Parade Kekuasaan Dan Orang-orang Di Pinggiran

Dalam rangkaian kisah-kisah klasik dari Tanah Jawa, ada tertulis cerita tentang seseorang bernama Jaka Tingkir. Sosok legendaris ini disebut-sebut berasal dari kalangan rakyat jelata. Seorang anak muda biasa yang hidup seperti kebanyakan makhluk Tuhan yang tidak memiliki kekuasaan. Bukan bagian dari lingkaran Tim Sukses, kira-kira demikian jika dibandingkan dengan zaman sekarang.

Cerita mengenai dirinya menuturkan bagaimana kemudian posisinya, strata hidupnya, bergeser dari kaum yang terpinggirkan menjadi seorang tokoh dalam satu kerajaan yang cukup besar di kala itu: Demak.

Sahibul hikayat, pada suatu hari Jaka Tingkir berada dalam satu jalanan pasar. Kehidupan pasar yang sedang berjalan dengan wajar seperti biasanya, tiba-tiba seperti panik dan perlahan-lahan kerumunan manusia di sana membungkam. Jalanan yang tadi dipenuhi orang-orang, menjadi lapang, terkuak seperti pelangi memberi jalan pada bidadari turun ke perigi.

Terlihatlah iring-iringan kerajaan akan melewati jalanan tersebut, membawa sosok yang menjadi orang nomor satu di Kerajaan Demak: Sultan Trenggono.

Namun tidak semua sesadar dan selekas itu menepi untuk memberi jalan pada para pengawal kerajaan yang mengiringi Sang Sultan. Seorang anak muda kebingungan terlambat menyingkir dari jalanan untuk mencari posisi aman. Di depannya iringan kerajaan akan melintas, dengan wajah-wajah garang para pengawal, sementara di belakangnya ada kali kecil yang akan membuatnya basah jika dia mundur.

Ternyata “kedurhakaannya” pada penguasa, dengan tidak mundur dan menundukkan wajah sebagai tanda penghormatan takzim, membuat pengawal kerajaan tak suka. Dia dihardik dan ditakuti dengan kuda yang melaju.

Gugup, anak muda itu memilih melompat ke kali kecil di belakangnya. Namun tidak menunduk, tidak jongkok, melainkan tetap berdiri dan menatap iringan yang lewat. Pengawal murka. Dia diseret dan hendak “disekolahkan” agar sopan pada Penguasa Kerajaan yang sudah ditakdirkan Tuhan.

Sultan Trenggono melihat semua itu, dan memanggilnya. Anak muda itu mendatanginya dan tenang-tenang menjelaskan kenapa dia tidak bisa mundur, dengan pakaian yang hanya selembar dan terancam basah jika dia jongkok di kali kecil tadi. Tidak ditundukkannya wajahnya di depan Sang Sultan, melainkan memandang Orang Nomor Satu di Negara Kerajaan Republik Demak itu.

Sultan terkesan dengan keberaniannya dan kelugasannya. Dia menyuruh anak muda tersebut untuk datang ke istana, dan kemudian hari diangkat menjadi kepala prajurit Demak dengan pangkat Lurah Wiratamtama. Bahkan menikahi Ratu Mas Cempa, putri Sultan Trenggono.

Anak muda itu adalah Jaka Tingkir, anak petani biasa yang kemudian muncul menjadi tokoh dalam sejarah Tanah Jawa. Dari orang terpinggirkan yang dipaksa untuk minggir saat orang berkuasa melewati permukaan bumi yang sama yang diberikan Tuhan, takdir kemudian menariknya ke tengah, ke dalam gelanggang kekuasaan. Melebih pengawal Sultan yang begitu arogan hendak menghukumnya.

Di kemudian hari dia dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang, dan merupakan cikal-bakal keturunan Raja-raja Mataram.

