Jika Hukum Pilih Bulu, Monyet Jadi Jawara

Berita ini sudah nyaris basi. Sudah lebih dari seminggu yang lalu.

Mungkin dalam hitungan minggu dan berbulan-bulan ke depan, berita ini akan menjadi cerita lama yang sudah sama kita ketahui: Cuma menambah catatan yang penuh sumpah-serapah kekecewaan.

Namun, tetap ada yang harus menulis, tetap ada yang harus ditulis. Tetap ada yang harus direkam dan disampaikan.ย  Agar tidak dilupakan, agar kita tak terbiasa menganggap semua ketimpangan hukum di negeri ini sebagai hal yang sudah biasa.

Maka dari itu, sudah beberapa hari kucari tautan yang bisa memberikan kau, Kawan, gambaran tentang bualan hukum yang konon akan selalu ditegakkan dengan penuh keadilan. Namun tidak juga kutemukan, selain berita di blog seorang anak muda di kota yang berkilo jauhnya dari kota kecilku ini.

Jadi, kupotretkanlah halaman depan koran lokal di kampung halamanku ini. Untukmu. Untukmu saja yang sudi bertandang kemari, masih sudi membaca bacritku yang mungkin kau tahu suka merepet-repet sok-idealis ini.

Jika hukum pilih bulu, monyetlah yang jumawa tertawa... Bukan begitu Nye...eh, Pak?

“Sungguh binasanya umat-umat sebelum kamu dikarenakan apabila yang melanggar hukum itu orang-orang miskin mereka jatuhkan hukumannya, sedangkan apabila yang melanggar hukum itu orang-orang terhormat dibebaskan. Demi Allah, seandainya anakku Fatimah mencuri niscaya akan aku potong tangannya.”ย  (HR Bukhari-Muslim).

*mengenang satu khutbah di Mesjid Baiturrahman*

Kasusnya memang bukan pencurian. Namun lebih berat lagi (jika mengacu pada KUHP di negara kita) daripada kasus pencurian: Narkotika, alias didakwa sebagai narapidana dalam kasus sabu-sabu.

Aku mengenal dan mendengar kisah-kisah pemadat kampungan yang tidak seberuntung Tuan monyet Besar di atas itu. Cuma pengangguran atau buruh bangunan yang naas karena mengisap satu-dua batang gelek, lalu ketangkap dan hukum pun ditegakkan. Ditegakkan bahkan sebelum palu hakim mengetukkan vonis, mereka sudah “diadili” duluan sampai bengap-bengap “dipermak” dalam pemeriksaan.

Tidak, aku tidak membela mereka, bahkan meski pun ada beberapa kenalan atau kawanku sendiri pernah kena kasus serupa. Narkotika, apapun jenisnya seperti kata Rhoma Irama, sebaiknya jangan disentuh. Jangan dibela. Orang bisa menjadi gila, putus sekolah, edan, kehilangan masa depan. Pendeknya: Itz peri-peri denjeres, don eper trai diz et hom!

Maka, hukumlah sesiapa saja yang terlibat dalam narkotika. Aku sudah melihat banyak efek brengsek dari narkotika itu, bahkan termasuk ganja yang tumbuh subur di sini. Jika hukum bicara tentang penyalahgunaan, hajarkan. Dengan kata lain: tegakkan. Setiap yang tertangkap tangan mesti dapat konsekuensi, dapat ganjaran.

Hanya saja… mengecewakan sekali jika keadilan cuma bualan. Jika warga negara biasa bisa bengap-bengap mukanya dalam tahanan karena secuil narkotika, semestinya mereka yang menduduki posisi di instansi pemerintahan bengap-bengap mukanya dua kali lipat dari warga negara biasa. Mengapa? Karena mereka panutan masyarakat, Kawan!

. . . atau mungkin negeri ini masuk daftar antrian yang menunggu giliran dibinasakan oleh hukum alam, kalau kita terbiasa mengangap biasa ketimpangan hukum begini . . .

