Bahasamu Menunjukkan Asal Kampungmu

Dalam beberapa postinganku di blog ini, aku memang sering mempertanyakan pemerintahan dari negara ini. Postingan yang membuat satu-dua oknum kawan-kawan blogger macam menjaga jarak, atau bertanya dengan sinis, “Kenapa tidak pindah warga negara saja?”. Konon merasa nasionalismenya terlecehkan, atau bahkan menganggap ada generalisasi atau malah sikap memusuhi satu suku bangsa di negara ini, cuma karena menyebut-nyebut Pulau Jawa dalam postingan-postingan itu.

Aku tidak pernah memungkiri, mungkin sekali ada sikap sinis pada pemerintahan, sinis pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, atau bahkan mental subversif wal separatis dalam benakku sendiri. Aku tidak akan menutupi itu, bahkan meski pun ada sisa-sisa doktrin dan kebanggaan masa sekolah dulu sebagai siswa yang acap “disepak pantatnya” oleh sekolah untuk ikut segala lomba bertema P4, Sejarah dan Wawasan Nusantara; yang menyisakan rasa cinta pada negara Rayuan Pulau Kelapa ini. Rasa kasihan dan sayang pada darah dan air mata dari generasi terdahulu yang mati di kampung halaman orang lain, demi secarik kain merah dan putih yang di masa sekolah dulu lantang kuteriakkan “Kepadaaa… Bendera Merah Putih… hooorrmaaaatt… graaaakkkk!” jika disuruh maju jadi komandan upacara bendera.

Nostalgia beraroma nasionalisme yang sudah bertahun-tahun tertanam, sejak lagu Aku Cinta Indonesia masih jadi pengiring serial A.C.I di TVRI, di masa antena tipi masih berdiri sama menjulang berayun sama melenggang dengan pohon-pohon kelapa, sungguh tak mudah dihapus begitu saja. Maka dari itu, aku tidak suka dengan sistem pemerintahan negara ini tidaklah berarti aku tidak suka dengan negara ini sendiri: Seuntai zamrud khatulistiwa yang dipuja Multatuli dalam buku “Max Havelaar“, sebentuk Kolam Susu yang riang dilagukan oleh Koes Plus dengan singel-singel Nusantara mereka dahulu.

Sungguh. Aku tidak membenci kepulauan di gugus khatulistiwa ini, apalagi entitas suku bangsa tertentu dalam komunitas bernama NEGARA yang majemuk kebudayaannya ini. Sampai hari ini, aku masih suka dengan cerita-cerita pewayangan. Aku masih terpana pada ukiran halus Jepara, juga pada rumitnya motif batik yang mungkin bisa bikin mataku katarak jika aku sok-sok berseni membatik motif parangrusak. Aku masih menghormati sosok-sosok sejarah dari Tanah Jawa seperti Diponegoro, Untung Surapati, dan Raden Mas Said alias Sunan Kalijaga.

Aku pun masih menikmati lagu-lagu daerah dari pulau pusat negara itu, mulai dari Bubuy Bulan-nya suku Sunda sampai Lir-ilir-nya Sunan Kalijaga yang kuhormati pilihannya untuk mempertahankan identitasnya sebagai seorang Jawa dan bukan mengarbit diri menjadi kearab-araban dalam berdakwah cuma karena digelar sunan. Mungkin, dengan semua rasa suka demikian, dengan kesenangan hatiku menikmati ragam budaya dan kemajemukan anak manusia di pulau-pulau khatulistiwa ini, aku lebih “nasionalis” daripada mereka yang lebih peduli pada jargon-jargon, lambang-lambang, ikon-ikon dan sosok-sosok yang disebut pemimpin negara semata.

Satu-satunya yang kubenci adalah perihal yang semua orang tidak sudi mendapatkannya: Ketidak-adilan. Ketimpangan pembangunan dalam kebijakan-kebijakan pemerintahan negara ini, termasuk terhadap tanah kelahiranku di sini. Itu saja, Kawan. Tidak lebih dan tidak kurang.

