Pablo Neruda: If You Forget Me

Gambar ini dijiplak semena-mena dari dunia maya

Ini salah satu sajak Pablo Neruda yang kusuka. Pernah pula kupostingkan versi terjemahannya Saut Situmorang di tumblrku sendiri. Sajak dari penyair kelahiran Chili yang pernah mendapatkan Nobel, yang lika-liku hidupnya berzig-zag dibawa nasib, dan membuatnya sering pula bicara soal tanah kelahiran dan pembebasan. Ah, pembebasan… sebuah kata berbau utopia warisan dari zaman Nabi Adam, seperti mungkin dipikirkan oleh seorang kawan dalam postingannya tentang Mite Sisifus karya Albert Camus. Utopia, karena mereka, Camus dan Neruda, bahkan tak pernah lepas dari romantisme hidup begini rupa. Seutopia cinta lah mungkin adanya …😀

Tapi bukankah utopia yang konyol itu yang membuat manusia mencoba betah di bawah langit yang sama, matahari yang sama, dan rembulan dengan sisi yang sama yang selalu kita lihat dari planet ketiga ini?  Percik-percik utopia yang serupa terasa saat Madonna membaca sajak itu dalam video di bawah ini.

Sajak ini memang elok. Meski dari segi bahasa aku cenderung lebih suka versi terjemahannya. Jika dari versi terjemahannya, aku suka dengan bait-bait begini:

Jadi
kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
sedikit demi sedikit aku akan berhenti mencintaimu.

Kalau tiba-tiba
kau melupakanku
jangan lagi cari aku,
karena aku pasti sudah akan melupakanmu.

Kalau kau pikir lama dan membosankan
angin musim
yang berhembus dalam hidupku,
dan kau putuskan
untuk meninggalkanku di pantai
hati dimana akarku berada,
ingatlah
hari itu juga,
detik itu juga,
aku akan melepaskan tanganku
dan akarku akan berlayar
mencari negeri baru.

Bau eksistensialis, aroma ego individualisnya, ada terasa-rasa di bagian ini. Mengingatkan pada gaya persajakan Chairil Anwar, misalnya dalam sajak Kepada Kawan di bait ini:

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam

Meskipun pada akhirnya sajak If You Forget Me ini, dengan malu-malu masih mengutarakan peluang harapan di bait-bait penghabisan, tapi apa yang menarikku adalah satu kesadaran bahwa kelak apa yang terasa di hari ini, akan pelan-pelan dirapuhkan oleh waktu. Akan pelan-pelan memudar seumpama warna di kusen jendela, jika tak pernah diperbaharui, dipoles dengan kemesraan sehari-hari, seminggu-minggu, sebulan-bulan, warna-warni rasa di hati akan lenyap meski tak akan pernah hilang selamanya. Selain dari itu, ini sajak bicara soal pilihan.

Ah ya… aku memosting sajak ini dengan ingatan kepada postingan yang lalu. Postingan tentang pertemuan di bulan lalu di kota Medan, di bawah langit malam hitam-biru,  dengan orang yang mungkin (jika cukup suka sastra) akan merasa kena dengan sajak lain pula dari Pablo Neruda, Clenched Soul; sajak yang dalam terjemahan Saut Situmorang berbunyi begini:

Kita bahkan kehilangan senja ini.
Tak ada yang melihat kita jalan bergandengan tangan
sementara malam yang biru ambruk ke dunia.

Kulihat dari jendelaku
pesta matahari tenggelam di puncak-puncak pegunungan yang jauh.

Kadang sepotong matahari
terbakar seperti sebuah uang koin di antara tanganku.

Aku mengenangmu dengan jiwaku tergenggam
dalam kesedihanku yang sudah sangat kau tahu itu.

Di mana kau waktu itu?
Ada siapa lagi di situ?
Bilang apa dia?
Kenapa cinta mendatangiku tiba tiba
di saat aku sedih dan merasa kau betapa jauhnya?

