Musik Itu Romantik

Ada sebuah ucapan yang (konon) dipetuahkan oleh Oscar Wilde, salah satu quote maker di bumi ini yang kebanyakan mengeluarkan quote kuotasinya sering dijiplak semena-mena oleh insan lain agar tampak intelek karena mengenalnya. Termasuk di blog ini sendiri, tentunya.

“Music makes one feel so romantic-at least it always gets on one’s nerves-which is the same thing nowadays.”

Demikian lengkapnya bunyi kuotasi yang masih bisa diperdebatkan keabsahannya itu.

Namun aku tidak merasa keberatan untuk setuju, karena oh karena…. Ini tentang musik!

Musik, memang anugerah yang hebat di bumi ini. Kau bisa bayangkan orang hidup tanpa musik? Oh… dalam pandangan subjektifku, sungguh hampa rasanya. Tiada penghibur hati pengisi hari. Sungguh sepi… sepi sekali rasanya. Taruhlah apapun jenis musik itu, bagaimanapun formatnya, tipenya, perangkatnya, tapi jika tak ada musik… manusia mungkin akan sama belaka seperti belalang dan kupu-kupu, siang makan nasi cari rezeki malam minum susu tidur macam batu.

Aku menyukai musik sejak kecil, sama seperti aku menyukai sastra. Sebuah minat yang langka dan jarang-jarang dalam keluarga besarku di sini. Kusebut minat, karena bakat aku tak merasa punya. Namun dengan kata “minat” pun sudah cukuplah aku pernah merasa bahwa musik (sebagai alternatif sastra dan sebaliknya) boleh jadi pilihan untuk ditekuni selepas mengkhatamkan bangku sekolah.

Maka di tahun 2000, saat bersiap-siap minggat dari gerbang sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan basa-basi “Demi masa depan yang lebih pasti bersama segenggam ijazah terakreditasi!” (padahal lebih karena tergiring bersama kawan-kawan seperti sekawanan sapi), aku pun nekad menghaturkan sujud-sembah (ini hiperbola, sungguh!) kepada orangtua untuk melanjutkan pendidikan ke dunia seni. Apa daya… restu tak didapat sepenuhnya, meski tak dilarang pula.

Lain daripada itu, seperti pernah kututurkan pula di blog ini, sabda-sabda yang merasa lebih tua dan lebih pantas didengar karena sudah merasa kenyang makan asam garam kehidupan, masih jadi pertimbangan tersendiri untuk menentukan nasib yang lebih muda. Apalagi kalau itu kena orang muda yang seumpama balak enam turun di lapak domino, anak pertama. Terlebih lagi jika Si Balak Enam itu cucu laki pertama dari kedua belah pihak, mestilah dia belajar untuk bisa mengorbankan mimpi, demi menjunjung nama orangtua sebagai talam berisi pualam di atas kepala, di depan gerombolan lintas generasi dalam keluarga. Jadilah mimpi itu kandas, baik jadi sastrawan maupun jadi musisi…

*curcol*

Dulu sempat kubantah-bantahkan “ketidak-adilan” demikian.  Mencoba melawan-lawan alasan bahwa jadi orang yang lalai bermusik itu seperti penyair yang tidak terpuji dalam Qur’an. Memanglah benar, jauh berjalan banyak dilihat, jauh usia berbeda maka banyak bahan pula untuk berfatwa. Apalagi kalau sudah terakui bertahun-tahun duluan dia-dia itu mengaji, “Kau masih tak jelas dimana, orangtua saja masih kanak-kanak, kami ini sudah mengaji! Tak usah kau bantah lagi!”, maka habislah Surah Asy Syu’araa’ yang berisikan 227 ayat dari kelompok surat-surat Makkiyah dicatut untuk membenarkan penilaian betapa tak terpuji minat untuk menekuni dunia tercela, baik itu musikiyyah atau sastrawiyyah. Cuma karena ada disebutkan kata  asy syu’araa’ (bentuk kata jamak dari asy syaa’ir yang berarti penyair) pada ayat ke 224, maka menunduklah kepala rela mengalah, daripada dosa turunan karena membantah jadi terbalik nantinya: dari anak ke orangtua.

