Mari Jenguk Aceh Dengan Kacamata Kuda

Peta Aceh, seperti berpaling dari pusat, bukan? πŸ˜›

Kemarin itu, Siwi, seorang sahabat sesama blogger dari Jawa Timur, mengirimkan pertanyaan via sms tentang Aceh. Khususnya tentang isu tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh anggota Wilayatul Hisbah yang rupa-rupanya sudah mengundang keprihatinan begitu luas, terutama di kalangan para netter yang cerdas dan sangat lekas kepedulian sosialnya. Bayangkanlah betapa dahsyatnya dunia internet ini, bahkan aku dan sejumlah kawan-kawan di sini tidak lebih lekas tahu isu sehebat itu dibanding mereka yang bermil-mil jauhnya dari tanah kelahiran kami ini.

Maka aku, sesuai dengan saran dari sahabat baik tersebut, membuka browser dan mencari ikhwal berita tersebut dengan bertanya kepada salah satu dukun dunia maya paling tersohor di jagat raya: Ki Gugel Masa Bodo. Jibril-nya dunia maya yang masa bodoh apakah kau akan bertanya soal dimana pendidikan moral atau soal dimana bisa mendonwload bokep terbaru (yang bisa pula dilakoni sambil sekalian ngomong soal moralitas tentunya).

Dan isu tersebut memang terpampang dimana-mana. Isu yang disesalkan sudah (kali kesekian) mencoreng citra Wilayatul Hisbah yang mulia itu.

*Memang, Kawan,Β  bukan cuma keledai yang sukses jatuh berkali-kali di lubang yang serupa tapi tak sama* πŸ˜†

Ini sangat mengejutkan, menakjubkan, sekaligus… mengecewakan…

Kecewa?

Ya. Kecewa. Dan itu ucapan yang sama yang kusampaikan kepada sahabat dari Jawa Timur tersebut.

Meski aku benci dengan tindak pemerkosaan yang dilakukan anggota-anggota WH dalam berita tersebut, meski aku sendiri tidak memiliki persetujuan dengan adanya institusi polisi moralitas demikian bahkan dengan syariatisasi kebablasan yang seenak tafsiran sekelompok pihak saja, meski aku sendiri bahkan pernah juga berbenturan dengan beberapa oknumnya (terakhir terjadi lebih dari setahun lalu, bersama kawan-kawan sampai memecahkan botol soda karena naik pitam dengan arogansi petugas di lapangan), dan meski aku mencarut-marut pula dengan nasib gadis yang diperkosa oleh tiga bedebah berseragam Wilayatul Hisbah itu (dan bagiku mereka bukan cuma layak dirajam tapi malahan dipotong biji zakarnya), tapi aku tak menolak satu perasaan lain dalam diriku sendiri: B O S A N.

Aku merasa bosan ketika membaca dan mendengar hingar-bingar kepedulian kepada Aceh – terutama dari luar tanah kelahiranku ini – cuma dan cuma soal isu agama belaka. Seakan-akan di sini agama – dengan hukum syariat yang diterapkan – adalah sebuah marabahaya yang patut diwaspadai, sebuah petaka bagi kerukunan negara kesatuan dan persatuan Republik Indonesia. Seakan-akan Aceh, yang mayoritas muslim, yang sejak dulu dikenal fanatik beragama, adalah sebuah bahaya laten yang patut disikapi dengan aksi kepedulian sedemikian rupa.

Oh, bukan main pedulinya sanak saudara dan handai taulan di dunia maya, di luar sana, ketika di sini isu agama mencuat, ketika di Aceh Barat perempuan dilarang dengan gegabahnya oleh Sang Adipati untuk bercelana jins dan gegabah pula beliau mengorder beribu rok dari satu perusahaan garmen di Jakarta dengan dana daerah (yang semestinya industri kecil bidang jahit-menjahit di Aceh lebih pantas diberi orderan demikian), ketika Putri Indonesia dari Aceh dikritik, diprotes atau bahkan dihujat orang Aceh (dan ramai-ramai dibela dari luar sana), ketika barongsai dilarang dan ketika seorang perempuan diperkosa aparat Wilayatul Hisbah; semua peduli dan membuka mata melihat Aceh.