Terjatuh buku yang biasanya dibaca setelah senja tiba
Dan mantelku tergulung seperti seekor anjing terluka di dekat kakiku.

Selalu, selalu kau mengabur lewat malam
menuju ke mana senja pergi menghapus patung-patung.

Too sweet? Terlalu romantis?🙄

Mungkin, romantisme memang mungkin sudah mati (suri) di zaman teknologi begini. Tapi… sesekali menghaluskan jiwa yang rentan diperkasar oleh kehidupan (dimana sosok ghaib bernama Nasib sering pula bermain kasar), dengan mencicipi karya seni bolehlah kau coba, Kawan. Salah satunya dengan merenung-renungkan sajak, bahkan yang bertema segombal cinta sekalipun jua. Semua yang konyol dan gombal dalam nalar, apa-apa yang tak rasional, boleh diputar-balikkan sesekali, untuk melihat hidup dari sisi lain. Ini seumpama kita menjenguk mimpi dalam tidur, seperti bocah habis lelah bermain mencari lelap di pangkuan emaknya. Menghibur-hiburkan jiwa, Kawan, sebelum kita (bisa saja) dibikin gila oleh kehidupan singkat di dunia fana ini😀

15 thoughts on “Pablo Neruda: If You Forget Me

  1. Pertamax…:)
    “Tapi… sesekali menghaluskan jiwa yang rentan diperkasar oleh kehidupan (dimana sosok ghaib bernama Nasib sering pula bermain kasar), dengan mencicipi karya seni bolehlah kau coba, Kawan. Salah satunya dengan merenung-renungkan sajak, bahkan yang bertema segombal cinta sekalipun jua”

    Sepakat bung..
    Senantiasa mesti ada jeda..
    Waktu dimana kita mengasah rasa..
    Agar jiwa dapat kembali menemukan makna..
    Apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari kehidupan nan fana..

    Seandainya aku lebih dahulu menemukan sajak Neruda ini..
    Mungkin akan lebih mengena pesanku padanya..
    (dia yang pernah hadir pada suatu ketika)..
    Bahwa tanpanya..
    Aku tetap dapat manjalani kehidupan..
    dengan keberanian siorang petualang..

    Salam

  2. Sajak yang terlalu romantis jika hanya untuk ditujukan pada sesama jenis..😆

    Meskipun pada akhirnya sajak If You Forget Me ini, dengan malu-malu masih mengutarakan peluang harapan di bait-bait penghabisan, tapi apa yang menarikku adalah satu kesadaran bahwa kelak apa yang terasa di hari ini, akan pelan-pelan dirapuhkan oleh waktu. Akan pelan-pelan memudar seumpama warna di kusen jendela, jika tak pernah diperbaharui, dipoles dengan kemesraan sehari-hari, seminggu-minggu, sebulan-bulan, warna-warni rasa di hati akan lenyap meski tak akan pernah hilang selamanya. Selain dari itu, ini sajak bicara soal pilihan.

    Ah, kau cuma menang dalam teori, tapi prakteknya begitu ketemu lawan jenis kau diam serupa tunggul. Tidakkah kau tahu bahwa fungsi pe*is itu bukan cuma untuk kencing sahaja?😀

    *ngibrit sambil koprol*

  3. @ musafir
    😀

    Aku karena dibesarkan sama buku-buku sastra lawas, maka mungkin jadi berpikiran begitu, Bang:mrgreen:

    Tapi ya banyaklah faedahnya. Banyak gunanya itu… jadi tempat rehat kalau otak sudah penat, seumpama musik😀

    almascatie

    Bah!

    Bukannya jadi anarki itu mestinya tak punya ketaatan pada sistem, bahkan pada kata anarki itu sendiri?😆

    @ qzink

    Sajak yang terlalu romantis jika hanya untuk ditujukan pada sesama jenis..😆

    Maafkan jika sudah melukai hatimu… Memang ini tidak ditujukan untukmu adanya *ngakak*

    Ah, kau cuma menang dalam teori, tapi prakteknya begitu ketemu lawan jenis kau diam serupa tunggul.

