Debus Penebus

Senin malam, lepas senja…

Di langit yang masih merah jingga, beberapa ekor kelelawar yang ketinggalan armada masih terbirit-birit mengejar kawanannya ke arah rimba. Di jalanan setapak kawasan rumahku, di perbatasan kota dan desa, umat pun baru saja bubar dari mushalla, selepas melaporkan eksistensi diri secara berjamaah kepada Tuhan, agar tak tersindir perulangan surah Ar-Rahman. Segar air muka, tenanglah jiwa. Peci lipat kesayangan kusakukan, agar rambut agak lebat-panjang yang jadi kebanggaan bisa dicemburui angin yang mengacaknya dalam hembusan dari arah hutan. Perangai biasa jika usai berjamaah, yang kuyakini Tuhan tak akan marah. Meski anak kampung, sepupu jauh yang berbeda umur, sambil tertawa berkhotbah singkat soal pentingnya yang lebih tua memberi suri-tauladan dalam hal etika penampilan. Sebagai kelakar biasa dengannya, dengan bocah yang beranjak dewasa dan sudah beberapa tahun ini melestarikan seni budaya daerah ini dengan memberi latihan gratis di rumahnya, seperti rateb meuseukat dan rapai geleng.

Kami berpisah dan kelakar putus bersama kesadaran bahwa stok rokok di saku pun terancam putus. Azab demikian harus diantisipasi dengan singgah di kios dan membeli rokok. Tanganku merogoh saku, dan – di ponsel yang tadi berprofil DIAMLAH ENGKAU – terlihat satu sms di inbox, memberi kabar bahwa ada kawan hendak bertandang ke rumah selepas maghrib. Barusan pulang dari Banda Aceh, demikian isi pesannya itu, dan mengaku rindu hendak bertemu.

Pulanglah aku ke rumah. Oh Tuhan, rupanya oknum tersebut sudah tegak di depan pintu pagar, sedang kepayahan memarkir sepeda motornya, yang di sini disebut dengan “kereta” atau lebih spesifik lagi: honda.

Note: Apapun merek sepeda motor itu, tetap akan disebut “honda”. Sebentuk sikap keras kepala penduduk sini yang dapat menyakitkan hati pemilik perusahaan Yamaha, Suzuki dan Harley-Davidson sekalian. Bayangkan saja jika ada yang ngomong di depan batang hidung bossnya Yamaha, “Honda ini memang bagus…!” sambil menepuk-nepuk setang Yamaha.

Banyak kata singkat cerita: Beliau rupanya berhajat hendak mengajakku keluar menikmati kota kecil ini, dengan gairah seakan kota kecil ini sudah belasan tahun ditinggalkannya. Aku yang sudah terkurung di sini, sudah dua tahun hidup berkisar antara gudang toko dan kamar, tak bisa menolak ajakan tersebut. Selain apa yang dirasakannya itu pernah juga kurasakan saat masih merantau, saat masih memperkaya rektorat salah satu kampus ternama di propinsi ini dengan menjadi mahasiswa nyaris abadi; kawan ini pun bukan sembarangan kawan. Dia kawan yang istimewa. Cukup istimewa sehingga tulisan ini lahir.

Namanya Andri (bukan nama lengkap, tentunya). Jika kugambarkan dia padamu, kira-kira begini: Posturnya agak membulat. Dibilang gemuk benar tidak, disebut kurus pun tak masuk akal, disebabkan badannya itu agak gempal. Kalau dia berdiri di sampingku, kira-kira kami akan seperti Arnold Suasanaseger Schwarzenegger dan Danny DeVito dalam film usang Twins di tahun 1988. Memang tidak persis sama, mengingat aku bukan binarangka binaraga yang berurat tambang bertulang kerbau. Namun kira-kira demikianlah bayangannya.

Apa istimewanya kawan yang satu ini?

