Buku: Antara Gagasan Dan Pilihan

Di tahun lalu, di blog lama, dalam sebuah postingan yang rupanya menjadi salah satu postingan penghabisan di blog itu, aku pernah menuliskan sebuah ucapan: “Buku-buku tidak pernah turun ke jalan!”

Dengan kata lain: buku-buku, kitab-kitab, apapun itu yang berbentuk kumpulan kertas (atau di era digital begini berbentuk halaman-halaman yang dimantrai oleh bahasa pemrograman); memang tidak pernah secara langsung mengubah kenyataan. Tidak ada dalam sejarah, babad, legenda, hikayat, ada buku yang memimpin revolusi, reformasi, apapun macamnya gerakan-gerakan yang mengubah arus sejarah di bumi ini. Kecuali dalam dongeng kanak-kanak, tentunya.

Dan sampai hari ini aku tidak pernah menarik ucapan itu. Buku-buku memang tidak pernah mengubah kenyataan layaknya manusia. Tidak pernah.

Tapi… bahwa buku-buku, seperti halnya karya-karya seni manusia yang pernah muncul di bumi ini, bisa mengubah persepsi, pola pikir, bahkan jalan hidup manusia, itu boleh jadi benar adanya. Gagasan-gagasan yang dituliskan, dikumpulkan dan dibukukan, bisa membawa pengaruh begitu besar pada arus peradaban. Sebutlah Das Kapital-nya Marx (dan Engels), Mein Kampf-nya Hitler, Thus Spoke Zarathustra-nya Nietzsche, dan karya-karya berikutnya dari seorang Nietzschean bernama Michael Foucault yang masih menjadi inspirasi kaum-kaum yang mengklaim ingin mendirikan masyarakat modern yang lebih adil dan manusiawi.

Bahwa gagasan-gagasan mereka dalam bentuk buku-buku itu memiliki pengaruh, adalah suatu fakta yang tak bisa dipungkiri. Misalkan saja, Discipline and Punish-nya Foucault di tahun 1977: sampai saat ini masih menjadi salah satu sumber kritik terhadap bentuk-bentuk hukuman modern – seperti penjara – yang acap melibatkan penerapan kekuasaan yang berlebihan. Gagasan-gagasan para penulisnya itu, yang dibukukan dan lalu dibaca, tentu saja tak serta-merta bikin perubahan dimana-mana. Pustaka-pustaka dan lemari buku akan tetap membisu, sebisu buku-buku itu sendiri. Hanya ketika dia “dibawa” keluar ruangan, diorganisir dalam bentuk pergerakan, maka buku-buku itu akan punya arti. Dengan kata lain: dia minta diterapkan, minta diaplikasikan, bukan diperdebat-kusirkan dan diwacanakan semata-mata. Kecuali, tentu saja untuk sekedar masturbasi intelektual seperti yang bisa kita temui di menara-menara gading bernama universitas, seminar-seminar, dan ranah blogsphere ini. Bicara tentang Madness and Civilization, tidak serta-merta akan membuat masyarakat yang didikotomikan antara yang “waras” dan “tidak waras” menjadi tercerahkan seperti para mahasiswa/sarjana yang sudah terlalu banyak melahap bacaan-bacaan pencerahan demikian.

Di negeri ini, hal demikian akan tetap berlaku. Menolak Bantuan Langsung Tunai karena tahu ada kecurangan takaran, akan dianggap “tidak waras” di zaman yang sudah lebih “edan” dari umpatan edan-nya Ranggawarsita ini. Memprotes dan bikin gerakan di luar kehidupan yang penuh basa-basi ilmiah dan kesantunan, akan sama dicibir sebagai gera’an-gera’an kontra-produktif terhadap tatanan yang sudah jumud tapi mesti bisa dan biasa dinikmati. Bahkan mereka yang mencoba mengaplikasikan apa-apa yang didapat dari buku-buku itu, boleh jadi akan berhadapan dengan para intelektual yang membaca buku yang sama. Misalkan saja, soal ideologi. Konon seseorang yang menjadi atheis atau agnostik karena kenyataan pahit dalam hidupnya, atau terkena mantra-mantra dari aliran kiri yang digelutinya, maka pemahamannya “tidak matang” atau “tidak dalam” dibanding mereka yang tidak mengecapi hal serupa. Dengan kata lain, seolah-olah ada orang yang memang dari sononya ditakdirkan bisa matang mendadak cukup dengan membaca saja, dan ada pula yang meski kenyataan penghidupan lebih pukimak daripada isi buku-buku itu, bisa semena-mena dicap “tidak matang” oleh para intelektual demikian. Apakah para intelektual itu mahasiswa, akademisi, atau bahkan blogger *lirik cermin* sekalipun.