    😆

    Aku sudah kenal cukup banyak perempuan sepanjang hayatku, sampai petaka 2004 itu merenggut kesukaan hidup dan bikin aku pernah sinis sama hidup dan Tuhan sekalian dulunya. Dari semua perempuan yang datang dan pergi itulah teori begini lahir. Hidup memang sering konyol. Pernah ketemu perempuan yang bersumpah akan tahan lama hidup dengan mahasiswa yang sok-sok (kalau istilah di zaman mahasiswa dulu) bunuh diri karakter dengan menggembel-gembelkan diri? Percayalah… Chairil Anwar ada benarnya, tidak semua perempuan mampu mengatasi keterharuan penghidupan yang akan dibawakan padanya. Bahkan keterharuan penghidupannya sendiri boleh jadi dia tak tahan. Terharu melihat sepatu mengkilap di etalase. Terharu melihat kerlip lampu MacDonald. Terharu melihat tas Dolce-Gabbana. Lalu cukuplah dia terpana pada angan-angannya untuk mengabdikan hidup sesederhana Ibu Maria Theressa… 😆

    Atau… bagaimana kalau kau diremehkan di awalnya karena dituduh kere bin sekarat hidup melarat? Lalu…. berubah karena segala status warisan turun-temurun yg justru kau ketawakan, dimana sikapnya berubah semanis gula dari PTPN 2 Tanjung Morawa?😆

    Every beginning has the end. Setiap hubungan itu pada hakikatnya adalah the beginning of the end. Tergantung cara menikmatinya saja.

    Aku sudah jemu. Seriously. Idealist-wannabe? Boleh jadi. Salah nenek-nenekku juga dulu, mengajarkan soal mencari perempuan, bukan mencari betina. 😆

    Perempuan, Bro. Dari kata Melayu kuna: Empu yang dipertuan. Yang layak disanjung dan dihormati. Yang punya sikap dan bukannya malah kebingungan dengan dirinya sendiri. Yang punya sikap dan bukan wanita alias wani ditata, patuh diatur-atur begitu saja😀

    Tidakkah kau tahu bahwa fungsi pe*is itu bukan cuma untuk kencing sahaja?😀

    *ngibrit sambil koprol*

    😆

    Aku 1000x lebih bagus coli sampai p*nis mati suri, atau mencari lonte saja sampai kena raja singa, daripada mencari perempuan peneman hidup cuma karena setumpuk daging berklitoris di selangkangannya itu. Atau bahkan mungkin macam berita detik kemarin: Jika ada internet, buat apa menikah? Haaa! Boleh jadi pulak itu 😆


    Yang sekarang saja jauh di mata dekat di hati… Itu juga kalau perangainya tak nanti macam perempuan2 biasa kukenal: Bak nyiur melambai, kemana angin berhembus ke situ dia terkulai….

    *siap membantai bungkus rokok kedua*😎

  4. @ Jiwa

    Ehkampret! Masih bernyawa kau jam segini?😆

    Telan sajalah protes itu. Resikomu dikasih nama terlalu nasional: Jiwa. Haaalahh…😀

    Camana…. sudah kau kaji-kaji, sudah kau baca? Status sosial, Wa… Memanglah kabupaten awak ini sudah maju, bukan? Asal berpangkat, anak TK pun akan disapa “Pak”. Ohhh… donya oh donya ka akhee.. Bak lheeu ibadah teuma, Teungku😆

    Awak kece’an dikacibie nyoe, kata Rafly😆

  5. Br selesai q baca..mf,tp aq gk brmksd apa2 mnceritakan mslh pribadi aq wak..

    tulisanmu benar..anjing tetap anjing walau d beri mahkota..

