Status Sosial Dan Roda Becak

Waktu memang macam ucapan Ali bin Abi Thalib, seperti pedang adanya. Tak terasa berjalan begitu lekas, dan kita sudah dipotongnya dari masa lalu.

Itu yang terlintas dalam benakku ketika semalam aku mengetahui apa sebab ada sanak-kerabat berkumpul di rumah. Perasaanku sudah tak enak semenjak (dari kamarku) mendengar suara-suara mereka yang acap sekali melayangkan pertanyaan menusuk hati merusak hari, dan tak bisa enak kujawab dengan jawaban ala iklan, “Mei…?”

Mengingat pertanyaan mengerikan seperti itulah maka aku menyelinap minggat dan terbang lekas-lekas melarikan diri. Tak mau tahu apa nanti fatwa-fatwa akan mencuat soal etika menghargai ahli famili, sanak kerabat dan handai taulan datang dolan-dolan.

Ternyata bukan… bukanlah aku sebab utamanya mereka berkumpul. Syukurlah… Aku lega sejenak. Hingga aku mendengar dari sepupuku, apa sebab ada perempuan sebaya almarhumah nenek-nenek kami terlihat di situ dengan sirih berbakung sugi sehingga merah-merah bau pinang di mulut mereka keluar macam darah di mulut drakula, beserta orang-orang tua dengan rokok tembakau kampung yang kulihat-lihat sudah boleh bersiap-sedia beli kapas dan kain cap kafan untuk membalut badan jika tiba-tiba muka keriput mereka dibogem Ajal sama seperti gigi-gigi mereka yang sudah rontok ditinju Sang Waktu.

Ternyata…. Oh! Masih soal mahligai bermahligai. Mungkin karena sudah tumpul segala sabda segala fatwa tentang eloknya anak bujang mencari anak dara, maka kemarin mereka tak peduli ada bujangan minggat melarikan diri. Daripada pening memikirkan pendurhaka demikian, mereka pun terhibur karena telah datang angin berhembus bahwa adikku ada orang hendak meminta. Meminta hendak dijadikan bini, hendak dibawanya dalam hidupnya selamanya sebagai teman hidup (ini bahasa romantisnya) atau mungkin pula (jika tengik pikiran laki-laki itu macam banyak bajingan yang kukenal) sebagai babu, tukang cuci pakaian, tukang isi rantang dan mesti setia bak Rexona untuk menelentang dan mengangkang jika syahwat kuda jantan sudah datang. Singkatnya, boleh jadi sebagai teman hidup sepadan-sehaluan, atau mungkin budaknya seumur hidup berjalan (ini pikiran sinisku karena sering muak mendengar laki-laki bicara menghina perempuan macam ibu dan saudaranya tak ada yang perempuan).

Maka semalam, aku memastikan itu dengan bertanya langsung padanya, yang usianya cuma selisih setahun dariku. Dia membenarkan itu. Aku terdiam sejenak. Bukan karena aku merasa dilangkahi, bukan sama sekali. Sebab selain dalam adat di sini biasa anak laki-laki dilangkahi oleh adik perempuan, aku sendiri terhitung anak laki-laki bernasib berat: Putra pertama dan satu-satunya pria dari empat bersaudara. Balak enam, kalau kata kawan bertakdir serupa, yang mesti turun duluan membuka jalan bagi lancarnya lapak permainan nasib di dunia fana ini. Mesti acap-acap mengorbankan mimpi untuk memanggul sebuah dinasti di pundak sendiri.

Aku terdiam karena aku tahu bahwa akan ada laki-laki lain sangat mungkin akan tersakiti di sudut bumi ini. Terakhir aku mengetahui bahwa adikku ini ada hubungan mesra dengan laki-laki yang setahun lebih tua dariku, asal dari kecamatan sebelah, yang kini membuka usaha rental komputer di kota Banda Aceh setelah dia drop-out dari kuliah. Anak laki-laki yang bukan dari golongan berada atau berstatus sosial terpandang benar di daerah ini, yang mungkin itu pula alasan kenapa ada otak-otak congkak dalam keluarga besar ini lekas-lekas mendesak adikku bersedia kukunya diberi inai lekas-lekas.

Maka aku pun bertanya itu padanya, pada adik perempuanku itu. Dia sendiri kebingungan akan lamaran itu, yang mana pelamarnya membuatku sempat terpana juga. Laki-laki yang berhasrat hendak mengantar sirih itu tak lain mantan adik kelasku sendiri, yang sekarang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk punya status sosial sebagai anggota dewan yang konon berperan mengeluarkan kebijaksanaan dalam hikmat permusyawaratan dan perwakilan sebagaimana panduan Pancasila. Mantan orang biasa yang sekarang sudah tidak lagi jadi orang biasa. Usianya muda belia, bahkan dengan adikku saja dia lebih muda dua tahun. Mantan adik angkatanku yang dulu seperti anjing pasar kalau lewat di jalanan, tak ada orang peduli tak ada orang berseragam pemkab melambaikan tangan, tapi semenjak punya pin anggota dewan, orang memuliakannya dengan sebutan “Pak”, meski usianya lebih muda dari tua bangka yang menyapanya. Kemenangannya, setelah naik dari partai lokal paling tersohor yang menjadi rival dari partai lokal di mana aku sendiri sempat berkecimpung di pemilu yang lalu, telah mengantarkannya ke depan pintu gerbang kejayaan dan penghormatan.

Tapi bukan itu masalahku. Strata sosial, status kedudukan dalam masyarakat, bagiku adalah omong kosong. Anjing akan tetap seekor anjing bahkan jika kau memberinya mahkota raja. Dan orang mulia yang bijak akan tetap mulia bahkan meski ia seorang tukang becak. Hidup mengajariku untuk sekeras ini dan sesinis ini menilai ketololan umat manusia membeda-bedakan manusia yang dulu lahir telanjang, cuma karena kemegahan berpakaian, manusia… yang kelak akan mati lalu membusuk sama seperti bangkai biawak di pinggir jalan; dengan segala penghormatan pada satu hal: Status kedudukan.