Padahal, apakah buku terbaik yang mengajari kita hidup sejak kecil? Hidup ini sendiri.

Hidup tiap individu, tiap pribadi, yang jauh diluar jangkauan semua buku-buku. Diluar jangkauan mereka yang mungkin sudah terlalu tinggi nalarnya untuk menalar kehidupan pribadi atau massa yang tidak selalu berakal waras. John Gray, misalnya, boleh cuap-cuap soal apa-siapa-mengapa-dan-bagaimana relasi pria dan wanita dalam buku hebatnya: Men Are from Mars, Women Are from Venus. Tapi selalu dan selalu saja akan tetap ada masalah yang tak pernah paripurna paska bukunya cuap-cuap begitu rupa, dalam hubungan antara pria dan wanita. Apalagi kalau sudah bicara soal perasaan subjektif bernama cintah, yang sekali waktu disabdakan Al-mujadid Gentole dengan ucapan, “Cinta adalah masalah yang tak pernah selesai.” Sungguh benar Gentole dengan segala firmannya.

Buku-buku hanyalah pelengkap penderita, Kawan. Kau tak butuh buku-buku manual untuk tahu bagaimana menyuapkan makanan ke muncungmu itu. Kita tak butuh banyak panduan pencerahan untuk tahu apa yang patut dan tidak patut bagi kehidupan di masa kita sendiri. Kau tak cukup membutuhkan kamus untuk definisi kata “Sakit” hanya untuk tahu bagaimana anak-anak yang turun di jalanan, yang bisa kau remehkan selagi kau memamah buku-buku di pustaka atau di blog, digebuki rotan PHH. Adalah konyol dan kocak sekali rasanya, saat aku sendiri pernah menemukan komentar bahwa orang yang memutuskan pilihan atau klaim diri-sendiri untuk menjadi relijius atau menjadi agnostik, menjadi atheis, menjadi libertarian, menjadi kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, karena menggeluti pahit-manis hidup: maka semua pencapaian yang demikian “tidak dalam” katanya. Ya, tidak dalam.

Karena konon butuh renungan yang lebih syahdu dari sekedar jongkok di kakus untuk benar-benar mencapai “tahap makrifat yang dalam” menurut standar kewarasan para pemberi standar demikian. Jadi jika kecewa pada Tuhan, cukuplah kecewa dengan melihat gagasan-gagasan dalam bacaan-bacaan mereka yang kebetulan sudah duluan kecewa. Jika kecewa pada pemerintahan, cukuplah dengan membuka kolom-kolom surat kabar harian yang berisikan retorika-retorika cendekiawan yang berakhiran: Penulis adalah pasca-sarjana yang sedang melanjutkan studi di bla-bla-bla university di Eropa, dan sedikit-sedikit *dengan nada Kemal Attaturk* bikin standar “Kalau di England begini. Kalau di Sweden begitu. Kita mesti menjiplak pencerahan-pencerahan ala Eropa, jika mau negeri Rayuan Pulau Kelapa kita itu semodern Eropa.”

Kasarnya, secara tersirat bahkan seakan mengusulkan impor ide-ide dari benua Amerika untuk dibaca dan dibaca, dan dimamah-biak di sini, seolah-olah dalam minggu yang sama salju dan empat musim pun akan tiba di sini sehingga kita bisa mengimpor sekalian perayaan Thanksgiving Day sambil santap kalkun panggang dan gelar pesta dansa dengan musik La Bamba.

