G-Spot

Bukan… postingan ini bukan tentang Gräfenberg Spot yang mendefinisikan zona ghaib di sekitaran “aww-aww” para wanita,  zona yang konon jika distimulasi secara kaffah akan merangsang dan menerbangkan wanita ke awang-awang. Titik yang diklaim fiktif dan subjektif tersebut bukanlah fokus dari postingan ini.

G-Spot ini hanyalah nama dari sebuah  folder di komputerku. Berisikan 2 aplikasi yang kecil kapasitasnya tapi besar khasiatnya dalam berinternet, terutama untuk memastikan privasi anda atau jika sedang berselancar dalam modus anonymous.

Anonymous? Untuk apa?

Untuk banyak hal.

Paling busuk tujuannya tentu saja untuk menjadi troll alias pengacau di forum-forum, di blog-blog, misalnya. Dengan menjadi anonymous, perilaku brengsek serupa itu bisa dilakoni oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja. Bahkan kita mungkin tidak perlu menggunakan aplikasi macam-macam. Cukup dengan melakukan registrasi email gadungan, dengan identitas gadungan, lalu bikin nama samaran, dan berselancar untuk mengacau kemana-mana. Tentu saja jika anda cukup berbakat untuk bersikap pengecut begitu, serta cukup percaya diri untuk merasa bahwa cuma anda satu-satunya yang bisa anonymous di internet sehingga merasa tidak perlu bertanggung-jawab untuk memancing emosi para pengguna internet lainnya.

Pada kenyataannya tidak demikian. Anda salah besar jika mengira cuma anda yang bisa begitu, Kawan:mrgreen:

Ada sebuah adagium usang di internet: “On the Internet, nobody knows you’re a dog.” Dalam bahasa Indonesia, secara kasarnya, “Di internet, nggak ada yang tahu kau itu anjing.” Dengan kata lain, seseorang yang “tidak manusiawi” pun bisa memoles diri di internet ini untuk menjadi siapa pun dan bagaimana pun sosok yang diinginkannya.

Kalimat itu pertama sekali muncul pada tanggal 5 Juli 1993 di majalah The New Yorker, sebagai caption untuk kartun karya Peter Steiner ini:

Kalimat itu menjadi salah satu adagium yang populer (terutama) di ranah internet, meski pun si pembuat kartun itu sendiri mengaku bahwa beliau tidak memiliki ketertarikan apa-apa tentang internet saat membuat kartun berikut caption tersebut. Kalimat itu menjadi adagium karena (seperti definisi adagium itu sendiri) singkat, padat dan diterima sebagai fakta yang mudah diingat. Siapa tahu bahwa orang yang nge-tweet di layanan Twitter dengan mengaku sebagai seorang menteri mungkin adalah menteri gadungan padahal aslinya adalah penjahat kelamin pengincar wanita? Seberapa pasti bahwa seorang empunya blog ini identitasnya sesuai dengan apa yang ditulisnya?

Nah, konon pertanyaan-pertanyaan seperti ini, ketika internet sudah makin marak dan merakyat, membuat adagium usang tersebut mengalami pergeseran. Kecurigaan sekaligus kesadaran bahwa siapa  pun bisa menjadi siapa pun di internet, membuat adagium tersebut bisa dipermak, “Di internet semua orang tahu kau itu (mungkin) anjing”.

Internet adalah sebuah interaksi yang tidak lebih nyata daripada interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Jika anda cukup beruntung untuk melihat sebuah iklan rokok tentang seseorang bernama Alex yang lebay di televisi, yang demi pengakuan eksistensi meng-update status penuh kebohongan di facebook (seperti menuliskan bahwa beliau sedang menunggu dijemput sopir padahal menunggu bis di halte, atau update status sedang dengar musik jazz padahal mendengar pengamen mirip waria membawakan lagu dangdut), maka asumsi demikian harus diterima pula untuk diterapkan pada siapa pun. Sambil tertawa-tawa anda bahkan bisa berprasangka demikian pada Alex empunya blog ini sendiri. Demikian juga sebaliknya pandangan orang lain yang tidak pernah berinteraksi dengan anda saat berprasangka bahwa anda boleh jadi tidak seperti yang anda citrakan di internet ini.