Begini…

Kau pernah membaca kisah seorang gadis kecil bernama Amy Hagadorn? Gadis cilik ini termasuk salah satu dari sekian umat manusia yang diberi anugerah bernama cerebral palsy, kelainan otot yang akan tampak aneh bagi orang lain. Dia berjalan pincang dan canggung. Hari-hari di sekolahnya, gadis cilik ini mesti tahan ejekan dan cibiran baik dari orang yang mengenalnya atau pun tidak. Sejak ia kelas tiga, selalu ada anak yang mengganggunya setiap hari, mengejek cara bicaranya atau cara berjalannya. Dan ejekan-ejekan itu, meskipun di dalam kelas yang gaduh, membuat ia sering merasa sendirian.

Jika dia seorang Dian Sastro, mungkin dia akan membaca puisi “Sepi… Sepi dan sendiri aku benci. Aku ingin bingar. Aku mau di pasar … Kenapa tidak pecahkan saja gelasnya?” Namun, dia cuma murid SD yang tak bisa mencari hingar-bingar dengan lari ke hutan, ke pantai atau ke pasar. Dia mesti tahan dengan kondisi demikian.

Hingga satu hari Amy mendapatkan makian dari seorang siswa kelas lima di sudut lorong kelasnya, yang berlari dari arah yang berlawanan dan nyaris menabraknya. Kemudian, dengan mimik mengejek, bocah laki-laki itu memegang kaki kanannya dan menirukan cara berjalan Amy yang pincang. Amy tak bisa lagi menahan sedihnya. Peristiwa itu membuatnya diam seharian, hingga malam tiba di meja makan. Ibunya, Patti Hagadorn, mencoba menggembirakannya dengan berita bahwa di sebuah radio di kota mereka, Fort Wayne, Indiana, ada lomba membuat permohonan Natal. “Coba tulis surat kepada Santa Klaus, siapa tahu kau memenangkan hadiahnya. Kupikir setiap anak yang mempunyai rambut pirang bergelombang di meja ini harus ikut.” Demikian kata si ibu, dan Amy tertawa lalu menulis surat yang dirahasiakannya isinya. Membiarkan ayahnya menduga bahwa dia meminta buku gambar, sementara ibu dan adiknya menebak bahwa boneka Barbie setinggi satu meter lah yang diinginkannya.

Orang yang pertama membaca surat tersebut adalah Lee Tobin, manajer radio WJLT yang menyelenggarakan lomba bagi kanak-kanak menjelang Natal itu. Dan isi surat tersebut sangatlah sederhana.

Santa Klaus yang Baik,

Nama saya Amy. Saya berusia sembilan tahun. Saya mempunyai masalah di sekolah. Dapatkah Anda menolong saya, Santa? Anak-anak menertawakan saya karena cara berjalan saya, cara berlari saya, dan cara bicara saya. Saya menderita cerebral palsy. Saya hanya meminta satu hari saja yang dapat saya lewati tanpa ada orang menertawai atau mengejek saya.

Sayang selalu.
Amy

Sang Manajer menganggap surat itu adalah sebuah permohonan Natal yang tidak lazim. Dia menelepon sebuah koran lokal dan esok harinya foto Amy dan suratnya kepada Santa menghiasi halaman depan The News Sentinel. Kisah itu menyebar, dan surat kabar, radio, televisi pun memberitakan kisah gadis cilik yang meminta hadiah Natal paling istimewa: Satu hari tanpa ejekan.

