Sebuah Buku Kiriman, Setalam Terimakasih + Secangkir Hujatan

Jadi beginilah ceritanya:

Seseorang dari Banda Aceh sana, seorang penulis muda propinsi ini, seminggu yang lalu mengirimkan sebuah buku. Buku tersebut (jika aku tidak salah ingat) adalah buah karya temannya sesama penulis, diluncurkan di akhir bulan Februari kemarin.

Setelah sempat tertahan lama, berhubung dititipkan pada adik di Banda Aceh, akhirnya buku itu kemarin sampai juga di sini dalam keadaan segar berbungkus plastik. Tidak seperti wajah kawan yang menyerahkannya di loket terminal.

Inilah buku kiriman tersebut:

The Gate of Heaven karya R.h. Fitriadi

Gerbang Surga, jika dipasarkan di Inggris?

Tentu sebagai orang yang dihadiahi buku, bertalam-talam ucapan “Terimakasih” layak dihaturkan, baik kepada Kawan yang mengirimkannya atau Kawannya Kawan yang sudah bersusah-payah menuliskan buku tersebut. Namun, sesuai dengan permintaan si pengirim dan peri-keadilan, selain ucapan terimakasih dan pujian, tentu ada ucapan penyesalan dan hujatan. Dengan kata lain, Si Pengirim meminta kritikan dengan jujur dan apa adanya. Apakah kritikan itu akan disampaikan kepada Si Penulis, aku tak tahu.

Namun berhubung buku ini sendiri belum usai kubaca, maka kritikan (atau enaknya disebut hujatan) belum bisa dilontarkan dengan puas dan bebas. Baru kemarin buku ini sampai di tangan, dan aku sendiri bahkan baru hari ini membuka sampul plastiknya, setelah membuka sinopsis berbunyi begini:

Jalur Gaza siaga satu, bergejolak! Israel kembali datang setelah agresi 27 Desember 2008. Operasi Cast Lead II siap digelar, mene­bus kegagalan meluluh-lantakkan tanah yang diperintah oleh pejuang  Hamas.
Tak mau menanggung malu lagi, ratusan unit pesawat tempur dan tank canggih menyertai 112.000 personil pasukan darat Israel. Keyakinan Israel membuncah, beriring aktivitas mata-mata, Shin Bet, di Gaza dan restu para pemimpin negara maju.
Ladang pembantaian rakyat tak berdosa siap hadir di depan mata. Ribu­an penduduk Gaza terus menghitung jam sebelum mesiu Israel meng­amuk tanpa kenal ampun. Amuk serbuan yang mempercepat antrean panjang pengungsi, perpisahan keluarga tercinta, egoisme penguasa Mesir akibat tekanan Israel, perjuangan gigih relawan Indonesia di jalur perbatasan, hingga derita batin keluarga Palestina mata-mata Israel(?!).
Namun, nun di lorong dan terowongan tersembunyi, para pejuang Palestina berhimpun. Sekelompok ilmuwan di sebuah tempat di Asia Teng­gara turut berjibaku di balik layar komputer. Menyatukan kekuatan, mengatur taktik bertempur yang siap mengejutkan lawan. Sebuah pertempuran tak berimbang dalam persenjataan tak menyiutkan nyali.

Demikian sinopsis di halaman belakangnya [dengan rasa bingung pada makna kalimat yang kugaris-bawahi itu😕 ].

Dan sekarang, secangkir hujatan akan kuberikan.

Kawan, meski kita membenarkan sebuah ucapan mayshur, “Jangan menilai buku dari sampulnya”, aku harus katakan bahwa adalah fitrah manusia untuk menilai apapun dari citra yang tampil atau ditampilkan. Saat kita berjumpa dengan seseorang, penampilannya mau tidak mau akan membuat kita menilainya. Meski pun sedikit saja, meski pun kita tahu penilaian tersebut adalah konklusi yang terlalu cepat. Meski pun itu kita sadari salah.

Tapi beginilah jadinya:

Hujatan pertama yang melintas dalam benakku adalah huruf-huruf besar menawan di sampul depan: The Gate of Heaven.