Ya. Semua menjenguk Aceh dengan kepedulian yang massif… hanya ketika isu agama yang dianut mayoritas penduduk tanah anyir darah ini merebak sebagai sebuah isu yang meresahkan ribuan jiwa rakyat Indonesia yang memegang teguh sila ke 2: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Tapi dan tapi… dimana anda, Kawan-kawan, ketika di sini wabah chikungunya sudah berkategori KLB – Kejadian Luar Biasa – di tahun lalu, dengan ratusan tumbang menjadi mayat? Seperti iklan lawas Isuzu Panther: “Wuzz…wuzz… wuzz… nyaris tak terdengar…”, tenggelam dalam berita dan isu yang seakan-akan nasional, yang seakan-akan lebih penting dunia-akhirat.

Tapi dan tapi… dimana anda, Kawan-kawan, ketika Kawan-kawan seperti di Beujroh mengulangi nada kecewa yang sama seperti siaran pers Kontras untuk meneriakkan hak-hak perempuan Aceh yang pernah dan masih trauma dengan perkosaan yang dilakukan aparat keamanan negara kesatuan Republik Indonesia, bahkan pernah dilakukan terhadap perempuan yang pulang tarawih? Ada diantaramu yang berani menyebut itu perkosaan Pancasila sebagaimana kau menyebut kasus teranyar ini dengan perkosaan syariat? Omong kosong!

Tapi dan tapi… dimana anda, Kawan-kawan, ketika di sini pertanyaan terhadap perlakuan biadab bagi mereka yang naas menjadi istri, menjadi anak, menjadi kekasih dari para kombatan dulu dilakukan atas nama stabilitas nasionalisme yang kau berhalakan setengah mati, masih menggema minta keadilan?

Tapi dan tapi.. dimana anda, Kawan-kawan, ketika di sini institusi negara yang pegang senjata begitu rajin mencaplok tanah ulayat, tanah adat dan tanah yang menjadi hak warisan rakyat Aceh?

Karena semua isu itu sensitif bagi rasa nasionalisme-mu? Karena semua isu itu di bawah tapak kaki kuasa Jakarta? Karena permintaan untuk menegakkan KKR Aceh agar jadi pelajaran sejarah bagi bangsa dan negara ini, bukan hal penting? Atau karena itu bukan isu agama yang bisa membuat kau konak untuk masturbasi pula soal kebebasan, demokrasi, dan hak asasi?

Bukalah matamu: Jika di sini akhirnya sedikit demi sedikit mata penduduk kami beralih kepada syariat, jika di sini agama akhirnya menjadi pelarian harapan untuk dipegang erat, bahkan meski ada aturan-aturan yang tanpa ba-bi-bu dengan rakyat diterapkan macam orang melampiaskan dendam kesumat, semua itu karena demokrasi dan segala ketek-bengek yang kau junjung tinggi dalam republik ini sudah terdengar basi. Sudah menjemukan ketika yang muncul hanya dakwah-dakwah pembebasan dan kebebasan beragama, bermoralitas, dengan sengkarut argumen basi tentang bagaimana menyamankan posisi dalam bingkai NKRI.

Bukalah matamu: Pangkal semua keapatisan untuk berpasrah diri di tanah ini adalah sebab kemiskinan dan kebodohan masih menjadi virus yang dipelihara, bahkan oleh pemerintah pusat yang menelikung semua hak-hak yang seharusnya daerah ini layak dapatkan. Bagaimana kau akan berharap agar disini bisa cerdas mengkritisi aturan yang diterapkan ke ribuan insan di kolong langit Aceh, ketika pendidikan di sini, di level kecamatan, di desa, di kampung, begitu memprihatinkan dengan alokasi dana tak seberapamana tapi dipaksa untuk ikut standar UN yang cuma pantas di Jawa saja?

Bukalah matamu: Kecewa yang sama di tanah ini adalah sama seperti tanah Papua, yang membuat umat dua agama yang mayoritas di dua nusa itu berpaling kepada agama masing-masing untuk disyariatkan menggantikan hukum dan perundang-undangan yang tak pernah memihak pada mereka punya hak. Aceh dengan syariat Islam dan Papua dengan keinginan menegakkan hukum Kristen, sama-sama merasa berhak untuk berpaling pada opsi agama ketika Demokrasi Pancasila sering khianat pada harapan dua umat di pinggiran Indonesia.

