Hari Pi

Lewat tengah malam, ada hasrat hati hendak mencaritahu dimana gerangan buku-buku makrifat berbentuk e-book bisa ditemukan untuk diunduh, dengan cara bertanya pada dukun modern, paranormal di zaman parawaras ini: Al-Syert ‘Ainjeen Ki Gugel Masabodo.

Eh, rupa-rupanya logo Dukun Penerawang itu sedang berganti.

Logo dimana rumit dan simpel bercampur-aduk

Jarang-jarang aku peduli dengan logo apa yang ditampilkan Google di situs penerawangannya itu. Tapi yang satu ini langsung menarik perhatian di hari ini. Ada sesuatu terasa-rasa mengusik-ngusik kenang dan penasaran. Ah, peringatan hari apa pula Si Google kali ini?

Dan fahamlah aku. Di balik logo yang sederhana, dengan warna tak meriah itu, dengan permainan garis dan angka-angka terselip, ternyata ada peringatan pada sebuah hari yang berkenaan dengan matematika: Pelajaran yang pernah kubenci di bangku sekolah dulu.

Ternyata…. ini Hari Pi Sedunia. Hari peringatan sebuah konstanta matematika!😯

Patutlah serasa-rasa ada yang mencolek-colek ingatan. Tak salah sangkaku. Bahkan Si Google sendiri tak perlu ditempeleng untuk mengakui alasan logo mereka berganti hari ini. Bagi mantan pelajar yang pernah didogma besarnya faedah matematika agar sah-halal-dan-resmi diakui rapor sekolah sebagai siswa yang otaknya masih berfungsi, tentu kenal belaka dengan lambang yang satu ini: π.

Kurang jelas? Nih!

Bacanya: Pi. Simbol irasionalitas sebuah konstanta matematika

Apa itu “Pi”?

Pi, ringkasnya adalah konstanta yang didapatkan dalam pembagian keliling lingkaran dengan diameter lingkaran. Nilai dari Pi adalah 22/7 atau dalam bentuk desimal singkatnya 3,14 (ini sebabnya hari peringatannya jatuh di bulan 3 tanggal 14). Umpama kita punya sebuah ban sepeda dengan diameter 1 meter, lalu dengan seutas tali dilakukan pengukuran, maka panjang tali yang dibutuhkan adalah 3,14159 meter. Nilai ini akan selalu konstan untuk setiap lingkaran, yang berarti bahwa Pi juga bermakna 1 keliling lingkaran alias 360 derajat. Salah satu contoh persamaan matematika yang tersohor, dengan menggunakan konstanta Pi, misalnya A=πr², dimana A adalah luas lingkaran yang diukur dengan konstanta Pi dikali jari-jari pangkat dua.

Kenapa Pi lambangnya begitu?

Manalah kutahu! Memangnya aku yang bikin?! 😈

Yang kutahu konstanta ini termasuk salah satu dari bilangan irasional, konsep yang diyakini Muhammad ibn Mūsā al-Khwārizmī pada abad ke 9 Masehi. Bilangan yang tak habis-habisnya dibagi dan desimalnya tidak akan berulang. Sehingga keluar anekdot seperti ini:

Non-stop Pi

Buang-buang umur saja😆

Pi ini boleh disebut konstanta yang ajaib dan ghaib, sehingga diskusi tentangnya pun konon sudah keluar dari matematika, sudah masuk ke ranah-ranah filsafat dan segala ilmu sosial, lebih khusus daripada matematika dalam ilmu ekonomi. Selain menyandang gelar bilangan irasional, konstanta ini juga dikenal sebagai bilangan transendental, yaitu kategori bilangan yang tidak memiliki koefisien rasional dalam persamaannya.