Bukan soal judulnya, tapi bahasanya itu: Bahasa Inggris.

Apa masalahnya?

Buku yang dikirimkan itu berbahasa Indonesia, ditulis oleh seorang penulis berbahasa Indonesia, ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan sinopsis ringkas di sampul belakang berbahasa Indonesia, dengan sebuah kuotasi dalam bahasa Indonesia dari seseorang bernama Abu Bakar Al-‘Awawidah yang disebut Penasihat Rabitah Ulama Palestina di Suriah, di bagian bawah sampul depan buku tersebut dengan bunyi begini,

“Karya-karya sastra seperti The Gate of Heaven biasanya lahir dari hati dan jemari jernih orang yang mencintai perjuangan dan persaudaraan yang menerobos batas-batas ras dan negara.”

Singkatnya, buku tersebut adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Indonesia… lalu kenapa harus menuliskan The Gate of Heaven dan bukannya Gerbang Surga? Kenapa harus ditambahi dengan “A Novel by R.h. Fitriadi” sementara kau bisa menuliskan Karya: R.h. Fitriadi, misalnya?

Asal British?

Aku berharap Penulis dan Pengirim memahami ini. Tidak ada masalah dengan bahasa Inggris, selama kau menuliskan karya tersebut dalam bahasa Inggris, dengan kata pengantar bahasa Inggris, sinopsis berbahasa Inggris dan bahkan sebuah tulisan kecil di pojok yang berbunyi “50% keuntungan penjualan buku ini untuk dana kemanusiaan Rakyat Palestina”, pun mesti ditulis dalam bahasa Inggris.

Penulis-penulis berbahasa Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia, apa yang kalian cari dengan membuat judul-judul berbahasa Inggris dalam karya kalian, sementara kalian menuliskannya dalam bahasa Indonesia dan memasarkannya pada pembaca berbahasa Indonesia?

Karena keren? Biar tampak Go International? Biar tampak gaul dan modern macam banyak buku-buku novel sampah seperti segala chicklit, teenlit dan sejenisnya itu? Membuat judul buku berbahasa Inggris tidak akan membuatmu dan tulisanmu otomatis sekelas Charles Dickens, Lewis Carrol atau T.S Elliot. Tidak juga otomatis naik gengsi untuk sepadan dengan J.K. Rowling atau Jane Austen.

Jika mereka membuat tulisan mereka berjudul bahasa Inggris adalah karena mereka berbahasa Inggris dan memasarkannya ke level internasional. Ironisnya, banyak dari karya penulis-penulis asing saat masuk ke Indonesia judulnya juga berganti menjadi bahasa Indonesia.

Pernah mendengar serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton? Itu salah satu novel saat SD yang aku suka, dengan judul aslinya malah menyimpang jauh: The Famous Five.

Atau… bagaimana dengan cerita “Perjalanan Ke Pusat Bumi” dan “80 Hari Keliling Dunia” yang klasik itu? Keduanya adalah karya Jules Verne dengan judul asli A Journey to the Center of the Earth dan Around the World in Eighty Days.

Kawan, bahkan satu sosok kartun lebih dikenal di Indonesia dengan nama Donal Bebek, bukannya Donald Duck.

Lalu apa guna membuat judul-judul novel dan buku-buku dalam bahasa Inggris sementara kita bercerita dalam bahasa Indonesia. Mungkin jika untuk satu-dua artikel, tak akan menjadi masalah. Tapi… ini tentang segepok kertas berbentuk buku, sebuah karya sastra Indonesia, berbahasa Indonesia, dari orang Indonesia dan dibaca oleh orang Indonesia.

Tapi itu kan cuma judul?

Judul adalah seperti nama. Kau bisa menebak sebuah nama berasal darimana. Alex adalah nama yang kebarat-baratan, tapi jika ditambahkan Hidayat maka kemungkinan besar orang memahaminya sebagai nama orang Indonesia atau Asia. Memaksa dirimu “berjudul” asing sementara kau tidak “berbicara” dalam bahasa asing, cuma akan memberikan isyarat bahwa kau sedang krisis identitas.