  6. @ Jiwa

    Tak apa-apa. Kebetulan saja awak masih sehaluan pikiran di sini. Kalo masih sama mengeras-kepala pikiran awak, bahwa sudah biasa umat di sini dengan anjing bermahkota, yang sayangnya boleh jadi itu kerabat wal sahabat awak sendiri, maka tahan-tahan badan sajalah jadi public enemy

    *aimakjang! macam apalah awak ini*😆

    Yang muda jarang-jarang bisa stabil, kalau goyang iman, akan berat memikul amanat. Salah-salah jadi pengkhianat ucapan sendiri, apalagi pada umat.

    Yang tua, kelewat stabil pulak: Jadi kalo menipu umat, masih bisa dia naik ke mimbar jum’at untuk kasih dakwah dengan wajah tak berdosa. Cerah, secerah bulan purnama sepenggalah 14😀

    Apapunlah…. Kita ini kritikus warkop Ogek atau warkop Dolles, Brader. Letaknya saja di sudut, sudah tersudut ditagih ikut serta berperangai yang serupa menuntut😆

    Esok sudah boleh kau bikinkan blog pulak. Daripada tertungging, elok tumpah. Daripada retak, elok pecah. Aib daerah jangan ditutupi, biarpun itu soal marwah famili, handai taulan, adat atau pemerintahan. Ha! Kau bantulah menuliskannya. Ada cocok kau rasa?!:mrgreen:

    *Ah, tidurlah aku dulu. Telat subuh alamat diceramahi Mister Haji aku nanti* 😛

  7. Okeh broer..

    jauh brjalan bnyak d liat..sering bekopi bnyak mnghujat..

    cm mnghujat yg qt bs broer..tak punya apa2 mmg qt utk brbuat..

    :((

  8. @ Alex
    .

    Bau eksistensialis, aroma ego individualisnya , ada terasa-rasa di bagian ini. Mengingatkan pada gaya persajakan Chairil Anwar, misalnya dalam sajak Kepada Kawan di bait ini.

    .
    ingat nasihat si Ekong Lex ciri utama The Noble Soul itu tiada lain adalah watak egois dan individualis.
    .
    “hai mahluk berpenis janganlah engkau menjerumuskan dirimu ke dalam lembah inferioritas…!!!” 😆
    .

    Jadi
    Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
    Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
    Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
    Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
    Jangan tambatkan pada siang dan malam

    .
    ah kalau versi awak itu kayak begini Lex :
    .
    sulutlah apa yang ada di dadamu lalu hancurkan..!!!
    bakarlah segala pecahan itu lalu musnahkan..!!
    namun pastikan bahwa hanya kaulah yang eksis…!!!
    dan tidak untuk yang lain

    .

    Meskipun pada akhirnya sajak If You Forget Me ini, dengan malu-malu masih mengutarakan peluang harapan di bait-bait penghabisan, tapi apa yang menarikku adalah satu kesadaran bahwa kelak apa yang terasa di hari ini, akan pelan-pelan dirapuhkan oleh waktu

    .
    yang layak untuk musnah biarkan musnah Lex tak perlulah kita sesali, tangisi apalagi diratapi sebab yang kekal akan tetap abadi. jadi masalahnya ada di mana?
    .

    Selain dari itu, ini sajak bicara soal pilihan.

    .
    jangan pernah serahkan dirimu pada pilihan…!!!
    tapi pilihlah pilihan itu dengan segenap keutuhan dirimu..!!
    pilih lalu jalani ,lantas konsisten, persetan dengan segala resiko..!!
    mati dan kematian itu bukanlah masalah jika kita masih tetap hidup😆
    .

    Mungkin, romantisme memang mungkin sudah mati (suri) di zaman teknologi begini. Tapi… sesekali menghaluskan jiwa yang rentan diperkasar oleh kehidupan (dimana sosok ghaib bernama Nasib sering pula bermain kasar), dengan mencicipi karya seni bolehlah kau coba, Kawan

    .
    wkakakaka…😆 romantisme yang sebenarnya itu bukan menye2 kayak gini dude..!!😆 , romantisme itu ada ketika kita masih sanggup menari dan berdansa dengan kematian..!! :mrgreen:😆
    .

