Warna Waktu

Kemarin itu seorang umat Nietzsche, memberikan pencerahan seperti Übermensch bersabda dalam Thus Spoke Zarathustra, dengan ucapan, “Naga-naganya ada yang mulai malas apdet blog nih. 😀 “ via pesan yang menclok di inbox ponsel. Dan itu cukup mencerahkanku, agar bersegera berbuat kebajikan kepada blog ini dengan mengisi tabungan amal berupa postingan meski cuma recehan.

Dan inilah postingan itu… sebuah rekayasa kacangan dari seorang amatiran yang memang tidak berbakat sama-sekali dalam urusan seni gambar, lukisan, manipulasi visual atau apalah lagi sebutan sejenis itu. Namun ketiga gambar di atas itulah hasil kreasi tak seberapamana dalam keisengan semalam sambil menjenguk simpanan berkas di tahun kemarin.

Gambar itu bersumber dari sebuah potret pemberian seorang gadis kampung yang jelas manis bak mempelam diperam tak etis jika kupajangkan di sini wajah beliau tanpa seizinnya. Satu potret dari lebaran puasa yang lalu, ketika beliau pulang kampung ke Aceh ini, saat mendatangi sebuah kawasan yang tak jauh dari kotanya. Dekat saja, tuturnya hari itu.

Tapi dari batas kotanya, di kabupaten yang bertetangga dengan kabupatenku itu, seperti inilah kondisi jalan di sana bertahun-tahun. Jika mentari terik dan angin kelewat bersahabat, bahu-membahu dua jenis kreasi semesta itu menghirupkan debu ke warga yang wara-wiri berlalu-lalang di sana. Jalan yang menuju ke pelosok desa yang – kata Si Nona – rumah-rumahnya berpapan kayu, dengan kertas koran menambal-nambal dinding meniru kertas dinding pabrikan. Cuma bedanya, kertas para dhuafa itu kertas pabrik berita yang dimuliakan dengan sebutan media massa, dimana isinya bisa lengkap dari berita anjing mati digilas sepeda sampai orang tewas digilas kereta api. Namun kreatifitas orang-orang tak mampu, bikin kertas berisi berita itu jadi serbaguna: Bisa jadi layangan anak-anak  miskin yang tak mampu beli kertas minyak, jadi pembungkus pisang goreng emak-emak di emperan simpang pasar. Bisa pula dijadikan perahu kertas untuk mereka yang tak mampu beli mainan boat canggih berbatu baterai. Dan jika anda cukup melarat untuk beli kipas angin atau malah AC, anda bisa pakai kertas koran – terutama di bagian berita-berita mudharat – untuk kipas-kipas keringat di udara panas.

Jadi, semalam keisenganku tiba, dan itu potret kupermak ala kadarnya dengan perangkat lunak ala kadar pula: Adobe Photoshop 7.0!

Hari ‘gini pakai Adobe Photoshop 7.0?!

Ya. Demikianlah adanya. Perangkat lunak yang cukup lawas, bukan? Hampir semua perangkat lunak yang kumiliki – baik halal atau haram – sudah melayang ke alam barzah bersama satu partisi yang hilang kena format dua hari yang lalu. Dan itulah salah satu yang tersisa untuk saat ini, dan untuk memanipulasi gambar itu sekedar saja, yang bahkan bisa dilakukan dengan menggunakan Microsoft Office Picture Manager saja, jika cuma mau menghadirkan warna sepia.

Dengan perangkat lunak lawas itu pun tak rumit benar caranya. Cukuplah dengan membuka tab “Image”, lalu memilih “Adjustments” dan lalu ambil “Desaturate”, diulangi langkah-langkah ini sekali lagi, lalu pilih “Variations”, lalu “More Yellow” sekali dan “More Red” sekali, klik OK dan jadi barangnya. Sesederhana itu.

Ada trik lain tentu saja. Tapi postingan ini bukan untuk menjelaskan trik-trik yang aku sendiri tak lebih menghapalnya dibanding anda, Pembaca.

Aku cuma merasa … aneh sendiri … Hanya dengan permainan efek warna, dan tiba-tiba waktu terasa sudah berjalan lama. Setiap gambar dengan warna-warna yang hakikatnya berkategori sepia itu, rasa-rasa berbeda pula kesan waktu yang dihadirkannya, ditipukannya ke mata. Yang satu berselisih citarasa dengan yang lain, meski ujungnya akan tetap sama pula: Serasa sudah lama saja lebaran puasa itu berlalu 😕

Ah ya, hidup memang relatif. Kata Einstein, relativitas waktu itu kira-kira seperti seseorang duduk di atas bara api. Sekejap rasanya lama. Seperti seseorang berjumpa siapa yang dirindu, maka waktu yang lama rasa sebentar saja. Tapi, rupa-rupanya bukan bara api dan urusan percintaan saja bikin waktu jadi relatif: Warna pun begitu pula kiranya 😕

Untunglah Tuhan tak bikin dunia cuma punya satu warna saja…

Iklan

4 thoughts on “Warna Waktu

  1. sayah tau itu perempuan yang kasih gambar ini…. namanya itu kan…. *ah sudahlah, tak etis awak buka2 disini, nanti disangka tak mengerti pulak perasaan kaum wanita seprti kalian2 ini*
    =))

  2. Jalannya bagus, Lex.. Tapi nampaknya akan lebih bagus jika jalan itu di aspal sahaja seperti di pulau Jawa sini… 😛

    *sulut sumbu*

  3. @ musafir

    Pertamax? 😆

    Ah ya…. cuma postingan iseng saja ini, Bang. Cerita umum yang mungkin ada di semua daerah 😀

    @ Almas

    Bah! Infotainment! 😆

    @ pusink666kelilink

    😆

    Tadi sempat liat berita soal akan dibangun jalan Tol Sumedang. Nyaris mencarut-marut lagi. Tapi…. yaa… di pelosok Jawa juga ada kalau yang model begini ini jalannya. Akan lebih bagus tentunya kalau diaspal …. 😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s