Hasan Tiro Dan Kenang-kenangan Konflik

“Sibak rukok teuk, habeh nyan tanyoe, mandum bangsa Aceh, Insya Allah, akan sigra meurdeka!”

Demikian kira-kira kalimatnya. Wajahnya keras seperti baja. Di bahunya tersandang tali yang mengikat sebuah benda pencabut nyawa produksi Rusia: AK-47.

Saat itu, pertengahan tahun 1999. Setahun paska kerusuhan Mei 1998 di Jakarta sana, Aceh menggeliat. Panasnya rasa ketidak-puasan pada pemerintah, tak melulu milik mahasiswa dan pemuda nasionalis saja, tapi juga menjadi magma yang lama terpendam di bawah kulit bumi Aceh. Di dada mereka yang mengidamkan kemerdekaan dari Republik Indonesia, dan perlahan menjalar seperti virus ke dada warga Aceh yang awalnya mungkin acuh tak acuh.

Tak terkecuali kampong halamanku sendiri: Blangpidie. Kota kecamatan yang dikenal sebagai Kota Dagang itu pun, pelan-pelan mulai hangat dengan isu kemerdekaan. Suara “Assalamualaikum” dan jubelan massa, setangan merah berlogo Bulan Bintang, bahkan sesekali senjata api, terlihat di lorong-lorong, di sudut-sudut kota dan desa, dalam daerah yang kemudian hari menjadi sebuah kabupaten tersendiri, merdeka dari Aceh Selatan.

Semangat itu pula yang dimunculkan oleh sosok yang bicara dengan pencahayaan nyala api unggun, tak jauh dari sebuah pos ronda di satu desa kecamatan kami. Nama panggilannya Haris. Usianya saat itu sekitar 40 tahun. Masih muda. Sorot matanya tajam, dengan dagu keras dan roman wajahnya beraroma India, mirip-mirip Salman Khan. Saudara jauh dari ayahku itu, menjadi salah satu tokoh GAM di Kuala Batee, sebuah kecamatan yang menjadi perbatasan kabupaten Aceh Selatan dan kabupaten Aceh Barat saat itu.  Misinya menyusup ke Blangpidie, di saat unit-unit aparat keamanan sedang lengah, adalah mempropagandakan kemerdekaan Aceh. Jika diterjemahkan kalimat di awal postingan ini, bunyinya begini, “Sebatang rokok lagi, sesudah itu kita, semua bangsa Aceh, Insya Allah, akan segera merdeka!”.

Sebagai seorang remaja SMA berusia 17 tahun, apa yang menarikku saat itu tak lain warna merah di bendera yang diharamkan oleh pemerintah Republik Indonesia, garis-garis keyakinan di wajahnya yang mengingatkan pada ekspresi wajah Goebbels di zaman Nazi Jerman, dan tentunya benda penebar maut yang di sandangnya: Avtomat Kalashnikova 1947, sebuah senjata yang kadung dikenal sebagai senjata khas para gerilyawan di penjuru bumi.

Benda itu menjadi tontonan biasa di kemudian hari. Selain banyak orang yang diam-diam tertarik membelinya, ada pula yang merakitnya sendiri, mencoba meniru sebisa mungkin gaya AK-47 yang bersahaja itu. Panglima Haris, bahkan tidak segan-segan menawarkannya pada dua orang kakak-beradik, yaitu ayahku dan adik kandung beliau, yang sama-sama menjadi pedagang grosiran di kota kecil ini.

Sekali waktu ada rekannya datang ke rumah. Malam-malam. Diam-diam. Hajat hatinya, selain meyakinkan soal kemerdekaan yang “Cuma sebatang rokok lagi” tak lain untuk bertutur soal beberapa pucuk senjata. Aku mencuri dengar pembicaraan itu secara tak sengaja dari balik kamar. Seingatku, kalau AK-47 harganya dikasih 10-12 juta. Sementara SS-1 (entah rampasan darimana) cukuplah 6-8 juta saja. Sisanya ada FN-45 dan Revolver. Konon, selain GAM di daerah kami saat itu butuh uang, mereka juga hendak menyalakan revolusi bersenjata dengan cara menjual senjata kepada warga yang berpihak pada mereka.