Tapi di postingan ini, aku tidak akan menulis tentang itu. Aku tidak akan membahas lagi hal-hal demikian sementara waktu.  Tidak ada cerita tentang “Aceh di bulan Valentine” kali ini. Tidak pula tentang “Kemana janji UU Pemerintahan Aceh kami?” saat ini. Tidak juga draft yang membahas bahwa federasi justru akan memperlancar penyebaran penduduk sehingga pulau Jawa tidak pengap karena pabrik-pabrik besar cuma ada di sana. Pun di sini aku tidak akan memprotes soal hingar-bingarnya isu-isu yang kembali mempopulerkan isi kebun binatang sejak pertengahan tahun lalu hingga hari ini, yang membuat isu-isu di daerah terisolir/terpencil jadi karam. Selain sudah jemu dengan ketoprak segala Buaya, Cecak, Gurita dan (sekarang) Kerbau yang tak lebih garing dari Opera van Java itu; semua itu pun cuma membawa sebuah pertanyaan retoris, “Ini negara apa kebun binatang-nya Orwell?”

Di sini, di postingan ini, dengan sisa-sisa kebanggaan dan cinta (sejarah dan budaya) negeri ini – hal yang mungkin sama jadi sebab pantengongnya dua anak manusia bertengkar lalu merindu kembali – aku cuma mau menghadirkan sebuah skrinsut saja. Skrinsut dari hasil menjelajahi dunia maya dan membuatku mencengir tertawa.

Di negara dimana para WNI-nya mungkin seperti anak kampungan yang menganggap apa saja yang berbentuk hamburger atau pizza adalah konsumsi lambang peradaban, dan bahasa asing adalah lambang pencapaian kemajuan, masih ada rupanya anak negeri sendiri yang – mungkin bodoh atau tak mau tahu – dengan cueknya berbahasa Indonesia di antara mereka yang berbahasa Inggris. Apa pun sebabnya, apakah anak negeri ini dulu pelajaran bahasa Inggrisnya rajin dapat F atau diberi ponten kursi terbalik, ataukah karena cuma melawak saja, aku – dengan cengiran tertawa – menghormati pilihannya untuk berbahasa Indonesia. Setidaknya dia menunjukkan dirinya sebagai orang Indonesia di antara kawanan berbahasa British, bukan seperti kita yang mengaku orang Indonesia tapi Asal British ber-cas-cis-cus selancar ingus bahkan di antara kaum serumpun sebahasa yang tak faham kita ngomong apa. Biar pun padanan kata asing itu dalam bahasa Indonesia masih ada, masih tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pokoknya harus English.

Dan itu termasuk presiden republik ini boleh jadi aku sendiri, yang acap sok-modern ber-by the way dan bukannya “Oh ya…” saat berkomunikasi dengan sesama kawan sekampung selapak domino. Sikap yang sama noraknya dengan orang-orang yang meng-alay-kan orang lain yang musiknya musik Melayu dan liriknya lirik bahasa Indonesia, cuma karena beliau-beliau itu mendengar lagu-lagu bule biarpun muncungnya masih ngiler memamah oncom, dendeng dan gorengan tempe. Yang penting Go International dalam hal style. Karena because ngomong speaking adalah is penting important. Senorak orang yang berbangga memamerkan sepatu dari Singapur yang diklaim asli luar negeri karena di luar bertulis Reebok meski di dalam tertulis Made in Cibaduyut. Membeli merek-merek dan impor asing segencar para WNI nabung untuk Blackberry cuma demi ditenteng untuk membuka Facebook, lalu menghina upaya pabrikan ponsel dalam negeri yang mencoba maju meski masih impor sparepart dari China dengan istilah hape kampungan, ponsel jiplakan, produk China murahan. Atau mencibiri laptop buatan anak SMK di negeri sendiri. Peduli setan bahwa dulu perusahaan sekaliber MSI dan Acer di Taiwan juga perusahaan kelas kerupuk lokal sebelum bersaing di pasar komputer internasional.