Ini yang menjadi masalahku sehingga “menghasut” adikku untuk berpikir kembali.

“Abang ada masalah dengannya?”

“Tidak,” kataku. Aku tidak punya masalah apa-apa dengan pria muda yang bulan depan katanya hendak membawa sirih ke rumah keluargaku itu. Bahkan aku memiliki respek tersendiri padanya. Betapapun kini dia dihargai orang, dia masih sopan padaku, masih menyapa, masih berdiskusi meski dulu partai lokal kami berhadapan sebagai rival, masih melambaikan salam jika berjumpa. Bukan denganku saja, tapi juga dengan rekan-rekanku yang lainnya, yang tidak berstatus apa-apa dalam lembaga-lembaga pemerintahan ini, selain segelintir tukang kritik sok tahu tapi sadar diri bahwa kritikan kami cuma level seasbak rokok dan segelas kopi tumbuk kampung ini, yang tak akan kau jumpai di Starbucks yang bergengsi.

Masalahku sederhana, sederhana sekali: Perasaan.

Bagaimana dengan lelaki lain yang selama ini dekat dengannya. Adikku kebingungan. Aku mendesaknya, dan ia mengatakan bahwa ia tahu betapa laki-laki itu cukup setia selama ini. Dan ia bilang bahwa dia sudah bertanya pada laki-laki itu, dan laki-laki itu tak memberi kepastian.

Aku mendesak lagi, apakah dia tidak memberi kepastian atau dia sendiri hidupnya sedang dalam ketidakpastian? Jika dia tak memberi kepastian, mungkin dia layak ditinggalkan. Tapi jika, dan ini penting, nasibnya sedang tidak bagus, penghidupan yang seperti roda becak ini belum memberinya kesempatan, sehingga dia tak berani gegabah untuk mengumbar janji dan harapan, maka tunggulah.

Dia dan sepupu-sepupu yang mendengar itu bertanya (ada dengan nada memprotes), kenapa aku bisa berpendapat begitu rupa, sementara adat di sini perempuan menanti. Jika dibiarkan lama, saat usia sudah menanjak meninggi, bukankah perempuan sendiri yang akan rugi?

Dan aku bilang, ini soal hati dan kepercayaan. Sebuah hubungan, sebuah kesetiaan, tidak bisa diguntingkan begitu saja cuma karena kekhawatiran satu pihak, apakah itu perempuan atau laki-laki. Bahkan dengan alasan adat sekali pun.

Aku mengenal cukup baik laki-laki yang “tidak berkepastian” itu. Cukup baik, karena aku pernah memakinya, menunjuk-nunjuk jidatnya dengan ucapan berintonasi emosi saat masih kuliah dulu. Mendengar sepeda motor adikku di tangannya, aku dan beberapa teman mencarinya. Bukan masalah sepeda motor itu, tapi hendak mencari kepastian: Apakah dia akan setia pada sebuah benda atau pada seorang perempuan, dalam hal itu: adikku sendiri. Dan itu dengan cara yang keras dan keji: Aku mendakwanya mendekati adikku karena “ada apa-apanya”. Kalau tidak, tentu dia akan berusaha untuk memiliki kenderaan sendiri dan bukan memakai milik perempuan, yang mana hal itu menjadi pantangan dariku sendiri. Kudakwa pula dia jangan-jangan pulsa pun adikku yang mengisi. Dia diam. Mungkin marah terpendam. Tapi dia mengulurkan kunci, STNK dan sekalian dengan buku servis sepeda motor. Aku pun minggat tapi tak berhenti sampai di situ. Saat adikku marah, aku tak menjelaskan apa-apa. Cuek tapi mencari tahu perangainya.

Ya. Dia dicap pemalas di kampus oleh orang-orang yang mengira mereka mengenalnya. Ya, dia dicap suka menghabiskan waktu di warung kopi. Tapi aku mengenal satu hal dari dirinya: Harga diri, meski mungkin itu terpecut makianku, untuk membuktikan diri. Bahwa dia yang selama ini menserviskan sepeda motor, dia yang selama itu mau berpanas-panas di terik jalanan untuk mengambil paket kiriman dari kampung untuk adikku. Dan, ini yang masih kuingat: Dia sama-sama kebasahan denganku dalam hujan lebat untuk membawa adikku yang kena usus buntu ke rumah sakit. Manusia memang tak bisa dinilai total perangainya, tapi sebagai sesama laki-laki, aku percaya bahwa dia memiliki satu hal yang semakin lama semakin langka: Kesetiaan dan kemauan untuk masih mencoba melawan nasib. Jika dia di warung kopi terlihat juga, itu masih dalam batas toleransi. Jika dia masih mau membantu mencarikan pinjaman untuk temannya, sementara dia sendiri kesusahan finansial, bagiku itu sudah jadi satu pegangan tersendiri bahwa dia masih memiliki kepedulian pada teman, apalagi pada orang yang disayanginya.

Meski aku menjaga jarak dengannya, lazimnya kebiasaan kami di sini, tapi aku menerimanya dalam kehidupan adik perempuanku. Meski, secara adat dan agama pun, aku berhak campur-tangan dalam urusan mereka, tapi aku menghargai kebebasan untuk menentukan jalan hidup, dan teman hidup. Bukankah pasangan itu seperti pakaian, yang satu saling menutupi yang lainnya, kata agama? Tentulah bicara pakaian adalah bicara apa yang cocok dipakai di badan orang yang bersangkutan, bukan di badan kita yang melihat.

Dan… jauh dari itu, bicara soal kesetiaannya yang sudah pernah kuuji dulu itu (peduli setan apakah dia sarjana atau bukan, apakah dia mengajak adikku makan di restoran atau cuma kelas emperan), ada hal lain yang kuceritakan pada adik kandung dan para adik sepupuku itu.

