Foolish Games

Jika kau -siapapun engkau- yang sedang membaca blog ini pernah mendengar lagu Foolish Games-nya Jewel, maka kau mungkin akan faham cerita yang boleh kau anggap fiksi di bawah ini.

Beginilah ceritanya:

Kira-kira beberapa tahun yang lalu, seorang mahasiswa berkenalan dengan seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi, di salah satu propinsi negeri ini. Dua mantan pelajar yang naik status menjadi mahasiswa itu adalah dua sosok yang berbeda angkatan. Berbeda daerah asal. Berbeda lingkungan. Dan tentu saja -sesuai periode zaman yang dialami oleh masing-masing dari mereka- berbeda cara pandang.

Si Mahasiswa, tiga angkatan lebih tua daripada Si Mahasiswi. Jadi, umpama mahasiswa itu angkatan 2000, maka mahasiswi itu angkatan 2003. Perkenalan mereka sendiri, resminya pada semester kedua si mahasiswi. Secara tidak resmi, dalam masa perpeloncoan bernama OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) yang minimal sekali manfaatnya itu; mereka sudah tatap-menatap muka sekali-dua. Namun itu baru di kemudian waktu mereka sadari.

Perkenalan mereka itu tidak seperti perkenalan biasa pria dan wanita, yang bertendensi untuk selam-menyelam jiwa demi merajut hubungan kasih-mesra. Jauh dari itu. Kaku dan selintas lalu saja.

Berawal dari satu pagi kelabu, dengan langit mendung dan hujan turun, ketika si mahasiswa yang (bersama konco-konconya) memanfaatkan laboratorium komputer di kampus sebagai penginapan gratis, keluar dari laboratorium dan melihat seorang mahasiswi datang kepagian. Dengan rambut kusut-masai, wajah yang cuma dibilasnya dengan air hujan, dia pun duduk di sebelah mahasiswi itu. Duduk di kursi panjang depan laboratorium betuliskan “Geofisika”, tak jauh dari sebuah kamar mandi kampus yang bersih dan cukup mewah. Dia tidak bicara apa-apa. Tidak berniat untuk kenal-kenalan. Tidak juga menyapa. Melainkan diam saja, menikmati sebatang rokok dan melihat batang akasia pasrah disirami air dari langit, sembari menanti antrian di kamar mandi kampus, dimana rekannya sedang memanfaatkan sebaik dan segratis mungkin fasilitas kampus itu.

Dialog kecil baru terjadi ketika mahasiswi itu, dengan takut-takut selayaknya mahasiswa baru, bertanya dimana letak laboratorium komputer. Mahasiswa itu cuma menjawab singkat sambil menunjuk ke pintu ruangan darimana dia tadi keluar.

“Itu bukannya laboratorium fisika komputasi?”

“Sama saja,” sahut mahasiswa itu. “Anak baru ya?”

Mahasiswi itu mengangguk.

“Jurusan apa?”

“Ilmu Kelautan.”

Mahasiswa itu manggut-manggut. Dalam fakultasnya, jurusan yang diambil oleh mahasiswi itu adalah jurusan termuda. Baru dibuka tahun itu, dan untuk sementara waktu berada di bawah naungan fisika, jurusan dimana dia sendiri terperangkap sebagai mahasiswa; tepatnya subdivisi dari departemen Geofisika. Maka jika mahasiswi itu berada di sekitar laboratorium-laboratorium fisika, dan bertanya dimana laboratorium komputer, tak lain yang dimaksudkan adalah laboratorium fisika komputasi, dimana dia dan beberapa temannya mengurusi komputer-komputer kampus mereka. Demikian dia jelaskan secara singkat.

Lalu diam. Temannya keluar dari kamar mandi, dia pun beranjak pergi. Meninggalkan mahasiswi yang kepagian datang di pagi itu, cuma untuk terperangkap hujan dan ditemani orang yang belum mandi. Kampus masih sepi. Sesepi hubungan mereka hingga beberapa bulan kemudian. Tanpa banyak bicara, meski sering bertemu di area yang sama. Di kantin. Di laboratorium. Di parkiran.