Maka dengan demikian, dengan semua perangai intelek begitu, lalu menjadi dalam, begitukah? Dalam apa? Dalam sumur? Jadi kalau para penulis yang sudah tercerahkan itu mencebur ke perigi, ke sumur, kita – setelah merenungkan – lalu ikut mencebur, dan merasa kita sudah dalam? Mengikuti alur gagasan dari sejarah kehidupan orang lain? Ah ya, tentu itu akan berbeda dengan presiden eh, kerbau yang dicucuk hidungnya, bukan? Ya… ya…

.

.

.

Ahem… sudah, lupakan kontemplasi sarkastis itu… 🙄

Jadi, beberapa hari ini, aku mendapati dan membaca lagi dua buku lama, yang di awal kuliahan sempat memberi pengaruh tersendiri. Bahkan termasuk salah satu faktor yang mengubah jalan hidup sampai hari ini.

Underground-nya Suelette Dreyfus

Ini buku pertama.

Judulnya, Underground: Tales of hacking, madness and obsession on the electronic frontier.

Buku ini kudapatkan pada tahun 2002, jauh sesudah dirilis pertama sekali di tahun 1997. Dan menjadi buku yang belakangan kusadari sebagai salah satu sebab aku memutuskan tetap melanjutkan kuliah di bidang eksakta dengan alasan yang konyol: agar bisa mengutak-atik komputer kampus yang jarang peminatnya (saat) itu.

Sebelum itu, aku tidak pernah memiliki ketertarikan yang serius dengan dunia eksakta. Bahkan jauh dari itu, pada dasarnya bidang yang menjadi minatku sendiri adalah bidang ilmu sosial. Sejak SD hingga SMA aku lebih menyukai perkara-perkara sosial dibanding segala pernak-pernik eksakta. Yang menjadi pengecualian hanyalah fisika dan elektronika. Sederhana saja: fisika, karena kurikulum sekolah (saat itu) fokus pada bagaimana menyelesaikan soal dengan rumus-rumus yang dihafal. Dan soal hafalan, bukanlah perkara yang terlalu susah. Menghafal rumus-rumus fisika, kiranya tak lebih sulit daripada menghafal 10 juz Al Qur’an dulunya. Apalagi ini termasuk – dalam dunia pendidikanku – bidang eksakta yang bebas bereksperimen. Dan selalu menarik untuk diaplikasikan. Dengan modal buku-buku kurikulum sekolah saja, bisa jadi acuan untuk membongkar radio tua dan meng-abrakadabra radio yang sudah wafat untuk hidup kembali seperti sedia kala.

Namun hobi demikian tidak menyurutkan keinginan untuk mengambil jalur pendidikan sosial. Menjelang kenaikan kelas di tahun kedua, di saat harus menentukan apakah mau masuk kelas IPA atau IPS, aku sudah meneguhkan hati untuk mengambil IPS. Namun, hasrat hati merengkuh kursi IPS, apa daya tembok edukasi membentengi ambisi. Sebagai siswa yang naas terjebak tes brengsek bernama Tes IQ saat masuk ke kamp konsentrasi bernama Sekolah Menengah Atas itu, sehingga menjadi salah satu kelinci percobaan dalam kelas yang melambangkan strata siswa-siswa unggul; maka pihak petinggi sekolah – setelah menimbang, mengingat, dan menetapkan –  memutuskan bahwa 33 siswa yang nasibnya ada di selembar kertas bertuliskan numerical ability sekian-sekian, tidak diperkenankan untuk masuk ke jurusan lain selain satu dan cuma satu-satunya: jurusan IPA yang maha mulia. Jurusan bergengsi buah hati institusi edukasi, sibiran tulang yang disayang, lambang pelajar berotak, sarang para siswa teladan, harapan masa depan, panduan kebenaran, tralala-trilili…

Otakku saat itu serasa buntu. Sudah cukup selama 2 tahun, bahkan sudah sejak SMP, aku melihat sekolah mengkasta-kastakan para siswa dengan standar eksakta belaka. Kebijakan dunia pendidikan untuk mengelompokkan siswa yang mereka nilai layak disanjung dan diberi pendidikan lebih, dengan siswa yang marjinal dan cukup dengan pendidikan berstandar “ala-kadar”, adalah hal yang sudah lama memuakkan. Apakah itu kelas unggulan atau sekolah-sekolah unggulan yang pernah jadi kemewahan di propinsi ini. Penindasan tirani pendidikan yang sudah secara halus menanamkan pola eugenika Nazi itu harus dilawan!