Saat itu, ada rasa kecewa saat aku tahu bahwa orang tua menolak tawaran tersebut. Sebagai remaja naif, mimpi untuk gagah-gagahan punya bedil sendiri, terbang ke awang-awang. Beliau sebagai pedagang, sebagai non-partisan, blak-blakan mengakui bahwa beliau masih “republikein” karena menghormati generasi tua dalam keluarga yang sudah angkat senjata untuk Merah Putih sejak Jepang mendarat di Aceh. Jika sepupu jauhnya itu butuh uang, dia bisa membantu secara pribadi. Untuk pribadi, tak ada urusan dengan organisasi ilegal tersebut. Namun tidak untuk memiliki senjata, bahkan sebutir peluru pun tidak. Nasib keluarga dan ketidak-pastian perjuangan nanti, menjadi alasan lain beliau sebagai kepala keluarga.

Aku tak tahu pasti seperti apa roman wajah rekannya saat itu. Juga wajah Panglima Haris itu sendiri. Namun, ketika diam-diam aku ikut dengan beberapa pemuda kampung ke sebuah lapangan tersembunyi di kecamatan Tangan-tangan, masuk jauh ke dalam hutan, untuk sebuah latihan perang, apa yang kuingat adalah wajah tersenyum. Menepuk-nepuk bahu dan berkata, “Beu ceubeuh… beu beuheu… Aneuk agam hanjeut peulasue… Di pat-pat mantong matee nyan cit kana watee jih keudroe…”

Tepukan tangan kekar yang konon terlatih di Libya itu, seperti listrik saja menjalarkan semangat. Dia berucap, “Bak garang… bak berani… Anak laki-laki tidak boleh pengecut… Dimana-mana saja kematian itu sudah ada waktunya sendiri…”

Sebagai remaja yang sedang panas-panasnya, darahku meluap. Granat nanas yang dingin di tangan terasa panas. Padahal cuma kupegang-pegang saja. Lalu berganti dengan AK-56, varian AK-47 dengan model popor lipat. Diajar cara bongkar-pasang, isi peluru, dan menembak sekali dengan peluru kosong. Selama liburan sekolah, cuma ada tiga kali saja sempat turut serta ke lapangan tersembunyi itu. Setelah ketahuan orang tua dan paman-paman lainnya, paska didamprat habis-habisan, tak pernah lagi aku ke sana. Namun rutenya masih kuingat-ingat. Dari Blangpidie, meluncur kira-kira sekitar 15-20 menit dengan truk colt diesel, lalu berhenti di pinggir pematang sawah. Jalan kaki sekitar sepuluh menit, lalu naik truk pasir merek Chevrolet tua bangka yang sudah reyot. Ada 10 menit meluncur di jalanan tak beraspal, jalan-jalan tikus yang cuma seukuran bodi truk pasir, sampailah di pinggir sungai. Dari sana, menyeberang sungai masuk ke pinggiran hutan kecil, menerobos ilalang, dan… voila! Lapangan kecil bergunduk-gunduk macam kuburan tak bernisan pun terhampar di depan mata.

Aku masih ingat itu… seperti aku ingat wajah mereka-mereka, termasuk Panglima Haris itu, yang sudah almarhum hari ini. Di hari yang sama sosok proklamator Geurakan Acheh Merdeka, Hasan Tiro, meninggal dunia siang tadi.

Obor-obor yang menyala di sepanjang tahun 1999-2000, ketika militer Republik Indonesia seperti kehilangan tuah di atas tanah ini; pedang samurai warisan Jepang, golok, rencong, kelewang, peudeung on teubee (pedang tipis setipis daun tebu), menjadi senjata khas bawaan massa yang turun dan berjaga setiap malam. Termasuk kami, anak-anak sekolah setingkat SMA. Seruan “Pa’i masuk!” seperti sengatan listrik saja, akan segera menggiring suara senjata berkesiung dan langkah berlari.

