Imejinesyen

Perstli…. judul postingan ini ebsolutli not oraik, baik dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Inggris. Termasuk kalimat pembuka ini sendiri. Tapi… elok tak usah dipusingkan, bikoz ini postingan bukan soal lingua dan bukan pula soal bagaimana agar lidah dan jemari kita terbiasa untuk fasih dan always benar mangecek dan manulieh dalam bahsa nanggroe Inggreh. Postingan ini cuma postingan ringan soal … imajinasi, tentu saja.

Jadi… bertahun-tahun silam, seorang ilmuwan yang rambutnya mirip-mirip Manusia Saiya Super, pernah mencelotehkan kalimah hebat yang sampai kini masih diingat-ingat. Begini katanya,

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

Ada beberapa varian dari ucapan yang masuk dalam koleksi kuotasi-kuotasi tersohor di planet bumi kita itu. Ada yang bunyinya begini,

I am enough of an artist to draw freely upon my imagination. Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world.

Dan ada yang bunyinya begitu,

Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited , wheras imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.

Yang manapun yang benar, biarlah kita pungkas dengan kalimah pamungkas, “”Wallahu’alam bissawab. Biarlah Einstein sendiri yang kelak menjawab.” Karena semua kutipan yang mungkin sudah dikorting atau malah ditambah bonus itu (hei, sejarah siapa yang bisa kasih pasti?! Kisah para pahlawan hari ini mungkin adalah sejarah para pecundang yang dipermak karena menang), intinya adalah kata “imagination” itu sendiri.

Imajinasi.

Di koridor kampusku dulu, di satu bagian dinding himpunan mahasiswa fisika yang bangunannya cukup dhaif itu, penggalan ucapannya itu menjadi grafiti yang terlihat sehari-hari. Tulisan itu, entah coretan siapa yang agaknya gemar berimajinasi, kecil saja hurufnya. Termaktub di bagian buritan himpunan, tak jauh dari pohon petai cina. Bulan-bulan pertama menjadi mahasiswa, sering juga kubaca tulisan itu. Meski kemudian kusadari kuotasi bagus yang sudah disunat itu menghilang, dan mayoritas civitas akademika yang lalu-lalang ternyata lebih terbiasa dengan  kuotasi lain yang coretannya lebih banyak memakan cat di dinding samping himpunan, lebih besar-besar hurufnya, lebih powerfull, yang berbunyi,  “Knowledge is power!”

Mungkin tujuan dibuat kalimat bahasa Inggris dengan tiga huruf itu adalah perangsang mahasiswa (terutama mahasiswa baru) untuk menyerahkan kepercayaan bahwa apa yang disebut knowledge adalah kekuatan, kekuasaan, sehingga hendaknya terpacu untuk menimba ilmu seperti timba rakus mereguk air murni dari perigi suci. Konon manusia dari sononya memang memiliki bawaan untuk mengidamkan punya kekuasaan atau kekuatan, baik dengan sadar atau di bawah sadar (silakan cek dengan psikiater anda sendiri soal ini). Dan kalimat di dinding himpunan mahasiswa itu, cukup sugestif untuk membujuk mahasiswa yang pesimis, yang bawaannya santai, atau memang pemalas, dengan iming-iming kekuasaan di masa depan, seakan berucap, “Mau kekuasaan? Tunggu apa lagi? Kejar dosennya! Jangan tunggu lama-lama… nanti kekuasaan yang mestinya jadi takdirmu direbut orang! Masuklah ruang kuliah! Mawuuu?? Yuukk.. mari…”

Salah? Tidak. Kuotasi itu cukup bagus lah. Tapi… sayangnya, kuotasi tiga kata itu salah alamat. Siapa pun yang melukisnya atau memerintahkan untuk melukisnya, kelewat berambisi pada kata knowledge di sana, sehingga knowledge-nya sendiri jadi minus, dengan membubuhkan Syeikh Albert Einstein sebagai penasbih ucapan itu. Berobsesi pada knowledge yang kelak diidamkan akan memberi power, bisa bikin orang kelewat pe-de, termasuk rata-rata yang pernah iseng kutanya itu ucapan siapa, dan dengan mantap, begitu haqqul yaqin menjawab, “Albert Einstein!”

