Etika Meja Makan

Tata etika, tata senjata. Di meja makan ini tak ada tuan tak ada hamba.

Jika di meja makan siang itu tiap tetamu punya pistol dan belati pengganti sendok dan garpu, segala pangkat akan melenyap, Kawanku. Dan para tuan ambtenaar eselon sekian-sekian di rumah wabup itu akan sama sopan dan sama rakusnya dengan para pencuci pinggan yang sudah lelah seharian. Kita tak akan mendengar omong-kosong tentang tamu VVIP, tamu VIP dan tamu biasa golongan jelata -seperti celoteh betina kampungan dosanak ibu, yang merasa nasibnya sebagai istri mahapatih negeri ini sudah menyulap jidatnya menjadi Cleopatra di hari pesta hilangnya kulup dari penis anaknya-  jika harga pistol bisa kita beli semurah sabun Dettol.

Dan kita tak perlu repot mendiskusikan segala tips etika di meja makan, atau mempelajari elegannya table manners dari berbagai belahan dunia. Sopan dan segan itu bisa menyatu di lekuk picu. Ketika ada yang berulah, cukuplah kita tarik pelatuk seperti Lucky Luke,  lalu tantanglah, “Aku sudah muak melihatmu, Tuan. Tarik pistolmu, dan mari kita bicara secara jantan dalam hitungan langkah ke delapan.”

Hidup adalah permainan belaka, Kawanku -kau yang mengeluh padaku selepas menonton parade kemunafikan di hari pesta kemarin itu. Tak ada yang keluar dari gelanggang dimana kita berpacu, melenggang, mengerang dan menantang ini dalam keadaan hidup-hidup. Segala emblem warna kuning emas di baju seragam eselon atas yang dibanggakan hari itu, hari dimana kau menggeleng takjub atas takzimnya petinggi dinas yang biasa berkacak-pinggang macam Tuan Demang zaman kompeni, tapi rela menjadi kacung pengangkat piring kotor dari orang yang menjabat cuma untuk lima tahun saja, akan hilang arti saat mereka kena mutasi atau dijemput ajal lalu mati. Punah, sepunah biawak dilindas di aspal naas.

Kita bermimpi hal yang sama: Dimensi ruang dan waktu bertukar rupa dan kita bisa berada di dunia bebas senjata untuk memberi ujung laras di ubun-ubun kepala mereka, hingga bisa menonton sepatu kets kumuhku dijilati seperti anjing-anjing minta belas-kasihan, tapi mengirimnya jua ke alam kematian. Untuk setumpuk status, mereka jual apa saja. Untuk kesombongan berharta, mereka pinggirkan orang-orang jelata di meja makan biasa. Untuk isi perut dan rumah serapuh istana pasir jika gempa tiba, mereka bahkan akan mencium tanganku dan tanganmu seperti santa suci jika ada asumsi kita bisa bikin lobi-lobi untuk negosiasi agar mereka tak termutasi ke daerah sekering kemarau menandas lunas air irigasi. Untuk dunia, cuma untuk dunia, Jiwa, mereka jual segalanya, bahkan harga diri dan lagak kealiman di saf terdepan jemaah di rumah Tuhan. Demi penutup kerakusan, mereka tampil di mimbar khotbah dan mahir menjual ayat-ayat yang bahkan tak mereka ingat ketika di pundaknya ada pangkat menjabat erat. Mereka lupa, Kawanku, bahwa Muhammad yang mereka sebut-sebut pernah berucap, “Manusia sungguh tak akan pernah puas hingga mulutnya ditutupi tanah kuburan.” Dunia, Kawanku, Dunia!

Mereka kira selamanya? Mereka kira tak akan fana?

Oh, meja makan dengan pistol dan belati pengganti sendok dan garpu. Jadilah ceracau ini mimpi buruk bagi sesiapa pemuja meja berukir Jepara berpahat pangkat di hari itu. Jadilah berita kematian selalu, kabar terbaru: Malaikat maut ternyata masih gentayangan memburu!