Loncatan Kodok

Any technology distinguishable from magic is insufficiently advanced.

Demikian kata almarhum Arthur C. Clarke sekali waktu. Perkataan itu jelas tak pernah kudengar dengan kupingku sendiri, selain dari membaca tulisan orang-orang pintar, sehingga merasa ucapan itu keren, sangat intelektual, mencerahkan dan mungkin bisa menaikkan gengsi dari seorang udik menjadi agak-agak termodernkan seperti banyak orang-orang pintar yang fasih mengutip kuotasi canggih di internet ini.

Terakhir aku membaca ucapan hebat itu dalam sebuah disertasi berjudul “A Pseudonymous Communications Infrastructure for the Internet” milik Ian Avrum Goldberg yang – sumpah – aku tak kenal siapa dia. Namun ucapan itu terselip di halaman 13 sebagai mukadimmah Part I: Privacy-Enhancing Technologies mengawali 150 halaman yang diminta sebagai syarat meraih status Doctor of Philosophy-nya bertahun lalu. Apa dia mendapatkan gelar itu, bukan urusanku, namun jika ada yang mau mendapatkan disertasi menarik itu, silakan bikin itu jadi urusan sendiri dengan mengunduhnya di sini.

Jadi begini…

Belakangan ini, untuk mengisi-isi keisengan dan menyalurkan anugerah bernama insomnia, malam kuhabiskan sampai dini hari atau pagi sekalian dengan kembali ke tahun-tahun dahulu kala, saat Facebook belum nongol dan laboratorium kampus dengan 2 lusin komputer nganggur cuma bisa dipakai untuk internet yang putus-putus. Istilah mahasiswa yang naif terpana pada kata “hacker” di tahun-tahun itu: Ngoprek. Sebuah ritual “merusak” komputer-komputer laboratorium kampus sampai pagi seakan-akan SPP 300 ribuan per semester sudah melegalkan aktivitas demikian, seperti umat fanatik yang merasa dirinya sudah sangat benar merusak apa saja yang diklaim sudah diberikan Tuhan padanya, demikianlah adanya tahun-tahun itu. Mungkin jika tak dianggap sinting, bisa-bisa gerombolan mahasiswa yang menjadikan laboratorium macam kamar sendiri itu mempertanyakan kenapa para hacker di muka bumi ini tak dijadikan nabi saja.

Aktivitas buang waktu dan merontokkan rambut itu (sungguh… jika pagi tiba, rambut-rambut mahasiswa pegadang malam itu bercecer macam ketombe di lantai) sudah lama jadi kenangan. Terhitung sejak berlusin badan asing dunia bertandang ke Aceh, dan satu demi satu mahasiswa-mahasiswa yang terpana pada dollar rela diculik oleh lembaga-lembaga asing itu untuk jadi kuli IT. Kerennya: menjadi administrator IT, network maintainer, atau paling apes kerja setengah hari sebagai IT Freelancer, yang semua itu dianggap status bergengsi, pernah mengangkat harkat dan martabat para mahasiswa yang biasanya cuma dapat upah tak seberapamana di laboratorium, menjadi andalan para bule-bule asing yang rajin melambaikan dollar sebagai ukuran profesionalitas pekerjaan.

Sebagaimana sulit membedakan mana badan-badan asing yang donasinya benar-benar bantuan warga dunia dan mana yang merupakan sarang pencucian uang perjudian, pelacuran dan narkotika internasional; seperti itu pula sulit memilah dua teriakan dalam benak sendiri: bekerja sekedar cari pengalaman dan menolak  untuk belajar memaklumi penyelewengan bantuan, atau jadi mahasiswa yang sudi mengabdi sepanjang hayat seperti kuli abadi dan mendiamkan segala kenikmatan pekerja berkedok kemanusiaan di atas derita tanah ini, serta siap-sedia meletakkan dollar di sajadah dan menyembahnya sebagai Tuhan kedua di muka bumi jika big boss pemegang donasi memintanya.

Maka lebih enak untuk menekuni hobi “buang-buang umur” itu di luar pekerjaan saat itu. Setelah turun status ke pekerjaan paruh-waktu lalu minggat total dengan kepongahan sok-idealis dari pekerjaan, rasa penasaran pada dunia IT masih sempat kubelai-belai untuk beberapa bulan sebelum akhirnya berpulang ke kampung halaman dan diterima di sisi keluarga yang berbahagia…

Tapi di sini, hobi itu terbengkalai. Tak ada bahasa pemrograman sebagai selingan keisengan. Tak ada bikin skrip ini dan skrip itu. Tak ada command prompt atau console dibutuhkan. Bahkan segala kecap merek Linux yang dikoar-koarkan dulu oleh bibirku ini, terlupakan di sini. Daripada memainkan Visual C++ dalam jendela Ms. Visual Studio atau  ber-scripting-ria dengan Python dalam NetBeans, sudah dua tahunan ini hidup mengajarkan mainan baru: Bagaimana menuliskan,

15kg gula putih @Rp. 7000

2 lusin Sampoerna A Mild @Rp. 10.000

. . .