Pa’i adalah julukan untuk ABRI saat itu. Ditambah dengan sosok-sosok bertopeng yang lihay menghilang dalam kegelapan setelah membunuh atau merampok, seperti orang-orang terlatih yang khusus untuk mengacaukan suasana, membuat panik warga. Jika kuingat-ingat, bahkan mungkin banyak yang tak mahfum apa itu “Pa’i” selain daripada sosok “Bad guy” yang harus dilawan. Entah berapa banyak yang lebih waras untuk faham bahwa “Pa’i” itu kelak akan kembali dalam jumlah berpeleton, berbatalyon, dengan baik dan buruknya sendiri-sendiri. Ada diantara mereka yang faham bahwa warga ada ancaman, atau ikut-ikutan, ada yang tidak dan melakukan balas dendam, meski tak ada dari seragam yang sama dengan mereka tewas saat itu. Satu-satu warga menghilang, pemuda-pemuda kabur ke kota-kota atau bergabung menjadi gerilyawan, dan desa-desa hampir seperti milik para janda dengan orang tua dan anak-anak saja.

Dan angkatanku? UMPTN tahun 2000 sukses menyelamatkan jiwa-raga sejumlah dari kami untuk keluar dari kampung halaman, meski resiko palang zig-zag di sepanjang jalan melambatkan kendaraan dan melembamkan badan kena poporan. Sisanya menjalani hidup yang suram di kampung-kampung, di desa, di kota-kota kecil, dengan derum congkak motor trail berplat teratai menjadi ketakutan sehari-hari. Salah melirik, bisa kena gamparan. Salah memandang, bisa jadi sasaran tendangan. Salah sasaran, bisa berpulang ke kuburan.

Aceh, kian menyala paska gerakan massa menuntut referendum di tahun 1999. Pada upaya menuntut referendum  kali kedua, 8 November 2002, sebagai salah satu dari mahasiswa angkatan zaman itu, aku melihat sendiri ada semangat menurun. Secara tidak resmi, Aceh terbelah tiga: pro-RI, pro-GAM, dan pro-referendum. Opsi ketiga, saat itu, adalah opsi paling logis dan demokratis. Namun kekuatiran bahwa Aceh akan lepas, paska opsi yang sama membuat Timor-Timur menjadi Timor Leste, membuat opsi ini sama haramnya dengan pro-GAM itu sendiri. Walhasil, menjadi mahasiswa dan menjadi pelajar SMA seperti beberapa tahun silam, jadi tak ada bedanya. Tetap sama-sama menuai dendam dari setiap bentakan dan poporan yang melembamkan badan.

Waktu berlalu… daun-daun meranggas dan berguguran. Kenangan pun berlalu… manusia-manusia yang pernah kukenal pun tewas dan dijemput kematian. Konflik, menjadi nama lain dari malaikat pencabut nyawa. Seumpama sosok pencabut nyawa yang menuai kehidupan dengan sabit tuanya, konflik saat itu pun mencabut kehidupan dengan dentum senjata, orang-orang yang ter/dipanggang seperti sate matang, mereka yang berseteru dengan senjata menyalak, atau mereka yang dituduh sebagai cuak, sebagai mata-mata dari pihak lawan, hilang dan menjadi jasad busuk di tepi jalan, di pinggir rimba, di lapangan bola, di sawah, di depan pos aparat, di depan rumah-rumah warga, bahkan di kolam meunasah. Antara fakta dan fitnah, nyawa semurah harga seekor ayam saja. Jika ayam dijual dengan harga 20 ribu, cukuplah untuk membeli sebilah belati atau rencong buatan kampung, dan goroklah leher mereka yang dilahirkan ibunya dengan susah-payah.