Ah, kampret! Sudah dikirimi buku kok malah menghujat?!

Aku memenuhi permintaan si pengirim. Dan ini hujatan pertama. Jangan khawatir, akan ada hujatan-hujatan berikutnya jika buku itu selesai kubaca. Apalagi jika benar su’ujonku bahwa ini mungkin akan sama seperti banyak karya-karya yang disebut karya sastra Islami, ber-ghirah bukan main soal Palestina dan segala pertempuran di sana.

Seperti aku mendukung dan terlibat dalam komunitas internet lintas batas untuk Chiapas, aku juga melakukan hal yang sama untuk Palestina. Ya, aku pendukung Palestina. Pernah aktif menyebar pamflet dan mengutip nomor rekening dari internet untuk ditempelengkan ke dosanak-dosanak di sini agar sudi menyumbang ke sana. Dari dulu…

Tak beda jauh dengan dukungan begini:

Who from below and to the left can remain silent?

Is it useful to say something? Do our cries stop even one bomb? Does our word save the life of even one Palestinian?

We think that yes, it is useful. Maybe we don’t stop a bomb and our word won’t turn into an armored shield so that that 5.56 mm or 9 mm caliber bullet with the letters “IMI” or “Israeli Military Industry” etched into the base of the cartridge won’t hit the chest of a girl or boy, but perhaps our word can manage to join forces with others in Mexico and the world and perhaps first it’s heard as a murmur, then out loud, and then a scream that they hear in Gaza.

[Dikutip dari satu pidato dukungan dari Chiapas]

Tapi meski demikian, tidak lantas dukungan itu lalu menjadi sebuah trend “membosankan”, dengan terlalu bergairah-berkobar bicara soal Palestina, tapi melupakan identitas sendiri di sini, melupakan kisah-kisah lain di tanah kelahiran sendiri, atau di daerah dimana KTP menjadi penanda kita sebagai warga negara. Termasuk dalam menulis dan membaca karya-karya tentang penindasan, pemiskinan global, dan gombalisasi dari globalisasi yang kian gombal. (Hey, Obama! Sudah bersiap-siap untuk mencicipi durian sesaji polling Facebook dari generasi mental kuli negara bagian ke-51 USA ini saat menyambut kedatanganmu nanti?).

Bisanya cuma menghujat, memuji tidak!

Jika kau kena malaria dan ingin sembuh, besar kemungkinan kau akan diberikan pil kina atau perasan daun pepaya. Rasanya memang pahit. Dan kebanyakan obat memang pahit. Obat yang manis setahuku cuma sirup untuk demam kanak-kanak.

Tidak ada pujian sama sekali? Tidak ada kesan yang menggoda?

Ada. Aku suka desain sampulnya serta kesediaan untuk memberikan 50% dari hasil penjualan untuk disalurkan. Membantu seperti itu bagus, selama bukan menjadi jalan pintas untuk mendapat publikasi, dengan dukungan dari komunitas yang konsekuen pada garapan karya sastra Islami, lalu nanti mengkhianati apa dan siapa yang membesarkannya hari ini. Sungguh, aku kenal 1-2 orang cecunguk yang menyebut diri mereka penulis propinsi ini, yang dulu dibesarkan oleh genre Sastra Islami, mendapat publikasi, lalu paska bergaul dengan bule-bule impor menjadi hedonis, mendadak pintar bicara soal kebebasan berpikir, pakai anting-anting (ya, dia pria!), merangkul-peluk non-muhrim, mendukung hak memasukkan penis ke vagina tanpa ikatan perkawinan, dan bicara soal terpujinya peradaban Eropa, mencengiri gerakan pembebasan Gaza dan segala pergerakan agama. Ironisnya, mengelukan Teologi Pembebasan yang tiba-tiba fasih diucapkannya, dan meremehkan teologi pembebasan senada dalam agamanya sendiri. Oh, Hiduplah sastrawan tercerahkan pembebas negeri yang bersajak riang dengan sesaji Pizza HUT dan KFC!!