Tiba-tiba tukang pos rajin singgah ke rumah Amy. Dari penjuru mata angin, dari anak-anak dan orang dewasa, surat-surat datang memberi semangat dan mengucapkan selamat berlibur dengan kata-kata penghiburan. Konon, lebih dari 2000 orang mengirimkan surat persahabatan dan dukungan untuk gadis kecil itu. Ada yang mengaku cacat, ada yang normal dan ada pula yang pernah menjadi sasaran ejekan ketika kanak-kanak. Namun, surat-surat yang dibawa tukang pos itu, membuat Amy merasakan bahwa dunia masih dipenuhi orang yang masih mau peduli. Dan permohonannya itu, satu hari tanpa ejekan, terpenuhi di sekolahnya, South Wayne Elementary School, dengan bonus tambahan dari guru dan murid-murid. Disertai diskusi tentang bagaimana perasaan orang yang diejek. Di tahun itu pula Walikota Fort Wayne meresmikan 21 Desember sebagai Hari Amy Jo Hagadorn untuk seluruh kota, dan bersabda,

“Siapa pun ingin dan berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan hangat.”

Nah, jika kau pernah membaca jenis tulisan mendayu-dayu kalbu, mengelus-elus rasa simpatimu pada sesama, pada mereka yang sering diejek dalam kehidupan, seperti kisah di atas itu: demikianlah posisi kawan istimewaku ini. Mungkin cerita demikian memang menjemukan, terlalu sentimentil dalam dunia yang pernah dikhawatirkan Cat Stevens dengan lagu Wild World yang populer itu. Aku sendiri tidak terlalu menggemari buku-buku inspiratif seperti segala Chicken Soup yang pernah dikoleksi oleh adikku. Namun cerita dalam buku Chicken Soup for the Unsinkable Soul yang kuringkas di atas itu, adalah salah satu cerita yang cukup aku sukai dari sedikit kisah-kisah dramatis yang pernah kubaca.

Setidaknya, itu akan memberikan gambaran kenapa aku mengistimewakan kawan yang satu ini, yang kukenal sejak pesantren kilat di bangku SMP (aku SMP di kota kecil ini, dan dia SMP di kecamatan sebelah). Bukan aku saja, bahkan juga beberapa kawan lainnya demikian pula. Sebut saja salah satunya Ijal, kawan dari SMA yang dulu begitu berbakat dalam hal berdiri-diri di bawah mistar gawang sekitar 90 menit, demi memastikan agar sebutir bola yang diperebutkan 20 pengangguran yang menyebut diri mereka pesepakbola, tidak sampai mencium jala di balik punggungnya.

Si Kiper beken ini dulu sekampus dengan kawan yang istimewa tersebut. Sama-sama mereka terjerumus ke urusan sawah-ladang di Fakultas Pertanian. Sementara aku dan kawan istimewa itu beda kontrakan, Si Kiper ini indekos wal indehoi di kontrakan yang sama denganku. Dan satu hari Si Kiper pulang ke kontrakan dengan pelipis biru lebam. Agak-agak menonjol sedikit di situ, macam telur puyuh belum penuh. Awalnya aku tidak begitu heran. Biasa saja. Maklum, beliau itu selain berbakat membogem bola yang lancang hendak mendobrak gawangnya, juga berbakat membogem muka manusia. Lumayan hobi berantam, yang lazim dikambinghitamkan pada gaya persepakbolaan Indonesia selama ini. Namun di hari itu, dia berantam bukan karena pemain lawan mencuri kesempatan menendang rusuknya dalam laga di depan gawang. Kena sepatu bergambir dengan sengaja begitu rupa, urusannya pasti di sekitar lapangan sepak bola juga. Biasanya dibayar kontan olehnya, nggak pakai kredit.

