Cerita Dari Sebuah Tahlilan

Beberapa tahun lalu, saat liburan semester kuliah (sekitar tahun 2003), seorang temanku yang pernah khilaf mencoba nge-blog di WordPress, memacu sepeda motor bersama sobat sekampungnya dengan kecepatan melewati batas kecepatan maksimum yang diizinkan rambu lalu-lintas di pinggir jalan. Saat itu, dia baru pulang dari Tapak Tuan, ibukota kabupaten Aceh Selatan, menuju ke arah kampungnya: Desa Peulumat, Kecamatan Labuhan Haji.

Untuk sampai ke kampung halamannya itu, mestilah dia melewati sebuah bukit di pinggir laut, di kawasan pemukiman nelayan dimana orang tua laki-lakiku berasal. Nama daerahnya Ujong Kareung, Kecamatan Sawang, masih di kabupaten yang sama. Dan seperti lazimnya bukit-bukit diciptakan Tuhan dengan lekuk-liku yang kelurah sama mendaki ke lembah sama menurun, kecepatan sepeda motornya pun naik turun pula, hingga akhirnya dengan izin Pencipta Takdir dan dibantu Dinas Pekerjaan Umum yang telah mengaspal jalan cukup bagus, terjadilah kecelakaan: Terserempet olehnya seorang anak gadis SMA yang sedang berboncengan sepeda motor bebek di kawasan tersebut.

Berhamburlah mereka jatuh, kedua-dua sepeda motor. Namun tak ada yang luka parah, melainkan lecet-lecet saja. Dituturkan olehnya beberapa bulan kemudian, ketika kami sudah bersua kembali, bahwa dia sangat terkesan dengan peristiwa tersebut. Bukanlah karena anak gadis manis itu dijodoh-jodohkan dengannya, selazim lelucon adat “tabrak-lari” untuk bertanggung-jawab pada sedikit saja cacat di raga si gadis, namun karena dia melihat ketokohan yang menakjubkan.

Alkisah, begitu tertungging sepeda motornya dan sukses mereka terpelanting di rerumputan pinggir jalan, warga kampung pun mulai keluar satu-satu, mencari arah suara tabrakan. Lekas-lekas mereka bantu dua anak gadis yang tersenggol itu, sembari lekas-lekas pula membenahi sepeda motor yang tercampak, dengan harapan tak ada Polantas tersesat lewat.

Pucat wajah mereka melihat wajah-wajah lelaki yang mendatangi banyak yang marah. Tahu salah, mereka menepi pucat-pasi, sampai seorang ibu-ibu berteriak pada mereka, menunjuk satu rumah kayu berhalaman luas dan menyuruh mereka “mengamankan diri” ke rumah itu. Bersama korban tabrak larinya, ke sanalah mereka pergi.

Penghuni rumah pun ikut keluar. Sementara dua berandal itu sudah gelisah bakal dihajar -seperti cerita pembalap-pembalap liar yang diamuk warga karena menabrak orang desa- warga yang tampak berang sudah memasuki halaman. Suara-suara menggertak keluar. Dari rumah pun keluar dua orang lelaki kekar, khas berbadan nelayan.

“Kupikir sudah habislah kami. Sudah sah dicacah badan kami…” Demikian kenangnya.

Namun suara-suara itu diam, ketika dua orang lelaki yang tangannya berurat kekar macam tambang kapal, beringsut dari tempat mereka berdiri di depan pintu rumah. Dari dalam, kakek-kakek tua renta -sekitar 70 tahunan usianya, kata Kawanku- keluar dengan kursi roda.

Apa yang membuatnya terkesan?

Kakek itu cuma menggumam-gumam ke dua lelaki anggota keluarganya, lalu mengacungkan tangan kanan sebelah, menggeleng beberapa kali ke arah warga, dan berkata, “Bah lee nyoe jeut urusan loen…” (Biarkan ini jadi urusan saya…)

Ada beberapa coba membantah, hendak membawa mereka ke Balai Desa, namun Si Kakek tak menyahut, cuma memandang dengan wajah tenang. Yang membantah hilang suara, dan massa pun mundur teratur.