Dan kau, Kawan-kawan, cuma menyorot soal agama semata? Semua pasal sengkarut serupa itu berpunca dari rasa tidak adil, harapan yang patah, dan apatisme yang mewabah pada apa yang kalian agung-agungkan dalam bingkai negara ini.

Belajarlah lebih peka pada daerah, mendengar dan membaca Aceh ini lebih dari sekedar urusan agama semata. Agama adalah hak-hak individu yang berkelompok untuk diterapkan, untuk ditegakkan dengan mufakat. Jika tidak, mungkin memang sudah selayaknya saja kita sama-sama membuka lapak dan berkoak,

“Mari… mari… jenguklah Aceh cuma dan cuma tentang syahwat dan syariat! Soal di sini berpaling taat pada syariat karena pemerintahan ber-Pancasila khianat pada amanat. karena kemiskinan dan pemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, dan karena segala wabah segala musibah yang laris bikin mayat bukan isu hebat level pusat, itu bukan urusan nasional kita! Mari.. mari… teruslah kita jadi monyet berpicing mata bertutup telinga jika sudah sensitif dengan kekuasaan pusat, Sobat! Jangan pedulikan putus-asa Aceh dari demokrasi tengik republik kita. Mari… mari… statuskan, tweetkan, postingkan urusan syahwat di Aceh saja. Sekali update dapat traffic, dua kali update dapat BH, tiga kali update dapat kacamata kuda khusus fobia agama. Yak! Yang jauh mari mendekat, yang dekat mari merapat, yang rapat mari menghujat! Hiduplah Indonesia raya… Merdeka!”

*sakit kencing*

Iklan

12 thoughts on “Mari Jenguk Aceh Dengan Kacamata Kuda

  1. Agama cuma alat propaganda, Masbro! Dan Aceh dengan segala kemewahan dan kekayaan alam bertuahnya itu adalah rahmat dari Alam.

    Soal bagaimana melihat Aceh dari mana, saya lebih suka melihat Aceh dari segi sejarah, dan bagi saya yang masih sangat awam dan newbie dalam hal sejarah Aceh, boleh saya katakan, kalau Negara yang Konon katanya Kesatuan Itu, adalah hasil ‘rampasan perang’ yang didapat dengan banyak sekali tipu muslihat di dalamnya, saudaraku!

  2. Agama cuma alat propaganda, Masbro!

    Agama itu pisau, tergantung pada siapa dan bagaimana dia akan digunakan. Dalam hal ini, ideologi dan sistem negara, dan segala ketek-bengek demokrasi pun adalah propaganda juga. Padahal semuanya sama, semua bisa jadi topeng di muka bumi ini, termasuk blog ini sendiri (boleh jadi aku malah lebih nasionalis daripada tulisan yang sok-sok anarkis wal idealis begini).

    Hanya saja, adalah menjijikkan sekali sikap ambilaven dalam kasus Aceh selama ini. Kau boleh lihat: Ramai-ramai berkomentar, bahkan memposting atau update status soal Aceh – selama ini – jika dan hanya jika itu berbau agama semata, berkenaan dengan urusan syariat wal syahwat belaka. Lama-lama kutengok, ini tak ubahnya negasi dari orang-orang yang sama sibuknya jika bicara soal aurat, soal demokrasi, soal khilafah Islamiyah sebagai the only solution. Jadi setali tiga kutang, sebenang tiga sempak saja itu. Seperti halnya para ahli agama yang jilat2 pantat penguasa, (yang dalam Islam dikenal dengan ulama su’, ulama korup), bukannya perangai begini sama saja? Pemberhalaan pada perasaan sebagai WNI yang macam umat satu agama, sehingga ramai yang enggan mengusik-ngusik, mempertanyakan. Kalau soal agama bisa diributkan karena tak ada malaikat turun menendang pantat, lain soal utk perkara seperti ketidak-adilan negara selama ini πŸ˜€

    Dan Aceh dengan segala kemewahan dan kekayaan alam bertuahnya itu adalah rahmat dari Alam.