Tapi hari itu dia berantam karena kawan kami itu rupanya dikerjai di kampus. Diolok-olok, dari sesama mahasiswa sampai – ini yang bikin dia murka – kernet angkot (atau di Banda Aceh disebut dengan labi-labi). Alkisah, di depan matanya kawan kami itu dikerjai. Rupa-rupanya, Si Kernet yang sudah lumayan kenal dengan kawan istimewa itu, sedang miring otaknya. Sekali angkot disuruh mundur, biar kawan kami itu bisa lekas naik, namun baru kakinya sebelah memijak pijakan angkot, Si Kernet enteng menepuk badan angkot dan berteriak suruh maju. Terjerembablah kawan kami itu di aspal. Dan itu berulang dua kali. Di kali kedua, kawan yang dilahirkan sebagai Kiper itu pun murka. Dikejarnya angkot tersebut. Rupa-rupanya kekesalan hatinya sudah memuncak. Tanpa mengucap “Assalamu’alaikum, Yaa Bahlul!” bogem mentahnya melayang. Ribut. Huru-hara. Solidaritas sesama orang angkot memancing kernet dari satu-dua angkot lain ikut menyerbu. Tentu rekan-rekan beliau yang sesama mahasiswa juga ikut membantu. Tawuran kecil, namun cukup bikin orang angkot mikir: Rezeki mereka bisa melayang jika mahasiswa ngamuk. Maka dicarilah pangkal perkara, lalu didamaikan, dan Si Kernet yang miring otaknya itu pun wajib (memanglah wajib!) meminta maaf.

Kejadian itu bukanlah sekali-dua, dimana kami yang dekat dengannya, terkadang mesti menerima opsi jadi sparring-partner bagi orang yang mengolok atau bahkan mempermainkannya.

Kawanku itu tidak mengidap cerebral palsy. Bukan pula OHIDA, alias Orang Hidup Dengan AIDS. Tidak ada cacat atau wabah penyakit di badannya. Hanya saja… dia dulu pernah masuk SDLB. Konon, dia didakwa berada di persimpangan antara dungu dan lugu. Idiot? Tidak, buktinya dia tahun kemarin menyelesaikan bangku kuliah di jurusan agronomi. Aku bukan psikolog, bukan pula peminat ensiklopedia untuk tertarik menyelidiki apa keistimewaan tersebut dalam bahasa-bahasa ilmiah.

Autis? Entahlah. Namun yang jelas, gerakannya cenderung lamban. Matanya sayu seperti orang kurang semangat hidup. Sering (dulunya) dia seperti alien terasing diantara kami yang merasa diri manusia sempurna. Pesonanya seperti orang kuper. Kalau bicara bola matanya menerawang jauh… jaauuhh ke arah langit… seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya itu jadi gelembung kata-kata yang dibacanya macam dialog di dalam komik. Jika ia sedang mendengar orang berbicara, dan ia tertarik, mulutnya akan melongo, kepalanya akan sedikit miring macam burung hantu, dan matanya seperti hendak tidur menatap siapa yang berbicara, peduli setan apakah itu cerita hantu, politik, seks, agama, atau cuma kelakar tiada berguna. Kadang-kadang kalau ada lelucon, suara tawa yang lain mereda, barulah dia mencengir tertawa. Istimewanya mungkin karena daya tangkapnya itu yang tidak secepat cheetah dalam iklan internet Speedy.

Dari segi berjalan, sebenarnya dia normal-normal saja. Mungkin karena mimik wajahnya yang (kalimat ini pernah membuatku menonjok adik kelasku sendiri) terlihat macam anak idiot, maka orang yang terlalu menganggap diri sempurna akan tertawa. Padahal cuma terlihat, dalam kenyataannya tidak. Maka dengan wajah itu, kalau dia berjalan, pandangannya lurus ke depan atau menengadah ke angkasa. Meski dia kadang-kadang bisa begitu konyol, begitu tertib lalu-lintas, bahkan rela memutar satu belokan hanya untuk kembali ke titik dimana helmnya jatuh, namun kata “waspada” sepertinya lupa dituliskan dalam kamusnya. Bahkan sering sesudah terpijak olehnya “bubur kacang hijau” dari pantat sapi, barulah ia sadar kenapa kakinya suam-suam kuku macam mandi sauna. Aku pernah berjalan dengannya dan kena musibah begitu. Asyik menerka apa yang sedang dipikirkan dalam kepalanya itu, apa gerangan gambar di balik retina matanya itu, azab pun tiba: sama-sama kaki tercebur ke dalam bubur yang sembarangan dibuang oleh hewan ternak itu. Dan dia dengan ikhlas tertawa lepas, sementara aku tertawa pahit menyumpahi sang pemilik ternak yang kusamakan dengan ternak kurang ajar itu sendiri, sebab berdosa membiarkan ternaknya buang hajat di jalan lingkar kampus.

