Sekilas Info

Kepada: Kawan-kawan di Aceh pada umumnya dan Banda Aceh khususnya.

Besok, tertanggal 10 Maret 2010, akan diadakan acara Diskusi Ekonomi Politik Partai Rakyat Aceh dengan gugatan tema, “Mampukah Pemerintah Menjawab Tantangan Di Tengah Meluasnya Kemiskinan?“.

Acara akan berlangsung dari pukul 09:00 pagi sampai selesai. Bertempat di Anjong Mon Mata, Banda Aceh.

Pembicara yang diundang untuk dibikin bicara meliputi:

  1. Irwandy Yusuf, the so-called Gubernur Aceh.
  2. Amir Helmi, the so-called Wakil Ketua DPRA.
  3. Nazamuddin, the so-called Pengamat Politik.

Maka, bagi kawan-kawan yang tertarik silakan berhadir esok pagi. Mungkin dengan ketertarikan untuk mendengar jawaban-jawaban yang mungkin akan sama atau mungkin akan berbeda dengan jawaban-jawaban eksekutif, legislatif dan pengamat di acara-acara serupa tapi tak sama sebelumnya. Atau mungkin tertarik sekedar ingin reuni dengan kawan-kawan yang lama tak bersua sejak berpencar-pencar ke penjuru Aceh. Atau bahkan mungkin tertarik untuk melihat semewah atau semurah apa sekelompok orang muda dari partai yang masih muda menggelar pertemuan dengan elite pemerintah, apakah akan seperti acara di hotel-hotel mewah seperti yang sering jadi headline media massa selama ini atau seperti obrolan warung kopi? Atau… mungkin cuma untuk menghitung berapa lagi yang tersisa dari partai yang masih muda ini, setelah dihantam Pemilu dengan suara tak signifikan, untuk berdiri di tengah dwi partai yang nyaris manunggal di parlemen-parlemen di Aceh, Partai Aceh dan Partai Demokrat. Atau… [silakan diisi sendiri].

Kawan, partai lokal yang didominasi kaum muda Aceh ini, dimana aku berkecimpung di kabupatenku selama ini, memang pada kenyataannya tak meraih suara signifikan dalam Pemilu di tahun lalu. Ada banyak hal yang harus dibenahi dan dipertanyakan ulang, ternasuk berapa rupiah idealisme orang muda harus dilelang demi kotak suara yang bisa dibeli dengan kain monja di lapak-lapak pakaian bekas. Ada konsolidasi ulang dan merapatkan kembali barisan yang sempat diam-bungkam sambil tertawa pahit melihat umat terpana pada pesona dan rasa merdeka semu, untuk mencoblos dan lalu menuntut mundur kembali pilihannya. Ada pertanyaan, cukupkah dengan sekedar kejujuran naif untuk membuat kontrak politik kali pertama dalam sejarah Pemilu di Republik ini, untuk mundur atau digugat di pengadilan jika ada rakyat tak puas pada calon-calon kami, bisa membuat partai lokal ini bertahan di bawah bayang-bayang globalisasi dan prediksi eksplorasi tanah ini kelak ke depan dengan ExxonMobil, Chevron dan Caltex menyeringai di balik senyum Obama?

Kawan, partai atau gerakan adalah organisasi belaka. Seperti pistol atau gitar, bukanlah bendanya yang penting, tapi eksistensi orang di baliknya. Individu-individu. Dan sampai detik ini, hari ini, partai lokal ini masih memiliki orang-orang muda yang sama seperti yang pernah bergerak di zaman konflik masih meriak. Masih ada generasi hari ini, dan masih akan ada regenerasi hari nanti untuk  berdiskusi dan bertanya pertanyaan-pertanyaan sama seperti hari ini. Masih ada semangat tersisa sampai kepala menunduk dibungkam waktu…

Movements come and movements go
Leaders speak, movements cease
When their heads are flown

[Rage Against The Machine, “Wake Up”, self-titled album, 1992]

We won’t stop ’cause we know the power of the question.

Iklan