    Ya. Silakan melihat Aceh dari sudut manapun. Tapi jangan ambivalen, jangan berkacamata kuda, hanya menjenguk jika dan jika berkenaan dengan soal agama saja πŸ™‚

    Btw, Ini… siapa ya? πŸ˜€

    *menduga-duga* πŸ˜•

  3. Tapi dan tapi.. dimana anda, Kawan-kawan

    Saya di sini kawan, sedang sibuk nyari tambahan modal agar tak kalah bersaing dengan kios tetangga yang menjual barangnya semurah kacang goreng. πŸ˜€

    Gara-gara Siwi salah nanya orang, jadi deh semua orang Jawa kena semprot..

    Udah, bro mending kendorin urat saraf dan stel lagunya Bob Marley..

    Forget your sorrow and dance..
    Forget your sickness and dance..

    *nggaktahumestikomenapa*

  4. di Aceh sanah, agama yang jadi sorotan, di sini Kekerasan yang jadi sorotan, teman2 dari wartawan pun hanya sekedar agar beritanya masuk headline terpaksa kadang membesar-besarkan masalah, perkelahian kecil saat masuk berita sudah seperti kerusuhan masal yang sudah mengancam kehidupan ranah maluku. lucu dan sangat lucu karna kadang2 bahkan orang yang rumahnya berada dilokasi kejadian pun tak tau ada kerusuhan…

    kita-kita diluar lingkaran ini selain harus bersaing untuk mendapat jatah dari negara apa mesti bersaing untuk mencari perhatian mereka??

  5. @ qzink666

    πŸ˜†

    Bersabarlah, Bro… efek pasar bebas memang begitu. Bukan kau sendiri yang kenak. Kawan dan kerabat di Medan juga kenak soal yang sama denganmu. Kran impor selancar urine orang kebanyakan minum air kulkas di hari hujan πŸ˜€

    Gara-gara Siwi salah nanya orang, jadi deh semua orang Jawa kena semprot..

    πŸ˜†

    Benarnya ini bukan soal Siwi, dan bukan soal orang Jawa. Itu gerakan di Facebook yang hingar-bingar menuntut tanggung-jawab WH seperti hingar-bingar kemarin itu soal pro-kontra Putri Indonesia, juga ramainya orang Aceh yang juga tidak semua ada di sini.

    Benar. Perkara 3 bedebah itu harusnya dihukum dengan dipotong kantong menyannya keras, itu wajib dituntut. Jika kejadian itu menimpa perempuan dalam keluargaku, atau bahkan keluarganya teman, di sini boleh jadi parang akan diasah tajam jika penyelesaiannya tidak adil dan terkesan cuci-tangan.

    Namun di sini, di postingan ini, aku bertanya dan …. merasa bosan sudah: Kenapa ramai yang menjenguk Aceh “hanya” untuk meributkan soal isu agama semata, selangkangan, jilbab, aurat, rajam, syariat…?

    Padahal di sini masalah utama tidak melulu sebatas pusar dan biji zakar semata. JIka demikian hingar-bingar para netter (karena aku menulis ini di internet, dan isu ini juga kulihat ramai di internet), apa bedanya mereka – yang kusebut Kawan-kawan – dengan gerombolan sapi yang suka ngamuk di bulan ramadhan? Apa bedanya dengan para penjual kecap agama dan iming-iming sorga untuk memukuli siapa saja yang berbeda? Sama. Yang satu pro dan yang satu kontra di isu-isu agama, tapi intinya tetap itu-itu saja: Sama-sama ribut jika sudah berurusan dengan syahwat-aurat-syariat.

    Where are they when we need ’em to stand by our side? Where? Di pustaka? Di depan monitor membacot soal pesta-pora sekaligus kopdar-kopdar blogger? Reportase wisata kuliner? Berbuih-berbusa membahas sengketa amfibi-amfibi bermerek Buaya, Cicak dan Gurita, sementara di sini orang-orang jadi mayat kena wabah chikungunya dan media massa hebat-hebat di sana mendominasi berita tentang Century, Prita, KPK, dan segala hal yang bahkan tak lebih penting dari obat-obatan? Apa lagi beda persekutuan blogger, facebooker, para manusia twitter dan para netter dengan selebriti dan pelakon talkshow di layar televisi? Kemana bacot penuh simpati dahulu kala tentang old media dan new media, jika sama-sama riuh berkicau dalam polemik yang sama pula?

