Seremeh Butiran Beras

Dulu, sekali waktu ada seorang kawan di masa kuliah mengeluarkan petuah yang hari ini mendadak terlintas lagi dalam benak:

“Menghabiskan malam dengan begadang, berujuk dengan insomnia terkutuk, tidak selamanya mesti membentang sajadah dan khusyuk merukuk. Apapun bisa awak jadikan ibadah, bahkan hal-hal yang remeh di mata orang lain. Kau dengan tutorial Pascal-mu itu, dan aku dengan novelku, ada manfaatnya masing-masing….”

Awalnya itu guyonan, seingatku. Karena kawanku itu angin-anginan untuk mengutak-atik komputer, maka aku meng-kick-nya untuk ambil wudhu dan ibadah saja. Bukannya sibuk dengan novel-novel semata, menyetem gitar, atau melahap rubrik-rubrik sejenis Humaniora dengan gumam mendengung-dengung bagai lebah.

Perkara bahwa dia mengucapkannya saat itu dengan mata mengantuk, karena belum impas membayar lunas hutang tidur paska kalah dalam pertaruhan tak bermanfaat: bertanding mata siapa paling kuat antara kami untuk terbeliak 3×24 jam tanpa tidur sedikit pun;  itu perkara lain.  Tapi mahasiswa hukum angkatan 1999 itu, yang sering sama-sama bergitar di atap rumah ketika tak ada suara peluru berdentum sehingga “Kembang Pete”-nya Iwan Fals bisa dinyanyikan; ada benarnya bilang begitu dulu. Banyak hal-hal yang dianggap remeh oleh orang-orang yang kami kenal, rupa-rupanya ada manfaat besar dalam waktu singkat paska dihujat, atau bahkan lama sesudah apa-apa yang remeh itu kami sudah tak ingat.

Taruhlah ketololan bersama untuk mencoba jalan kaki di tengah malam buta dari arah kota ke kontrakan di kawasan kampus Darussalam (sebab angkutan sudah tak ada lagi dan musim ujian final di kampus mengancam di pagi nanti), cuma untuk dicegat pengawal stabilitas nasional di pos jembatan Lamnyong lalu disuruh merayap dengan dingin besi laras di jidat agar kami – yang sipil-sipil ini – faham derita mereka saat ngidam baret di Batu Kosek dahulu. Petualangan dungu saat itu, yang cuma bikin masalah dan dengkul kelelahan macam orang lemah syahwat dipaksa ejakulasi 69 kali, pada nyatanya mengajarkan banyak hal. Selain bisa merasakan apa yang dirasa anak-anak sekolah macam dari kampung-kampung pelosok lembah gunung Seulawah, juga meyakinkan fakta bahwa hasil pajak berbentuk senjata di tangan abdi negara yang bermental Fir’aun, bisa bikin pemegang senjata itu merasa jadi Tuhan meski di dadanya ada Garuda Pancasila.

Atau kesukaan menikmati hiruk-pikuk terminal dan sudut-sudut pasar yang udaranya berisi asap, bau busuk sampah dan sumpah-serapah. Melihat ukiran garis-garis kemiskinan pada wajah-wajah yang dilupakan infotainmen dan sinetron negeri ini, seperti nyak-nyak tua bangka yang mencucur peluh berangkat di pagi buta dari desa-desa di luar Banda Aceh (saat para mahasiswa yang mengklaim diri mereka intelektual “Jantong Hatee Rakyat Aceh” masih lelap bergelung manja dibuai mimpi kiriman belanja dari orang tua), dan pulang setelah kelelawar duluan pulang ke pohon-pohon di rimba. Nyak-nyak yang tak sepadan usianya lagi memikul keranjang bambu dan mesti terima dilirik sinis mahasiswi cantik rupawan berparfum harum di angkutan umum. Cuma boleh menunduk saja karena tikar pandan kumal  yang digenggamnya sebagai lapak mencari rezeki itu bersalah mencemari hidung Puan Rupawan yang tersesat naik angkot sebab menara gading bernama Universitas agaknya lupa waktu mendidik para calon sarjana “Jantong Hatee Rakyat Aceh” sehingga bus-bus yang eksklusif bertera “Angkutan Mahasiswa” sudah tak bersisa untuknya.

Adegan hidup serupa itu di depan mata, dalam rupa kemunafikan titel “agent of change” yang murah diobral di spanduk-spanduk dan retorika kampus, dalam rupa mahasiswi berbodi ayam kampus yang lupa bahwa dia akan mati dan bangkainya akan lebih busuk dari bangkai ayam kampung: secara material, tak ada apa-apa ‘kan didapat dari semua itu. Tidak saat itu, tapi sekali waktu, setelah hari demi hari dan tahun-tahun berganti, apa-apa yang remeh-temeh semacam itu akan menjadi pelajaran hidup tersendiri. Sekali waktu mungkin terlupakan, tapi di lain waktu pula akan kembali dikenang segar dalam ingatan.