*hatsaaahh… macam apaaaa saja!* 😆

Aku tidak sendiri. Bersama sobat sehaluan, seorang kawan sesama penganut mazhab Bangau yang punya slogan sakti “You’ll Never Walk Alone”, perlawanan pun coba dilakukan. Ada lima orang yang terprovokasi dan sama-sama menyebarkan agitasi, sembari melancarkan protes hari demi hari. Tapi… sekolah bergeming. Keputusan itu mutlak, tak bisa diganggu-gugat, dan (memang) tak ada surat-menyurat. Apalagi dari 33 siswa yang masih bertahan hidup setelah 2 tahun sekolah pagi sore – masuk pukul delapan pulang pukul enam petang – cuma beberapa saja yang tersesat dan harus disadarkan demi masa depan mereka yang lebih gemilang – tentu saja menurut penerawangan Sang Kepala Sekolah dan antek-anteknya.

Perjuangan itu kandas. Meski reformasi sudah terjadi, namun praktik Korupsi, Kolusi dan Nespotisme tidak meruap begitu saja. Petinggi sekolah bisa mengorupsi wewenangnya sendiri untuk mencapai ambisinya menyebarkan mazhab eksakta kebanggaannya. Dengan kekuasaan yang korup begitu, kolusi pun dijalin dengan wali kelas, dengan guru-guru yang dekat dengan siswa-siswa yang protes, demi menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar. Jalan ke kelas IPA. Jika saja dibuka mimbar, mungkin Kepsek akan berpidato,

Achtung! Reformasi telah mengantarkan BJ Habibie sebagai presiden! Betapa itu pertanda bahwa sudah saatnya orang eksakta, seperti studi saya, memimpin masa depan nusa, bangsa dan agama. Wir stehen nicht allein! Dan kalian-kalian, 33 siswa yang naas berada dalam kelas eugenika unggul itu, adalah satu dari sedikit calon-calon manusia pilihan Tuhan yang akan mengubah sejarah dengan eksakta. Cuma dengan menguasai eksakta. Allahu akbaaarrr!”

Kebebasan berekspresi boleh diklaim sudah jadi hak asasi. Tapi… sekolah dengan berbagai cara menekan sayap oposan *hatsaaah* yang menentang keharusan untuk masuk kelas IPA. Mulai dari memanggil satu-persatu diantara kami, dengan kesan macam kriminal kena wajib lapor, sampai – ini yang aku tak suka – melayangkan sepucuk surat pengharapan kepada orangtua dari siswa-siswa yang sepertinya sedang gamang menentukan arah pilihan masa depan agar sudi meluangkan waktu agar bisa “sama-sama kita sadarkan demi masa depan mereka…” Tak berhenti sampai di situ saja, bahkan sampai di luar sekolah pun antek-antek sekolah berwujud wakil kepala sekolah juga melaporkan, “Si Anu itu… anak bapak… kami prihatin… dia itu bla-bla-bla… padahal potensinya bli-bli-bli… karena itu Bapak kan bisa tra-la-la agar dia tri-li-li… dan sekolah tentu bisa obladi-oblada….”

Pendek cerita, jadilah aku di situ, di kelas dengan jurusan yang konon elit dan mencerahkan itu: IPA yang maha mulia, yang kemudian berperan menghantarkan kaki ke depan pintu gerbang pendidikan lanjutan, sebuah fakultas eksakta yang justru bukan pilihan pertama, bukan ambisi sama sekali.

Di tahun kedua kuliah, kampus eksakta itu kunon-aktifkan dari daftar kegiatan harian, demi mengambil studi hukum dan mencoba kerja freelance untuk ancar-ancar menjalani dua kuliah di tahun berikutnya sehingga tak membebani orangtua dengan pilihan hidup sendiri. Keputusan terakhir itu justru karena tertarik dengan dunia komputasi, paska membaca buku lawas yang kupajang di atas itu. Meski non-aktif dari fakultas eksakta tersebut, namun keisengan masih sempat bermain-main ke fakultas dan menyusup masuk ke laboratorium komputer. Sebagai anak daerah dari desa yang cuma kenal Windows ’95 – sistem operasi yang ikon desktop-nya segede tutup botol soda – komputer selalu menarikku dari dulu. Sebuah barang hebat yang langka. Maka, dengan modal cuma paham Ms-DOS, Lotus 1-2-3, dBaseIII, serta mengetik cuma bisa pakai Wordstar, dunia baru pun dibikin di dalam laboratorium fisika komputasi. Bersenang-senang dengan ambisi hacker-wannabe sampai merasa bahwa kutukan insomnia sudah berubah menjadi berkah.