    Baiklah jika itu disebut hak, kebebasan bersikap dan berekpsresi. Tapi aku yang hidup di sini juga berhak mensinisi perangai begitu rupa hari ini. Menjenguk Aceh, mencari kabar tentang Aceh, hanya di sekitar isu-isu bau agama saja. Kalau kasar-kasar kubilang: Macam ada fobia saja pada tanah Aceh. Ada celah sikit saja untuk mengeritiki Aceh yang sedang trial-and-error dengan perjudian syariat, berbondong-bondong kita menggonggong.

    Jika dan jika terus begitu, elok tutup mata saja dari Aceh. Karena sama perangai kaum netter dengan perangai mereka yang hobi nampar-nampar orang sambil meneriakkan nama Tuhan. Cuma beda format Tuhan dalam benak masing-masing saja: Yang satu atas nama agama, yang satu atas nama hak asasi manusia (selama tidak menyinggung berhala bernama negara, tentu saja).

    Urus sajalah paceklik moral dan ragam sensasi temporer di luar Aceh sana. Nggak usah ngomong HAM segala macam untuk Aceh, simpati pada perempuanlah, membela hak perempuanlah, tapi cuma jika isunya agama, begitu isu ketidakadilan negara sedikit yang mau peduli, ramai yang bisu macam batu.

    Udah, bro mending kendorin urat saraf dan stel lagunya Bob Marley..

    Aku suka Bob Marley (dan The Wailers-nya sekalian) πŸ˜€
    Tapi… lagu Bob Marley yang mana? Lagu “I Shot The Sheriff” begini?


    (I shot the sheriff.) – the sheriff.
    (But I swear it was in selfdefence.)
    I say: I shot the sheriff. Oh Lord!
    (And they say it is a capital offence.)

    Atau “Get Up, Stand Up” begini?


    Preacherman, don’t tell me,
    Heaven is under the earth.
    I know you don’t know
    What life is really worth.
    It’s not all that glitters is gold;
    ‘alf the story has never been told:
    So now you see the light, eh?
    Stand up for your rights, come on!

    Mungkin suka dengan “So Much Trouble In The World” ini? πŸ™‚


    You see men sailing on their ego trip,
    Blast off on their spaceship,
    Million miles from reality:
    No care for you, no care for me.

    So much trouble in the world;
    So much trouble in the world.
    All you got to do: give a little (give a little),
    Give a little (give a little), give a little (give a little)!
    One more time, ye-ah! (give a little) Ye-ah! (give a little)
    Ye-ah! (give a little) Yeah!

    Atau… yang paling kusuka, “Redemption Song” yang auranya hopeless begini?


    But my hand was made strong
    By the hand of The Almighty.
    We forward in this generation
    Triumphantly.
    Won’t you help to sing
    These songs of freedom?
    ‘Cause all I ever have
    Redemption songs
    Redemption songs…

    Sungguh. Aku suka Bob Marley, dan lagu-lagunya juga yang kudengar untuk menghibur-hiburkan hati, menghibur-hiburkan diri. Sehingga tidak sampai mendetailkan ingatan suram masa lalu di sini. Jika tidak, mungkin akan sama pula aku meniru adik kelasku di SMA, Saiful, untuk bercurhat-ria mengingat cerita yang tak terceritakan dari sini. Kau pernah dengar kisah di kampungku tentang siswi perempuan disekap selama empat hari untuk pelampiasan seks penjaga keamanan negara mulia ini, seperti curhatannya di satu forum, dan moncong senapan justru yang menyambut saat kami sekampung minta anak perempuan itu dikembalikan dan pelakunya dihukum? πŸ™‚

