Merepeti Diri Sendiri

Bedah Nasib di Ruang Hotel

Angka kemudian disalip kurva
Muncrat dari sinar proyektor
Buih busa keluar dari mulut pembicara
Neraca-neraca jadi berhala

Mulai apa itu lapar hingga teori para pakar

Persoalan rakyat diringkas dalam statistik
lalu didebatkan dengan asik
Penuh gebu, tanpa sepatu berdebu atau
menapak jalan berbatu.
Dalam udara berkarib AC
Di luar, statistik hidup beranak pinak tanpa kenal WC.

Ujung ke ujung
atas nama rakyat mengapung-apung di langit hotel
Nasib mereka dibedah pakai pisau inflasi dan bahasa ekonomi
Kemiskinan semakin tinggi
Pengangguran ikutan ngeri
Jika bicara prestasi, pemerintah punya banyak aksi
Menaikkan gaji menteri dan
mengangkut sekian persen nyawa dari tindih kemiskinan
menuju garis kemelaratan
Kita semua diminta tepuk tangan

Datang bulan baru
Angka-angka kembali diburu
Hotel lain lagi, pembedah nasib cuma baju berganti
Dalam udara anti bacin
Di pasar, seorang ayah dikroyok lepas curi ikan asin
Kuli panggul dengan tengik bergumul
Nenek tua menadah pakai timba.

Mungkin pencatat lupa
statistik ketinggalan meringkas nasib mereka.

Puisi itu sama sekali bukan karyaku. Bukan. Barangsiapa diantara kamu-kamu yang membaca postingan ini, menuduh puisi tersebut sebagai karyaku, maka sungguh kamu-kamu sekalian dalam kesesatan yang nyata™.

*halaaah*

Puisi itu karya seorang gadis Aceh yang khilaf dimuat Harian Medan Bisnis, Januari lalu. Tapi baru malam ini sempat kubaca puisinya, langsung di blog yang bersangkutan.

Jadi begini…

Jika kau memiliki sedikit kemampuan menulis, setidaknya cukup untuk merangkai kata-kata gombal dalam bentuk surat cinta atau puisi manis bin romantis, dan kemampuan itu “dimanfaatkan” kawan untuk menembakkan panah cinta ke Si Jantung Hati Idaman Jiwa-nya, baik dengan kau menuliskan langsung atau sekedar menjadi inspirasi, dan untuk itu  kau mendapatkan ucapan terimakasih: maka itu wajar.

Sungguh. Itu wajar. Sewajar kau menemui belasan, puluhan, bahkan ratusan kuotasi manis di jagad internet ini di-copy-paste atau dijadikan sumber inspirasi. Termasuk aku sendiri berperangai begitu. Tak perlu malu kukatakan ini.

Kata-kata manis atau dilabel inspiratif, dengan eufimisme disana-sini, memang disukai.  Manusia suka dengan kata-kata manis. Salesman yang jadi kaki-tangan distributor dari Medan pun tahu itu. Tiap minggu aku berjumpa dengan salah satu dari duta besar kumpeni-kumpeni dunia bisnis itu di toko keluarga, khas penampilan yang rapi dan senyum manis mereka: para ambassador korporasi mulai dari Indofood, Sirup Cap Kurnia sampai Philip Morris.

Tapi caci-maki? Umpatan? Raungan kemarahan? Sinisnya kekecewaan? Sarkasme?

Aku sendiri tak berpikir bahwa aku kemungkinan besar mau menjadikan jenis kata-kata atau kalimat “bergenre” demikian sebagai sumber inspirasi. Ironisnya, termasuk kata-kata dari bibirku atau dari dalam benakku sendiri. Setidaknya jika aku menjalankan bisnis, atau ingin mengisi kolom di media massa sebagai penulis, kemungkinan besar aku akan mencari sumber inspirasi yang analitik, kalem, runtun, logis dan runut. Bukan sebuah caci-maki atau kemarahan.

Untuk itu entah sudah berapa banyak kata-kata yang meluncur dari Noam Chomsky, Sitor Situmorang, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Che Guevara, Bunda Theresa, Iwan Fals, Khalil Gibran, Subcommandante Marcos, Mohamad Sobary, Sidharta Gautama, Isa Kristus, Muhammad dan lain-lain yang kujiplak semena-mena. Kata-kata yang bukan sekedar ceracau kemarahan, tentu saja. Termasuk juga inspirasi dari sosok-sosok ghaib bernama CY, Gentole, Sora, Geddoe, Fertob, Musafir Kelana, dan-lain-lain individu yang paling jauh cuma kutahu mereka punya nomor ponsel, email atau ID Yahoo! Tidak pernah ketemu. Tidak pernah menepuk bahu.