* * * *

Sejarah kekuasaan selalu merupakan sejarah penindasan. Ini seperti sudah menjadi semacam Hukum Newton yang sukar untuk digugat keabsahannya. Sejak zaman tuan-tuan tanah mulai membayar tukang pukul untuk mengamankan tanah-tanah yang dicaploknya, dan memungut pajak pada manusia-manusia yang bahkan sudah turun temurun berdiam sebelum nenek dari bapak neneknya Si Tuan Tanah lahir, hingga zaman dimana pemerintahan berlabel republik dengan bumbu demokrasi menjadi sajian waralaba yang mewabah di planet bumi ini; sejarah kekuasaan selalu berkisar tentang orang-orang yang berada di pusat kekuasaan dan mereka yang berada dipinggir atau terpinggirkan.

Contoh paling lazim dari penyakit kekuasaan yang sudah turun-temurun menjadi kanker di raga anak-cucu Adam itu adalah iring-iringan kekuasaan. Cerita tentang penguasa yang melintas dengan pengawalan megah, ketat, garang dan gagah, bertebaran macam sampah dalam banyak ragam sejarah di muka bumi. Mulai dari saat sebelum Nero membakar kota Roma sampai saat Sekutu menggoreng Nagasaki dan Hiroshima dengan ratusan bom. Mereka sama: sama-sama menjadi pemenang yang masuk kota-kota dan desa dengan kepala mendongak congkak, badan tegak dan rakyat yang tak punya kuasa mesti minggir memberi jalan atau akan kena sepak.

Sejarah adalah parade dari mereka yang menang dan berkuasa.

Tidakkah itu juga yang kita lihat dalam kehidupan bernegara kita selama ini? Melihat pameran kemunafikan dengan seribu satu jargon tentang persamaan hak, persamaan kewajiban, kedaulatan, kerakyatan, keadilan sosial, kemanusiaan yang adil dan beradab, namun tetap saja para penguasa, para pemimpin, mereka yang terpilih –baik dengan cara halal atau haram- memposisikan diri sebagai Raja-raja seperti zaman feodal.

Memang tidak ada perintah lisan atau tertulis bahwa di zaman sekarang ini, dalam kehidupan kita bernegara saat ini, jika ada orang berkuasa di pemerintahan lewat, maka segenap rakyat mesti sadar diri bahwa insan-insan pilihan Tuhan sedang akan lewat sehingga mesti lekas-lekas menyingkir selayaknya pengidap kusta yang tahu diri.

Tidak ada, memang. Tidak seperti di zaman kerajaan dahulu kala. Konon, di Tiongkok saja, jika ada rakyat yang tidak membalik badan untuk menghadap ke arah lain, atau menunduk di saat Kaisar lewat, maka hukuman matilah jatuh baginya.

Tapi, apa bedanya jika kemudian kita pernah mendengar cerita di negeri ini tentang seorang pengawal pemerintah, pengawal orang nomor satu di negeri ini, berteriak membentak dengan ucapan, “Apa mau Anda saya bedil?”.

Tak ada bedanya sama sekali. Tetap saja menunjukkan perangai khas para pengawal orang berkuasa sejak zaman purbakala: meminggirkan orang-orang di pinggiran jalan.

Lihatlah iring-iringan pengawalan yang sering merepotkan rakyat biasa. Dari orang nomor satu di negara ini hingga orang nomor satu di level kabupaten, bahkan kecamatan, kebiasaan membuat parade pengawalan, seremonial “singkirkan semua pengguna jalan, kuasai semua badan jalan”, menunjukkan karakter umum kekuasaan yang sering melampaui batas. Tanyakanlah pada Saudara Almascatie di Ambon sana, bagaimana sebuah seremoni untuk “sekedar” membunyikan Gong Perdamaian justru membuat rakyat tidak merasa damai, malah kecewa, di jalanan yang dikuasai oleh orang-orang yang mereka gaji dengan pajak dari tetes keringat mereka.