Buku itu adalah buku yang mengubah jalur hidup. Mungkin jika tidak membacanya, tidak tertarik dan berobsesi (temporer) untuk menjalani dunia bawah-nya Electron dan Phoenix, aku tidak akan pernah kembali ke jurusan yang dicap paling bengal di fakultas eksakta kami itu, dan tidak akan pernah mencicipi rasanya menjajal secuil aktivitas phreaking, antusias belajar tentang pemrograman, tentang routing dan sistem jaringan, serta segala ketek-bengek sejenisnya. Belum tentu saat itu aku akan menekuni ketertarikan yang sama seperti sobat baik dari angkatan ’99, meski tetap saja jalan hidup kemudian berbeda-beda: dia tetap menjadi seorang administrator IT di IFRC dan aku pulang kampung untuk jaga gudang di lapak keluarga :mrgreen:

Nah, buku berikutnya…

Sampul Animal Farm-nya Orwell

Sampul Animal Farm-nya Orwell

Animal Farm-nya George Orwell

Buku ini (atau novel, tepatnya) adalah sebuah buku yang kudapatkan di saat mengambil studi hukum. Sebuah novel distopia yang menyindir tentang bagaimana siklus kekuasaan paska jatuh-menjatuhkan. Tepat di saat pergerakan di Aceh sedang hangat-hangatnya, sebelum dan sesudah Megawati menghamburkan airmata buaya di mesjid raya Bairurrahman, dengan janji untuk tidak akan meneteskan darah lagi di Aceh ini, tapi terkhianati keputusan Darurat Militer yang menyakiti hati. Buku ini menjadi salah satu sebab untuk bersikap optimis dan – ironisnya – sekaligus sinis dan pesimis dengan situasi dan kondisi saat itu, bahkan mungkin sampai saat ini.

Optimis, dengan keikutsertaan membaur dengan kawan-kawan yang ada di pergerakan-pergerakan. Optimis, seoptimis hadih maja di Aceh: Pat ujeuen nyang han pirang, pat prang nyang han reuda, maka ada kepercayaan bahwa konflik akan selesai dan Aceh akan bisa bahagia seperti Desmond dan Molly dalam lagunya The Beatles: Obladi Oblada.

Namun sikap pesimis dan sinis juga ditumbuh-kembangkan dari buku yang satu ini. Tidak melulu negatif manfaatnya. Dengan sikap sinis dan pesimis, ada kontrol diri atau pengingat baik pada diri sendiri atau pada rekan-rekan di tahun-tahun itu, bahwa sejarah adalah sebuah rotasi, dan perulangan adalah sunatullah yang kita tak tahu siapa akan mengganti siapa, dan bagaimana pula perangainya. Hari ini kita turunkan satu dajjal, dengan mengorbankan punggung yang lainnya, bahkan nyawa dan harta-benda, lalu kelak akan naik yang baru, dan diantara mereka akan kembali hadir dajjal-dajjal yang sama.

Kritik-diri-sendiri seperti ini (self-critic, kata orang bule), cukup mempan juga untuk menarik garis demarkasi antara idealisme karbitan macam kami yang tak seberapamana ini, dengan kenyataan yang sering mengejek hati. Wakil gubernur di Aceh saat ini adalah salah satu dari manusia-manusia kampus dalam tahun-tahun pergerakan serupa sebelum tsunami datang menjenguk tanah ini. Dan kritikan serupa, dalam periode kekuasaanya paska memenangkan Pilkada, kini singgah pada dirinya pula. Dulu dipanggil Bang, kini dipanggil Pak. Dulu anti-otoritas, kini menjadi bagian dari otoritas. Politik dan ragam bidang sosial serupa, adalah puzzle yang acak dan tak bisa dipatok dengan statistika ala eksakta, karena ada benturan moral, benturan personal, ambisi-ambisi indivual yang berbeda-beda di dalamnya. (Dan ini yang membuatku tertarik pada ilmu-ilmu sosial dibanding ilmu eksakta yang nyaris tanpa emosi dan terlalu waras itu).