Iklan

13 thoughts on “Jika Hukum Pilih Bulu, Monyet Jadi Jawara

  1. entah kapan cerita macam ini akan menjadi tak biasa ๐Ÿ˜ฆ
    keadilan macam menjadi barang antik, yg kalau dapat ditempat yang tepat bisa menjadi sangat murah, namun saat berada di tangan mereka yang mengerti betul, harganya bisa akan menjadi bekali lipat mahalnya.

    baru saja, tak jauh dari kota kami, seorang kanit intel polisi tertangkap tengah melakukan transaksi narkoba, sehingga membuat saya bertanya-tanya, janganยฒ bisnis narkoba masihlah cerah ๐Ÿ˜ฆ

  2. amboiiyy….
    lumayanlah,, xx% dari ongkos sidang bisa buat om-om penjaga LP kenyang ampe bego…

  3. Memang berbakat jadi tukang repet. Tak akan ada khilafiah lagi diantara para syaikh dalam hal ini. pastinya!

    ๐Ÿ˜€

    Suka dengan catatan ini *berpikir untuk kutarik manfaatnya lagi*

  4. akhirnya ketemu juga blog kaya gini ]
    mantap bang,
    ane dah bookmark (boleh kan)
    tp ane masih underground bang blum cukup berani nulis
    tp InsyaAllah pemikiran2 idealisme ane dah ane tularkan di kos2an ane

  5. maka tak heran.. ada stigma bahwa hukum hanya milik para penguasa dan atau orang kaya.

    Ingat PSSI, yang pernah dipimpin dan di atur dari balik jeruji besi, bahkan sampai sekarang ketua PSSI yang “ituh” masih berkuasa, gimana mau maju sepakbola Indonesia? ๐Ÿ˜ณ

  6. @ pakacil

    Aku juga tak tahu kapan waktunya. Mungkin saat Messiah, Imam Mahdi, apapun itu, sudah turun ke bumi seperti visi-visi agama, maka semua cerita ini akan jadi tak biasa? Entah.

    Ya, ini memang “naluri” saja yang mengatakan itu semua itu “tak biasa”, pakacil. Pikiran naif orang seperti kita, mungkin ๐Ÿ˜•

    keadilan macam menjadi barang antik, yg kalau dapat ditempat yang tepat bisa menjadi sangat murah, namun saat berada di tangan mereka yang mengerti betul, harganya bisa akan menjadi bekali lipat mahalnya.

    Tentu. Lihat Nek Minah di tahun lalu. Lihat juga petani yang karena memungut semangka kena vonis penjara. ๐Ÿ˜

    baru saja, tak jauh dari kota kami, seorang kanit intel polisi tertangkap tengah melakukan transaksi narkoba, sehingga membuat saya bertanya-tanya, janganยฒ bisnis narkoba masihlah cerah ๐Ÿ˜ฆ

    ๐Ÿ˜†
    Di sini ada cerita usang soal BB itu. Dapat 10 kilo, panggil wartawan lalu bakar 5 kilo. 5 Kilo lagi? Oh… “diamankan” untuk “penyelidikan lebih lanjut”. ๐Ÿ˜†

    Ya. Bisnis narkoba masih cerah, apalagi jika pakacil punya seragam dan senjata. Sisilia dan Kolombia bukan satu-satunya ๐Ÿ˜€

    @ falltara

    amboiiyyโ€ฆ.
    lumayanlah,, xx% dari ongkos sidang bisa buat om-om penjaga LP kenyang ampe begoโ€ฆ

    Om-om penjaga LP setahuku dapat persen cuma “sekedar uang rokok” untuk “maling rokok”. Tapi kalau “maling cerutu” om-om yang lebih tinggi eselonnya dari penjaga LP dapat persen bisa sampai “sekedar beli cerutu Havana” untuk “maling cerutu”. Ada perbedaannya itu :mrgreen:

    @ Riza

    Memang berbakat jadi tukang repet. Tak akan ada khilafiah lagi diantara para syaikh dalam hal ini. pastinya!

