Koneksi Kampungan, Kutukan Insomnia Dan Pembalasan Dendam

Dulu ada niatku saat pertama meluncurkan blog ini sebagai salah satu dari ribuan sampah-sampah dunia maya, untuk mengikrarkan janji setia sumpah sekata pada diri sendiri: Blog ini akan di-update satu postingan per hari. Satu postingan setiap satu hari! Bayangkan! Tak peduli pendek atau panjang, kurus atau gemuk, tipis atau langsing konten postingannya. Pokoknya update, meski apa pun macamnya dan bagaimana pun kondisinya. Tak bagus koneksi internet? Ke warnet kalau perlu! Biar pun hujan badai di luar, dulu mau rasanya rela-rela kaki melangkah sekedar update postingan. Biar apa pun situasi dan kondisi, bahkan biar pun langit runtuh atau lautan mengamuk menggelora …

Di sini, di sudut Aceh ini, di kampungku ini, mencari inspirasi itu mungkin tak payah. Nongkrong-nongkrong di pelabuhan atau di sungai ujung bukit, inspirasi bisa mengalir sampai jauh macam salah satu iklan Aqua yang menjual lagu Bengawan Solo. Ada banyak cerita dari kerbau-kerbau orang berhuma yang pulang dari kawasan huma di Mata Ie Sipiyoh, setiap matahari menjelang senja dan kepak kelelawar menjadi tirani mayoritas di langit sana. Ada hal-hal yang minta dituliskan dari nenek-nenek yang sudah tak layak lagi berangkat ke rimba mencari kayu, lalu menjinjingnya pulang melewati anak-anak muda yang enak mengecap keindahan sore di irigasi (dengan kendaraan mengkilap bergaya borjuis-borjuis muda yang sukses, padahal itu harta-benda ibu-bapaknya), untuk diolah jadi arang kampung dan dijual ke pasar esok pagi demi sesuap nasi.

Ada banyak warna hidup yang minta dijadikan lukisan bernama cerita dari senja-senja di pelabuhan, dimana di penghujung minggu biasanya yangΒ  muda yang bercinta mesra tegak atau duduk berdua, sembari memandang ke arah laut dengan wajah terharu, seakan ombak lautan itu, pekik elang laut, kepak camar, derai cemara, langit jingga, pantai dan pasir-pasirnya, dan segala isi pelabuhan kota kecil yang memang romantis alamnya ini, adalah warisan semesta dari nenek moyang mereka dan cuma untuk mereka saja.

*lirikcermin.info*

Atau melihat adegan lain dari mulai tampaknya syndrome kekuasaan di sini, dimana pagar-pagar dari mereka yang menyebut dirinya pemimpin rakyat sini sudah mulai dibangun megah dan tinggi, menjadi Tembok Berlin yang memisahkan keluarga-keluarga terhormat dengan masyarakat yang dulu digombali janji-janji Pilkada dan Pemilu.

Atau pernikahan salah satu teman baik, kawan separtai di sini, dua hari yang lalu. Sebuah kenduri sederhana yang berbanding terbalik dengan resepsi seorang petinggi di sini, dimana undangannya begitu harum dan dari opas-opas penjaga gerbang jelas mengisyaratkan bahwa oblong cap Mosfly atau baju kaos murahan cap sari manis Neotogen yang acap kupakai sehari-hari di gudang, menjadi tak layak pakai di situ. Strata… kasta sosial… seremoni dan etika ala kaum terpandang yang merasa cerdas, mapan dan terhormat yang menyebalkan, dan membuatku lebih nyaman berada di dusun kawasan Mata Ie, menghadiri kenduri anak tukang becak yang acap mangkal di depan toko, di minggu yang lalu.

Banyak… banyak yang pengen kutuliskan. Bahkan dari pojok gudang dimana orang harlan yang sudah putih rambutnya (salah satu kuli panggul angkutan yangΒ  upahnya tak setara berat beban di pundak, berkisar antara 30-50 ribu/hari) acap berteduh lelah, kalau matahari panas dan barang-barang yang dilemparkan dari Medan sana ada netto tertera begitu berat; selalu ada yang terpikir dan mau kutuliskan tentang kehidupan keras orang-orang menua-bangka itu.

Tapi apalah daya… seperti kata Padi featuring Iwan Fals: Kenyataan memanglah pahit.

Koneksi internetku di sini cukup kampungan, yang mungkin setara dengan lokasi daerah ini sendiri. Terkadang, saat sedang semangat menulis, sudah jadi draft, atau mau dipostingkan, koneksi tiba-tiba putus sendiri.