Semester kedua pun tiba.

Mahasiswa pemalas yang lebih sering ke pustaka, lab. komputer atau ke kantin daripada masuk kuliah itu, pada satu hari di awal semester baru, ditanyai oleh adik angkatannya yang terhitung dekat. Ditanyai apakah dia mengenal seorang mahasiswi, sebut saja namanya Yeni, dari program studi Ilmu Kelautan atau tidak. Mahasiswa itu awalnya menggeleng, hingga disebutkan ciri-ciri fisiknya. Mahfumlah dia, bahwa itu adalah mahasiswi yang bertemu pagi-pagi di awal perkuliahan, menjelang akhir tahun sebelumnya. Mahasiswi yang sama yang beberapa kali minta bantuan disetelkan margin kanan dan margin kiri saat mengetik di lab. komputer mereka.

Dia balik bertanya kenapa mendadak juniornya bertanya soal itu. Hubungan? Tidak. Mereka tak punya hubungan apa-apa. Dekat pun tidak. Konon, juniornya itu cuma iseng saja bertanya, karena mengira mereka kenal-mengenal, juga dikarenakan itu mahasiswi satu praktikum dengannya di satu mata kuliah yang diulangnya.

“Yaaa… dia ada tanya-tanya lah…” demikian katanya. Si Mahasiswa mencengir tertawa saat mendengar penuturan bahwa dia agak “menakutkan” dengan sikap acuh tak acuhnya, jika malah bukannya angkuh, menurut mahasisiwi itu. Dan dia menebusnya dengan menunggu mahasiswi itu keluar dari laboratorium yang menjadi sarangnya. Bersandar di dinding sebelah pintu, menghisap rokok, melirik arloji di tangan, dan cuma bilang, “Namamu Yeni, bukan?” saat mahasiswi itu melintas. Di gang yang memisahkan dua laboratorium itu mereka berkenalan.

Hari-hari berlalu. Mereka tidak juga otomatis menjadi terlalu dekat. Tak ada sesuatu yang spesial. Beberapa kali semeja di kantin yang tersohor paling enak mie gorengnya di universitas itu. Beberapa kali pula mereka sama-sama di bawah batang pohon akasia, dengan gitar di tangannya atau tangan kawannya, dengan rokok dan obrolan dari topik semut rangrang anak jurusan biologi sampai teori big bang dari mereka yang doyan pada kosmologi. Awalnya ramai-ramai, lalu susut menciut hingga sering tinggal berdua.

“Hajarkan terus!” demikian beberapa konco-konconya menjadi iblis yang membisik di telinga. Dia cuma mencengir saja. Mahasiswi manis yang sesenti-dua lebih rendah tinggi dari dirinya itu, seperti matahari. Ada menyinari, tapi sering luput dari hari. Di kantin, di bangku santai depan laboratorium, bahkan di dalam laboratorium saat sedang tak ada praktikum dan mahasiswa bebas bermain dengan komputer-komputer dengan cat bertulis “REG. sekian-sekian” sebagai tanda properti kampus, dia lebih mahir berceloteh soal filsafat, konflik, agama, seni budaya, musik, sastra, yang sama sekali banyak melenceng dari jurusan fisika yang digelutinya – selain sesekali soal fisika kuantum atau pemrograman yang ujung-ujungnya tetap berkait dengan filsafat juga; daripada berijtihad untuk sebuah hubungan mesra.