*PDF untuk pembuktian irasionalnya Pi sederhananya bisa klik kanan di sini.*

Nah, ketika aku membaca dalih-dalih Si Google itu, apa yang teringat olehku adalah sosok guru-guru matematika yang mayoritas wanita di saat sekolah dulu. Terutama guru SD yang pertama sekali mengenalkan salah satu lambang dari mata pelajaran pencuri waktu istirahat para siswa itu. Kira-kira gini selintas kenangan itu:

Bayangkan kau duduk di sebuah ruangan kelas SD, dimana sekitar dua lusin siswa-siswa diusir pagi-pagi dari rumah untuk mendengar guru bertanya di pagi buta:

“Anak-anak… jika diketahui ada sebuah roda dengan jari-jari r sentimeter dan panjang busur a sentimeter, dan diketahui pi sama dengan duapuluh dua per tujuh, berapakah luas lingkaran roda ituuuu??”

Kelas itu seketika lengang. Hening. Makin hening ketika guru matematika itu selesai menggambar sebuah lingkaran dengan angka-angka yang diucapkannya terlukis di papan tulis, lalu berpaling. Makin dalam semua kepala menunduk macam berdoa, “Ya Allah… janganlah aku yang ditunjuk… lindungi aku dari pertanyaan itu, wahai Engkau Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang….”

Dan mata mereka lirik-melirik, “Bak kenalah engkau yang ditunjuk. Heh? Jangan lihat ke sini kau, setan!” sembari menanti suara guru terdengar berkata, “Yak! Kamu… coba jawab, coba selesaikan!”

Siswa yang sadar dirinya berada dalam golongan terkutuk soal matematika, jika sempat tangan guru menunjuk diiringi kalimat di atas itu, maka raut mukanya berubah pucat-pasi. Seakan-akan menyesal dia kenapa di sekolah itu ibu-bapaknya mendaftarkannya dahulu. Pura-pura tak yakin, biasanya beliau – siswa naas itu – menjawab dengan nada bertanya dimana ada histeris tersembunyi, “Sa…saya, Bu?” yang nyaris mirip adegan sinetron, “Haaapaaah?? SAYA??!” Padahal jelas-jelas telunjuk atau rol kayu panjang itu mengarah lurus 180 derajat ke batang hidungnya.

Buah simalakama. Tak lekas berdiri, niscaya rol kayu panjang itu bukan cuma akan menunjuk, tapi akan singgah di bahu dan pantatnya. Berdiri ke papan tulis? Dia akan jadi sekaku patung Obama yang melotot tak percaya kenapa ada WNI menolak berhalanya di Jakarta sana. Biasanya ada bermenit dipandangi angka-angka itu. Kening mengerut-ngerut macam berpikir keras, padahal nanti di saat istirahat tiba akan diakuinya, “Kulirik-lirik pintu kelas, kulirik-lirik jendela kelas. Kalau bisa kabur, kabur aku lekas-lekas…”

Dan… jika guru itu sudah jemu menanti, sudah lama siswa naas itu membatu di depan papan tulis itu, maka yang otaknya lumayan jalan soal matematika juga akan kena getahnya.

Enak? Bangga jadi jagoan? Bah! Belum tentu!

“Kamu.”

“Saya, Bu?”

Dan suara Bu Guru naik oktafnya, macam semua beban dari siswa-siswa sebelumnya ditumpahkan ke siswa terakhir itu, “Siapa lagi?! Tak lihat rol kayu ini menunjuk kemana? Kamu selesaikan itu, sekarang juga!”

Majulah beliau, si siswa terakhir itu, dengan tatapan Guru Matematika yang berharap Archimedes tidak kecewa di alam barzah sana karena seisi kelas binaannya goblok semua.