Nasionalisme? Oh, itu nanti… kalau ada orang seperti empunya blog yang sok anarkis-sok kritis berani-berani ngoceh nyeleneh soal NKRI yang suci ini. Meski di kiri-kanan menenteng blackberry seperti seorang ksatria trackball dalam perjuangan mensuplai produk asing ke negeri ini, masalah nasionalisme itu bisa ditulis dengan gaya pencitraan seorang nasionalis macam Si Beliau yang sedang melankolis karena seekor kerbau. Yang penting produk asing bahasa asing, meskipun saat menulis atau bicara soal identitas sebagai orang Indonesia yang bangga dianggap ndeso dalam kawanan modern yang kebarat-baratan, tetap saja harus memperkuat perasaan bangga jadi alien terasing dengan pamer lirik Englishman In New York-nya Sting.

Krisis identitas? Entahlah. Yang jelas, skrinsut di bawah ini, selain membuat ketawa, juga membuatku mendadak lebbay insyaf bahwa cermin memang bukan cuma untuk bersolek, bercukur janggut atau menyisir rambut….

11 thoughts on “Bahasamu Menunjukkan Asal Kampungmu

  1. Yang diskrinsut itu sendiri memang bahasa Indonesia-nya ada bahasa Inggris pulak. Nama kerennya saja Jus2live. Namun menampilkan diri dengan berbahasa Indonesia begitu, agaknya memang konyol dan menyenangkan: Awak jadi bisa memastikan bahwa dia memang orang Indonesia. Yang begitu itu baru “agak-agak alien di tengah englishman” :mrgreen:

    *shalat subuh*

  2. postingan yang membuat satu-dua oknum kawan-kawan macam menjaga jarak, atau bertanya dengan sinis, “Kenapa tidak pindah warga negara saja?”.

    kenapa takut, biar oknum2 itu menjauh bukannya Qzink tetap mendekat serapat2nya kepadamu? bak pinang tak dibelah pun tetap dempet juga itu qzink terhadapmu =))

    tidak ada cerita tentang “Aceh di bulan Valentine” kali ini.

    romantis kali kau.. masih sempat2 ingat kalo bulan ini palentin pulak, jadi kau kirim coklatmu lewat pelet maya itu untuk si ita ato mitha?? =))

    beta bangga jadi maluku… seperti ale bangga jadi aceh, bicara tentang suku bukan sebuah pelecehan ras, tapi multikultur yang saling menghormati, bukannya dulu kakek nenek moyang itu bersumpah setia untuk nasionalisme dengan membawa para jong2 java, ambon, sulawesi dll, tapi yah mungkin akibat doktrin para tuan2 obama membuat kita kebablasan bicara tentang kesukuan dan menganggap itu semua adalah pelanggaran..

  3. Liat skrinsut… ada 7 tab yang masih loading, sepertinya kecepatan koneksi Inet-nya bener-bener parah:mrgreen:

  4. 😆
    dari postingan di atas, yg paling menarik perhatian saya memang bagian atas skrinsyutnya..
    loading… loading… loading….

    [bantu doa lah, biar sinyalnya tambah baek ama angku]

  5. *Masukin Almas ke blender bersama deKing*

    *bengong liat skrinsyut*
    Benar-benar orang aneh. Tapi, itu sih bukan nasionalisme namanya, tapi berusaha melucu tapi gagal..:mrgreen:

    Satu-satunya yang kubenci adalah perihal yang semua orang tidak sudi mendapatkannya: Ketidak-adilan.

    Termasuk teror-teror yang bikin geli seputar udel oleh preman kampung tentunya.

    *padahal gue ketakutan sumpah ketika dia ngancem, “Habislah kau, c**a!!”*

  6. @ almascatie

    kenapa takut, biar oknum2 itu menjauh bukannya Qzink tetap mendekat serapat2nya kepadamu? bak pinang tak dibelah pun tetap dempet juga itu qzink terhadapmu =))

    😆

    Tak ada yang ditakutkan. Awak lahir sendiri, mati pun akan sendiri jua. Jadi soal jauh-menjauh itu, bak orang buka lapak di pasar: “Yang jauh mari mendekat, yang dekat mari merapat. Yang menjauh diberi hormat, yang mendekat dirangkul erat.”