Bulan Desember yang lalu, aku sempat ke Medan untuk mencari komputer bagi Si Bungsu yang barusan masuk SMP, sekalian memastikan pasokan produk kapitalis yang dijajakan di lapak keluarga akan tetap lancar dikirimkan distributor di sana (yang manis berseri senyumnya mendengar umat di sini hampir putus asa, seakan bisa mati tiba-tiba kalau tidak dikirimnya pasokan Unilever, Indofood dan Coca-cola). Di sana, selain bertemu dengan beberapa kawan lama dan kopdar asal-asalan dengan beberapa blogger amatiran klasemen Sumbagut, aku bertemu pula dengan sosok dari masa lalu keluarga besarku. Seorang pria dewasa yang sudah berusia lewat 35 tahun.

Rupa-rupanya Pria Lewat 35 Tahun itu masih mengenal raut mukaku yang sudah berubah jauh lebih keren dari masa kecil dulu. Di emperan Jalan Sisingamangaradja, di bagian kota Medan di mana kau bisa menemukan ibu-ibu tua (yang tak akan masuk dalam daftar undangan dinner megah nyonya-nyonya bergaun mewah) membuka lapak jajanan sederhana, dia menemukanku di sana. Di sela-sela obrolan menjelang larut malam dengan adik kelas dari kampung halaman, aku merasa ada yang memandangiku lama. Bahkan terlalu lama sehingga dua pikiran muncul dalam benakku: Tak suka, dan penasaran.

Aku yang tak suka dipandangi lama-lama, tak suka orang menilai-nilai sosokku seakan aku ini manekin di balik kaca, balas memandangnya. Mengadu mata mengirim isyarat, “Ada masalah apa?!” Dia membuang muka, dan aku merasa sedikit nyaman, meski sesekali kulihat dia – yang duduk sendirian di meja seberang itu – masih mencuri-curi pandang. Namun bukan lagi dengan tatapan yang sama, tapi seperti orang berpikir.

Aku baru tahu bahwa dia benar berpikir saat itu, ketika aku dan mantan adik kelas bubar, dan dia mendekatiku di parkiran. Kukira ini akan jadi panjang masalahnya, boleh jadi dia baru kena tuak entah di lepau mana, lalu hendak melayangkan bogem mentah karena ada yang tak suka diadukan mata. Tapi perkiraanku salah. Dia malah menanyakan pertanyaan yang tak setiap orang asing akan menanyakannya kepadaku. Dia menanyakan apakah aku adik dari sebuah nama yang disebutnya. Nama yang lengkap disebutkan sekalian dengan sekolah, kuliah dan alamat rumah.

Beruntun. Pertanyaan itu beruntun dan aku tak bisa apa-apa selain mengiyakan. Aku pula yang jadi penasaran, karena lama-lama kutengok mukanya itu pun jadi serasa kenal aku dengannya (boleh jadi karena dia sudah bertanya demikian).

Dia tertawa dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Menyebut namanya lengkap dengan kata-kata sok akrab, “Masih kenal dengan Abang?”

Lalu… benakku ditampar dari masa lalu. Pria Lewat 35 Tahun itu yang menamparkannya. Bagaimana dulu saat SMA dia tegak di balik pagar rumahku, dan bertanya apakah ada kakak sepupuku di dalam. Bagaimana dulu aku, yang tak suka ayunan raketku di pekarangan berhenti karena orang tak dikenal bertanya demikian, merengut dan balik bertanya dia itu siapa, ada perlu apa, dan kenapa tahu kakak sepupuku ada di rumahku sementara rumah kakak sepupuku itu sendiri di kecamatan sebelah. Bagaimana dia bertahan di balik gerbang itu kukerjai, karena tak suka kakak sepupuku dicari laki-laki tak dikenal, dengan mengulur-ulur waktu bertanya macam-macam dengan tengilnya, sampai akhirnya aku berlari ke dalam rumah dan memanggil Kakakku itu. Wajahnya saat itu adalah wajah yang kelak, saat aku jadi remaja, akan kulihat di cermin kamarku sendiri setelah bertemu jantung hati idaman jiwa. Namun saat itu aku tak mengerti. Aku melihatnya seperti banci yang tersipu-sipu dan senyum macam orang gila di balik pagar sana.

“Bencong!” gelakku pada kawanku, setelah aku melihatnya memberikan kado yang (aku mengernyit jijik saat itu) diberi pita mengikat setangkai bunga (tak ingat aku, entah mawar entah anggrek). Bunga, boneka, dan kado dengan hati warna merah muda, serta hal-hal manis sejenis itu di badan laki-laki, dalam mata bocahku saat itu tak ubahnya melihat Benjamin S menjadi bencong dalam sebuah film lama. Urusan laki-laki, dalam mata bocahku, adalah seperti bermain layang-layang, berkelahi karena nama bapak disebut-sebut oleh anak lain, meloncat dari puncak pohon yang tinggi ke lubuk sungai, atau puas dikejar orang tua pemarah karena merampok buah rambutannya. Itu baru urusan jantan! Bukan segala pita dan bunga begitu rupa!

Tahun-tahun berlalu dan waktu mengenalkanku pada kesetiaan seorang pria. Aku beranjak dewasa dan dia jadi sering kulihat. Jadi terbiasa. Terutama sejak darahku sudah pandai tersirap melihat lenggang dara manis, sejak jantungku jadi brengsek, jadi kurang ajar mendegup-degup tak tentu sebab cuma karena seorang gadis muda remaja mengadu mata dan tersenyum semanis madu. Aku tak tahu pasti seperti apa hubungan mereka, selain bahwa mereka masih begitu beradab di tahun-tahun Syariat Islam belum jadi euforia. Pria yang berwajah kampungan itu masih cukup kampungan – dalam kacamata manusia pro-kebebasan – untuk datang ke rumah pihak perempuan, dan sedia dipandangi oleh para orang tua dalam keluarga kami. Aku tak kenal pasti grafik stabilitas kemesraan mereka, selain mengendus aura yang tak kusuka dalam keluarga besarku di dua kecamatan yang berdekatan ini. Aura penghakiman “selayak apa kau bagi anak gadis keluarga kami?”

