(Hampir) Telat Tiga Bulan

Pulang dari luar kota, setelah berangkat paska intat linto kawan -dan sampai di rumah kembali selepas magrib, dalam keadaan nyaris tak tidur selama 24 jam- aku menyadari 3 hal:

  1. Insomnia sudah (kembali) menjadi nama tengah sejak awal-awal tahun ini.
  2. Komputer ternyata kubikin insomnia juga. Lupa “dipejamkan”, benda yang makan arus listrik dan bandwith tersebut ternyata ditinggalkan dalam keadaan melek sendirian di kamar.
  3. Ada yang terlambat. Sudah hampir masuk 3 bulan terlambatnya.

Untuk poin pertama, sepertinya memang belum ada obat manjur. Entah bakat entah tabiat, atau mungkin campuran dari keduanya, tapi sejak remaja, jika dihitung rata-rata jatah mata untuk “diparkirkan” di garasi mimpi, memang statistiknya tak enak dilihat, persis grafik penduduk dalam hasil survey: di bawah garis kemiskinan. Miskin istirahat. Bahkan di waktu malam yang seharusnya menjadi hak mata untuk terpejam. Kebiasaan tidur di toko sejak SMP, selain membawa kebiasaan keluyuran sampai di bangku kuliah, memang memiliki efek tersendiri pada ketahanan mata untuk segar dengan berhembus angin malam. Meski tanpa Broery Pesolima lagi.

Untuk poin kedua: Meninggalkan komputer dalam keadaan menyala, ternyata seperti dua sisi mata pedang, baik bagi PLN maupun bagi diri sendiri. Bagi PLN,  pelanggan sepertiku jelas masuk dalam kategori pelanggan yang tidak bijak, karena telah memubazirkan listrik, telah melecehkan anjuran pemerintah untuk berhemat listrik di daerah dimana umat pengguna PLN sering dipaksa berhemat dengan pemadaman mendadak berkali-kali, bertahun-tahun. Namun di sisi lain, pelanggan sepertiku tentu saja akan tetap mempertahankan monopoli PLN, jika masih melanjutkan kepatuhan buta untuk membayar rekening tepat waktu meski pelayanan yang diterima patut diberi ucapan terimakasih berbentuk “Fuck you!”.

Bagiku sendiri, kecerobohan itu bersisi dua pula. Selain merugikan karena menambah naik meteran listrik yang otomatis menaikkan tagihan rekening listrik – belum lagi jika diasumsikan ada korslet dan terjadi kebakaran – ada pula sisi untungnya. Sebab, dengan bandwith tak seberapamana dari modem yang tegar menancap, ternyata proses downloading yang sempat membuat pesimis telah sukses menghantarkan beberapa file ke hard disk dengan merdeka. Selamat. Sehat wal afiat tak kurang suatu apapun. Alhamdulillah.

Dan salah satu dari file itulah yang kumaksudkan di poin ke 3.

Jadi begini: Alkisah, di akhir tahun lalu ada rasa penasaran untuk menonton sebuah video berisikan pertunjukan live yang konon kontroversial di negeri Inggris sana. Pertunjukan itu tak lain  tak bukan adalah munculnya Rage Against The Machine, salah satu band favorit dari dekade 1990-an, dalam acara 5 Live Breakfast-nya radio BBC. Disebabkan koneksi internet di sini cukup sendu menunggu situs sejenis Youtube loading sampai jemu, alternatif saat itu tak lain adalah mengunduh video tersebut ke komputerku. Karena, jika pun koneksi terputus proses unduh-mengunduh bisa dilanjutkan jika perlu.

Maka, dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa serta dengan bantuan sebuah program dahsyat bernama Free Download Manager, kuhajarkanlah video-video tersebut ke komputerku. Tak kusangka, kenyataan begitu kejam mengkhianati hasrat hati. *lebbay* Video tersebut tak pernah sukses terunduh, bercokol dalam daftar Stopped dan akhirnya terlupakan. Koneksi internet broadband memang tak seindah senyuman cantik Nona-nona manis yang mengiklankannya.