Tapi meskipun itu sudah berlalu, dan bisa dikenang-kenang dengan tertawa, rasa tak puas itu tetaplah menggelora di dalam dada. Setidaknya itu jadi pelajaran untuk berupaya memastikan agar nasib serupa tak kena di badan generasi berikutnya nanti. Lama kutimbang-timbang, bahkan saat semester satu berkutat dengan timbangan di laboratorium fisika kampus MIPA, tetap saja masih menyangkal aku pada sempit-sempit pola pikir demikian.

Agak-agaknya dalih agama cuma selubung saja, namun orientasinya lebih kepada marwah dan profesi berharta-benda ke depan nanti.  Sebentuk kultur warisan dimana umat lebih suka menerima manusia lulusan sarjana di luar dunia seni, yang bisa berseragam-berkantor dan rapi berdasi sebagai buah masak dari segenggam ijazah yang hakikatnya sama dengan lapik pisang goreng emperan jalan itu. Tak kaya mewah tapi juga tak miskin punah. Hidup lebih pasti, meski jauh-jauh kuliah lepas dari sekolah, baliknya jadi macam anak sekolah lagi: Wajib upacara pagi, absen, masuk kantor dari jam delapan sampai jam dua atau jam empat, dan pulang dengan hati riang menanti gaji di awal bulan depan yang setengahnya juga untuk menutup hutang.

Yang terpenting, selembar kertas yang bisa kau jadikan lap pantat atau lap nanah jika kena korengan, dan seutas tali mirip tali kerbau yang dipindahkan dari topi empat persegi di atas kepalamu dalam acara wisuda yang bergengsi itu, buahnya manis: Bisa ambil kredit pada lintah darat moderen yang sah dan resmi diakui negara, bernama Bank atau Koperasi.

Jadi sarjana seni? Sastrawan? Musisi? Bah! Miskin kau lahir batin, dunia akhirat!

Kira-kira demikian syak-wasangkaku.

Dan sore ini, dalam keisengan melayari internet selepas berpulang dari gudang toko ke kamar yang berbahagia, aku mencengir sendiri, menemukan persentase di bawah ini:

Jika ini kubingkai kaca dan kupersembahkan ke haribaan generasi tua yang mulia dan terbukti asin ucapanya itu,  setelah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, sungguh mereka akan bergirang hati. “Ha! Kau lihatlah! Benar kan kata kami! Orang Inggris saja sampai bisa bikin grafiknya!”

Padahal… seni bernama musik itu adalah anugerah alam. Sebuah hiburan di muka bumi. Sebuah bukti bahwa manusia bukanlah benda mati, bukan zombie yang cuma butuh daging segar untuk dimakan. Masalah rezeki adalah masalah penghidupan yang lain, bukan sebuah tolok ukur kebahagiaan yang sejati…

Buktinya, jika kuputarkan lagu lawas di mobil atau di rumah, dan ada terselip salah satu generasi tua yang percaya pada stabilitas hidup sebagai kacung ambtenaar, klerek dari bumiputera tahun 1900-an lulusan OSVIA (Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah Pendidikan Calon Pegawai Bumiputera); maka teragak-agak juga jiwanya. Kena lagu Sharifah Aini, Tiar Ramon, Ahmad Jais atau Elly Kasim, ha! Jauh mata beliau-beliau keluar jendela, sendu menerawang masa nan silam.

Sekeras apa jiwa mereka ditempa hidup di zaman perang? Seletih apa generasi tua mengunyah butir jagung macam umpan burung? Tetap ada sisi halus di lubuk hatinya yang tak tertanggungkan untuk ditahan. Kadang-kadang, dengan senyuman kecil, kuintai pula dari kaca spion, betapa bibir itu bergerak-gerak macam sepaham dengan duka Ahmad Jais yang berkisah tentang penantian tiap sore di simpang tiga titian, hingga sejuk senja dinantikan tapi si dia tiada datang. Jauh rasanya lagu Di Ambang Sore itu membawa mata-mata yang sudah lamur dihembus usia ke langit tinggi di luar jendela.

Musik, Kawan, seperti seni umumnya: Penghibur jiwa dalam hidup di dunia. Dari dan untuk siapa pun jua.