Tuan-tuan Besar, yang mendapatkan mandat dari rakyat, juga pengawal-pengawal Tuan yang mungkin membaca ini:

Hidup adalah lingkaran, Tuan. Selingkar bumi ini, selingkar rotasi matahari. Boleh jadi orang-orang yang terpinggirkan ketika Tuan-tuan melintas, kelak akan menjadi orang yang muncul di tengah kekuasaan, bahkan mungkin menendang pantat Tuan-tuan dari tampuk kekuasaan. Pernahkah Tuan-tuan memikirkan bahwa seorang insinyur berpakaian biasa di Iran sana, satu ketika bisa menyingkirkan seorang Rafsanjani yang sering bikin macet jalan dengan iring-iringan kehormatannya? Mungkin nasib yang sama sedang menanti Tuan-tuan, tak peduli apakah sebagai orang nomor satu di Republik ini, sebagai babu-babu berdasi di Senayan sana, sebagai menteri, atau cuma sekedar bupati kelas teri di kabupaten penghasil ikan teri.

Dengan kata lain: Jangan arogan ketika sedang meniti jalan-jalan kekuasaan. Jangan, Tuan, jangan. Karma akan memburumu atau negerimu satu ketika nanti, seperti Demak cerai-berai di depan seorang Jaka Tingkir yang pernah tersingkir.

15 thoughts on “Parade Kekuasaan Dan Orang-orang Di Pinggiran

  1. Mungkin sedang dibentuk tim khusus (lagi) untuk merumuskan soal helikopter atau tinggal di istana?:mrgreen:

    Sikit-sikit tim khusus ini… Sikit-sikit tim khusus itu…😛

  2. lha kan memang dalam form pendaftaran calon pembesar maupun pengawal, syarat paling atas adalah : bisa arogan !

    btw, gimana saya mau nanya ke om Almaz lha orangnya aja udah ga sempat meninjau blognya, terlalu sibuk kliatannya..

  3. Agaknya perlu pula sesekali kita-kita ini berlapang hati. Di kotaku sana, iring-iringan mobil pejabat yang bisa sepanjang sungai Nil normalnya menjadi tontonan mendadak masyarakat di jalan-jalan setempat, dan itu tak cuma selesai 10 menit 20 menit, dan alhasil membikin berkah para pedagang kaki lima di sekitar, entah itu bakso lah, mie ayam lah, cuanki lah, cendol lah, es dawet lah, lontong lah dan apalah. Ya, di trotoar kami masyarakat biasa mengular, dan memandangi pejabat-pejabat yang melambai-lambaikan tangan dari kaca jendela mobil, apalah lagi kalau diselingi sambil makan bakso/mie ayam/es cendol, jadilah itu suatu hiburan laiknya menonton atraksi doger menyot.

    Jadi biarlah. Tak apa sekali-sekali. Bukankah seperti seorang Kipandjikusmin bilang, rakyat Indonesia rata-rata pemaaf dan baik hati?

  4. Masalahnya ada pd orang2nya atw sistemnya? atau dua2nya? mana dulu yg msti diubah.
    tp sy pikir lbh baik potong generasi saja =D
    .
    Btw, sy malah kurang tau crita2 jadul kyk gtu dr Jawa, tau judulnya doang, =D

  5. kalo skr apa bisa kyak gitu yah.. iring2an presiden pake mobil dengan kecepatan ngebut boro2 bisa liat anak muda kusut di pinggir jalan.. lirik pun tidak kalo bisa kelirik pun paling disangka gelandangan =))

    @Sayur asem
    haiyah.

  6. @ almascatie : kalo kau mau dilirik, minim bawa ondel-ondel atau apa gitu yang bisa menarik perhatian, belom-belom menarik perhatian, sudah kena tonjok kau sama Polantas =))

  7. “Penguasa kerajaan yg sudah ditakdirkan Tuhan” ??
    Saya kok selalu tak bisa mempercayai kalimat tersebut ya??
    Mungkin saya terlalu bebal…

  8. Ping-balik: Jangan Sambut Mewah Pejabat Pusat, Kata 3 Menteri Hari Ini | Mulut Pejabat

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s