Catatan Kenduri Kawan Kawin

Manusia memang bukan binatang yang katanya punya musim kawin tersendiri. Seperti kebutuhan tidur juga, kalau manusia hendak tidur sepuas-puasnya, dia tak perlu seperti beruang yang menanti musim dingin tiba. Begitu pula dengan ritual perkawinan, ritual yang sudah setua kisah anak-anak Adam dan Hawa.

Buktinya, sudah berapa bulan berlalu melewati bulan haji, musim kawin masih bertahan seperti musim hujan yang sering durhaka pada ramalan cuaca. Setidaknya di daerahku ini. Biar kata orang bulan Safar itu bulan panas, bulan perang dalam kepercayaan Hejaz, tetap saja Pak Kadi yang bertugas di KUA kecamatan kami ini nyaris setiap minggu menginterogasi para pasangan yang katanya mau hidup bersama sampai tua (atau sampai bertalak tiga).

Tidak di daerah kota kecilku saja, bahkan sampai ke daerah yang mengarah ke perbatasan kabupaten, dimana Teungku Suardi (mantan interogator calon pengantin di KUA kecamatanku ini) sudah dimutasi sebagai juru sidik pengantin di KUA sana. Sama saja: Hampir tiap hari ada saja umat yang bersuka-cita menjebak sepasang lelaki dan wanita untuk berkeringat ditanya-tanya segala sesuatu menyangkut kesiapan berumah-tangga oleh beliau.

“Kebanyakan muda-muda,” kata Amin, sahabat yang kondang sebagai salah satu ustadz muda penghasut massa di kampung kami ini. “Lucu juga kalau sudah melihat gugupnya. Yang pria lain jawabnya, yang wanita lain sahutnya.” Demikian tutur beliau yang sering jadi saksi mata acara bertajuk “proses” itu.

Sidang pembaca yang budiman bijak bestari, yang sudah khilaf tersasar di sini…

Acara berjudul “diproses” itu sendiri hakikatnya boleh disebut formalitas belaka. Jadi, umpama salah satu dari saudara-saudari mau berbini/berlaki, maka di sini selain secupak emas penakar harga diri, mestilah saudara-saudari bersiap hati disoal macam-macam di kantor KUA sebelum berijab-kabul. Konon hal ini untuk menguji, untuk memproses seberapa kesiapan dua anak manusia yang mungkin untuk mempersiapkan pernikahan saja sudah nyaris depresi. Acara itu sendiri biasanya tak seberapa lama, cuma dalam hitungan satu jam saja bertanya-jawab dengan beberapa pengetua KUA nan mulia.

Tapi prosesinya itu… alamak oi! Terkadang iba hati melihat calon pengantin pria sudah berkeringat segede jagung kualitas unggul di jidatnya. Berangkat pagi dari rumah, jemput calon mempelai wanita, lalu berpanas-panas di ruang KUA yang tak ber-AC, menanti giliran “diadili haknya” yang ingin menyempurnakan agama dan – tentu saja – hasrat berahi yang manusiawi. Kalau sudah gelisah sejak pagi, biasanya calon korban tontonan umat di KUA itu, dari yang tak pernah merokok jadi minta rokok pada kawan yang rela menjadi supir, dengan kelakar pahit soal hafalan ayat-ayat mustajab untuk… ya, agar supaya nutfah itu nanti jadi anak yang saleh atau salehah…:mrgreen:

Namun apapun jadinya, the show must go on. Kawan sudah diundang, kabar gembira sudah berkumandang, berlusin kertas sudah dihajar kawan di percetakan dengan huruf terang-benderang bahwa pernikahan akan dilangsungkan. Tak ada pilihan lain: sekali layar terkembang surut calon pengantin berpantang.

Urusan pesta? Serahkan pada ahli-famili dan handai-tolan.

Apalagi anak-anak muda di daerah ini. Urusan bahu-membahu dalam pesta kenduri, ha! Serahkan pada mereka. Merekalah ahlinya. Dari urusan pasang teratak untuk pesta, merebahkan kerbau untuk dipancung lehernya sebagai tumbal kawan yang hendak melepas masa perjaka, sampai memeriahkan malam-malam hari H dengan jadi pencuci piring, penyedia kopi, penyambut tamu, menggelar lapak mengadu balak, bermain poh daboh atau rapa’i geleng, bukan masalah. Ibarat Rexona, anak-anak muda yang acap dicap tak berguna oleh aparatur pemerintah itu, setia setiap saat. Tanpa syarat tanpa mengenal pangkat. Apalagi gaji dan tunjangan untuk pengikat.

Di kota besar? Carilah olehmu kekompakan begitu, tak akan kau temui lagi, diganti sosok rupawan Katering Bilsong: Katering datang bill tagihan menyongsong.

Dalam minggu-minggu ini saja, terhitung sejak awal tahun kemarin, hampir setiap minggu ada acara meuduek pakat dan kenduri pernikahan di sini. Di desa dan di kota. Dari berbagai strata. Undangan di meja toko dan meja tamu di rumah, sudah macam spam masuk di inbox email. Setiap hari ada yang mengantar. Wangi-wangi, artistik dan dihias ucapan indah nan apik. Sering-sering yang mengantar calon pengantin atau pengantin itu sendiri, yang sering pula memberi bonus pesan kasih-sayang, “Awas kau kalau tak datang!! Sempat tak kulihat batang hidungmu… huh!” diiringi peragaan jurus Cakar Peremuk Tulang.