Bahkan Hitler, yang didakwa dalam sejarah sebagai salah satu orang yang bertanggung-jawab atas matinya jutaan manusia saat Perang Dunia Ke 2, suka pula dengan musik. Bahkan konon Hitler pernah bermain banjo untuk meningkatkan moral prajurit. Penampilannya yang rock n roll itu (lagi-lagi konon) dikomentarinya dengan penuh semangat, “Nichts mag eine gute Banjoschau, die Soldaten aufzupumpen!!” yang artinya “Tak ada yang menyaingi sebuah pertunjukan banjo untuk menyemangati para serdadu!!”

.

*Sebuah postingan ngelantur setelah sempat terbentur di situs yang tak bermanfaat sedikit pun jua, selain bikin ketawa*😆

16 thoughts on “Musik Itu Romantik

  1. 😆

    Jika kau ada tertarik dengan dunia jaringan internet, ada niat bisnis demikian, boleh kau padukan pula dangdut dengan dunia IT.

    Misal, menggarap bisnis RT/RW-Net sambil menyetel RT05/RW03-nya Cici Faramida, amboooy… amboooy…! Urusan crimping kabel dan setel-setel router tentulah akan lebih meriah rasanya😆

    Eiitts…. Tapi sebatas itu saja, jangan sampai segelas Kopi Dangdut-nya Fahmi Shahab jadi terasa sedikit asem karena berlanjut lagu menohok berikutnya: Jangan Tunggu Lama-lama dari vokal Indah Cici Faramida juga …

    *ngepel malam-malam*

  2. @qzink
    music bikin sahdu dibalik ketiak istri *makan kuwaci*

    @alex
    hwakakka.. ada temanku disini pernah ditolak cintanya hanya karna kerja sambil nyetel “benang biru” nya megy z, perempuan itu merasa ‘nek’ dengar dangdut sampai ga punya hasrat mengetahui temanku menyukai dangdut =))

  3. bahkan kadang musik bisa bikin terapi jiwa. meski kadang juga bisa membuat gila😎

    .

    .

    liat komen no 3 (punya Bro Alex) : Rupanya diam-diam kau penggemar Cici Paramida😆

  4. Jyaaaah…. masih ada yang menyampah juga di lapak emperan ini?😯

    Amboyy… amboyy… lalai awak sama utak-atik proxy, jadi lupa dengan komen-komen nan sexy

    *hatsaah*😆

    Let’s cekidot!

    @ almascatie

    @qzink
    music bikin sahdu dibalik ketiak istri *makan kuwaci*

    Sayangnya…. sudah telat pulak kubaca komen ini. Kalau tidak, tentulah kau akan kukirimkan bonus pulsa berikut panduan anyar merampok benwith kau-tahulah-BUMN-operator-simcard-merah-bakhil itu, sebagai tanda girang hatiku membaca komenmu….😆

    *dipijak-pijak Tuan Qzink*

    @alex
    hwakakka.. ada temanku disini pernah ditolak cintanya hanya karna kerja sambil nyetel “benang biru” nya megy z, perempuan itu merasa ‘nek’ dengar dangdut sampai ga punya hasrat mengetahui temanku menyukai dangdut =))

    Menyedihkan sekali nasibnya😕
    Cu….cuma karena mendengar mahakarya Meggy Z? Cu… cuma karena temanmu menyukai dangdut? ….. Dan… dan… perempuan menolak cintah???

    Bah! PEREMPUAN MACAM APA ITUH??!! *diucapkan dengan kemurkaan luarbiasa*😡

    Jelas-jelas sudah menggema diseantero jagat sebuah kredo universal: Don’t judge a book by its cover, yang dalam kasus ini bermakna “Jangan menghakimi seorang laki-laki dari dangdutnya”. Itu sebuah keangkuhan yang tercela. Sangat keji sekali….

    *lebbay*

    @ peri01

    musik adalah inspirasi ku
    salam

    Yup! Selain inspirasi, musik juga (dulu) mimpiku. Kurasa kalo bertahan sampai kini dan jadi inspirasi tiap hari, mungkin akan bertambah lagi: Musik sumber rejekiku….:mrgreen:

    *matre mode ON*😆

    Eh ya. Salam juga. Makasih udah tersesat kemari. Oh ya… namanya itu… hehehe… Sepertinya peri bersaudara ya? Peri02, Peri05 dan Peri08 mana?