Dan itulah yang terjadi di kemudian hari. Ketika aku sudah mulai kuliah dan mereka sudah duluan sukses menggondol gelar sarjana, hubungan itu kandas. Kandas bukan karena rasa cinta dan mesra itu hilang. Tapi karena ada orang-orang tua di masyarakat kami ini, bagian dari keluarga besar pihak kakak sepupuku itu, yang merasa Tuhan bikin darah mereka itu dari air telaga Al Kautsar di dalam surga, lalu semena-mena menggunting putus harapan dua anak manusia. Sesuatu yang baru kutahu saat aku pulang kampung di liburan panjang tahun ketiga perkuliahanku sendiri.

Alkisah, Pria Lewat 35 Tahun itu, dengan kebanggaan seorang anak dari keluarga tak berada dan tak punya kuasa tapi mampu bersusah-payah dapat gelar sarjana, datang mempersembahkan sekapur sirih seulas pinang untuk membuka madah. Membawa talam permintaan, berbingkiskan hasrat hatinya untuk menyunting bunga mekar di dalam jambangan. Sebentuk cincin hendak diserahkan sebagai tanda ikatan janji. Tinggi gunung tinggilah harapannya, tinggi langit lebih tinggi keinginan hatinya.

Tapi hatinya mesti rela, ketika ada orang-orang tua dalam puak dari ibuku itu, yang sudah terlampau tinggi menakar diri, tak berhati sikit pun mematahkan harapannya sampai tiga kali. Menolak secara halus, beradat dan berbudaya (oh, betapa menjijikkan eufemisme ini!) dengan cara menaikkan harga mahar yang tak mampu dibayar. Tiga kali adalah sebuah batas yang lazim diamini di sini. Keluarganya pun tahu diri, dan tak mau merendahkan diri merengek-rengek demi cinta Si Bujang yang “terbuai hati” itu.

Ketika aku mendengar ibu menceritakan itu padaku, rasa tak sukaku menjungkit-jungkit isi hati yang terpendam. Meski orangtuaku sendiri tak suka dengan keangkuhan purbakala begitu rupa, sehingga rumahku dulu, ruang tamu dan pekarangannya, adalah kursi dan taman sorga bagi dua orang muda itu; tapi mereka tak bisa apa-apa. Apa yang disebut adat dan kata putus dari penghulu adat dalam keluarga, masih meninggikan diri menginjak kepala. Kejadian itu menjadi salah satu sebab ketika tahun-tahun berlalu aku menjadi lebih sinis dan sarkatis pada kebijakan orang-orang tua. Orang-orang yang mulai saat itu sering kubantah-bantah kalau berdakwah. Mengatai mereka sebagai orang tak berhati, merasa suci, bertopeng agama dan pintar bicara soal pahala dan kehidupan Muhammad yang sederhana, bahwa Rasul datang untuk menghapuskan perbedaan, bahwa di depan Tuhan yang paling dinilai adalah ketaqwaan, sementara mereka sendiri menakar diri terlalu tinggi. Bukan hanya dalam budaya Jawa saja ada istilah bibit, bebet dan bobot yang memuakkan itu, bahkan di tanah ini, juga agaknya di setiap kolong langit, budaya feodal itu masih ada sepanjang dogma turunan bangsawan masih diwariskan bersama bayi-bayi yang lahir dari rahim yang darahnya tetap saja merah. Tetap merah dan tidak biru sama sekali.

Saat itu, sebagai mahasiswa yang sok idealis, ucapan itu terlontar sekali, dua kali, dan mencapai puncak jadi tawa sinis ketika orang-orang tua yang sudah tak bergigi tapi masih merasa dirinya sewibawa Macan Si Raja Hutan itu, merapatkan soal kakak sepupuku yang sudah lewat usia 30 tahun saat itu. Aku yang dilibatkan dalam pembicaraan mewakili orangtua laki-laki, enggan berlama-lama meletakkan pantat di karpet lebar tempat menggelar rapat. Bersegera meminta permisi ketika ucapan “…. mestilah ada yang layak dan patut baginya mesti kita carikan…” atau kalimat senada, terdengar angkuh menyapa gendang telingaku. Di bawah sorot tajam mata tak senang, aku ingat-ingat menjelaskan alasan sekaligus sikutan untuk mereka yang kira-kira beginilah,

“Maafkan Nek Angku, Pak Tuo, dan yang lainnyo, buken level ambo ikuik rapat urang-urang tuo bakuaso, katurunen urang bakuaso, urang kayo dari jamen pabilo. Ambo ko mantanglah paja ketek, mantang mudo. Ado karajo pulo mananti di toko. Tapi kalo mau juo mandanga kecek ambo, isuek-isuek pabilo ado laki-laki mikin, buken urang gadang lago puak kito, nandak maminta anak gadieh di keluarga kito, tulakken sajo. Bia acok kito duduek basamo lago ko, panieng basamo-samo memikiken monga Allah nakdo mangagieh calon yang elok lago Nabi Yusuf atau kayo bakuaso lago Nabi Sulaiman. Itu sajo…”

Note: Itu bahasa Aneuk Jamee, yang artinya kira-kira, “Maafkan Nek Angku (ini sebutan untuk orang yang sudah tua dan terhormat sehingga digelar Angku, dari kata Tuangku), Pak Tuo (Orang Tua di atas orang tua kita), dan yang lainnya, bukan level saya ikut rapat orang-orang tua (yang) berkuasa, keturunan orang berkuasa, orang kaya dari zaman entah kapan. Saya ini masihlah anak-anak, masih muda. Ada kerja pula menanti di toko. Tapi kalau mau juga mendengarkan ucapan saya, (maka) esok-esok kapan ada laki-laki miskin, bukan orang besar/hebat macam puak kita, hendak meminta anak gadis di keluarga kita, tolakkan saja. Biar sering kita duduk bersama seperti ini, pening bersama-sama memikirkan kenapa Allah tidak memberikan calon yang rupawan seperti Nabi Yusuf atau kaya (dan) berkuasa seperti Nabi Sulaiman. Itu saja…”

Dan aku berhembus dengan tawa puas tertahan-tahan. Berpura-pura kecut memasamkan diri saat dibilang tak sopan mengundurkan diri. Berlagak tuli dan berkelakar pada kaum ibu di ruang sebelah yang menggeleng-gelengkan kepala tapi – melihat wajah mereka menahan ketawa – tahu kalau ada ejekan dalam ucapan demikian. Kelakar bahwa anak muda sepertiku tak elok lama-lama menganggurkan diri soal perawan yang terancam usia, mestilah mencari uang banyak-banyak selagi masih muda, dengan kerja bagai budak agar kelak tak ditolak berkali-kali karena tak mampu bayar mahar untuk penebus harga diri yang digantang dengan takaran 24 karat.

