Kiriman Kedua Minggu Ini

Setelah kemarin dikirimi buku oleh seorang gadis penulis dari Banda Aceh sana, hari ini sebuah kiriman lagi singgah di meja toko.

Kali ini yang mengirimkannya adalah seorang bapak-bapak beranak 3 beristri 2 muda yang sudah beberapa tahun ini berdiam di Aceh. Seorang pria muda bersuku bangsa Jawa yang -entah gila entah sinting- sudi mendekam di Aceh untuk menyalurkan kegilaan cintanya pada pengembangan Linux, pada sekte sesat bernama Open Source.

Ini skrinsut kirimannya:

Skrinsut sebagai bukti tanda terima😆

Kiriman itu berasal dari aktivis Linux yang terhitung sebagai salah satu developer BlankOn Linux. Dikirim beberapa hari yang lalu, dan (seperti nasib buku kiriman kemarin itu) sampai juga di sini, setelah tertahan beberapa relay-relay nan lebay dalam perjalanannya melintasi pesisir barat propinsi ini.

Isinya?

Beberapa keping CD berisikan BlankOn Linux 5, disertai Ubuntu 9.10 untuk mesin i386, dan beberapa paket aplikasi FLOSS lainnya.

Apa hebatnya?

Tidak ada. Linux hari ini bukan barang asing. Tapi… mungkin cuma di luar sana. Di sudut negara ini, sistem operasi dan segala program yang bersekte Open Source, sekte yang (seperti postingan Mas Hary Sufehmi) membuat Indonesia diancam-ancam oleh agen kapitalis bernama IIPA; masih menjadi barang langka. Faktor ketertinggalan dan kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, menjadi berbagai sebab hal-hal yang sudah lawas di luar sana seperti baru di sini.

Ah, kemiskinan lagi… sok proletar benar anda ini… Heran, orang Aceh banyak protesnya!

😆

Suka atau tidak suka, itu adalah kenyataan. Jika karena aku menuliskan ini sebagai orang Aceh kesannya subjektif, bagaimana dengan pengalaman kawan yang mengirimkan paket tersebut? Kawan yang datang bersama Kawan-kawan lain dari Jawa sana dalam Komunitas AirPutih, [salah satu dari komunitas pertama datang di minggu pertama bencana 2004] untuk berbagi pengetahuan dan berbagi pengalaman di sini. Kau bisa membaca salah satu postingannya tentang tertinggalnya daerah-daerah di sini, terutama dari sektor Teknologi Informasi.

Lho? Kupikir kau anti Jawa? Bukannya itu sebab kau dukung federasi?

Ini pikiran paling tolol yang pernah kuterima. Jika aku memprotes di blog ini beberapa kali soal pemerataan pembangunan, soal terpusatnya pembangunan dan pemulusan aspal di Pulau Jawa, soal permintaan maaf pemerintah pusat atas pemadaman listrik selama seminggu di Jakarta dan  tak pernah minta maaf atas pemadaman bertahun-tahun di daerah lain, itu tidak menjadi alasan untuk bersikap sepicik asumsi itu.

Mari berpikir lurus dan logis: Jika pemerataan pembangunan berjalan, transmigrasi tak perlu ada, urbanisasi bukan jadi masalah. Anda tahu kenapa? Karena pabrik-pabrik dan transportasi merata tersebar di daerah-daerah. Pulau Jawa tak perlu sesak karena dipenuhi pendatang pencari kerja, dan orang-orang di Jawa pun tak perlu terjepit sampai terpaksa ikut program transmigrasi karena persaingan hidup menjadi sempit di pulau Jawa. Asimilasi penduduk akan menyebar lebih mudah, ego kesukuan akan terminimalisir dengan perkawinan campuran, dan Indonesia bisa menjadi negara maju ketika alokasi dana untuk pemerintah daerah dalam format federasi diberikan untuk dikelola oleh daerah, dengan diperkuat kontrol dari masyarakat daerah sendiri. Dengan kata lain, penyebaran pembangunan demikian akan menguntungkan semua daerah dan suku bangsa. Sederhananya demikian, meski secara teknis susah dijabarkan dalam postingan singkat begini.

Pada intinya, sudah aku jelaskan beberapa kali bahwa protes dan harapan demikian tak ada urusannya dengan suku bangsa. Tak ada kaitan dengan suku Jawa, suku Aceh, suku Batak atau suku apapun. Karena protes itu ditujukan pada sistem, sistem yang sudah keblinger dan ngotot dengan pola terpusat. Jadi bukan urusan satu-dua suku bangsa untuk dibenci dan disalahkan.

Ah masa? Jangan-jangan karena sudah kena kiriman?

