Lagu Pagi Ini

Sampul album unplugged

Senin pagi.

Hari kesibukan dimulai, terutama bagi orang kantoran. Jangankan di kota-kota besar sana, yang konon tak akan pernah sesepi-lengang kota zombie bernama Raccoon City, di sini pun menjelang subuh kehidupan mulai menggeliat. Suara lesung menumbuk padi yang dulu acap mengisi udara pagi, memang sudah lama hilang dari perbatasan kota dan desa begini, tapi deru mesin penggiling padi dari kilang padi di pinggir sungai sudah sayup-sayup sampai suaranya melambai.

Dan apa yang bisa dilakukan anak muda tampan berusia lewat ¼ abad, yang alhamdulillah plus astaghfirullah masih melajang dan sampai saat ini masih angkuh untuk menolak kerja tetap di kantor, di satu tempat, yang dianggapnya macam anak sekolah – masuk jam tujuh pagi dan pulang antara pukul 2 dan pukul 4 ?

Tentu saja, selepas cuci muka, wudhu’ dan menempelkan jidat di sajadah sebagai tanda absensi seorang muslim (mungkin dengan cengiran malaikat yang kata ustadz ada tegak di kiri-kanan bahu tiap insan ciptaan Tuhan), ritual utama adalah menyetel musik pagi dan menyeduh secangkir kopi.

Begitulah seringnya ritual pagi di sini.

Tentu pula ritual itu ditambah dengan kebejatan sebagai perokok: meracuni paru-paru dan udara pagi dengan nikotin. Sesekali sambil membereskan berkas-berkas produk kapitalis yang – gimana pun dikritiki, dibenci, dihujat, dicaci-maki seperti Coca-cola atau Philip Morris yang sukses mencopet 98% saham Haji Mamat Sampoerna di tahun 2005 – tetap dijaga seperti bulldog di gudang usaha dagang keluarga, tetap mesti diupayakan sebisanya menuruti falsafah tiap saudagar: “Laris manis tanjung kimpul, dagangan habis saldo ngumpul“. Ini mantra tiap orang yang membuka lapak. Tidak percaya? Tanyakanlah pada manusia yang baru kemarin menyumpah-serapahi brengseknya kran pasar bebas dibuka oleh pemerintahan yang doyan mobil mewah produk luar negeri ini. Niscaya dia akan membenarkan itu…

Ah, lewatkanlah omongan ngelantur di atas itu.

Ini, yang kupostingkan ini adalah lagu yang kudengar pagi ini. Sebuah lagu lama dari penampilan unplugged penyanyi kulit hitam bermerek Lauryn Hill. Aku sempat benar-benar menyukai lagu ini sekitar dua tahun lalu, saat pertama mendapatkannya dari kawan lama.

Lirik dari lagu ini, dan permainan gitar akustik plus intonasi emosi dalam vokal yang merepet dari seorang Lauryn Hill, kiranya cocoklah didengar di pagi ini. Mungkin juga untuk pagi-pagi esoknya, selama kita masih melihat ketimpangan hukum di negeri ini, seperti penjara mewah seorang Artalyta yang tak akan pernah dirasakan perambah hutan di daerah sini yang bisa kena tangkap dengan tuduhan illegal logging (sebuah istilah yang bahkan tak banyak difahami oleh orang-orang desa).

Judulnya: Mystery of Iniquity. Dan liriknya begini:

It’s the mystery of Iniquity
It’s the Misery of Iniquity
It’s the History of Iniquity
And It All, All falls Down
I’m Tellin You All, it all Falls Down

Children Eat Your Bread
Little Children Eat Your Bread
Cause It All, All Falls Down
I’m tellin You all, It All Falls Down

Y’all can’t handle the truth in a courtroom of lies
Perjures the jurors witnesses spies
Crooked lawyers false indictments publicized
It’s entertainment the arraignments the subpoenas
High profile gladiators in blood thirsty arenas
Enter the dragon black robe crooked balance
Souls bought and sold and paroled for 30 talents
Court reporter catch the circus on a paper
File it in the system
Not acknowledged by the Maker
Swearing by the bible
Blatantly blasphemous
Publicly perpetrating that in God we trust
Cross examined by a master manipulator the faster intimidator
Receiving the judge’s favor
Deceiving sabers
Doing injury to their neighbors
For status, gratis, apparatus & legal waivers
See the bailiff representing security
Holding the Word of God soliciting perjury
The prosecution, political prostitution
The more money you pay, the further away solution
Legal actors, babylon’s benefactors
Masquerading as the agency for the client
Hypocritical giants, morally non compliant
Orally armed to do bodily harm
Polluted recruited & suited judicial charm
And the defense isn’t making any sense
Faking the confidence of escaping the consequence
Now the defendant is dependent on a system
Totally void of judgement

Purposely made to twist him
Emotional victim blackmailed by the henchmen
Framed by intentions inventions whereby they lynch men

Enter the false witness slandering the accused
Planting the seed openly
Showing he’s being used
To discredit edit headed for the alleged
Smearing the individual fearing the unsuspected
Expert witness the paid authority
Made a priority to deceive the majority
Of disinterested peers dodging duty for years
Hating the process
Waiting to return to their careers

Do we expect a system made for the elect
To possibly judge correct
Properly serve and protect
Materially corrupt, spiritually amuck
Oblivious to the cause
Prosperously bankrupt
Blind leading the blind
Guilty never defined
Filthy as swine
A generation pure in its own mind
Legal Extortion blown out of proportion
In vain deceit the truth is obsolete
Only two positions, victimizer or victim
Both end up in destruction
Trusting this crooked system