Sampai hari ini, aku masih berkoneksi internet dengan menggunakan Indosat, yang (dulu) sering sekali berganti nama jadi DARURAT, bahkan meski sinyalnya penuh. Modal cuma modem USB sebiji dan sekeping kartu IM3. Ya, IM3, bukan IM2 Broom atau Unlimited yang di ibukota propinsi sana sudah bisa dinikmati dengan sukacita.

Dulu, di tahun lalu aku sudah pernah berlangganan kartu model begitu rupa, produk dari sebuah operator yang konon umat paling banyak memakai produk mereka di negara ini. Operator yang mencoba menuai simPATI umat dengan gaya religius Oma Irama. Tapi kasus penyunatan kuota bandwith di akhir tahun lalu, yang sampai jadi caci-maki penggunanya di forum-forum, blog, twitter dan facebook itu, sudah cukup untuk menjadi alasan talak tiga. Tak ada yang becus meng-handle pelanggan jika yang bersangkutan sudah merasa paling besar.

Telkomsel Instan, misalnya. Dulu acap kupakai, dengan Rp. 9000/jam (saat itu, entah sekarang), kecepatan yang keluar sangat menakjubkan: antara 5-10 kbps saja. Untuk membuka Google pun aku bisa bikin kopi dulu baru terbuka halaman dari search engine fenomenal itu.

Lalu masuk Speedy yang gonjang-ganjing mengggoyahkan iman. Aku pun mencoba peruntungan. Dan, alhamdulillah, talak tiga dalam waktu yang lebih singkat daripada ultimatum proklamasi. Untuk nge-ping saja, bisa sambil motong kuku cuma untuk melihat munculnya tulisan ajaib: Request Time Out. Dan setiap komplen ditanggapi manis dengan mengkambinghitamkan jaringan dari Meulaboh atau dari Medan. Cara yang pintar untuk cuci tangan.

Maka aku tak pernah lagi berlangganan internet, setidaknya sampai saat ini, sejak kasus sunat kuota bandwith ala Telkontelpales tahun lalu.

Akhirnya, yaa… untuk diri sendiri, cukuplah dengan kartu andalan zaman dahulu: IM3 yang dari dulu sudah acap jadi sarana buat ngenet darurat. Ada teman menawari paket-paket unlimited dari operator lain, bahkan dari operator yang sama, namun kupikir-pikir, apa gunanya jika di sini saja koneksinya GPRS? Di sini brosur-brosur begitu bertabur, seperti blackberry, dan menjanjikan koneksi surgawi unlimited sekelas 3G/HSDPA di daerah yang GPRS-nya saja megap-megap.

Dengan sistem time base yang belakangan kulakoni kembali, register harian, maka jadilah koneksi kelas kampungan ini sebagai andalan kembali.

Namun… itu pun dikhianati. Sejak usai bulan puasa yang lalu, sejak memati-surikan kartu dari operator terkaya di Indonesia ini (sebuah kartu dengan nomor tanggal lahir yang sayang dimatikan begitu saja), rajin pula dua operator yang kupakai selama ini mencuri pulsa semena-mena. Tak ada hujan tak ada badai sudah terdaftar di layanan RBT. Ini bisa jadi hal yang keji dan memalukan ketika temanmu tertawa-tawa mendengar nada sambungmu begitu memelas: Wali – Cari Jodoh.

Kesabaranku usai. Ini operator-operator mesti di-Robin Hood-kan agaknya: merampas kembali apa yang sudah terampas selama berbulan-bulan ini.

Maka inilah salah satu korban dari pembalasan dendam itu, dengan aplikasi JAP/JonDo:

Kalau sudah full, penggunanya jadi hijau ala Neo The Matrix πŸ˜†

Percayalah: itu free, tak ada hitungan volume dan tak ada hitungan waktu. Tak butuh banyak konfigurasi, bisa langsung tancap gas untuk ngenet. Bisa dipakai 24 jam jika mau. Dirancang dengan filosofi kebebasan berekspresi, privasi dan penghargaan pada kaum anonim sedunia, sistem yang menyatukan server-server proxy anonimus ini menyatukan setiap pengaksesnya untuk menjadi satu IP yang kiranya bisa dicerna dengan skrinsut begini.

Memang, kecepatannya memang tak sefenomenal skrinsut di bawah ini, yang membuatku melongo saat pertama melihatnya di salah satu blog dahulu; tapi cukuplah untuk sekedar iseng bermain-main dengan dunia jaringan kembali. Untuk pengisi malam, seperti masa-masa mendekam di laboratorium komputer di kampus dulu :mrgreen:

986GB/detik! Kecepatan download neraka! :mrgreen:

Demikianlah. Keisengan malam-malam karena kutukan insomnia yang sudah mengendap, sudah berurat-berakar dan minta revolusi untuk menebas perangai satu generasi dalam diri sendiri, kini bikin kehidupan malam diisi dengan bermain-main dunia jaringan kembali. Dengan koneksi berkecepatan ala kadar, di saat hasrat menulis suram karena inspirasi jadi buntu, akhirnya kembali ke dunia yang dulu pernah ditekuni di masa mahasiswa. Dunia jaringan yang sudah lama ditinggalkan. Mencoba tools ini dan tools itu, cari proxy yang bisa dipakai, SSH kian-kemari, mempelajari lagi konsep virtual tunnels dari Onion Routing-nya Tor lalu mencoba memahami lagi the so-called VPN system (virtual private network) … hal-hal yang pernah bikin penasaran di bangku kuliah dahulu πŸ˜›

Yaaa… setidaknya dengan begitu ujung-ujungnya bisa juga menulis resume selama semingguan ini :mrgreen:

Iklan

11 thoughts on “Koneksi Kampungan, Kutukan Insomnia Dan Pembalasan Dendam

  1. Ini bisa jadi hal yang keji dan memalukan ketika temanmu tertawa-tawa mendengar nada sambungmu begitu memelas: Wali – Cari Jodoh.

    Ikutan tertawa πŸ˜€ bahkan RBT pun ikut “mengejek” Bro Alex :mrgreen:

  2. Ada teman menawari paket-paket unlimited dari operator lain, bahkan dari operator yang sama, namun kupikir-pikir, apa gunanya jika di sini saja koneksinya GPRS?

    *kucek-kucek mata*
    GEPEERES? Ini postingan tahun berapa yah? πŸ˜†

    Percayalah: itu free, tak ada hitungan volume dan tak ada hitungan waktu. Tak butuh banyak konfigurasi, bisa langsung tancap gas untuk ngenet. Bisa dipakai 24 jam jika mau.

    Nah, kalo ini bukan cuma Almas, saya juga mau. *nunggu di box.net*

  3. agagagagag :))
    katanya mau pake paket gprs m3?? :-”

    Dengan koneksi berkecepatan ala kadar, di saat hasrat menulis suram karena inspirasi jadi buntu, akhirnya kembali ke dunia yang dulu pernah ditekuni di masa mahasiswa. Dunia jaringan yang sudah lama ditinggalkan. Mencoba tools ini dan tools itu, cari proxy yang bisa dipakai, SSH kian-kemari, mempelajari lagi konsep virtual tunnels dari Onion Routing-nya Tor lalu mencoba memahami lagi the so-called VPN system (virtual private network) … hal-hal yang pernah bikin penasaran di bangku kuliah dahulu

    nunggu hasilnya sajah.. *bikin kopi* :))

  4. @ Zevit-C Zephyr

    Ikutan tertawa πŸ˜€ bahkan RBT pun ikut β€œmengejek” Bro Alex :mrgreen:

    . . . .

    Itu kurasa konspirasi yahudi laknatullah™ untuk mempermalukan seorang insan Tuhan….

    Pasti Agen Mossad di balik konspirasi ini… πŸ™„

    *dipanah dari papua*

    @ Pezink qzink666

    *kucek-kucek mata*
    GEPEERES? Ini postingan tahun berapa yah? πŸ˜†

    Tahun kuda gigit hamburger πŸ˜†

    Mau gimana lagi? Telepon otomatis saja masuk di sini menjelang 50 tahun HUT RI yang mulia ini πŸ˜›

    Nah, kalo ini bukan cuma Almas, saya juga mau. *nunggu di box.net*

    πŸ˜†
    Kau kan di sana 3G kan ya? πŸ˜›

    Cak kau download saja ultrasurf di lapak obralan blog ini. Seting APN kartu si Luna Maya itu macam biasa. Terus masukin proxy di manual proxy. Konekkan modem, konekkan ultrasurf. Kalau sudah tertera Server successfully connected, maka Seting lagi proxy localhost dan port 9666 di browser. Habis itu tancap gas lah kau πŸ˜†

    Atau download aplikasi ini, lebih bagus sekalian dengan portable firefoxnya di situ. KOnekkan modem, lalu konekkan aplikasi itu. Memang agak lama loadingnya, nyari mix cascade server. Tapi kalo uda konek, stabil dan anonim. Ntar tinggal seting di browser proxy localhost dan port 4001. Masih dengan kartu nyambungterus itu™ :mrgreen:

    Ada banyak cara juga lho itu. Coba download Gpass, Gtunnel. Itu semua mem-bypass proxy opsel dan firewall. Tapi kebanyakan buat browsing doang.