Memang, oportunisme memang seperti kurap, bisa menyapa siapa saja. Plin-plan dan inkonsistensi adalah manusiawi, tapi menarik keuntungan komersial dan popularitas dari perangai begitu, membuat oknumnya susah kubedakan dengan kera yang baru kemarin sore berevolusi. Dan kau, Kawan yang mengirimkan buku ini boleh menyampaikan kesinisan ini pada Kawanmu yang menuliskan buku itu. Sebagai pengingat setidaknya. Sosok seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, atau Cut Intan dari FLP Nanggroe Aceh Darussalam; perempuan-perempuan penulis muslimah itu yang lebih duluan kukenal, para penulis yang sama seperti Kau dan Kawanmu, jauh lebih kuhormati – meski jalur kita tak sama – dibanding para penulis karbitan yang dibesarkan karena arus sastra Islami di tahun-tahun lalu, kemudian menjadi besar kepala dan memuja demokrasi semu dibalik iming-iming travelling ke Amerika Serikat: “The land of the free” yang dirampok dari suku-suku Indian.

Semoga pre-asumsiku salah. Semoga buku ini bagus dan memang bisa menginspirasi, seperti ucapan di bagian-bagian penghabisan sebuah orasi ini:

But that’s not all. The Palestinian people will also resist and survive and continue struggling and will continue to have sympathy from below for their cause.

And perhaps a boy or girl from Gaza will survive, too. Perhaps they’ll grow, and with them, their nerve, indignation, and rage. Perhaps they’ll become soldiers or militiamen for one of the groups that struggle in Palestine. Perhaps they’ll find themselves in combat with Israel. Perhaps they’ll do it firing a gun. Perhaps sacrificing themselves with a belt of dynamite around their waists.

And then, from up there above, they will write about the Palestinians’ violent nature and they’ll make declarations condemning that violence and they’ll get back to discussing if it’s Zionism or anti-Semitism.

And no one will ask who planted that which is being harvested.

Apapun, terimakasih kepada Kawan yang mengirimkan buku ini dan terimakasih pada Kawan yang menuliskan buku itu. Teruslah menulis selagi diberi waktu, selagi ajal belum membunuhmu.

Wassalam.

[Ditulis dari semalam, diselesaikan paska sore menutup pintu gudang perniagaan.]

11 thoughts on “Sebuah Buku Kiriman, Setalam Terimakasih + Secangkir Hujatan

  1. Sungguh, aku kenal 1-2 orang cecunguk yang menyebut diri mereka penulis propinsi ini, yang dulu dibesarkan oleh genre Sastra Islami, mendapat publikasi, lalu paska bergaul dengan bule-bule impor menjadi hedonis, mendadak pintar bicara soal kebebasan berpikir, pakai anting-anting (ya, dia pria!), merangkul-peluk non-muhrim, mendukung hak memasukkan penis ke vagina tanpa ikatan perkawinan, dan bicara soal terpujinya peradaban Eropa, mencengiri gerakan pembebasan Gaza dan segala pergerakan agama. Ironisnya, mengelukan Teologi Pembebasan yang tiba-tiba fasih diucapkannya, dan meremehkan teologi pembebasan senada dalam agamanya sendiri. Oh, Hiduplah sastrawan tercerahkan pembebas negeri yang bersajak riang dengan sesaji Pizza HUT dan KFC!!

    Apakah itu sama dengan pendemo bercadar dan berbaju koko yang mengusung poster besar bertuliskan:

    “BOIKOT PRODUK AMERIKA!”

    “Bebaskan Palestina dari penindasan Zionis!!”

    Dimana mereka mrancang fontnya di MS Word, dan mencetaknya dengan Printer merk HP, sambil ditemani softdrink pepsi blue?

  2. @ Fortynine

    Apakah itu sama dengan pendemo bercadar dan berbaju koko yang mengusung poster besar bertuliskan:

    “BOIKOT PRODUK AMERIKA!”

    “Bebaskan Palestina dari penindasan Zionis!!”

    Dimana mereka mrancang fontnya di MS Word, dan mencetaknya dengan Printer merk HP, sambil ditemani softdrink pepsi blue?