    Salah satunya dengan merenung-renungkan sajak, bahkan yang bertema segombal cinta sekalipun jua

    .
    kalau orang itu masih belum mengerti bahwa cinta itu sebatas sperma yang muncrat gara ejakulasi dini😆 atau klitoris yang mengejang gara multi orgasme😆, sepertinya akan terus diperbudak , dipergoblok , diperkontol oleh sesuatu yang dinamakan tinja cinta. tempe tahu yang mulia itu karena telah faham sesuatu yang hina. moso gak bisa membezakan..?:mrgreen: 😆
    .
    ahhh malu awak ini😳 atas kaum sesama jenis yang loyo dan sempoyongan gara2 masalah beginian😦
    .
    .
    .
    .
    .
    kasih Alex empat bungkus “dua tiga empat” biar tambah nikmat :mrgreen:

  9. @ Alex lagi
    .
    .

    tulisanmu benar.. anjing tetap anjing walau d beri mahkota..

    .
    .
    Jadilah anjing srigala yang jenius Lex…!! anjing srigala yang tahu cara menyembuhkan dan memurnikan dirinya sendiri 👿
    .
    jangan jadi manusia Lex…!! sebab akhir-akhir ini aku cukup kesulitan membezakan antara manusia dan kera dungu yang tak tau diri:mrgreen:
    .
    bahwa seluruh manusia itu tiada lain adalah monyet bahkan lebih monyet dari pada monyet.😆
    .
    .

    .
    .
    .
    lagu “menye” di atas saya hadiahkan khusus buatmu sobat \m/ 😉

  10. @ G3mbel

    ingat nasihat si Ekong Lex ciri utama The Noble Soul itu tiada lain adalah watak egois dan individualis.

    Ekong itu siapa?😆

    Tapi ucapan itu benar belaka. Watak egois dan individualis yang bikin manusia itu bisa milih: Mau jadi lembu seperti kritikan Nietzsche atau eksis sebagai diri sendiri meski nanti akan ditelan waktu juga dirinya itu😀


    “hai mahluk berpenis janganlah engkau menjerumuskan dirimu ke dalam lembah inferioritas…!!!”😆

    Amen to that.😆

    sulutlah apa yang ada di dadamu lalu hancurkan..!!!
    bakarlah segala pecahan itu lalu musnahkan..!!
    namun pastikan bahwa hanya kaulah yang eksis…!!!
    dan tidak untuk yang lain

    😆
    Percayalah, aku masih pemegang teguh dogma usang di sini:
    Daripada meutunggeng leubeh get roe
    Daripada crah leubeh get beukah

    Itu dogma usang di Aceh ini, artinya:
    Daripada miring-miring, elok ditumpahkan
    Daripada retak, elok dipecahkan😀

    yang layak untuk musnah biarkan musnah Lex tak perlulah kita sesali, tangisi apalagi diratapi sebab yang kekal akan tetap abadi. jadi masalahnya ada di mana?

    Yang akan musnah itu akan tetap musnah juga, disesali atau pun tidak. Diratapi atau pun tidak. Dalam filsafat kuno pun dulu ada faham bahwa hidup itu seperti aliran sungai, kau tidak akan pernah menyentuh aliran air yang sama. Demikian pula waktu.

    Masalahnya tidak ada, memang. Tapi belajar dari “kesalahan” masa lalu. Begini… karena misalnya kita pernah disakiti oleh urusan begitu rupa, kita bisa kasih warning ke adik perempuan😀

    Dalam hal hubungan begitu pula. Memang pada akhirnya semua akan binasa. Bung Oma Irama juga sudah bersabda dengan gitarnya soal itu dalam lagu “sekedarnya saja” utk urusan itu, di tema yang sama dengan “sedang-sedang saja”-nya Vety Vera. Tapi, brader…. orang sering kali menyesali sesuatu saat sesuatu itu sudah hilang dari hidupnya. Tidak dipiara baik-baik. Ini sebabnya ada yang tolol meminta balik atau merengek-rengek sesudah menyepak seseorang atau sesuatu dari hidupnya😆

    jangan pernah serahkan dirimu pada pilihan…!!!
    tapi pilihlah pilihan itu dengan segenap keutuhan dirimu..!!
    pilih lalu jalani ,lantas konsisten, persetan dengan segala resiko..!!
    mati dan kematian itu bukanlah masalah jika kita masih tetap hidup😆