Rokok, teh dan kopi, konon hukumnya fardhu 'ain dalam acara kenduri.

Tentu saja aku, dan kawan-kawan lainnya, selalu menyempatkan diri untuk datang. Mungkin karena adat-istiadat sudah bikin terbiasa. Namun semalam, dalam acara kenduri di rumah seorang kawan – yang menghadirkan foto berkualitas buram di atas itu – barulah faham aku bahwa ada kesepakatan tak tertulis soal kekompakan demikian. Jumhur para pemuda yang mengobral bualan dengan sesaji rokok, teh dan kopi, semalam menghasilkan ijma’ bersama: Menghadiri kenduri salah satu dari rekan-rekan pemuda daerah ini adalah seperti shalat jenazah hukumnya: fardhu kifayah. Jika sempat, datanglah.

Sebab, dalam pergaulan orang-orang muda yang sudah susah-senang hidup berkawan, sudah sama-sama kenyang ditipu petinggi pemerintahan yang aparaturnya sering memberi stempel “pengangguran tak berguna” (sebab banyak dari kami tak berseragam pemkab); kesetiaan pada kawan sampai mengantarnya ke jenjang pernikahan adalah bukti bahwa kesetiaan itu tak mengenal siapa berpangkat apa. Kami tak butuh birokrasi untuk menabik hormat dan datang menghadiri undangan cuma karena takut dianggap tak sopan, takut dimutasi jika tak menampakkan batang hidung di depan sang atasan.

Sejak acara mengantar ke KUA, meuduek pakat, acara kenduri pernikahan, bahkan sampai ke acara kenduri peutroen aneuk (alias menurunkan anak dari ayunan), sedia-sedia saja orang muda dipanggil untuk bekerja. Tentu saja datang ke acara demikian bukan hal yang memberatkan hati, meski harga gula sekarang sudah manis di bibir pahit di dompet kebanyakan masyarakat menengah ke bawah.

Nah, acara meuduek pakat itu sendiri adalah adat di Aceh. Jadi, umpama ada orang hendak menikah, dipanggil lah segenap kaum-kerabat, handai-tolan dan ahli-sahabat untuk datang bertandang. Yang jauh dihimbau mendekat, yang dekat dipanggil merapat. Bukan rapat seperti rapat desa yang kadang cekcok soal dana Bandes itu, hanya saja semacam preambule untuk walimah jika ijab kabul nanti sudah sah. Tikar digelar dan undangan datang dengan membawa – biasanya – gula pasir barang sekilo-dua kilo sebagai penanda mendukung acara tersebut, meringankan keluarga tuan rumah untuk menyajikan sekedar air manis pembasah kerongkongan.

Acara seterusnya adalah duduk bersama dan mendengar press release dari juru bicara keluarga bahwa pada tanggal sekian minggu sekian, si anu bin fulan (biasanya dengan ucapan, “Anak kami…”) akan disegerakan dengan si ani binti fulani. Maka hendaklah yang sudah hadir dalam acara duek pakat di malam itu berkenan mengabarkan berita gembira tersebut ke penjuru negeri, serta sudi pula meringankan langkah kaki untuk berhadir di hari H nanti. Tidak perlu bawa gula lagi, cukuplah dengan doa restu dan amplop barang sepuluh-dua puluh ribu seikhlasnya.

Pada malam menjelang hari kenduri, biasanya ada digelar hiburan pula. Dan hiburan ini, selain dari orkes organ tunggal yang tersohor seantero negeri (atau disini enak disebut keyboard), bisa bermacam-macam rupanya. Ada yang memang diundang untuk dibayar oleh Tuan Rumah ada pula yang disajikan dengan sukarela oleh anak-anak muda desa. Jika yang pria-pria mudanya memainkan rapa’i geleng, rateb meuseukat atau adu nyali-adu taji dengan menusuk-nusukkan belati ke badan dalam rentak genderang rapa’i, maka anak-anak gadis tampil menari berupa-rupa. Hiburan seni budaya daerah sendiri, sampai hari ini dengan sukarela dilestarikan dalam kenduri oleh anak-anak negeri. Bukan oleh dinas pariwisata yang kolot membacot soal Visit Bullshit Year di media massa.

Penari cilik binaan remaja Desa Meudang Ara

Misalkan saja anak-anak kecil yang menarikan Ranup Lampuan dalam acara kenduri semalam, seperti potret buram kualitas VGA di atas itu: Mereka dibina, dilatih oleh orang-orang muda yang tak pernah dilirik oleh Pemda, tapi sering jika sukses menarik perhatian media massa, kesuksesan itu dicatut untuk menggayakan bahwa pemerintah – utamanya bidang seni-budaya – memang punya kerja, tak makan gaji buta atau cuma pintar pesiar dengan dalih studi banding ke Pulau Dewata. Sebagai salah satu anggota Sanggar Bumoe di kabupaten ini, aku sudah lama sinis melihat perangai begitu. Tapi setidaknya, cukup lah kami menghibur-hiburkan hati saat melihat generasi yang lebih muda masih bisa diharap meneruskan warisan adat budaya negeri ini.

Tentu saja semua bacrit ini berkisar seputar daerahku saja, namun cukuplah untuk menggambarkan pada sidang pembaca sekalian, bahwa di daerah ini, sebagai bagian tak terpisahkan dalam bingkai™ Propinsi Kesatuan Nanggroe Aceh Darussalam, seni budaya kami belum mati. Belum, bahkan meskipun seisi aparatur negara wal negeri tak begitu ambil peduli. Kami masih punya kenduri yang masih memberi tempat pada adat dan seni budaya negeri sendiri. Masih harum, seharum wangi durian di musim belah duren.