    *buka lapak gimbot berantai*:mrgreen:

    Tapi bahwa yang begitu itu justru oknum yang sama “teriak-teriak” soal kebebasan berekspresi, mengecam barisan sorban yang mau ubah ini negara jadi Arab Saudi; ini menggelikan. Kenapa cuma utk soal sengkarut begitu merasa diri liberal dan koar-koar soal toleransi, demokrasi, jangan fanatik? Lha… apa itu namanya, saat ada komplen dari sudut kampung sini soal pemerintahan yang tidak menunaikan sila kelima Pancasila ini? Aku melihat pola pikir otak sapi yang sama yang marah-marah karena burung anonumus kita dijadikan desain Armani Exchange di luar negeri sana, sementara beliau-beliau sendiri enak pakai kolor berbendera negara orang, atau nempel stiker bendera Jamaika di pintu WC-nya sebagai ikon rasta. Oknum-oknum itu di seberang mataku sendiri kok, memang kucengiri, kubantah. Kontan. Tunai. Tak pakai cicilan😆

    Soal Pzink666 itu, ah… semoga bininya lekas menyadarkan. Biar dicemplungkan lagi simcard genitnya itu ke lubang toilet😆

    romantis kali kau.. masih sempat2 ingat kalo bulan ini palentin pulak, jadi kau kirim coklatmu lewat pelet maya itu untuk si ita ato mitha?? =))

    Bah! Si Mitha di Malang itu?? Baru kemarin dia minta mie keriting dari Ambon😆

    beta bangga jadi maluku… seperti ale bangga jadi aceh, bicara tentang suku bukan sebuah pelecehan ras, tapi multikultur yang saling menghormati, bukannya dulu kakek nenek moyang itu bersumpah setia untuk nasionalisme dengan membawa para jong2 java, ambon, sulawesi dll, tapi yah mungkin akibat doktrin para tuan2 obama membuat kita kebablasan bicara tentang kesukuan dan menganggap itu semua adalah pelanggaran..

    Sepakat.
    Begini, Boy…
    Apa salah satu hal yang bisa dibanggakan dari negara ini? Keanekaragaman. Di Sulawesi ada anoa yang tak akan pernah kulihat di sini. Di Papua ada cendrawasih yang mungkin cuma bisa kulihat di televisi. Di Ambon ada irama tifa menari sementara di sini ada rentak seudati. Di Jawa ada batik membalut molek tubuh penari, di sini ada kain songket melambai dalam tari Melayu Deli. Di Borneo mandau menjadi pedang, di sini rencong menyelip di pinggang.

    Tidakkah pelangi itu indah karena warna-warna yang berbeda?

    Ketika kita menerima Bhinneka Tunggal Ika, itu bukanlah artinya semua orang di Nusantara ini mesti dihomogenkan atas nama nasionalisme, satu pikiran satu seragam. Aku menghargai dan menyukai batik dari Jawa, misalnya, sebagai warisan budaya. Ibuku sendiri pencinta batik. Tapi aku akan menolak lahir dan batin jika batik dijadikan standar nasional sehingga wajib diterima oleh semua anak bangsa di Indonesia. Kedunguan yang picik semacam itu, seperti DPR yang konon mewajibkan batik setiap hari jum’at, adalah homogenisasi kebudayaan yang 11-12 dengan pola pikir gerombolan berpentung agama yang hendak mengimpor burqa penutup muka wanita ala Timur Tengah. Jika standardisasi nasionalisme itu dari satu warna saja, itu bukan Bhinneka namanya, tapi Ika thok!

    Apa mereka yang bilang batik adalah corak wajib untuk seremoni negara, mau kalau diwajibkan pakai koteka dari Papua? Apa orang-orang yang bersikukuh bahwa NKRI mesti berpusat ke Pulau Jawa saja mau merasakan betapa sunyinya desa-desa karena orang-orang muda di daerah menabung setiap hasil jual nipah untuk berlomba ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya cuma untuk jadi kuli di pabrik-pabrik yang cuma ada di sana saja? Itu nasionalisme tolol yang cuma akan jadi bumerang saat langit di atas pulau Jawa makin pekat berjelaga dan padatnya penduduk di sana bikin kriminal serupa cendawan di musim hujan.😆