Padahal, menurut Kawanku, kakek itu sudah renta sekali. Disepak kursi rodanya, alamat terpelanting dia tak berdaya di lantai teras rumahnya. Apakah yang membuat nelayan-nelayan yang tangan mereka keras ditempa karang dan gelombang, tak melawan pada Kakek Tua dengan peci hitam lusuh dan cuma berkain sarung, yang cacat dan cuma bisa duduk di kursi roda?

Air mukanya. Sorot matanya. Ketenangan jiwanya. Wibawa. Demikian menurut Tama, sobat sebangku di SMA dulu.

Ada beberapa kali dia terkenang-kenang kisah yang menyelamatkan raganya dari ancaman lembam-lembam dibogem warga kampung asal orang tua laki-lakiku itu. Aku pun pernah mencari tahu sosok tersebut, dan tak lain masih bersanak-famili juga. Mantan Pawang Laôt (Pawang Laut) di sana.  Veteran. Tokoh adat. Salah satu sesepuh yang disegani, meski tak berharta dan tak punya pangkat apa-apa. Bahkan pernah ada oknum aparat BKO di masa konflik yang begitu garang, di depannya menunduk dan berubah jadi jinak.

Berilmu? Wallahu’alam bissawab.

Namun sependapatlah aku dengan sobatku itu, bahwa Kakek Tua itu, memiliki kekuatan tersendiri dalam jiwanya. Kerutan bijak di wajah hingga sudut matanya, garis bibirnya, kesederhanaannya, dan cahaya mata yang menandakan pengalaman hidup, membuat orang-orang yang garang pun bisa tunduk seperti kanak-kanak dihardik dengan senyuman.

Aku menceritakan ini, karena teringat pengalaman sobatku itu, paska pulang dari tahlilan kematian Geuchik Burhan, seorang bapak kawan, di Desa Mata Ie, Kemukiman Kuta Tinggi, tak jauh dari kota kecil ini. Kematian Geuchik Burhan, seminggu yang lalu, di malam ketujuh tahlilan, membuat aku dan kawanku terpana takjub. Memasuki desanya, memasuki jalan selebar satu truk pasir menuju rumah almarhum, kami mendapati sepeda motor berjejal padat. Orang-orang ramai masih datang melayat. Di jalan lebar di persimpangan lorong, tidak kalah pula sepeda motor dan mobil-mobil diparkir. Mulai dari yang harga kelas teri sampai mobil citarasa pejabat kampungan yang menarik APBD demi selera anak-bininya.

Apa yang membuat seseorang begitu disegani, dihargai, dan dihormati, di saat usia menua hingga tubuh ringkih bahkan sampai ajal menjemput?

Kuagak-agak, perilaku hiduplah yang membuat penghormatan begitu hadir. Sehingga warga selorong rumah dengan beliau pun seakan sama-sama berduka, membantu menggelar tikar untuk tamu yang tak kebagian tempat duduk tahlilan di atas aspal setapak, bahkan sampai ke halaman rumah mereka.

Dalam novel, salah satu karakter yang mungkin bisa menggambarkan sosok disegani begitu karakter Don Vito Corleone, dari novel The Godfather karya Mario Puzo. Hanya yang membedakan adalah cara menjalani hidup: Yang satu dikisahkan sebagai Boss Mafia dari Sisilia, dan satu lagi cuma mantan geuchik (kepala desa) yang sudah lama pensiun, atau dalam cerita temanku di atas, cumalah mantan pawang laut sekaligus veteran kemerdekaan saja.