Dan soal itu pun terkadang bisa diselesaikan. Jika selesai, tidak otomatis berpulang ke bangku, sebab sudah terlanjur di depan, kenalah siswa penghabisan itu menyelesaikan soal-soal lain pula. Awalnya sesekali, lalu mulai rutin. Lalu, setiap guru bertanya, seisi kelas macam kompak menoleh padanya. Jika digambarkan: Guru menoleh ke seisi kelas, “Siapa bisa selesaikan soal ini?” dan seisi kelas macam satu otak-satu pantat menjawab dengan cara menoleh ke satu pojok kelas, mengoper pertanyaan itu pada siswa yang buku matematikanya malah ada lukisan Superman berkolor runcing mirip segitiga samakaki.

Andalan kelas? Ya, the last man standing, standing depan papan tulis untuk mengerjakan soal yang baginya juga tak selalu mudah. Tapi menjadi andalan cuma karena hapal deret perkalian yang ada di sampul belakang buku tulis murahan (buku tahun-tahun 1980-an) tidak selalu menyenangkan. Karena jika keliru memberi jawaban, seakan beban dunia tumpah di pundaknya. Rol panjang Bu Guru yang terhitung kerabat ibunya itu lebih lekas singgah di badan. Dua kali lipat daripada yang singgah di pantat siswa-siswa lainnya, dengan alasan, “Memalukan keluarga guru! Apa kubilang sama Makmu nanti?!”

Dan matematika itu lah yang jadi petaka. Tiap istirahat, didampratnya kawan-kawan yang terkekeh puas karena rol kayu panjang setebal buku PSPB itu singgah di pantatnya juga. Menyebalkannya, para siswa itu -ketika dia berbalik ke bangku- menggeleng-gelengkan kepala macam juri tak puas dengan hasil kerjanya. Ada yang pakai adegan bersidekap lengan segala, seakan-akan profesor benar dianya dalam hal matematika, seakan-akan mendecis, “Hah! Soal begitu pun kau tak bisa?! Sambil nungging pun bisa kuselesaikan itu! Payah!” padahal pantatnya sudah duluan kena rol kayu yang sama karena melongo bermenit-menit di depan logo pi tersebut.

Matematika, selain bikin ngeri bagi yang memang tak bisa, juga bikin benci bagi siswa yang lumayan bisa. Sosialisasi matematika inilah yang tak sedapnya dalam kurikulum sekolah. Misalkan saja di masa sekolah, seperti soal pembelajaran Pi ini. Tak ada hujan tak ada badai, murid-murid dikenalkan tanpa basa-basi dengan sosok Pi tersebut. Biasanya dengan tiba-tiba saja nongol pertanyaan matematis, “Jika Pi adalah tiga koma empat belas, dan tralalala sekian belas, berapakah trilili?”

Siswa? Mengunyah semua seperti apa yang disuapkan. Jangan harap bisa bertanya kenapa lambangnya macam huruf alif-ba patah hati begitu? Kenapa mesti π lambangnya? Kenapa bukan lambang emoticon seperti atau saja sekalian untuk melambang muaknya menunggu jam pelajaran habis atau tawa iblis karena puas melihat kawan dikerjai soal-soal matematika, pusing pagi-pagi lalu menyembah minta contekan PR matematika?

Jika dilihat cara mereka-mereka yang menggeluti matematika di luar tembok sekolah -dari SD hingga SMA- sepertinya kurikulum pendidikan memang mesti beri sentuhan warna ceria, dengan membawa kesan seram jauh dari angka-angka yang menari di papan tulis. Dan tentu saja: Jangan mengizinkan lagi guru-guru matematika atau lulusan matematika yang terlalu antuasias pada bidang studinya merampas jam pelajaran siswa-siswa. Kasihanilah siswa-siswa yang hendak mengisi perut atau kangen bermesra dengan pacarnya di kantin sekolah. Masa sekolah itu, masa sekolah, jangan terlalu diracuni angka-angka, bisa terlalu waras siswanya jadi orang tua nantinya:mrgreen:

Ah, sudahlah. Selamat Hari Pi, Kawan-kawan.