Bukan, bukan dia tak menghiraukannya. Jika diajak ke kantin, dia akan bawa mahasiswi itu serta. Jika diajak mengawankan ke pustaka, dia pun sudi juga berdusta bahwa dia sedang tak ada kuliah. Urusan akademik adalah urusan epidemik baginya -dengan atau tanpa seorang perempuan seperti mahasiswi itu. Sebuah wabah yang membuat semua orang berlomba-lomba diperbudak kurikulum untuk mencari identitas di selembar ijazah, sesuatu yang tidak masuk hitungan prioritas dalam hidupnya. Singkatnya, seringlah mereka bersama di semester kedua itu. Hingga semester berlalu, dan puasa pun tiba. Koordinat kehidupan mahasiswi itu di kota yang sama dengan universitas mereka, dan koordinat sebuah kota kecil Si Mahasiswa, menjadikan ramadhan sebagai bulan perpisahan. Tidak saja antara mereka berdua, tapi hampir dengan semua civitas akademika di universitas mereka.

Paska lebaran, kehidupan kampus dimulai kembali. Dia kini lebih dekat, lebih sehati. Sahabat terbaik sekaligus seniornya di kampus, menepuk bahunya sekali waktu dan berkata, “Apa yang kau tunggu?”

Namun dia tidak bikin apa-apa. Tidak bilang apa-apa. Ada sesuatu terpendam di dalam hatinya, tentang bagaimana matanya diam-diam mencari saat sedang di kantin di pagi hari, dengan segelas kopi dan sebungkus rokok tergeletak mengawani. Namun menjadi biasa kembali, meski senang jika mahasiswi itu ada di sekitar dirinya, berkisar seperti rembulan mengelilingi bumi. Senyum-senyum tanpa banyak bicara melihat dia membacot setinggi langit dengan kawan-kawannya soal Tuhan dan peranan setan di muka bumi, atau mimpi memanipulasi partitur Mozart untuk bisa dipakai di gitar listrik, terkadang menyumpahi mie yang kelewat pedas, atau merasa bahwa dalam Ruang Kuliah Umum dekat kantin mereka itu pekak semua telinganya sehingga dia enak berteriak-teriak menggitarkan lagu-lagu Nirvana kesukaannya di anak tangga gedung tersebut seakan-akan ada saham moyangnya di kampus mereka.

Hingga di hari Natal menjelang akhir tahun itu, mereka berjalan bersama di parkiran. Baru membahas soal film dan novel yang sama-sama mereka sukai. Mahasiswi itu menadah dari atas sepeda motornya, dan tersenyum simpul mengingatkan VCD Shrek 2 yang rencananya akan disewanya sore nanti. Mahasiswa itu mengangguk. Mengangguk untuk sebuah janji yang tak akan pernah bisa ditepatinya sepanjang hayatnya.

Selepas magrib, dengan VCD Shrek 2 dalam tas sandangnya, dia berlabuh di kampus. Melihat satu-dua rekan-rekannya melinting ganja, dan dia sendiri bernyanyi-nyanyi bermain gitar. Malam minggu, mereka yang tak punya pacar atau sedang bosan dengan pacar, biasa berkumpul di himpunan. Bakar api unggun depan himpunan, ngobrol-ngobrol, lalu biasanya menjelang larut masuk ke laboratorium diam-diam untuk mengalih-fungsikan komputer untuk pendidikan menjadi sarana pelampiasan membunuh lawan dengan game-game bajakan.

Dan dia sadar hari telah terlalu larut untuk datang ke rumah mahasiswi itu. Pesan di ponselnya sudah lebih dari dua mengingatkan soal janjinya. Dia minta maaf, dan membalas dengan janji baru: besok pagi dia akan ke rumah. Permintaan maaf diterima, dan dia pun pulang dengan lega. Tanpa mengira bahwa esok pagi, satu petaka akan membuat janjinya menjadi dusta sepanjang usia.