Dan dalam beberapa hari ke depan nanti, minggu-minggu depan kelak, kawan-kawan yang sudah mengabarkan berita suka-cita di luar kabupaten ini juga akan mempertontonkan pada umat, apa yang dimaksud seni survival “kerakap hidup di batu, hidup segan mati tak mau”. Mungkin di depan matamu, di satu tempat di sudut-sudut Aceh ini. Sehingga salah satu darimu bisa mengerti kenapa generasi Anak Nongkrong MTV seperti kami, generasi remaja 90-an yang dibesarkan oleh Jamie Si Anak Ajaib sebagai maskot mimpi menjadi rock stars satu hari nanti, menjadi Kurt Cobain, Sid Vicious atau Zack de la Rocha, merasa jenuh mengidentifikasi jati diri, merasa ada keindahan yang hilang dan menemukannya kembali dalam seni budaya negeri sendiri.

Meskipun aku sendiri mungkin tak akan melihat kenduri mereka, seperti mungkin kenduri dari sepasang adik angkatan di kampus MIPA yang kemarin berijab-kabul di Banda Aceh, namun seperti ucapan selamat dan doa restu pada mereka yang masih ingat mengabarkan berita dari jauh; seperti itu pula aku berharap seni budaya Aceh ini tetap hidup. Disela-sela telinga ini mendengar Rock Is Dead-nya Marilyn Manson, menikmati derap langkah Seudati, lengking seurunee kalee dan pukulan genderang adalah saat dimana (aku) sadar pada siapa dan dimana diri sendiri: anak negeri ini, yang lahir, besar dan mungkin mati di sini.

Eksistensi sebagai anak dari suatu negeri yang berbeda seni budaya mungkin cuma omong kosong, ketika Nokia, CNN dan Vodafone sudah kompak menjadikan dunia sedatar meja pingpong. Tapi dalam omong kosong globalisasi yang sudah sukses menghadirkan organ Yamaha sebagai Oprah-nya tema hiburan segala bangsa, seni budaya negeri sendiri mengisi celah kosong dengan menunjukkan hiburan berbeda tanpa synthesizer. Meski cuma sebatas hiburan kenduri.

* * *

PS:

  1. Untuk Zahrul Maizi dan Nani Eliza, sepasang adik angkatan dari leting 2002, yang kemarin pagi dikerjai penghulu di mesjid Lamgugob Banda Aceh, disumpah-sumpahi dengan Quran dan segenggam mahar untuk melekatkan hidup: minta maaf aku tak bisa ke Banda Aceh. Lintasannya bukan enak dan dekat, kalian tahulah itu. Tak usah kusumpahi jalan peninggalan sejarah kompeni bernama BRR Aceh-Nias, yang masih terbengkalai sampai hari ini, dari jarak kilometer yang harus ditempuh saja sudah tak memungkinkan untuk meninggalkan kota kecil ini sementara waktu. Mungkin di hari kenduri nanti, kalau ada umur panjang dan ringan langkah kaki… Selamat atas pernikahannya, adik-adik🙂
  2. Untuk Awenk Kurniawan dan Purnama di Banda Aceh: Selamat untuk kelahiran putra pertamanya kemarin, Senior! *Masih menagih janji foto-fotonya si bocah*:mrgreen:
  3. Untuk Roni Kalek: KAMPRET! SIA-SIA KE KUA HARI INI SEENAKNYA KAU UNDUR JADI HARI SENIN! TAHUKAH KAU RASANYA KEHILANGAN BAHAN OLOKAN SEPANJANG ABAD?! Heh. Tentu sedang menghapal juz amma kau sekarang😆

Update (09 Maret 2010)

Akhirnya, selamat untuk pernikahan junior dan salah satu sobat baik di kampung halaman ini:

Briptu. Roni Indra Cahya vs Ratna Zumai Yuliana

Bak rapper saling nge-diss, saling menggombalkan lagu mesra di atas pentas:mrgreen:

Briptu. Roni Indra Cahya vs Ratna Zumai Yuliana

Meuduek pakat pada hari Kamis Malam Jumat, 4 Maret 2010

Acara Kenduri pada hari Selasa, 9 Maret 2010

Bertempat di Desa Meudang Ara, Blangpidie, Aceh Barat Daya.

Selamat, brother!

Sore terbaik dalam awal bulan ini. Mengantarmu ke rumah istri yang akan menemanimu sampai nanti bercerai oleh waktu atau oleh ajal, dan mendapati adegan kocak terakhir dari masa lajangmu. Memang tak hilang-hilang konyolmu itu, seperti tak akan hilang juga masa-masa bujang awak dulu😆 Semoga gombalan di pentas itu jadi perekat untuk mengingat manisnya hari ini, saat hidup kelak memaksa diri menelan pil pahit. Untuk tidak gampang menalak kenangan di atas kekhilafan. Tidak bercerai meski romantisnya hujan tak lagi menderai. Tidak saling bungkam ketika gaji sebagai aparatur negara mungkin nanti cuma cukup untuk beras segenggam, karena kau mencoba keras-kepala untuk tidak makan uang haram. Kita belajar kenyataan bahwa hidup tak selamanya manis, tapi bukankah kita bertahan selama ini karena menyatukan kenang sebagai pegang, mengingat gelak di saat tuntutan hidup menggasak, di saat hubungan mesra (mungkin) merenggang?