Padahal… itu ucapan Tuan Francis Bacon yang pernah kubaca entah di buku pelajaran SMA atau malah di kertas koran bekas bungkusan rujak. Sementara orang yang pernah menyarankan Presiden Roosevelt untuk bikin bom atom (melalui suratnya bertanggal 2 Agustus 1939) itu, justru “mencela” tendensi power demikian dengan cengiran sabdanya, “Whoever undertakes to set himself up as a judge of Truth and Knowledge is shipwrecked by the laughter of the gods.”

Namun, menjadi mahasiswa yang gemar pada sastra dan ilmu sosial tapi malah kesasar ke jurusan eksakta memang resikonya akan susah mendebat satu keyakinan, apalagi jika itu menyangkut apa-apa yang dianggap roh dari sebuah altar pemujaan. Orang sains dan orang religius, pada titik tertentu sama-sama bisa menjadi lunatik amatir yang keras kepala. Percayalah:mrgreen:

Tapi tentunya hal itu tak menjadi masalah penting. Tentu tidak. Karena pada kenyataannya, kehidupan di balik tembok laboratorium kampus, di ruang diskusi santai kami, di kantin, bahkan di himpunan yang sudah macam rumah singgah mahasiswa dhaif (nyaris-nyaris jadi mahasiswa jalanan di akhir bulan), sering dihiasi imajinasi yang kadang-kadang di luar akal sehat. Padahal bicara soal apa-apa yang dianggap ilmiah, eksakta, rasional. Mulai dari debatan mahasiswa agak-agak Darwinian yang percaya Tuhan itu lebih ilmiah dan jenius daripada pesulap abrakadabra dalam menciptakan “lumpur kehidupan”, melawan pengamin Harun Yahya yang pokoknya merasa semua sudah ada dalam Al-Quran (biar pun sang pembela cuma hapal surah Al Fatihah dan surah-surah pendek di juz 30 saja); sampai dengan rencana penelitian geothermal di Pulau Sabang yang malah membahas soal teori mistik pertemuan panas-dingin arus laut ala  buku-buku ghaib Muhammad Isa Dawud. Juga diskusi seru di malam-malam pembobolan bandwith kampus demi mengunduh Mp3 terbaru, sambil mengutak-atik program Scilab di mesin Linux, dengan bahasan metafora Butterfly Effect sampai kehidupan intelek di luar angkasa sana yang konon pernah mengimpor peradaban hi-tech ke bangsa kuno Aztec.

Bukan main imajinasi itu bisa menginspirasi banyak hal. Yang junior-junior melongo dan tersundut pantatnya mau lebih tahu. Yang senior tak mau kalah dalam menyajikan bualan-bualan imajinasi terbaru. Kehidupan kampus, bahkan di dunia eksakta sekali pun, tak lepas dari buaian imajinasi manusia itu sendiri.

Maka, ketika seorang kawan bertanya sore kemarin di pinggir sungai,  “Apakah usia kita masih layak berkhayal, berimajinasi?” aku mencengir-cengir jadinya. Paska mencuci motor lalu merendamkan badan sambil menonton kerbau-kerbau berubah menjadi bulldozer alami merenangi arus sungai untuk pulang ke kandang di ujung desa, percakapan ringan yang terjadi memang nyaris kering dan begitu biasa.

Kawan yang waktu kecil dulu jago membual bahwa dia pernah melompat ke sungai dari jembatan  besi seratus meter – sementara saat itu jembatan di kecamatan ini cuma jembatan kayu yang tingginya semampai (semeter tak sampai), yang diatur rapi dengan bea cukai 200 rupiah saja untuk sepeda onta orang-orang desa melintas di bagian hilir sungai yang beriak tanda tak dalam – kini mengakui bahwa imajinasinya sudah kandas dirampas hidup yang bikin keringat terkuras. Rupiah mengejek-ejek di sepanjang lorong pasar, dimana kios kecil yang sewanya lebih sering naik daripada turun mesti dibuka pagi-pagi, agar kaum ibu yang hendak beli kangkung dan mungkin butuh tangannya untuk memastikan isi batok kelapa sukses diperkosa sebungkah duri-duri besi di mesin kukur, sudi singgah duluan untuk menambah isi tabungannya. Imajinasi? Sudah sekarat di bawah matahari dan tengik menggenang air pelimbahan meski  lunas tuntas tagihan pajak kebersihan.