Buku Animal Farm itu sudah jauh lebih dulu menggambarkan kondisi serupa, apakah kondisi di zaman Stalin hingga kondisi kontemporer Indonesia saat ini. Buku yang dimaksudkan oleh Orwell untuk menyindir Stalin di Rusia itu, pada kenyataannya menjadi gambaran yang sama di sepanjang zaman dan pemerintahan. Dari sebuah kisah di peternakan para binatang yang melakukan revolusi, ada ibrah tersendiri untuk jadi ukuran di zaman ini. Kisah itu sendiri sinopsisnya begini:

Di sebuah peternakan bernama Peternakan Manor…

Seekor babi tua bernama Old Major/Mayor Tua, memberitahu para binatang di peternakan yang sama, bahwa dia bermimpi manusia akan menghilang, lalu binatang-binatang merdeka untuk hidup dalam keamanan dan keharmonisan. Dia menyamakan manusia dengan parasit, dan lalu mengajarkan para binatang lagu revolusioner: Beasts of England.

Di kemudian hari babi tua itu meninggal, dan dua ekor babi lainnya – Snowball dan Napoleon – mengambil-alih pimpinan, lalu mulai mengaplikasikan ajaran si Mayor Tua menjadi paham politik para binatang sepenuhnya. Dan pemberontakan pun tiba. Mereka yang sudah kelaparan memberontak dan mengusir manusia pemilik peternakan – Tuan Jones beserta istri dan burung gagak kesayangannya, Moses – dari peternakan itu. Peternakan itu kemudian dinamakan “Peternakan Hewan”.

The Seven Commandments of Animalism, sebuah falsafah baru binatangisme, dicantumkan di dinding bangsal, agar dibaca dan dipatuhi oleh semua binatang. Hukum yang ketujuh dan yang paling penting ialah “semua binatang adalah sama.” Semua binatang bekerja, tetapi diantara mereka, cuma seekor kuda bernama Boxer yang melakukan kerja lebih keras daripada yang lain, dan terus menggumamkan ujar-ujar yang diciptakannya sendiri: “Aku akan bekerja lebih keras.”

Snowball mengajar binatang-binatang lain membaca dan menulis (walaupun tidak banyak binatang pandai belajar membaca), makanan banyak karena hasil panen yang, dan peternakan itu pun berjalan lancar. Namun para babi lainnya mulai menaikkan posisi mereka ke posisi pimpinan, mulai terbiasa diistimewakan dengan makanan spesial seolah-olah penting demi kesehatan mereka. Sementaraa itu, Napoleon memisahkan anak-anak anjing daripada orang tua mereka dan melatih mereka itu diam-diam. Ketika Tuan Jones mencoba merebut kembali peternakan itu, dia kalah dengan para binatang dalam pertempuran yang dikenal dengan Battle of the Cowshed.

Pelan-pelan mulai terjadi perebutan pengaruh kekuasaan antara Napoleon dan Snowball, untuk memimpin peternakan. Ketika Snowball mengumumkan gagasannya tentang pembangunan sebuah kincir angin, Napoleon menentang usulan tersebut. Saat Snowball mencetuskan ide tersebut dalam sebuah rapat besar, dengan memberikan argumentasi di balik gagasannya itu, Napoleon pun melakukan sabosate dengan anjing-anjing yang sudah dilatihnya, dan mengusir Snowball dari peternakan. Dengan hilangnya Snowball, Napoleon memproklamasikan diri sebagai pemimpin peternakan dan membuat perubahan-perubahan. Dia mengumumkan peraturan bahwa tidak akan ada rapat-rapat lagi, dan sebuah komisi yang hanya diisi oleh para babi akan menjalankan peternakan tersebut untuk selanjutnya.