Di planet ini kita lahir sekali dan mati sekali. Kenapa tidak boleh berharap agar menikah pun cukup sekali? Seperti setiamu bersahabat, semoga lebih setia dari itu perempuanmu kau rangkul erat. She’s yours, brother. Satu yang akan tinggal di sisimu di penghujung hari di saat kami, kawan-kawan ini, mungkin sudah lelap tertidur, sudah berai berpencar ke delapan penjuru mata angin di bumi ini, atau mungkin sudah jadi kerangka mati.

Dan di kenduri hari ini, inilah lagu terbaik sore ini di kupingku. Lagu Aceh yang sudah lama tak kudengar dari dekade 1990-an, “Linto Ngon Dara Baro”-nya Geulumpang Raya Group:

Linto ka troh saleum ta sambot
Geupeuduek sigra ateuh peulamin
Linto pih seunang bukon lee
Di Dara Baroe geuroe ie mata

Bintang di langet cit ka geu peungui
Ngon bungong-bungong meuwarna-warni
Malam meugaca uroe duek sandeng
Bungong bak ulee neuleung bak gaki

Saloh alee linto meutuah
Uroe nyoe ka sah ka troh bak janji
Janji duek dua ateuh peulamin
Keukai bahagia sampoan tuha

Kanduri geubri keu rakan yang troh
Bandum undangan syeedara lingka
Habeh acara undangan pih woe
Dara ngon linto teukhem meudua

{terjemahan}

Linto sudah datang, salam sambutkan
Dudukanlah segera di atas pelaminan
Linto senang bukan kepalang
Dara Baro meneteskan air mata

Bintang di langit memang sudah menanti
Dengan bunga-bunga berwarna-warni
Malam berinai, siang duduk bersanding
Bunga di atas kepala hamparkan di kaki

Saloh alee pengantin bertuah
Hari ini sudah sah sudah sampai di janji
Janji duduk berdua di atas pelaminan
Kekal bahagia sampaikan tua

Kenduri berikan bagi rekan-rekan yang datang
Semua undangan, saudara selingkar
Habis acara undangan pun pulang
Dara dan linto tersenyum berdua

Selamat berbahagia, Kawan! Panjang umur, sehat dan gembiralah selalu!

NB:

  • Linto = sebutan untuk pengantin laki-laki di Aceh.
  • Dara baro = sebutan untuk pengantin perempuan di Aceh.

28 thoughts on “Catatan Kenduri Kawan Kawin

  1. PertaMina..x ?????:mrgreen:

    terimakasih..terima kasih atas doanya, tidak perlu repot2 pake amplop kok….

    *lho…salah sasaran ini*

    *barukehilangansemuanomorhapekrndicuriorangdikosan*

  2. Kalau dari cerita di atas, sepertinya aceh begitu “berwarna” dengan segala seni dan budayanya🙂 jadi ingin berkunjung ke aceh, apalagi waktu ada kenduri kawinan.

    *menunggu undangan dengan sabar😎 *

  3. @ eMina

    PertaMina..x ?????:mrgreen:

    😆 Masih ada pertamax di blogsfer yang sudah membosankan ini?😆

    terimakasih..terima kasih atas doanya, tidak perlu repot2 pake amplop kok….

    He? Mau menikah rupanya? Sebarkanlah undangan ke penjuru nusantara. Doa dibungkus dalam amplop macam jimat kebal dahulu kala😆

    *lho…salah sasaran ini*

    . . .

    *barukehilangansemuanomorhapekrndicuriorangdikosan*

    Hoo… ada lagi yang kehilangan. Lapor pulisi:mrgreen:

    @ ManusiaSuper

    Jadi kapan giliran kau?

    Tahun ini juga😀

    jangan karna perempuan jakarta itu tak lagi bisa dicapai cita, lalu kau potong itu senjata purba….

    Bah! Menepuk air di dulang alamat terpercik ke muka sendiri. Tak pernah ada perempuan Jakarta dalam babad di sini *lirik cermin*. Di sini tak ada mall atau plaza, kalau memang ada perempuan kota itu kemari, bisa mati iseng sendiri dia nanti😆

    Senjata purba itu tak akan dipotong. Diharamkan sama agama untuk hidup selibat. Justru aku khawatir mandau di sana duluan yang beraksi. Ai aii… apakah komen itu self-refleksyen diri sendiri?😆

    *ngakak*

    Kutunggu kabar gembiramu juga, Pak Guru!😆

    @ Zephyr

    Kalau dari cerita di atas, sepertinya aceh begitu “berwarna” dengan segala seni dan budayanya🙂

    Setahuku begitu. Budaya di sini budaya asimilasi juga, dari Benggali India, Tanah Malaka, sampai Kesultanan Deli, Sunda dan Jawa ada rekam jejaknya dalam budaya sini.

    jadi ingin berkunjung ke aceh,

    Kalau serius kau mau ke Aceh, akomodasi tak usah kau pikir. Ha! Camana? 😀

    apalagi waktu ada kenduri kawinan.

    Tiap minggu ada kok :mrgreen:


    *menunggu undangan dengan sabar😎 *

    Undangan siapa? Kalau tak sabar, undangan kawan-kawanku banyak ini, kuforwardkan saja?😆

    Kalau undanganku… Bersabarlah kau menunggu. Tak lama lagi itu. 😎

    Tak tahan kuping dikicau famili soal itu. Umpama disodori bakwan pas sariawan, dimakan bibir meriang panas dalam. Tak awak makan dikira mengulur waktu untuk melawan. Astagfirullah… jadi mengghibah….