Kehidupan memang sering tidak adil. Meski tidak selalu demikian, tapi aku tahu itu ada benarnya. Ketika di Medan itu, ketika aku bertemu Pria Lewat 35 Tahun itu, aku kembali merasakan hal yang sama, saat dia tertawa kecut dan menggosok ujung hidungnya dengan kikuk ketika aku bertanya sudah berapa anaknya. Pria Lewat 35 Tahun itu ternyata belum menikah sama sekali. Kentara dari cara dia penasaran padaku, lalu menanyakan kakak sepupuku itu, masih ada sesuatu “teragak-agak” di dalam hatinya sendiri. Hati orang yang mengasingkan diri ke kota Medan laksana lirik lagu Madah Kelana dari Orkes El-Suraya tahun 80-an. Pria Lewat 35 Tahun itu sungguh mengingatkanku pada lagu kasidah yang liriknya bertutur tentang orang yang menitipkan pesan dalam alunan suara azan pada siapa yang jauh, bahwa dia telah pergi dan usah ditanya apa sebab dia pergi menghindar, selain daripada dekat tapi merana elok dia pergi jauh mendengar; lagu tentang orang yang sudah dikecewakan hidup dan bila terkenang cuma bisa menatap bintang di malam kelam, yang merasa bahwa bila hidup adalah sungai dan kelak dia tak sanggup lagi berenang, maka akan direlakannya dirinya hanyut tenggelam.

Betapa Pria Lewat 35 Tahun itu – bahkan setelah lama aku tak bertemu dengannya – tampak kusut dan kurus, ada duka di raut muka, ada yang suram di bola matanya, membuatku terkenang-kenang padanya. Bahkan menjadi salah satu hal yang kututurkan pada adik perempuanku sendiri. Jangan pernah mengkhianati kesetiaan seseorang, karena selain itu akan menyakitkannya, hidup adalah perulangan yang boleh jadi akan kembali satu ketika nanti: sebagai bumerang yang menyakiti diri sendiri.

Hidup terkadang membuai-buai, membesarkan kepala membungkahkan angkuh di dalam jiwa. Boleh jadi aku sendiri ada sikap berbau tengik semacam itu, meski masih sebatas keras kepala dengan keyakinan pada benarnya pendapat sendiri. Sikap yang mungkin bisa kau endus dari postingan-postingan emosional, temperamental dan tidak mau kalah di blog ini ketika bicara soal Aceh seolah-olah aku mewakili segenap makhluk Tuhan di tanah ini. Tapi bicara soal hubungan antar-manusia, antar-sesama keturunan Adam dan Siti Hawa di muka bumi yang sudah menua-bangka ini, segala sikap yang congkak memberhalakan strata sosial, harta warisan turun-temurun, kemuliaan yang berjenjang turun bak anak tangga para bangsawan, cuma dan cuma karena dahuuluuu… daaahuluuuu sekaaalii… nun jauh di masa silam, di sini ada kerajaan kecil tak bercatat dalam Wikipedia di mana leluhur puak ibu itu ada mewariskan kemuliaan demikian, lalu jadi memukul harga diri orang lain, mematahkan pengharapan mereka yang tak berhak dipatahkan, maka itu – sampai detik ini – adalah perkara yang kubenci.

Jika aku membiarkan diri terseret kesombongan feodal seperti itu, atau kesombongan kapital karena usaha dagang keluarga lumayan maju, maka hidup tak akan mengajariku apa-apa selain meletakkan Rupiah di sajadah dan memberinya sembah. Hidup tak akan pernah mengenalkanku pada lapisan-lapisan masyarakat ini, mulai dari mereka yang enak memperlakukan pembantu seakan dirinya itu sultan di abad pertengahan, hingga Cuk Ngoh, tukang becak yang biasa mangkal di depan gudang, yang kemarin sore datang ke rumah dengan baju oblong SBY ber-Boedi, sisa hari-hari Pilpres penuh obralan janji yang sudah kumuh di badannya. Datang sepulang mengayuh rezeki, demi mengundang kami sudi ke rumahnya di desa arah bukit sana untuk sekedar mencicipi kenduri pernikahan anak perempuannya hari sabtu malam minggu nanti. Undangan tanpa surat bercetak yang biasanya begitu romantis, wangi dan dengan naifnya disisipkan jiplakan ayat Al Quran soal kesengajaan Tuhan menciptakan manusia berkaum-kaum, berpasang-pasangan, dan taqwa adalah nilai manusia di mata Tuhan, tapi ada pula di sana segala titel dan pangkat kedudukan dunia seakan itu penting diketahui khalayak ramai, sehingga bisa diduga-duga semegah dan sepenting apa pesta orang berpangkat dan terhormat.

Apa yang mau dikejar-kejarkan benar dari dunia yang berputar macam roda becak ini? Semuanya persis sama seperti nyanyian Rafly, penyanyi Aceh yang paling dikenal saat ini, dalam lagu “Ateh Bawah” berbahasa Aneuk Jamee begini:

Tangah kayo lah iyo dakek awak
Kalo lah mikin lah bacighik mato
Baborai

(Ha! Ba apo nandak awak lawen?!)