Di minggu pagi, di hari yang mestinya cerah-ceria, tanah dimana mereka sama-sama memijak, digoyang sebuah gempa raksasa. Gemuruh di langit, gemuruh di bumi. Gemuruh pula di laut. Lalu semua kalang-kabut. Pukul sepuluh pagi, pembunuh bernama Takdir menjagal ratusan ribu nyawa di propinsi mereka. Pukul sepuluh pagi itu, dia keluar dari rumah kontrakannya cuma untuk menyelamatkan diri, dan kembali dengan mayat-mayat yang pasrah tercampak seperti lalat-lalat mati. Mayat-mayat yang dilumuri lumpur dan tanah liat, mirip boneka-boneka yang dilumuri coklat. Kematian begitu artistik sekaligus menyeramkan. Satu kematian dalam jumlah massal di pagi itu yang akhirnya cuma menjadi statistik.

Dia sudah mendapat kabar soal saudara-saudaranya yang sama merantau di kota yang sama. Dia juga sudah mendapatkan kabar soal rekan-rekannya. Di kampus dia bertemu dengan beberapa dari teman-teman sesama mahasiswa. Di kampus pula, dia ingat pada janjinya. Tas sandang yang basah dengan lumpur dan masih berisi VCD Shrek 2 itu, menjadi satu-satunya barang yang diambilnya dulu di pagi itu, dengan memacu sepeda motor melintasi jalanan yang masih anyir-amis oleh air lautan, masih ada barikade pohon-pohon tumbang dan mayat-mayat berserak. Melintasi jembatan yang menandai batas ibukota propinsi dengan sebuah kawasan kampus-kampus perguruan tinggi, melaju ke satu rumah yang tak jauh dari Markas Besar Brigade Mobile Kepolisian daerah, hanya untuk menjumpai kehancuran belaka.

Hingga dia melihat orang-orang berlarian menuju ke satu mobil yang terbawa air laut ke semak-semak yang dulunya sebuah kebun milik warga setempat. Tertutup oleh batang-batang pohon dan lumpur hitam. Dia mendekati, memarkir sepeda motor, turun dan meluncur ke arah yang sama. Meluncur untuk menjumpai mobil yang dikenalnya, tak jauh dari rumah yang ditujunya, yang sedang ditarik oleh warga dan beberapa wajah yang dikenalnya juga. Dan serasa putuslah nafasnya ketika mobil sudah terlepas dari kayu-kayu pohon.

Di sana, di dalam mobil itu, seorang gadis manis tergolek kepalanya di kursi, seperti tidur. Pintu-pintu terkunci. Ada kaca yang pecah sehingga lumpur membasahi bagian dalam mobil tipe Escudo itu. Ada lumpur memercik di pakaiannya. Juga di lengan dan lehernya yang terkulai lemas.

Dia pun lemas. Tertegun-tegun mahasiswa itu memandangi sosok di dalam mobil. Tak peduli orang-orang sedang mendobrak pintu mobil hingga lepas. Juga tak berdaya bergerak hingga wajah yang sudah putus nafasnya itu diangkat dan dibawa ke rumah yang tak seberapa jauh dari mereka. Lama dia tercekat di depan mobil yang rusak berat, lalu lunglai diikutinya langkah mereka. Mendengar suara tangis dari seorang perempuan tua, melihat wajah sedih para orang tua, menatap wajah-wajah duka seperti wajahnya.

Dari jauh dipandanginya lagi mobil itu. Sementara tangannya menyusup ke dalam tas sandangnya, mengusap VCD bajakan Shrek 2 yang berlumpur dengan tangannya yang menambahi lumpur ke dalam tas itu. Sampai akhir pikiran tolol muncul, menggiringnya mendekati mobil, dan melemparkan VCD itu melalui jendela pecah ke dalamnya. Tak ada permintaan maaf, tidak di bibirnya, tidak juga di hatinya. Rasa sedih, marah, kecewa, menyesal, sudah lebih menyiksa dari sekedar kata “maaf” yang biasanya enggan diucapkannya.