Berimajinasi, tentu tak ada salahnya. Dan tak ada batasan untuk itu, kataku. Tidak batasan usia dan tidak pula batasan pekerjaan. Sebagai kawan dari masa kanak-kanak, meski kadang-kadang jengkel dikibusnya, tak bisa dipungkiri bahwa dia salah satu dari tukang ulok favoritku. Dari bibir dan gerak matanya bercerita, imajinasi setinggi langit diukirnya. Bukan main banyaknya cerita yang ajaib-ajaib dikisahkannya. Legenda piring-piring yang keluar dari mata air di masa dahulu kala, di setiap perayaan maulid di satu desa daerah kami ini, adalah salah satu cerita dongeng purba yang masih tersisa dari bibirnya, dan kami jarang tahu saat itu.

Berbusa-busa bibirnya memberi cerita secara gratis, dengan peci macam pencuri ayam dan sarung rapi melipat juz ‘amma selepas pulang mengaji. Panggilannya saja Boncu, sebuah nama  boneka dari acara Boncu Show zaman itu, yang mulutnya nauzubillah lebar jika berbicara, seperti gayanya jika menyajikan cemilan hikayat, dongeng, legenda, dengan penuh imajinasi. Terkadang imajinasi itu bisa campur-aduk seenak perutnya sendiri. Umpama, motor belalang tempurnya Kotaro Minami, Si Ksatria Baja Hitam itu, benar-benar ada! Tapi jangan harap dia akan ke Aceh. Tidak juga Gorgom, musuhnya. Orang Jepang trauma datang ke Aceh, sebab dulu pernah hilang sepeda lipat dari kayu punya mereka saat mendarat di sini, akibat taruhan balap dengan kerbau bule yang keramat. Mungkin jika kami masih kanak-kanak di zaman iklan Panasonic is your life begini, akan lain pula imajinasinya: Yang keluar dari mata air bukanlah piring, melainkan berlusin-lusin magic jar. 😆

Bukankah imajinasi itu bisa menghibur hati, Kawan?

Bukankah imajinasi pula yang dulu bisa bikin satu keping peta bumi begini menjadi sosok anggun seorang ratu begitu? Bukankah imajinasi pula yang melahirkan legenda-legenda klasik seperti pertempuran Tuan dan Naga di Aceh Selatan? Sebuah kisah turun-temurun yang sempat dicicipi birahi lautnya Dino Umahuk, (penyair yang dicatut Si Bocah Ambon di salah satu postingannya), dan masih menjadi kisah imajinasi kanak-kanak hari ini, biar pun seorang junior sialan di sana nyaris durhaka pada legenda kotanya sendiri.

Ketika senja hampir turun dan cuaca akan gelap, kawanan para bujang lapuk yang mengucil berendam kemaluan malu-malu di sungai bernama Krueng Beukah itu pun bubar. Namun, dalam kegelapan sisi kota kecil yang pasrah pada perangai sebuah benda uzur di satu gardu milik pemerintah, yang ngos-ngosan menyuplai kebutuhan pokok bernama LISTRIK untuk daerah kami ini, aku memikir-mikirkan juga pertanyaannya itu. Pertanyaan yang timbul karena bercakap-cakap soal bualan-bualan di masa kecil. Bualan yang dihiasi imajinasi naif kanak-kanak dan untuk kanak-kanak saja.

Imajinasi-imajinasi itu mungkin bisa bikin jalan hidupnya berubah, jika dia masih berbakat sama dan membentuknya dalam wujud lain. Siapa tahu, seperti kemiskinan melahirkan Enrico Caruso, penyanyi tenor legendaris dari sebuah keluarga Italia miskin sebagai anak pertama dari delapan belas bersaudara, maka dia bisa begitu pula? Atau… menuliskan cerita-cerita imajinasinya itu seperti laku seorang penempel label botol di sebuah gudang kumuh yang juga sarang tikus, dan dikenal dunia dengan nama Charles Dickens.