Aku tak pernah sehaluan lagi dengan GAM, tidak juga suka dengan pemerintah Republik Indonesia, sejak melihat betapa parah kehancuran dari perseteruan dua sistem ini. Satu negara, dan satu organisasi yang mengidamkan merdeka. Petualangan ke Timang Gajah, kabupaten Aceh Tengah (saat itu), jalan-jalan keliling Aceh dan menelantarkan kuliah, menjadi sebuah berkah tersembunyi untuk melihat bahwa Pancasila tak seindah cerita para guru di bangku SD, dan juga buaian merdeka tak seindah bualan “sebatang rokok lagi” saja.  Aku tak pernah memiliki keinginan untuk memuja dan berpihak pada yang manapun lagi, sejak melihat sendiri surat-surat pajak nanggroe dengan permintaan uang sampai puluhan juta atau ancaman dibunuh, menjadi teror dalam keluarga besar kami. Mengancam siapa saja, baik warga sipil biasa, apalagi pegawai negeri yang dianggap antek-antek Indonesia.

Hal yang sama dipraktekkan oleh aparat BKO yang datang kemari, merampok, menodong dan berlagak seakan ada saham bapak-moyangnya dalam perniagaan, dalam sawah-ladang warga, dalam setiap hasil panen, dan dalam setiap pengambilan gaji pegawai negeri yang upetinya mereka beri nama sopan, “Uang pengawalan”. Ibu yang seorang guru dan ayah yang seorang pedagang, seperti beribu-ribu warga Aceh lainnya, terjepit diantara dua gajah yang merasa mereka berhak menentukan tiap jengkal tetes keringat manusia di tanah ini, apakah dia muslim atau bukan, Aceh atau bukan, cuma karena mereka bersenjata.

Tentu saja mereka tak pernah mengakui hal tersebut. Kedua-duanya sama-sama menyebut pelakunya sebagai “Oknum”, sehingga cukup mengherankan juga, dan di luar kewarasan, bahwa “oknum-oknum” tersebut melenggang bebas dengan atribut pihaknya masing-masing secara berkelompok, beregu, berpeleton😀

Waktu dan kondisilah yang membuat anarkisme menjadi utopia. Menjadi mimpi, dimana setiap malam, di atap rumah kontrakan, di bagian atas ruko, dengan gitar dan (saat itu) berbatang lintingan ganja, aku dan kawan-kawan, mengidamkan sebuah dunia seperti “Imagine”-nya John Lennon. Apa yang lebih menyakitkan daripada mendapat kabar bahwa di hari-hari yang sama sebuah insiden di Juli, Bireuen pecah, dan mengirimkan seorang sepupu ayah, Paman Rustam, ke alam barzah sebagai seorang Kopral Dua TNI yang diberondong, adalah hari-hari yang sama dimana saudara sepupunya sendiri tewas sebagai gerilyawan di kawasan bukit perbatasan Meukek dan Sawang, Aceh Selatan? Dua saudara bertautan darah, membela dua pihak yang entah benar entah salah, dan tewas untuk kemudian mungkin terlupakan dalam sejarah dari pihak yang mereka bela itu sendiri.

Namun, apapun yang terjadi sudahlah terjadi. Rotasi bumi berputar. Setiap hari ada yang lahir dan mati. Manusia datang dan pergi dalam hidup kita. Dalam hidupku, tentunya. Ada cinta, ada dendam tersisa, ada aroma pahit dari masa lalu, ada tawa gembira, ada pekikan kemarahan, ada protes dulu pada Tuhan, ada petaka seanyir-amis air lautan, ada bangkai-bangkai bergelimpangan, ada kegilaan untuk tetap melanjutkan kehidupan yang kita tak pernah tahu akan dibawa kemana nantinya oleh nasib.

Seorang teman pernah berkata dulu, “Orang yang menjadi tokoh dan mati di usia tua, sukar menjadi ikon seperti Che Guevara.” Dia mengatakannya sambil tertawa terkekeh, mengejek kawan lainnya yang mengenakan oblong Che Guevara dan tidak percaya bahwa si gondrong berbaret itu adalah seorang dokter.