    Benar. Sepakat😆
    Aku juga tidak menyuruh orang menyerahkan diri pada pilihan dalam hal ini. Tapi menjadi manusia itu memang masalah pilihan. Kalau dari sudut agama; Iblis dan malaikat itu sudah dipaku pada posisi masing-masing, mereka gak bisa memilih – dengan pengecualian Harut dan Marut yang diturunkan (dalam kisah agama) di Babylonia.

    Tapi bahwa dalam sajak itu, aku suka cara Neruda menyodorkan pilihan pada “entah-siapa-cintanya-itu” dengan cara meninggikan mutu. Itu umpama anak laki-laki bengal yang siap berantam disuruh minta maaf dan bilang, “Kalau kau minta maaf duluan, aku akan memaafkanmu..” Bisa dilihat?:mrgreen:

    Resiko dari pilihan itu memang harus dikunyah, pahit ataupun manis adanya😆

    wkakakaka…😆 romantisme yang sebenarnya itu bukan menye2 kayak gini dude..!!😆 , romantisme itu ada ketika kita masih sanggup menari dan berdansa dengan kematian..!!:mrgreen:😆

    Romantisme itu tidak punya sekat-sekat yang jelas yang mana menye-menye yang mana yang tidak😆
    Seriously, kriteria demikian itu subjektif. Romantisme ala Nietzsche melahirkan rezim Nazi yang justru tidak menye-menye sama sekali dalam sejarahnya. Sementara romantisme ala Marx melahirkan Komunisme Sovyet yg juga tidak menye-menye dalam sikapnya😆

    Romantisme itu sendiri aku lebih melihatnya sebagai sebentuk perasaan yang abstrak, yang sedikit banyak ujung2nya sama pula seperti pendapatmu: masih sanggup menari dan berdansa dengan kematian. Itu sebabnya aku masih bisa ketawa dengan hidup meski mengenang barisan mayat berlumpur di depan rumah kontrakanku😆

    kalau orang itu masih belum mengerti bahwa cinta itu sebatas sperma yang muncrat gara ejakulasi dini😆 atau klitoris yang mengejang gara multi orgasme😆 , sepertinya akan terus diperbudak , dipergoblok, diperkontol oleh sesuatu yang dinamakan tinja cinta. tempe tahu yang mulia itu karena telah faham sesuatu yang hina. moso gak bisa membezakan..?:mrgreen:😆

    I like your style😆

    Tapi yang membedakan manusia dengan ayam di belakang rumahku itu karena hal “menye-menye” di balik sesuatu yang hina bernama cinta itu. Sastra, musik, filsafat dan bahkan mitos-mitos, legenda dan agama itu dimanis-madukan oleh sesuatu yang memang boleh jadi pahit dan patut dihina kalau pengalaman hidup berbeda-beda dalam mengecapinya juga.

    Salah satunya ya perbedaan memandang cinta itu apa, sedikit banyak itu dilatari oleh dinamisnya kehidupan masing-masing lho. Nggak kebayang saja kalau dunia ini homogen memujanya atau homogen menajiskannya. Pastilah kita jadi homo semua😆

    ahhh malu awak ini😳 atas kaum sesama jenis yang loyo dan sempoyongan gara2 masalah beginian😦

    Jyaaah…
    Ini yang sempoyongan siapa?😆

    Aku ini terlalu prinsipil malah maka sampai dituduh frigid dengan perempuan di sini, brother😆 Aku tidak akan korbankan harga diriku untuk hal-hal sekonyol itu. Nothing to lose kalau urusan begini rupa. Hidup pada akhirnya cuma gelanggang belaka, satu menista dan lainnya gila bak sajak Di Mesjid si penyair yang mati kenak sipilis itu😆


    kasih Alex empat bungkus “dua tiga empat” biar tambah nikmat:mrgreen:

    😆
    Aku sudah tak biasa lagi dengan rokok 234 itu. Berdahak rasa kerongkonganku😆
    Sekarang sedang balik ke rokok Beruntung Strike😆

    Jadilah anjing srigala yang jenius Lex…!! anjing srigala yang tahu cara menyembuhkan dan memurnikan dirinya sendiri👿

    😆
    Obsesi kanak-kanakku dulu dua: Kalau tak jadi vampir maka jadi werewolf pun cukuplah sudah. Mungkin itu sebabnya aku masih suka film seperti Underwold yang sekuel ketiganya Rise of the Lycans😀
    Benar. Itu serigala yang survivalnya bagus. Tapi…. anjing serigala itu juga untuk menyembuhkan lukanya dia mesti bisa menengok luka itu. Tidak abrakadabra luka itu lenyap kalau tak dilihat dan dijilat-jilatnya dengan lidahnya. See?😆

    jangan jadi manusia Lex…!! sebab akhir-akhir ini aku cukup kesulitan membezakan antara manusia dan kera dungu yang tak tau diri:mrgreen:

    😆
    Justru itu yang membuat manusia itu jadi aneh dari zaman dahulu kala. Tidak berkeabadian, dan hidup dalam keterasingan dengan cara sendiri di semesta raya. Menyapa kehidupan di luar angkasa dengan NASA begitu menye-menye-nya memancarkan lagu Accross The Universe-nya The Beatles. Konyol dan tolol sekali kiranya mengirimkan lagu ke alien yang bahkan mereka tak tahu benarkah ada atau tidak. Mana lagunya seolah-olah Ringo, George, Paul dan John itu macam sedang terharu pula. Tapi tetap dipancarkan. Kenapa? Karena ada “sesuatu” yang halus dalam jiwa manusia, yang membuat hidup itu lebih berseni, lebih terasa sisi manis yang mungkin menyedihkan mungkin pula menyenangkan, yang dicecapi sebagai sebentuk romantisme, bahkan meski itu dalam diri orang-orang serasional dan seilmiah mereka yang di NASA sekalipun.

    Manusia itu hakekatnya memang dungu. Dari hitung-hitungan untung rugi yang “lebih materialis”, kisah Adam dan Siti Hawa itu sendiri buah khuldi kedunguan yang digigit karena “akuh cintah kamuh dan kamuh cintah akuh… oh… setan bersabda, ‘hiduplah kalian dalam keabadian cintah di taman surga’ kekasihku… mari… mari gigit buah khuldi” … bukan begitu? Coba kalau tak ada rasa cinta dan saling percaya yang “dungu” itu, mungkin hari ini aku sudah ngenet dengan bandwith kelas surga firdaus, akses unlimited ke seantero semesta 😆

    Atau kisah lain. Alasan utama kenapa Ali Syariati, salah satu pemikir muslim Iran, hendak bunuh diri di satu malam musim dingin, di Estakhr-e Koohsangi yg katanya romantis di Masyhad, itu adalah karena terbawa romantisme konyol begitu rupa. Berada di jalan buntu filosofis, yang menurutnya hanya bisa selesai dengan bunuh diri atau jadi gila saat itu😀

    Atau Hegel… yang menerima idealisme Immanuel Kant dan memandang realitas sebagi produk dari kegiatan pikiran rasional, tapi justru jatuh cinta dengan adik perempuannya sendiri. Dia kehilangan the so-called rationalism saat berhadapan dengan urusan hati. Kalau cuma urusan klitoris, dia bisa jatuh cinta dengan perempuan mana-mana saja😆