  4. Khayalan melayang jauh kekampung sana, tak terasa sudah satu dasa warsa meninggalkan kampung tercinta. Masihkah desaku sama seperti dahulu, atau kau ubah lagakmu agar serupa macam gaya yg ada di kota. Kampungku, mengenangmu meluapkan rindu di kalbu. Alex.. Meracau teruslah kau tentang temanmu punya kawan, sedangkan kau.. Mampuslah dikoyak-koyak sepi.. He.. He.. Salam.

  5. moral story: Ingin juga rasanya menikah juga seperti kawan-kawan, tapi melihat betapa repot dan menyiksanya berhadapan dengan petugas KUA maka segeralah dijauhkan niat itu. Kecuali kalau terpaksa karena dijodohkan orang tua😀

    @Mansup

    Jadi kapan giliran kau? jangan karna perempuan jakarta itu tak lagi bisa dicapai cita, lalu kau potong itu senjata purba….

    Nanti nunggu sampai ada perempuan khilap yang mau dinikahi atau, kalau suatu saat perkawinan sesama jenis diakui pemerintah.

    *copot sendal dan kabur*

  6. […] anak negeri ini, yang lahir, besar dan mungkin mati di sini.

    Setelah semua cerita indahmu diatas, justru bagian itu yang paling mengesankan saya. Seperti menjelaskan betapa “aceh”-nya dirimu itu. Ntahlah kalo suatu saat nanti kau harus melanjutkan hidup di daerah lain, atau bahkan negara lain.😀
    Oh ya, saya turut senang bahwa sedikit lagi harimu tiba tuk dipestakan dan diolok2 kawan2 seperjuanganmu. Semoga tak ada aral melintang ya?😉

    BTW, kamu dicari lex.🙂

  7. Barusan tadi pagi mengantar seorang kawan nikahan, grogi habis sang mempelai pria, tawa sinis sang pengantar ria… Pernikahan dan segala prosesi nan ribet itu Lex, justru di situ kata orang seninya…

  8. Terimakasih bro!🙂
    sedikit koreksi, nn 2003 loh… :p

    mudah2an di resepsi nanti bisa terbang ke Banda Aceh ya!😉

  9. berkunjung setelah sekian lama ga pernah blogwalking mas Alex:mrgreen:
    ngomong-ngomong, yang tinta merah masih aktif?

    *saya masih belum wisuda lho!😛

  10. Jadi abang Alex, kapan kawin????😆

    Jadi kapan giliran kau?

    Tahun ini juga

    benarkah?? selamat selamat🙂
    *menanti undangan abang Alex beserta tiket PP denpasar-aceh-denpasar + akomodasi*:mrgreen:

  11. Acaranya macam di kampungku saja.

    Bah! Seorang Alex mau gelar nikahan, seluruh blogger jagat maya wajib diundang!

  12. oh ya, itu ada lirik yang salah, bang.

    Linto pih seunang bukon lee
    Di Dara Baroe geuroe ie mata

    mestinya:

    Linto pih teukhem seunang bukon lee
    Di Dara Baroe geuroe ie mata

    aku ada mp3nya itu. lengkap juga, gara2 postingan abang di blog lama dulu, kucarilah sampe lengkap lagu2 Aceh zaman dulu. besok2 kubantu aplodkan. ya ya aku tahu, susah aplod lagu di blangpidie. koneksi modem di blangpidie kan GPRS wekekeke =))

    ke medanlah, bang. kutunggu😀

  13. @ musafir

    Khayalan melayang jauh kekampung sana, tak terasa sudah satu dasa warsa meninggalkan kampung tercinta. Masihkah desaku sama seperti dahulu, atau kau ubah lagakmu agar serupa macam gaya yg ada di kota. Kampungku, mengenangmu meluapkan rindu di kalbu.

    Pulanglah, Bang😆

    Alex.. Meracau teruslah kau tentang temanmu punya kawan, sedangkan kau.. Mampuslah dikoyak-koyak sepi.. He.. He.. Salam.

    *ngakak*

    Resiko, Bang. Mudah didapat tentu mudah dilepas, sukar didapat biasanya lama bertahan. Aku sudah merasakan itu😳

    @ qzink

    Ini lagi😆

    moral story: Ingin juga rasanya menikah juga seperti kawan-kawan, tapi melihat betapa repot dan menyiksanya berhadapan dengan petugas KUA maka segeralah dijauhkan niat itu. Kecuali kalau terpaksa karena dijodohkan orang tua😀

    Aku sebenarnya tak ingin menikah kalau cuma merasa “Oh,… tinggal aku sendiri… Oh, sudah habis menikah semua. Oh, no… kasihani aku.” Itu pikiran tolol. Kenapa kau harus ambil peduli pada pendapat khalayak ramai? Kawan-kawanku kebanyakan duluan menikah karena merasa sedang ada rezeki atau merasa memang sudah saatnya. Dan aku juga begitu. Ini tahun usia 27 tahunku selesai, masuk 28 tahun, dan aku tak mau di atas usia 30-an, lutut ngos-ngosan cari rezeki nanti😆

    Soal orang tua, aku dari dulu bebas. Kami menghargai pilihan hidup. Jika ada paksaan, aku tak akan kembali ke kota ini.