    Dan lihat siapa yang dikorbankan? Orang-orang Jawa sendiri, Boy Almascatie. Mereka jadi korban yang riskan dimusuhi anak-anak negeri di daerah lain, cuma karena ada segelintir cecunguk yang memelintir suku Jawa sebagai satu-satunya pilihan adat dan budaya negara ini. Mereka jadi transmigran yang dicurigai dan disinisi karena dianggap kemaruk akibat pemimpin-pemimpin dan WNI negeri ini sentralistik dalam membangun negeri, cuma dan cuma berbasis di Pulau Jawa saja. Saat transmigran yang tak salah apa-apa ini dimusuhi, diusir dan bahkan dizalimi sebagai pelampiasan, siapa yang paling patut menjadi kambing hitam nan congek? Ya nasionalisme picik itu, meski itu tak lantas membenarkan sikap orang-orang daerah yang menggeneralisir semua orang Jawa. Aku juga keberatan dengan sikap begitu, seperti aku keberatan saat dulu kawanku sendiri yang kemudian jadi gerilyawan sedikit-sedikit bilang Kolonial Jawa dan anti-Jawa. Meski aku maklum jika mengingat di SMA dulu, dia pernah keluar ucapan, “Ikut upacara-upacara negara ini aku tidak merasa berada di Aceh… aku merasa berada di keraton Jawa….” dengan sinisnya, jauh sebelum dia memutuskan masuk hutan dan pegang senjata.

    Sebab hampir tak ada, saat itu, atribut yang menunjukkan identitas daerah ini dalam seremoni-seremoni negara di sini. Semua berbatik…. semua berkebaya, berkemben dan bersanggul ala Kartini… 😕
    *agitasi federasi mode tak bisa OFF*

    Sepertinya definisi nasionalisme itu mesti disarikan ulang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia😐

    @ Zephyr

    Liat skrinsut… ada 7 tab yang masih loading, sepertinya kecepatan koneksi Inet-nya bener-bener parah:mrgreen:

    Matamu itu.. tajam sekali. Pastilah sering mata itu dicemplungkan ke baskom berisi rendaman daun sirih tiap pagi😆

    @ falltralala eh… falltara

    😆
    dari postingan di atas, yg paling menarik perhatian saya memang bagian atas skrinsyutnya..
    loading… loading… loading….

    Kan semalam sudah kucurhatkan, makcik. Parah nian koneksi di sini. Padahal itu pakai akses NyambungTerus™ si Luna Maja secara sah, halal, dan legal tiada bercela. Tidak cacat hukum dan melawan regulasi negara. Sungguh…. berkedip sesekali tulisan indah TRIJI alias 3G, tapi aksesnya… yaaa.. itulah dia…

    *sedih*😥

    [bantu doa lah, biar sinyalnya tambah baek ama angku]

    Amin:mrgreen:
    Doakan jugalah biar lancar pertunangan kukabarkan semalam itu. Sudah siap peci beludru ini untuk foto-foto😆

    @ qzink666

    *bengong liat skrinsyut*
    Benar-benar orang aneh. Tapi, itu sih bukan nasionalisme namanya, tapi berusaha melucu tapi gagal..

    Aneh dan konyol😆

    Tak bisa dikatakan nasionalisme, tapi… coba deh perhatikan kalau main-main ke situs-situs asing seperti Youtube.com, misalnya. Aku sering sekali menemukan orang-orang Spanyol atau Portugal berbahasa negerinya sendiri saat memberi komentar. Seperti “Gracias segnor!” untuk ucapan terimakasih, atau pamit dengan “Adios premios..”.

    Di Tumblr.com, misalnya, menemukan kawan-kawan negara lain yang sering (menyelipkan) bahasa negerinya sendiri, justru membuatku lebih segan lho. Mereka bisa berbahasa Inggris, tapi juga tak segan berbahasa negeri sendiri. Orang Jepang berterimakasih dengan “Arigato Gozaimasu”, tapi kita tidak sebalik. Kita justru merasa lebih mantap jadi Mayumi Itsuwa jika sudah pintar hapal lagu “Kokoro no tomo”.

    Jika dalam berbahasa kita gemar ber-harajuku begitu, maka di saat yang sama mungkin bahasa Indonesia sedang ber-harakiri akibat ulah kita sendiri.

