2:26

Suara-Mu mengiang di telingaku.
Mengingatkan segala hal bertaut Ajal.
Kenapa sayup-sayup terasa lambat
segala merambat di malam jum’at?

Jikalau dulu kuhabis-habis pikir
tentu kutolak hidup macam ‘gini.
Antara darah, matahari dan rembulan
yang sikit merah, tak ‘kan kuhadir
meracuni bumi.

Jadi pagi nanti kicau murai tiada akan berderai.
Dan pada dia yang jauh di pulau
Tak mendapat tentu tak bercerai

Tapi begini jadi hidup itu:
Melingkar di kisaran asbak berasap
nikotin kuresap dan kuhisap
Hirupan kopi dan seteguk ilusi.
Oh, nyawa tersendat direguk waktu
Bisu sejenak, suara ngaji jauh berlalu.
Membawa berlayar ribuan mimpi
untuk hidup kembali di esok hari.

Aku jemu dan Kau tahu itu.
Jadi kembara tanpa sejarah.
Terus berjalan dan duka menengadah.
Menadah genggam satu perempuan
dan lincah dia mengelak manja dari dekapan.

Adakah jauh masih layaran ini? Kau
yang bikin ini semua jadi,
pada siapa lagi aku izin bertanya?
Daun yang gugur di kebun belakang,
yang meranggas ditumpas waktu ganas?
Hujan yang di luar turun deras?
Atau embun yang merapuhkan
kupunya jendela, kupunya jiwa?

Atau jawaban cuma beberapa meter kain kafan
dan sekian diameter liang kuburan,
dimana leluhurku bisu di situ?

Lalu siapa punya rindu meringis,
dalam kehilangan bikin menangis?

Selama ini, Kau tahu pasti, bulan sudah bikin malam
kami punya jadi pualam.
Di ranjang kami bergelut
dengan senda dan cerita
macam kali penghabisan, seakan
di pagi Ajal siap menjagal.

Tapi lihatlah, Kau Di Sana, betapa
cinta jingga luntur menua
dalam tempo tiada lama.
Irama sudah melemah dan kami punya degup
sudah meredup.

Aku bukan Si Bocah lagi
yang bimbang menggamit teman
punya lengan untuk sejalanan.
Karena kami punya usia
bikin semua kelereng, layang-layang dan perahu kertas
sepeda mini mendering dan dia – gadis kecil – tertawa
gemerincing
kini setunduk bunga matahari dibunuh terik mentari.

Maka aku tolak ikut merunduk. Bukan gelegar
khotbah mengggelegak bikin aku tegak.
Segala rayu para biduan di mimbar penghakiman
dan kata merajam ahli agama kulewatkan
kabur menjauh jadi pelarian.

Aku menolak penghidupan demikian.
Dan Kau tahu itu sejak zaman permulaan.

Di hidupku segala ada jadi tiada
Segala tiada kureka ada.
Yang diam kubawa bergerak
Yang bungkam kubawa berteriak.
Duniaku berkisar antara duka dan suka.
Kupunya jiwa lepas merdeka.
Meski tiada kebebasan dari beban Sisifus
yang bikin perulangan setengah mampus.

Jadi berilah aku tempat di kamar sendiri.
Dimana Kau bagiku jadi pribadi.
Tiada lagi memaling muka dan memuja hampa
Dan di luar ini semua ada rela-Mu
aku berbagi cinta, seikhlas-Mu menyerah
dosa pada Adam dan Hawa.
Di luar ini kamar, aku masih boleh mencari
suara gadis menyanyi lagu sendiri.
Mendengar dan melihat senja di rambutnya
jadi lukisan warna
tentang para kelasi yang lupa dermaga.

Ah, di hati terkelam di malam ada doa.
Sudah terlampau puncak malam meninggi
Dan ini sajak menurun ke tahapan datar
Jadi akan kuusaikan begini saja:

Aku tahu pasti, bahagia tak mesti tiba
di akhir cerita.
Tapi aku menolak segala iming-iming sorga
yang tak pernah memberi jawab pada tanya: Siapa punya suara
akan mengajuk manja? Adakah nona manis di sana
tertawa minta dansa?

Kini lengang sudah. Gelas penuh terkosongkan.
Rokok panjang terpendekkan. Malam kujajah
dan dunia kubalikkan. Tiada ampun pada dosa.
Tiada lambai bersayonara.

Angkasa terasa sepi. Dan sisa suara-Mu jadi berita di laut tenang.
Nahkoda mengaji soal pulau yang penghabisan.
Penuh takjub jiwa bertanya: Benar sorgakah di sana
atau neraka?

Aku mengenali tiap kata tiap makna
bersisa. Dalam jiwa-ragaku saja tapinya.
Dan bagi yang baca sajakku dalam tatap cinta
di mata mereka, semoga Ajal sedia menangguh lama.
Serta segala anemia, migrain, dan insomnia
tidak jadi kutukan serupa pula.

Wahai, udara malam yang segar,
Mimpi akan mendustaiku sesaat lagi…!

Blangpidie, 15 Januari 2010