Sepanjang jalan pulang ke arah kampus, ke kawasan dimana kontrakannya berada, dia terkenang pada wajah pucat itu. Hingga petang tiba, malam bertandang, dalam remang cahaya bulan, dalam gulita negeri yang baru dilanda petaka, di depan kantin dimana dia pernah tertawa dengan mahasiswi itu, dia rebah telentang di kursi kuliah yang disusunnya bersama rekan-rekan mahasiswa. Kampus menjadi pengungsian mereka yang kena petaka, dan mereka yang berduka seperti dirinya. Tak ada kabar dari kota kecilnya, yang dikiranya sudah punah karena dekat dengan episentrum gempa hari itu. Dan satu yang dia tahu pasti: tak akan pernah ada kabar lagi dari dia yang menanti janjinya.

Hari-hari berlalu. Bulan berganti. Perlahan keadaan membaik. Namun dia belum sembuh dari sakit hati, kekecewaan pada Tuhan dan pada dirinya sendiri. Jarang dia berjanji dan tak pernah menepati, karena janji baginya adalah harga diri. Namun apa yang lebih menyedihkan daripada sekedar harga diri, adalah rasa kehilangan seseorang yang pernah mengisi hari-hari. Bukan sekedar seorang lawan jenis, seperti beberapa yang pernah datang dan pergi dalam hidupnya. Tapi seorang yang pernah begitu berarti, yang awalnya tak dipedulikannya. Seseorang yang menjadi alasan kenapa dia mesti menyantaikan diri di malam itu, dengan datang lebih dulu ke kampus untuk mengusir nervous, bergitar dan merilekskan hati, begitu rileks sehingga waktu berlalu dan tertunda untuk mengucapkan apa yang semestinya dia ucapkan malam itu.

Apa yang lebih menyedihkan dari itu?

Beberapa bulan setelah kejadian itu, dia bertemu dengan rekan mahasiswi yang sudah almarhum itu. Di kantin. Bercerita tentangnya. Dengan sedikit gelak tawa tersisa. Hingga dirinya diingatkan lagu kesukaan dia yang sudah mati. Tak lain tak bukan, Foolish Games-nya Jewel.

You’re always brilliant in the morning,
Smoking your cigarettes and talking over coffee.
Your philosophies on art, Baroque moved you.
You loved Mozart and you’d speak of your loved ones
As I clumsily strummed my guitar.

Sadarlah dia saat itu, kenapa dulu mahasiswi itu meminta disetelkan lagu tersebut, di lab. komputer, di kantor himpunan, di saat tangannya memegang gitar, atau bahkan sekedar menikmatinya saat terdengar sayup-sayup dari radio.

Ingatlah dia pada bibir yang bergerak, bernyanyi atau menggumam-gumam mengikuti suara Jewel.

Ingatlah dia pada mata yang putih bersih itu, pada tangannya yang menopang dagu mendengarnya berceloteh seperti kanak-kanak menikmati dongeng; sambil sesekali mengipasi asap rokoknya yang menghembus ke arah wajah manis itu, disela-sela bibirnya berceloteh soal-soal filosofi yang tak ada kaitan langsung dengan studi mereka, sebagai celoteh pengisi hari.

Ingatlah dia pada gerak kepalanya yang dimiringkan seperti burung nuri mendengar dia mengomeli kopi terlalu panas dengan waktu yang terlalu singkat untuk dicicipi, lalu tertawa kecil dan membantu menghembus cangkir kopinya.

Dan ingatlah dia kenapa sering mahasiswi itu mengatakan untuk tak menjadi orang bodoh yang bermain hujan, sejak dia menolak dan menyatakan ketidaksukaannya pada jas hujan, di sekali malam dia bertandang, ketika hujan turun dan dia hendak pulang.

Dia ingat semua tentang bulan yang menjadi satelitnya dalam waktu singkat itu. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun dia tak akan pernah lupa pada rasa sesal di hari kematian itu. Dia tak akan pernah lupa pada wajah manis yang pucat kehabisan nafas, sah menjadi mayat, namun seperti tidur lelap dengan mata tertutup rapat. Pada bibir yang sedikit terbuka, dengan sedikit lekuk yang hampir serupa senyum penghabisan meski ada sisa raut sakit dan takut dibantai kematian. Dia tak akan pernah lupa bahwa dia tak pernah melihat wajahnya secantik hari itu. Dia benar tak akan lupa: dia tak pernah secantik hari itu, hari dimana harapannya putus.

