Desa mewajibkan itu pisang di setor ke RT/RW-nya untuk kemudian dihabiskan di lingkungan Pak Lurah saja. Atau macam ayam yang berkotek nyaris putus asa karena mati kelaparan di lumbung berasnya sendiri… Tak ada yang lebih sakit daripada kau tak bisa menikmati apa yang menjadi hakmu.

    Maka, jika ada yang berargumen, kelaparan ada juga di kota-kota di sana, kemiskinan ada juga di sana: Pengemis tidak menanam padi di aspal, dan pekerja harian di sana tidak punya hutan warisan leluhur yang bisa dibuka untuk huma seperti adat di sini yang memberi manfaat hutan dan tanah ulayat dengan sistem mukim dan instansi adat yang dikebiri, dipotong zakarnya oleh UU No. 5 Tahun 1979 dan HPH yang menjadi surat keramat dagangan pemerintah pada cukong-cukong besar dari luar sana. Ini lebih busuk dari sistem zaman kompeni Belanda yang lebih mengakui peranan adat mukim dan gampong di Aceh dengan pengesahan Ind. Stbl. 1906 nomor 83 De Inlandscbe Gemeente Ordonnatie (tanyakan pada kawan2 yang pernah kuliah di fakultas hukum juga soal ini) yang mengakui sembilan asas hukum pemerintahan gampong. Ada sedikit baik di zaman Orla dengan diakuinya peranan gampong (kampung) dan mukim (satu mukim itu terdiri dari beberapa kampung) soal lima hak istimewa: pelaksanaan peradilan, adat, syariah, pembangunan dan pemerintahan. Tapi sejak 1966 hingga sekarang… hehehe… Ris, postingan ini tidak akan hadir jika saja bukan karena UU Pemerintahan Aceh Nomor 11 Tahun 2006 yang diberi setengah hati itu. Apa namanya sikap demikian? Keadilan sialan bagi seluruh rakyat Indonesia? Atau Neo-VOC?😀

  15. bingung sebenarnya mau komentar apa lex …

    di satu sisi, miris melihat negara ini terpecah belah … sedangkan sekedar rasa simpatiku saja tentu sangat tidak cukup …
    di sisi lainnya, capek juga rasanya memaki penguasa negeri ini …

  16. @ watonist

    Memang membingungkan, Mas.

    Aku sendiri bukan tak ada sikap ambigu dalam diri sendiri. Aku masih mencintai Merah-Putih. Mencintai negara ini, yang sudah dicokokkan ke dalam hati sejak masih kecil, sejak masih dengan girang hati mengenakan blangkon dan celana nggantung untuk ikut karnaval 17 Agustus-an demi meniru sosok Raden Mas Said a.k.a Sunan Kalijaga yang dikagumi seorang bocah Aceh di sini. Aku juga masih marah kalau mendengar para WNI yang sudah mapan di negeri asing meremehkan Republik Indonesia, bahkan meskipun itu sanak kerabat atau kawanku sendiri. Bertahun di bawah bendera Merah Putih, belasan kali didaulat menjadi pemimpin upacara bendera sejak SD hingga SMA, bertubi-tubi dicerahkan dengan Wawasan Nusantara, mungkin itu sebabnya aku masih cinta negeri ini. Aku masih mendengar lagu nostalgia dari serial A.C.I: Aku Cinta Indonesia, dari masa kecil dulu. Mungkin ini salah satu faktor2 kenapa aku berseberangan dengan kawan dan saudara yang saat konflik memilih ingin merdeka total dengan masuk menjadi anggota GAM.