Dengan demikian, pada dasarnya – menurutku – semua orang adalah anonymous di internet sampai terbukti sebaliknya. Sosok rekan-rekan blogger seperti Geddoe dan Gentole misalnya, bagiku adalah sosok-sosok anonymous yang eksistensi mereka – dalam skala tertentu – kuragukan, meski pun belum tentu dengan tulisan-tulisan mereka (karena, aku membaca tulisan, bukan membaca biodata KTP mereka). Siapa bisa memberiku jaminan bahwa Gentole adalah seorang jurnalis dan Geddoe itu berdomisili di Riau? Tidak ada, kecuali aku memastikan sendiri dengan satu atau beberapa cara yang validitasnya mungkin juga belum tentu sahih.

Ini internet, Kawan. Komunikasi dan interaksi (agak-agak sosial) yang kita bangun adalah komunikasi yang ganjil, dimana tingkat kepercayaan tidak sepasti di luar internet, namun terkadang bisa diterima cukup dengan subjektifitas masing-masing membaca identitas seseorang (kepribadian, wawasan, misalnya) dari apa yang dituliskan. Subjektif, tentu saja. Karena pada dasarnya semua orang di balik topeng-topeng yang dipakai di internet ini adalah anonymous adanya.

Tapi tentu bukan anonymous by default seperti asumsiku ini yang hendak kujadikan subjek dalam postingan ini, terutama berkenaan dengan dua aplikasi di folder G-Spot-ku. Karena anonymous by default semacam yang kusebut itu, memiliki celah rentan untuk disingkap. Tak ada yang sempurna di dunia ini memang, bahkan untuk menjadi sosok tanpa identitas jelas sekali pun. Namun ada banyak cara untuk membantu memperkuat upaya meng-anonymous-kan identitas anda. Ada aplikasi-aplikasi yang bisa membantu. Dan dua dari aplikasi-aplikasi itu adalah GPass dan GTunnel.

Kedua aplikasi ini termasuk dalam kategori aplikasi tunneling proxy server, yaitu jenis aplikasi yang modus kerjanya dalam menerobos pemblokiran dilakukan dengan cara “menyusup” melalui satu atau beberapa server proxy.

Secara sederhananya, server proxy berfungsi sebagai perantara antara komputer yang anda gunakan untuk mengakses internet dengan komputer/server tujuan anda. Ringkasnya adalah digambarkan seperti ini:

Dari gambar di atas, jika diumpamakan komputer di kiri ber-IP 192.168.0.1 dan komputer tujuan di sebelah kanan ber-IP 192.169.1.1, sementara komputer di tengah yang menjadi proxy ber-IP 10.10.10.1, maka di saat anda mengakses ke komputer di sebelah kanan, seolah-olah anda mengaksesnya dari komputer yang di tengah. Penjelasan yang masuk kategori For Dummies ini kiranya mudah dimengerti, bukan?

Nah, dalam metode tunneling proxy server, maka prinsip kerjanya sama saja. Misalkan contoh metode yang digunakan oleh aplikasi GTunnel seperti dalam gambar ini:

Dari gambar terlihat cara kerja aplikasi GTunnel yang pada prinsipnya sama seperti gambar sebelumnya. Di bagian bawah gambar terlihat bahwa ada tembok blokade yang merintangi pengguna internet untuk mengakses server yang ingin ditujunya. Misalkan saja anda, sebagai pengguna internet, sekali waktu tidak bisa mengakses situs Youtube yang diblokir oleh peraturan berdalih moral-etika sebab ada video Hitler yang tak sudi mendengar petinggi negeri bernyanyi “Still I’m Sure I’ll Be There” dengan mellow-nya, maka anda bisa mencoba mengakses situs tersebut dalam modus standar, yaitu dengan terkoneksi ke server GTunnel terlebih dahulu, untuk selanjutnya diarahkan ke situs Youtube.