Namun pikiran manusia memang seperti selera di lidah dan perasaan subjektif bernama cinta. Tak bisa diduga, tak bisa ditebak. Maka aku mencengir tertawa heran dan takjub pada beragamnya cara manusia mengapresiasi setiap kata sebagai animal symbolicum.

Seperti seorang gadis Aceh yang kukenal, si pemilik puisi di atas itu, yang di bulan Oktober lalu menghadiri sebuah acara hebat di sebuah hotel mewah di bilangan kota Banda Aceh. Acara serupa yang di saat kuliah dulu pernah beberapa kali kuhadiri, dan sukses membuat pantatku macam berkurap, dengan sejuknya AC menjadi azab karena tak merokok hingga berasap.

Gadis yang agaknya mau menjadi jurnalis itu, bertukar kabar via sms begini:

si gadis

Riza sedang dgr ngoceh org2 besar ini. Di Hermes. Jadi anak cilik diantara bpk/ibu pejabat nan terhormat. Owh… ada banyak sekali data statistik. Mumet otakku. Analisa ekonomi Aceh.

 

si aku

Analisa ekonomi Aceh?! Bukan main! Suruh mrk bawa data statistik itu ke pasar, ke kuli panggul, ke Harlan truk2 angkutan, ke sawah, ke tukang becak, ke janda tua yang jual gelek di balik baju, ke lapisan bawah. Enak sekali menganalisa ekonomi Aceh di tempat semewah Gemes Paleh macam itu. Habis itu apa? Minta pemerintah menaikkan tunjangan birokrat agar makin professional melayani rakyat macam menteri2 brengsek minta naik gaji di kabinet neo-orba Presiden Tebar Pesona dari Cikeas?😆

 

si gadis

😀 YES! Tak meleset dugaku. Perkara macam begini pasti bikin kau mengomel.

 

si aku

karena itu konyol memang. Ada belasan kali manusia2 yg meletakkan dirinya di kasta akademik, birokrat, ekonom, enak kali bikin analisa perekonomian masyarakat yang militan antri sembako murahan dan militan pulak memasang judi buntut.

Di saat sms-sms itu meluncur, aku ingat benar, di koran lokal di meja kerjaku, ada berita menohok soal ibu-ibu miskin separuh baya ditangkap karena menjual gelek (alias cimeng alias amplop alis bakong alis ganja). Foto mereka terpampang penuh kenistaan di halaman depan. Sukses diciduk dengan barang bukti berupa gulungan ganja di balik BH. Penampilan mereka dekil. Kumuh. Dengan selendang lusuh sia-sia mencoba menutup wajah, diapit penegak hukum yang menyeringai penuh bangga seakan barusan membekuk kriminal yang berpotensi mengacaukan stabilitas negara. Ibu-ibu itu tak lain dari janda-janda tua dengan anak-anak yang terancam disepak dari sekolah karena tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan, yang dibualkan di negara ini sebagai hak yang dilindungi Undang-undang Dasar 1945.

Di saat sms-sms itu meluncur, sawah di beberapa tempat di Aceh ini terancam kekeringan dan di beberapa tempat lainnya pupuk langka karena suplai dari Medan terputus. Berita ancaman kelaparan dan mulai mewabahnya chikungunya di Aceh Timur, Langsa, Kuala Simpang hingga Aceh Utara, menjadi sensasi basi di tengah geliat kasus binatang-binatang melata bernama Cecak dan Buaya yang dikooptasi media-media Jakarta.

Di saat sms-sms itu meluncur, tukang becak di depan tokoku, yang beberapa postingan lalu kuceritakan anaknya menikah di desa arah bukit sana, sedang kebingungan setengah mampus mencari tambahan biaya untuk meng-kenduri-kan anaknya meski sesederhana mungkin. Biaya hidup menjepit kehidupan orang-orang lapisan bawah tepat di depan mataku sendiri, jauh dari jangkauan hotel mewah dimana utusan pemerintah wara-wiri dengan pakar-pakar level pusat menganalisa statistik dalam judul yang dahsyat: Analisa Ekonomi Aceh.