    *ditabok*

    @ Zephyr

    bahkan kadang musik bisa bikin terapi jiwa. meski kadang juga bisa membuat gila😎

    …….🙄
    Musik memang Amrik….🙄

    Note: Amrik = USA = Standar Ganda = Ambivalen*


    liat komen no 3 (punya Bro Alex) : Rupanya diam-diam kau penggemar Cici Paramida😆

    😆 Main nuduh saja!😆

    Kalo nuduh jangan telak-telak gitulah! Nggak sekalian disebut Iyeth Bustami, Camelia Malik (Ohh… lagu “Wakuncar” itu sungguh hebat!)?? Cici itu bak gitar merek summer lho: Suaranya Merdu Merayu…. njiirrr….😆

    @ Emin

    Tapi yg semacam marlyn manson and the gank sama sekali tdk romantik

    He? Masa sih?

    Romantik atau tidak itu sungguhlah kembali kepada empunya gendang telinga dan hati nurani, eee… Emin….

    Aku suka Marylin Manson. Musik keras, penampilan macam iblis. Tapi lirik-liriknya itu kritis, lebih kritis dari muka bermek-apnya itu.

    Pernah dengar Irresponsible Hate Anthem? Soundtrack untuk film Saw III. Bagus liriknya. Dan…. ah, seperti teriakan si Candil (benar gak namanya itu? Atau Cakil?) yang vokalisnya Seurieus dalam lagu “Rocker Juga Manusia”. Ada nestapa, ada romantika, ada galau jiwa di balik setiap sosok-sosok sangar atau yang mensangar-sangarkan diri dengan deruman gitar yang sangar….

    Cobalah dengar lagu Marylin Manson sambil lihat nonton film romantis, lebih bagus dengan earphone. Pasti mendadak romantik juga🙂
    .
    .
    .
    .

    . . . . tapi volume earphonenya itu dibikin minus….😳

    *minum sangar… eh, sanger…*


    Emin? Wahai! Sejak kapan pulak ganti nama begitu? Nyaris saja kuketik Eman…..😆

  5. hm, Darso atau Doel Sumbang juga kayaknya lumayan romantik. Khas sunda. Dan kayaknya ada satu lagu yang cocok buat anda dari Darso, judulnya “kabogoh jauh” :mrgreen:

    emin itu hanya panggilan pendek dari emina, karena bosen dengan mina. Hm, tapi eman boleh juga…saya biasanya sukses nyamar jadi lelaki 8)

  6. @ qzink666

    Huammmm… Musik bikin sang empunya blog jadi males apdet..🙄

    ….

    Kaya dirinya nggak saja😆

    @ eMina

    hm, Darso atau Doel Sumbang juga kayaknya lumayan romantik. Khas sunda.

    Darso? Siapa itu?😕

    Kalau Doel Sumbang sih iya. Meski kadang2 brengsek juga liriknya itu. Tapi… yaaa… ada yang “manis-manis romantis” lah. Semisal “Kalau Bulan Bisa Ngomong” yang featuring Nini Carlina dulu itu… wahh… itu lagu memanglah untuk yang sedang mabuk kepayang:mrgreen: Sekaligus membuktikan cinta itu bisa bikin tolol sampai berimajinasi bulan bisa ngomong segala,😆

    Dan kayaknya ada satu lagu yang cocok buat anda dari Darso, judulnya “kabogoh jauh”:mrgreen:

    Nggak pernah dengar lagunya. Bahasa Sunda saja nggak ngerti😀

    Ari kabogoh teh naon? Kalau bakakak sih tahu:mrgreen:
    *ngawur*

    emin itu hanya panggilan pendek dari emina, karena bosen dengan mina. Hm, tapi eman boleh juga…saya biasanya sukses nyamar jadi lelaki 8)

    😆

    @ almascatie
    😆
    *sodorin bensin dan kompor*
    .
    .
    .
    *ikutan kabur*

  7. -almas
    *sodorin jurignya ade*
    emin itu panggilan dr mas lambang tau!
    *berubah suara jd ngebass*
    sbnrnya dlu nama panggung ism eh sy kan si ujang, dan krn tlalu cool smpe nyaris ddekati seorang cwe *bergidik*

  8. *atas sayah*
    woot… pake ade pulak😀 *gigit2 emina*

    mas lambang yang uhui2 diruang sebelah itu yah??
    *semoga sayah tak termasuk mereka2 yang bergosip riya*
    =))

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s