Sekuel Yang Tertunda

Ada cukup banyak film-film yang pernah kutonton sejak kecil, sejak mengenal keajaiban sebuah empat persegi keliling yang diberi nama mantap: Layar tancap.

Sejak benda andalan pemerintah itu sering keliling kota kecamatanku ini hingga ke pelosok desa dan dusun, untuk mendakwahkan semua propaganda pemerintah yang dirasa perlu didoktrinkan ke dalam benak masyarakat, aku sudah merasa bahwa film adalah sebuah teknologi yang hebat. Lebih hebat dari layar kaca yang televisinya saat itu masih seperti peti pakaian, ada jendelanya untuk dibuka tutup dengan layar warna biru. Hebat, karena hidung dan bibir manusia di layar tancap itu jauh lebih besar daripada hidung mereka yang muncul di layar kaca. Ditambah speaker yang – meski cukup berisik – suaranya tinggi menggelegar. Mereknya pun cukup terkenal di seantero mesjid dan mushala: TOA.

Perkara isi film itu sendiri tiadalah penting bagi seorang bocah sepertiku. Jika kata kawan  ada diputar layar tancap di satu desa di luar kota kecamatan, rela bersama kawan-kawan aku ke sana mengayuh sepeda. Meski layar tancap itu cuma berisikan indoktrinasi pada umat yang sudah berkeluarga, tentang betapa pentingnya mereka menahan gairah seks untuk beranak banyak-banyak, dikarenakan mereka akan kesulitan satu hari nanti sebab masih miskin-miskin. Biasanya  film demikian diputar di kampung-kampung yang agak udik, yang isinya banyakan keluarga petani atau nelayan yang tidak berharta-benda seperti para camat, wedana, atau jenderal-jenderal yang boleh beranak macam penyu menetaskan telur. Sebagaimana umat tetap datang ke sana, aku pun begitu pula, biarpun adegan di layar tancap tentang eloknya keluarga yang “Cukup dua saja!” kemudian berganti film Pengkhianatan G 30 S/PKI, yang memperlihatkan betapa saran tersebut kiranya tidak berlaku bagi petinggi berpangkat, dimana anak-anak keluarga jenderal bisa bikin satu kesebelasan sepakbola.

Dari era 80-an itulah, hingga saat ini, aku menikmati film sebagai hiburan tersendiri. Terkadang lebih dari sekedar hiburan, bahkan menjadi pelajaran hidup. Film-film itu beragam temanya, beragam pula endingnya. Sejumlah diantaranya kucicipi sekedar pencuci mata saja, sejumlah lainnya dapatlah kumasukkan dalam daftar film-film yang (pernah) kusukai. Mulai dari trilogy Back to the Future yang kocak dan merangsang imajinasi bocahku itu, para koboi muda dalam Young Guns,  film aneh bernama Full Metal Jacket (karena perangnya kocak, tidak seheroik Rambo), Die Hard-nya Bruce Willis (yang entah berapa kali sudah kutonton), tak lupa pula Forrest Gump hingga ke film “agak-agak berat” macam A Beautiful Mind dan The Matrix.

Kebarat-baratan?

Tunggu dulu! Aku juga (pernah) menyukai beberapa film dari produk non-Hollywood. Dari Bollywood misalnya, tak lupa aku pada film drama percintaan, Kuch Kuch Hota Hai, yang pernah melejitkan nama Shahrukh Khan dan Kajol. Juga  Kal Ho Naa Ho, yang dipermanis wajah manis Preity Zinta itu😳

Dari Indonesia sendiri daftar itu tak sedikit, namun cukuplah diwakili oleh Tjoet Nja’ Dhien-nya Christine Hakim dan  Doea Tanda Mata-nya Alex Komang.

Nah, diantara semua film-film itu, yang kuanggap layak direnung-renungkan – terutama jika cenderung sok-sok-an berfilsafat – adalah The Matrix. Film ini termasuk film yang berkali-kali kutonton seperti bocah mengaji sehabis maghrib saja sejak terpana pada canggihnya film tersebut saat masih SMA. Dari trilogy-nya sampai tiga album soundtrack-nya kulibaskan sebagai koleksi tersendiri.

Tapi film tersebut sudah selesai. Pernah mendengar kabar akan muncul sekuelnya, yang tentu akan merusak sebutan The Matrix Trilogy, namun tak tahu apakah benar akan muncul sekuelnya atau tidak. Sekuel yang tertunda, mungkin. Namun, jika pun muncul sekuelnya, kuharap pemerannya bukanlah orang tolol seperti adegan di bawah ini, yang mungkin akan jadi adegan perulangan di sekuel nanti…

One thought on “Sekuel Yang Tertunda

  1. ada jendelanya untuk dibuka tutup dengan layar warna biru. Hebat,

    cih masih bocah pun sudah kau pantengin itu pilem2 biru… pantesan pecandu rookok.. hhahahhha..

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s