    Jika itu terjadi pada anak perempuanmu, pada saudara perempuanmu, pada pacar, bini dan anak perempuan dari mereka yang berkotek soal sengkarut agama melulu di Aceh ini: Apa kalian mau melupakan sejarah pahit begitu saja? Anak perempuan itu tak ada lagi di kampungku, dia sudah pergi. Mengasingkan diri dengan aib sepanjang hayat. Sama nasibnya macam gadis-gadis Aceh lain yang bahkan ada yang akhirnya melonte di Medan, di Bandar Baru sana. Demi isi perut untuk bertahan hidup, karena pulang kampung nista sudah di tubuh membalut-balut. Masa depan mereka rusak dan tidak pernah diperbaiki oleh negara kesatuan yang mulia ini. Mereka, perempuan-perempuan yang sama azabnya diperlakukan seperti anak gadis yang “diho-oh” oleh 3 bedebah WH itu. Hello! Dimana rakyat Indonesia yang katanya ber-Pancasila? Ada belasan perempuan Aceh dihompimpa-alaihom gambreng oleh oknum-oknum penjaga stabilitas demokrasi Pancasila ini. Kalau sudah ngomong nasionalisme, ramai-ramai mengutip ucapan Soekarno, Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalau sudah soal Aceh, kenapa diam seribu bahasa 😐

    Forget your sorrow and dance..
    Forget your sickness and dance..

    Itu dari lagu “Them Belly Full (But We Hungry)”-nya Bob Marley, bukan? Yang sambungannya begini: πŸ˜€


    Cost of livin’ gets so high,
    Rich and poor they start to cry:
    Now the weak must get strong;
    They say, “Oh, what a tribulation!”
    Them belly full, but we hungry;
    A hungry mob is a angry mob.
    A rain is fall, but the dirt it tough;
    A pot is cook, but the food no ‘nough.

    Itu sendiri bukan lirik untuk melepaskan kesedihan begitu saja, menurutku. Tapi rehat sejenak dan berbagi cerita, berbagi lirik lagu untuk dicerna πŸ™‚

    *nggaktahumestikomenapa*

    πŸ˜€
    Tak apa-apa.
    Aku juga sebenarnya sudah nggak tahu mau nulis apa lagi dengan kembali ngeblog begini, kembali menulis postingan-postingan dengan gaya yang sudah basi, penuh emosi, dan tidak arif-bijaksana macam blogger-blogger yang mungkin sudah sepuh sentosa berjaya di dunia maya.

    Tapi harus ada yang bicara dari Aceh sini, meski aku – dan yang lainnya – bukan siapa-siapa yang terlalu penting di sini. Peduli apakah kau, kalian, mereka, atau siapa saja yang membaca ini akan tergelak, tertawa sinis, atau bersimpati diam-diam. Kemarin itu ada teman yang mengeritik dan bilang sebaiknya aku mengubah gaya bahasaku, mengubah gaya menulis menjadi sedikit lebih manis, mungkin seumpama menambahkan gula dan madu. Easy to say… jika saja posisiku digantikan, menghitung mayat seperti menghitung batang kayu tumbang, menghitung selongsong peluru di aspal, menghitung berapa lembam di badan kerabatku, mungkin saran itu tak akan pernah keluar, atau jika keluar, maka diharapkan usia 30 tahun keatas, saat aku sudah mapan, sudah di zona nyaman, aku bisa berlagak arif-bijaksana sama macam yang lainnya; menganggap semua ini cuma fatamorgana, cuma cerita biasa seperti sinetron di layar kaca. Bikin postingan, bikin web, dan menuai fans yang terpesona betapa bijak aku menulis. Seruntun, serunut dan sewujud kolom-kolom para intelektual di media massa. Mungkin… satu hari nanti.. Tapi tidak untuk saat ini…. 😐

  6. @ almas

    di Aceh sanah, agama yang jadi sorotan, di sini Kekerasan yang jadi sorotan, teman2 dari wartawan pun hanya sekedar agar beritanya masuk headline terpaksa kadang membesar-besarkan masalah, perkelahian kecil saat masuk berita sudah seperti kerusuhan masal yang sudah mengancam kehidupan ranah maluku. lucu dan sangat lucu karna kadang2 bahkan orang yang rumahnya berada dilokasi kejadian pun tak tau ada kerusuhan…

    Ya. Aku pernah dengar begitu dari kawan yang kerja di salah satu media berbahasa Mick Jagger. Juga dari beberapa kawan di Palang Merah yang pernah ke sana. Media massa cari oplah dengan cara begitu rupa. Bahkan dulu pernah ada kasus Jawa Pos sampai bikin dua koran di daerah konflik, satu memihak Kristen satu memihak Islam, dengan berita yang sama-sama mengompori tapi pada kenyataannya pemilik modalnya adalah orang yang sama. Itu masuk dalam liputan Pantau dalam kumpulan Jurnalis Sastrawi, judulnya “Koran, Bisnis, dan Perang”. (silakan di-gugling jika sempat)….