Namun, kemarin itu, rupa-rupanya koneksi sedang cukup bagus, sehingga dengan agresifnya aku memblok semua yang ada di daftar Stopped dan Scheduled untuk dihajarkan sekalian dalam proses download yang aku sendiri ragu akan sukses ter-download-kan ataukah akan sama saja seperti biasa: Gagal.

Tetapi ternyata tidak demikian. Proses download berjalan lancar di saat komputer dengan cerobohnya kutinggalkan menyala lebih dari 24 jam. Semua yang kuaktifkan, termasuk video yang sudah terlambat nyaris 3 bulan itu, bisa kudapatkan. Postingan ini sendiri kutulis sehabis menontonnya dengan rasa puas.

Video live macam apa itu?

Video macam ini:

Setelah terakhir menonton konser mereka (melalui video juga, tentunya) pada tahun 2008, di saat yang sama dengan Konvensi Nasional Partai Republik di Amrik, melihat penampilan live mereka dalam studio demikian, cukup memuaskan juga rasanya. Band yang satu ini memang seperti api, bisa menyala-nyala saat bermain musik bahkan meski tanpa kerumunan penonton membakar semangat.

Lalu apa kontroversinya?

Jadi ceritanya, di bulan Desember tahun lalu, sepasang suami-istri, Jon and Tracy Morter, membuat sebuah grup di Facebook berisikan kampanye yang mengajak orang-orang untuk membeli lagu Killing in the Name-nya RATM dalam minggu menjelang Natal. Tujuan dari kampanye tersebut adalah untuk mencegah Joe McElderry, pemenang The X-Factor-nya UK (sebuah acara yang mirip Indonesian Idol kalau di Indonesia) merajai tangga lagu UK sebagai Christmas Number One penutup tahun.

Alasan dari kampanye ini – secara kasarnya –  adalah rasa muak setelah 4 tahun dijejali “lagu-lagu karaoke” dari musisi hasil ajang pencarian bakat rakitan Simon Cowell, sosok yang – mengutip ucapan de la Rocha di video live itu – meraih keuntungan finansial dari bakatnya mempermalukan orang lain (misalnya, kontestan American Idol) di depan publik. Terhitung sejak tahun 2005, daftar teratas Christmas Number One selalu dipegang oleh mereka yang menjadi jawara dari kompetisi The X-Factor tersebut, seperti Shayne Ward di tahun 2005, lalu diikuti oleh Leona Lewis, Leon Jackson dan Alexandra Burke.

Antuasisme mereka yang bergabung di grup Facebook  tersebut, seperti bisa dibaca di  portal Yahoo!, tambah dikompori dengan fakta bahwa lagu “The Climb” yang dibawakan oleh Joe McElderry adalah versi remake yang aslinya dibawakan oleh Miley Cyrus; dan memperkuat asumsi bahwa musisi seperti Joe (serta umumnya kontestan jawara television show tersebut) adalah musisi karaoke yang mengandalkan upaya Simon Cowell untuk mempopulerkan  artis-artis orbitannya merajai tangga lagu di negara itu. Dan hal tersebut dianggap sebagai monopoli korporasi dalam industri musik oleh sejumlah penikmat musik yang bergabung dalam kampanye anti-corporate tersebut.

Dengan sejumlah alasan itu, maka “Killing in the Name”-nya RATM ditawarkan sebagai alternatif dalam pertarungan meraih posisi nomor satu di tangga lagu Inggris. Tidak tanggung-tanggung, kampanye yang berawal dari sebuah grup di Facebook tersebut, menarik sejumlah musisi/band besar dunia untuk turut serta bergabung. Beberapa yang mendukung kampanye tersebut antara lain: Dave Grohl (mantan drummer-nya Nirvana dan frontman-nya Foo Fighters), Paul McCartney (mantan bassis-nya The Beatles), Liam Howlett beserta The Prodigy-nya, Muse, Stereophonics dan tentunya, RATM. Bahkan mantan jawara The X-Factor di tahun 2004, Steve Brookstein, ikut turut serta mendukung kampanye tersebut, ditambah dengan kontestan The X-Factor lainnya, duo John & Edward.