    Kalo mau pake utk bisa chat dan aplikasi lain, you kena download program macam proxifier. Kecil-kecil itu aplikasinya. Nanti redirect semua via proxifier ke port dari aplikasi yang dipakai mem-bypass itu. Kalo ada server proxy atau vpn sendiri, lebih enak. Main SSH saja πŸ˜€

    @ almaswatiecatie holmes

    *numpang lewat di box net*

    Lihat komen ke Qzink :mrgreen:

    Tapi…. kau bukannya pakai opsel si merah yang konon opsel sejuta umat? :mrgreen:

    Kalau utk itu mau kau jebol, agak payah. Karena di APN chatbox atau flash-nya itu pake port UDP 53. Salah satu cara lazim sekarang download dan register aplikasi your-freedom. Setingannya ku-mms-kan saja πŸ˜€

    Tapi itu ada kelemahannya. Cuma bisa dipakai 6 jam/hari. Setiap 1 jam putus bentar. Capek. Biasalah… port dari opsel paling kaya sekaligus paling bakhil πŸ˜›

    Kecuali kau ada VPN sendiri. Bisa diarahkan ke port UDP di VPN-mu itu. Dulu ada alwaysVPN yang free dgn port UDP, tapi sekarang nggak lagi kayanya πŸ˜•

    @ hairandech haziran

    agagagagag πŸ™‚ )
    katanya mau pake paket gprs m3?? :-”

    Ini aku pakai IM3 itu juga benarnya. Durasi juga sesekali. Yang halal iya yang haram iya πŸ˜†

    IM3 dari dulu lho. Saat di Banda Aceh GPRS sudah sayonara, di sini masih megap-megap. Hendak pakai Broom? Bah! Pakai durasi time based saja untuk harian sudah lumayan. Entah kalau di sini 3G/HSDPA 😦

    nunggu hasilnya sajah.. *bikin kopi* πŸ™‚ )

    Kau lihat dakwah ke Tuan Qzink 😎

    Tapi… karena kau pakai IM3 …. gini deh :mrgreen:

    Cak kau download program ultravpn. Download sekaligus register di sana utk dapat akun satu. Untuk alamat email, karena akan jadi sampah belaka, kau pakai yang seperti breakthru saja. Email sekali pake itu :mrgreen:

    Terus nanti kau cari di folder confignya file client.ovpn dan delete. Cari lagi file stealthy-connect.ovpn dan timpa dengan konfigurasi lain. Ntar dikirimkan deh :mrgreen:

    Habis itu, klik kanan di tray icon-nya dan masukkan manual proxy 10.19.19.19 dan port 8080. Di browser seting proxy auto saja. Konekkan modem dengan APN mms-nya opsel itu, tanpa username & password, lalu konekkan ultravpn. Nanti masukkan username dan password yang udah didaftar di ultravpn itu. Tunggu sampai stealthy connectnya nanti ngasih ip baru di tray icon ultravpn yang mirip2 monitor itu, sampai warna kuning jadi warna hijau. Kalau sudah, silakan tancap gas :mrgreen:

    Kalau mau experiment sendiri, scan saja port2 bolong dari opsel2 itu. Pakai aplikasi nmap misalnya. Nanti cari-cari cara gimana utk mengarahkan address/proxy dan portnya ke tempat lain yang bisa dipakai πŸ˜€
    Misal dari xxx.xxx.com:8080 ke haziran.berjelaga.com:443

    Clear? :mrgreen:

  5. posting ini seharusnya berjudul “tutorial meng-hack telkoshit & indokampret” tapi karena si empunya blog ini terlalu lama dalam pertapaan maka jadilah semacam dongeng pangeran yang mencuri fasilitas istana demi rakyat jelata.. *halah*

    *berdoa semoga kutukan sampe di alex saja*

    segala hal untuk memerangi kemiskinan benwit dihalalkan.. hidup alex!!!

  6. @ almas

    posting ini seharusnya berjudul β€œtutorial meng-hack telkoshit & indokampret”

    Bah! Tutorial… πŸ˜†

    Dari zaman kampus dulu, rajin-rajinnya nongkrongin ilmukomputer.com dan jasakom.com, memang paling malas aku bikin tutorial, Bro. Apalagi kalo model aplod-aplod dengan LaTex atau PDF itu :mrgreen:

    tapi karena si empunya blog ini terlalu lama dalam pertapaan maka jadilah semacam dongeng pangeran yang mencuri fasilitas istana demi rakyat jelata.. *halah*

    Halaaah πŸ˜†
    Ini memang tak ditujukan buat tutorial. Tapi dengan tujuan – semoga – ada antek2 opsel yang-tersangkut-paut faham bahwasanya pelanggan juga bisa balas dendam. Mereka bisa mem-bullshit-i semua penggunanya di sekali waktu, mereka bisa mem-bullshit-i sejumlah penggunanya di sepanjang waktu, tapi mereka tak bisa mem-bullshit-i semua pengguna di sepanjang masa. I promise ’em diz! *hatsaaah* πŸ˜† πŸ˜†

    segala hal untuk memerangi kemiskinan benwit dihalalkan.. hidup alex!!!