Tapi… sejarah hidup dan persepsi memang tak selalu sama. Dia, beserta beberapa tukang dongeng dari masa kecilku itu, adalah legenda kanak-kanak kami yang makin terasing dari imajinasinya sendiri. Cuma tersisa sedikit yang membuatku suka dan bisa berharap kepiawaian legenda-legenda masa kecil itu tak akan mati ditikam zaman pancaroba begini: ketika dia – dan para pembual legendaris dari masa kecil itu – bilang akan mewariskan cerita-cerita imajinatif pada anak-anak mereka nanti. Itu pun cukuplah, setidaknya sebagai kisah-kisah klasik untuk masa depan…

4 thoughts on “Imejinesyen

  1. Saya percaya orang Aceh memang paling jago dalam berimajinasi. Contoh legendarisnya tentu ibu Cut Sahara Fona yang berkat imajinasinya (bukankah akal-akalan bagian dari imajinasi juga?) berhasil membodohi keluarga Orde Baru dengan mengaku mengandung bayi yg bisa melantunkan alquran. Keluarga percaya sebelum akhirnya Ibu Sahara Fona terbukti memasang kaset di perutnya..😀

    Saya ketawa ketika ayah cerita soal itu dulu. Dengan imajinasinya beliau berhasil menipu begitu banyak petinggi negara tanpa dituntut di pengadilan.😆

  2. @ almas
    😯

    Ka…kau… kau baca postingan ini sam….sambil semedi di kuburan kah? Wahai! Jangn ikuti langkah syaitan cuma untuk menang togel!

    *disepak* =))

    @ qzink

    Saya percaya orang Aceh memang paling jago dalam berimajinasi. Contoh legendarisnya tentu ibu Cut Sahara Fona yang berkat imajinasinya (bukankah akal-akalan bagian dari imajinasi juga?) berhasil membodohi keluarga Orde Baru dengan mengaku mengandung bayi yg bisa melantunkan alquran. Keluarga percaya sebelum akhirnya Ibu Sahara Fona terbukti memasang kaset di perutnya..😀

    😆

    Masih ingat kau cerita itu rupanya? Memang banyaknya hoax macam itu di Aceh. Di masa SD-ku, heboh cerita ada kuburan bercahaya. Ramai orang datang ke kuburan yang tiba-tiba saja ada di antara pohonan kelapa di persawahan. Sudah heboh yang bermental judi buntut diam-diam beringsut meletakkan sesaji biar tembus barang 2 angka. Tapi… eh ternyata oh ternyata… .cahaya permainan fosfor beberapa anak muda iseng saja. Keluarnya pun cuma sehabis senja merayap turun. Dan sialnya…. belakangan hari mereka buka kartu siapa-siapa orang goblok yang meletakkan sesaji biar menang judi togel di radio singapura itu😆

    Satu sisi, bakat “tipu Aceh” itu bisa menghibur. Jadi lawakan sepanjang zaman, bahkan jadi bagian dari sejarah kepahlawanan, macam Teuku Umar menipu Kumpeni Belanda.

    Tapi di sisi lain, kalau sudah “hijau mata” orang Aceh lihat emas, tipu Aceh itu bukan main sialannya. Sampai ada pameo usang di sini untuk dicatut sebagai penyesatan kaum, “Meunyoe na pakat, lampoh jirat ta peugala” alias, “kalau sudah sepakat, tanah kuburan (keluarga) pun kita jual”. Iya kalau kepepet dan untuk kebaikan bersama, lahh… kalo nipu kaum cuma buat dapat harta?😆

    Kalau mau baca tipu-tipu Aceh yang lain, elok kau baca Aceh Di Mata Orang Sunda. Dari tipu yang vukimack sampai yang kocak ada di situ😀

    Ah ya, yang teranyar ini, baru tadi pagi kubaca dan kukomenkan langsung: Tapak Kaki Raksasa Hebohkan Aceh. Setahuku ini omongkosong juga, sama macam Anak Dikutuk Jadi Ikan di Aceh Selatan dulu. Imajinasi sesat😆

    Saya ketawa ketika ayah cerita soal itu dulu. Dengan imajinasinya beliau berhasil menipu begitu banyak petinggi negara tanpa dituntut di pengadilan.😆

    Lhaaa… kalau mereka nuntut kan sama saja artinya ngakuin, “Iya deh… ngaku deh… kita-kita ini goblok. Pangkat aja tinggi… sama ibu-ibu bisa dikibulin….”
    😆

    Nipu itu esensinya 3 yang hidup di sini: 1. Untuk membual sekedar menghibur. 2. Untuk balas dendam. 3. Untuk cari uang.

    Nah, kalau yang di kampung-kampung, di warung kopi, yang pertama itu yang acap beredar. Cuma kena yang meyakinkan, orang bisa kemakan ceritanya sampai keluar daerah😆

    @ hairandech

    Hairandechach…. bisa-bisanya ingat sama S07… Dasar pujangga kasmaran😛

    *ditabok*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s