Dan kampanye tersebut sukses. Tentu dengan sejumlah kontroversi tersendiri, seperti perdebatan apakah kampanye tersebut ditujukan secara personal kepada Simon atau Joe, yang dijawab oleh pendukung kampanye tersebut dengan argumen (yang cukup cerdas menurutku) bahwa kampanye tersebut bukanlah sebuah serangan pribadi terhadap individu, namun sebentuk protes terhadap cara marketing yang mendominasi tangga lagu Inggris dengan mengandalkan popularitas sebuah television show belaka. Selain dari itu hasil keuntungan dari lagu Killing in the Name akan disumbangkan ke Shelter, sebuah badan amal bagi para tunawisma.

Perdebatan demikian, termasuk rumor bahwa RATM dan Simon Cowell berada di bawah payung korporasi media yang sama, Sony Records, sehingga kampanye tersebut hanyalah trik marketing Sony Records saja, bisa ditemui di sejumlah situs web (silakan di-googling sendiri).

Bagiku sendiri yang menarik bukanlah soal apakah “musisi karbitan” ajang pencarian bakat bisa diterima atau tidak, atau apakah mereka musisi asli atau bukan. Soal musik adalah soal selera, seperti masakan di lidah, jadi aku tak tertarik dengan argumen-argumen dari mereka yang merasa “penikmat musik asli” di komentar-komentar yang bertebaran, meski juga tak membenarkan cara Simon Cowell menggasakkan artis-artis dari acaranya dengan… yaaa… seperti anjuran di acara-acara serupa di Indonesia kita ini, “Ketik SIANU, kirimkan sms sebanyak-banyaknya”, sehingga bisa dimaklumi rasa muak dan geram dari mereka yang merasa “tangga lagu dijajah” oleh praktek monopoli demikian (alasan ini lebih masuk akal, dan menjadi alasan yang sama di balik dukungan RATM dan musisi/band lainnya).

Yang menarik adalah lagu yang dipilih itu sendiri. Killing in the Name, sebuah lagu lawas dari album debut Rage Against The Machine di tahun 1992. Lagu tersebut, dengan riff gitar yang khas, dengan kata “Fuck you” bertubi-tubi dan teriakan “Motherfucker!”, serta dengan tema tentang perlawanan terhadap rasisme (di dalam badan-badan keamanan Amerika Serikat); disebut-sebut sebagai signature song-nya RATM. Dirilis sebagai single pembuka dari album tersebut pada bulan November 1992.

November 1992… Sudah berapa tahun itu?

17 tahun! Aku bahkan masih mengenakan seragam putih-merah sebagai bocah SD saat itu!:mrgreen:

Dan akhir tahun lalu, setelah 17 tahun terlewati sejak dirilis, lagu tersebut muncul kembali. Menjadi jawara penutup akhir tahun setelah 17 tahun yang lalu  cuma meraih posisi nomor 25 di tangga lagu Inggris. Namun tentu bukan karena statistik tangga lagu, lalu aku jadi pengen mengunduh video di atas itu. Bukan pula mendadak suka RATM karena fenomena kampanye anti-corporate di Facebook tersebut.