Tapi bagaimana jika server GTunnel juga diblokir?

Maka – seperti dalam gambar – anda bisa menggunakan cara kedua yang efeknya akan berpengaruh pada kecepatan internet anda: Yaitu dengan menggunakan jaringan Tor, dimana akses internet anda akan di-relay oleh komputer-komputer yang berperan sebagai server proxy dalam jaringan tersebut, sebelum akhirnya diteruskan ke server GTunnel untuk kemudian mengakses situs tujuan anda.

Jika cara ini dirasa cukup lambat dan berbelit, atau malah ikut diblokir, maka anda bisa menggunakan opsi terakhir dengan aplikasi GTunnel ini: yaitu dengan menggunakan jalur yang dipakai untuk Skype. Dengan kata lain, anda “menyusup” atau “nebeng” melalui koneksi Skype, jika koneksi anda yang terblokir itu masih mengizinkan anda untuk menggunakan Skype. Seperti halnya tunneling melalui jaringan Tor yang menuntut anda memiliki aplikasi Tor dan terkoneksi ke jaringan Tor, maka cara ini juga meminta anda memiliki aplikasi Skype sedang tersambung di layanan Skype.

Cara penggunaan dua aplikasi ini – GPass dan GTunnel – termasuk mudah. Kedua aplikasi ini tidak perlu diinstal, bisa langsung dijalankan dengan dua kali klik kiri di mouse anda. Cuma saja, untuk bisa mendapatkan koneksi ke server dari masing-masing aplikasi tersebut membutuhkan kesabaran, karena sering agak lama baru bisa tersambung, jika malah bukannya sering nge-drop.

Namun demikian, dua aplikasi ini bolehlah jadi pilihan jika anda ingin memastikan bahwa anda cukup (ingat, cuma CUKUP) anonymous untuk sementara waktu di dunia maya.

Setidaknya… ketika nanti segala tata peraturan yang katanya demi memperbaiki moral-etika-budaya-dan-segala-tata-krama itu akan jadi diterapkan. Jika di Republik Rakyat China ada warga negara yang mengetikkan kata “Tiananmen Square” di mesin pencari dan cuma menemukan potret para turis tersenyum manis dan berbahagia di lapangan bersejarah tersebut, bukannya gambar atau kabar tentang tragedi 1989 yang menelan korban di lapangan itu; maka tak ada jaminan bahwa informasi yang dianggap sensitif  di negeri ini tidak akan dikebiri. Demikianlah hebatnya kewenangan kekuasan dari sebuah peraturan yang mengizinkan filterisasi konten, sehingga sejarah pun bisa ditutup-tutupi:mrgreen:

Ah, anda terlalu su’ujon. Apa sih tujuan anda? Apa guna aplikasi-aplikasi penyembunyi identitas begini? Untuk kebaikan atau untuk keburukan?

Definisikan dulu apa itu “kebaikan” dan “keburukan” jika anda berkenan. Jauh diluar pembatasan makna “baik” dan “buruk”, apa pun benda di bumi ini bisa dianggap seperti pisau dapur, dimana fungsinya ada pada tangan anda sendiri. Anda bisa memakai pisau dapur untuk mengiris bawang, memotong cabe lalu membuat sup rasa kaldu ayam untuk anda bagikan pada tetangga anda yang sering berbulan ramadhan sepanjang tahun karena miskin, atau anda bisa gunakan itu pisau dapur untuk menikam orang di jalanan cuma karena anda tak suka melihat ketampanannya melebihi wajah anda.