Kadang lah kadang bisa tasapo
Sawah tagadai habieh balanjo

Hiduik umpamo roda yang baputa
Sakali ka ateh sakali ka bawah
Kalo haghi ko awak yang didanga
Baisuek pagi kanai papeu-ah…

Usah panieng, Mak Uning, Tamudo
Pikie hiduik ko
Ado jo bagheh jo samba lado
Lah iyo… (Baa ghaso nyo tamudo?)
Cit alah iyo nien

Terjemahan:

Kalau sedang kaya memang lah orang dekat ke kita
Kalau sudah miskin, kotor di mata
Berburai (karena menangis)

(Ha! Macam mana hendak kita lawan?)

Kadang lah kadang bisa-bisa terkena (bujukan)
Sawah tergadai habis dibelanjakan

Hidup umpama roda yang berputar
Sekali ke atas sekali ke bawah
Kalau hari ini kita yang didengar
Di esok pagi kena (kita) disanggah

Usah pening, Mak Uning, Orang Muda (sebutan untuk semenda yang lebih muda)
Memikirkan hidup ini.
Ada saja beras dengan sambal lada
Sudahlah iya (benar)…
(Bagaimana rasanya Orang Muda?)
Memanglah sudah iya (benar) demikian…

Ah ya, sudah terlalu ngawur kontemplasi nggak jelas ini. Semoga dengan mendengar lagu itu yang bisa dicopet dari simpanan anak-anak kampungku ini, mungkin bisa menyegarkan harimu, Kawan, selepas penat membaca bacotan ini. Kujamin ini lagu daerah yang unik, rentak musiknya asyik, dengan bahasa mirip bahasa Minang campur Melayu, serta vokal dan perkusi bernuansa etnik yang ciamik.

*menggudangkandiri.com*

19 thoughts on “Status Sosial Dan Roda Becak

  1. Fyuh… panjangnya, terengah saya. Tapi entah kenapa membaca cerita dari lelaki umur 35 itu saya seperti sedang membaca buku diary bertahun lalu ketika masih tinggal di Palembang.😦

    Eh, soal kau, lantas kapan kau ajak Almas-mu nikah?😆

  2. pertama membaca… terenyuh… semoga nasibmu ga begitu duhai si empunya blog…

    kedua.. hoi zink,.. mau dibunuh kau itu ???
    *asah parang pattimura lagi*

  3. *menghela nafas*
    panjang, dan perih ..
    kalo boleh berlebai disini.. pelukan yok mas…
    *buru-buru kabur sebelum kena asahan parang pattimura cemburu*

  4. Impressing story🙂

    .

    ^

    jadi… wanita seperti apakah yang akan mampu menggetarkan, dan mampu membuatkan kopi yang enak buat Bro Alex?😆

  5. @ qzink666

    Fyuh… panjangnya, terengah saya.

    😆

    Aku nggak bisa menahan tangan kalau sudah menulis. Kontemplasi kebablasan:mrgreen:
    Jadi kenak semprot sepupu yg baca ini, maklumlah… aib family katanya😆

    Tapi entah kenapa membaca cerita dari lelaki umur 35 itu saya seperti sedang membaca buku diary bertahun lalu ketika masih tinggal di Palembang.😦

    Ada kisah yang sama begitu?😯

    A…aku… aku minta maaf jika ini membuka luka hatimu yang lama Betharia Qzinksonata…😥

    Eh, soal kau, lantas kapan kau ajak Almas-mu nikah?😆

    Bukannya semalam kau minta beliau punya number itu karena mau berpoligami?😆

    @ almascatie

    pertama membaca… terenyuh… semoga nasibmu ga begitu duhai si empunya blog…

    Amen to that!😆
    Memanglah, Bro. Adat itu tidak melulu bagus, terkadang jadi kejam merajam-rajam perasaan😀

    kedua.. hoi zink,.. mau dibunuh kau itu ???
    *asah parang pattimura lagi*

    *ikut bikin pistol rakitan dengan mesin bubut*

    @ Haziran

    *menghela nafas*
    panjang, dan perih ..

    Dejavu?😛

    kalo boleh berlebai disini.. pelukan yok mas…
    *buru-buru kabur sebelum kena asahan parang pattimura cemburu*

    Jyaaah…. ada lagi yang fetishnya aneh😆

    @ Zephyr

    jadi… wanita seperti apakah yang akan mampu menggetarkan, dan mampu membuatkan kopi yang enak buat Bro Alex?😆

    😆
    Ditanya begitu jawabannya: Tak pasti.
    Pilihan terkadang nggak sepadan dengan pikiran hari ini. Perasaan itu kan sering nggak logis, maka kriteria yang sudah dibikin bisa saja terdobrak, cuma karena senyum manis, misalnya:mrgreen:

    Tapi gini deh: Siapapun dan bagaimana pun calon itu adanya, mestilah dia memiliki rasa simpati pada orang lain. Nilai menjadi manusia itu adalah memahami kesusahan orang lain, dengan begitu ia akan memahami kesusahan hidup dan kesusahan hati pasangannya. Kalau sudah dapat begitu, kopi pahit pun tak perlu repot-repot kita kritiki😆

  6. Tapi gini deh: Siapapun dan bagaimana pun calon itu adanya, mestilah dia memiliki rasa simpati pada orang lain. Nilai menjadi manusia itu adalah memahami kesusahan orang lain, dengan begitu ia akan memahami kesusahan hidup dan kesusahan hati pasangannya. Kalau sudah dapat begitu, kopi pahit pun tak perlu repot-repot kita kritiki

    Saya yakin Almas mampu melakukan itu untukmu, bro..😀

    Ingat, lelaki yang konon tampan berumur 28 tahun tapi tak punya cewek itu kemungkinannya cuma dua;

    Dia homok
    Dia pemalas

    Kau yg ketika kubilang aku sedang makan sama SPG cantik ber-rok 2 centi di atas lutut, tapi tak bereaksi apapun itu sepertinya karena kau memang homok..