Meski aku terlambat mengenal band ini (baru kenal saat mendengar “Bulls On Parade” di album Evil Empire pada tahun 1996), namun koleksi album mereka cukup lengkap, terutama sejak mendengar (kembali) lagu “Wake Up” muncul dalam album soundtrack The Matrix di tahun 1999, setelah kali pertama melihatnya via parabola yang saat itu cukup langka. Dan lagu Killing in the Name ini sendiri dari dulu merupakan salah satu lagu favorit dari (album terfavorit) mereka. Lagu yang memang genjrengan gitarnya khas, tidak seperti Wake Up yang permainan riff di kunci D (riff yang ditemukan oleh Black Sabbath) mengingatkan pada Kashmir-nya Led Zeppelin, meski cuma sekilas dan tidak menghilangkan khasnya permainan gitar Tom Morello:mrgreen:

Soal video itu sendiri, selain rasa kangen untuk melihat band yang bubar di tahun 2000 itu menampilkan permainan musik di luar studio rekaman, ada rasa penasaran untuk melihat kontroversi lain yang menyertai deretan kontroversi di balik lagu Killing in the Name tersebut.

Deretan kontroversi seperti apa?

Don trai diz hier. Peri denjeres. Yu ken diganyang bai towsen of patriot dadakan😛

Pada tahun 1999, dalam festival musik Woodstock, band ini melakukan aksi membalik dan membakar bendera Amerika Serikat saat menampilkan lagu Killing in the Name. Aksi kontroversial ini aku masih ingat benar, ditampilkan di layar MTV yang saat itu menjadi kiblat wajib Anak Nongkrong MTV. *lirik cermin*

Pada tahun 2000, lagu ini kembali muncul dalam konser terbuka mereka, mengiringi Konvensi Nasional Partai Demokrat, di Los Angeles. Seperti terlihat dalam video di atas, konser yang bertujuan memprotes sistem dua partai itu, berujung pada bentrokan antara massa dan pihak keamanan. Belasan cedera dan setidaknya enam orang ditangkap. Pihak keamanan, melalui stasiun televisi, menuding massa dalam konser tersebut, terbawa lagu-lagu RATM, telah terpancing anarkisme untuk melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan.  Termasuk pidato pembuka de la Rocha yang dianggap membakar massa seperti, “Brothers and sisters, our democracy has been hijacked,” serta diakhiri teriakan, “We have a right to oppose these motherfuckers!”. Sebuah tudingan yang direspon de la Rocha dengan statemen,

“I don’t care what fucking television stations said, (that) the violence was caused by the people at the concert; those motherfuckers unloaded on this crowd. And I think it’s ridiculous considering, you know, none of us had rubber bullets, none of us had M16s, none of us had billy clubs, none of us had face shields.”

Tahun-tahun berlalu sejak Zack de la Rocha keluar dan RATM bubar di tahun 2000. Bertahun-tahun sejak era walkman sebesar batu bata berganti menjadi MP3 Player yang lebih gaya, aku cuma menikmati mereka sebagai band yang sudah bubar. Cuma bisa menikmati musik-musik mereka dari empat album utama dan beberapa track yang dirilis terpisah-pisah (seperti Darkness dalam soundtrack film The Crow dan No Shelter yang pernah mengisi soundtrack film Godzilla). Hingga kemudian, Audioslave (band kolaborasi 3 mantan personil RATM dengan Chris Cornell, mantan vokalis Soundgarden) bubar dan keempat personil RATM kembali menggelar pertunjukan pada bulan April 2007. Disusul sejumlah reunion tour tahun 2007-2008.

Di tahun 2008 pula, lagu Killing in the Name kembali muncul dalam Konvensi Nasional Partai Republik, mengiringi protes pada aparat keamanan yang menghalangi band ini untuk tampil di hari pertama konvensi Partai Republik. Itu sebabnya lagu Killing in the Name (beriringan dengan lagu Bulls On Parade) dibawakan secara acapella bersama kerumunan massa yang sudah menunggu penampilan mereka. Tom Morello memberikan statemen pedas yang menunjukkan standar ganda AS terhadap kebebasan berekspresi dalam wawancara dengan SuicideGirls begini,

“Imagine if in Beijing during the Olympics a Chinese band whose songs were critical of the government was told they’d be arrested if they attempted to sing those songs in a public forum — there would have been an international human rights outcry. But that’s exactly what happened in Minnesota. But this is a band that has made a living singing a song that goes “fuck you, I won’t do what you tell me,” so we weren’t about to go back to the hotel with our tails between our legs. So we out-flanked the police line and went into the middle of the crowd, and played a couple of songs passing a bull horn back and forth, and it seemed to go over pretty well.”