Jika aku menulis ini, bukanlah tanpa sebab-musabab maka (lagi-lagi) ingat masa lalu. Bukan semata mendadak rindu bertemu mahasiswa sinting yang cuek jika diledek suaranya pernah merusak loudspeaker konser Boomerang itu, atau hasrat tergelak di depan batang hidungnya karena naas rokok Dunhill-nya dirampok sobat lama di postingan tak berjudul, seperti biasa polah sesama kawan-kawan parte bawah pohon. Juga bukan sekedar rasa kangen menggenggam jemari bocah lucu, Si Genggam Bara Kiri, anaknya dari perempuan cantik yang nekat dinikahinya di masa bangku kuliah memberi sesaji buku-buku klasik yang berkhasiat meracuni hasrat untuk hidup se-I Want To Break Free-nya macam Freddie Mercury. Keluarga kecil yang sederhana itu memang layak untuk diingat sebagai alasan minggat sekejap ke Banda Aceh, mengobrol dan bikin ubi bakar di kebunnya, menggendong Genggam dan mengacak rambut gadis kecilnya, Hanya Bela Kiri.

Tapi bukan itu…

Ini semua karena hal remeh dari butir-butir padi yang bisa kita sumbangkan pada orang yang membutuhkan. Ini semua tentang sebuah situs remeh-temeh yang bilang bahwa kau, Kawan, bisa menyumbang beras pada mereka yang kelaparan seperti di gempa Haiti – meskipun tak ada ninik-mamak, kaum keluarga dan handai-taulan tertimpa rangka besi di sana – cuma dengan menjawab sejumlah pertanyaan saja. Semacam kuisioner atau kuis Who Wants To Be A Millionaire? yang bisa kau jumpai di layar televisi.

Aturannya sederhana, seperti tertera dalam bahasa Inggris di situs itu sendiri:

  1. Click on the right answer in the middle of this page.
  2. If you get it right, you get a harder question. If you get it wrong, you get an easier question.
  3. For each answer you get right, we donate 10 grains of rice to the United Nations World Food Program.

Cuma dengan menjawab pertanyaan secara benar, konon kita bisa membantu menyalurkan beras. Kenapa tidak mencoba? 🙂

Iklan

4 thoughts on “Seremeh Butiran Beras

  1. Keduaxxxxxxxxx!!!!!!

    Cuma dengan menjawab pertanyaan secara benar, konon kita bisa membantu menyalurkan beras. Kenapa tidak mencoba?

    Jangan-jangan berasnya kualitas raskin yang rasanya ajaib dan tak manusiawi itu. :mrgreen:

  2. @ Qzink666

    Jangan-jangan berasnya kualitas raskin yang rasanya ajaib dan tak manusiawi itu. :mrgreen:

    pernah mengkonsumsi rupanya 😆

  3. @ almas

    Masih jaman pertamax, di era rezim kebun binatang belakangan ini? 😆

    @ qzink

    Beras raskin? 😆

    Aku sudah pernah “kebetulan” makan itu beras. Niat hati menjenguk salah satu orang becak (yang akhirnya wafat juga kena malaria) di pelosok kampung sini. Di rumahnya itu awak “dipaksa” makan siang. Kalau menolak, tentu tak enak. Jadi kukunyah jugalah beras yang sudah jadi nasi dan sama sekali bukan hakku itu.

    Ohmakjang! Itu beras… Kubilanglah… itu beras yang tak akan pernah dihidangkan di acara resepsi di pendopo para bupati dan anggota dewan yang tiap tahun koak-koak akan senasib-sederita dengan mereka yang dapat jatah beras itu jika terpilih. Masih bagus beras orang bertani untuk dimakan sendiri di sini. Kurasa dimakan para petinggi, apalagi bini-bininya, mesti medical check-up mereka ke Singapura. Dengan anggaran daerah, tentu saja. Seperti biasa.

    Cuma… ada sikit menangnya beras itu, setidaknya nasi yang kumakan hari itu: Tak ada batu kerikil seperti beras catu jatah guru-guru tahun 80-an, macam ibuku, yang selain campur batu acap disunat pula takarannya. Konon untuk yayasan-yayasan ala supersemar-supergarong itu 😆

    Ah ya… tentang beras untuk Haiti di game sederhana itu, yaa.. kita nggak tahu pasti, Bro. Tapi jelas dengan beberapa kali klak-klik itu, dengan optimisme yang mungkin sama seperti saat fenonemalnya koin untuk seorang ibu rumah tangga yang beruntung melek internet, kita bisa bantu walau tak pegang berasnya langsung. Setidaknya kau tak akan melihat hero-hero baru utk penyerahan bantuan secara simbolis di Hard Rock Cafe. 😛

    @ zephyr

    Qzink itu termasuk mantan orang susah. Kurasa tiwul yang sudah 1-H kadaluarsa pun sudah pernah dimakannya juga. Hah, payaah…. Sudah mantan dan nyaris lagi susah, sombong dan keras kepala pulak. Unit bantuan pendanaan pemerintah yang suka ngobral janji saja dia tak sudi menundukkan kepala, meski sudah macam dipijak-pijak sepatu docmart-nya pasar bebas butek kepalanya 😆

    *ngacir sebelum dikuntau jurus bangau*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s