    Kemiskinan benwith…..
    *ngakak guling2* =)) =)) =)) =))

    Menurutku ini memang halal kalau dari segi membalas penipuan yang mereka lakukan. Dari kacamata kuda yang bermerek “hukum” dan segala ketek-bengek “Term of Agreement” yang mereka cantumkan sebagai korporasi seluler, ini memang dilabel haram πŸ˜†

    Tapi… lihat kasus-kasus pencurian pulsa ala si nyambungterus™ itu, atau spamming mereka yang menyebalkan. Hari ini saja ada berapa spamming masuk, mengganggu benar, dengan bunyi begini:


    Aktifkan XXX RBT dr REPVBLIK-TIADA GUNA LAGI dan dptkan RBT GRATIS Aku dan Perasaan Ini dg ketik PAKETSIP43 kirim ke 1818. Biaya Rp7rb/lagu,SMS Rp350 (blm PPn)

    Lihatlah! Apa-apaan itu??! Mestinya mereka bercermin, RBT itu sendiri yang TIADA GUNA LAGI, bukan malah dikirimkan kemari, pakai iming-iming RBT GRATIS “Aku dan Perasaan Ini” segala. Perasaanku sendiri GONDOK 1/2 HIDUP menerima spam sialan itu, apa mereka mau tahu? πŸ˜†

    Dulu lebih parah, diam-diam dipasangi RBT tanpa konfirmasi apa-apa. Kita selaku end-user mereka gak tahu, tiba-tiba pulsa hilang macam malin kundang ditelan bumi (kalo jadi batu kan malin kundang dulu πŸ˜› ). Sekali, duakali, beberapa kali, awak pening. Ini kok begini caranya. Cari-cari di internet, rupanya korban sudah banyak.

    Atau cara penipuan keji ala kartunya Saykoji. Misal: Kau register durasi, yang time based dengan pulsa Rp. 5000 bisa dapat 250 menit tanpa hitungan volume. Jadi berapa kb pun yang terpakai tak jadi masalah. Ini sebenarnya cukup murah dan simpel. Aku sendiri pakai ini sebagai cara legal kalau sedang mobile di luar kamar. Tapi, ada prasyarat: mininum pulsa Rp. 500 dan itu paket cuma berlaku 5 hari. Oke, detz izi, no problemo. Kalau lagi sinting, awak isikan sampai 50 ribuan sekalian pulsa, 250 menit kalau sedang pengen lama-lama browsing atau nge-download, manalah terasa πŸ˜†

    Etapi…. pernah sekali tiba-tiba pulsa amblas. Heran bin ajaib.. eh, aneh bin ajaib rasanya. Baru siang diisi kok malam pulsa bablas total. Setingan udah benar. Oh, rupanya durasi itu berulah, larinya ke volume based dengan semena-mena. I tried to curhat ke operator. As biasa, alias as usual: “Kami akan mengecek kembali komplen Bapak…” Hah! Untung renyah suara cewek operator itu, kalau laki dan kaku-kaku gayanya, niscaya bisa keluar kata-kata dari buku anak TK, “Mengenal Nama-nama Binatang”.

    Cara yang paling licik itu ya, misalkan kau pakai time based gitu, seharusnya kau mendapatkan hakmu sepas-pas 250 menit itu. Tapi sering sekali, aku di sini dan para pemakai layanan yang sama, 250 menit itu terpangkas dengan cara ter/diputuskan saat bersisa sekitar 10-20 menit, misalnya. Begitu kau konekkan lagi, billingnya akan mulai lari ke volume base, dan pulsa reguler dimakan. Tiba-tiba …. putus. Dan kau cek: Sisa pulsa time base masih ada, tapi pulsa reguler kandas. Otomatis kau tidak punya pilihan selain mengisi pulsa reguler lagi. Ini penipuan lho sebenarnya. Sisa pulsa itu – yang konon tak seberapa, cuma ratusan rupiah – kau kalikan dengan sekitar 10-20% saja dari pelanggan yang sama, berapa mereka meraup untung?

    Termasuk layanan telkontelfales dari opsel yang kau pakai. Paket volume yang (kau) register itu, sebenarnya tidak pernah penuh bisa kau habiskan. Termasuk adanya loss saat koneksi putus. Sebagai penyedia layanan jasa, mereka mestinya menghargai pelanggan, bukan seenaknya mengirimi pesan basa-basi, “Pelanggan YTH, sisa paket anda tinggal sekian-sekian lagi… bla bla bla”.