Dan… dalam video paling atas dari postingan ini, dalam penampilan di salah satu program acara-nya BBC, mereka kembali menuai kontroversi. Pihak radio BBC meminta agar mereka menyensor lirik lagu mereka sendiri, Killing in the Name, dalam penampilan live tersebut. Sebuah permintaan yang dianggap (dan aku juga menganggap) naif sekali, mengingat tema utama, spirit dari lagu tersebut justru berada pada barisan lirik terakhir yang dianggap tidak senonoh tersebut. Yaitu bait yang berulang-ulang menyumpahi, “Fuck you, I won’t do what you tell me!”

Apa yang menarik adalah ucapan dari personil RATM bahwa mereka “menghargai” permintaan tersebut. Pihak BBC pun menerimanya sebagai sebuah persetujuan. Dalam penampilannya, band tersebut – Zack de la Rocha tentunya – memang melakukan self-censor dengan melakukan skip pada lirik “vulgar” yang dimaksud. Namun,  itu cuma delapan baris saja. Di saat musik kembali menanjak naik, serta-merta de la Rocha mengeluarkan ucapan “Fuck you, I won’t do what you tell me!” sebanyak 5 kali, bahkan disertai dengan mengacungkan jari tengah ke arah kamera, yang membuat BBC terpaksa meminta maaf kepada para pendengar yang budiman.

Ini membuat aku pribadi, selaku fans RATM selama bertahun-tahun jadi tertarik dan akhirnya bisa tertawa puas. Sebuah radio sekaliber BBC berharap sebuah band yang selama bertahun-tahun menyanyikan lagu-lagu mereka dengan bebas, dengan kritikan dan hujatan terhadap sensor-sensor yang dilakukan oleh rezim-rezim pemerintahan di negara mereka dan di berbagai belahan dunia, akan sudi melakukan sensor terhadap lirik mereka sendiri?! Tidakkah semangat untuk “Fuck you, I won’t buy what you sell me!” yang dikampanyekan oleh grup Facebook yang mereka dukung, akan menjadi hipokrit jika mereka sendiri mematuhi permintaan pihak radio BBC?! 😆

Ah, apapun… melihat band yang pernah mengisi masa remaja ini masih begitu enerjik dan bersemangat menyanyikan lagu mereka, masih tetap menolak segala sensor-sensoran ala media, masih begitu hidup penampilan mereka bahkan tanpa kerumunan massa seperti di konser-konser besar; itu saja sudah menyenangkan bagiku.

Meski pun sampai saat ini mereka tak pernah mengumumkan bahwa mereka akan kembali eksis sebagai sebuah band atau akan mengeluarkan album baru, namun … ya, aku senang melihat band ini kembali. Lagu-lagu mereka sudah menjajal liang telinga bertahun-tahun, menjadi penyumpal kuping dari suara-suara sumbang, dari teriakan, makian dan gertakan di balik seragam stabilitas keamanan di masa masih menjadi mahasiswa dahulu.

Liriknya padahal sederhana saja, menurutku:

Killing in the name of!
Some of those that work forces, are the same that burn crosses (4x)

Killing in the name of! (2x)

And now you do what they told ya (12x)
Well now you do what they told ya

Those who died are justified, for wearing the badge, they’re the chosen whites
You justify those that died by wearing the badge, they’re the chosen whites
Those who died are justified, for wearing the badge, they’re the chosen whites
You justify those that died by wearing the badge, they’re the chosen whites

Some of those that work forces, are the same that burn crosses (4x)

Killing in the name of! (2x)

And now you do what they told ya (4x)
And now you do what they told ya, now you’re under control (7x)
And now you do what they told ya!