    Manusia itu super: Super konyol. Bisa rasional dan sekeras baja di satu hal, tapi bisa lunak selunak ingus di hal lain. Kurt Cobain, Sid Vicious, bisa bukan main vokalnya teriak-teriak, seolah-olah orang pun akan mereka kemplang dengan gitar. Tapi lembek saat kenak urusan begitu rupa… lalu bunuh diri…😆

    Napolen, Si Cebol Kaisar Perancis itu, yang bisa anteng menunjuk mana-mana musuhnya yang sudah jadi tawanan perang boleh dipenggal kepalanya pake silet gede bernama guillotine macam orang mencencang bawang, tetapi bukan main menye-menyenya bersurat cinta dengan Josephine de Beauharnais si kekasih hati. Sampai bilang segala kalau dia sanggup kalah perang daripada kehilangan si jantung hati idaman jiwa😆

    Dan Pablo Neruda? Dia justru diusir-usir dari tanah kelahirannya, seperti Pramudya Ananta Toer, jsutru karena di sisi lain dia itu keras, di luar urusan cinta-cintaan itu😆

    Ah, self-suggestion dan self-manipulation manusia itu justru lebih hebat dari kemampuan menyembuhkan diri makhluk-makhluk lain, brother.😀

    bahwa seluruh manusia itu tiada lain adalah monyet bahkan lebih monyet dari pada monyet.😆

    Nietzsche, yang pada tahun 1882 menyimpulkan bahwa Tuhan telah mati, melakukan petualangan filosofis yang kemudian hari – seperti khasnya pemikir Jerman yang selfish – membuatnya beranggapan bahwa sebagian besar manusia adalah kawanan sapi, justru berpijak dari “cinta yang terlalu dalam” sehingga patah hati pada keyakinannya sebagai seorang Kristiani. The Origin of Species-nya Darwin, rupanya benar-benar dianggap serius olehnya. Sehingga akhirnya ia berasumsi bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Lalu diproklamirkannyalah nihilisme itu, meski pada kenyataannya ia sendiri tidak “menihilkan” Darwin yang “terlalu serius” pula mengeksiskan gagasannya😆 Maka nihilismenya itu, subjektif, karena berpijak dari titik pandangnya sendiri. Sesubjektif kita pula dalam hal ini😆
    Itu sebabnya nihilisme Nietzsche pun bisa kunihil-nihilkan pula:mrgreen:

    Ah, Metallica…. Aku suka lagu itu. Termasuk dalam daftar favorit selain The Unforgiven I dan The Unforgiven II😀

    Nb: Sebenarnya bahasan soal “anjing tetap anjing walau diberi mahkota” itu, soal perbedaan persepsi di kasus lain. Kalau kau di sana kesulitan membedakan manusia dengan kera dungu, kami di sini “sok kesulitan” membedakan manusia dengan anjing-anjing yang sudah berpakaian jabatan:mrgreen:

  11. Ah ya… aku jadi ingat: Ada proklamir kawan bahwa dia “memilih jadi materialis tulen daripada romantis kere yang tak keren”. Aku tidak pernah percaya dengan ucapan begini rupa, selain sebentuk denial belaka, manipulasi ego sendiri. Beliau mesti memotong biji pelirnya dan membunuh perasaannya sampai sehalus-halusnya, sehingga dia tak peduli dengan sengkarut di bumi ini. Dia bisa memandang orang mati bunuh diri di rel kereta api seperti memandang ayam dipotong di rumah pejagalan. Dia bisa memandang perilaku tengik aparatur negeri ini seperti dia memandang sinetron di layar kaca. Dan dia bisa cuek menerima kenyataan jika satu hari nanti emaknya mati digorok perampok karena perampok itu logis sekali kebutuhannya pada uang, atau ada saudara perempuannya tiba-tiba kena perkosa oleh 3 penegak moral yang sedang konak biji zakarnya. Tak ada alasan untuk marah, bukan? Semua itu konsekuensi dari sebuah kebutuhan material dan syahwat😆

    Dan saat di posisi sedingin itu menerima hidup, maka ada 2 label yang bisa disematkan: Tercerahkan atau gila😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s