    Ah ya…. Kalau soal petugas KUA, aku tak ada takutnya, Bro. Awak ini mantan hafizh juga, salah-salah mungkin orang KUA-nya kudebatkan😛

    Nanti nunggu sampai ada perempuan khilap yang mau dinikahi atau, kalau suatu saat perkawinan sesama jenis diakui pemerintah.

    😆

    Tenang saja. Sudah ada perempuan yang cukup gila untuk itu. Mungkin matanya sudah minus 1/2 megawatt😆

    @ jensen

    Setelah semua cerita indahmu diatas, justru bagian itu yang paling mengesankan saya. Seperti menjelaskan betapa “aceh”-nya dirimu itu. Ntahlah kalo suatu saat nanti kau harus melanjutkan hidup di daerah lain, atau bahkan negara lain.😀

    Kemungkinan besar akan berbeda. Aku punya teman turunan Jawa di sini yang bahasa Acehnya malah lebih medok dari aku, dan dulu paling getol dengan seni budaya di sini. Sederhana saja: Dia lahir dan besar di sini😀

    Oh ya, saya turut senang bahwa sedikit lagi harimu tiba tuk dipestakan dan diolok2 kawan2 seperjuanganmu. Semoga tak ada aral melintang ya?😉

    😆

    Bukan sedikit lagi lah itu. Dalam tahun ini, kataku. Kalau besok pagi aku isdet, aku tak mau membawa janji ke peti mati😆

    Soal diolok-olok, bajingan2 seperjuangan itu memang macam orang menang lotere. Lama-lama menebak manggis, mangga didapat, lama-lama mengintai gadis, sekali dapat langsung pintar mendebat pentingnya lekas-lekas menghadap KUA. Biasalah itu😆

    BTW, kamu dicari lex.🙂

    Sudah lama aku tak ke situ😕
    Waktuku makin sempit, Bro😐

    @ Amd

    Barusan tadi pagi mengantar seorang kawan nikahan, grogi habis sang mempelai pria, tawa sinis sang pengantar ria…

    Haha… aku bisa bayangkan macam apa mukanya😆

    Pernikahan dan segala prosesi nan ribet itu Lex, justru di situ kata orang seninya…

    Itu aku sepakat. Macam awak bersunat-rasul waktu kecil dulu juga, habis dikerat ujung ciput, awak rebah telentang orang sekampung bersuka-cita melihat awak meringis-ringis kehilangan seiris kulup😆

    @ ghani arasyid

    berkunjung setelah sekian lama ga pernah blogwalking mas Alex:mrgreen:

    Aku juga sudah lama nggak blogwalking. Sudah jarang lah:mrgreen:

    ngomong-ngomong, yang tinta merah masih aktif?

    Sudah almarhum😥

    *saya masih belum wisuda lho!😛

    Jadi, tunggu apalagi? Tunggu dikirimin surat peringatan ke rumah?😆

    @ Rukia

    benarkah?? selamat selamat🙂
    *menanti undangan abang Alex beserta tiket PP denpasar-aceh-denpasar + akomodasi*:mrgreen:

    😆
    Kalau seumpama-andaikata-dan-misalkan undangan begitu tiba berlampirkan tiket, memang berani kemari?:mrgreen:

    @ berangkal

    Acaranya macam di kampungku saja.

    Dimana itu?😯

    Bah! Seorang Alex mau gelar nikahan, seluruh blogger jagat maya wajib diundang!

    Bah! Memang aku ini apa sampai seluruh blogger jagat maya wajib diundang? Ada-ada saja😆

    Eh betewe-eniwe-buswe, ini siapa ya?😀

    @ Dedong

    PUKIMBEK! ANJING BABI HARAM DIMAKAN!!!

    Patut tak enak perasaanku sore itu, kukira aura setan darimana di acara kenduri sore itu. Sampai berangkat malam tak enak aku di mobil, rupanya kau, anjengbabiharamdimakan!!😈

    Sudah kusangka ada adikletingsetandurjanadurhakapenebarangkaradarimedansana pulang kemari untuk menghina!!😡

    KOMENMU KU-SPAM-KAN!!👿

    Dan ini jawabanku:

    1. Kau salah orang. Jangan terlalu banyak dengar cerita beredar dari guru-guru. Kebanyakan guru suka bernostalgia, dan kadang-kadang keliru mengenang mana-mana muridnya dahulu. Heh, ibuku guru dan aku tahu betul kalau guru itu terkuras ingatannya karena diperah petinggi pendidikan untuk mengajar berjam-jam di depan kelas dengan gaji tak seberapamana sementara Tuan-tuan eselon atas pelesir macam pembesar kompeni. Kau pikir enak mengingat murid-murid yang sudah bertahun-tahun minggat dari sekolah?
    Kau coba saja reunikan kelasmu sekali, dan kau pergi ke rumah guru lebaran nanti. Congormu pun mungkin beliau-beliau sudah lupa.😆

    2. Playboy cap mosfly kepalahotak kau! Tak ada urusannya sama baju oblong iklan itu. Dan aku tak peduli, orang mau suka mau kagum mau sinis mau keki mau benci-benci tapi rindu juga, karena aku pakai baju – apa katamu – ala tukang becak? Dunia berputar, Wak! Hari ini kau bergaya pakai Pierre Cardin, esok lusa mungkin kau terpaksa pakai baju goni!😆