Dan aku ingat itu tiba-tiba. Meninggalnya Hasan Tiro hari ini dan meninggalnya Panglima Haris serta beberapa pentolan GAM –baik yang bajingan maupun yang memang murni perjuangannya- beberapa tahun silam, mungkin tidak akan pernah menjadikan mereka sebagai ikon di kaos oblong. Namun, lepas dari kontroversi kehadiran mereka, lepas dari ketidak-sepakatanku sendiri dengan paman dan sanak-kerabat yang memilih opsi menjadi gerilyawan, seperti halnya ketidak-sepakatan dengan sanak-kerabat yang nasionalis tulen sehingga diam pada perangai pemerintahan pusat yang menjarahi tanah ini dengan serakah; mereka layak dicatat, mereka layak dapat tempat.

Mungkin, jika seorang Hasan Tiro tidak memproklamasikan Geurakan Acheh Merdeka di puncak Gunung Halimon belasan tahun silam, kehidupanku sendiri tidak akan sama seperti hari ini. Kita hidup dalam lingkaran kepak sayap kupu-kupu, dimana kepakan satu mimpi di masa lalu, memengaruhi hidup yang lain di waktu tertentu…

Turut berduka cita atas meninggalnya Hasan Tiro, Wali Nanggroe dari Geurakan Acheh Merdeka. Semoga Aceh benar-benar merdeka. Merdeka dari mahalnya pendidikan, merdeka dari berkilometer jalanan busuk campur lumpur, merdeka dari rakit-rakit lintas Calang, Aceh Jaya, merdeka dalam mewariskan seni-budayanya sendiri tanpa kooptasi dari seni-budaya yang dinasional-nasionalkan, merdeka dari pemadaman listrik yang sudah biadab bertahun-tahun, merdeka dari penipuan pemerintahan pusat, dan merdeka menentukan harkat dan martabatnya untuk mengelola kekayaan alam demi menambal kemiskinan akibat penjarahan bertahun-tahun atas nama kesatuan dan persatuan. Merdeka, tanpa harus menjadi negara baru, namun sederajat, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bukan warga kelas dua lagi seperti dulu dengan KTP Merah Putih sebesar kitab tahlilan di Republik Indonesia ini.

Amin…

8 thoughts on “Hasan Tiro Dan Kenang-kenangan Konflik

  1. Lex, dengan kenyataan seperti ini, masih banyak lho yang menertawakan kita (baca;orang pribumi luar pulau jawa)..

    Menertawakan orang orang yang meneriakkan ketidakpuasan dan lantas menganggapnya pendongeng. Dan mereka semua tertawa sambil menikmati nikmatnya hasil jarahan, dari pulau pulau kaya nan dimiskinkan, yang lagi lagi pulau ku, dan tentu saja pulau mu….

  2. Merinding bacanya, sumpah!! Kau buatkanlah oblong bergambar paman Haris-mu itu lalu kirim ke sini. Kan kuceritakan pada anakku; “Ini adalah foto salah satu orang hebat yang pernah lahir di bumi ini.”

    merdeka, lex. Merdeka dari segala kepongahan pemenang sejarah. Terima kasih sudah bercerita lagi.

  3. kalau jadi cetak kawosnya, aku ada di daftar setelah kijing di atas yang berminat. walau belum ada punya anak-cucu, hahaa.

    kehidupanmu diselamatkan umptn? sayang dia belum juga memberi gelar sarj…ahsudahlah.