Selama amnesia tidak mengendap dalam benaknya, dia tak akan pernah lupa pada seseorang yang pernah tersia-sia, yang pernah menyenandungkan Foolish Games-nya Jewel seperti memberi isyarat padanya, karena dirinya tak pernah memberi kesempatan, baik untuk dia yang menyukainya atau untuk dirinya sendiri yang terlalu egosentris dengan dunianya sendiri.

Hidup terkadang mengantarkan garis takdir dua orang begitu dekat, nyaris segaris tipis batasnya. Sama-sama mengerti. Sama-sama menikmati hari. Namun terkadang salah satu dari dua orang itu tak pernah menyadari bahwa dirinya diberi kesempatan untuk seseorang yang boleh jadi adalah yang terbaik yang pernah diberikan oleh peluang permainan hidup yang chaos ini. Peluang seperti mata dadu yang dilempar, dengan setiap angka yang keluar adalah pilihan untuk ditaruh dalam perjudian nasib. Ditaruh dengan konsekuensi masing-masing. Konsekuensi yang boleh jadi akhirnya akan disesali, ketika garis nasib salah satu putus, tak ada beda apakah dimiliki oleh manusia lain atau dimiliki abadi oleh Maut.

Setidaknya dia belajar satu hal itu: Kau tak akan pernah benar-benar menghargai apa yang kau miliki, apa yang kau inginkan, apa yang kau cintai, sampai kau benar-benar kehilangan. Mungkin kau bisa menghibur dirimu dengan ucapan, “Hey, I’m alright! Life goes on!” tapi kau tak akan pernah bisa menipu dirimu, menipu rasa kehilangan, menipu masa lalu, dengan kenyataan bahwa yang (pernah) kau inginkan, sesuatu atau seseorang yang akan susah kau temui di kemudian hari, sudah pergi dari hidupmu.

Kata-kata “Entahlah” atau “Aku sedang tidak berminat” atau “Aku tak tahu” mungkin kelak akan kembali menjadi penyesalan yang menghantuimu. Mati mungkin akan menyelesaikan segalanya, setidaknya kau tak akan pernah melihatnya lagi di muka bumi ini. Tapi bagaimana jika dia yang pernah berarti dalam hidupmu, yang pernah memberimu peluang, pernah dekat, dan kau tarik-ulur atau kau sia-siakan, masih hidup dan bernyawa, namun tidak ada di sisimu lagi?

Jawablah sendiri…

14 thoughts on “Foolish Games

  1. tragisnya…
    sediiih😦 ..
    tapi, menyesal terus menerus juga gak akan merubah apapun yg udah terjadi kan..sesali secukupnya lalu berjalan kedepan lagi..

    tapi apa yang membuatmu menceritakan ini semua sekarang, setelah sekian tahun terlewat dari kejadian itu?

  2. Tadinya saya mau komentar kasih video Keenan Nasution – Nuansa Bening, tapi setelah membaca sampai akhir, kok…😐
    Tragis…

    BTW, kenapa tag wishful thinking?😕

  3. ai..ai..bangsep…kutemukan dirimu di blog ini..
    hehhehe…
    mampir la ke blog kami yang masih jadul n berantakan tu…
    newbe banget soalnya
    hehehhe

  4. Awalnya saya juga berpikir ini semacam romantika lawas mu, Bang. Sedikit demi sedikit perasaan senang bercampur penasaran tentang siapa gerangan kakak leting saya itu berubah menjadi sedih.

    Tapi saya masih bisa belajar banyak dari tulisan mu kali ini, di samping ide pokok tentang perasaan yang kau kutuki sendiri -mungkin- sampai sekarang, dan beberapa petuah yang kau selipkan dalam tulisan ini.

