Sebatas Ketikan Abjad

God damn it, an entire generation pumping gas, waiting tables — slaves with white collars. Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need. We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. We’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.

[Tyler Durden, “Fight Club”]

*

*

*

*

*

Lewat tengah malam…

Udara masih membawa aroma kopi tumbuk dari warung tempat mengisi sisa hari. Membawa ingatan pada kelakar dan tawa pahit kolega pekerja kerah putih mengumpat rutinitas harian. Mobil angkutan yang membawa kawan buruh perbankan dengan wajah pesimis pada akhir pekan yang lebih sempit daripada libur anak sekolahan. Kredit-kredit  mereka dimana SK dipenjara demi jaminan simpan-pinjam. Segala gengsi dan konsumsi yang menagih SPBU seperti pemadat menagih candu. Dan wabah yang sama kini sedang membelai mesra, merayu, menggoda…

Oh, hidup yang menagih jaminan hari tua dalam perputaran roda bisnis. Toko-toko yang disemen permanen. Roda truk fuso esok – ba’da jumat – akan mampir dengan taat mengantar sesaji konsumsi umat yang menipis. Oh, betapa ramah wajah salesman berkompetisi dalam distribusi kecap paling manis. Mengulum kemuakan dalam diam mengulum permen. Dan pahit melihat bayangan matahari esok akan semakin mengejek tiap senti lutut yang kian menekuk, diperkuda kesia-siaan menolak untuk takluk.

Kini…. imajinasi meliuk jadi ilusi yang menari begini:

“Apa yang kau cari, Faust?” tanya Goethe dengan suara bijak.

“Sesuatu yang hilang. Tapi entah… aku tak tahu…” Faust mengeluh.

“Apa itu? Dimana kau kehilangan? Dimana kau kini? Apa kau masih bersamaku? Bisakah kau bertahan tanpa segala kebijakan yang kuramu dalam buku-buku?

Goethe mematahkan pena Iqra dan menyulut api dari pohon Thursina untuk membakar buku-buku, dari pedoman hanif Ibrahim sampai strategi masif Sun Tzu. Dia perlakukan Faust menjadi Robinson Crusoe yang terdampar di pulau apologia dan utopia. Dia rusakkan perahu Nuh dan membangun tembok membenteng pulau seperti legenda tembok Dzulkarnaen.

Faust kebingungan. Terkurung. Mengambil gitar dan melantunkan lagu, “That’s me in the corner. That’s me in the spotlight, losing my religion. Trying to keep up with You and I don’t know if I can do it. Oh, no, I’ve said too much. I haven’t said enough…”

Goethe tertawa. Seperti Tuhan dia merasa. “Faust… Hallaj mungkin dungu, tapi aku juga bertanya yang sama padamu. Aku kah yang menciptakan fiksi sepertimu atau kah engkau yang menciptakan aku? Goethe kah yang menciptakan Faust, atau Faust kah yang menciptakan Goethe? Yang mana menurutmu?

Faust yang malang. Tercekik dalam permainan semantik. Faust tahu bahwa dia tak akan pernah tahu. Diam dia membisu. Diam dalam bermangu. Diam membuka buku. Dan dengan Alice dia bertemu. Alice yang lugu…

* * *

“Ke arah sana,” kata Sang Kucing, melambaikan cakarnya, “ada Mad Hatter – lelaki yang membenci semuanya. Dan ke arah sana,” dengan cakar melambai juga, “ada March Harer – tamu yang selalu datang ke pesta teh Mad Hatter. Datangi yang mana kau suka. Mereka keduanya gila.”

“Tidak. Aku tidak mau menuju kepada dua sosok orang gila itu,” Alice menolak.

“Oh, kau tak bisa menolaknya, sayang sekali!” Sang Kucing tertawa. “Kita semua gila di sini. Aku gila. Kau gila.”

“Bagaimana kau bisa tahu aku gila?” Alice yang lugu menolak dakwa Sang Kucing yang tertawa.

“Pastilah demikian,” kata Sang Kucing dengan mata terpicing, “atau jika tidak… kau tak akan pernah datang kemari.”

* * *

Faust kasihan pada Alice yang jatuh ke dalam lubang kelinci. Tapi lupa mengasihani dirinya sendiri yang terputus jatuh dari lubang uterus.

Sesuatu dalam benak mau teriak,  “Aduhai, Alice! Wahai, Faust! Buka mata dan telingamu: Lubang kelinci kita adalah sama, satu pipa uterus yang meluncurkan kita ke planet ini!!”

Tapi suaraku tercekat sebatas ketikan abjad…

Di langit… 21 piano sonata, 27 piano concerto, 41 symphony, 18 mass, 13 opera, 9 oratorio dan cantata, 2 ballet, 40 lebih concerto untuk aneka instrumen, string quartet, trio dan quintet, biola menduet piano quartet; serempak-seragam menjadi musik yang mengisi malam, mengisi angkasa raya hingga ujung semesta. Pengiring pesta kelakar duo Wolfgang – Goethe dan Mozart – mendebat kabar tentang sekarat dan mampusnya sosok anonymous bernama filsafat.

Musikku sudah di ujung playlist, di penghabisan baris. Dan imajinasi meredup samar, menjadi asap rokok yang menipis. Dan apa yang tersisa adalah desis, “Mungkin… mungkin… kemungkinan terbesar mungkin cuma memperbesar kemungkinan… Mungkin… mungkin… mungkin…”

*Migren. Anemia. Telan tablet. Telpon psikiater*

3 thoughts on “Sebatas Ketikan Abjad

  1. “Sesuatu yang hilang. Tapi entah… aku tak tahu…” Faust mengeluh.

    Sepertinya bukan hanya Faust dan “Faust” yang (pernah) mengalami hal ini…😎😕

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s