    Pada akhirnya, di negeri ini, perlindungan pada hak-hak konsumen itu nggak pernah ada. Jika kau ditipu, jika kau dirugikan, kau – seperti yang pernah aku lakukan – mungkin cuma bisa masuk ke detik.com, misalnya, atau ke forum-forum, atau ke situs YLKI, cuma untuk bersumpah-serapah. Layanan apapun dari seluler-seluler itu. Aku sudah pernah bengek rasanya dengan telkontelpales yang dijanjikan unlimited itu. Sukarela dengan BTS di sini yang cuma mampu kasih GPRS agak-agak 2G sedikit. Eh… kuota 2GB tak habis, bulan Agustus disunat diam-diam, dan tanggal 1 September barulah keluar pengumuman resmi bahwa kuota pelanggan paket unlimited 2Gb sudah disunat anunya menjadi 500mb. Jadi sunat duluan, ngakunya belakangan kalau pelanggan sudah curiga dan komplen. Apa nggak busuk itu? Apalagi alasannya menggelikan sekali. Diantaranya:

    – Mereka sudah melakukan survey dimana mereka mendapatkan kepastian bahwa rata-rata pengguna memakai 500Mb saja pun cukup puas.
    – Mereka mendapatkan adanya 10% abusive user.

    Dari dua alasan itu saja, sudah kentara bengeknya otak mereka itu. Jika mereka mendapatkan ada pelanggan yang birahi ber-internetnya cuma 500Mb sehari, lalu mereka generalisir bahwa semua pelanggan seperti itu? Mestinya mereka buka paket sendiri: Telkontelpales Agak2 unlimited berkuota 500mb saja.

    Jika mereka mendapati ada 10% abusive user, lalu itu jadi alasan menyunat kuota semua pemakai? Bah! Logika begitu setahuku cuma milik militer saja: Kalau sudah 10 orang desa membangkang, bakar satu desa sekalian. Coba tanya sama orang-orang militer yang sepaham dengan keimanan marsose kompeni Belanda itu.

    Apalagi yang menyebalkan: Kami yang pakai di sini, di pojok Aceh sini, jangankan lebih dari 2Gb, melewati 500Mb saja sudah hebat dengan koneksi GPRS kelas siput keseleo urat begini πŸ˜†

    Maka, jadilah Robin Hood. Rampas lagi apa yang dirampas darimu. Komplen nggak ada guna. Korporasi-korporasi congek itu bisa bayar hukum, bisa nyuap muncung siapa saja untuk tidak dengar keluhan pengguna πŸ˜›

    Nah, karena sudah cuap-cuap, biar puas aku sekalian, ini konfigurasi telkontel kau itu:

    Download dan daftar di program your-freedom. Download juga aplikasi OpenVPN atau UltraVPN.

    Jalankan program your-freedom, pilih Bahasa Indonesia saja, lalu skip konfigurasi otomatisnya. Jalankan konfigurasi sendiri secara manual saja. Klik Konfigurasi, lalu klik tab Koneksi Server, masukkan Address: ems01.your-freedom.de (bisa diganti antara ems01 sampai ems24), dan port 53, dengan mode koneksi UDP.

    Sudah itu kau centang 3 kotak ini:

    – Ulangi koneksi setelah server mati
    – Gunakan Enkripsi
    – Gunakan Re-keying

    Isikan kolom-kolom di tab yang sama dengan Buffer minimum 1500, Ukuran POST awal 10000000, Minimum ukuran POST : 20000 dan Mode FTP-nya pilih Keduanya.

    Terus pindah ke tab Pilihan Server, arahkan kursor Mendukung OpenVPN ke kanan (Diperlukan). Lalu pindah ke tab Settingan OpenVPN dan arahkan ke bin dimana VPN terinstal. Misalnya kau download program UltraVPN, maka biasanya, kalau di komputerku, jadinya pathnya itu di C:\Program Files\UltraVPN\bin\openvpn.exe

    Terus isikan Informasi Akun yang sudah didaftarkan di http://www.your-freedom.net, lalu simpan dan keluar. Kembali ke jendela utama.

    Di main window-nya your-freedom, klik tab Ports dan centang SOCKS 4/5, Web Proxy, dan OpenVPN Port. Cuma itu saja. Lalu kembali ke tab Status dan kau klik Mulai Koneksi.

    Tunggu sampai logo pintu di jendela utama your-freedom itu memunculkan matahari sebagai tanda koneksi ke OpenVPN sudah berjalan. Kalau itu sudah jalan, kau ubah konfigurasi proxy di browser dan aplikasi seperti Yahoo! Messenger dengan proxy: 127.0.0.1 dan port 1080. Terus silakan tancap gas πŸ˜›

    APN-nya boleh pilih antara dua: flash bisa, chatbox bisa. username sama password dikosongkan saja.