Kawanku itu perasaannya halus. Lebih halus dari bencong yang kalau tersakiti masih bisa memaki sampai keluar suara tenor meski dandanan menor. Jika dia sedih atau terpukul, maka dia diam. Membisu melihat ujung sepatu dan, jika mata kami jeli, terkadang terlihat titik embun di sudut matanya. Jika ada yang mengatakan bahwa dia baru menendang seekor kucing, maka sangatlah mungkin orang yang memberitakan itu akan kami sebut sebagai Dajjal di akhir zaman, sebagai pendusta yang membawa fitnah yang keji. Kami yang sudah dekat dengannya, mafhum betul betapa dulu dia acap jadi ejekan sejak SD hingga SMA justru karena perbawa halusnya yang penuh kasih bagai ajaran Isa Al-Masih. Jika dia mendengar ada diantara kami bersitegang karena membelanya, dia akan memaafkan orang yang menghinanya begitu saja. “Sudahlah… Nggak apa-apa…” demikian statemen perdamaiannya. Terkadang kesal pula rasanya. Tapi jika sudah begitu rupa dia tegak di depan kami, macam dulu di bangku SMA, niscaya kerah baju siswa yang baru menghinanya itu akan dilepas dalam keadaan selamat, sehat wal afiat, tak kurang suatu apapun, Insya Allah.

Dan inilah sebab kenapa aku menuliskan tentangnya…

Jadi, lepas maghrib itu, keluarlah kami berdua dengan sepeda motor yang disupiri olehnya. Hasrat hati mencari segelas kopi. Tapi terakhir kami berputar-putar saja mengelilingi kota kecil ini. Aku duduk di boncengan Pak Supir supaya motor baik jalannya dan ngobrol soal sehari-hari. Udara malam yang bagus. Angin berhembus. Langitnya cerah dan suasana jalan tidak seberapa ramai. Sesekali aku tergelak mengingatkannya agar tidak ke tengah. Sungguh, jika berada di boncengannya, setiap dari kami merasa was-was. Kawanku ini terkadang seperti merasa bahwa di dunia ini tidak ada manusia sudi menabrak manusia lainnya. Seakan baginya dunia ini dunia yang damai, aman, dimana kodok pun bisa menyeberang jalan dengan tenang sambil bernyanyi-nyanyi “Sepanjang Jalan Kenangan”, sementara mobil-mobil, sepeda motor, dan kendaraan lainnya akan berhenti memberi kesempatan.

Bosan berputar-putar, di luar kota ada keramaian, maka jadilah perjalanan berhenti. Acara poh daboh di sebuah rumah kenduri. Ada mantan adik kelas dan anak sekampung yang ikut unjuk gigi (ini bukan metafora, karena mereka benar-benar unjuk gigi dengan menggigit belati) di panggung acara, sebagai anak daerah yang pernah mencicipi kejayaan sebuah sanggar seni kampung ini, yang pernah tersohor sampai ke Australia sana. Sebuah acara debus khas Aceh, dengan adegan seperti rekaman Yun Casalona (seniman debus Aceh) di bawah ini:

Kami tegak berdiri dan melihat atraksi demikian beberapa lama. Hingga mantan adik kelas itu turun, ngobrol sejenak, lalu permisi dan kami memutuskan pergi mencari segelas kopi sebelum pulang.