Seperti itu juga aplikasi-aplikasi ini. Anda bisa pakai sejumlah aplikasi semacam ini untuk menyamarkan identitas, untuk menutup jejak sehingga keberadaan anda sukar dilacak, demi memuaskan nafsu anda mengkafir-kafirkan orang yang berbeda faham di internet, merayu anak gadis orang dan membawanya kabur ke ujung benua, melakukan perjudian, atau menuliskan “Bagaimana Membuat Bom Dengan Kaleng Sarden, Karbit dan Beling Untuk Mertua Yang Menolak Menjual Tanah Kuburan”. Anda tentu juga bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk mencari informasi seluas mungkin cuma untuk diri anda sendiri, atau menyebarkan kepada orang-orang di dekat anda bahwa dari informasi yang diblokir pemerintah ternyata ada “sesuatu” yang ditutup-tutupi oleh oknum pemerintah tertentu.

Contoh kasus:

Misalkan saja anda seorang pegawai negeri di satu instansi, lalu anda tahu dan faham ada korupsi (di sini kita sepakati bahwa korupsi itu brengsek, karena yang dimakan adalah uang milik negeri bukan milik nenek moyang si pelaku korupsi itu) lalu anda hendak menyebarkan skandal demikian, agar masyarakat tahu, agar media bisa mengendusnya dan perilaku korup itu bisa terkuak. Tentu saja anda bunuh diri namanya jika mengekspos kejadian itu terang-terangan, maka di sini menjadi anonymous yang meniupkan kabar dari dalam (atau dalam istilah asing disebut whistleblower) adalah pilihan bijak. Anda tetap bisa menyelamatkan periuk nasi anda yang anda nafkahi secara legal (sah menurut undang-undang dan agama), sementara anda bisa tetap membantu menyelamatkan uang negara.

Aplikasi sama seperti peraturan dan sekian pasal yang diciptakan dalam roda pemerintahan. Jika berada di tangan yang tepat, maka penerapannya akan tepat. Jika tidak, satu pasal yang paling sederhana pun dalam hukum bisa dipelintir cuma untuk menjebak warga negara sendiri. Ini bisa berlaku di mana pun dan bagaimana pun pemerintahnya. Mulai dari Iran, Republik Rakyat China, Kuba, Vietnam, Korea Utara, Indonesia hingga Amerika Serikat yang menepuk dada sebagai negara paling demokratis karena punya presiden kulit hitam untuk pertama kalinya (meski belum pernah punya presiden wanita), memiliki celah-celah tersendiri untuk dihinggapi kepentingan-kepentingan picik dari mereka yang berkuasa. Bahkan jika penguasa itu aku – si blogger ini – sendiri. Sebagaimana aku dan kau bisa menentukan apakah sebuah golok dipakai untuk membelah batok kelapa atau memecah batok kepala, maka seperti itu pula kita bisa memelintir guna sebuah aplikasi dan peraturan buatan menteri.

Demikianlah. Pilihan ada di tangan anda. Dengan segala konsekuensinya, tentu saja. Orang lain, yang terancam dengan efek buruk dari pilihan anda, juga bisa memilih untuk mendiamkan, mengingatkan, menentang atau malah membalas anda satu ketika😉

Bukan begitu, Tuan Menteri?

.

.

.

Catatan: Kedua aplikasi ini bukan untuk mendapatkan akses internet gratisan. Jadi jika ada yang mencari petunjuk bagaimana menggunakan GPass dan GTunnel untuk itu, maka anda salah blog. Jika diakali, bisa saja dipakai untuk itu, namun akses broadband dengan modus tunneling pada dua aplikasi ini sungguh akan memudharatkan koneksi internet anda. Percayalah:mrgreen:

One thought on “G-Spot

  1. ijin mengamankan pertamax

    heheh iya jika menggunakan server proxy koneksi inet akan lebih kenceng krn ambilna deket yaw klo gak salah gitu

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihh😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s