Jika Boss Mafia bisa disegani -tepatnya ditakuti- oleh lawan dan kawan, namun hal yang sama tidak selalu berlaku pada “sekedar” mantan kepala desa, atau “cuma” pawang laut yang sudah tak menjalankan profesinya lagi. Aku tidak selalu mendapati anak-anak muda yang slenge’an mau untuk menunduk hormat pada sembarang orang terhormat. Termasuk diriku sendiri. Namun, menakjubkan sekali jika melihat orang tua yang sudah lemas ringkih raganya, yang mungkin dihembus angin saja bisa jatuh, hanya dengan isyarat ke mesjid bisa membubarkan preman-preman kampung di simpang jalan untuk menyimpan gitar mereka elok-elok di rumah, dan kalau tak shalat, sudi membungkam sendiri suara fals mereka di kamar masing-masing.

Ada beberapa tokoh-tokoh almarhum yang mengundang rasa hormat dan kagum dari diriku sendiri. Juga dari kawan-kawanku, baik yang berpendidikan halus penuh PMP dan P4, atau yang dididik dengan kasarnya kehidupan pasar yang penuh sumpah-serapah. Dan semuanya adalah orang biasa. Bukan penguasa, bukan orang berharta. Paling tinggi pangkat istimewanya adalah Kepala Sekolah SMA belasan tahun lalu. Dari profesi, beberapa diantaranya  guru, baik guru ngaji, guru sekolah madrasah atau guru sekolah umum. Namun, sekali lagi: mereka orang-orang biasa. Orang-orang yang naik sepeda onta sebelum sepeda ontel menjadi trend karena klasiknya. Mereka orang yang berjalan kaki ke ladang, ke mesjid, ke meunasah, menjenguk warga yang sakit, yang kena musibah, yang kenduri, hingga yang barusan beranak. Mereka orang yang tidak menuntut diistimewakan, tidak penuh protokoler seperti seremoni penguasa-penguasa negeri, atau para pengusaha kaya yang sampai perlu sewa gedung, katering dan jasa MC untuk membawa acara syukuran atas terpotongnya ujung penis anak mereka.

Jabatan orang-orang tua yang kami hormati itu cuma CAMAT yang selalu sadar mereka posisi mereka cuma CAMAT saja: Calon Mayat, sama seperti aku dan juga kau yang sedang membaca ini.

Aku ingat ucapan salah satu dari sosok tua dari masa kecilku: “Hendaklah manusia itu eloknya saat lahir menangis, namun disambut tawa, dan saat meninggal tersenyum dan dihantar tangis sedih karena perpisahan. Janganlah sudah lahir menyusahkan orang, sampai mati pun disyukuri orang…”

Dan mereka, wajah-wajah arif bijaksana yang berkelebat dalam benakku sejak tahlilan tadi usai, menjadi suri tauladan betapa manis dan hangat rasa persaudaraan ketika dihantarkan ayat-ayat mohon pengampunan untuknya, bahkan oleh orang yang mungkin cuma pernah mereka senyumi sepintas lalu saja.

Iklan

5 thoughts on “Cerita Dari Sebuah Tahlilan

  1. Wah, masih ada ya Bang tokoh-tokoh yang bukan pejabat tinggi yang disegani sampai dia meninggal? Belum pernah aku ketemu sama orang seperti itu.

    anyway, kawan abang itu, jadi dia dijodohkan sama gadis Sawang itu? Penasaran aku, Bang.. Tolong tanyainlah Bang….

  2. Masih, Cit, masih… Tapi langka 😐

    Sebelum yang satu ini, terakhir aku lihat itu tahun lalu. Jalan masuk ke kampung di Susoh sampai penuh sesak. Kalau ada kerbau masuk, alamat terjepit dengan kendaraan yang padat. Padahal yang meninggal cuma seorang guru saja 😀

  3. Ah, sekarang pencitraan bisa dibuat kawan… Tapi memang, susah menemukan sosok yang dihormati sedemikian hingga tanpa peran media saat ini…

  4. Ai, posting-posting baru, tak kasih kabar, kalau begitu apa guna kemarin-kemarin hari menunggui makam Facebook kali-kali account bernisan Alex Hidayat bangkit lagi. Bangkit di WordPress dianya.

    *baca-baca ceritera lainnya*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s