Dan petaka pun nyaris terjadi. Seperti biasa, kawan istimewaku ini, lupa apa arti kata “waspada”. Sesudah menolak saranku untuk langsung memotong jalan sehingga kami bisa langsung mengarah pulang ke kota (dimana dia lebih memilih untuk maju agak seratus meter ke depan demi mencari posisi aman baru kemudian membelok), dalam perjalanan pulang itu dengan santai dan tanpa rasa bersalah dia memotong untuk mampir di kios sebelah kanan badan jalan. Sebuah mobil melaju kencang dari belakang, dan hampir saja menyambar sepeda motor kami. Telat kuhantamkan tanganku ke tangannya di setiran gas, sampai motor meloncat ke depan, mungkin sudah tergeletak kami berdua menjadi mayat. Untung sajalah motor itu cuma terperosok ke parit di sisi jalan.

Jantungku mendegup-degup macam suara bedug. Dan emosiku pun muncrat. Memarahinya hampir lima menit. Merebut anak kunci dan menyuruhnya duduk di boncengan. Sepanjang jalan tak ada yang bicara hingga sampai di warung kopi yang sudah agak sepi. Kami duduk di pojokan dan menenangkan diri. Memesan kopi, dan dengan tangan gemetar rokok di bibir kuberi api. Masih tak bicara kami berdua. Dia cuma menunduk-nunduk saja. Sesekali menengadah. Hingga aku mencoba mencairkan suasana. Dan pahit menertawakan kejadian barusan. Dia tetap diam. Diam menunduk tak obahnya Siti Nurbaya dilamar tua-bangka bergelar Datuk. Aku pun merasa ada yang salah. Dan aku desak dia bicara.

Matanya melihat sudut lain. Dan dia lalu bilang sesuatu yang membuatku tak tenang sampai aku mengetik tulisan ini. Dia bilang bahwa setiap dia pulang kemari, aku adalah salah satu dari sedikit kawan yang selalu dicarinya. Bahwa setiap saat dia selalu ingat, aku sering ada di sampingnya untuk melawan siapa saja yang menghinanya, baik dengan menegur, memaki atau bahkan melayangkan kaki. Bahwa dia sadar dia memiliki banyak kekurangan. Tumpuan ejekan, bahan kelakar, sarang olok-olokan dan pelampiasan kemarahan. Dia bilang bahwa dulu dia tak pernah ada kawan yang faham rasa hatinya, selain sedikit saja yang selalu siap sedia diterima olehnya jika dimarahi. Dan itu termasuk aku, yang kenal dekat sejak bangku SMP, yang pernah bersama beberapa kawan cabut massal dari sekolah untuk menjenguknya karena dikabarkan kena malaria, dan tetap kena peraturan sekolah yang patuh pada norma-norma Pancasila: Menebus dosa di bawah matahari dengan menghormat bendera.

Dan dia bilang… dia seharusnya tidak mengajakku keluar malam, karena nyaris membunuh kami berdua disebabkan – seperti ucapan marahku – akalnya yang pendek dan lamban. Tapi, katanya, semarah apapun aku padanya, dia akan tetap pulang kemari dan akan tetap mencariku untuk diajak minum kopi, mungkin lain kali dengan berjalan kaki… Dia minta maaf… minta maaf karena menjadi beban hidup…

. . . . . . . . . .

Aku pernah mengalami hal-hal yang sedih dalam hidup. Dan apa yang diucapkannya di pojokan warung kopi itu, adalah salah satu hal yang menyedihkan. Lebih menyedihkan daripada kehilangan kawan yang mungkin cuma akrab saat di kampung halaman saja, lalu berubah jauh jika sudah di kota besar. Karena dia di sini. Selalu mencariku jika pulang ke sini. Dan dia mengucapkan itu di sini, dalam jarak semeter tak sampai dariku sendiri. Dia, mengucapkan apa yang tadinya kupikir seharusnya diucapkannya sendiri kepada orang-orang yang mengejeknya selama ini. Tapi kini kupikir, dia sudah mengucapkannya pada orang yang paling tepat. Orang yang berada dalam posisi paling tepat untuk menyakiti hatinya. Orang yang memarahinya, kawan yang selama ini berlagak jadi pahlawan, lalu tega mengatakan, “Kau ini cari mati?! Sampai kapan kau tak pernah berpikir sikit pun, hah?! Jangan piara akal pendek dan lamban kau itu! Satu hari nanti bisa mati kau di jalan kalau begini!!”