*jadi ingat bloggerblogger lawas jagoan matematika*😕

9 thoughts on “Hari Pi

  1. pi: lambang irasionalitas. dari bentuk simbol, saya lebih menyukai pi daripada lambang infinity. namun dari segi esensi (halah..) irasionality dan infinity adalah hal yang kadang terlihat menarik🙂

  2. Weee

    *tepuk tangan*

    Asik. Ustadz Google ganti baju aja bisa jadi postingan baru. Mantap. Mantap ^^d

  3. @ Zephyr

    pi: lambang irasionalitas. dari bentuk simbol, saya lebih menyukai pi daripada lambang infinity.

    Idem:mrgreen:
    Ketakhinggaan itu terlampau menakjubkan. Macam menafsir luas semesta dan Ketakhinggaan Tuhan saja😀

    namun dari segi esensi (halah..) irasionality dan infinity adalah hal yang kadang terlihat menarik🙂

    😆
    Dunia ini ilusi. Permainan sehari, kata agama. Maka semua bisa terlihat menarik bisa tidak. Macam segala materi juga, seolah-olah tujuan abadi, sekali awak mati, semua harta-benda itu akan kehilangan arti😆

    @ Riza

    Weee

    *tepuk tangan*

    . . . .😡

    Asik. Ustadz Google ganti baju aja bisa jadi postingan baru. Mantap. Mantap ^^d

    Bisa jadi postingan tapi telat. Keenakan nulis semalam itu perasaan masih tanggal 14, padahal Hari Pi-nya kemarin. Apanya yang mantap?😆

  4. aku banget tuh bang😀
    bahkan aku pernah kenak hak sepatu di STM karena ketika disuruh kedepan aku malah balik bertanya dari mana datangnya angka 22/7 dan 3,14….. karena dikira mengolok olok beliau…
    akan tetapi kalo kenak rol tak pula berani pula lapor pada orang tua yang berdalih kekerasan dalam sekolah…malah bisa bisa kena lempar sepatu safety boot yang menjadi sesuatu yang wajib bila beliau bekerja…(maklum buruh pabrik BUMN)

  5. aku banget tuh bang😀
    bahkan aku pernah kenak hak sepatu di STM karena ketika disuruh kedepan aku malah balik bertanya dari mana datangnya angka 22/7 dan 3,14….. karena dikira mengolok olok beliau…
    akan tetapi kalo kenak rol tak pula berani pula lapor pada orang tua yang berdalih kekerasan dalam sekolah…malah bisa bisa kena lempar sepatu safety boot yang menjadi sesuatu yang wajib bila beliau bekerja…(maklum buruh pabrik BUMN)

    sorry kalo OOT

  6. @ TA2

    aku banget tuh bang😀

    Memang sudah pantas😆

    bahkan aku pernah kenak hak sepatu di STM karena ketika disuruh kedepan aku malah balik bertanya dari mana datangnya angka 22/7 dan 3,14….. karena dikira mengolok olok beliau…

    He? Itu kejadian sungguhan?😯

    Kalau itu benar, aku akan sedekah untuk syukuran *ngakak*😆

    akan tetapi kalo kenak rol tak pula berani pula lapor pada orang tua yang berdalih kekerasan dalam sekolah…malah bisa bisa kena lempar sepatu safety boot yang menjadi sesuatu yang wajib bila beliau bekerja…(maklum buruh pabrik BUMN)

    KALAU KAU SUDAH KENA LEMPAR SEPATU SAFETY BOOT OLEH BOSS, INSYA ALLAH DI NERAKA NANTI HUKUMANMU KURANG SATU: TAK AKAN DITENDANG OLEH SAFETY BOOTS PENJAGA NERAKA…
    *aduh, kepslok kepencet*😆

    @ musafir

    Matematika memang dari dulu bisa disebut bahasanya filsafat, Bang. Cara penjelasan logika dan segala yang rumit-rumit untuk dibahasakan dengan bahasa manusia yang terbatas, sering dibahasakan dengan angka dan simbol😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s