Those who died are justified, for wearing the badge, they’re the chosen whites
You justify those that died by wearing the badge, they’re the chosen whites
Those who died are justified, for wearing the badge, they’re the chosen whites
You justify those that died by wearing the badge, they’re the chosen whites
Come on!

Yeah! Come on!

Fuck you, I won’t do what you tell me (8x)
Fuck you, I won’t do what you tell me! (8x)
Motherfucker!

Namun, memang musisi yang ditempa oleh zaman, seperti band ini, memiliki bakat tersendiri untuk menghidupkan semangat dari apa yang mereka karyakan, mainkan, dan nyanyikan. Lagu dengan lirik yang berulang-ulang itu, memiliki warna yang berbeda dengan betotan bassnya Tim Commerford, gebukan drumnya Brad Wilk, cabikan gitar Tom Morello dan repetan Zack de la Rocha.

Ah, terakhir… menutup postingan panjang ini, ada sebuah video parodi kocak dari film Downfall (atau aslinya Der Untergang) yang dibuat sebagai dukungan kemenangan lagu Killing in the Name dalam kampanye grup Facebook tersebut. Ternyata bukan cuma orang Indonesia saja yang suka bermain permak subtitle dengan repetan Hitler terhadap peluncuran Album Ketiga SBY, Kawan😆

Silakan dinikmati, meski agak basi dan membosankan😀

NB:

  1. Sepertinya ini akan menjadi minggu yang sedikit sibuk dan membosankan. Mohon maaf jika ada komentar Kawan-kawan tak terbalaskan.
  2. Sorry untuk postingan ala seorang fanboy yang isinya (selalu) panjang lebar begini.
  3. Aku suka bagian ketika Hitler berkata (dengan terjemahan keliru tentunya), “How the fuck did Rage Against the Machine beat us? Those guys haven’t even been on a fucking reality TV show!” … dan … “I watch X-Factor do you think I’m actually able to make my own mind about music?” *Ngakak, terbayang Indonesian Idol dan sejenisnya*
  4. *bersiap menggudangkandiri.com, nosleep.net, gonnabebusy.info*

2 thoughts on “(Hampir) Telat Tiga Bulan

  1. RATM juga mengajari Bro Alex bagaimana cara bersabar , 3 bulan sepertinya sudah cukup😛, dan bahwa butuh perjuangan dan do’a juga untuk mendapatkan apa yang diharapkan:mrgreen:

    mengenai kontroversi, adakalanya media juga sangat berperan, meski kadang substansi dari hal yang dikontroversikan sangat “tidak ada”. 😎

    satu-satunya album RATM yang saya punya : Evil Empire.

    *Audisi Indonesia Idol sepertinya sedang dibuka, berkenan daftar ?😆 *

  2. Iya, diajari bersabar sampai lupa sendiri😆

    mengenai kontroversi, adakalanya media juga sangat berperan, meski kadang substansi dari hal yang dikontroversikan sangat “tidak ada”.😎

    Ah, benar itu😆

    Termasuk bahkan gerakan di Facebok itu sendiri. Kalau media ya mencari oplah, meningkatkan omzet produksi:mrgreen:

    Album Evil Empire? Aku entah kenapa kurang suka yang satu itu. Cuma suka Bulls On Parade, Down Rodeo, People of the Sun sama Year of the Boomerang di daftarnya. Beda dengan album self-titled dan The Battle of L.A. Hampir semua aku suka.
    Tapi masih mending lah, daripada remake di album Renegade. Hampir tak ada yang kusuka dari album terakhir itu. Yaaa.. Renegades of Funk lumayanlah😀

    *Audisi Indonesia Idol sepertinya sedang dibuka, berkenan daftar ?😆 *

    *nggak bisa ngerap atau main gitar sendiri. malas. kena juri yang musiknya tak pernah kusuka. ya makin malas*😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s