Serta memahami bahasa pemrograman kaum saudagar begini:

if harga dari Medan xxx rupiah

for trayek fuso xxx kilometer

while pungli polantas kenak xxx rupiah

else pungli dephub di jembatan timbang xxx rupiah

try selip laba + modal terpakai

print harga”

Dalam lembaran faktur toko, tentu saja 😆

Dengan itu semua, maka Windows XP dengan segala fitur Microsoft Office sudah cukup mewakili kebutuhan harian, selain beberapa aplikasi rutin – sebut saja browser, download manager,  FTP client dan lainnya – untuk laptop tua: Toshiba Satellite M35 yang sudah “keriput” warnanya.

Namun, seperti acap kuulang-ulang: hidup(ku) itu seperti rotasi bumi. Seperti sejarah acap mengulang ceritanya sendiri-sendiri di setiap lintasan yang kita tak tahu pasti. Jika Benyamin S dan Ida Royani bernyanyi “bulan haji mau dikawinin” dalam lagu Hujan Gerimis yang kondang itu, maka sudah lewat tiga bulan dari bulan haji kuisi keisengan dengan bermain-main begini. Dan – lepas dari berguna atau tidaknya keisengan ini – aku pun mahfum satu hal: Betapa banyak hal-hal yang melompat maju, zaman menderu seperti teknologi yang berpacu. Setiap teknologi menjadi keajaiban yang mencengangkan orang udik sepertiku di daerah udik begini.

Maka tak salah jika aku teringat ucapan Arthur C. Clarke itu. Rasa-rasanya baru kemarin itu aku pakai segala perangkat ghaib untuk sok-sok’an hacking-hacking-an dengan versi yang kuanggap sudah keren, namun sekarang lompatan teknologi menghadirkan efektifitas dan efisiensi yang lebih canggih.

Sebut saja Nmap, misalnya. Jenis security scanner kreasi Gordon Lyon ini sudah jauh lebih praktis daripada saat masih bercokol di konsol dengan keharusan mengetikkan perintah-perintah konyol. Dari versi 3.50 yang cuma menampilkan barisan huruf (command-line) sekarang ternyata oh ternyata *dengan ekspresi kampungan* sudah berevoluasi menjadi Nmap versi 5.20 yang sudah dihiasi Zenmap sehingga perangkat yang satu ini menjadi lebih manusiawi: punya tampilan antar-muka, alias GUI.

Dan serta-merta, setelah mengunduh perangkat ini dalam versi terbaru kemarin sore, aku merasa apa yang pernah ada menjadi kuno. Bahkan wajah cantik  Carrie-Anne Moss yang menjadi Trinity dalam trilogi The Matrix, dan begitu serius memainkan program Nmap versi 2.54 beta 25 dalam film The Matrix: Reloaded, tiba-tiba terasa jadi adegan klasik.

Sementara, tampilan dari layar monitornya di adegan tersebut sudah cukup keren saat itu:

Tampilan Nmap di adegan yang mengagetkan si pencipta program Nmap itu sendiri.

Jika dibanding-bandingkan, maka belum terlalu jauh evolusi sebuah program berjalan, paska film itu berlalu dan aku masih betah dengan tampilan yang serupa tapi tak sama.

Seperti ini tampilan Nmap waktu masih kuliah dulu :mrgreen:

Dan sekarang… semua itu dipermudah dengan lebih manis oleh versi baru yang bisa diunduh di situs resmi program tersebut. Tampilan antar-mukanya tak banyak meminta jemari menari di keyboard komputer. Praktisnya: cukup klak-klik sana-sini dan hasil scanning port(s) pun keluar di layar monitor. Sepraktis memasukkan alamat IP di situs HackerTarget untuk meng-scan port-port dari satu alamat IP dengan Nmap secara online. Lompatan teknologi melaju, sehingga aku bahkan tak menyadari bahwa versi Nmap yang “lebih canggih dan manusiawi” itu pernah muncul juga dalam film The Bourne Ultimatum.

Ah ya… ini semua jadi mengingatkan sebuah debatan “kecil” menjelang akhir tahun lalu, ketika salah satu tetua dalam keluarga agak tak berkenan dengan keinginanku untuk “komputerisasi” generasi muda ahli-famili. Beliau kurang bisa menerima ketika adik bungsuku berkeinginan punya komputer dan kusetujui keinginan itu.