    Kalau mau coba dengan cara lain, coba deh pakai ultrasurf itu juga, tapi cari dulu software proxomitron. Trik ini konon berlaku untuk semua kartu, tapi aku cuma mencobanya di kartu si raffi ahmad itu πŸ˜›

    Download proxomitron (kecil ini softwarenya, gak pake instal, cuma zip yang diekstrak saja). Lalu jalankan dan hilangkan centang yang ada pada kotak active filter. Jalankan ultrasurf dan klik option -> proxy settings, pilih autodetect dan klik OK. Kalau sudah selesai, restart ultrasurfnya, konekkan modem, lalu konekkan kembali ultrasurf, sampai 3 tanda lampu hijau nyala dan Server succesfully konak muncul di situ. Selanjutnya seting proxy browser dengan localhost/127.0.0.1 port 9666.

    Kalau di sana ada kartu yang “memang baik ya?”, konon tak perlu banyak macamnya. Cukup kau masukkan saja proxy 203.78.116.55 dan port 80. Di sini kartu itu barusan masuk. Sudah kucoba, tapi nggak mau. Itu kartu masih nebeng di BTS nyambungterus pun πŸ˜€ Akunya yang kecele. Kukira kartu yang “Maawuuu??” akan masuk, kubelilah modem usb berlogo 3 di Medan kemarin itu. Cuma nambah-nambahin modem saja, akhirnya nganggur eh jadi ajang kriminal begini πŸ˜†

    @ pzink666x

    . . . .

    Homosapiens teriak homosapiens πŸ˜†

    Setahuku Sunan Kalijogo melawan tiran, macam seseorang di seberang sana melawan salah satu BUMN sialan yang mengotori lingkungan πŸ™„

    *lirik-lirik sms tentang ancaman bulldog BUMN yang bersangkutan*

  7. Buset! Jadi sepanjang itu komen awak πŸ™„

    Etapi, sebenarnya aplikasi seperti Jondo, Freegate, Gpass, Ultrasurf dan Tor itu, adalah aplikasi untuk membantu mereka yang butuh jadi anonimus, misalnya karena ancaman…
    *lirik qzink*

    Maka kalau mengharap kecepatan akan di-boosting dengan aplikasi begitu, agaknya susah. Lihat saja skrinsut Tor Network Map dari aplikasi TOR bundel Vidalia yang kupakai. Karena sistemnya relay dari node yang ada, maka kecepatan tidak sekencang yang diharapkan. Jika dibandingkan dengan paket durasi dari Indosh!t, malah lebih kencang loadingnya, meski sama-sama GPRS. Tapi entahlah kalau kalian sudah 3G :mrgreen:

    Aku pakai program seperti Tor itu dulunya untuk melindungi identitas memang. Semacam panduan yang disarankan GlobalVoices untuk isu-isu sensitif, seperti yang dihadapi para aktivis atau jurnalis di RRC dan Myanmar. Bahkan juga di negara ini sendiri. UU ITE dan kasus Prita kemarin itu bisa jadi pelajaran bahwa terkadang ada gunanya menjadi anonimus seperti burung legenda yang tak pernah ada itu di internet.

    Selain dari itu, aplikasi demikian besar manfaatnya jika ada orang-orang yang disebut negarawan memblokir situs-situs yang dipercayanya akan menggoyahkan keimanan dan kemaluannya. Masih ingat kasus pemblokiran layanan blogspot.com tahun lalu, cuma karena ada satu blog brengsek memancing emosi muslim dengan menghina Nabi Muhammad? Blog seperti itu memang sialan, bukan cuma karena aku muslim, tapi siapapun dan apapun agama dan kepercayaannya, tidak boleh dilecehkan di depan publik.

    Tapi meski demikian, tidak bisa semena-mena main blokir semata, sehingga pengguna lainnya di layanan yang sama merugi. Peduli benar apakah sang paduka departemen bidang blokir-memblokir itu agamanya terhina atau tidak, hendaknya bisa menyuruh bawahan-bawahan beliau untuk pakai otak bukannya pakai otot. Walhasil, karena bengek duluan sebab keimanan terlecehkan, main sikut rata saja, sehingga semua blog yang ada di blogspot.com itu tak bisa diakses di beberapa tempat, akibat surat keramat penuh makrifat dari departemen malaikat.

    Kejadian demikian bukannya tidak akan berulang. Di dunia ini, kebanyakan umat dengan rajin dan gembira ikut the so-called election dengan utopia akan memilih wakil-wakil di pemerintahan yang bijak dan pakai otak. Tapi setiap pemilihan, apakah pemimpin atau parlemen, kebanyakan yang muncul adalah badak-badak yang main seruduk atas nama negara. Kasus blogspot.com itu, kalau mau pakai otak sedikit, bisa mereka kirim surat cinta persahabatan penuh kasih mesra untuk meminta Blogger.com memblokir blog tersebut, atau menganjurkan sesiapa saja me-report blog tersebut, memberinya Flag. Cukup dengan klik report saja, apalah susahnya? Tapi ya itu dia…. itulah orang-orang yang setiap beberapa tahun kita pilih dan lalu kita caci-maki sendiri, kita suruh mundur kembali. Like government like the people. Suka-suka pemerintahannya, suka-suka rakyatnya πŸ˜†

    Itu sebabnya aku letakkan “lapak obralan” dengan dagangan murahan seperti Portable Tor, aplikasi Tor yang bisa dimasukkan ke USB Flashdisk untuk dibawa-bawa. Atau bisa juga mencoba Opera paket TOR yang bisa membantu untuk anonim di internet.