😆

Aku mengenal bocah Jawa yang mengirimkan ini selagi masih keluyuran di Banda Aceh. Aku juga mengenal beberapa orang Jawa lainnya di Komunitas AirPutih yang mungkin lebih peduli soal kemajuan di Aceh daripada diriku sendiri.  Mungkin lebih daripada aktivis-aktivis yang rajin berdemo karena Tuan Besarnya kalah tender dalam proyek pemerintah. Kawanku, Tuan Ahmad Haris, boleh meminta kiriman ini kukembalikan, namun aku tak akan mencabut ucapanku ini. Aku juga tak akan mencabut rasa hormatku pada kesediaan kampret-kampret insomnia sepertinya yang mau memasuki pedalaman Aceh guna mendakwahkan mazhab Linuxnya peranan Teknologi Informasi agar bisa mengejar ketertinggalan. Bukan sekedar cuap-cuap, namun bersama Kawan-kawan memasang perangkat, mengajarkan dan mengaderisasi generasi muda untuk melanjutkan saat mereka pergi mencari lokasi baru lagi. Atau melepas lelah dengan obrolan di warung kopi…

*mendadakrindutahunituaku.ris*

Memang sepertinya butuh melihat dengan mata kepala sendiri, untuk bisa objektif menilai postingan subjektif seperti yang nongol-nongol di blog ini. Dan mereka melakukannya. Mereka, anak-anak dari Jawa itu, melihat Aceh dengan segala baik dan buruknya, langsung dengan mata sendiri, bukan perspektif dari media massa.

Ah sudahlah… Yang jelas kiriman ini mesti diperbanyak untuk disulangkan ke anak-anak sini.:mrgreen:

Wassalam.

8 thoughts on “Kiriman Kedua Minggu Ini

  1. wkwkwkw… dasar dodol kuampret…😛
    asline, aku hanya mencontoh abang angkatku yang sanggup bagi-bagikan cd ubuntu ke seluruh indonesa… tapi aku ndak sekuat itu..

  2. Dasar orang aneh kau ini, dapet kiriman cd linux yang diomongin malah soal federasi. Dikirimin buku malah mengkritik pedas-pedas. Tak bisakah kau menjilat barang sedikit agar yang ngirim senang?😀

    *menunggukomentardedongsajaah.info*

  3. @ ahmadharis

    Wakakaka… sesama kampret mendodolkan😆

    Ya semua orang punya batasan sendiri-sendiri, Ris. Yang penting niatnya itu. Aku salut karena niatan itu tak tinggal niatan. Belum tentu aku dan kroco-kroco peleton di sini mampu bikin hal yang sama jika kami di luar daerah sendiri.

    betewe-eniwe-buswe, tengkiu untuk kirimannya:mrgreen:

    @ pzink666

    Ya mau gimana, aku nulis ngalir gitu saja. Apa yang kupikir ya kutulis. Mau dikasih mau nggak, tak ada urusannya itu😆

    Nunggu? Bocah2 geblek begitu tak ada faedahnya kau tunggu. Malam-malam kerjanya kalau tak keluyuran di medan sana tentu sibuk bobol-bobolan sana-sini di forum-forum heking-hekingan. Kampret-kampret di Medan itu lalai sendiri. Situs paguyuban mereka saja sudah mati😈


    Minta ditabok agaknya kalau pulkam kemari👿

  4. dari keadilan akan datang kemakmuran , keadilan akan mendatangkan pula perdamaian , saya kira , tulisan mas memang benar , seandainya pemerintah pusat dari dulu adil , maka tidak akan seperti ini jadinya , salam kenal ya mas

  5. Keadilan yang sempurna memang tidak akan ada. Tapi dengan adil dan setara memperlakukan daerah-daerah di luar Pulau Jawa, percayalah bahwa negara bisa lebih makmur. Jangan cuma soal Sishankamrata yang sama rata sama rasa dari Aceh sampai Papua, giliran hak-hak pembangunan terpinggirkan. Efeknya itu akan jadi bola salju satu ketika nanti.

    Seperti soal Jawa dan Non-Jawa ini. Masyarakat di lapisan bawah itu seperti akar rumput yang mengering, dibikin kering oleh rasa haus untuk melihat daerahnya maju. Dan rumput kering, mudah terbakar. Efeknya bukan enak. Kita sudah melihat sentimen begitu muncul di Sampit dan (dalam beberapa kasus) di Aceh, misalnya. Ketidakpuasan terhadap keadilan dari pusat, dari Pulau Jawa, dengan gobloknya teralih pada sentimen suku bangsa. Yang kena adalah orang Jawa transmigran yang tidak salah apa-apa, selain datang kemari mengikuti program pemerintah untuk menyambung hidup.