    Kita rajin mengimpor kosa-kata asing, dengan dalih bahwa bahasa Indonesia terbuka dan gampang menyerap bahasa asing, tapi tidak rajin mengekspor bahasa sendiri “keluar negeri” sebagai bahasa lidah sendiri. Yang ada kita malah meributkan bahasa mereka yang kita cap “alay” karena konon merusak bahasa Indonesia dan (ini alasan terkonyol) merusak bahasa Inggris yang malah bukan bahasa ibu di negara ini. Baik hati sekali kita membela bahasa Ratu Elizabeth dengan pakai bahasa Sang Ratu saat mengecam para alay™ tapi tidak mengecam diri sendiri karena menelantarkan KBBI. Apa itu namanya? Rasa rendah diri, minder karena berkesan tidak intelek jika berbahasa Indonesia? Sehingga untuk nampak sopan dan elegan kita gemar ber-IMHO, in my humble opinion, saat menabur opini menuai reaksi? Lebih mantap Mbah Mbelgedez kalau begitu, sebab pernah bikin singkatan sendiri dari IMHO: “Ini Memang Hanya Opini” 😆

    Bahkan…. untuk mencarut saja harus pakai kata “Fuck you!” dan berekspresi kaget dengan “What the fuck?!”, bukannya malah berbahasa sendiri seperti “Diancuk!”, “Teu boga era!”atau “Pukimbeklah klean!”😆

    Termasuk teror-teror yang bikin geli seputar udel oleh preman kampung tentunya

    Masih? Kuharap tidak ada lagi😕


    *padahal gue ketakutan sumpah ketika dia ngancem, “Habislah kau, c**a!!”*

    Anjing-anjing pasar memang rajin menggonggong. Maklum, siapa yang kasih tulang itu yang jadi tuan. Kalau sudah main tangan, jangan diamkan, Kawan. Pembalasan itu bukan urusan paska kiamat saja. Tak bisa balas di badannya, balaskan di namanya. Dirusak ragamu? Rusakkan namanya. Itu guna bahasa bisa dipakai berbalas pantun. Mukamu lembam bisa disembuhkan, hilang muka mereka kemana akan dicarikan?👿

  7. Jd siapa yg hendak bertunangan itu? Jika adikmu, tak tau hendak kmana ambo menyampaikan selamat..
    Hm..
    Apakah beliau itu tak lain adalah soulmate anda; bung jiwa? Wah kalo bgtu angku mesti bagi dia punya no hape soalnya FB tak menunjang utk bbrapa waktu..😀

  8. Pusing bacanya..
    Yang saya tahu, sekarang banyak anak muda yang bisanya mengkritik program pemerintah, tapi tidak melakukan apa-apa untuk negara. Apa bedanya mereka dengan para pejabat yang mereka hujat? Bukan memberi solusi, tapi memperkeruh suasana. Menyebalkan.

  9. @ falltara

    Sepertinya punya bakat meramal Makcik ini:mrgreen:

    @ Haziran

    Resikomu😛

    @ millati_bae

    Pusing bacanya..

    Dimaafkan kepusingannya🙂

    Yang saya tahu, sekarang banyak anak muda yang bisanya mengkritik program pemerintah, tapi tidak melakukan apa-apa untuk negara.

    Ya, banyak. Banyaaak sekali. Apalagi kalau belum jadi PNS. Kalau sudah jadi biasanya juga bungkam dengan alasan “sudah masuk ke sistem”. Bukan begitu?:mrgreen:

    Melakukan “apa-apa” untuk negara itu subjektif dan jangkauannya besar sekali. Abdi negara di pemerintahan saja belum semua bisa. Ulangi: BELUM SEMUA BISA. Anda lihat saja di kawasan Abdya ini, dan survey, tanya, apa definisi berbuat untuk negara? Karena pakai seragam dan lalu duduk di warkop terminal? Mengabdi pada negara dengan berseragam demikian, beda-beda tipis antara mengabdi dan mengisi periuk nasi😀

    Anak-anak muda yang melaut atau pergi ke huma, atau berdagang memperlancar pasokan telur dari Medan di sini, jika demikian juga sama. Dengan menyebut diri swasta yang mungkin terdengar lucu karena bukan PNS yang berseragam, bukan? Apa bedanya? Selain seragam, esensinya sama: Sama-sama mengabdi untuk periuk nasi😆