Melalui juru propaganda, seekor babi muda bernama Squealer, Napoleon lalu mengumumkan bahwa gagasan kincir angin adalah gagasannya, dan Snowbbal adalah pencuri ide saja. Dengan demikian, gagasan Snowball itu diambil-alih oleh Napoleon, dan dilanjutkan dengan pembangunan kincir angin yang dibebankan kepada binatang-binatang dalam peternakan itu, dengan janji bahwa hidup mereka akan lebih mudah setelah kincir angin tersebut tegak berdiri.

Ketika kemudian sebuah angin topan merubuhkan kincir angin yang sudah berdiri, Napoleon dan Squealer mencoba meyakinkan para binatang bahwa Snowball ada di balik tragedi itu, meski para petani di peternakan tetangga mencemooh karena kincir angin itu terlalu kurus untuk tegak berdiri. Setelah itu, mulailah Napoleon melakukan pembersihan dalam peternakan, dengan menangkap dan membunuh banyak binatang yang dituduh sekongkol dengan Snowball. Sementara Boxer, si kuda pekerja keras itu, kini menciptakan ujar-ujar keduanya: “Napoleon selalu benar”.

Napoleon mulai menyalahgunakan kekuasaannya, dan kehidupan di dalam peternakan menjadi semakin sukar bagi binatang-binatang yang lain; babi-babi mengenakan lebih banyak kontrol sementara mereka memberikan hak-hak istimewa bagi diri mereka sendiri. Babi-babi itu menulis ulang sejarah untuk menjelek-jelekkan Snowball (misalkan bahwa Snowball berperang pada sisi manusia pada Battle of the Cowshed), dan memuja-muja Napoleon. Sementara Squealer, si babi juru propaganda, dengan lihaynya membenarkan setiap langkah dan statemen Napoleon, termasuk perubahan isi The Seven Commandments of Animalism yang bertulis “Binatang tidak boleh minum alkohol” menjadi “Binatang tidak boleh minum alkohol berlebihan” ketika mereka menemukan whisky-whisky pemilik peternakan sebelumnya. Lagu “Beasts of England” menjadi lagu yang dilarang karena dianggap tidak sesuai lagi, sebab cita-cita Peternakan Hewan sudah tercapai, dan diganti dengan lagu yang memuliakan Napoleon. Perlahan tapi pasti, Napoleon mulai memiliki gaya hidup yang mirip dengan manusia. Sementara para binatang, meskipun hidup lapar, kedinginan dan mesti bekerja-keras, dengan pengkondisian psikologis yang diciptakan, masih percaya bahwa mereka hidup jauh lebih baik daripada saat peternakan masih dimiliki oleh Tuan Jones.

Sekali waktu, Tuan Frederick, salah satu daripada dua orang tetangga petani, menipu Napoleon dengan membeli kayu balok Peternakan Hewan menggunakan uang palsu, dan kemudian menyerang peternakan itu dengan menggunakan mesiu untuk meledakkan kincir angin yang baru saja direnovasi. Walaupun binatang-binatang di Peternakan Hewan akhirnya menang dalam pertempuran, korban yang jatuh sangatlah banyak. Termasuk si kuda pekerja keras, Boxer. Walaupun demikian, si kuda Boxer bertekad akan membangun lagi kincir angin tersebut dan bekerja lebih giat sehingga akhirnya ia jatuh kelelahan saat membangun kincir angin tersebut. Napoleon pun mengirimkan mobil van yang dikatakannya akan membawa Boxer ke dokter hewan. Namun, seekor kambing yang tidak buta aksara, membaca tulisan di mobil van itu: “Alfred Simmonds, Horse Slaughterer and Glue Boiler”, yang tak lain bermakna bahwa Boxer akan dijagal. Namun usaha para binatang untuk menyelamatkan sang kuda Boxer sia-sia. Squealer, si juru propaganda, mengatakan bahwa tulisan itu muncul disebabkan mobil itu adalah mobil bekas yang baru saja dibeli oleh pihak rumah sakit sehingga belum sempat dicat ulang. Dia juga mengumumkan bahwa Boxer telah meninggal di rumah sakit sesudah melalui perawatan terbaik, sementara kenyataannya Boxer telah dijual ke pejagalan dan uang hasil penjualan itu dibelikan whisky untuk para babi.