“Anak SMP untuk apa komputer? Inilah kau… memanjakan adik-adikmu saja… jaman kami dulu tak ada rumit-rumit begitu. Aritmatika saja kami pakai lidi, lidinya raut sendiri, menghitungnya mesti jeli. Tak ada macam-macam seperti adik-adik kau hari ini… komputer lah… apa itu? Ha! Internet…? Entah untuk apa itu semua… Manja anak sekolah sekarang!”

Kira-kira demikianlah fatwanya.

Antara sakit perut mendengar nada kebanggaan dalam perbandingan zaman beliau itu dan zaman kini, serta rasa geli dalam hati, tentu paling elok bersikap sok dewasa-arif-wal-bijaksana.

“Jangankan zaman Uwak sekolah, zaman SMP-ku saja tak boleh pakai kalkulator di kelas. Sekolah masih bersepeda, malah jalan kaki sekitar setengah jam. Tapi zaman berganti, Uwak. Tak semua yang diminta anak-anak mesti dikabulkan, tapi tak boleh juga dihalang dengan alasan zaman kita dulu tak ada. Kalau patokannya zaman dahulu, tentu Uwak ke kota ini masih pakai sepeda onta, bukan naik Astrea Grand macam sekarang…”

Kira-kira seperti itu kuringkas, dengan (di kemudian hari) meyakinkan diri bahwa tak ada dosa membantah orang-orang tua. Kuanggap macam Ibnu Rusyd menyanggah Tahafut Al-falasifah-nya Ghazali dengan Tahafut Al-tahafut-nya sendiri. Meski… tentu saja tak sekaliber itu adanya 😳

Tapi… kuberitahu kau, Kawan, menyentil ambivalensi orang-orang tua sangatlah denjeres. Ucapan seperti itu cukup sakti bikin wajah mereka yang memuja keotentikan masa pahit-manis dahulu kala, kebanggaan sudah mengecap asin-pahit garam kehidupan dalam menuntut ilmu, untuk bersungut tak suka didakwah anak-anak bau kencur.  Sebulan mereka akan tersinggung “dijentik” kecongkakan usia sehingga kau bisa didiamkan. Sungguh, don trai diz et home!

Apapun ceritanya, aku pun meluncur ke Medan, mencari komputer dengan spesifikasi yang di zaman kuliahku dulu sudah mewah sekali rasanya. Spesifikasi yang hari ini jadi mainan anak SMP untuk kurikulum yang dulu bisa bikin generasiku mencengir-cengir menenangkan kedunguan hati, bagai monyet mencium terasi.

XpNetTools versi 1.1 dalam modus traceroute

Dan itu, program XpNetTools di laptop tuaku ini (seperti tampilan di atas itu,)  yang kuanggap cukup praktis untuk melakukan traceroute dibanding mengetikkan tracert dalam modus command-line, kusadari sudah berlalu beberapa tahun sejak program itu kudapatkan di tahun 2007 dulu.

Setiap lompatan teknologi memang seperti sihir. Memukau orang-orang “kuno bin lawas” untuk terpana atau celakanya menolak perkembangan peradaban dengan kefanatikan pada pahit-manis hidupnya saja. Tapi siapa yang mau jumud dalam kehidupan yang statis? Bahkan nama pelajaran “Aljabar”, “Aritmatika” dan “Ilmu Hayat” yang dicakapkan orang-orang dahulu kala, hari ini cuma tinggal cerita nostalgia mereka di warung kopi saja. Generasi datang dan pergi, wajah dan nama berganti-ganti, seperti juga nama pelajaran dalam kurikulum pendidikan hari ini serta loncatan teknologi (informasi) saat ini. Hidup memang dibikin lebih praktis, lebih efisien, lebih efektif dengan teknologi, dengan inovasi-inovasi baru. Mulai dari spesifikasi komputer yang sudah makin canggih dan makin menyusup ke urat nadi generasi lebih muda (sehingga anak SD hari ini sudah bisa bertanya “Twitter-mu apa?” pada kawannya agar nanti bisa di-follow-nya via browser kebanggaan Mozilla), hingga sekedar tampilan antar-muka yang bikin aku merasa terasing dari hobi yang pernah kuisengi beberapa tahun yang lalu.

Zaman memang berevolusi seperti loncatan kodok. Kecil-kecil meloncat, sekali tersilap sudah jauh teknologi melesat, dan laknatnya semua itu tak sempat membuat diri lama bermangu seperti pacar  ketinggalan kereta… *lebbay* … atau diri makin tertinggal jauh di belakang tanpa lambaian sayonara dari apa-apa yang melaju ke masa depan yang makin canggih, makin mengasingkan kenang pada zaman sepasang tangan ini masih rajin bikin mobil mainan dari pelepah rumbia…

Iklan

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s