    Mungkin. Kemungkinan besar malah😆

    Tetapi kalau itu aku masih bisa toleran. Ini era globaldiancukisasi, tak ada satu pun produk yang tak lolos ke muncung kita dari suapan kapitalisme gombal. Aku mengetik ini pakai Windows XP dan modem USB 3 dari Hutchison 3, karena ini yang ada saat ini. Ditemani sebungkus rokok A Mild dari PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk yang kepemilikannya sudah dicaplok oleh Phillip Morris. Marx keliru: Konsumerisme ternyata lebih candu daripada agama😆

    Pada dasarnya itu tidak menjadi masalah, ketika memang digunakan untuk menghantam kembali orang/institusi yang merajai konsumsi dengan cara apa yang disebut “globalisasi” itu. Macam Manifesto Cyphernomicon : “…when you want to smash the State, everything looks like a hammer.”

    Kau bisa bayangkan Slank konser dengan lagu seperti “Andai Aku Jadi Presiden” atau “Kampus Depok” tanpa Ibanez, Yamaha atau Korg? Sulit. Karena itu alat-alat musik memang sudah mendominasi, merek-merek umum yang dikenal. Sama seperti buku-buku yang menentang kapitalisme global namun beredar di rak-rak via percetakan besar dunia. Mengutip ucapan Tom Morello:


    When you live in a capitalistic society, the currency of the dissemination of information goes through capitalistic channels. Would Noam Chomsky object to his works being sold at Barnes & Noble? No, because that’s where people buy their books.”

    Nah, yang menjadi masalah adalah, orang-orang yang mengkhianati orang-orang yang membesarkannya. Pengkhianat tidak menyenangkan, Rid, bahkan jika itu dari kelompok yang berseberangan denganmu. Bahkan Perwira Kompeni Belanda bisa angkat topi pada kesetiaan Cut Nyak Dhien dengan pasukannya saat ditangkap. Pengkhianat, dari pihak manapun, tak lebih baik dari anjing. Senajis-najis anjing, binatang itu bisa lebih setia pada manusia.

    OOT: Yang menikah di Borneo siapa? Kau?:mrgreen:

    @ TA2

    miris melihat bangsa bangsa arab

    Miris, Boy. Miris sekali…
    Semiris aku melihat suku bangsa Aceh berjubel-jubel di zaman konflik untuk membela nyawa di Palestina tapi diam soal apa yang terjadi di sini. Memprotes pemerkosaan muslimah di luar negeri tapi diam untuk menuntut rehabilitasi muslimah-muslimah korban perkosaan konflik di kampung halaman sendiri.

    KKR mati kan? Siapa yang sekarang menuntut janji-janji pengadilan non-koneksitas itu? No. Kenak isu terorisme lagi… haha… hebat! Lagu lama, liriknya saja berubah.😆

  3. Ping-balik: Kiriman Kedua Minggu Ini « Lapak Aksara

  4. Siapa ya? Ga tau tuch, soalnya ga ada undangan yang terkirim ke rumah…

    Benar juga, namun kalau tidak salah ada yang pernah menyampaikan pada saya (lupa apakah saya pernah mendengarnya ataukah membacanya) satu petuah bijak yang kira kira isinya begini: “Makan saja itu KFC, habis itu kau kenyang, maka kau bisa belajar tekun, lantas jadi pintar, sehingga kelak bisa menyaingi itu kapitalis…..”

    Nah, yang menjadi masalah adalah, orang-orang yang mengkhianati orang-orang yang membesarkannya. Pengkhianat tidak menyenangkan, Rid, bahkan jika itu dari kelompok yang berseberangan denganmu. Bahkan Perwira Kompeni Belanda bisa angkat topi pada kesetiaan Cut Nyak Dhien dengan pasukannya saat ditangkap. Pengkhianat, dari pihak manapun, tak lebih baik dari anjing. Senajis-najis anjing, binatang itu bisa lebih setia pada manusia.

    Ya, penghianat memang menyebalkan, seperti halnya orang orang “Indonesia” yang sudah menghianati Pulau pulau yang sudah memberi makan mereka.

    Seperti orang orang atau segelintir orang “Indonesia” yang sudah mendiskriminasikan Kalimantan, Pulau yang kekayaan alamnya dikeruk buat menerangi “Indonesia”….