    3. Soal 1 perempuan diantara 1000 betina, itu ucapan siapa pula menyebarkan sampai di kupingmu? Ya, aku pegang itu masih. Lalu kenapa? Pukimbeklah…

    4. Perkara Komunitas Ababil, kemana saja kau? Sudah lama kubilangkan, aku sebenarnya capek urus-urus begitu, tapi mau macam mana? Orang muda di perantauan kebanyakan cuma bisa bilang, “Apa itu Blangpidie tak berkembang, tak maju-maju. Begitu-begitu saja. Pemerintah fuck! Anak mudanya fuck!” tapi ya sebatas itu. Tak ramai yang pulang untuk mengulurkan tangan, untuk menggarap angkatan muda di sini berkreasi. Menghina kampung sendiri dari negeri orang, untuk apa? Birokrasi berganti, perangai masih setengik terasi, generasi datang dan pergi, tapi tak banyak yang bertahan di sini. Sayang sekali, anak-anak yang pintar mengasing di plaza-plaza kota modern. Bukan begitu?
    Ded, aku sendiri sudah menyerah benarnya, kalau tak kupikir mesti ada yang dikompori untuk menuliskan nanti saat awak sudah sibuk menambahi saldo bank biar kalau mati bisa bikin kenduri yang bisa kasih makan berlusin orang-orang yang di rumahnya masih cukup nasi, tak putus beras macam anak yatim atau orang-orang di garis kemiskinan. .He, itu kan yang diminta masyarakat kita nan beradab?😕

    5. Aku tak mau dianggap memonopoli gagasan dan opini. Kau tahu, adalah menyenangkan jika ada pengikut, jika ada yang sehaluan. Tapi bagiku lebih menyenangkan hidup seperti pelangi. Ada warna masing-masing. Jadi, aku tak mau dikira nanti mentang-mentang ketua lalu bikin standar mana yang patut mana yang tidak patut. Sebusuk sepandir apapun tulisan anak-anak di sini, mereka menulis. Bukan cuma turun ke daerah setahun sekali dalam seragam almamater perguruan tinggi yang berkoak-koak slogan Tri Dharma musiman itu.
    [Lagian, apa kau tidak lihat, gaya bertutur orang kita ini sudah macam orang duduk selapak-sewarna balak. Apa lagi yang akan berbeda jika bukan gagasan?😕 ]

    6. Soal segala fans tailembu itu, kau kebanyakan baca komik. Persis awewe yang kau sebut-sebut itu. Pangeran? Bah! Hidup tak seindah film Gie atau Motorcycle Diaries-nya Guevara sialan itu. Kau pernah dengar ini?

    Empty your pockets son; they got you thinking that
    What you need is what they selling, make you think that buying is rebelling

    Persis begitu. Dikira kalau sudah mesra dengan orang yang kebanyakan makan bacaan sok-sok kiri, lalu bisa sejalan sehati? Bah! Cuma ilusi sesaat itu. Kena panas matahari juga langsung teriak-teriak minta AC. Aku sudah kenyang, Ded. Ngomong awal sih “Iya… kasihan lihat emak-emak itu… aku kagum denganmuh… akuh padamuh… ouwhh… ” tapi kemudian ngidam tas Dolce Gabbana. Sux!😦

    7. Sorry… tak ada orang yang tak suka dikagumi, tapi aku termasuk sedikit pengecualian. Aku penghujat, selalu menghujat orang yang fanatik atau terpana pada apa-apa yang dianggap keren, hebat, legenda tralalala-blablabla. Bahkan jika itu tetua keluargaku sendiri. See? Kekaguman adalah awal dari kedunguan untuk jadi seperti kawanan lembu macam junior menurut senior cuma karena terlalu dungu untuk mengoreksi. Di blogsfer ini kau akan menjumpai kawanan lembu yang sama yang bikin kasta-kasta baru di ranah dunia maya. Koor setuju dan “kami sepakat denganmu, tuan ndoro” bergema seolah-olah tahi keluar dari lubang pantat yang sama. Bukan begitu?😀

    Ded, membikin merah muka Kepsek dan Ketua BP3 bukan hal yang keren lagi di zaman begini. Itu cuma ketololan masa remaja. Aku masih menghormati mereka sampai hari ini, meski dulu memprotes kamp konsentrasi bernama sekolah itu. Kepsek itu tetap seorang guru, meski kebiasaan memonopoli matematika-nya itu membosankan dulunya. Tapi… dia guru, demi Tuhan. Dan aku menghormati ke-guru-annya itu. Aku akan tetap menyalami beliau kalau ketemu. Persetan legenda-legendaan bullshit kalian itu.

    8. Kesimpulan: Komen pertama itu bullshit!
    Pedas? Whatever! It’s me😀

    Satu-satunya yang bagus, cuma komen untuk koreksi lirik lagu. Tengkiu. Lebih tengkiu lagi kalau memang bisa kau aplodkan mp3-nya dengan koneksi HSDPA Medan-mu itu.😛

    Eh, benar kau Dedong SMA ’06? Tak usah mungkir kau! Dari dulu sesekali kau komen di blogku, anjingbabiharamdimakan! Bikin blog sana!😡

    Ah ya, nantilah aku ke Medan. Kapan aku bosan di sini. Biar kutempeleng sekali mukamu itu:mrgreen: Sialan, balik kemarin pulak kau…😕

