Mereka Tak Tanam Lagi Itu Ganja

Hijau meninggi lewati ubun-ubun kepala.
Sederetan ganja melintas di kebun tak bernama.
Setinggi mimpi-mimpi pengisi saku pemuda desa.
Di kebun ini mimpi ditanam lalu disemai dalam aroma celaka.

Tapi siapa berdosa atas kriminal pengembara rimba,
ketika urbanisasi menjadi perjudian terbesar di hidup mereka?
Pistol, parang dan AK Empat Tujuh
menjadi tuah penjaga mimpi, sedia bunuh
membunuh.

Kau bertanya: Kapan tanahmu kerontang dari
itu Bob Marley punya sesaji?

Oh, Kawan. Setelkan aku Redemption Song
dan bacakan aku Sajak Sebatang Lisong
dari Bob Marley punya nyanyi
dari Rendra punya puisi.

Lalu ketika hari sudah lengang menyepi,
begini jadi aku beri kau jawaban tanya:

Kawan, mereka tak tanam lagi itu ganja
ketika hutan pala dan kayu jati
tidak dirampas HPH dan koalisi
penjarah dari kota-kota.
Yang datang rapi berdasi
Malaikat di wajah, setan di hati.

Mereka tak tanam lagi itu ganja
ketika tanah Malaka tak lagi jadi opsi
suaka orang desa membawa mimpi
mencari tempat pijakan harapan
meninggalkan tanah kelahiran
dibayang-bayang ancaman deportasi.

Mereka tak tanam lagi itu ganja
ketika bangku sekolah tidak jadi plaza
dengan jejalan label harga, demi secarik ijazah tak berguna
yang mereka sumpahi sepanjang usia.

Oh, matahari di ubun-ubun kepala!
Bakarlah mimpi-mimpi mereka di hari ini
Dan pasti di hari lusa
kau jumpai belasan phoenix berresureksi
Menjaga mimpi-mimpi yang tak habis
kau mengerti.

Itu ladang patah tumbuh hilang berganti.
Penjaga hutannya terbunuh dan akan lahir kembali.
Di ujung rimbanya demarkasi harap dan mimpi
Pembatas realita dan retorika para Firaun birokrasi.

Dan kau bertanya lagi: Tidak bisakah aib dihapus
citra dipupus?

Oh, datangkan aku Nona suka baca suka dansa
dalam gelaknya kita tertawa
menohok tanyamu berjawab mitos Sisifus
satu celoteh masa kampus dari Albert Camus!

Kawan, mereka tak tanam lagi itu ganja
dan generasi nanti terima ini puisi tinggal dongeng saja.
Ketika tanah meretak pecah
dan dari langit penghujung akhir zaman
turun sudah Sang Messiah.
Ketika strata hidup sudah pupus dan terhapus.
Ketika matahari menyuram padam. Diam dan mampus.

Mereka tak tanam lagi itu ganja.
Jika tubuh sudah diam beku.
Dan di ladang kematian
mereka bersuka sama berburu.
Menuai mimpi-mimpi tak terbeli
di bumi ini.
Menanti pancaroba tanah harapan
usai. Dan antrian penghakiman
selesai di hadapan Tuhan.

Iklan