Matinya Seraut Kupu-kupu

Malam itu seraut kupu-kupu
meregang ajal di kamarku
tubuhnya terancam kaku
Sayapnya gemetar sewarna kelabu.
Napas sehela sedetik waktu
lirih ia mendesis sesepi bisu,

“Jangan bilang ibu aku di sini denganmu…”

Oh, hidup yang semu
Dengan cah’ya bulan
dia menyeruak dari jendela
Menghantar diri untuk dicinta
“Aku tahu hidup sesaat saja, berilah aku sentuhan mesra…”

Jemariku menari di tubuhnya
Membelai raba kepak dosa
Mencumbu baris cinta Garcia Lorca.

Seraut kupu-kupu mati di kamarku
sementara dia kesakitan sekarat
di malam itu,
aku nikmati ajal berlagu.
Dalam hujan irama dosa
merayu-rayu. Dan sajak ini jadi
untuk perawan yang menyulam mimpi
semu meragu, yang mati
cintanya di pagi itu.

{Blangpidie, 12 Maret 2010}

Iklan

7 thoughts on “Matinya Seraut Kupu-kupu

  1. … dan kuharap, menjelang siang di hari itu.
    sang perawan kan kembali menemukan cintanya ๐Ÿ˜Ž

    *mengacau mode on*

  2. umur kupu-kupu yang sesaat itu dan prosesnya yang sedemikian tidak mudah menjadi sebuah alasan tersendiri buatku menyukainya dan menamaiku dengan namanya (faraasya->faraziyya)

    *anyway, ini bukan filosofinya kupu-kupu ya? maaf OOT ๐Ÿ˜€ *

  3. @ Qzink

    Halahh….


    @ Zephyr

    Ya, semogalah, walau itu bukan tujuan puisi ini ๐Ÿ˜€

    @ Faraziyya

    Justru itu menariknya, umurnya sesaat dan dia sanggup memberi keindahan dalam kehidupan yang singkat. Menarik mata kagum semua orang pada halus kepak sayap dan warna kulit dengan motif alam ๐Ÿ˜€

    Bukan. Ini benar tentang kupu-kupu. Puisi sekali jadi itu.

    Jadi ada kupu-kupu malam itu masuk ke kamar dari jendela. Aku tahunya saat dia sudah terkapar di lantai. Sudah meregang ajal.

    Tak bisa apa-apa, karena waktunya memang sudah tiba ๐Ÿ˜€

    Maka bikin puisi, karena mikir: Kita manusia beruntung, tahu siapa ibu. Kupu-kupu itu cuma ulat yang jadi kepompong dan ibunya cuma alam semesta saja. Begitu ๐Ÿ˜€

  4. Kita manusia beruntung, tahu siapa ibu. Kupu-kupu itu cuma ulat yang jadi kepompong dan ibunya cuma alam semesta saja.

    nice! ๐Ÿ™‚

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s