    Dan sepertinya, saya tidak bisa menjawab pertanyaan di akhir paragraf itu.

  5. @ adinda

    tapi, menyesal terus menerus juga gak akan merubah apapun yg udah terjadi kan..sesali secukupnya lalu berjalan kedepan lagi..

    Benar. Tapi rasa sesal itu akan tetap ada lho, meski tak elok juga dijadikan tolok ukur menghakimi diri sendiri🙂

    tapi apa yang membuatmu menceritakan ini semua sekarang, setelah sekian tahun terlewat dari kejadian itu?

    Karena… satu dan lain hal…😀
    Ya, anggap saja ingin berbagi cerita lah ini🙂

    @ lambrt

    Tadinya saya mau komentar kasih video Keenan Nasution – Nuansa Bening, tapi setelah membaca sampai akhir, kok…😐
    Tragis…

    Keenan Nasution? Belum pernah dengar. Bolehlah kalo ada tautannya:mrgreen:

    BTW, kenapa tag wishful thinking?😕

    Karena ini memang ada unsur wishful thinking…😕

    @ Mizzy

    Terimakasih🙂

    @ Musafir

    See? Efeknya itu, Bang, jadi sukar untuk menerima sosok baru. Jadi tak heranlah kalau sampai dicerca karena tak kunjung pasti soal bermahligai😆

    @ Takodok

    Membekas, Des. Seriously😀

    @ Sayur Asem

    Hehehe… Si Mahasiswa yang sudah pensiun itu sepertinya masih mencoba strong😀

    @ Nova

    Eh, ada adik sepupu rupanya?😯

    Sudah bikin blog? Baguslah. Nanti kapan Nova sempat, kita benahi blognya. Oke?🙂

    @ Mr. El-Adani

    Abang letingmu Si Jimmy 2002 itu itu sumbernya. Kalau saja tak dia berkicau di kantin, tentu tak jadi cerita begini😀

    Tapi ya sudahlah. Untuk dikenang-kenang saja ini, Bal. Yang datang akan pergi, yang pergi mungkin kembali mungkin kelak reinkarnasi. Ada proses hidup. Yang penting itu bukan tujuan, tapi prosesnya, kan?😀

    Masalah pertanyaan terakhir itu, jawabannya sering tak bisa lisan. Tapi dirasakan. Seperti banyak hal tak bisa dilogikakan, tapi bisa dimimpikan. Begitulah kira-kira😀

  6. omaaaak…tragis kali kisahmu ini Bang…pasti butuh waktu lama untuk bisa fall in lagi…atau ga akan pernah lagi ku rasa. tapi…semoga dikasih kesempatan lain.

  7. @ Citra Rahman

    Njrit! Komennya prihatin sekali😆

    Yaaa… siapapun di posisi itu akan butuh waktu lah. Dan itu si mahasiswanya pernah pelinlop lagi kok. Cuma ya itu… seperti nyoba baju yang cocok di badan juga… keluar masuk toko…:mrgreen:

    @ lambrtz

    Jika ada orang mengatakan setuju pada Permen Konten dengan alasan pembajakan, aku akan menentangnya, karena mengingat jasa-jasamu yang begitu besar dengan dua tautan tersebut…


    Masa perkenalan lewatlah sudah
    Ada yang menarik bayang-bayangmu
    Tak mau pergi

    *terharu menikmati hasil dunlud*😳

  8. Oh, jadi ini ulah Bang Jimmy ya? hehe :d

    Yang penting itu bukan tujuan, tapi prosesnya, kan?😀

    Iya, Bang! Sepertinya, makin lama, makin bijak saja kau ini, Bang😛

    Dan itu si mahasiswanya pernah pelinlop lagi kok. Cuma ya itu… seperti nyoba baju yang cocok di badan juga… keluar masuk toko…:mrgreen:

    Butuh proses kan, Bang?😛

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s