    *ngumpet di ketiak istri*

  7. @ Bang Alex | Om qzink666 | Om Almas
    *Mendengar dengan seksama*
    Ah rupanya di sini ada diskusi publik tentang bagaimana melihat kriteria memilih bini yang cocok, dan supaya tidak terjerumus pada dua kemungkinan yang barangkali boleh dipertimbangkan hehe😀

    *peace brurrrr….!*

  8. @Qzink

    Ingat, lelaki yang konon tampan berumur 28 tahun tapi tak punya cewek itu kemungkinannya cuma dua;
    Dia homok
    Dia pemalas

    Homok itu haziran, pemalas itu aku, malas mengejar perempuan =)) *alesyan*

    @Alex

    Pilihan terkadang nggak sepadan dengan pikiran hari ini. Perasaan itu kan sering nggak logis, maka kriteria yang sudah dibikin bisa saja terdobrak, cuma karena senyum manis,

    atau karena avatar dipesbuk sanah yang direproduksi oleh kelamin photosop sanah sehingga si gadis pun berubah menjadi lebih “kuno, antik” dan “tanpa pori” yang membuatnya mulus bak kulit batang pisang bagian dalam, begitukah bro..

    @Mr. Eldani

    Hidup terkadang membuai-buai, membesarkan kepala membungkahkan angkuh di dalam jiwa.

    bacalah quote alex itu bro, jangan kau terbuai dengan omongan para lelaki laknat ganteng2 dan cantik2 diatas itu *peace*

    *mbales kok kayak yang punya blog ae*
    hahahahhaha

  9. @ bajink666

    Saya yakin Almas mampu melakukan itu untukmu, bro..😀

    Bah! Kalau soal bersimpati pada orang lain, itu yang pada komen sama orang yang tertindas pasar bebas juga bisa kau jadikan opsi. Ngapain kau mesti kejar2 anak Maluku itu? 😆
    Atau karena kau tahu memang pemakai kartu merah dari operator terbakhil se-Indonesia itu??😆

    Ingat, lelaki yang konon tampan berumur 28 tahun tapi tak punya cewek itu kemungkinannya cuma dua;

    27 …. 🙄

    Dia homok
    Dia pemalas

    Pemalas… 🙄

    Kau yg ketika kubilang aku sedang makan sama SPG cantik ber-rok 2 centi di atas lutut, tapi tak bereaksi apapun itu sepertinya karena kau memang homok..

    Aku tak bereaksi apapun karena sudah nista mereka dalam bayanganku, sudi digombali pria beristri-tua-bangka-dan-sedang-tertindas-pasar-bebas😆

    *ngumpet di ketiak istri*

    Gyahahaha… makin simpati aku sama SPG-SPG itu… pria yang sembunyi di ketiak bini??😆

    *dikemplang honda yahama*

    @ Mr.El-Adani
    😆

    Tidak serumit itu benarnya, Bal. Perasaan seringkali mengalahkan logika. Ada orang yang dikasih tahu temannya bahwa orang yang sedianya sedang dipertimbangkan tidak cocok, karena si calon itu agak suka hal-hal mewah, tapi dia melawan dgn alasan: Karena aku memilih… Lihat? Manusia sering nggak pake otak kalo sudah kena cinta😆

    Jadinya Iqbal kapan ini? Jangan ikuti senior-senior ndak jelas yg cuma pintar piara rambut atau bercinta dengan proxy, coba tanya salman pulak… wakakaka…

    *dibunuh lajang2 bungker*

  10. halah.. kaco quotenya.. tulung si empunya blog ini untuk memperbaiki…

    *ndak bisa membayangkan kalo orang2 diatas ini kopdar satu meja dipulau ligitan*:mrgreen:

  11. @ almaswatiecatie
    😆

    Wakakaka… Kenak perempuan berpenampilan ndeso, berkerudung, berbaju kurung macam gadis kampung, senyum manis, memanglah bisa bikin perasaan terbuai-buai. Macam dunia sudah tak ada sengketa, sudah total damai😆

    Ini kok jadi pada ngomongin pasangan sih😆

    Nikmati saja lagu itu. Kalau ada cakap yang tak difahami, boleh ditanyakan. Di penghujung lagu itu ada monolog berkelakar begini:

    – Batambah hebat taruih!
    – Iyo… yo…yo…yo…
    – Awak kece-an dikacibieh nyo awak…

    Artinya:

    – Bertambah hebat terus! (Pada orang yang lupa diri karena sedang diatas)

    – Iya… ya…ya…ya… (Yang di-kick tak peduli, macam khalifah (iya, khalifah, bukan kafilah) berkuasa yg terus berlalu)

    – Kita bilangkan dicengirkannya kita…. (nada putus asa tapi masih ketawa)

    Itu monolog memanglah kenak rasanya😆

  12. Ping-balik: Pablo Neruda: If You Forget Me « Ize of the World

  13. Jadi nasib adikmu akan kau serahkan pada sang politisi?

    Lex..
    Aku postkan di fb ku ya..
    posting duluan, approval belakangan…:)

    jenguk komen teman2ku ya di fb, pasti mereka terpana dengan postingan mu ini.
    email : neuneuk@yahoo.com
    tak tunggu..

    Salam

  14. @ musafir

    Jadi nasib adikmu akan kau serahkan pada sang politisi?

    😆

    Nasib tiap jiwa itu ada dalam tangan individu masing-masing dan apa kehendak Allah saja. Jadi aku tak berhak serah-menyerah. Aku cuma provokator dalam keluarga ini, Bang😆

    Ah ya… sebenarnya aku kurang setuju. Sudah tercium-cium pula olehku ini akan difitnah pernikahan bau-bau politik. Karena di sini, kaum kerabat itu yang tua-tua, sudah macam ular melingkar-lingkar pula. Sementara yang muda-mudanya, banyak yang sok idealis. Entah akan bertahan berapa lama. Macam satu ponakan yang sok ribut-ribut cari masalah sama bupati dalam satu dialog. Lalu karena mungkin mengira sudah cukup idealis, naiklah dia maju dalam pemilu di bawah partai Prabowo. Kami berpencar-pencar, ada yang naik ada yang tidak. Intinya sama saja: sok idealis karena mentang-mentang masih muda😆

    Jadi benturan dua generasi ini, antara yang sudah merasa banyak makan asam-garam kehidupan dengan yang muda yang sok menggarang-garangkan diri, macam matahari itu bersinar untuknya saja, peduli dapat gelar pengkhianat marwah ahli-famili.