    Saudara-saudari, sooner atau later, blokir-blokiran wal bredel-bredelan akan akan jadi adat kembali di negeri ini. Lihat saja berita-berita tentang kasus-kasus serupa. Looks like we’re going back to New Order, bukan? Internet ini mungkin akan jadi (salah satu) basis terakhir untuk berekspresi dan menyuarakan opini, ketika nanti media massa baik cetak atau elektronik, sudah disumpal dengan ragam regulasi πŸ˜€

  8. @ mas Alex
    Ini aku pakai IM3 itu juga benarnya. Durasi juga sesekali. Yang halal iya yang haram iya πŸ˜†

    aku tau kok, dirimu pasti banyakan haram halalnyah.. *manggut*
    kalo disitu HSDPA pasti udah cari jebolan baru lagi.. =))

    Clear? :mrgreen:
    ENGGAK!!
    gimana mau nyoba, modem, lepito dan segala macem tetekbengeknya sudah raib *ngakak miris*
    dan skr pake opsel apapun, percuma juga dengan gprs tipe 10 ini *timang henpon*
    nantilah… makanya mau nunggu penemuan sang Alex.. biar daku tidak menyisihkan uang gaji-yang-tak-seberapa buat paketan diwarnet.. :((
    tapi gapapa, dengan jarang onlen begini, paling ada yang bakal kangen *lirik miekriting*

    mas Almaswatie tanpa coret
    segala hal untuk memerangi kemiskinan benwit dihalalkan.. hidup alex!!!
    jadi inget alibi genset.. *siyul*

  9. @ Haziran Yang Sama-sama Diracuni Online-online-nya Saykoji

    aku tau kok, dirimu pasti banyakan haram halalnyah.. *manggut*
    kalo disitu HSDPA pasti udah cari jebolan baru lagi.. =))

    Yang haram saja koneksinya bengek, apalagi yang halal πŸ˜†

    Kalau sudah HSDPA di sini, sudah pasti aku akan rajin baca-baca kembali macam di lab. kampus dulu. Itu juga tergantung apa aku dapat imbalan setimpal sebagai pelanggan dari opsel yang kupakai. Kalau dikibus lagi, kukibus balik :mrgreen:

    Tapi dengan aplikasi-aplikasi itu, kalau memang aksesnya 3G/HSDPA sepertinya akan lebih kencang. Aku pernah coba pakai di Medan. Hasilnya maknyuss… kawanku yang kusetingkan itu sampai tersenyum-senyum manis dan jadi berbaik hati nawarin makan mie goreng isi kepiting πŸ˜†

    gimana mau nyoba, modem, lepito dan segala macem tetekbengeknya sudah raib *ngakak miris*

    *sodori tali kebo*

    dan skr pake opsel apapun, percuma juga dengan gprs tipe 10 ini *timang henpon*

    *sodori tali layangan dan kaleng susu untuk jadi telepon kaleng* πŸ˜†

    nantilah… makanya mau nunggu penemuan sang Alex.. biar daku tidak menyisihkan uang gaji-yang-tak-seberapa buat paketan diwarnet.. 😦 (

    Bah! Itu bukan penemuanku. Aku malah sebenarnya awalnya diajari lagi sama adik leting pas ke Medan habis lebaran haji yang lalu. Karena konsepnya sama seperti saat main-main routing jaringan dulu, main-main tunneling untuk cari port yang bisa ditumpangi jaman kampus dulu, ya sudah… hitung-hitung penyegaran ulang untuk mengisi kutukan insomnia :mrgreen:

    Di forum-forum juga banyak yang lebih jago dan lebih rajin lho. Muda-muda berbakat merampok korporasi-korporasi seluler. Di forum-forum luar negeri, seperti forum pengguna seluler di Nigeria dan India, mereka bisa jebol jaringan sekelas Vodafone lho πŸ˜€

    tapi gapapa, dengan jarang onlen begini, paling ada yang bakal kangen *lirik miekriting*

    Miekriting…. πŸ˜†
    Sudah jadian kalian rupanya? πŸ˜†

    Ka….kasus genset? Apa itu? 😯

    *mendadakmunculbakatghibah.com*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s