    Petikannya begini :

    Dalam rapat umum Kelompok Jawa Pos di Surabaya, Februari 1999, terlontar gagasan membuat satu koran lagi yang diperuntukkan bagi komunitas Islam. Gagasan tersebut memperoleh sambutan dalam rapat evaluasi Kelompok Jawa Pos di Makasar, Mei 1999 meskipun terdapat kelompok yang tidak menyetujui gagasan itu.

    Pada 12 Juli 1999, Ambon Ekspres terbit untuk pertama kalinya dengan Pemimpin Umum Machfud Waliulu dan Pemimpin Redaksi Ahmad Ibrahim.

    Suara Maluku dan Ambon Ekspres memang tidak dirancang Alwi HAmu untuk menjadi corong Islam dan Kristen. Namun eskalasi konflik membuat suratkabar itu benar-benar menjadi corong kedua pihak yang berseberangan.

    Begitu bukan? πŸ˜€

    Nah, di ranah dunia maya ini, Bro, gejalanya apa tidak sedang mulai meniru perangai serupa? Tidakkah kesannya dominasi berita adalah hak milik mayoritas atau yang dianggap/menganggap dirinya mayoritas? Mungkin aku salah. Tapi sedungu isi kepalaku, aku merasa patah semangat karena pusaran yang begitu rupa. Di seberang sana, semua hal dari sana adalah berita utama, dan berita dari daerah yang panas2 dan sensasional saja yang akan menembus level nasional. Blogger misalnya, tidakkah belakangan sudah seperti media massa konvensional pula? Mulai dari jadi pelaris-manis merek-merek tenar, hingga bisa bahkan bisa mendaulat tersangka korupsi sebagai pahlawan karena berkelompok, bersekutu, konon kata pepatah Melayu, tambah mutu πŸ˜›

    Ini kan gejala yang sama, dimana saat pemilu dan pilpres, media massa konvensional yang mendominasi berita nasional, sama-sama bisa begitu manipulatif dan ikut trend perkabarannya. Atau tergantung siapa membayar apa. Dalam hal netter (blogger, misalnya), siapa dapat apa. Menjadi pahlawan, menjadi tokoh nasional, menjadi public-figure, sekarang bukan cuma lewat audisi idol-idolan, bukan? Yang dibutuhkan adalah kejelian melihat siapa dan apa yang sensasional untuk dibahas πŸ˜†

    kita-kita diluar lingkaran ini selain harus bersaing untuk mendapat jatah dari negara apa mesti bersaing untuk mencari perhatian mereka??

    :mrgreen:
    Sepertinya demikian. Butuh waktu lama, dan ego chauvinisme akan menyeringai. Aku sebenarnya tak suka ide egois begini. Tapi kalau kulihat-lihat, jika daerah terpinggirkan dalam pembahasan, jika daerah hampir tidak terekspos di level nasional, mungkin memang sudah semestinya yang di daerah-daerah menggalang “kesatuan” sendiri-sendiri untuk menyuarakan opini dan aspirasi. Kita tak bisa berharap banyak pada sanak-kerabat di lingkaran pusat. Looks like they’re just too busy mending pieces of the life they had out there πŸ™‚

    Get up stand up-kan Jong Ambon, Brother. Ini soal survival of the fittest, bukan? πŸ˜•

  7. @ omith

    πŸ˜†

    Azab itu tak ada hubungan dengan perangai begitu rupa. Anda menempatkan Tuhan macam kanak-kanak yang murka ke Aceh karena sekarang ada 3 bedebah berseragam WH memperkosa satu wanita, tapi tak murka ke Indonesia karena belasan aparatnya memperkosa wanita di sini? Hebat sekali πŸ˜†

    Ya.. ya… tanah kami ini memang pantas kena azab, terutama jika sudi terus-terusan di bawah telapak kaki Jakarta anda itu πŸ˜€