    Namanya juga mantan rapper ๐Ÿ™„

    Suka dengan catatan ini *berpikir untuk kutarik manfaatnya lagi*

    Bikin puisi lagi?
    Tuan Besar di atas itu sudah copot dari jabatannya (entah kalo sel penjara apa dicopot atau tidak biar dia leluasa ke jamban). Jangan sampai dicopot pula KTP-mu karena berpuisi dengan isi “tidak membangun”. It’s an Orwellian age, Riza ๐Ÿ˜›

    @ org.banjar

    akhirnya ketemu juga blog kaya gini ]
    mantap bang,
    ane dah bookmark (boleh kan)

    Makasih. Silakan ๐Ÿ™‚

    tp ane masih underground bang blum cukup berani nulis
    tp InsyaAllah pemikiran2 idealisme ane dah ane tularkan di kos2an ane

    Tulis saja. Justru karena underground bisa lebih mudah, bukan? Jangan lupa untuk sedikit anonymous. Kau bisa pakai teknik menulis anonymous seperti panduan di globalvoices kalau perlu. ๐Ÿ˜€

    Ah ya. Idealisme itu konon seperti bius, seperti anggur. Jika takarannya pas, bisa menghangatkan dan bermanfaat, terutama dalam kritik sosial. Jika tidak, bisa memabukkan, dan dianggap provokator atau orang gila dalam masyarakat. Ditakar sendirilah ๐Ÿ˜‰

    @ Zephyr

    maka tak heran.. ada stigma bahwa hukum hanya milik para penguasa dan atau orang kaya.

    Ya. Brengseknya jika itu malah tak jauh dari lingkar keluarga sendiri. Menyakitkan ๐Ÿ˜•

    Ingat PSSI, yang pernah dipimpin dan di atur dari balik jeruji besi, bahkan sampai sekarang ketua PSSI yang โ€œituhโ€ masih berkuasa, gimana mau maju sepakbola Indonesia? ๐Ÿ˜ณ

    Haha ๐Ÿ˜†
    Si Ketua PSSI yang satu itu memanglah! Kurasa kalah tebal tembok penjara dengan mukanya itu.

    Itulah bahayanya kalau dari kecil acap-acap mendengar lagu Maju Tak Gentar Membela Negara, sudah gede sudah pintar memelintirnya menjadi “Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar” ๐Ÿ˜†

    @ Qzink69

    Maha benar Alex dengan segala celotehnya.. ๐Ÿ˜†

    And there… Also Sprach Qzinkthustra ๐Ÿ˜†
    Anggur Dionysus, Brader? :mrgreen:

    *isap rokok*

  7. bang alex pindah blog ternyata *baru tau*
    itulah makanya bang, jangan pernah mau jadi orang miskin dan tidak berkuasa. tak boleh sakit, tak boleh salah, juga tak boleh jadi orang yang disalahkan. mari kita jadi orang besar, yang bisa korupsi seenaknya dan cuma dihukum 1 tahun, ato pake narkoba dan masih tetap bisa ikut rapat dewan

  8. @ Rukia

    Err… ini siapa ya?

    *ditabok* ๐Ÿ˜†

    Ya, wajarlah baru tahu… saia ini blogger nomaden yang udah bosan jadi nomaden… ๐Ÿ˜ณ

    *baca paragraf berikutnya jadi nyengir*

    Itu seperti lagu Iwan Fals jadinya. Lagu berjudul “Nak” ini, ๐Ÿ˜€

    Sekolahlah biasa saja….
    Jangan pintar-pintar percuma
    Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
    Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
    Perduli titel didapat atau titel mukjizat
    Ya….ya….ya….ya….
    Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
    Agar mudah bergaul…tentu banyak relasi….

    Jadilah penjilat yang paling tepat
    Karirmu cepat uang tentu dapat
    Jadilah Durno jangan jadi Bimo
    Sebab seorang tenar punya lidah sejuta
    Oh…oh….oh….
    Hidup sudah susah jangan dibikin susah
    Cari saja senang walau banyak utang
    Munafik sedikit jangan terlalu jujur
    Sebab orang jujur hanya ada di komik

    :mrgreen:

    Sebenarnya kalau menurut hukum mengenai psikotropika, bukan mukanya saja yang bengap Tuan Besar itu. Jika kepemilikan setara/melampaui batas toleransi, nyawanya sekalian bengap-bengap dieksekusi. Tapi ya itu… hukum negeri ini… ๐Ÿ™„

  9. BAHH..!!!!

    ternyata Tuan Alex ini seorang missionaris! *lirik komen reply @org.banjar*

    tak sudi saya berteman dengan missionaris!
    cih.

    *hamburkan lapak balak*

  10. Sama. Aku juga udah sakit kepala melihat pemerintahan ini. ๐Ÿ˜€

    Ah ya, kalau bikin sakit kepala, saranku cuma satu: Jangan dibaca. It’s a free world ๐Ÿ˜†

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s