    Tahun 2001, di depan batang hidungku sendiri aku melihat ibu-ibu dan anak-anak kecil menangis di bak truk macam ikan asin dijemur matahari, karena ada golongan masyarakat terprovokasi sentimen picik begitu. Orang lapar, orang yang merasa haknya dirampas, paling mudah untuk menjadi tidak waras. Ini yang sepertinya dilupakan oleh pemerintah pusat. Mereka enak kena AC sejuk-sejuk di kabinet, di Senayan, bikin kebijakan macam orang kentut. Tapi yang kena imbas di lapisan bawah, ibu-ibu dan anak-anak Jawa yang terpanggang matahari karena mengungsi menyelamatkan selembar nyawa dari ancaman OTK-OTK yang memprovokasi massa, apa mereka mau tahu?

    Tapi jika pabrik-pabrik, sentra-sentra industri didorong dan diizinkan untuk dibangun di daerah, ceritanya akan lain. Revolusi Industri di daerah akan membuat daerah lebih kosmopolitan, lebih menerima keterbukaan. Ambon bisa mengelola kopra dengan pabrik-pabrik kopra di daerahnya sendiri, dan orang dari Jawa, dari Sumatra, dari Papua, silakan saja datang ke sana untuk bersaing mencari kerja. Pada awalnya pasti akan sulit, tapi lama-lama masalah kesulitan berasimilasi akan tereduksi, persis seperti Jakarta saat masih bernama Batavia.

    Urbanisasi yang deras ke kota-kota besar di Jawa lambat-laun akan berhenti, atau merata ke pulau-pulau lain. Mau cari pabrik pengolahan kertas, bisa ke Kalimantan atau Riau yang menjadi gudangnya kayu. Mau gaharu, kembangkan industri pengolahan gaharu di Papua. Pabrik nikel? Alam sudah menyediakan gunung Verbeek di Sulawesi, tinggal dirikan pabriknya di sana. Buka kesempatan yang sama untuk setiap warga negara, untuk sama-sama berhak bekerja di mana pun dalam wilayah Republik Indonesia. Cuma pemerataan pembangunannya ini dulu yang mesti dibenahi.

    Bagaimana daerah akan maju, lhaaa… aspalnya saja bikin sakit pantat penumpang di mobil-mobil angkutan. Padahal sarana transportasi syarat mutlak agar satu daerah maju dan berkembang. Tapi di Aceh tidak ada jalan tol, di Medan pun setahuku masih sedikit dan pendek lintasannya (padahal Medan itu kota bisnis terbesar kedua di Indonesia). Kereta api juga sama, tak ada di sini. Bandar udara baru di milenium ini berdiri. Pendidikan juga begitu. Pusat seenaknya bikin standardisasi dengan segala Ujian Akhir Nasional, mempersetankan kenyataan bahwa di daerah kualitas pendidikannya tak sepadan dengan Pulau Jawa dan terutama Jakarta. Jangan mentang-mentang pusat negara di Jakarta lalu enak distandarkan semua dengan berdasar dimana pantat pengambil kebijakan berada. Jika Jakarta punya sekolah sekualitas Jakarta International High School, sekolah-sekolah di pelosok daerah banyak yang kualitasnya masih kualitas dengkul. Bangunan kayu mirip-mirip kandang kambing. Gurunya masih banyak guru bantu yang terkadang jualan tahu agar nasi di rumah nanti ada sedikit bumbu.

    Buku-buku? Warisan kakak kelas yang sudah bercoret-coret grafiti “Aku love sama kamu” dengan sampul yang kumuh. Pusat mestinya bertanya pada guru-guru seperti Bu Dina di Aceh, gimana susahnya di daerah untuk sejajar dalam mutu pendidikan, atau pada orang-orang dunia pendidikan seperti dosen yang pernah menulis soal itu di Serambi Indonesia.

    Dengan itu semua, apa tidak timpang itu namanya? Kenapa harus Pulau Jawa saja yang dibenahi? Kenapa harus di pusat yang menjadi standar mutu-kualitas nasional?

    *hufff*

    Entahlah. Mudah-mudahan satu saat bisa merata pembangunan negara kita ini😀

    Ah ya, terimakasih sudah singgah. Salam kenal juga🙂

  6. Bah! Tiru-tiru [ aku ] sepertinya ini!👿

    .
    .
    .
    *memandang setajam golok ke arah nama penerima*
    *A.R. Hidayat?*😕

    Bah! Lupa aku apa itu singkatannya, dulu ye pernah bilang😆

  7. @ projen (empu blog di sana, bukan di sini)

    Bah! Tiru-tiru [ aku ] sepertinya ini!👿

    Salah postingan kau ini. Kau itu dikirimi buku, aku dikirimi CD-CD program😛
    Kalau hendak menyama-nyamakan, di postingan sebelumnya😆

    *memandang setajam golok ke arah nama penerima*
    *A.R. Hidayat?*😕

    Kenapa? Lengkapnya malah lebih panjang itu: A.R. Hidayat. Z.A.

    Bah! Lupa aku apa itu singkatannya, dulu ye pernah bilang😆

    Bukan nama penting. Trend keluarga saja, bikin nama panjang-panjang. Merepotkan😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s