    Dengan logika anda itu, Indonesia anda juga pantas dapat azab, cepat atau lambat. Begitu bukan? πŸ™‚

  8. @ Jiwa

    πŸ˜†

    Pening kau? Kepalaku sendiri pening memikirkan ini dan menuliskannya pula. Memang kepanjangan kalau tangan ini sudah menari, Wak πŸ˜†

    Tapi sepening-pening kau, setidaknya jangan pula kau seperti beberapa netter yang makhsum: Mengeritik pintar bukan kepalang, giliran dikritik perangainya macam di tulisanku ini, sudah menjaga jarak pula. Manusia memang sama belaka, pintarnya cuma menghujat dogma agama dan Tuhan saja, giliran dia yang dihujat beserta dogma negaranya, langsung buang muka, murka. Fanatikus “bingkai” yang buta… πŸ˜†

  9. pertama saya mengetahui hal ini dari tulisan seorang Aceh juga di situs berita islam Nasional (er*muslim.com) , komentar saya waktu itu : “agar dewan syariat itu tak perlu dibubarkan hanya karena olah 2-3 oknum , seperti inginnya org2 yg mengatas namakan HAM tp menyudutkan syariat,”

    Memang fahaman org luar aceh terhadap Aceh lebih berat ke agama (saya gak paham jg hal ini, tp dulu Aceh adalah tentang ke Sholehan rakyat nya, ke faqihan mereka tt agama ), tp sekarang hal itu dalam kontek negatif, memojokkan, seolah apa yg di pilih Aceh ttng Syariat itu adalah pilihan yg salah. ini yg mesti di luruskan, klo perlu di asah,

    *salam saudara se-Iman yg tak sudi mengaku org Indonesia* hehehe

  10. @ fish

    Aduh, maaf kawan… Telat dibalas. Belakangan aku sudah mulai jarang menjenguk blog πŸ™‚

    Jadi begitulah kira-kira. Benar, bahwa dalam pelaksanaannya, ada yang keliru menerapkan. Itu sebabnya aku “berteriak-teriak” bahwa Aceh mestinya diberi keleluasaan yang lebih dari sekedar membentuk WH untuk mengurusi soal khalwat, maisir dan khmar saja. Syariat Islam bukan melulu soal itu, tarohlah konsep Ekonomi Syariat sehingga perputaran riba perbankan yang rentan tipu-daya bisa diminimalisir di Aceh, atau bahkan dihilangkan; sehingga begitu terjadi kesalahan perilaku dari oknum-oknumnya, lantas Syariat Islam di Aceh dipojokkan, dan Aceh ramai-ramai dijenguk karena ada “Syariat Yang Salah” katanya.

    Sebenarnya… ada beberapa orang yang kutantang untuk komentar di sini secara langsung. Namun agaknya yang bersangkutan kurang senang hatinya karena negara yang dicintainya setengah mampus, kuhujat di sini, sementara keyakinan beragama boleh dikritiknya atas nama kebebasan. Ini perangai orang timpang. Kalau mau kebebasan, jangan setengah-setengah, begitu dibenturkan agama versus negara, lalu condong pada negara biarpun busuk perangai aparaturnya. Sering fanatisme bernegara itu menjadi sama parahnya dengan fanatisme agama yang selalu jadi bahasan atas nama HAM.

    Aku melihat Syariat Islam lebih luas dari sekedar tulisan Arab Melayu dan qanun-qanun yang cuma tiga itu berlaku. Maka itu pula aku menuntut perlakuan adil terhadap aparat-aparat keamanan yang menistai perempuan di Aceh. Kemana para nasionalis itu saat aparatur negaranya memperkosa? Diam dan pura-pura dalam perahu, kura-kura tidak tahu malu, Kawan πŸ˜†

    Bagiku sederhana: Kalau ada orang Indonesia menjenguk Aceh cuma untuk menyerang keyakinan beragama di sini saja, mengkambing-hitamkan apa yang diimani penduduk tanahku ini, mereka boleh tutup mata mereka dari Aceh sekalian. Lebih bagus lagi kalau bisa mendesak pemerintahnya untuk melepas Aceh jadi negara sendiri. :mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s