Jaring-jaring Kematian

Seekor Capung Terperangkap Maut

Tadi pagi, ketika hendak mengambil wudhu ke kamar mandi, aku melihat seekor capung terperangkap jaring laba-laba di sudut kamar mandiku (yang menjadi bilik rahasia bermenung diri sebagai bagian dari kamarku sendiri).

Adegan itu cukup mengharukan adanya. Bukan saja itu mengingatkanku bahwa sudah lama aku tak membersihkan jaring laba-laba di dalam kamarku (yang sudah seperti sarang rahasia Spider-Man purnawirawan), tapi juga menyentak rasa kagum pada siklus hidup yang bikin seekor capung tak berdaya diperangkap oleh jaring laba-laba, dengan tiga ekor laba-laba mengepungnya seperti tiga malaikat maut hendak memagut. Bergerak-gerak panik sayapnya mengepak seperti hendak lekas-lekas terbang menjauh dari bayang-bayang ajal yang siap menerkam. Mungkin pula ada berpeluh mengucur di sekujur tubuh. Dan di dekatnya, seorang anak muda seperti jadi saksi sekaligus hakim yang bisa memutuskan apakah dia akan dibantu lolos dari ancaman eksekusi kematian, atau mengetukkan palu persetujuan: Biarkan capung itu mati di jaring maut tersebut.

Entah dorongan apa dalam diriku sendiri, aku mengambil ponsel yang kupunya, dan menjepretnya begitu saja. Lalu ambil wudhu, dan terlupa. Lupa pada capung itu, lupa pada tiga laba-laba yang siap mengeroyok (tapi cuma satu terekam di dalam gambar itu) dan lupa pada bayang-bayang kematian yang melingkar di seputar adegan tersebut.

Namun, mendekati waktu shalat jum’at ini, aku teringat kembali pada rasa dosa dan rasa aneh dalam diriku sendiri. Rasa berdosa karena tak melepaskan capung itu tadi pagi, dan rasa aneh betapa aku merasa bahwa ada sebuah nyawa yang terserah di dalam tanganku di pagi tadi.

Mungkin kau juga pernah begini, Kawan. Melihat seekor binatang – atau bahkan manusia – terancam kematian, namun diam dan melupakannya. Bahkan kau sempat pula beberapa saat menikmatinya sebagai sebuah adegan kehidupan, dimana celah ajal dan hidup berganti-ganti meneriakkan penerimaan. Tuhan, sesekali waktu memberi kita kesempatan untuk menjadi orang yang punya kuasa pada nyawa kehidupan, entah kita sadar atau tidak.

Dan di waktu aku menulis postingan ini, itu capung sudah tak ada lagi di kamar mandiku. Entah sudah mati atau berjaya merdeka melepaskan diri….

6 thoughts on “Jaring-jaring Kematian

  1. Tindakanmu sudah benar, bro. Kalau kau menolong sang capung itu artinya kau merenggut jatah makan pagi 3 ekor laba-laba sekaligus yang susah payah menyulam jebakan hanya sekedar untuk bertahan hidup. Capungnya aja yang goblok, punya sayap kok malah nyelonongnya ke kamar mandi..:mrgreen:

  2. 😆

    Dari sudut pandang 3 ekor laba-laba tersebut, sabdamu itu benar belaka. Masalahnya aku tidak bertindak apa-apa tadi pagi itu. Atau… diam dan lupa itu sebuah tindakan pula? Sebuah kata kerja bukan?:mrgreen:

    Jika diaplikasikan dalam kehidupan manusia, maka nurani – entah barang apa pula ini wujudnya – mesti dimatikan. Di sini dulu pernah ada juga jaring-jaring kematian serupa ditebar, tapi pelakunya manusia, dan korbannya juga manusia. Banyak juga yang diam, tak tahu dan tak mau tahu saat itu. Yaaa… mungkin agar ratusan ekor laba-laba yang datang merajut jaring merah kematian begitu bisa makan dan kasih makan anak bini😕

  3. Haha… jejaring sosial. Itu bukannya juga sebuah perangkap, agar laba-laba yang merajut teknologi semisal facebook dan sejenisnya bisa makan?:mrgreen:

    Ah ya, berkunjung? Haha… silakan… silakan…

    *suguhkan timphan di talam*😎

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s