    Maka karena politik itu ambigu, dan orang sering dipaksa untuk menelan ludahnya sendiri dalam politik, aku punya sikap skeptis. Benar, hubungan personal dan institusi tak boleh dicampur aduk. Tapi, Bang… juniorku ini adalah anggota dewan termuda se-Indonesia (setahuku). Sampai saat ini masih cukup stabil menahan nafsu, dia juga cukup merakyat dengan menjadikan mobil plat merah kehormatan anggota dewan untuk dinaiki orang-orang desa, tapi panggung politik itu bukan sekedar menjadi demonstran dan aktivis lalu bisa maju ke depan dan mengubah semua segampang membalik telapak tangan. Dia sendiri, yang dulu pernah mendemo adipati di sini, dengan aksi mogok makan segala, kena batunya dan bikin aku ngakak saat adik-adik angkatanku bilang akan mendemo dia. Oke, kasih dia pelajaran dunia bukan dilihat dari satu mata saja. Kenaklah dia didemo pas di hari pelantikan. 😆

    Hidup ya begitulah. Sekali di atas sekali di bawah. Aku juga akan menanyakan padanya, apakah karena dia berpikir akan mendapat proyek dalam lima tahun ini lalu mau menikah cepat-cepat? Kejayaan tak akan lama, Bang.

    Aku belajar dari ahli famili sendiri. Tidak semua perangainya sebagus khotbah mereka yang semanis tebu di depan umat. Di berita-berita ini: mulai dari mantan kadis yang sudah kena mutasi, dan diam-diam tetap makan gaji buta sebagai dosen di PTN sementara dia menjabat kadis saat itu; ada pula yang sudah kena sepak dari posisi terhormat di satu dinas di sini, karena lenyap entah kemana dana bantuan nelayan lebih dari 3 tahun yang lalu (beritanya sudah tak ada di serambinews lagi, tapi aku tak akan lupa oknum yang masih kupanggil nenek ini).

    Dari kampung sini sampai luar propinsi sana, pertalian darah berjalin-berkelindan dengan orang-orang yang patut diberi su’udzon tidak amanah pada umat, apalagi pada keluarga. Jika Abang lihat kabar lawas soal pemberhentian sementara jajaran direksi PT Perkebunan Negara (PTPN) II terkait kasus penjualan aset tanah di Medan, Sumatera Utara milik perusahaan itu kepada Yayasan Nurul Amaliyah, maka salah satu dirutnya itu tak lain abang kandung ibuku sendiri, Bang. Pemberhentian sementara…. manis sekali kalimat orang pemerintah😆 Padahal mereka dicuci-tangankan, dan tidak ada yang benar-benar jadi tersangka. Hidup gemah-ripah loh jinawi dengan harta yang bisa beli rumah anak-anaknya, dari Medan, Bandung, Jakarta sampai Jepang dan Swedia. Pesta resepsi anaknya saja, sepupu perempuanku 4 tahun yang lalu, itu bikin aku geleng-geleng kepala: nyaris 1 milyar dengan host artis dari ibukota yang hidungnya acap muncul di layar kaca. Ongkang-ongkang kaki menikmati sorga dunia dengan golf, pelesir ke luar negeri dan sesekali pulang ke kampung ini untuk mencuci dosa dengan berlagak jadi orang kampung yang menyumbang sana dan sini😆

    Menjengkelkannya itu, mereka itu orang yang mukanya macam rajin disentuh air wudhu…

    Lagipula, aku lebih menghargai orang yang punya sikap dan kesetiaan daripada sebuah pangkat dan jabatan, setidaknya sampai saat ini. Itu pula yang kubilang sama adik. Dua-duanya sama baik, mungkin. Tapi… entahlah… aku sudah cukuplah melihat laki-laki di sekitarku jatuh jadi korban – biarpun bukan sahabat atau siapa-siapa – karena adat, karena ketakutan perempuan (maaf jika ini menggenaralisir) pada masa depan dan mudah mengundurkan diri dari ikatan lama, lalu berpaling pada the so-called 3 M: Menarik, Mapan dan Matang (seperti kata iklan). Atau karena agama, atau karena status sosial. Aku enggan menerima jika adikku sependek itu akalnya, atau juniorku yang sudah jadi orang terhormat itu juga jadi sempit pikirannya. Berilah waktu sedikit lagi, masih ada matahari esok pagi, bukan? Berlomba-lombalah dalam kebajikan, kata agama. Nah ini begitu pula mestinya jadi jantan: berlomba-lombalah membuktikan keberadaan diri, bukan sekedar emas 24 karat😀

    Lex..
    Aku postkan di fb ku ya..
    posting duluan, approval belakangan…:)

    Silakan, postkan saja. Mana tahu ada dosanakku pulak membacanya. Boleh adu urat-syaraf aku di sini. Pelepas lelah di gudang toko😆

    jenguk komen teman2ku ya di fb, pasti mereka terpana dengan postingan mu ini.

    😆
    Apa pulalah terpana, Bang. Cerita begini ini acap berulang-ulang di tiap generasi. Kebetulan ini kena jatahku, mungkin bertahun-tahun ke depan nanti, aku pula yang akan disanggah anak-anak generasi kemudian😀

  15. panjang sangat ceritanya bung Alex, baru tahu saya ini…
    saya cuma baca mukaddimah dulu, nanti dibaca lagi…
    apalagi ada bisik2 di luar kamar seperti menanyakan sesuatu tentang “kapan…”…😀

  16. Ping-balik: Sebuah SMS Teman: Lamunan Tentang Zaman Edan, Ronggowarsito Dan Kenaifan « Lapak Aksara

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s