Geram? Ya. Muak? Sangat!

Aku sudah hafal acara-acara penuh protokoler sampah itu. Kata sambutan sana dan sini. Tubuh-tubuh sehat wal afiat tak kurang suatu apapun datang bertandang. Wajah-wajah congkak dengan hidung terangkat dari kaum pejabat  yang ber-haha-hihi dalam balutan jas dan dasi dengan kelakar tentang “istri saya belanjaannya kelebihan berat di pesawat selepas pulang shopping dari Singapur” atau “Saya sebentar-bentar sakit kencing saat liburan ke Switzerland. Musim salju waktu itu. Tahun depan saya maunya ke Holland.”.

Lalu hadirlah parade analisa penuh bahasa Adam Smith dan Thomas Malthus dalam memoles keindahan pasar bebas yang beramanat bahwa repetitive flow production akan mengurangi tingginya harga konsumsi sepanjang tuntutan laissez-faire dikabulkan pemerintah sehingga upah buruh kelak ditakdirkan oleh cukong-cukong yang disebut CEO perusahaan. Ditambah jejeran kacamata melorot penuh kesan intelektual dari pakar-pakar yang berlagak seakan begitu dia selesai membacotkan analisa statistiknya, maka ekonomi Aceh akan melesat penuh gairah macam kuda sumbawa barusan minum susunya sendiri.

Gerah. Jengah. Itu alasan utama mengapa, setidaknya sejak minggat dari kampus, beberapa undangan serupa dari kelas kabupaten sampai ke Jakarta (atas nama pribadi maupun organisasi) kutolak. Seminar, talk show, diskusi, sarasehan, yang semuanya mengaku peduli pada Aceh, pada nasib ekonomi Aceh, tapi tak banyak yang benar-benar peduli pada kelompok terbesar dalam perekonomian Aceh: para nyak-nyak di emperan pasar, para buruh harian, dan mereka yang usaha mikronya terancam bangkrut, menunggu waktu untuk miskin terlaknat oleh gilasan roda ekonomi cukong-cukong bangsat imperium bisnis level pusat.

Dan untuk itu berkali-kali aku menggeram. Merespon sinis jika ada tawaran serupa. Tapi… cuma sebatas itu saja. Menyalak seperti senapan, tapi tak melanjutkannya untuk dikemas lebih bagus dan menawan, sehingga orang bisa lebih enak menerima hujatan kritikan.

Waktu berlalu…

Hingga aku menemukan puisi itu. Puisi yang konon katanya mengalir dari repetan yang datang dari ketikan keypad-ku beberapa bulan yang lalu. Selama ini aku merasa lepas bebas membuang umpat dan harap, doa dan murka, pinta dan cerca, bahkan saat dalam diam sekali pun. Tapi jarang dari apa yang kulepas itu kucerna ulang untuk di-refresh jadi bentuk lain. Dipermak dalam format lain. Dari sebuah postingan menjadi puisi, misalnya. Atau dari sebuah makianku di warung kopi menjadi tulisan tersendiri.

Belajar dari hidup orang lain, memang perlu. Menarik kuotasi dari orang lain memang baik. Tapi menggali dan menggali kembali segala kata yang pernah muncrat dari diri sendiri? Entah bagi yang lain, tapi aku jarang. Jarang sekali. Setidaknya… aku jadi memikirkan ini saat melihat bagaimana cara seorang anak gadis melihat repetanku dari balik bola matanya. Bukan perkara apakah cara pandang itu akan sama atau berbeda. Tapi bagaimana mengapresiasinya, dan memodifikasinya sehingga lebih indah untuk disampaikan. Bagaimana melihat kembali setiap kata dari diri sendiri untuk dimodifikasi lebih apik oleh diri sendiri pula.

Hidup memang mengajarkan banyak hal bukan, Riza?

4 thoughts on “Merepeti Diri Sendiri

  1. nak sekali menganalisa ekonomi Aceh di tempat semewah Gemes Paleh macam itu

    Di mana-mana sama brader… di mana-mana sama…
    Sering saya meliput SEMINAR KEMISIKINAN, RAPAT DINAS SOSIAL, KOORDINASI BANTUAN LANGSUNG TUNAI, yang diadakan di Aula Hotel Paling Mahal Se-Borneo ini… Mengundang belasan pejabat pusat dan daerah yang dijemput antar pakai mercy… Disuguhi makan bak dewa dewi…

    Cih!

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s