    *Sekedar info: Swasta itu sendiri muncul karena “orang pemerintah” yang bikin KTP nggak becus. Nggak mau repot banyak-banyak klasifikasi pekerjaan. Jadi selain PNS maka cuma ada opsi “swasta”. Dan jadi kebiasaan sampai saat ini. Lucu? Yang lucu itu tukang bikin KTP-nya🙂

    Apa bedanya mereka dengan para pejabat yang mereka hujat? Bukan memberi solusi, tapi memperkeruh suasana. Menyebalkan.

    Ah ya, menyebalkan. Amin.
    Sama menyebalkannya jika semua masuk ke pemerintahan. Maka dunia ini hitam belaka. Seragam seperti seragam pegawai pemerintah di upacara bendera. Sama menyebalkannya dengan mereka yang bungkam di balik kantor pemerintahan😀

    Tapi… tapi… kasus korupsi baru-baru ini, di dinas pendidikan di Abdya, jika bukan karena “anak-anak muda menyebalkan” itu, tidak akan gampang terkuak. Berapa milyar lagi uang negara terbuang dikemplang pejabat di sini? Siapa yang diharap akan “memperkeruh suasana”? Kaum berseragam coklat muda yang berlogo Pemkab? Aku punya kawan-kawan di balik kantor-kantor itu, dan mereka mengaku hari demi hari mesti belajar menjawab: “Siap, Pak. Ya, Pak. Baik, Pak. Tapi… ah, tidak, Pak… Ya, siap. Siap.” 🙂

    Atau tentang pariwisata yang mati di sini. Mungkin Nona tahu, pariwisata di Abdya mati suri dan terancam mati benaran, apalagi tahun ini APBD kabupaten ini defisit dengan pengelolaan yang simpang-siur. Ah, mungkin anda lebih tahu itu🙂

    Untunglah, Puji Tuhan, ada blog-blog, ada situs web yang bisa dibikin, dan ada blogger yang berwisata dan membantu mengenalkan kabupaten ini, yang diakuinya: Mati lampu bukan fenomena langka. Melengkapi upaya anak-anak muda di luar pemerintahan, yang buang-buang umur menghidupkan sektor pariwisata di sini. Mulai dari merintis Klub Hijau untuk pencinta alam, membina kesenian daerah (silakan ke Desa Meudang Ara atau Manggeng untuk melihat perkumpulan seni daerah yang bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau).

    Pemerintahan? *celingak-celinguk* Dimana pemerintahan? Halo? Sesekali jalan-jalan sore ke arah Pulau Kayu, mungkin kita bisa lihat bahwa Kantor Dinas Pariwisata sudah jadi sarang hantu di sana, bukan?😆
    .
    .
    .
    Eh tapi… tapi… ini kok jadi ke pemerintahan sih? Postingan ini benarnya tentang bahasa lho. Bukannya yang disebut “pejabat pemerintah” yang sering koar-koar soal nasionalisme? Sumpah Pemuda. Indonesia Raya. Satu bahasa, katanya, Bahasa Indonesia.

    Dan apa yang bisa dilakukan? Membina kesadaran berbahasa, termasuk menulis begini atau membina klub menulis di Abdya semacam ini. Kita-kita di luar pemerintahan, di luar seragam PNS yang mulia itu, melakukan cara sendiri untuk apa yang disebut “berbuat” itu, sambil “teriak-teriak nggak jelas” pada pemerintahan ini. Agar tidak makin banyak yang pekak karena merasa pemerintah sudah menjamin periuk nasinya😀

    Ah ya. Terimakasih sudah singgah.🙂

  10. resiko untuk di hujat? =))
    maaf.. saya tak pake seragam :))

    oia gan, yg ini terpilih buat share di fesbuk punya ane ;))

    dan sepertinya, uraian panjang di atas saya ini cocok buat apdet komennya.. meski tidak lagi bahas soal harajuku harakiri.. dan sepertinya, “dalam euy”.. *ke ambon, snorkling*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s