    Tapi terkadang, Mas, ada saatnya kita ikhlas mengenyampingkan apa yang kita cintai bertahun-tahun dari bagian tubuh, untuk digips, untuk diobati, sebelum nanti diamputasi. Dan federasi itu boleh dianggap istilah saja, karena yang kupikir mesti diutamakan di sini, adalah asas proporsionalitas terhadap pemerataan hak-hak di daerah. Jangan mentang-mentang Pulau Jawa itu pusat negara, lalu cuma di sana yang dipedulikan, kota-kota disulap megah, dan sedikit kasus listrik lalu jadi mahapenting dibanding daerah. Kami sakit hati di sini…

    Memang capek, Mas, memaki penguasa di negeri ini. Mulut berdosa dan hati merana. Dulu kupikir sudahlah, berhentilah menulis dan mencarut-maruti. Tapi… daripada aku sinting karena kecewa dengan perlakuan pada tanah kelahiranku sendiri, dengan segala hormat, aku mencoba mengizinkan diri sendiri untuk sesekali menumpahkan kekesalan begini. Kata orang, kekecewaan paling besar itu lahir dari rasa cinta paling besar. Dan mungkin aku begitu terhadap negara ini …

    Jika pun masturbasi federasi begini tak jadi, setidaknya ke depan ini benarlah ada aturan-aturan yang jelas dan tegas memihak. Bukankah dengan sistem bikameral selama ini pun sebenarnya sudah menjurus ke sana, dengan adanya DPRD dan DPD? Sayangnya, suara DPD masih seperti tikus kejepit selama ini😕

  17. ok, akhirnya selesai baca, baru nyadar kalau ini adalah blog yang pernah direkomendasikan sang Teteh🙂 trus apalagi yang harus dibaca, supaya saya dan semua yang sekarang masih ‘tidur’ bisa nyadar apa yang sedang terjadi, dan mengerti apa yang harus dilakukan.

  18. @ Guh

    Biasakan membaca berita-berita daerah. Meski desain webnya masih jelek dan kapiran, koran-koran lokal seperti di sini juga sudah merambah internet.

    Cari blog-blog daerah juga, jangan dari blogger-blogger terhormat yang sudah sepuh saja. Mereka tidak hidup di daerah, tapi merasa sudah makan asam-garam kehidupan karena punya pustaka agaknya.

    Sorry, agak sinis untuk soal ini. Karena memang sakit, Guh. Sesakit kau kalau rumahmu diobrak-abrik atau dibom demi mencari “penjahat” dalam kacamata negara.

  19. @Alex,
    Blogger terhormat sekarang juga sudah mulai terlalu komersil dan jarang mengajarkan perbaikan.

    Sebenarnya saya berharap semacam arahan, berupa beberapa directlink, sekedar semacam “pertolongan pertama”, apa saja yang perlu dibaca biar tertampar dan terkejut bangun beneran. Nanti kalau sudah cukup melek juga orang bakal mikir dan gerak mencari sendiri (kalau bukan malah pasrah putus asa). Maklum, disini tidur kami nyenyak dan nyamaaaaan sekali *narik selimut*.

  20. Oh, tentu saja adsense… dan popularitas bukan cuma bisa didapat di Indonesian Idol. Ya. Menjadi terhormat dan menjadi seleb-seleb yang merasa dirinya mewakili seantero Indonesia dengan menjadi sesepuh dalam Kenduri Blogger. Old media dan new media katanya dulu? Yeah, right!

    Arahan? Direct link? Seperti wahyu dalam agama? Bukannya kebebasan itu ada untuk mencari, seperti segala debatan agama yang menjadi masturbasi opini muka bumi? Jika Google bisa diobok-obok untuk mencari isu soal agama, apa sulitnya mencari isu soal daerah? Atau itu terlalu sensitif bagi pemuja berhala persatuan dan kesatuan negara di pulau utama, eh? Lagian… macam mana kau akan percaya arahan dari orang yang belum pernah kau temui?

    Pertolongan pertama untuk negaramu ini adalah mulai peduli pada bagian-bagian di luar jantung kekuasaan, atau nanti bagusnya diamputasi. Dan kalau memang sudah diamputasi, para nasionalis yang selalu mengagungkan jargon NKRI bisa menerima kenyataan setelah bangun dari tidurnya. Jika tidak, mereka boleh panggang itu Garuda Pencaksilat untuk dikunyah di sana. Kami tidak butuh jargon-jargon persatuan dan kesatuan dari orang yang sudah nyaman di sana untuk dikunyah di sini.

    Selamat tidur.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s