  14. iya bang, let. SMA 06. terakir kuliat pas reuni abis hari raya puasa kemaren yg rekaman norak kalian diputar itu😛

    eh curangnya ko,bang. ko komen acem orasi, komen ku ko hapus. curangnya itu! =))
    tapi benarlah kan tak berubah dianya. tak salahnya ceritanya anak2 kekmanapun ko bantah2.
    hehe…legend sekolah itu masih ada. never die😀

    yah sutralah. suka2 ko saja, bang. tak siap aku betekak belum sampe ilmuku kesitu =))

    nih mp3nya baru kuaplodkan tadi
    http://www.2shared.com/file/12027376/49bc75b0/Geulumpang_Raya_Group_-_Linto_.html

    btw, di tanya2 di facebook tuh. rame yg kangen😛
    okelah beuh, ku tunggulah di medan sampe bosannya abang datang😀

    nyan bek teuwoe pah intat jeunamee kanuri eungkot seungko wkwkwkw…

  15. @ Riza

    WOW?

    Heh heh… cukup sebatas itu saja:mrgreen:

    @ Dedong

    . . . .

    Facebook? Masih kututup. Malas aku. Di blog begini saja ada tukang ghibah macam kau😛

    Ya sudah. Tengkiu sudah mengaplod mp3nya. Hussh… hushh… sana kau! Syuhh..! Syuhh….! Banyak kali bacritmu! Dari dulu orang usil begini memang umpan tangan ini. Pernah dibelai mukamu pakai selop jepang? Kau rasakanlah sekali waktu nanti😈

  16. @ Riza

    Yea! Tersepona dgn repetanmu di atas itu.

    Repetan…. 😆

    Daku juga terpesona dengan kata tersepona itu. Lihay sekali dikau bikin kosa-kata baru *ngakak*😆

    Bukan dgn note nya😀

    Note ngelantur itu justru akan bikin aku tersepona jika kau tersepona, Nona…

    *ditunjang*
    .
    .
    .
    Eh, baru tahu ini. Nona ini juragan ef-el-pe NAD rupanya?😯 Untung kuutus dua ambassador tadi pagi….

    *istighfar*

  17. Eh, Tuan Anarki.. Itu kata yg dicoret moret sangat tdk penting! ENtahapa pun hebohnya. Pdhl mash Riza yg sama. Mash Riza yg kmrn kemarin dan kemarinnya lagi!

  18. Eh, Nona MelawanLupa… itu kata yang dicoret-moret memang tak penting, maka kucoret!
    Entah apa pun dihebohkan kata bercoret itu. Padahal tetap saja kau Riza yang sama. Masih Riza yang kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi.:mrgreen:

  19. Trik yang hebat. bumerang sekarang jadi kata kunci, ha? BAGOES! Tapi benar, hai. Rz heran. Macam itu informasi penting kali. Padahal, kan, itu tidak merubah apa pun. Memangnya jika bukan karena itu, ambassador tak akan dikirim, heh?

  20. …..
    maksud Riza, kalau tidak kemudian dapat informasi itu… mengirimkan ambassador hanya atas dasar, “ah, udah diundang. Nggak enak kalo nggak datang”

    Tapi tak apalah. Memang tak perlu dihebohkan. Sudahlah. Lupakan saja.

  21. Trik yang hebat. bumerang sekarang jadi kata kunci, ha? BAGOES!

    Terima kasih😎

    Tapi benar, hai. Rz heran. Macam itu informasi penting kali.

    Tergantung dari sudut mana kita memandang apakah sesuatu itu penting atau tidak😎

    Padahal, kan, itu tidak merubah apa pun. Memangnya jika bukan karena itu, ambassador tak akan dikirim, heh?

    Ambassador tetap akan dikirim, berhubung Pangkoopslihsan sedang terkepung di kota dagang. *halah*
    Jika pun tidak karena itu, tetap saja bocah-bocah itu akan kubujuk-rayu biar sudi menatap senyum manis para penerima tamu😛

    maksud Riza, kalau tidak kemudian dapat informasi itu… mengirimkan ambassador hanya atas dasar, “ah, udah diundang. Nggak enak kalo nggak datang”

    Jelas lah dikirimkan karena diundang, kalau tak mau pergi, pulang kupecat mereka jadi orang utusan😈 Lagian Nona kira komunitas kami jaelangkung, datang tak diundang pulang kena tendang?😆
    Masa kuliah, menggembel-gembelkan diri, iya begitu, cari makan gratisan😆

    Tapi tak apalah. Memang tak perlu dihebohkan. Sudahlah. Lupakan saja.

    Ya. Lupakan saja. Apalah arti sebuah posisi itu. Setiap saat posisi bisa terdisposisi cuma karena semantik saja. “Si Ani adalah juragan Si Anu” bisa disubstitusi dengan “Si Anu adalah juragan Si Ani” kapan saja. Kalimat sama dengan makna berbeda. Inverse relationship, bukan begitu logikanya? Sayangnya manusia banyak lupa. Dikiranya dirinya kalimat yang akan sama sepanjang zaman *meracau*

  22. @ Nani

    Komennya kok bisa ketahan di spam?😕

    Apapunlah, makasih koreksinya. Ah, entar kalau pesta resepsi kirimkan kabar. Mesti diundang dong, memang kita ini jaelangkung? Undangan itu fardhu kifayah. Bukan begitu, Bu Riza?😀

    *ditunjang*

  23. @ Riza

    Kenapa ”😐 ” begitu?😕

    @ Amd

    Sudah:mrgreen:
    Ternyata beliau… bisakah kau kirimkan ekspresi wajahnya itu?😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s