Tindakanku mungkin benar. Kemarahan itu sendiri boleh kubela dengan ucapan bahwa karena aku menyayanginya sebagai kawan yang bertahun hidupnya dilecehkanlah, maka aku marah. Bahwa, jika pun tak naas tadi, mungkin kelak dia akan naas kalau masih begitu perangainya.

Tapi… ada yang terusik dalam diriku sendiri, saat dia menunduk dan diam terus. Saat matanya itu berkejap menatap ke arah langit. Dan rasa terusik itu jadi pukulan yang lebih menyengat daripada tinju seorang kawan yang tergila-gila Muhamad Ali, ketika dia bicara demikian. Bicara dengan ekspresi pasrah di wajah manusia yang tak berdaya apa-apa dianugerahi keistimewaan demikian. Aku lupa, bahwa kawan yang sering menjadi bulan-bulanan ejekan itu, memiliki perasaan yang halus. Keluguannya yang mengharukan. Keluguan yang sering dicibir oleh dunia yang keras dan sinis ini. Dan aku lupa, bahwa tadi itu aku memperlakukannya sama seperti orang lain menjadikannya sasak tinju. Ucapan blak-blakan yang biasa kuarahkan pada mereka yang pernah menghinanya, serasa menjadi bumerang dan balik menampari diriku sendiri.

Menjadi seorang kawan ternyata tidak cukup dengan berlagak menjadi pahlawan di depannya saja, ketika justru di kesempatan lain, kau bersikap serupa meski tak sama dengan orang lain yang menjadikannya sasak tinju pelampiasan. Membuatnya merasa dirinya jadi beban dalam kehidupan, meski pada kenyataannya tidak demikian. Rasa bersalah itu lebih sakit, jauh lebih sakit bagiku, daripada sekedar lebam-lebam di badan mantan adik kelasku sehabis dihantam parang, rantai dan rencong di panggung debus semalam…

Besok aku akan memintanya menendang pantatku…

8 thoughts on “Debus Penebus

  1. bersyukurlah atas anugrah-Nya, berupa teman yang mendewasakan serta menjadikan kita mengerti arti kehidupan. Thanks for nice story.Salam

  2. *seperti biasa, ngelap keringat di jidat*:mrgreen:

    aku justru sekarang lagi mikirin siapa kawanku yang sebenarnya sahabat. bukan apa-apa, banyak yang cuma basa-basi dan ke tempatku kalau sedang ada perlu saja.

  3. ¤_¤

    de ja vu

    sampai lupa, berapa seringnya aku berada di posisimu itu..

    Ketika kita amat sangat dekat dgn seseorang dan sangat menyayanginya, justru kita akan lupa betapa kita tak punya hak apapun terhadapnya. Termasuk menyakiti perasaannya.
    Itu susah..
    Susah sekali…….

    *tertunduk*

  4. maap bro… aku baru sempat baca ketika kau menrima kunjungan temanmu yang laki.. listrik udah mati dan cuma bermodal cpu untuk comment dulu
    *ndak penting*

  5. Besok aku akan memintanya menendang pantatku…

    Boleh kuwakilkan??🙄

    Hidupmu memang berwarna sekali, nak?? Haru aku membacanya. Dan soal semua motor disebut honda itu kok mirip kayak di Semarang. Entah sekarang. Dulu ketika saya baru lulus smp dan diajak maen ke rumah nenek seorang kawan, sepupu kawan saya ngajak honda-hondaan meski motor dia yamaha.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s