Tahun-tahun berlalu dan para babi belajar berjalan tegak, membawa cambuk dan mengenakan pakaian. Tujuh Hukum yang dulu dibuat kini sudah diringkas menjadi satu kalimat: “Semua binatang adalah sama, tapi beberapa binatang adalah lebih sama daripada yang lainnya.”

Napoleon pun sudah pintar mengadakan jamuan makan malam dengan para babi dan manusia di area peternakan sekitar, yang mengucapkan selamat kepadanya karena memiliki binatang-binatang yang paling rajin walaupun diberi makanan paling sedikit. Napoleon lalu mengumumkan persekutuannya dengan para manusia untuk menentang kelas pekerja dari kedua dunia yang berbeda. Pada akhirnya ia mengubah nama Peternakan Hewan menjadi Peternakan Manor kembali.

Para binatang di peternakan tersebut, ketika mendengar percakapan Napoleon itu, akhirnya menyadari bahwa babi-babi itu telah berubah. Dalam satu permainan poker antara Napoleon dan Tuan Pilkington sebuah pertengkaran terjadi. Dan para binatang lalu menyadari bahwa wajah para babi dan para manusia begitu mirip, sehingga mereka tak dapat membedakannya lagi…

Menarik? Merasa dejavu? :mrgreen:

Buku ini memang layak baca. Menjadi cerminan sebagai warga negara, sebagai warga masyarakat, kapan dan dimana pun kita berada. Setidaknya, di tengah berita-berita media yang gencar mengisahkan fabel seputar Cecak, Buaya, Gurita dan – yang terbaru – Kerbau belakangan ini, membaca Animal Farm boleh jadi hiburan dan sarana untuk mencengiri rotasi sejarah di bawah matahari yang sama yang terbit di Rusia.

Buku, bahkan stensilan sekalipun, adalah cermin peradaban yang pada hakikatnya tetap membisu dalam bentuk lembaran-lembaran kaku. Mereka tak bicara, kitalah yang membicarakannya. Mereka tak bersuara, kitalah yang menyuarakannya. Mereka tak bergerak, kitalah yang menggerakkannya. Dalam setiap buku yang kita pilih, kita baca dan kita cerna, ada pilihan lain untuk meletakkan buku itu – apalagi buku favorit – sekedar benda mati di lemari atau menghidupkannya dalam diri sendiri seperti kita hidupkan musik yang kita suka dalam kehidupan sehari-hari. Ini tak ubahnya seperti muslim-muslim mengaji Quran, atau celakanya cuma menjadikannya al kitab fi sanding, alias kitab yang cuma tersandar lemas di dinding. Dibaca, diraung-raungkan jika perlu pakai speaker sekeras suara konser, tapi tak diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Akhirnya, sama seperti aku mencela buku-buku para intelektual yang meletakkan diri mereka di menara gading akademik dan zona nyaman, seperti itu pula kitab-kitab panduan kehidupan – apakah itu Injil atau Quran – bisa jadi celaan di sepanjang zaman. Pengagumnya, pengikutnya, pemuja buku atau kitab-kitab itulah yang melecehkan bacaan-bacaan yang mereka agungkan, cuma sebagai sarana debat-kusir semata…

Ah sudahlah…

Inilah dua buku yang kubaca seminggu belakangan ini. Dan keduanya dalam versi ebook, yang bisa ditemukan di situs-situs pencarian di internet ini. Buku Underground: Tales of hacking, madness and obsession on the electronic frontier itu sendiri memang disediakan edisi ebook gratis oleh penulisnya, Suelette Dreyfuss.

NB: Sinopsis “Animal Farm” dipermak dari sinopsis Wikipedia bahasa Inggris dan Wikipedia bahasa Indonesia, dengan editan di beberapa bagian.

Iklan

2 thoughts on “Buku: Antara Gagasan Dan Pilihan

  1. 🙄

    Kau maklumi sajalah…. aku di sini cuma seorang pria biasa ganteng bersahaja yang mempoligami Luna dan Gita. Dua sosok yang langka dan antik di sini…. Jadi kalau mereka suka ngambek tak bisa dihubungi, maklumilah…. Sama seperti orang berbini musti faham kalau bini suka ngambek2 tak menentu kena PMS…. 😕

    Kau sedang PMS-kah? 😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s