Intuisi Dua Nyawa

Ketika senja turun dan kepak-kepak kelelawar terlihat terbang untuk pulang ke rimba di akhir bulan ke delapan, apa yang kulakukan cuma hal biasa: menatap senja dari bagian puncak rumah. Ritual dimana kata sering kehilangan makna untuk memberitahu apa yang terasa jika melihat langit menjadi jingga, atau matahari tenggelam di cakrawala. Dimana kata sering tak bisa melukiskan seperti apa kau melihat bebukitan menjadi kelam, atau kapal-kapal berkakuan di dermaga.

Namun tetap saja, ada sesuatu minta dituliskan. Dalam satu senja yang damai, bersama musik instrumental yang kau kirimkan dulu: A Love To Kill.

Lalu melintas dalam benakku saat itu, betapa konon dahulu Al Ghazali pernah mengatakan: saat jiwa diciptakan, maka jiwa tersebut dibelah menjadi dua nyawa. Lalu kedua nyawa tersebut turun ke bumi. Lahir dan kemudian saling mencari belahan jiwanya.

Bukan, bukan aku hendak menceramahimu tentang “cinta”, Perempuan. Aku bahkan tak tahu pasti apa itu. Kita sama bertanya kebingungan, seperti bait “Sia-sia”-nya Chairil Anwar dahulu kala:

Sudah itu kita sama termangu. Saling bertanya: Apakah ini? Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Aku cuma hendak mengatakan, begitulah warnanya. Warna keraguan. Meragukan adalah awal dari segala hal yang kita tanyakan dalam hidup ini. Seperti Rene Descartes yang pernah berteriak “De omnibus dubitandum!”. Atau seperti seruan Hamlet si peragu pada Ophelia, “Doubt thou the stars are fire. Doubt the sun doth move. Doubt truth to be a liar. But never doubt I love,” dalam drama Hamlet-nya Shakespeare, Babak II, Adegan 2.

Lalu bagaimana keraguan itu menjadi sebuah seruan Hamlet pada Ophelia?

Intuisi, Perempuan. Serupa intuisi yang dimiliki para hewan. Serupa intuisi untuk bertanya soal hidup yang berhulu dan berhilir pada Tuhan. Begitulah intuisi untuk mencari teman sehidup-sejalan. Meski dengan cara yang berbeda.

Kita tak pernah mendengar sepasang angsa – hewan yang konon setia sampai mati dengan pasangannya itu – berkenalan, menukar cincin, bertukar cerita, lagu, buku, atau lelucon sederhana. Dan itulah yang memberi kita arti dalam hidup, yang membedakan intuisi kita. Dengan sebuah musik instrumental yang pernah kau kirimkan, misalnya, aku bisa meraba halus jiwamu di balik sikap yang terkadang keras, dipermak oleh kehidupan yang melelahkan ini.

Intuisi, Perempuan. Menuntun kita seperti air yang mengalir. Menuntun ikan-ikan salmon untuk berjuang keras melawan derasnya arus sungai menuju hulu sana untuk berkembang-biak. Menuntun burung laut Puffinus Tenuirostri mengembara melintasi separuh Samudra Pasifik untuk mencapai pulau-pulau di antara Australia dan pulau Tasmania: demi mengawini lawan jenisnya.

Intuisi serupa itu pula yang bikin kita sama-sama merasakan sesuatu yang mungkin biasa saja, tak seklasik kisah Jack dan Sally, atau semerdu cerita Desmond dan Molly-nya The Beatles. Sesuatu seperti lakon jika yang satu diam, yang lain merasakan keterbungkaman kenang. Lalu mengiang alunan gitarku di telingamu, atau bacaan puisi yang pernah kau perdengarkan di telingaku. Dan kita tahu bahwa ada sesuatu yang tak terucap ketika kesepian hidup diisi dengan keterasingan sendiri-sendiri. Dan kita bertanya, mau tahu: Cintakah ini?

Sebutlah itu namanya. Meski kini, dengan sedih, kita coba membunuhnya, karena kewarasan memaksa kita sadar, bahwa itu tak harus digapai dalam kehidupan ini.

Mungkin saat kita beresureksi menuju kehidupan lain, seperti kata ahli agama Samawi; atau saat renkarnasi dalam kehidupan berikutnya, seperti kata mereka yang beragama Buddha. Mungkin di kehidupan dalam berbagai versi keimanan itu, setiap dua nyawa yang saling mencari akan saling menemukan dan mengakhiri pencarian mereka. Pencarian kita.

Siapa tahu? Karena toh Ghazali tak pernah menyatakan pasti apakah kedua nyawa akan bertemu di dunia yang sementara ini, ataukah di kehidupan lain yang lebih tentram daripada kepak kelelawar dan warna langit di senja itu…

============

NB: Ditulis untuk melunasi janji pada @ceritaeka, untuk menyertakan sebuah prosa (atau apalah ini namanya) dalam memeriahkan milad blog ceritaeka(dot)com.

#fiksiseperempatonsmini

9 thoughts on “Intuisi Dua Nyawa

  1. Abaaaaaaaaaaaaaaaaang…
    Engkau lelaki sejati😛 bisa dipegang janjinya… *lirik nyong Ambon :p hihihi*

    Ma kasih ya bang ^_^
    Ku catat linknya yah untuk dinilai dewan juri

    salam,
    Eka

  2. Ping-balik: Komunitas Blogger Aceh » Intuisi Dua Nyawa

  3. Keknya jiwamu dibelah jadi sembilan nyawa lex… satu untukmu, satu nyawa cadangan, sisanya tuk gadis2 yang memperebutkanmu..😆

    *kabur*

  4. @ Cerita Eka

    Janji ya janji. Senang saja bisa memeriahkan ultah blognya😀
    Jadi… Nyong Ambon itu memang bungkam ya kali ini?:mrgreen:

    @ Suhadinet

    Senja itu hiburan, Mas😀

    @ Jensen

    Ebuset!

    *kirim bom 3kg*😈

    @ Nova

    Begitulah, adikku….

    Abangmu pun baru tersadar….😛

    *ntahkomenapalahni*:mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s