Mafia with diplomas
Keeping us in a coma
Trying to own a piece of the American Corona
The revolving door, insanity every floor
Skyscraping paper chasing, what are we working for?
Empty traditions, reaching social positions
Teaching ambition to support the family superstition
When the son of perdition is commander in chief
The standard is thief
Brethren can we candidly speak
Woe to the men
Trusting in the chariots them

Leaning on horses they run
To intellectual sources
Counterfeit wisdom creating the illusion of freedom
Confusion consumes them, every word they speaketh entombs them
Outwardly white, internally they’re absent of light
Them trapped in the night & bondage to the ‘caine in the night (Canaanite)
Under the curse, evil men waxing more worse, faxing the first
Angelic being cast to the earth, it’s time for rebirth
Burning up the branch and the root
The empty pursuits’
Of every tree bearing the wrong fruit
Turn and be healed
Let him who stole, no longer steal, oh Israel
Surrender for Jehovah is real
How long will you sleep
Troubled by the thoughts that you keep
The idols you heap
Causing the destruction you reap
Judgment has come
Find it and return to the One
Abandon the flesh
Self-interest “broadway to death”
Pride and the greed hiding subdividing the seed
The knowledge of good and evil is what caused us to lie
Caused us to die
Let your emotions be crucified
Renounce all your thoughts
Repent and let your mind be retaught
You’ll find what you sought
Was based on the deception you bought
A perception of naught where the majority remains caught
Loving a lie, not realizing in Adam all die

It’s the Mystery of Iniquity
It’s the Misery of Iniquity
It’s the History of Iniquity
Oh And It All, all falls Down
I’m tellin You All, it all Falls Down

Lirik itu dicopet dari situsnya si penyanyi lagu ini. Sungguh, menurutku ini salah satu lirik lagu yang bagus. Tidak melulu politik saja, tapi juga semacam kontemplasi untuk menarik napas sejenak dan mencoba menyerah diri pada Tuhan, tanpa mesti memutar lagu “Knockin’ On Heaven’s Door”-nya Bob Dylan dalam lengking vokal Axl Rose dan raung gitar Slash…

Note: Kecuali jika anda terlalu sensitif dengan kata Israel dan Jehovah dalam lirik itu, tentunya. Cara paling simpel bagi anda yang memiliki fobia akut, paranoia religius dan amarah nan menggebu-gebu pada dua kata itu, ganti saja dalam benak anda dengan apa yang anda imani…

*siap-siap berangkat mencari rezeki sebelum rezekinya dipatok ayam*

6 thoughts on “Lagu Pagi Ini

  1. eh itu masih bagusan mana Knockin’ On Heaven’s Axl Rose, atowa si Cindy Crawford Lex?

    *siap-siap berangkat mencari rezeki sebelum rezekinya dipatok ayam*

    ah bilang aja sebelom dijodohin ama ranjang, dengan belaga tampan tapi jomblo seperampat abad mana ada orang percaya..

    sudah waktunya akhi, itu kopi diseduh bukan dari tangan para lelaki, tapi dari jari2 lentik si gadis rupawan itu…

  2. @ almascatie

    amankan pertamax dulu dah

    . . . . . . memanglah . . . .🙄

    wah lagu sayah tadi pagi setelah kabar hack2 dari sana itu, malah Tifa totobuang remix ala hiphop ahahahhaha

    Mana link ke box.net-nya?? :mrgreen:

    eh itu masih bagusan mana Knockin’ On Heaven’s Axl Rose, atowa si Cindy Crawford Lex?

    Axl Rose masih lebih bagus. Suara jeritannya itu khas. Apalagi kalau kau dengar pas kakimu kejepit meja atau jari tangan salah posisi sampai kena palu, niscaya kau akan merasa diwakili jeritan Axl Rose😆

    *keduax*

    . . . . .

    *cari palu*

    ah bilang aja sebelom dijodohin ama ranjang, dengan belaga tampan tapi jomblo seperampat abad mana ada orang percaya..

    Itu kan sudah dicoret, pertanda khilaf menakar diri yang over valued😛

    sudah waktunya akhi, itu kopi diseduh bukan dari tangan para lelaki, tapi dari jari2 lentik si gadis rupawan itu…

    Ah, kau ini! Masih enakan bikinan sendirilah. Kita bisa menakar sendiri berapa centong gula boleh dituangkan ke dalam segelas kopi. Buatan perempuan? Hah! Pasti banyak khotbah kesehatannya: Jangan banyak kalilah, kena hepatitislah, kencing manislah… huh!

    *modus: denial*

    lagian itu si gadis rupawan itu masih indent…🙄

  3. Ritual pagi saya malah; diubrag-ubrag istri suruh bangun karena kopinya nanti keburu dingin, seruput dikit, sambar handuk, lalu melesat. Camkan, urut-urutan di atas tidak pernah berubah dari pagi ke pagi.

    sudah waktunya akhi, itu kopi diseduh bukan dari tangan para lelaki, tapi dari jari2 lentik si gadis rupawan itu…

    Maha benar Almas dengan segala sabdanya…😛
    *mengamini sepenuh hati*

  4. @ Qzink666x

    Ti… tidak pernah berubah?? Se…setiap hari??

    Betapa nestapanya dirimu….😐

    Maha benar Almas dengan segala sabdanya…😛
    *mengamini sepenuh hati*

    Orang yang bersabda itu sendiri masih lebih sudi menyelam mencari mawar biru di sela-sela terumbu karang😆

    *kabur ah…*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s