  4. kisah dan Aceh sendiri mulai aku cintai seperti aku beranjak mencintai minang.
    jadi teruslah bagi aku kabar tentang Aceh. .apapun itu

  5. Sepertinya sudah cukup terlambat membalas komentar-komentar di sini. Tapi…

    @ Fortynine

    Ditertawakan itu sudah jamak. Ini seperti orang di zona nyaman -meski mereka juga pahit-pahit lingkungannya- melihat orang di zona yang dikiranya sama nyaman dengan dirinya. Anggap saja macam Tuan Demang di jaman Kompeni menertawakan Si Pitung dari Betawi😀

    @ Qzink

    Aku belum sempat meminta foto-fotonya. Rumah besar keluarga orang tua laki-laki di kabupaten yang berbeda. Tapi kalau pun hendak kuoblongkan, aku akan oblongkan semua yang tewas itu sebagai ikon “setia sampai mampus” entah untuk siapa dan apa. Keyakinan yang kita tak pernah tahu, apakah sebagai ABRI atau sebagai kombatan GAM. Masing-masing percaya dan begitu “bodoh” melepas selembar nyawa untuk sesuatu yang terlalu banyak meminta tumbal…

    @ Gunawan Rudy

    Ya… bersyukurlah kau belum punya anak cucu. Tidak macam bapak-bapak di atasmu itu…

    Hehehe… begitulah kira-kira. Diselamatkan juga. Bapakku pernah ditodong pistol sama Brimob di toko yang datang menagih jatah preman 1 pak rokok Sampoerna A Mild. Hampir semua pedagang diperas zaman itu. Kalau yang lekas naik tensi macam awak ini ada di situ, sekedar melawan saja, apalagi ketahuan pernah latihan, bisa “disekolahkan” ke “sukabumi”, demikian bahasa kuli pemerintah yang diberi pistol utk (katanya) menjaga keamanan dan ketertiban umum, dengan gaji yang dibayar dari pajak kita itu😀

    @ Haziran

    Jangankan kau, aku sendiri lama tak bertandang ke Wp.com ini😆

    Barusan kututupkan saja FB-ku. Tak bisa fokus aku menulis kalau lebih sering bersampah-ria di FB saja. Ya, bukan alasan primer. Tapi… terkadang FB meracuni juga kalau sudah menyingkat kalimat terlalu banyak, jadi minat ngeblog jadi pudar

    *lirik Qzink yang pernah mengomeli*😦

    @ Fara

    Minang? Fara ada hubungannya dengan tanah Minang?😀

    Ah ya… aku akan coba berbagi kabar. Apapun itu🙂

  6. Lex..
    Itulah alasan utama kenapa aku memutuskan untuk meninggalkan Acheh kita, September 99, beberapa saat sebelum rekan2 mengadakan kampanye Referendum di Mesjid Raya. Dan ternyata hari ini Acheh hanya bertukar kulit saja, dari dahulu sang penguasa adalah jakarta, kini dipegang oleh mereka2 yang merasa berjasa. Sementara kita lex.. kau, aku dan rakyat jelata di Acheh sana.. Akan merasa tak ada bedanya siapapun yang berkuasa. Bahkan tak kan ada bedanya seandainya sang penguasa tak ada. Karena, aku, kau dan rakyat itu, hidup dari keringatnya, bukan oleh kebaikan sang penguasa.
    Selamat jalan Hasan Tiro.. Semoga diampuni segala dosa..
    Terima kasih pada mereka yang telah menjadi korban bencana maha dahsyat, yang telah menjadikan semua pihak sadar akan arti pentingnya sebuah kedamaian, agar tak ada lagi anak bangsa yang merasa kampungnya tak layak untuk ditinggali.

    salam.

  7. @ Musafir

    Ada sesekali rasa kecewa yang sama mengelucak dada, sampai-sampai mau hengkang juga dari tanah ini. Tapi, ada anugerah mamak kurang sehat fisiknya, jadi bisalah aku mencerita-cerita begini rupa. Setidaknya, kalaulah ada manfaatnya, bisa ditarik oleh sesiapa yang membaca. Jika tak ada manfaatnya, bolehlah jadi selingan bacaan saja.

    Ada yang berubah, ada yang datang, ada yang pergi. Semua berkata “Niat kami baik,” dan sering terlintas pertanyaan seperti sajak Rendra: Niat baik saudara untuk siapa?

    Kita sama kecewa, Bang. Kita juga sama -insya Allah- masih berharap, ada hal-hal baik akan terjadi kembali ke tanah ini. Satu hari nanti… Amin…

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s