  5. Oi, Bapak Anarki…
    Cuma segini???
    Mana hujatan lainnya??? masak cuma merepet soal sampulnya?

  6. @ 49

    Siapa ya? Ga tau tuch, soalnya ga ada undangan yang terkirim ke rumah…

    Aku dengar kabar berhembus dari Ambon, transit di Cirebon dan sampai ke sini juga. Facebook sudah kututup, maka tak ada tag sama sekali😀

    Benar juga, namun kalau tidak salah ada yang pernah menyampaikan pada saya (lupa apakah saya pernah mendengarnya ataukah membacanya) satu petuah bijak yang kira kira isinya begini: “Makan saja itu KFC, habis itu kau kenyang, maka kau bisa belajar tekun, lantas jadi pintar, sehingga kelak bisa menyaingi itu kapitalis…..”

    Cerdas😆
    Kalau perut sudah berisi, lebih nyaman otak bekerja. Memang selalu demikian. Tapi tipe yang kutulis ini agak parah sedikit, sudah melejit dia punya nama sudah jijik mukanya untuk ditawari tampil di emperan jajanan murahan. Tak ada gengsinya, konon demikian. Padahal apa bedanya. Sampai di perut, puas. Keluar juga jadi ampas.😆

    Ya, penghianat memang menyebalkan, seperti halnya orang orang “Indonesia” yang sudah menghianati Pulau pulau yang sudah memberi makan mereka.

    Seperti orang orang atau segelintir orang “Indonesia” yang sudah mendiskriminasikan Kalimantan, Pulau yang kekayaan alamnya dikeruk buat menerangi “Indonesia”

    *ngakak*
    Memang tak salah ada yang komplen: “Kau sama saja macam Farid!” karena pemikiran serupa😆

    Memang tak adil, Rid. Sangat tidak adil. Banyak tidak adil. Kadang-kadang aku bertanya sendiri *macamoranggilasaja* Indonesia ini letaknya dimana. Aku balas komen ini dengan lilin hidup di kamarku, mengandalkan sisa-sisa baterai di laptop. Parah sekali. Padahal menteri BUMN-nya itu orang Aceh juga. Memang sistemnya ini perlu dipermak. Apa untuk minta maaf pemadaman keparat begini pun mesti nunggu Jakarta merasakan derita bertahun-tahun begini rupa? Cuihh! Bak bergantilah jadi federasi beberapa tahun ini, amin yaa Tuhan, amiin!

    @ Riza

    Oi, Bapak Anarki…

    Tuan, Ummul Muslimah…

    Ba..bapak Anarki? Bapak Anarki itu banyak. Ada William Godwin, Mikhail Bakunin, dan Alexander Berkman. Jelas bukan Alex Hidayat. Ah, Nona ini… ada-ada saja 😆

    Cuma segini???
    Mana hujatan lainnya??? masak cuma merepet soal sampulnya?

    Hujatan lainnya akan kutuntaskan saat buku itu sudah tuntas. Kalau tidak lupa, tapinya. Soalnya ada banyak hal yang sedang ingin dilupakan. Jadi sedang tak ada usaha melawan lupa… ahemm… ahem… *cengar-cengir*😛

  7. ” Soalnya ada banyak hal yang sedang ingin dilupakan. Jadi sedang tak ada usaha melawan lupa…”

    NGGAK LUCU! kok Riza malah dibumerangi?? Nggak adil. Nggak kreatif. benar-benar payah!

  8. NGGAK LUCU!

    BIARIN!

    kok Riza malah dibumerangi??

    Dibumerangi bukan kata yang jamak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia😕

    Nggak adil.

    Keadilan memang sering cuma utopia😛

    Nggak kreatif.

    Kreatifitas sering cuma perulangan saja. Cuma butuh sedikit variasi.😎

    benar-benar payah!

    Memang sedang payah ini😛

  9. 😆

    Semoga tidak demikian jadinya, Bang. Kalau sampai demikian, penulis dan penerbitnya akan mendapatkan bumerang satu hari kelak😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s